Anda di halaman 1dari 10

Nurses Roles in Ambulance Services

August 23, 2011 Pre Hospital Care Oleh Sugeng Riyadi Perawat adalah satu profesi dibidang pelayanan kesehatan yang sangat dinamis. Perawat mempunyai peranan dalam pelayanan perawatan baik dari unit pelayanan kesehatan terkecil sampai tingkat pelayanan kesehatan sekelas rumah sakit. Dari pelayanan pra rumah sakit/layanan kesehatan sampai layanan intra rumah sakit/layanan kesehatan. Salah satu peran perawat yang masih sangat jarang digeluti di Indonesia adalah Ambulance Nurse atau Perawat Ambulan. Peran perawat di bidang ini sangat langka kita temukan. Mungkin sebatas yang saya tahu, sampai saat ini baru ada satu layanan gawat darurat milik pemerintah yaitu AGD 118 yang memfasilitasi perawat dalam pemberian layanan kesehatan pra rumah sakit. Sering kita saksikan di negeri kita tercinta Indonesia, ketika kecelakaan terjadi; si korban hanya diangkut dengan alat angkut seadanya, misalnya bak terbuka, sepeda motor, becak atau alat angkut yang ada waktu kejadian. Terkadang malahan si korban terbengkalai sampai beberapa lama sehingga mengakibatkan korban lambat tertolong dan bisa mengarah ke arah fatality atau kematian. Sungguh tragis!. Disisi lain, di setiap kecamatan di seluruh wilayah Indonesia, terdapat minimal 1 Puskesmas induk (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang difasilitasi dengan PusKesLing (Pusat Kesehatan Keliling) yang notabene didesain sebagai mobil ambulan. Walaupun sebenarnya belum juga bisa dikatakan ambulan yang ideal. Seperti kita tahu, banyak mobil ambulan di negeri kita yang hanya berisi stretcher/kereta dorong pasien dan oksigen saja. Ambulan puskesmas ini lebih sering berfungsi untuk rujukan pasien ke tingkat layanan lanjutan, Rumah Sakit tipe C dan selanjutnya. Namun jarang sekali kita temui ambulan ini merespon adanya panggilan emergency, misalnya karena ada kasus kecelakaan, serangan jantung, bencana alam atau kegawadarutan medik lainnya. Lain Indonesia lain yang terjadi di Luar Negeri. Sebagai satu contoh adalah apa yang terjadi di negara Qatar dimana saya bekerja sekarang. Pelayanan ambulan di Qatar sudah tertata dengan bagus. Seluruh wilayah Qatar, terdapat ambulance standby. Setiap warga masyarakat baik lokal maupun expatriate/pendatang mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan gawat darurat. Satu contoh, ketika seorang warga mengalami kecelakaan, kemudian dia sendiri atau temannya, langsung saja mengkontak nomor gawat darurat 999, maka si pemanggil ini akan langsung dihubungkan dengan layanan ambulan 24 jam. Dalam waktu kurang dari 8 menit, ambulan akan tiba dilokasi kecelakaan dan siap memberikan layanan emergency dengan didukung tenaga profesional dan peralatan lengkap. Berangkat dari kondisi diatas, penulis tertarik untuk mengangkat topik ini menjadi sebuah tulisan bersambung tentang apa dan bagaimana ambulance nurse itu. Tulisan ini akan memberikan pengetahuan sekitar pengertian, peran, tugas dan tanggung jawab ambulance nurse dalam penanggulangan kedaruratan medik.

Ambulance Services: a brief history posted Aug 16, 2011, 7:40 AM by Indonesian Nursing Trainers [ updated Aug 16, 2011, 9:21 AM ]

Oleh Sugeng Riyadi

Dalam Kamus Ungkapan Indonesia-Inggris, ambulance diadopsi menjadi kata ambulan. Tapi disini penulis akan menggunakan kata ambulance' dalam pembahasan sejarah singkat tentang layanan ambulan ini.

Ketika mendengar nama ambulance, maka apa yang ada dalam benak kita adalah orang sakit, kecelakaan atau singkatnya ada orang yang sedang membutuhkan pertolongan medis segera. Wikipedia mengutip Skinner (1949), ambulance adalah sebuah kendaraan untuk mengangkut orang sakit atau celaka ke, dari atau antara tempat pengobatan/penanganan orang sakit atau kecelakaan dan atau dalam kondisi lainnya akan memberikan pertolongan kepada pasien diluar rumah sakit. Ambulance juga dideskripsikan sebagai sebuah kendaraan yang didesain secara khusus untuk mengangkut seseorang yang membutuhkan perhatian secara medis (wisegeek.com). Kata ambulance sering dihubungkan dengan kendaraan gawat darurat di jalan raya. Kendaraan yang mempunyai sirene seperti layaknya mobil polisi, atau mobil pengawal kepresidenan. Walaupun sirene yang dipunyai ambulance akan lain dengan yang dimiliki oleh mobil bersirene lainnya.

(picture from hcmc.org)

Tulisan kali ini akan mengulas secara singkat mengenai sejarah pelayanan ambulance di dunia. Penulis mencoba mencari literatur tentang sejarah pelayanan ambulance di Indonesia, namun tak

satupun ditemukan data mengenai hal ini. Yang ada hanya literatur-literatur barat. Ada yang dari buku maupun website pemberi layanan ambulance atau emergency medical services (EMS) baik di Amerika Serikat, Canada, United Kingdom, Australia dan beberapa negara eropa lainnya. Dimasa-masa awal, manusia membutuhkan sesuatu untuk mengangkut mereka yang terluka dan sakit. Awalnya, orang yang terluka dibawa menggunakan tandu, semacam ayunan yang dikaitkan dengan dua pemikul. Alat angkut unik lainnya termasuk dhooleys, manusia mengangkut manusia, yang pernah digunakan di India. Selanjutnya ada panniers Keledai, semacam tandu yang dianyam., kemudian ada juga tandu Unta di Mesir. Indian Mojave juga menyusun kain-kain bekas yang dikaitkan dengan pemikul kemudian dipikul oleh dua orang untuk memikul korban. Gagasan ambulans pertama kali muncul oleh konsep dari Knights of St John. Selama Perang Salib abad ke-11, Knights of St John menerima pengajaran dalam perawatan pertolongan pertama dari dokter Arab dan Yunani. The Knights of St John kemudian bertindak sebagai pekerja darurat pertama, mengobati tentara di kedua sisi perang di medan perang dan membawa yang terluka ke tenda terdekat untuk perawatan lebih lanjut

(picture from about.com)

Ambulance secara lebih formal dikembangkan pertama kali oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella dari Spanyol pada saat perang salib tumpah, banyak tentara yang terluka. Mereka berinisiatif membuat tenda-tenda untuk menampung korban perang. Tenda ini mereka sebut sebagai ambulancia. Kejadian ini berlangsung pada abad 15, tepatnya pada tahun 1487. Masa awal, kendaraan ambulance menggunakan kereta yang ditarik oleh kuda. Ambulance berbahan bakar bensin pertama dikendarai di UK pada tahun 1904, yang mampu membawa satu stretcher dengan kecepatan maksimum 15 mil per jam. Di Amerika, mengembangkan layanan ambulance pertama kali di The Commercial Hospital (sekarang Cincinnati General) pada tahun 1865. Layanan pra rumah sakit ini menjadi semakin

baik ketika Presiden menandatangani undang-undang National Traffic and Motor Vehicle Safety Act di tahun 1966. Ini yang mereka sebut sebagai fokus untuk meningkatkan pelayanan sistem EMS. Berbagai model dan peralatan untuk melengkapi pelayanan ambulance terus dikembangkan di abad 20. Seperti sekarang ini, ambulance yang layak, sudah mempunyai peralatan perekam jantung 12 lead yang datanya bisa langsung ditransfer ke Rumah Sakit rujukan sebelum pasien tiba. Ini hanya satu contoh alat saja, yang menurut penulis merupakan peralatan yang sudah cukup canggih. Dibanding dengan kebanyakan ambulance di Indonesia yang hanya dilengkapi dengan stretcher dan oksigen.

(picture from firefightingincanada.com)

Tulisan singkat ini memang tidak bisa mewakili sebegitu banyak catatan sejarah tentang ambulance khususnya di Eropa dan Amerika. Namun dari sini, kita bisa tahu dimana dan kapan layanan ambulance pertama kali diberikan. Dari sini kita akan menjadi kacang yang tidak lupa akan kulitnya. Semoga mencerahkan. Referensi: 1. 2. http://wikipedia.org http://wisegeek.com

3. Bell, Ryan Corbett. (2009) The ambulance: a history. McFarland & Company Inc.Publishers. USA. 4. 5. 6. 7. 8. http://www.hcmc.org http://www.alamance-nc.com http://www.londonambulance.nhs.uk http://www.medicalflightservices.com http://www.emtlife.com

Dukhan, 16 August 2011 See you in the next notes. INT

Nurses Roles in Ambulance Services: Introduction posted Aug 10, 2011, 7:50 AM by Indonesian Nursing Trainers [ updated Aug 10, 2011, 7:58 AM ]

Oleh Sugeng Riyadi

Perawat adalah satu profesi dibidang pelayanan kesehatan yang sangat dinamis. Perawat mempunyai peranan dalam pelayanan perawatan baik dari unit pelayanan kesehatan

terkecil sampai tingkat pelayanan kesehatan sekelas rumah sakit. Dari pelayanan pra rumah sakit/layanan kesehatan sampai layanan intra rumah sakit/layanan kesehatan. Salah satu peran perawat yang masih sangat jarang digeluti di Indonesia adalah Ambulance Nurse atau Perawat Ambulan. Peran perawat di bidang ini sangat langka kita temukan. Mungkin sebatas yang saya tahu, sampai saat ini baru ada satu layanan gawat darurat milik pemerintah yaitu AGD 118 yang memfasilitasi perawat dalam pemberian layanan kesehatan pra rumah sakit. Sering kita saksikan di negeri kita tercinta Indonesia, ketika kecelakaan terjadi; si korban hanya diangkut dengan alat angkut seadanya, misalnya bak terbuka, sepeda motor, becak atau alat angkut yang ada waktu kejadian. Terkadang malahan si korban terbengkalai sampai beberapa lama sehingga mengakibatkan korban lambat tertolong dan bisa mengarah ke arah fatality atau kematian. Sungguh tragis!. Disisi lain, di setiap kecamatan di seluruh wilayah Indonesia, terdapat minimal 1 Puskesmas induk (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang difasilitasi dengan PusKesLing (Pusat Kesehatan Keliling) yang notabene didesain sebagai mobil ambulan. Walaupun sebenarnya belum juga bisa dikatakan ambulan yang ideal. Seperti kita tahu, banyak mobil ambulan di negeri kita yang hanya berisi stretcher/kereta dorong pasien dan oksigen saja. Ambulan puskesmas ini lebih sering berfungsi untuk rujukan pasien ke tingkat layanan lanjutan, Rumah Sakit tipe C dan selanjutnya. Namun jarang sekali kita temui ambulan ini merespon adanya panggilan emergency, misalnya karena ada kasus kecelakaan, serangan jantung, bencana alam atau kegawadarutan medik lainnya. Lain Indonesia lain yang terjadi di Luar Negeri. Sebagai satu contoh adalah apa yang terjadi di negara Qatar dimana saya bekerja sekarang. Pelayanan ambulan di Qatar sudah tertata dengan bagus. Seluruh wilayah Qatar, terdapat ambulance standby. Setiap warga masyarakat baik lokal maupun expatriate/pendatang mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan gawat darurat. Satu contoh, ketika seorang warga mengalami kecelakaan, kemudian dia sendiri atau temannya, langsung saja mengkontak nomor gawat darurat 999, maka si pemanggil ini akan langsung dihubungkan dengan layanan ambulan 24 jam. Dalam waktu kurang dari 8 menit, ambulan akan tiba dilokasi kecelakaan dan siap memberikan layanan emergency dengan didukung tenaga profesional dan peralatan lengkap. Berangkat dari kondisi diatas, penulis tertarik untuk mengangkat topik ini menjadi sebuah tulisan bersambung tentang apa dan bagaimana ambulance nurse itu. Tulisan ini akan memberikan pengetahuan sekitar pengertian, peran, tugas dan tanggung jawab ambulance nurse dalam penanggulangan kedaruratan medik. Dukhan, 10 Agustus 2011 riyadi.sugeng@gmail.com

seputar ambulans

Di Indonesia, banyak penderita cedera, keracunan, serangan jantung atau kegawat-daruratan yang lain yang meninggal di rumah atau dalam perjalanan ke rumah sakit karena penatalaksanaan yang tidak memadai. Padahal angka kematian di rumah atau dalam perjalanan ke rumah sakit dapat dikurangi jika ada pelayanan gawat darurat yang dapat segera menghampiri penderita, dan dalam perjalanan penderita kemudian didampingi oleh paramedik dan ambulans yang memadai. Oleh karena itu masyarakat perlu mengerti fungsi ambulans dan mudah mendapatkan ambulans. Harus segera dimaklumi, bahwa pada hakekatnya pelayanan gawat darurat yang seharusnya pergi ke penderita, dan bukan penderita yang dibawa ke pelayanan gawat darurat. Ini mengandung konsekuensi, bahwa ambulans yang datang ke penderita, dan kemudian membawanya ke rumah sakit, haruslah merupakan suatu Unit Gawat Darurat berjalan, sebaiknya dengan perlengkapan gawat darurat yang lengkap, dan petugas medik yang ber-keterampilan dalam penanganan gawat darurat. Transportasi penderita gawat darurat dari tempat kejadian ke rumah sakit sampai sekarang masih dilakukan dengan bermacam-macam kendaraan, hanya sebagian kecil saja dilakukan dengan ambulan. Dan ambulannya bukan ambulan yang memenuhi syarat tetapi ambulan biasa. Bila ada bencana dengan sendirinya para korban akan diangkut dengan segala macam kendaraan tanpa koordinasi yang baik. Syarat penderita Seorang penderita gawat darurat dapat ditransportasikan bila penderita tersebut siap (memenuhi syarat) untuk ditransportasikan, yaitu: Gangguan pernafasan dan kardiovaskuler telah ditanggulangi resusitasi : bila diperlukan, perdarahan dihentikan, luka ditutup, patah tulang di fiksasi dan selama transportasi (perjalanan) harus di monitor : a. Kesadaran b. Pernafasan c. Tekanan darah dan denyut nadi d. Daerah perlukaan Prinsip transportasi Pre Hospital Untuk mengangkat penderita gawat darurat dengan cepat & aman ke RS / sarana kesehatan yang memadai, tercepat & terdekat. a. Panduan mengangkat penderita Kenali kemampuan diri dan kemampuan team work Nilai beban yang diangkat,jika tidak mampu jangan dipaksa Selalu komunikasi, depan komando Ke-dua kaki berjarak sebahu, satu kaki sedikit kedepan Berjongkok, jangan membungkuk saat mengangkat Tangan yang memegang menghadap ke depan (jarak +30 cm) Tubuh sedekat mungkin ke beban (+ 50 cm) Jangan memutar tubuh saat mengangkat

Panduan tersebut juga berlaku saat menarik/mendorong b. Pemindahan emergency : Tarikan baju Tarikan selimut Tarikan lengan Ekstrikasi cepat (perhatikan kemungkinan terdapat fraktur servical) Panduan memindahkan penderita (secara emergency, non emergency) a. Contoh pemindahan emergency adalah : Ada api, bahaya api atau ledakan Ketidakmampuan menjaga penderita terhadap baha ya lain Usaha mencapai penderita lain yang lebih urgen Rjp penderita tidak mungkin dilakukan di tkp tersebut Catatan : apapun cara pemindahan penderita selalu ingat kemnungkinan patah tulang leher (servical) jika penderita trauma b. Pemindahan non emergency : Pengangkatan dan pemindahan secara langsung Pengangkatan dan pemindahan memakai sperei (tidak boleh dilakukan jika terdapat dugaan fraktur servical) c. Mengangkat dan mengangkut korban dengan satu atau dua penolong : Penderita sadar dengan cara : human crutch satu / dua penolong, yaitu dengan cara dipapah dengan dirangkul dari samping Penderita sadar tidak mampu berjalan Untuk satu penolong dengan cara : piggy back yaitu di gendong, dan cradel yaitu di bopong, serta drag yaitu diseret Untuk dua penolong dengan cara : two hended seat yaitu ditandu dengan kedua lengan penolong, atau fore and aft carry yaitu berjongkok di belakang penderita. Penderita tidak sadar Untuk satu penolong dengan cara: cradel atau drag Untuk dua penolong dengan cara : fore and aft carry 5. Syarat alat transportasi Syarat alat transportasi yang dimaksud disini adalah : a. Jenis ambulans AGD Transportasi Transportasi penderita AGD Mampu menanggulangi gangguan A (airway), B (breathing), C (circulation) dalam batas-batas Bantuan Hidup Dasar. Juga dilengkapi dengan alat-alat ekstrikasi, fiksasi, stabilisasi dan transportasi Dilengkapi dengan semua alat/obat untuk semua jenis kegawat-daruratan medik AGD Sepeda Motor Tentu saja motor ini bukan alat evakuasi, namun lebih bersifat membawa UGD ke penderita. Peralatannya seperti AGD b. AGD harus mampu:

Idealnya sampai di tempat pasien dalam waktu 6-8 menit agar dapat mencegah kematian karena sumbatan jalan nafas, henti nafas, henti jantung atau perdarahan masif (to save life and limb) Berkomunikasi dengan pusat komunikasi, rumah sakit dan ambulans lainnya Melakukan pertolongan pada persalinan Melakukan transportasi pasien dari tempat kejadian ke RS atau dari RS ke Rs Menjadi rumah sakit lapangan dalam penanggulangan bencana. c. Alat-alat medis Alat alat medis yang diperlukan adalah : resusitasi : manual, otomatik, laringgoskop, pipa endo / nasotracheal, o2, alat hisap, obat-obat, infus, untuk resusitasi-stabilisasi : balut, bidai, tandu (vakum matras), ecg transmitter , incubator, untuk bayi, alat -alat untuk persalinan Alat-alat medis ini dapat disederhanakan sesuai dengan kondisi local. Tiap ambulan dapat berfungsi untuk penderita gawat darurat sehari-hari maupun sebagai RS lapangan dalam keadaan bencana, karena diperlengkapi dengan tenda sehingga dapat menampung 8 10 penderita , alat hisap : 1 manual- 1 otomatik dengan o2- 1 dengan mesin, botol infus sehingga kalau ada 10 ambulan, 200 penderita dapat segera dipasang infus. Dan 2 x 10 20 tenaga perawat ccn d. Personal Ketenagaan pada ambulans sebaiknya sudah terlatih ambulance crew. e. Lingkaran tugas paramedik Pada dasarnya tugas di ambulans adalah lingkaran tugas yang terdiri atas persiapan respons - kontrol TKP - akses - penilaian awal keadaan penderita dan resusitasi ekstrikasi evakuasi transportasi ke rumah sakit yang sesuai, lalu kembali ke persiapan. Persiapan Fase persiapan dimulai saat mulai bertugas atau kembali ke markas setelah menolong penderita Respons Pengemudi harus dapat mengemudi dalam berbagai cuaca. Cara mengemudi harus dengan cara defensif (defensive driving). Rotator selalu dinyalakan, sirene hanya dalam keadaan terpaksa. Mengemudi tanpa mengikuti protokol, akan mengakibatkan cedera lebih lanjut, baik pada diri sendiri, lingkungan maupun penderita. Kontrol TKP Diperlukan pengetahuan mengenai daerah bahaya, harus diketahui cara parkir, serta kontrol lingkungan. Akses ke penderita Masuk ke dalam rumah atau ke dalam mobil yang hancur, tetap harus memakai prosedur yang baku. Penilaian keadaan penderita dan pertolongan darurat Hal ini sedapatnya dilakukan sebelum melakukan ekstrikasi ataupun evakuasi. Ekstrikasi Mengeluarkan penderita dari jepitan memerlukan keahlian tersendiri. Penderita mungkin berada di jalan raya, dalam mobil, dalam sumur, dalam air ataupun dalam medan sulit lainnya. Setiap jenis ekstrikasi memerlukan pengetahuan tersendiri, agar tidak menimbulkan cedera lebih lanjut. Evakuasi dan transportasi penderita 6. Cara transportasi Sebagian besar penderita gawat darurat di bawa ke rumah sakit dengan menggunakan kendaraan darat yaitu ambulan. Tujuan dari transportasi ini adalah memindahkan penderita dengan cepat tetapi aman, sehingga tidak menimbulkan perlukaan tambahan ataupun syock pada penderita. Jadi semua kendaraan yang membawa penderita gawat darurat harus berjalan perlahan-lahan dan mentaati semua peraturan lalu lintas. Bagi petugas ambulan berlaku : Waktu berangkat mengambil penderita, ambulan jalan paling cepat 60 km/jam. Lampu merah (rorator)

dinyalakan, sirine kalau perlu di bunyikan Waktu kembali kecepatan maksimum 40 km/jam, lampu merah (rorator) dinyalakan dan sirine tidak boleh dibunyikan Semua peraturan lalu lintas tidak boleh dilanggar