Anda di halaman 1dari 93

HUBUNGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS

SUKARAMI PALEMBANG

SKRIPSI
Oleh : M. ARIEF RAHMAN HAKIM 30.01.09.0206

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN STIKES PERDHAKI CHARITAS PALEMBANG 2013

HUBUNGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS SUKARAMI PALEMBANG

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan program Sarjana Keperawatan

Oleh : M. ARIEF RAHMAN HAKIM 30.01.09.0206

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN STIKES PERDHAKI CHARITAS PALEMBANG 2013

Halaman Persembahan

MOTTO : TIDAK ADA YANG TIDAK BISA DILAKUKAN JIKA KITA PERCAYA DAN BERUSAHA KITA PASTI BISA MELAKUKANNYA

Skripsi ini saya persembahkan kepada :


Kedua orangtuaku Izwardi & Nilaini yang selalu memberikan semangat, tenaga, dan doanya sampai saya berhasil mencapai cita-cita Kakak dan adiku yang kucintai dan kusayangi, yang selalu memberikan semangat untuk ku

ABSTRAK

M. Arief Rahman Hakim 30.01.09.0206 Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Rumah Tangga dengan Kejadian Diare pada Balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013 Hasil Penelitian Prodi S1 Keperawatan 2013 Kata Kunci : PHBS, Diare, Balita xv i+ 79 halaman + 11 lampiran + 11 tabel Diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari, dengan atau tanpa darah dan lendir dalam feses. Secara klinis, diare dibedakan menjadi tiga macam sindrom yaitu : Diare akut (gastroenteritis), disentri, dan diare persisten. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013. Penelitian menggunakan metode survey analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh keluarga yang datang dengan membawa balita ke Puskesmas Sukarami Palembang. Pengambilan sampel dilakukan secara non probability sampling dengan accidental sampling yang berjumlah 40 responden. Dari hasil penelitian didapatkan ASI eksklusif (52,5%) tidak ASI eksklusif (47,5%), mencuci tangan dengan baik (67,5%) mencuci tangan kurang baik (32,5%), air bersih (75%) air kurang bersih (25%), jamban sehat (75%) jamban kurang sehat (25%), diare (52,5%) dan tidak diare (47,5%). Hasil uji statistik menunjukan tidak ada hubungan yang signifikan antara PHBS rumah tangga dalam memberi ASI eksklusif dengan kejadian diare dengan p value = 1,000, tidak ada hubungan yang signifikan antara PHBS rumah tangga dalam mencuci tangan dengan air bersih dan sabun dengan kejadian diare pada balita dengan p value = 0,314, tidak ada hubungan yang signifikan antara PHBS rumah tangga dalam menggunakan air bersih dengan kejadian diare pada balita dengan p value = 0,148, tidak ada hubungan yang signifikan antara PHBS rumah tangga dalam menggunakan jamban sehat dengan kejadian diare pada balita dengan p value = 0,473. Saran bagi pihak Puskesmas Sukarami Palembang diharapkan Puskesmas Sukarami memberikan informasi kepada masyarakat tentang penyebab, tanda gejala, dan pencegahan diare. Daftar Pustaka : 22 (2009-2013)

ABSTRACT

M. Arief Rahman Hakim 30.01.09.0206 The Relationship between clean and healthy lifestyle behavior in the household and the insidence of Diarrhea in children under five years old at Puskesmas Sukarami Palembang in 2013 Undergraduate nursing research 2013 Keywords: behavior, Diarrhea, children under five years old xvi + 79 pages + 11 tables + 11 attachment Diarrhea is the passage of 3 or more loose or liquid stools per day with or without blood and mucus in the stool. Clinically, diarrhea can be divided into three of syndrome, namely: Acute diarrhea (gastroenteritis), dysentery, and persistent diarrhea. The study aimed to determine the relationship between clean and healthy behaviors in households and the incidence of diarrhea in children under five years old at Puskesmas Sukarami Palembang in 2013. The method used analytical survey with cross-sectional approach. The study population included all families who come with children under five years to puskesmas Sukarami Palembang. Sampling was done by non-probability sampling with accidental sampling, total samples 40 respondents. The test results showed there was no significant relationship between household PHBs in exclusively breast-feeding with diarrhea with p value = 1.000, there was no significant relationship between PHBs in the household wash hands with soap and clean water with the incidence of diarrhea in infants with p value = 0.314, there was no significant relationship between clean and healthy behaviors in households and the incidence of diarrhea in children under five years old with p value = 0.148, there was no significant relationship between clean and healthy behaviors in households and the incidence of diarrhea in children under five years old with p value = 0.473. the advice for the Puskesmas Sukarami Palembang to give information of the public about the causes, signs symptoms, and prevention of diarrhea. Bibliography: 22 (2009-2013)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia yang diberikan-Nya penulis dapat menyelesaikan Proposal ini yang berjudul Hubungan Perilaku Hidup dan Sehat (PHBS) Rumah Tangga dengan Kejadian Diare pada Balita di Puskesmas Sukarami Palembang 2013. Penulis menyadari dalam penyusunan Proposal ini masih terdapat banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun cara penulisan. Untuk itulah penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan di masa yang akan datang. Dalam penulisan dan penyusunan Proposal ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak baik berupa bimbingan, dorongan, serta saran yang sangat bermanfaat, untuk itu penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. Ketua STIKES Perdhaki Charitas Palembang 2. Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang 3. Kepala Puskesmas Sukarami Palembang 4. Staff Bagian MTBS di Puskesmas Sukarami Palembang 5. Staff / Pegawai Puskesmas Sukarami Palembang 6. Ketua Program Studi S1 Keperawatan Palembang. 7. Pembimbing I dan II yang telah banyak meluangkan waktu dan pikiran untuk membimbing, mendidik dengan penuh kesabaran, memberi arahan,

saran, kritik serta semangat kepada penulis selama penyusunan Proposal ini. 8. Penguji yang telah berkenan meluangkan waktunya untuk memberikan pengarahan dan masukan yang amat berharga dalam penyusunan Proposal ini. 9. Seluruh Staf dosen program studi S1 Keperawatan Stikes Perdhaki Charitas Palembang yang telah memberikan bimbingan selama

pendidikan. 10. Teman-teman angkatan ke-4 Stikes Perdhaki Charitas Palembang. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Akhir kata, penulis berharap semoga Skripsi ini dapat berguna bagi kita semua. Amin.

Palembang, Juni 2013

Peneliti

DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN .................................................................................... HALAMAN SAMPUL DALAM ............................................................... HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................... HALAMAN PERNYATAAN ..................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... SUSUNAN PANITIA .................................................................................. HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. ABSTRAK BAHASA INDONESIA .......................................................... ABSTRAK BAHASA INGGRIS ............................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................................ DAFTAR TABEL ....................................................................................... DAFTAR BAGAN ...................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .................................................................................. B. Perumusan Masalah .......................................................................... C. Tujuan Penelitian .............................................................................. D. Manfaat Penelitian ............................................................................ E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................. F. Penelitian Terkait .............................................................................. G. Definisi Istilah Kunci ........................................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Perilaku ................................................................................ 1. Pengertian Perilaku ....................................................................... 2. Pengukuran Perilaku Kesehatan ................................................... B. Konsep Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ........................... 1. Pengertian ..................................................................................... 2. Macam-macam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) .......... 3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Rumah Tangga .......... C. Konsep Diare ..................................................................................... 1. Pengertian Diare ........................................................................... 2. Jenis Diare .................................................................................... 3. Etiologi ......................................................................................... 4. Manifestasi Klinis ......................................................................... 5. Patofisilogi .................................................................................... 6. Komplikasi ................................................................................... 7. Pemeriksaan Penunjang ................................................................ 8. Pencegahan Diare ......................................................................... D. Konsep Balita .................................................................................... 1. Pengertian .....................................................................................

i ii iii iv v vi vii viii ix x xii xiii xiv xv

1 4 5 7 8 8 9

11 11 12 20 20 23 23 32 32 33 33 35 36 37 37 38 38 38

BAB III KERANGKA KONSEP A. Definisi Konsepsional ....................................................................... B. Operasional Variabel ......................................................................... C. Hipotesis ........................................................................................... BAB IV METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian .................................................................................. B. Tempat/Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................ C. Populasi dan Sampel ......................................................................... D. Teknik Pengumpulan Data ................................................................ E. Alat Pengumpul Data ........................................................................ F. Teknik Analisis Data ......................................................................... G. Jadwal pelaksanaan ........................................................................... H. Etika Penelitian ................................................................................. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Puskesmas ........................................................................ B. Hasil Penelitian ................................................................................. C. Pembahasan ....................................................................................... D. Keterbatasan Penelitian ..................................................................... BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ....................................................................................... B. Saran .................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

40 41 44

45 45 46 47 47 49 51 52 54 62 70 76

77 78

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.1 Definisi Operasional ................................................................. 53 Tabel 5.1 Peta Demografi di Wilayah Kerja Puskesmas Sukarami Tahun 2012........................................................................................... 57 Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Memberi ASI Eksklusif di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013............................................. 63 Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013..... 64 Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Menggunakan Air Bersih di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013............................................. 65 Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Menggunakan Jamban Sehat di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013............................................. 65 Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Menggunakan Jamban Sehat di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013............................................. 66 Tabel 5.7 Hubungan Antara Memberi ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare Pada Balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013........................................................................................... 67 Tabel 5.8 Hubungan Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun dengan Kejadian Diare Pada Balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013.............................................................. 68 Tabel 5.9 Hubungan Menggunakan Air Bersih dengan Kejadian Diare Pada Balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013.... 69 Tabel 5.10 Hubungan Menggunakan Jamban Sehat dengan Kejadian Diare Pada Balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013................................................................................. 70

DAFTAR BAGAN Halaman Bagan 2.1 Kerangka Teori .................................................................. 39 Bagan 3.1 Kerangka Konsep .............................................................. 41

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Lampiran 1 Jadwal Penelitian Lampiran 2 Surat Calon Responden Lampiran 3 Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 4 Kuesioner Penelitian Lampiran 5 Surat Izin Kesediaan Menjadi Pembimbing Lampiran 6 Surat Izin Penelitian Lampiran 7 Lembar Konsultasi Bimbingan Lampiran 8 Lembar Undangan Seminar Skripsi Lampiran 9 Format Usulan Seminar Skripsi Lampiran 10 Pengolahan Data

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama dalam bidang kesehatan yang saat ini terjadi di negara Indonesia. Derajat kesehatan anak mencerminkan derajat kesehatan bangsa. Berdasarkan alasan tersebut, masalah kesehatan anak diprioritaskan dalam perencanaan dan penataan pembangunan bangsa (Hidayat, 2008). Dalam profil kesehatan provinsi SUMSEL 2010 dikatakan bahwa gambaran derajat kesehatan dapat dilihat dari beberapa indikator seperti mortalitas dan morbiditas. Salah satu penyebab kematian balita terbesar di Indonesia adalah penyakit diare. Menurut badan kesehatan Dunia (WHO), diare menjadi penyebab nomor satu kematian balita di seluruh Dunia. Selama lima tahun terakhir kejadian diare dan presentasi kematiannya di dunia mengalami

peningkatan/penurunan dari tahun 2008 sampai dengan 2012, berdasarkan penelitian WHO (2008), 15% kematian anak dibawah 5 tahun disebabkan oleh penyakit diare. Di Indonesia diare adalah pembunuh nomor dua setelah inpeksi saluran napas atas ISPA. Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Berdasarkan profil kesehatan Indonesia kejadian diare pada pasien rawat inap berada di posisi pertama, pada tahun 2009 angka kejadian diare sebesar 143.696 kasus dan jumlah pasien yang

meninggal sebanyak 1.747, pada tahun 2010 angka kejadian diare sebesar 71.889 kasus dan jumlah pasien yang meninggal sebanyak 1.289. Berdasarkan data DINKES provinsi SUMSEL pada tahun 2010, penemuan penderita diare balita di kabupaten/kota dengan target SPM 70%. capaian 15 kabupaten/kota rata-rata 3,24%, yang berarti bahwa persentase penderita balita yang ditangani terhadap jumlah perkiraan penderita diare di wilayah tersebut adalah 3,24%. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya terjadi peningkatan jumlah penderita yaitu dari 67.391 penderita (capaian SPM 2,23%) pada tahun 2008 menjadi 98.890 penderita (capaian SPM 3,24%) pada tahun 2009. Dari data DINKES Kota Palembang persentase kejadian diare pada tahun 2009 sebanyak 54.612 penderita, pada tahun 2010 kejadian diare sebanyak 49.897 penderita, pada tahun 2011 sebanyak 45.593 penderita, pada tahun 2012 kejadian diare terus meningkat pada bulan Januari angka kejadian sebanyak 3.616 kasus dan sampai bulan Agustus angka kejadian diare meningkat menjadi 5.049 kasus dan terjadi peningkatan pada bulan Januari sampai ke Februari 2013 sebesar 7,3%. Pada dasarnya penyakit diare dapat dicegah, salah satu cara yang dapat digunakan untuk mencegah diare yaitu dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga. Dari data yang di dapat untuk tingkat keberhasilan program perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga di Indonesia sebanyak 7.961.965 rumah tangga yang ber-PHBS dari 59.118.900 rumah tangga jika di persentasekan sebanyak 53,89%, sedangkan

untuk data keberhasilan program perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 409.897 rumah tangga yang ber-PHBS dari 1.714.700 rumah tangga, jika di persentasekan sebanyak 46,49% (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2012).

Berdasarkan data Puskesmas Sukarami untuk pencapaian program perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga sebanyak 80,3%, dari 10 indikator ada beberapa yang belum mencapai target yaitu merokok dan perilaku mencuci tangan. Ada beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan jika kita melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga yaitu : setiap rumah tangga meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit, anak tumbuh sehat dan cerdas, produktifitas kerja anggota keluarga meningkat dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah tangga, maka biaya yang tadinya di alokasikan untuk kesehatan dapat di alihkan untuk biaya investasi seperti biaya pendidikan, pemenuhan gizi keluarga dan modal usaha untuk peningkatan pendapatan keluarga. Hasil penelitian Kusumawati (2010) di Desa Tegowawu Grobongan, didapatkan 17 (36,2%) balita yang tidak mengalami diare, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 30 (63,8%). Hasil penelitian Supiyan (2012) di Kelurahan Rejo Sari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru didapatkan 24 balita yang diare, sedangkan yang balita yang tidak mengalami diare sebanyak 73 balita.

Berdasarkan studi pendahuluan di Puskesmas Sukarami Palembang pada tanggal 17 Mei 2013, terjadi peningkatan kejadian diare pada balita, pada bulan Februari 28 kasus, bulan Maret 33 kasus, dan pada bulan April 36 kasus. setelah peneliti melakukan wawancara pada 5 orang tua yang datang ke puskesmas dengan balita mengalami diare, 3 diantaranya belum melakukan PHBS rumah tangga secara keseluruhan. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti menarik kesimpulan bahwa kejadian diare pada setiap tingkat angka kejadianya masih tinggi oleh karena itu, maka penulis tertarik untuk meneliti Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Rumah Tangga dengan Kejadian Diare Pada Balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013.

B. Rumusan Masalah Diare masih merupakan masalah utama pada anak balita, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Masih tingginya angka kejadian diare dan pelaksanaan PHBS rumah tangga yang belum maksimal oleh

keluarga, berdasarkan latar belakang yang peneliti susun, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah ada hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013.

C.

Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Diketahuinya hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013. 2. Tujuan Khusus a. Diketahuinya distribusi frekuensi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dalam memberi ASI eksklusif pada keluarga yang datang ke puskesmas dengan membawa balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013. b. Diketahuinya distribusi frekuensi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dalam mencuci tangan menggunakan air bersih dan sabun pada keluarga yang datang ke puskesmas dengan membawa balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013. c. Diketahuinya distribusi frekuensi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dalam menggunakan air bersih pada keluarga yang datang ke puskesmas dengan membawa balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013. d. Diketahuinya distribusi frekuensi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dalam menggunakan jamban sehat pada keluarga yang datang ke puskesmas dengan membawa balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013.

e.

Diketahuinya distribusi frekuensi kejadian diare pada balita, terhadap keluarga yang datang ke puskesmas dengan membawa balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013.

f.

Diketahuinya hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dalam memberi ASI eksklusif dengan kejadian diare pada balita terhadap keluarga yang datang ke puskesmas dengan membawa balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013.

g.

Diketahuinya hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dalam mencuci tangan menggunakan air bersih dan sabun dengan kejadian diare pada balita terhadap keluarga yang datang ke puskesmas dengan membawa balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013.

h.

Diketahuinya hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dalam menggunakan air bersih dengan kejadian diare pada balita terhadap keluarga yang datang ke puskesmas dengan membawa balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013.

i.

Diketahuinya hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dalam menggunakan jamban sehat dengan kejadian diare pada balita terhadap keluarga yang datang ke puskesmas dengan membawa balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013.

D. Manfaat Peneltian 1. Bagi Puskesmas Sukarami Palembang Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Puskesmas Sukarami dalam upaya meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga. 2. Bagi Institusi Pendidikan Memberikan informasi khususnya pengetahuan dibidang

keperawatan komunitas serta dapat digunakan sebagai referensi untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan bagi mahasiswa dan mahasiswi STIKes Perdhaki Charitas mengenai hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dengan kejadian diare pada balita. 3. Bagi Peneliti Penelitian ini untuk menambah wawasan, pengetahuan metode penelitian dalam keperawatan komunitas dan hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dengan kejadian diare pada balita. 4. Bagi Peneliti Selanjutnya Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi untuk meneliti lebih lanjut mengenai hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dengan kejadian diare pada balita.

E. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini termasuk dalam area masalah keperawatan komunitas pada balita yang difokuskan untuk mengetahui hubungan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare, pada keluarga yang datang ke puskesmas dengan membawa balita ke Puskesmas Sukarami. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga yang datang ke puskesmas dengan membawa balita ke Puskesmas Sukarami Palembang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2013. Metode yang digunakan adalah jenis penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional.

F. Penelitian Terkait 1. Supiyan (2012) meneliti Hubungan Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Tatanan Rumah Tangga dengan Kejadian Diare Pada Balita di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru tahun 2012. Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Rumah Tangga dengan Kejadian Diare pada Balita di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. 2. Arie, K (2011) meneliti Pengaruh PHBS Tatanan Rumah Tangga Terhadap Diare Balita di Kelurahan Gandus Palembang. Penelitian ini merupakan survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Desain metodelogi yang digunakan adalah korelasi. Populasi yaitu ibu-ibu yang

memiliki anak balita. Hasil uji statistik menjelaskan tidak adanya hubungan yang signifikan antara pemberian ASI ekslusif dengan kejadian diare, ada hubungan bermakna antara penggunaan air bersih dengan kejadian diare pada balita, ada hubungan bermakna antara penggunaan jamban dengan kejadian diare pada balita di kelurahan gandus palembang tahun 2011. 3. Kusumawati (2011) meneliti Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Dengan Kejadian Diare Pada Balita Usia 1-3 Tahun Studi Kasus di Desa Tegowawu Wetan Kecamatan Tegowawu Grobongan. Penelitian ini merupakan observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi yaitu keluarga yang memliliki balita usia 1-3 tahun. Hasil uji statistik ini menjelaskan dari 10 indikator PHBS ada dua indikator yang memiliki hubungan yang signifikan dengan diare yaitu sumber air minum dan perilaku mencuci tangan.

G. Definisi Kata Kunci Kata kunci : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Diare dan Balita. 1. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat yang meliputi : persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberi ASI eksklusif, menimbang balita setiap

bulan, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, ketersediaan air bersih, ketersediaan jamban sehat, memberantas jentik di rumah sekali seminggu, melakukan aktifitas fisik, makan buah dan sayur setiap hari, dan tidak merokok di dalam rumah, (Maryunani, 2013). 2. Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal, ditandai dengan peningkatan volume, keenceran, serta frekuesnsi lebih dari 3 kali sehari dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir darah, (Hidayat, 2008). 3. Balita adalah anak yang telah menginjak usia diatas 1 tahun atau lebih populer dengan pengertian usia di bawah 5 tahun, (Septiari, 2012).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Perilaku 1. Pengertian Perilaku Perilaku adalah merupakan perbuatan atau tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, di gambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya. Perilaku diatur oleh prinsip dasar perilaku yang menjelaskan bahwa ada hubungan antara perilaku manusia dengan peristiwa lingkungan. Perubahan perilaku dapat diciptakan dengan merubah peristiwa di dalam lingkungan yang menyebabkan perilaku tersebut (Maryunani, 2013). Menurut Sulzer, Azaroff, Mayer: 1977 dalam teori ABC atau yang dikenal dengan model ABC mengungkapkan bahwa perilaku adalah merupakan suatu proses dan sekaligus hasil interaksi antara : Antecedent, Behavior, Concequences (Notoatmodjo, 2010). Menurut Becker (1979) membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan dan membedakan menjadi tiga, yakni : a. Perilaku sehat (healthy behavior) adalah perilaku-perilaku atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya mempertahankan dan meningkatakan kesehatan. b. Perilaku sakit (illness behavior) adalah berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang yang sakit dan atau terkena masalah

kesehatan atau keluarganya, untuk mencari penyembuhan, atau teratasi masalah kesehatan lain. c. Perilaku peran orang sakit (the sick role behavior) dari segi sosiologi, orang yang sedang sakit mempunyai peran yang mencakup hakhaknya (rights), dan kewajiban sebagai orang sakit (obligation). 2. Pengukuran Perilaku Kesehatan Cara pengukuran sangat berperan dalam menentukan hasil penelitian tersebut. Metode-metode yang sering digunakan untuk mengukur perilaku kesehatan, biasanya tergantung dari beberapa hal antara lain : ranah perilaku yang diukur (pengetahuan, sikap, dan tindakan / praktek) dan juga tergantung pada jenis dan metode penelitian yang digunakan. Perilaku manusia adalah kognitif, afektif (emosi) dan konasi yang dalam bentuk operasionalnya adalah ranah pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan tindakan atau praktek (practice) (Notoatmodjo, 2010). a. Pengetahuan (knowledge) 1) Pengertian Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003) dalam (Budiman dan Agus, 2013).

Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekadar menjawab what, misalnya apa air, apa manusia, apa alam, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2012). Pengetahuan adalah hal apa yang diketahui oleh orang atau responden terkait dengan sehat dan sakit atau kesehatan, misalnya : tentang penyakit (penyebab, cara penularan dan cara pencegahan) (Notoatmodjo, 2010). 2) Tahapan pengetahuan Tahapan pengetahuan menurut Benjamin. S Bloom (1956) dalam (Budiman dan Agus, 2013) ada enam tahapan, yaitu : a) Tahu (know) Berisikan kemampuan untuk mengenali dan

mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya. b) Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. c) Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi tersebut secara benar.

d) Analisis (analisys) Analisis adalah suatu kemampuan untuk

menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponenkomponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. e) Sintesis (synthesis) Sintesis merujuk pada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagianbagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. f) Evaluasi (evaluation) Evalusi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian suatu materi atau objek. 3) Factor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan Factor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu pendidikan, informasi / media massa, social, budaya dan ekonomi, lingkungan, pengalaman, usia (Budiman dan Agus, 2013). 4) Pengukuran tingkat pengetahuan Menurut Skinner, bila seseorang mampu menjawab mengenai materi tertentu baik secara lisan maupun tulisan, maka dikatakan seseorang tersebut mengetahui bidang tersebut. Pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menanyakan tentang isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau responden. b. Sikap (Attitude) 1) Pengertian Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang, atau peristiwa (Stepan, 2007). Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) Sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespons secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang (Budiman dan Agus, 2013). Sikap adalah bagaimana pendapat atau penilaian orang atau responden terhadap hal yang terkait dengan kesehatan, sehat-sakit dan faktor terkait dengan faktor risiko kesehatan, misalnya : bagaimana pendapat responden terhadap penyakit demam berdarah, anak gizi buruk dan lain-lain (Notoatmodjo, 2010). 2) Komponen sikap Menurut Breckler (1984), komponen utama sikap adalah sebagai berikut (Budiman dan Agus, 2013). a) Kesadaran. b) Perasaan. c) Perilaku.

3) Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi sikap (Azwar, 2007) dalam (Budiman dan Agus, 2013). a) Pengalaman pribadi. b) Pengaruh orang lain yang dianggap penting. c) Pengaruh budaya. d) Media massa. e) Lembaga pendidikan dan lembaga agama. f) Pengaruh faktor emosional.

4) Tahapan sikap Dalam taksonomi Bloom (1956) tahapan domain sikap adalah sebagai berikut (Budiman dan Agus, 2013). a) Menerima Tahap sikap menerima adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dan lain-lain. Termasuk dalam jenjang ini, misalnya adalah kesadaran dan keinginan untuk menerima stimulus. b) Menanggapi Tahap sikap menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikutsertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya.

c) Menilai Tahap sikap menilai adalah memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau objek sehingga apabila kegiatan tersebut tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. d) Mengelola Tahap sikap mengelola adalah mempertemukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada perbaikan umum. e) Menghayati Tahap sikap mengahayati adalah keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. 5) Pengukuran sikap Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah : menerima (memperhatikan), merespons, menghargai, mengorganisasi, dan menghayati. Hasil pengukuran berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral (Budiman dan Agus, 2013).

c.

Tindakan (Practice) 1) Pengertian Praktek adalah hal apa yang dilakukan oleh responden terhadap terkait dengan kesehatan misalnya : cara pencegahan penyakit, cara peningkatan kesehatan, cara memperoleh pengobatan yang tepat dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010). 2) Tingkatan praktik menurut kualitasnya menurut Notoatmodjo 2010 a) Praktik terpimpin (guide response) Apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih tergantung pada tuntutan atau menggunakan panduan. b) Praktik secara mekanisme (mechanism) Apabila subjek atau seseorang telah melakukan atau mempraktikan sesuatu hal secara otomatis maka disebut praktik atau tindakan mekanis. c) Adopsi (adoption) Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang. Artinya, apa yang dilakukan tidak sekedar rutinitas atau mekanisme saja, tetapi sudah dilakukan modifikasi, atau tindakan atau perilaku yang berkualitas.

3) Pengukuran tindakan (practice) Mengukur perilaku terbuka, praktek atau tindakan, relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan mengukur perilaku tertutup (pengetahuan dan sikap). Secara garis besar mengukur perilaku terbuka atau praktek dapat dilakukan melalui dua metode (Notoatmodjo, 2010), yakni : a) Langsung Mengukur perilaku terbuka secara langsung, berarti peneliti langsung mengamati atau mengobservasi perilaku subjek yang akan diteliti. Untuk memudahkan pengamatan, maka hal-hal yang akan diamati tersebut dituangkan atau dibuat lembar tilik atau (chechk list). b) Tidak langsung Pengukuran perilaku secara tidak langsung ini, berarti peneliti tidak secara langsung mengamati perilaku orang yang diteliti. Oleh sebab itu pengukuran tidak langsung ini dapat dilakukan dengan berbagai cara yakni : (1) Metode mengingat kembali atau recall Metode recall ini dilakukan dengan cara responden atau subjek penelitian diminta untuk mengingat kembali terhadap perilaku atau tindakan beberapa waktu lalu. Lamanya waktu yang diminta untuk diingat responden berbeda-beda. Untuk perilaku

makan atau asupan makanan, oleh para ahli gizi telah ditetapkan 24 jam maka disebut 24 hours recall. (2) Melalui orang ketiga atau orang lain yang dekat dengan subjek atau responden Pengukuran perilaku terhadap seseorang atau responden dilakukan oleh orang yang terdekat dengan responden yang diteliti. (3) Melalui indikator (hasil perilaku) responden Pengukuran ini dilakukan melalui indikator hasil perilaku orang yang diamati. Misalnya peneliti akan mengamati atau mengukur perilaku kebersihan diri seorang murid sekolah. Maka yang diamati adalah hasil dari perilaku kebersihan diri tersebut, antara lain : kebersihan kuku, telinga, kulit, gigi, dan seterusnya

B. Konsep Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) 1. Pengertian a. Pengertian perilaku sehat Perilaku sehat adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.

Menurut Gochman dalam Notoatmodjo (2003), health behaviour dapat di lihat sebagai atribut-atribut personal seperti kepercayaankepercayaan, harapan-harapan, motif-motif, nilai-nilai, persepsi dan unsur-unsur kognitif lainnya, sebagai karakteristik individu meliputi unsur-unsur dan keadaan afeksi dan emosi dan sebagai pola perilaku yang tampak yakni tindakan-tindakan dan kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan dengan mempertahankan, memilhara dan untuk meningkatkan kesehatan (Maryunani, 2013). b. Pengertian perilaku hidup sehat Perilaku hidup sehat (PHS) adalah perilaku yang bekaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang yang mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. c. Pengertian perilaku hidup bersih dan sehat ( PHBS) Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku yang dilakukan atas keadaan sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. (Pusat Promkes Depkes RI, 2008). Menurut (Poverawati, A dan Rahmawati, E, 2012) bahwa perilaku hidup bersih dan sehat merupakan cerminan pola hidup keluarga yang senantiasa memperhatikan dan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.

d.

Pengertian program perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Program perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (advokasi), bina suasana dan pemberdayaan masyarakat (empowerment).

e.

Pengertian tatanan dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Yang dimaksud dengan tatanan dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dapat di jabarkan sebagai berikut : 1) Tatanan adalah tempat dimana sekumpulan orang hidup, bekerja, bermain, berinteraksi dan lain-lain. 2) Terdapat 5 tatanan PHBS yaitu rumah tangga, sekolah, tempat kerja, sarana kesehatan dan tempat-tempat umum. 3) Pembinaan PHBS dilakukan melalui pendekatan tatanan, karena setiap orang hidup dalam tatanannya, yang saling mempengaruhi dan menimbulkan interaksi yang dinamis antar berbagai pribadi dalam tatanannya, sehingga di harapkan dapat memacu peningkatan perilaku positif antar anggota dalam tatanan tersebut.

2.

Macam-macam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) a. b. c. d. e. f. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di sekolah. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di masyarakat. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di institusi kesehatan. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di tempat kerja. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di tempat-tempat umum.

3.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Rumah Tangga a. Pengertian PHBS rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarkat (Promosi Kesehatan, 2012). b. Tujuan PHBS di rumah tangga 1) Untuk meningkatkan dukungan dan peran aktif petugas kesehatan, petugas lintas sektor, media massa, organisasi masyarakat, LSM, tokoh masyrakat, tim penggerak PKK dan dunia usaha dalam pembinaan PHBS di rumah tangga. 2) Meningkatkan kemampuan keluarga untuk melaksanakan PHBS berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. c. Sasaran PHBS rumah tangga Sasaran PHBS tatanan rumah tangga adalah seluruh anggota keluarga secara keluarga, yaitu :

1) Pasangan usia subur. 2) Ibu hamil dan atau ibu menyusui. 3) Anak dan remaja. 4) Usia lanjut. 5) Pengasuh anak. d. Manfaat PHBS bagi rumah tangga 1) Setiap rumah tangga meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit. 2) Anak tumbuh sehat dan cerdas. 3) Produktifitas kerja anggota keluarga meningkat dengan

meningkatnya kesehatan anggota rumah tangga, maka biaya yang tadinya di alokasikan untuk kesehatan dapat di alihkan untuk biaya investasi seperti biaya pendidikan, pemenuhan gizi, keluarga dan modal usaha untuk peningkatan pendapatan keluarga. e. Sepuluh (10) indikator PHBS di tatanan rumah tangga (Proverawati, A & Rahmawati, E, 2012) : 1) Persallinan di tolong oleh tenaga kesehatan. 2) Memberi ASI eksklusif. 3) Menimbang balita setiap bulan. 4) Menggunakan air bersih. 5) Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. 6) Menggunakan jamban sehat.

7) Memberantas jentik di rumah sekali seminggu. 8) Makan buah dan sayur setiap hari. 9) Melakukan aktivitas fisik setiap hari. 10) Tidak merokok di dalam rumah. f. Cara mengukur perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga Dengan menggunakan pertanyaan tertutup berupa lembar wawancara dan observasi berbentuk lembar cheklist tentang penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tatanan rumah tangga yang telah baku berdasarkan Kemenkes RI 2011 dengan alternatif jawaban Ya dan Tidak. Jika responden menjawab Ya diberi nilai = 1 dan jika responden menjawab tidak diberi nilai = 0, kemudian hasil pengukuran variabel PHBS tatanan rumah tangga dikategorikan menjadi dua kategori : 1) Rumah tangga tidak ber-PHBS = melakukan < 10 Indikator PHBS tatanan rumah tangga. 2) Rumah tangga ber-PHBS = melakukan 10 indikator PHBS tatanan rumah tangga. g. Persalinan di tolong oleh tenaga kesehatan 1) Pengertian Persalinan di tolong oleh tenaga kesehatan adalah persalinan yang di tolong tenaga kesehatan (bidan, dokter, dan tenaga para medis lainnya).

2) Alasan mengapa setiap persalinan harus di tolong oleh tenaga kesehatan : a) Tenaga kesehatan merupakan orang yang sudah ahli dalam membantu persalinan, sehingga keselamatan ibu bayi lebih terjamin. b) Apabila terdapat kelainan dapat diketahui dan segera di tolong atau di rujuk ke puskesmas atau rumah sakit. c) Persalinan yang di tolong oleh tenaga kesehatan

menggunakan peralatan yang aman, bersih, dan steril sehingga mencegah terjadinya terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan lainnya. h. Memberi bayi ASI eksklusif 1) Pengertian bayi di beri ASI eksklusif Bayi di beri ASI eksklusif adalah bayi usia 0-6 bulan hanya di beri ASI saja tanpa memberikan tambahan makanan atau minuman lain. 2) Pengertian ASI ASI adalah makanan alamiah berupa cairan dengan kandungan gizi yang cukup dan sesuai untuk kebutuhan bayi, sehingga bayi tumbuh dan berkembang dengan baik. ASI pertama berupa cairan bening bewarna kekuningan (kolostrum) yang sangat baik untuk bayi karena mengandung zat kekebalan terhadap penyakit.

3) Manfaat memberikan ASI a) Manfaat ASI bagi ibu (1) Menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dengan bayi. (2) Mengurangi pendarahan setelah persalinan. (3) Mempercepat pemulihan kesehatan ibu. (4) Mengurangi resiko terkena kanker payudara. b) Manfaat ASI bagi bayi (1) Bayi lebih sehat, lincah dan tidak cengeng. (2) Bayi tidak sering sakit. i. Menimbang bayi dan balita 1) Pengertian Menimbang bayi dan balita adalah menimbang bayi / balita setiap bulan dan mencatat dalam kartu menuju sehat (KMS). 2) Alasan mengapa bayi harus ditimbang setiap bulan Penimbangan bayi dan balita di maksudkan untuk memantau pertumbuhan bayi dan balita setiap bulan. j. Menggunakan air bersih 1) Pengertian Air adalah kebutuhan dasar yang di pergunakan seharihari untuk minum, memasak, mandi, mencuci dan sebagainya agar kita tidak terkena penyakit atau terhindar dari sakit.

2) Syarat-syarat air bersih a) Air tidak berwarna (jernih). b) Air tidak keruh, harus bebas dari pasir, debu, lumpur, sampah, dan lain-lain. c) Air tidak berasa. d) Air tidak berbau seperti bau amis, dan belerang. 3) Manfaat air bersih a) Terhindar dari gangguan penyakit seperti diare, kolera, disentri, dan penyakit kulit. b) Setiap anggota keluarga terpelihara kebersihan dirinya. 4) Asal sumber air bersih a) Mata air. b) Air sumur / sumur pompa. c) Air ledeng. d) Air hujan. e) Air dalam kemasan. k. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 1) Pengertian Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari dengan menggunakan air ataupun cairan lainnya oleh manusia untuk tujuan menjadi bersih.

2) Manfaat mencuci tangan a) Membunuh kuman penyakit yang ada di tangan. b) Mencegah penyakit seperti diare, kecacingan, penyakit kulit dan lain-lain. c) Tangan menjadi bersih dan bebas dari kuman. l. Menggunakan jamban sehat 1) Pengertian Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat duduk dengan leher angsa yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya. 2) Jenis jamban yang digunakan a) Jamban cemplung adalah jamban yang penampungannya berupa lubang. b) Jamban tangki septik adalah jamban berbentuk leher angsa yang penampunganya berupa tangki septik. 3) Syarat-syarat jamban sehat a) Tidak mencemari sumber air minum, jarak antara sumber air minum dengan lubang penampungan minimal 10 meter. b) Tidak berbau. c) Kotoran tidak dapat di jamah oleh serangga dan tikus. d) Tidak mencemari tanah disekitarnya. e) Mudah dibersihkan dan aman digunakan.

f)

Di lengkapi dinding dan atap pelindung.

g) Penerangan dan ventilisai yang cukup. h) Lantai kedap air dan luas ruangan memadai. i) Tersedia air, sebun dan alat pembersih.

m. Memberantas jentik nyamuk di rumah sekali seminggu 1) Pengertian rumah bebas jentik Rumah bebas jentik adalah rumah tangga yang setelah dilakukan pemerikasaan jentik secara berkala tidak terdapat jentik nyamuk. 2) Manfaat rumah bebas jentik a) Populasi nyamuk menjadi terkendali sehingga penularan penyakit dengan perantara nyamuk dapat di cegah atau di kurangi. b) Kemungkinan terhindar dari berbagai penyakit semakin besar seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria cikungunya atau kaki gajah. c) Lingkungan rumah menjadi bersih dan sehat. n. Makan buah dan sayur setiap hari 1) Pentingnya makan sayuran dan buah a) Mengandung vitamin dan mineral, yang mengatur

pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh. b) Mengandung serat yang tinggi.

2) Manfaat vitamin yang ada di dalam sayur dan buah a) Vitamin A untuk pemeliharaan kesehatan mata. b) Vitamin D untuk kesehatan tulang. c) Vitamin E untuk kesuburan. d) Vitamin K untuk pembekuan darah. e) Vitamin C meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. f) Vitamin B mencegah penyakit beri-beri.

g) Vitamin B12 meningkatkan nafsu makan. 3) Manfaat makanan berserat a) Mencegah diabetes. b) Melancarkan buang air besar. c) Menurunkan berat badan. d) Membantu proses pembersihan racun. e) Mencegah kanker. o. Melakukan akrivitas fisik setiap hari Aktifitas fisik adalah melakukan pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik, mental, dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari. p. Tidak merokok di dalam rumah Tidak merokok di dalam rumah. Setiap anggota keluarga tidak boleh merokok di dalam rumah. Berdasarkan hasil SUSENAS

(Survey sosial Ekonomi Nasional) tahun 2001 menyatakan bahwa 92,0%, dari perokok menyatakan kebiasaannya merokok didalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lainnya.

C. Konsep Diare 1. Pengertian Diare Diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari, dengan atau tanpa darah dan lendir dalam feses. Secara epidemiologik, biasanya diare didefinisikan sebagai pengeluaran feses lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari, tetapi ibu mungkin menggunakan istilah berbeda-beda untuk menggambarkan diare. Secara lebih praktis diare didefinisikan sebagai frekuensi feses menjadi lebih lunak pada anak sehingga dianggap abnorma oleh ibu anak tersebut (Sodikin, 2012). Diare dapat disebabkan oleh berbagai infeksi, selain penyebab lain seperti malabsorbsi. Diare sebenarnya merupakan salah satu gejala dari penyakit pada sistem gastrointestinal atau penyakit lain di luar saluran pencernaan. Tetapi sekarang lebih dikenal dengan penyakit diare, karena dengan sebutan penyakit diare akan mempercepat tindakan penanggulangannya. Penyakit diare terutama pada bayi perlu mendapatkan tindakan secepatnya karena dapat membawa bencana bila terlambat (Ngastiyah, 2012). Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya, ditandai dengan peningkatan volume,

keenceran, serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir darah (Hidayat, 2008). 2. Jenis Diare Secara klinis, diare dibedakan menjadi tiga macam sindrom yaitu : a. Diare akut (gastroenteritis) adalah yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat. Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dari pada anak yang lebih besar. b. Disentri adalah diare yang disertai darah dalam feses, menyebabkan anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat dan kerusakan mukosa usus akibat bakteri invasif. c. Diare persisten adalah diare yang pada mulanya akut, tetapi berlangsung lebih dari 14 hari. Kejadian dapat dimulai sebagai diare cair atau disentri (Sodikin, 2012). 3. Etiologi Secara garis besar, penyebab diare dikelompokan menjadi penyebab langsung atau faktor yang dapat mempermudah atau mempercepat terjadinya diare. Penyebab diare akut dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu diare sekresi dan diare osmotik. Kuman penyebab diare menyebar melalui mulut (orofekal), di antaranya melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh feses atau kontak langsung dengan feses penderita. Beberapa perilaku khusus menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare, yaitu :

a.

Tidak memberi ASI eksklusif selama 4-6 bulan pertama kehidupan. risiko menderita diare berat beberapa kali lebih besar pada bayi yang tidak mendapat ASI dibandingkan bayi yang mendapat ASI eksklusif. risiko kematian karena diare juga lebih besar.

b.

Menggunakan botol susu yang tidak bersih. Penggunaan botol ini memudahkan pencemaran oleh kuman yang berasal dari feses dan sukar dibersihkan. Sewaktu susu dimasukan kedalam botol yang tidak bersih, terajadi kontaminasi kuman dan bila tidak segera diminum, kuman dapat berkembangbiak di dalamnya.

c.

Menyimpan makanan matang pada suhu kamar. Penyimpanan makanan yang sudah dimasak untuk digunakan kemudian

memudahkan pencemaran, salah satunya melalui kontak dengan permukaan peralatan yang terpajan. d. Menggunakan air minum tercemar bakteri yang berasal dari feses. Air mungkin terpajan pada sumbernya atau pada saat disimpan di rumah. Pencemaran di rumah dapat terjadi jika tempat penyimpanan tidak tertutup atau jika tangan tercemar kuman saat kontak dengan air sewaktu mengambilnya dari tempat penyimpanan. e. Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar, sesudah membuang feses, atau sebelum memasak makanan. f. Membuang feses (termasuk feses bayi) dengan tidak benar. Di masyarakat ada anggapan bahwa feses bayi tidak membahayakan kesehatan, padahal sebenarnya feses bayi mengandung virus atau

bakteri dalam jumlah besar. Feses binatang dapat pula menyebabkan infeksi pada manusia. Faktor-faktor penyebab Diare : Faktor infeksi a. Infeksi enternal ; infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Meliputi infeksi enternal sebagai berikut : 1) Infeksi bakteri : Vibrio, E.coli, Salmonella, Shigella,

Campylobacter, Yersinia, Aeromonas. 2) Infeksi virus : Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie,

Poliomyelitis) Adeno-virus Rotavirus, Astrovirus,dan lain-lain. 3) Infeksi parasit : Cacing protozoa (Ascaris, (Entamoeba Trichuris, histolytica,

Oxyuris,Strongyloides);

Giardia lambia, Trichomonas hominis); jamur (Candida albicans). b. Infeksi parenteral ialah infeksi di luar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut (OMA), tonsilitis / tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefaliti dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun (Sodikin, 2012). 4. Manifestasi Klinis Gambaran awal diare dimulai dengan bayi atau anak cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau

tidak ada, kemudian timbul diare. Fases makin cair, mungkin mengandung darah atau lendir, dan fases berubah menjadi kehijauan karena becampur empedu (Sodikin, 2012). Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan eletrolit, gejala dehidrasi mulai nampak ; yaitu berat badan turun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan, sedang dan berat (Ngastiyah, 2012). 5. Patofisiologi Proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai

kemungkinan faktor di antaranya pertama faktor infeksi, proses ini dapat diawali adanya mikroorganisme (kuman) yang masuk ke dalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan usus. Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya

mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorpsi cairan dan elektrolit. Kedua faktor malabsorpsi merupakan kegagalan dalam

melakukan absorpsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadila diare. Ketiga faktor

makanan, ini dapat terjadi apabila toksin yang ada tidak mampu diserap dengan baik. Sehingga terjadi peningkatan peristaltik usus yang mengakibatkan penurunan kesempatan untuk menyerap makan yang kemudian menyebabkan diare. Keempat, faktor psikologis dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan peristaltik usus yang akhirnya mempengaruhi proses penyerapan makanan yang dapat menyebabkan diare (Hidayat, 2008). 6. Komplikasi Komplikasi kehilangan akibat diare. a. Dehidrasi 1) Ringan (5%BB). 2) Sedang (5-10%BB). 3) Berat (10-15%BB). b. c. Renjatan hipovolemik. Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia, perubahan elektrokardiogram). d. e. f. Hipoglikemia. Kejang, terjadi pada dehidrasi hipertonik. Malnutrisi energi protein, (akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik) (Arief & Kristiyanasari, W, 2009). 7. Pemeriksaan Penunjang Pemerikasaan objektif utama pada pasien penderita diare akut adalah penentuan tingkat keparahan dehidrasi dan deplesi elektrolit.

Adanya demam menunjukan infeksi oleh salmonella, shigella, atau campylobacter. Pemeriksaaan colok dubur dan sigmoidoskopi harus dilakukan. Keduanya bertujuan menilai tingkat radang rektal (Sodikin, 2012). 8. Pencegahan Diare a. b. c. Memberi ASI eksklusif kepada bayi usia 4-6 bulan. Menghindari penggunaan susu botol. Memperbaiki cara penyiapan dan penyimpanan makanan

pendamping ASI. d. e. Menggunakan air bersih untuk minum. Mencuci tangan dengan baik sesudah buang air besar dan setelah membuang feses bayi, serta sebelum makan. f. Membuang feses secara benar.

D. Konsep Balita 1. Pengertian Balita adalah anak dengan usia di bawah 5 tahun dengan karakteristik pertumbuhan yakni pertumbuhan cepat pada usia 0-1 tahun dimana umur 5 bulan berat badan naik 2x berat badan lahir, dan 3x berat badan lahir pada umur 1 tahun dan menjadi 4x pada umur 2 tahun. Balita juga diartikan anak yang telah menginjak usia diatas 1 tahun atau lebih populer dengan pengertian usia anak di bawah 5 tahun (Septiari, 2012).

Bagan 2.1 Kerangka Teori

Persalinan Di Tolong Tenaga Kesehatan Memberi ASI Eksklusif

Menimbang Bayi Setiap Bulan Mencuci Tangan Dengan Air Bersih dan Sabun Menggunakan Air Bersih

Prilaku Hidup Bersih dan Sehat Rumah Tangga

Makan Buah dan Sayur Setiap Hari Memberantas Jentik Nyamuk di Rumah Sekali Seminggu Menggunakan Jamban Sehat Melakukan Aktivitas Fisik Setiap Hari Tidak Merokok di Dalam Rumah

Sumber : PUSPROMKES DEPKES RI, 2006, Maryunani, A 2013, Budiman dan Agus, 2013, Notoatmodjo, 2010

BAB III KERANGKA KONSEP

A. Definisi Konsepsional Kerangka konsep dalam suatu penelitian adalah suatu uraian dan visiualisasi hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya, atau antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti. Konsep adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasi suatu pengertian. Oleh sebab itu, konsep tidak dapat diukur dan diamati secara langsung. Agar dapat diamati dan dapat diukur, maka konsep tersebut harus dijabarkan ke dalam variabel-variabel. Dari variabel itulah konsep dapat diamati dan diukur (Notoatmodjo, 2012). Jenis variabel diklasifikasikan menjadi bermacam-macam tipe untuk menjelaskan penggunaannya dalam penelitian. Beberapa variabel

dimanipulasi, yang lainnya sebagai kontrol. Beberapa variabel diidentifikasi tetapi tidak diukur dan yang lainnya diukur dengan pengukuran sebagian. Macam-macam tipe variabel meliputi : independen, dependen, moderator, perancu, kontrol dan random (Nursalam, 2008). Peneliti membahas hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga, dari 10 indikator peneliti mengambil memberi ASI eksklusif, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan air bersih, dan menggunakan jamban sehat sebagai variabel independen dan kejadian diare pada balita sebagai variabel dependen.

Bagan 3.1 : Kerangka Konsep

Memberi ASI Eksklusif

Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun Kejadian Diare Menggunakan Air Bersih

Menggunakan Jamban Sehat

B. Operasional Variabel Definisi operasional adalah uraian tentang batasan variabel yang dimaksud, atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2012).

Tabel 3.1 Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Rumah Tangga dengan Kejadian Diare pada Balita di Puskesmas Sukarami Palembang 2013 Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur 1. ASI eksklusif jika bayi diberi ASI sampai umur 6 bulan tanpa makanan tambahan Wawancara Kuesioner 2. Tidak ASI eksklusif jika bayi diberi ASI dan makanan tambahan sampai umur 6 bulan (Kemenkes RI 2011) 1. Baik jika nilai = 6 Kuesioner 2. Kurang baik jika nilai < 6 (Kemenkes RI 2011) Ordinal Ordinal Skala Ukur

Memberi ASI Eksklusif

Bayi diberi ASI saja tanpa makanan tambahan selama 6 bulan

Salah satu tindakan Mencuci sanitasi dengan Tangan dengan membersihkan Wawancara Air Bersih dan tangan dan jari Sabun jemari dengan air ataupun cairan lainnya

Menggunakan Air Bersih

Air yang dipergunakan sehari-hari untuk minum, mandi, mencuci dan sebagainya

Wawancara

Kuesioner

Menggunakan Jamban Sehat

Suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia

1. Air bersih jika nilai =4 2. Air kurang bersih jika nilai < 4 (Kemenkes RI 2011) 1. Jamban sehat jika nilai = 9 2. Jamban kurang sehat jika nilai < 9 (Kemenkes RI 2011) 1. Diare jika BAB cair > 3x sehari dalam 6 bulan terakhir. 2. Tidak diare jika BAB cair 3x sehari dalam 6 bulan terakhir

Ordinal

Wawancara

Kuesioner

Ordinal

Suatu peristiwa yang Kejadian Diare menerangkan jumlah penderita diare

Wawancara

Kuisioner

Ordinal

C. Hipotesis Hipotesis merupakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam penelitian. Oleh karena itulah maka dari peneliti dituntut kemampuanya untuk dapat merumuskan hipotesis ini dengan jelas. Di dalam penelitian ada dua jenis hipotesis yang digunakan yaitu hipotesis kerja atau disebut dengan hipotesis alternatif (Ha) dan hipotesis nol (Ho) (Arikunto, 2010). Bedasarkan tujuan dan kerangka konsep penelitian, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut : Ha : 1. Ada hubungan memberi ASI eksklusif dengan kejadian diare pada balita. 2. Ada hubungan mencuci tangan dengan air bersih dan sabun dengan kejadian diare pada balita. 3. Ada hubungan menggunakan air bersih dengan kejadian diare pada balita. 4. Ada hubungan menggunakan jamban sehat dengan kejadian diare pada balita.

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan

menggunakan survei analitik melalui pendekatan cross sectional, yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach) (Notoadmodjo, 2012). Peneliti membahas perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dalam memberi ASI eksklusif, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan air bersih, dan menggunakan jamban sehat sebagai variabel independen dan kejadian diare sebagai variabel dependen.

B. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Puskesmas Sukarami Palembang.

Pengumpulan data yang telah dilakukan melalui pengisian kuesioner pada tanggal 12 Juni 2013 22 juni 2013.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2010). Populasi penelitian ini adalah keluarga yang datang dengan membawa balita ke Puskesmas Sukarami Palembang pada saat penelitian. Perkiraan besar populasi keluarga yang membawa balita ke puskesmas 4 bulan terakhir pada tahun 2013 adalah sebanyak 740 orang, rata-rata perbulan adalah 185 orang. 2. Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2010). Pengambilan sampel dalam peneltian ini dilakukan dengan metode non random (non probability) sampling yaitu pengambilan sampel yang tidak didasarkan atas kemungkinan yang dapat

diperhitungkan, dengan menggunakan teknik accidental sampling yaitu pengambilan sampel secara accidental ini dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan konteks penelitian (Notoatmodjo, 2012). Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 responden. Dengan kriteria inklusi responden : a. b. Keluarga yang bersedia untuk menjadi responden. Keluarga yang membawa balita ke Puskesmas Sukarami Palembang.

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Sumber a. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden dengan menggunakan kuesioner untuk variabel perilaku hidup bersih dan sehat rumah tangga dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013. b. Data Sekunder Data sekunder adalah data-data yang diperoleh dari Profil DINKES Kota Palembang, Puskesmas Sukarami Palembang, dari buku ajar keperawatan anak, data tertulis dari media cetak maupun elektronik.

E. Alat Pengumpul Data Pengumpulan data merupakan kegiatan penelitian untuk

mengumpulkan data. Sebelum melakukan pengumpulan data, perlu dilihat alat ukur pengumpulan data agar dapat memperkuat hasil penelitian (Hidayat, Aziz Alimul, 2009). Alat ukur pengumpulan data tersebut antara lain dapat berupa sebagai berikut : 1. Kuesioner Kuesioner merupakan alat ukur berupa angket atau kuesioner dengan beberapa pertanyaan. Pembuatan kuesioner ini dibuat oleh peneliti

sendiri berdasarkan teori dan mengacu kepada permasalahan yang akan diteliti dengan menggunakan skala Guttman. Skala Guttman ini pada umumnya dibuat seperti checklist dengan interpretasi penilaian, apabila skor benar nilainya 1 dan apabila salah nilainya 0 (Hidayat, 2009). a. Pada variabel dependen kejadian diare dalam 6 bulan terakhir, hasil ukur yang digunakan adalah diare jika nilai jawaban 1 dan tidak diare jika jawaban nilai 0. b. Pada variabel independen memberi ASI eksklusif, hasil ukur yang digunakan adalah ASI eksklusif jika nilai jawaban 1 dan tidak ASI eksklusif jika nilai jawaban 0. c. Pada variabel independen mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, hasil ukur yang digunakan adalah baik jika nilai jawaban = 6 dan kurang baik jika nilai jawaban < 6. d. Pada variabel independen menggunakan air bersih, hasil ukur yang digunakan adalah air bersih jika nilai jawaban = 4 dan air kurang bersih jika nilai jawaban < 4. e. Pada variabel independen menggunakan jamban sehat, hasil ukur yang digunakan adalah jamban sehat jika nilai jawaban = 9 dan jamban kurang sehat jika nilai jawaban > 9. 2. Wawancara Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara mewawancarai langsung responden yang akan diteliti, metode ini memberikan hasil secara langsung dan bertujuan untuk mengetahui hal-hal

dari responden secara mendalam. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Oleh karena itu wawancara yang dilakukan tidak secara mendalam.untuk mendapatkan data yang mendukung variabel penelitian serta untuk memberikan penjelasan kepada responden yang tidak mengerti maksud dari pertanyaan yang dibuat peneliti dalam kuesioner.

F. Tehnik Analisis Data 1. Pengolahan Data Dalam proses pengolahan data terdapat langkah-langkah yang harus ditempuh, diantaranya (Hidayat, 2009) : a. Editing Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul. b. Coding Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan dan analisis data menggunakan komputer. Biasanya dalam pembeian kode dibuat juga daftar kode dan artinya dalam satu buku (code book) untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel.

c.

Entry data Data entri adalah kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan ke dalam master tabel atau database komputer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau bisa juga dengan membuat tabel kotigensi.

d.

Pembersihan Data (cleaning) Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinankemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi (Notoatmodjo, 2010).

2.

Analisis Data a. Univariat Analisa ini bertujuan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari tiap variabel yang diteliti baik dependen maupun independen. Analisa univariat ini untuk melihat karakteristik dan kualitas tiap variabel dengan tujuan untuk melihat kelayakan data yang dikumpulkan. Pada umumnya dalam analisis ini hanya

menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel yakni kejadian diare pada balita, ASI eksklusif, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan air bersih dan menggunakan jamban sehat.

b.

Bivariat Analisa bivariat yaitu analisa yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi. (Notoatmodjo, 2012). Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah chisquare untuk mengetahui hubungan variabel dependen (kejadian diare) dan variabel independen (perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Rumah Tangga dalam memberi ASI eksklusif, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan air bersih dan menggunakan jamban sehat). Data yang telah di tabulasi diolah dengan menggunakan komputer menurut distribusi frekuensi dan tabulasi silang kemudian di analisis dengan menggunakan uji chisquare dengan tingkat kemaknaan 0,05, dengan kriteria uji apabila p value > dari taraf kesalahan yang ditetapkan (nilai ) maka tidak ada hubungan. Bila p value taraf kesalahan yang ditetapkan (nilai ) maka ada hubungan (Hidayat 2009).

G. Jadwal Penelitian Jadwal pelaksanaan tahun 2013, yaitu penyusunan proposal dilakukan pada tanggal 04 Mei-04 Juni 2013. Pengajuan seminar proposal pada tanggal 04 Mei 2013. Seminar proposal pada tanggal 12 Juni 2013. Perbaikan proposal pada tanggal 13-24 Juni 2013. Pengamatan dan pengumpulan data tanggal 13-22 Juni 2013. Analisa data dan interpretasi pada tanggal 23-17 Juli 2013. Pengajuan seminar hasil dan komprehensif pada tanggal 17 Juli

2013. Ujian skripsi pada tanggal 23 Juli 2013. Perbaikan skripsi pada tanggal 24-27 Juli 2013. Penyerahan skripsi dan buku ke Program Studi pada tangaal 27 Juli.

H. Etika Penelitian Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan berhubungan langsung dengan manusia, maka dari segi etika penelitian harus diperhatikan. Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut : 1. Informed Consent (lembar persetujuan) Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed consent ini diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Jika responden tidak tersedia, maka peneliti harus menghormati hak pasien. 2. Anomity (tanpa nama) Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur

dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan. 3. Confidentiality (kerahasiaan) Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset (Hidayat, 2009).

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013. A. Gambaran Umum Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) adalah satuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat

menyeluruh, terpadu merata dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat dengan peran serta aktif masyarakat yang menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas, guna mencapai derajat kesehatan yang optimal tanpa mengabaikan mutu pelayanan perorangan. Pelayanan kesehatan menyeluruh adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif (penyuluhan kesehatan), preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan penyakit) maupun rehabilitatif (pemulihan kesehatan) dan ditujukan untuk semua golongan umur dan jenis kelamin. Puskesmas Sukarami sebagai Unit Pelayanan Kesehatan terdepan tingkat dasar, harus mampu mandiri dan bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat khususnya di wilayah kerjanya yang meliputi 2 (dua) keluarahan yakni Kelurahan Kebun Bunga dan Kelurahan Sukarami dalam

membantu Dinas Kesehatan Kota Palembang untuk mencapai Visi Palembang Sehat Tahun 2013. 1. Letak Geografi Puskesmas Sukarami berdiri tahun 1990 dengan luas bangunan kurang lebih 200 m2, ditambah enam unit rumah dinas untuk dokter dan paramedis sehingga luas seluruhnya mencakup kurang lebih 450 m2. Lokasi Puskesmas Sukarami berada di Jalan Kebun Bunga Kelurahan Kebun Bunga Kecamatan Sukarami, berdekatan dengan beberapa instansi seperti kantor kecamatan sukarami, kantor Kelurahan Kebun Bunga, Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan kantor KUA kecamatan Sukarami. Berjarak 1 km dari Jalan Kolonel H. Burlian Km 9. Puskesmas Sukarami dapat ditempuh dengan kendaraan umum, baik roda dua maupun kendaraan roda empat. Wilayah kerja Puskesmas meliputi tiga kelurahan : a. Kelurahan Kebun Bunga b. Kelurahan Sukarami c. Kelurahan Karya Baru Luas keseluruhan wilayah tersebut adalah 1.550 km2 yang sebagian besar hanya dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua ataupun belum ada kendaraan umum dengan kondisi tanah perbukitan dan dataran rendah serta jumlah penduduk 51.859 jiwa. 2. Wilayah Kerja Puskesmas Sukarami Adapun batas wilayah puskesmas Sukarami Palembang meliputi:

a. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Srijaya, Suka Bangun. b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Kenten. c. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Karya Baru. d. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Sukajadi 3. Visi dan Misi Puskesmas Visi dan misi serta tujuan dari Puskesmas Sukarami Palembang adalah : a. Visi Tercapainya wilayah kerja puskesmas Sukarami yang sehat optimal tahun 2014 b. Misi 1) Meningkatkan sarana dan prasarana dan pelayanan bermutu prima 2) Meningkatkan kemitraan pada semua pihak 3) Meningkatkan sumber daya manusia di Puskesmas Sukarami 4) Meningkatkan pemberdayaan masyarakat 5) Menciptakan suasana nyaman dilingkungan kerja c. Tujuan Pokok Puskesmas 1) Menyelenggarakan segala urusan rumah tangga daerah dalam bidang kesehetan yang menjadi tanggung jawabnya dan tugas pembantuan yang diberikan oleh pemerintah tingkat I dan pemerintah kota. 2) Pembinaan umum bidang kesehatan meliputi pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif berdasarkan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Gubernur.

3) Pembinaan teknis upaya kesehatan dasar dan upaya pelayanan kesehatan rujukan berdasarkan kebijaksanaan teknis yang

ditetapkan oleh menteri kesehatan. 4) Pembinaan operasional sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Bupati / Walikota Kepala Daerah Tingkat I. 4. Demografi Adapun peta demografi di wilayah kerja puskesmas Sukarami Tahun 2012 dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 5.1 Peta Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Sukarami Tahun 2012 Kelurahan No Kondisi Demografi Kebun Sukarami Jumlah Bunga Jumlah Penduduk 1. 32223 19636 51859 2. 3. 4. 5. 6. Jumlah Kepala Keluarga Jumlah Bayi Jumlah Balita Jumlah Posyandu Jumlah Kader 5505 440 1229 6 9 3153 274 661 11 2 3663 318 1880 17 8

Sumber : Profil Puskesmas Sukarami Tahun 2013 5. Sarana dan Prasarana a. Sumber dana 1) Retribusi 40% 2) ASKES 3) APBD 4) JPS BK

b. Sarana transportasi 1) Mobil ambulance pusling 1 unit 2) Sepeda motor 2 unit c. Sarana administrasi Sampai saat ini Puskesmas Sukarami memiliki satu unit komputer yang digunakan semaksimal mungkin untuk pembuatan laporan dan pembukuan di Puskesmas. 6. Kegiatan dan Program a. Kesehatan Ibu dan Anak 1) Pemeriksaan antenatal, buteki, nifas 2) Pemeriksaan MTBS 3) Keluarga berencana 4) Pembinaan posyandu 5) Pembinaan TK 6) Pemberian kapsul vitamin A 7) pemberian tablet penambah darah 8) Penyuluhan pemanfaatan pekarangan 9) Penyuluhan PMT 10) Pemberian makanan tambahan untuk anak sekolah 11) Penyuluhan gilingan emas b. Kesehatan lingkungan 1) Penyuluhan kesehatan lingkungan sekolah, posyandu, dan pemukiman

2) Pendataan rumah sehat 3) PHBS 4) Pendataan TPM-TPU 5) Penyuluhan gilingan emas c. P2P 1) P2 ISPA a) Penyuluhan penyakit ISPA b) Penemuan penderita ISPA c) Pengobatan penderita ISPA 2) P2 Diare a) Penyuluhan penyakit diare b) Pengobatan penderita diare c) Rehidrasi rumah tangga 3) P2 TB paru a) Penyuluhan penyakit TB paru b) Pengobatan penderita TB paru c) Pemeriksaan dahak dirujuk ke puskesmas Dempo karena puskesmas Ariodillah merupakan puskesmas satelit 4) DHF a) Penyuluhan penyakit DHF b) Pengobatan penderita DHF 5) Imunisasi a) Penyuluhan imunisasi

b) Pelayanan imunisasi bayi, bumil, dan caten c) Pelayanan imunisasi anak SD 6) Pengobatan termasuk pelayanan darurat karena kecelakaan a) Pengobatan umum b) Penyuluhan peserta dan keluarga Askes c) Pengobatan keluarga miskin dan JPS-BK d) Rujukan 7) Penyuluhan kesehatan masyarakat a) Didalam gedung puskesmas b) Diluar gedung puskesmas 8) Usaha kesehatan sekolah (UKS) a) Pendataan dan penimbangan anak TK b) Pendataan dan skrining anak SD kelas I c) Imunisasi (Bias) 9) Perawatan kesehatan masyarakat a) Rujukan kasus risiko tinggi b) Kunjungan rumah penderita TB paru dan lain-lain c) Kunjungan rumah bumil, bayi, balita berisiko tinggi 10) Kesehatan gigi dan mulut a) Pengelolaan penyakit gigi dan mulut b) Penyuluhan penyakit gigi dan mulut di Posyandu c) Penyuluhan dan pemeriksan gigi di TK dan SD

11) Laboratorium sederhana a) Untuk bumil, pemeriksaan Hb b) Pemeriksaan kehamilan dengan gravindica stick secara sederhana c) Sputum BTA d) Pemeriksaan widal 12) Kesehatan mata a) Penyuluhan penyakit mata b) Pencarian penderita penyakit mata c) Pengobatan penderita penyakit mata d) Merujuk penderita kelainan mata 13) Pencatatan dan pelaporan a) Laporan bulanan b) Laporan mingguan c) Laporan PWS KIA, Gizi, Imunisasi d) Laporan KB e) Laporan P2M f) Laporan tahunan g) Laporan stratifikasi h) Laporan keuangan 14) Kesehatan usia lanjut a) Pendataan usia lanjut b) Pengobatan usia lanjut

B. Hasil Penelitian 1. Analisa Univariat Dalam analisa univariat dihasilkan distribusi frekuensi jumlah dan persentase dari masing-masing kategori variabel independen (memberi ASI eksklusif, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan air bersih dan menggunakan jamban sehat) dan variabel dependen (kejadian diare pada balita). a. ASI eksklusif Berdasarkan hasil perhitungan, peneliti membagi variabel memberi ASI eksklusif menjadi 2 kategori yaitu ASI eksklusif dan tidak ASI eksklusif, hasil analisis dapat dilihat pada tabel 5.2. Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Memberi ASI Eksklusif di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013 No 1 2 Memberi ASI eksklusif ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Total Frekuensi 21 19 40 Persentase 52,5 47,5 100

Distribusi memberi ASI eksklusif berdasarkan kategori pada tabel 5.2, hasil penelitian didapatkan responden yang memberi ASI ekslusif sebanyak 21 keluarga (52,5%), dan responden yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 19 keluarga (47,5%) dari 40 keluarga.

b.

Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun Berdasarkan hasil perhitungan, peneliti membagi variabel mencuci tangan dengan air bersih dan sabun menjadi 2 kategori, yaitu baik dan kurang baik. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 5.3. Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013 No 1 2 Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun Baik Kurang Baik Total Frekuensi 27 13 40 Persentase 67,5 32,5 100

Distribusi mencuci tangan dengan air bersih dan sabun berdasarkan kategori pada tabel 5.3, hasil penelitian didapatkan responden yang baik dalam mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebanyak 27 keluarga (67,5%), dan responden yang kurang baik sebanyak 13 keluarga (32,5%) dari 40 keluarga. c. Menggunakan air bersih Berdasarkan hasil perhitungan, peneliti membagi variabel menggunakan air bersih menjadi 2 kategori, yaitu air bersih dan air kurang bersih. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 5.4.

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Menggunakan Air Bersih di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013 No 1 2 Menggunakan Air Bersih Air Bersih Air Kurang Bersih Total Frekuensi 30 10 40 Persentase 75 25 100

Distribusi menggunakan air bersih berdasarkan kategori pada tabel 5.4, hasil penelitian didapatkan responden yang menggunakan air bersih sebanyak 30 keluarga (75%), dan responden yang menggunakan air kurang bersih sebanyak 10 keluarga (25%) dari 40 keluarga. d. Menggunakan jamban sehat Berdasarkan hasil perhitungan, peneliti membagi variabel menggunakan jamban sehat menjadi 2 kategori, yaitu jamban sehat dan jamban kurang sehat. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 5.5. Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Menggunakan Jamban Sehat di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013 No 1 2 Menggunakan Jamban Sehat Jamban Sehat Jamban Kurang Sehat Total Frekuensi 30 10 40 Persentase 75 25 100

Distribusi menggunakan jamban sehat berdasarkan kategori pada tabel 5.5, hasil penelitian didapatkan responden yang menggunakan jamban sehat sebanyak 30 keluarga (75%), dan responden yang menggunakan jamban kurang sehat sebanyak 10 keluarga (25%) dari 40 keluarga. e. Kejadian diare Berdasarkan hasil perhitungan, peneliti membagi variabel kejadian diare menjadi 2 kategori, yaitu diare dan tidak diare. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 5.6. Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kejadian Diare di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013 No 1 2 Kejadian Diare Diare Tidak Diare Total Frekuensi 19 21 40 Persentase 52,5 47,5 100

Distribusi kejadian diare berdasarkan kategori pada tabel 5.6, hasil penelitian didapatkan responden yang balitanya mengalami diare dalam 6 bulan terakhir sebanyak 19 keluarga (47,5%), dan responden yang balitanya tidak mengalami diare dalam 6 bulan terakhir sebanyak 21 keluarga (52,5%) dari 40 keluarga.

2. Analisa Bivariat Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen (memberi ASI eksklusif, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan air bersih dan menggunakan jamban sehat) dengan variabel dependen (kejadian diare pada balita), uji hubungan pada penelitian ini menggunakan uji chi square dengan derajat kemaknaan 5 % (0,05). a. Hubungan antara Memberi ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare Pada Balita. Tabel 5.7 Hubungan antara Memberi ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare Pada Balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013 Kejadian Diare No Memberi ASI Eksklusif Tidak Diare n 1. 2, ASI Eksklusif Tidak ASI Eksklusif Total 11 10 21 % 52,4 52,6 52,5 n 10 9 19 Total Diare % 47,6 47,4 47,5 n 21 19 40 % 100 100 100 1,010 (,2923,500) 1,000 OR 95% CI P Value

Dari tabel 5.7, dapat diketahui bahwa keluarga yang memberikan ASI eksklusif dari 21 responden, balita yang mengalami diare 10 (47,6%), lebih besar bila dibandingkan dengan keluarga yang tidak memberikan ASI eksklusif, balita yang mengalami diare 9 (47,4%) dari 19 responden. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 1,000

maka dapat disimpulkan Ha ditolak dan Ho diterima. Ini berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara memberi ASI eksklusif dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR (Odds Rotio) = 1,010 artinya keluarga yang tidak memberikan ASI eksklusif mempunyai peluang 1,01 kali balitanya terkena diare dari pada keluarga yang memberikan ASI eksklusif. b. Hubungan antara Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun dengan Kejadian Diare pada Balita Tabel 5.8 Hubungan antara Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun dengan Kejadian Diare pada Balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013 Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun Baik Kurang Baik Total Kejadian Diare Tidak Diare n 16 5 21 % 59,3 38,5 52,5 n 11 8 19 Total Diare % 40,7 61,5 47,5 n 27 13 40 % 100 100 100 0,430 (,1111,667) 0,370 OR 95% CI P Value

No

1. 2,

Dari tabel 5.8, dapat diketahui bahwa keluarga yang mencuci tangan dengan air bersih dan sabun baik dari 27 responden, balita yang mengalami diare 11 (40,7%), lebih kecil bila dibandingkan dengan keluarga yang mencuci tangan dengan air bersih dan sabun

kurang baik balita yang mengalami diare 8 (61,5%) dari 13 responden. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,370 maka dapat disimpulkan Ha ditolak dan Ho diterima. Ini berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara mencuci tangan dengan air bersih dan sabun dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR (Odds Ratio) = 0,430 artinya keluarga yang mencuci tangan dengan air bersih dan sabun yang kurang baik mempunyai peluang 0,430 kali balitanya terkena diare dari pada keluarga yang mencuci tangan dengan air bersih dan sabun yang baik. c. Hubungan antara Menggunakan Air Bersih dengan Kejadian Diare pada Balita Tabel 5.9 Hubungan antara Menggunakan Air Bersih dengan Kejadian Diare pada Balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013 Kejadian Diare No Menggunakan Air Bersih Tidak Diare n % 18 3 21 60 30 52,5 Diare n 12 7 19 % 40 70 47,5 n 30 10 40 Total % 100 100 100 OR 95% CI 0,430 (,1111,667) P Value

1. 2,

Air Bersih Air Kurang Bersih Total

0,148

Dari tabel 5.9, dapat diketahui bahwa keluarga yang menggunakan air bersih dari 30 responden, balita yang mengalami diare 12 (40%), lebih kecil bila dibandingkan dengan keluarga yang menggunakan air kurang bersih, balita yang mengalami diare 7 (70%) dari 10 responden. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,148 maka dapat disimpulkan Ha ditolak dan Ho diterima. Ini berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara menggunakan air bersih dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR (Odds Ratio) = 0,430 artinya keluarga yang tidak menggunakan air bersih terkena peluang ,430 kali balitanya mengalami diare dari pada keluarga yang menggunakan air kurang bersih. d. Hubungan antara Menggunakan Jamban Sehat dengan Kejadian Diare pada Balita Tabel 5.10 Hubungan antara Menggunakan Jamban Sehat dengan Kejadian Diare pada Balita di Puskesmas Sukarami Palembang Tahun 2013 Kejadian Diare No Menggunakan Jamban Sehat Jamban Sehat Jamban Kurang Sehat Total Tidak Diare n 1. 2, 17 4 21 % 56,7 40 52,5 n 13 6 19 Diare % 43,3 60 47,5 n 30 10 40 Total % 100 100 100 OR 95% CI 0,510 (,1192,188) P Value

0,473

Dari

tabel

5.10,

dapat

diketahui

bahwa

keluarga

yang

menggunakan jamban sehat dari 30 responden, balita yang mengalami diare 13 (43,3%), lebih kecil bila dibandingkan dengan keluarga yang menggunakan jamban kurang sehat, balita yang mengalami diare 6 (60%) dari 10 responden. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,473 maka dapat disimpulkan Ha ditolak dan Ho diterima. Ini berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara menggunakan jamban dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR (Odds Ratio) = 0,51, artinya keluarga yang tidak menggunakan jamban sehat mempunyai peluang 0,51 kali balitanya terkena diare dari pada keluarga yang menggunakan jamban kurang sehat.

C.

Pembahasan 1. Pembahasan a. Diare Diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari, dengan atau tanpa darah dan lendir dalam feses. Secara epidemiologik, biasanya diare didefinisikan sebagai pengeluaran feses lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari, tetapi ibu mungkin menggunakan istilah berbeda-beda untuk menggambarkan diare. Secara lebih praktis diare didefinisikan sebagai frekuensi feses

menjadi lebih lunak pada anak sehingga dianggap abnorma oleh ibu anak tersebut (Sodikin, 2012). Hasil penelitian ini didapatkan balita yang mengalami diare dalam 6 bulan terakhir sebanyak 19 (47,5%) keluarga dan responden yang balitanya tidak mengalami diare dalam 6 bulan terakhir sebanyak 21 (52,5%) keluarga dari 40 keluarga. b. Hubungan Memberi ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare pada Balita. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013 didapatkan p value = 1,000 berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara perilaku hidup bersih dan sehat rumah tangga dalam memberi ASI eksklusif dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013. Hasil penelitian sejalan dengan penelitian Arie, K (2011), yang menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pemberian ASI ekslusif dengan kejadian diare. Berdasarkan penelitian Supiyan (2012), di dapatkan p value = 0,867 ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara memberi ASI eksklusif dengan kejadian diare pada balita. Menurut Maryunani (2013), bahwa ASI berperan dalam pencegahan agar bayi tidak sering sakit. Dengan adanya peran dari keluarga dalam menerapkan ASI eksklusif dapat mencegah balita

untuk tidak sering sakit, salah satunya diare. Menurut Arief dan Weni. K.(2009), salah satu tindakan untuk mencegah terjadinya diare pada balita yaitu memberikan ASI eksklusif dari usia 4-6 bulan. Peneliti berpendapat bahwa tidak adanya hubungan antara ASI eksklusif dengan kejadian diare pada balita dikarenakan penelitian ini di tujukan pada balita usia 1-5 tahun. Di samping itu anak balita pada umumnya sudah memiliki intensitas bermain yang sering dan frekuensi jajan pada anak balita juga sudah tinggi sehingga rentan terkena infeksi saat bermain atau dari jajanan. c. Hubungan Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun dengan Kejadian Diare pada Balita. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013 didapatkan p value = 0,370

berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara perilaku hidup bersih dan sehat rumah tangga dalam mencuci tangan dengan air bersih dan sabun dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013. Hasil penelitian sejalan dengan penelitian Supiyan (2012) di dapatkan p value = 0,766 ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara mencuci tangan dengan air bersih dan sabun dengan kejadian diare pada balita.

Menurut Maryunani (2013), mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari dengan menggunakan air ataupun cairan lainnya oleh manusia untuk tujuan menjadi bersih. Menurut Arief dan Weni. K.(2009), salah satu tindakan untuk mencegah terjadinya diare pada balita yaitu mencuci tangan dengan baik sesudah buang air besar dan setelah membuang feses bayi, serta sebelum makan. Peneliti berpendapat bahwa tidak adanya hubungan antara mencuci tangan dengan air bersih dan sabun dengan kejadian diare pada balita dikarenakan penelitian ini di tujukan pada balita usia 15 tahun. Di samping itu anak balita pada umumnya sudah memiliki intensitas bermain yang sering dan frekuensi jajan pada anak balita juga sudah tinggi sehingga rentan terkena infeksi saat bermain atau dari jajanan. d. Hubungan Menggunakan Air Bersih dengan Kejadian Diare pada Balita. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013 didapatkan p value = 0,148 berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara perilaku hidup bersih dan sehat rumah tangga dalam menggunakan air bersih eksklusif dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013.

Hasil penelitian sejalan dengan penelitian Supiyan (2012), di dapatkan p value = 0,433 ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara menggunakan air bersih dengan kejadian diare pada balita. Menurut Maryunani (2013), air adalah kebutuhan dasar yang di pergunakan sehari-hari untuk minum, memasak, mandi, mencuci dan sebagainya agar kita tidak terkena penyakit atau terhindar dari sakit. Adapun syarat-syarat air bersih yaitu tidak berwarna (jernih), tidak keruh, (harus bebas dari pasir, debu, lumpur, sampah), tidak berasa, dan tidak berbau (bau amis, dan belerang). Menurut Arief dan Weni. K.(2009), salah satu cara untuk mencegah terjadinya diare pada balita yaitu dengan menggunakan air bersih untuk minum. Peneliti berpendapat bahwa tidak adanya hubungan antara menggunakan air bersih dengan kejadian diare pada balita dikarenakan penelitian ini di tujukan pada balita usia 1-5 tahun. Di samping itu anak balita pada umumnya sudah memiliki intensitas bermain yang sering dan frekuensi jajan pada anak balita juga sudah tinggi sehingga rentan terkena infeksi saat bermain atau dari jajanan.

e.

Hubungan antara menggunakan jamban sehat dengan kejadian diare pada balita. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013 didapatkan p value = 0,473

berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara perilaku hidup bersih dan sehat rumah tangga dalam menggunakan jamban sehat dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013. Hasil penelitian sejalan dengan penelitian Supiyan (2012), didapatkan p value = 0,107 ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara menggunakan jamban sehat dengan kejadian diare pada balita. Menurut Maryunani (2013), Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat duduk dengan leher angsa yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk

membersihkannya. Adapun syarat-syarat jamban sehat yaitu tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air minum dengan lubang penampungan minimal 10 meter), tidak berbau, kotoran tidak dapat di jamah oleh serangga dan tikus, tidak mencemari tanah disekitarnya, mudah dibersihkan dan aman digunakan, di lengkapi dinding dan atap pelindung, penerangan dan ventilisai yang cukup, lantai kedap air dan luas ruangan

memadai, dan tersedia air, sebun dan alat pembersih. Menurut Arief dan Weni. K.(2009), salah satu cara untuk mencegah terjadinya diare pada balita yaitu dengan menggunakan air bersih untuk minum. Peneliti berpendapat bahwa tidak adanya hubungan antara menggunakan jamban sehat kejadian diare pada balita dikarenakan penelitian ini di tujukan pada balita usia 1-5 tahun. Di samping itu anak balita pada umumnya sudah memiliki intensitas bermain yang sering dan frekuensi jajan pada anak balita juga sudah tinggi sehingga rentan terkena infeksi saat bermain atau dari jajanan.

D. Keterbatasan Penelitian 1. Waktu penelitian yang disediakan sangat singkat dan proses saat pengumpulan data penelitian terhambat karena diharuskan melakukan dinas selama penelitian sehingga mempengaruhi jumlah sampel untuk penelitian ini.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013 adalah sebagai berikut : 1. Proporsi memberi ASI eksklusif didapatkan yang memberi ASI ekslusif sebanyak 21 responden (52,5%), dan responden yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 19 responden (47,5%). 2. Proporsi mencuci tangan dengan air bersih dan sabun didapatkan responden yang baik dalam mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebanyak 27 responden (67,5%), dan responden yang kurang baik sebanyak 13 responden (32,5%). 3. Proporsi menggunakan air bersih didapatkan responden yang

menggunakan air bersih sebanyak 30 responden (75%), dan responden yang menggunakan air kurang bersih sebanyak 10 responden (25%). 4. Proporsi menggunakan jamban sehat didapatkan responden yang menggunakan jamban sehat sebanyak 30 responden (75%), dan responden yang menggunakan jamban kurang sehat sebanyak 10 responden (25%). 5. Distribusi frekuensi kejadian diare didapatkan responden yang balitanya mengalami diare dalam 6 bulan terakhir sebanyak 19 responden (47,5%),

dan responden yang balitanya tidak mengalami diare dalam 6 bulan terakhir sebanyak 21 responden (52,5%). 6. Tidak ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dalam memberi ASI eksklusif dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013 7. Tidak ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dalam mencuci tangan dengan air bersih dan sabun dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013 8. Tidak ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dalam menggunakan air bersih dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013 9. Tidak ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rumah tangga dalam menggunakan jamban sehat dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukarami Palembang tahun 2013

B. SARAN 1. Bagi Puskesmas Sukarami Palembang Pada operasional variabel perilaku hidup bersih dan sehat rumah tangga, diharapkan Puskesmas Sukarami memberikan informasi kepada masyarakat tentang penyebab dan tanda gejala diare, dan memberikan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya mengawasi perilaku bermain dan perilaku jajan untuk mencegah terjadinya penyakit diare pada balita.

2.

Bagi Keluarga Diharapkan keluarga selalu memperaktikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mengawasi perilaku bermain dan jajan balita untuk mencegah terjadinya penyakit diare ataupun penyakit lainnya.

3.

Bagi Peneliti Yang Akan Datang Diharapkan adanya peneliti yang lebih lanjut untuk mengetahui hubungan perilaku hidup bersih dan sehat rumah tangga dengan kejadian diare pada balita dan meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya diare, dengan jumlah dan kuesioner yang lebih besar.

DAFTAR PUSTAKA

Arief dan Weni. K. 2009. Neonatus dan Asuhan Keperawatan Anak. Yogyakarta : Nuha Medika. Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta. Bea. S, Bety. 2012. Mencetak Balita Cerdas dan Pola Asuh Orang Tua. Yogyakarta : Nuha Medika. Budiman dan Agus. R. 2013. Kapita Selekta Kuesioner Pengetahuan Sikap dalam Penelitian Kesehatan. Jakarta : Salemban Medika. Hidayat A. A. A. 2009. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika. Maryunani, Anik. 2013. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jakarta : TIM. Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC. Notoatmodjo, S. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. . 2012. Metodeogi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta Salemba Medika. Proverawati, A dan Eni. R. 2012. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Yogyakarta : Nuha Medika. Sodikin. 2011. Keperawatan Anak Gangguan Pencernaan. Jakarta : EGC. Ari, K. 2011. Pengaruh PHBS Tatanan Rumah Tangga Terhadap Diare Balita Di Kelurahan Gandus Palembang [skripsi], (online). PSIK Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang.
http://eprints.unsri.ac.id/889/1/makalah_PHBS_keluarga_diare.pdf Diakses Tanggal 9 Mei 2013. (online)

Supiyan. 2012. Hubungan Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tatanan Rumah Tangga dengan Kejadian Diare Pada Balita di Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru [skirpsi], (online). PSIK, Universitas Riau. http://repository.unri.ac.id/bitstream/123456789/1882/1/JURNAL%20SUPIYAN %20pdf..pdf (online) Diakses Tanggal 9 Mei 2013.

Kusumawati, O. 2011. Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dengan Kejadian Diare Pada Balita Usia 1-3 Tahun Studi Kasus Di Desa Tegowanu Wetan Kecamatan Tegowanu Grobongan [Jurnal], (online). Alumni Program Studi S1Ilmu Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang. http://ejournal.stikestelogorejo.ac.id/index.php/ilmukeperawatan/article/view/69 (online) Diakses Tanggal 9 Mei 2013. Furwanto, R. 2013. Hubungan Status Sosial Ekonomi dengan PenerapanPerilaku Hidup Bersih dan Sehat Tatanan Rumah Tangga di Kelurahan Suka Mulia Kecamatan Sail Kota Pekanbaru [Jurnal] , (online). http://repository.unri.ac.id/bitstream/123456789/1951/1/pdf%20roby.pdf Diakses Tanggal 9 Mei 2013. (online)

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/112/jtptunimus-gdl-hermilawat-5564-2-babi.pdf (online) Diakses Tanggal 9 Mei 2013. http://datadokter.blogspot.com/2012/12/diare-pada-anak.html (online) Diakses Tanggal 9 Mei 2013.

http://id.wikipedia.org/wiki/Mencuci_tangan (online) Diakses Tanggal 9 Mei 2013.


http://www.depkes.go.id/downloads/PROFIL KESEHATAN_INDONESIA_TAHUN 2009.pdf (online) Diakses Tanggal 9 Mei 2013. http://www.depkes.go.id/downloads/PROFIL KESEHATAN_INDONESIA_TAHUN 2010.pdf (online) Diakses Tanggal 9 Mei 2013. http://www.depkes.go.id/downloads/PROFIL_DATA_KESEHATAN_INDONESIA TAHUN_2011.pdf (online) Diakses Tanggal 9 Mei 2013.