Anda di halaman 1dari 22

PEMBIMBING : dr. Moh. Yanuar Adjie N, Sp.

A
Oleh : SIUSAN 11-2009-180

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


RUMAH SAKIT EFARINA ETAHAM PURWAKARTA

Kaiser Permanente Division of Research, Oakland, California 1. Lisa A. Croen, PhD 2. Cathleen K. Yoshida, MS 3. Roxana Odouli, MSPH

Departments of Epidemiology and Biostatistics and of Pediatrics,University of California, San Francisco, California 4. Thomas B. Newman, MD, MPH

Autisme

adalah gangguan perilaku, gangguan perkembangan saraf

ditandai dengan kelemahan dalam interaksi sosial, kelainan dalam komunikasi verbal dan nonverbal, keterbatasan minat dan perilaku stereotip Hiperbilirubinemia didefinisikan sebagai kadar bilirubin > 10 mg / dL Hiperbilirubinemia adalah peningkatan kadar plasma bilirubin 2 standar deviasi atau lebih dari kadar yang diharapkan berdasarkan umur bayi atau lebih dari persentil 90 (Buku Ajar Neonatologi IDAI, 2008)

Neuroimaging

Neuropatologi

Studi epidemiologi

Konsep perkembangan otak prenatal & postnatal yg menyimpang

Patogenesis awal autisme

Kadar bilirubin neonatal sangat tinggi kernikterus Kadar yang lebih rendah sequele minimal Efek toksik bilirubin di SSP melibatkan ganglia basal dan inti pendengaran, fungsi kognitif relatif terhindar Defisit dalam interaksi sosial antara anak-anak dengan kernikterus, di luar dari domain motorik dan pendengaran, belum dilaporkan

Masih ada kekhawatiran kurangnya masa rawat inap postpartum dan perawatan yang kurang agresif terhadap ikterus peningkatan ekstrim kejadian hiperbilirubinemia dan gejala sisanya Selama periode yang sama, prevalensi gangguan spektrum autisme (ASD) telah meningkat secara dramatis Beberapa studi telah meneliti hubungan antara autisme dan komplikasi variasi obstetri dan neonatal sebelumnya terkait gangguan neurologis janin, termasuk jaundice hubungan positif sulit untuk diinterpretasikan

Mengatasi keterbatasan penelitian sebelumnya : menilai peran potensial ikterus neonatal sebagai faktor risiko untuk autisme Implikasi penting untuk pencegahan Tidak adanya hubungan penting didokumentasikan menurunkan kecemasan di antara orang tua Secara kebetulan, ASD kadang-kadang terjadi di kalangan anak - anak yang mengalami hiperbilirubinemia neonatal bermakna

Nested case-control (kohort based)


Analisis regresi logistik multivariat Uji x2, Uji t

Subyek kasus dan kontrol y.i bayi studi kohort lahir di fasilitas

California utara Kaiser Permanente (KP) antara Januari 1995 dan Desember 1998 Subyek kasus (n=393) y.i anak-anak usia 4 hingga 7 tahun yang didiagnosis ASD meliputi autisme (ICD-9-CM kode 299.0), Asperger's syndrome (ICD-9-CM kode 299.8), dan PDD-NOS (ICD-9-CM kode 299.8), dicatat dalam database klinik rawat jalan KP antara Januari 1995 - Desember 2002 Subyek kontrol dipilih secara acak sebanyak 5 per subjek kasus, dari sekelompok anak-anak studi kohort yang tidak memiliki diagnosis ASD tercatat dalam database klinik rawat jalan (n= 1965) Subyek kontrol dicocokan frekuensinya untuk subjek kasus berdasarkan jenis kelamin, tahun kelahiran, dan rumah sakit tempat kelahiran Batas sampel penelitian : bayi tunggal lahir pada usia kehamilan > 35 minggu dimana informasi kadar bilirubin neonatal telah tersedia Didapat 338 subjek kasus dan 1817 subyek kontrol dalam populasi penelitian

METODE
Informasi hiperbilirubinemia neonatal berasal dari hasil tes

bilirubin serum yang dicatat dalam KP Regionwide Integrated Laboratory Information System, berisi tanggal, waktu, dan hasil dari semua tes laboratorium yang dilakukan terhadap pasien KP Kadar maksimum bilirubin (dalam miligram per desiliter) : kadar bilirubin tertinggi yang dicatat dalam 30 hari pertama kehidupan Data fototerapi berasal dari database terkomputerisasi rawat inap, berisi diagnosa, prosedur, tanggal dan lokasi kunjungan pasien Usia ibu saat melahirkan, jenis kelamin anak, usia kehamilan, dan berat lahir dicatat dari informasi dalam database rawat inap KP Data tentang ras ibu / etnis dan tingkat pendidikan ibu saat melahirkan diperoleh dari database akte kelahiran Negara California

METODE
Perbedaan dalam variabel kategoris antara subyek kasus dan subyek

kontrol dibandingkan dengan statistik x2 Perbedaan variabel kontinyu dinilai dengan uji t Risiko autisme yang berhubungan dengan kadar bilirubin maksimum di atas berbagai titik cutoff diperkirakan sebagai odds ratio dan interval kepercayaan 95% dengan analisis regresi logistik multivariat Bayi yang pengukuran bilirubinnya tidak dibuat diasumsikan memiliki kadar dibawah titik cutoff Karakteristik ibu dan bayi yang berhubungan dengan kadar bilirubin maksimum dan status kasus bayi dimasukkan sebagai kovariat dalam analisis multivariat

PERTANYAAN PENELITIAN
Apakah hiperbilirubinemia pada neonatal berisiko terhadap

terjadinya gangguan spektrum autisme?

Distribusi usia kehamilan dan berat lahir mirip dengan subyek kasus dan kontrol Subjek laki-laki melebihi subjek wanita dengan 4 : 1 di antara subyek kasus, dengan distribusi yang sama antara subyek kontrol pada pencocokan Usia rata-rata saat melahirkan lebih besar bagi ibu kasus, dibandingkan dengan ibu kontrol (P =. 0001) Ibu dari kasus rata rata mengikuti pendidikan yang lebih lama(P = .0001, rank-sum test)

Proporsi yang sama didapat dari bayi kasus (27,8%) dan kontrol (27,5%) yang

menjalani pengukuran bilirubin 1 dalam 30 hari pertama setelah kelahiran (P = .9) Di antara mereka diuji, tidak ada perbedaan dalam rata-rata tes bilirubin serum total tiap bayi, kadar maksimum bilirubin yang diukur, atau proporsi bayi yang menerima fototerapi

Terlepas dari cutoff yang digunakan, kenaikan kadar bilirubin dalam 30 hari

pertama kehidupan tidak terkait dengan risiko autisme

Dibandingkan dengan bayi dengan kadar bilirubin maksimal <15 mg/dL atau tidak

diukur, bayi - bayi dengan kadar bilirubin dari 15-19.9 mg/dL, 20.0-24.9 mg / dL, atau 25 mg/dL tidak meningkatkan risiko untuk autisme

Tidak adanya hubungan antara kadar bilirubin neonatal dan ASD


pada penelitian ini diperkuat oleh : - besarnya sampel - berdasarkan populasi - penggunaan pengukuran laboratorium prospektif yang dikumpulkan dari kadar bilirubin serum total - diagnosis ASD berdasarkan dokumentasi dokter - penggunaan perbandingan grup internal yang tepat - penggunaan teknik analisis multivariat Keterbatasan penting dari penelitian ini adalah kurangnya keabsahan diagnosis ASD dengan penilaian standar klinis

Kebanyakan penelitian sebelumnya tentang hubungan antara

hiperbilirubinemia dan autisme tidak cukup untuk mendefinisikan nilai-nilai cutoff untuk hiperbilirubinemia Juul-Dam dkk melaporkan hubungan yang bermakna dari PDDNOS (n = 13) dan autisme (n = 51) dengan hiperbilirubinemia. Prevalensi hiperbilirubinemia, 54% pada anak PDD-NOS dan 22% pada anak autisme, dibandingkan dengan 12% dilaporkan untuk Proyek Collaborative Perinatal 30 tahun sebelumnya hanya PDDNOS tetap terkait secara bermakna Sebuah studi yang berbeda, 23 anak didiagnosis dengan autisme infantil, frekuensi kadar bilirubin serum >16 mg/dL (13.0 %) secara bermakna lebih besar dari tingkat kejadian yang diharapkan (3%) yang dilaporkan dalam buku teks 1975

Sampel dari 35 anak dengan diagnosis ASD tercatat dalam database

KP rawat jalan, dilakukan peninjauan semua anak dan catatan kesehatan mental dengan protokol erat diadaptasi dari the Metropolitan Atlanta Developmental Disabilities Surveillance Program Informasi rinci diagnosa, pelayanan sekolah, deskripsi verbatim dari perilaku yang terkait dengan autisme, riwayat perkembangan, dan hasil penilaian psikometri Ditentukan 35 sampel memiliki ASD, 19 (54%) sesuai dengan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, dan 46% menurut penentuan klinis perkembangan seorang dokter anak yang mengkhususkan diri dalam ASD Informasi diagnostik yang terkandung dalam database rawat jalan sering tidak spesifik berhubungan dengan subtipe ASD, hubungan secara terpisah untuk gangguan autistik, sindrom Asperger, dan PDDNOS tidak mampu dilakukan

Skrining untuk hiperbilirubinemia neonatal tidak rutin,

tetapi dilakukan berdasar pada kebijakan dokter Kemungkinan bahwa kadar maksimum bilirubin diragukan bagi beberapa bayi yang tidak dilakukan tes dalam penelitian kami, sehingga kesalahan klasifikasi nondifferential mungkin menimbulkan bias terhadap hipotesis nol

Data ini menunjukkan bahwa hiperbilirubinemia neonatal bukan merupakan faktor risiko untuk ASD Dibutuhkan suatu standar penetapan klinis dalam menetapkan diagnosis ASD