Anda di halaman 1dari 34

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Hiperplasia prostat adalah pertumbuhan dari nodula-nodula fibroadematosa majemuk atau hyperplasia kelenjar periuretral dalam prostat. Hiperplasia prostat ini terbagi dua yakni, Benign Prostat Hyperplasia (BPH) dan karsinoma prostat. Pembesaran prostat dianggap sebagai proses pertambahan usia. Oleh karena itu dengan meningkatnya usia harapan hidup maka meningkat pula prevalensi BPH. Benign Prostat Hiperplasia (BPH) merupakan penyakit pada laki-laki, umumnya di usia lebih dari 50 tahun yang secara signifikan meningkat dengan peningkatan usia. Pada pria berusia 50 tahun angka kejadiannya sekitar 50% dan pada usia 80 tahun sekitar 80%. Meskipun jarang mengancam jiwa, BPH memberikan keluhan yang menjengkelkan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Kanker prostat paling umum terdiagnosis dan merupakan keganasan saluran kemih kedua paling sering dijumpai sesudah keganasan kandung kemih pada pria di Amerika. Belum ada angka yang pasti tentang insiden dan mortalitas karena kanker prostat, tetapi berdasarkan pengamatan para ahli urologi, kanker prostat merupakan penyebab kematian nomor 3 pada pria setelah kanker nasofaring dan kanker paru. Pemeriksaan radiologi seperti foto polos, USG, CT Scan, MRI prostat, sangat membantu dalam menegakkan diagnose, sehingga dapat dilakukan pengobatan yang lebih tepat dan lebih dini. 1.2 Batasan Masalah

Pembahasan referat ini dibatasi pada anatomi prostat, epidemiologi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, komplikasi, dan prognosis hyperplasia prostat.

1.3 Tujuan Penulisan Penulisan referat ini bertujuan untuk menambah pengetahuan pembaca mengenai hiperplasi prostat dan juga sebagai salah satu syarat dalam menjlani kepaniteraan klinik di bagian radiologi RSUP M. Djamil, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang.
1

1.4 Metode Penulisan Referat ini menggunakan metode tinjauan kepustakaan yang merujuk ke berbagai literatur.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Prostat Prostat merupakan organ kelenjar dari sistem reproduksi pria berbentuk konus terbalik yang dibungkus oleh kapsul fibromuskuler yang terletak di inferior dari kandung kemih dan dapat diraba pada pemeriksaan colok dubur.1

Gambar 1. Anatomi prostat Fungsi utama prostat adalah menghasilkan cairan semen yang mengandung ion sitrat, kalsium, ion fosfat, enzim pembeku dan profibrinolisin. Organ ini menghasilkan sekret yang memberikan bau khas pada semen. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di urethra posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen lain pada saat ejakulasi. Volume cairan prostat merupakan 25% dari seluruh volume ejakulat.1,2 Berat normalnya adalah berkisar 18-20 gram, dengan ukuran 3,5 cm pada potongan transversal basis dan 2,5 cm pada potongan vertikal dan antero-posterior. Di dalamnya terdapat uretra pars posterior yang panjangnya 2,5 cm. Jaringan penyangga prostat di bagian depan adalah ligamentum puboprostatikum dan di sebelah inferior oleh diafragma urogenital. Prostat di bagian belakang ditembus oleh duktus ejakulotorius yang berjalan oblique sampai menembus veromontanum pada dasar uretra pars prostatika, tepat diproksimal dari sfinkter
3

uretra eksterna. Secara makroskopis prostat terdiri dari otot polos dan jaringan ikat. Menurut Mc Neal, prostat dibagi menjadi :1,2,4 1. Zona perifer (glandula prostatica propia / gugusan utama) Gugusan ini sekitar 70% dari volume prostat dan membungkus kedua gugusan lainnya, kecuali bagian depan, dihubungkan satu sama lain oleh isthmus prostat (serabut otot polos) yang tidak bersifat kelenjar. Gugusan ini mempunyai saluran keluar yang bermuara ke dalam sinus prostatikus sepanjang tempat masuk urethra pars prostatika (post spinkter). Sekitar 70% kanker prostat timbul pada zone ini dan umumnya disebabkan oleh prostatitis kronik. 2. Zona sentral (gugusan submukosal) Terletak di bagian intermedia, saluran keluarnya bermuara ke dalam uretra setinggi colliculus seminalis. Duktus zona sentral timbul secara sirkumferensial disekeliling pembukaan duktus ejakulatorius. Zone ini mengandung 25% dari volume prostat dan membentuk kerucut disekeliling duktus ejakulatorius pada bagian dasar vesica urinaria. Zone ini memiliki karakteristik secara struktural dan imunohistokimia yang berbeda dari bagian prostat yang lain, dan diduga berasal dari sistem duktus Wolffian (umumnya mirip dengan epididimis, vas deferens dan vesica seminalis) dimana bagian prostat yang lain berasal dari sinus urogenital. Berdasarkan hal tersebut zona sentral jarang terkena penyakit, hanya 1 5% adenokarsinoma yang timbul pada lokasi ini. 3. Zona transisional (gugusan mukosal) Sekitar 5% dari volume prostat, yang terletak paling profunda dengan saluran keluarnya yang bermuara ke dalam urethra disebelah cranial dari colliculus seminalis. Benign Prostat Hyperplasia (BPH) umumnya muncul dari zone ini. BPH awalnya merupakan mikronodul kemudian berkembang membentuk makronodul di sekitar tepi inferior dari urethra preprostatik tepat diatas verumontanum. Makronodul ini selanjutnya menekan jaringan normal sekitarnya pada posteroinferior zone perifer dengan membentuk kapsul palsu di sekitar jaringan hyperplasia. Perkembangan zone transisi ini menghasilkan gambaran lobus pada sisi atas uretra. Sekitar 20% dari adenocarsinoma terjadi pada zona ini.

Gambar 2. Pembagian zona pada prostat

Gambar 3. Potongan sagital pelvik, tampak bagian stroma fibromuscular anterior prostat (panah kuning), center zone (panah biru) dan prostat bagian peripheral zone (panah merah)

Gambar 4. MRI Prostat normal. Menurut Lowsley Prostat terbagi dalam beberapa lobus. Secara klinis prostat membentuk tiga buah lobus, yaitu dua buah lobus lateralis dan sebuah lobus medius. Kedua lobus lateralis dibagi oleh sulcus sentralis yang dapat dipalpasi pada pemeriksaan colok dubur dan dihubungkan satu sama lain di sebelah ventral urethra oleh isthmus prostatae, yang tidak tampak dari luar. Lobus lateralis merupakan pembentuk massa prostat yang utama. Lobus medius, merupakan bagian yang berbentuk kerucut dari prostat dan terletak antara kedua ductus ejaculatorius dan urethra. Mempunyai ukuran ukuran yang bervariasi, terletak menonjol ke dalam urethra pars cranialis pada permukaan posterior, dan menyebabkan
6

terbentuknya uvula vesicae. Hipertrofi lobus medius dapat menghalangi pengeluaran urine. Pembagian lobus ini tidak mempunyai hubungan dengan struktur histologik pada prostat normal, tetapi umumnya berhubungan dengan pembesaran patologik dari zona transisional bagian lateral dan kelenjar periurethral pada bagian sentral.2,4

Gambar 5. Pembagian Lobus Prostat

Gambar 6. Gambaran prostat pada USG Prostat mendapat perdarahan dari arteri pudenda interna, arteri vesikalis inferior yang merupakan salah satu cabang dari arteri iliaca intema yang masuk ke dalam prostat pada perbatasan prostat dan vesika urinaria, serta arteri hemorhoidalis medius. Darah vena dialirkan kembali melalui plexus venosus prostaticus yang kemudian diteruskan ke vena iliaca interna. Aliran limfe dari prostat sebagian besar dialirkan ke pembuluh limfe iliaca
7

interna, tetapi sebagian ada yang masuk ke pembuluh limfe iliaca externa. Sebagian kecil masuk ke dalam pembuluh limfe sakralis.4,5 2.2 Definisi Pada banyak pasien dengan usia di atas 50 tahun, kelenjar prostatnya mengalami pembesaran, memanjang ke arah kandung kemih dan penyumbatan aliran urin dengan dengan menutup orifisium uretra. Hiperplasia prostat adalah pertumbuhan dari nodula-nodula fibroadematosa majemuk dalam prostat yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah.3 Hiperplasia prostat ini terbagi dua yakni, Benign Prostat Hyperplasia (BPH) dan kanker prostat. Benign Prostat Hyperplasi (BPH) adalah suatu keadaan dimana kelenjar periuretral prostat mengalami hiperplasia yang akan mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. Sedangkan kanker prostat adalah suatu tumor ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat. 6,7 2.3 Epidemiologi Pembesaran prostat dianggap sebagai proses pertambahan usia. Oleh karena itu dengan meningkatnya usia harapan hidup maka meningkat pula prevalensi BPH. Benign Prostat Hiperplasia (BPH) merupakan penyakit pada laki-laki, umumnya di usia lebih dari 50 tahun yang secara signifikan meningkat dengan peningkatan usia. Pada pria berusia 50 tahun angka kejadiannya sekitar 50% dan pada usia 80 tahun sekitar 80%. Karena proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan maka efek perubahan juga terjadi prlahanlahan. Office Of Health Economic di Inggris telah mengeluarkan proyeksi prevalensi BPH di Inggris dan Wales berjumlah sekitar 80.000 orang pada tahun 1991 dan diperkirakan akan meningkat satu setengah kalinya pada tahun 2031.8 Di Indonesia BPH merupakan urutan kedua penyakit saluran kemih dan reproduksi yang ditemukan pada 50% pria berusia di atas 50 tahun dengan angka harapan hidup rata-rata mencapai 65 tahun.3 Kanker prostat paling umum terdiagnosis dan merupakan keganasan saluran kemih kedua paling sering dijumpai sesudah keganasan kandung kemih pada pria di Amerika. Prevalensi kanker prostat meningkat paling cepat sesuai pertambahan usia. Biasanya

keganasan prostat ditemukan pada usia di atas 50 tahun dan jarang di bawah 50 tahun. Di
8

Indonesia belum ada angka yang pasti tentang insiden dan mortalitas karena kanker prostat, tetapi berdasarkan pengamatan para ahli urologi kanker prostat merupakan penyebab kematian nomor 3 pada pria setelah kanker nasofaring dan kanker paru.3,7 2.4 Etiologi dan Faktor Resiko 2.4.1 BPH Etiologi BPH belum diketahui secara pasti namun faktor risiko umur dan hormon androgen diduga berperan penting. Perubahan mikroskopik pada prostat telah terjadi pada usia 30-40 tahun. Ada beberapa teori yang menjelaskan penyebab terjadinya hiperplasi prostat ini, yaitu:6,9 Teori dehidrotestosteron (DHT) Telah disepakati bahwa aksis hipofisis testis dan reduksi testosteron menjadi dehidrotestosteron dalam sel prostat menjadi faktor risiko terjadinya penetrasi DHT ke dalam inti sel yang dapat menyebabkan inkripsi pada RNA sehingga menyebabkan terjadinya sintesis protein. Proses reduksi ini difasilitasi oleh enzim 5-a-reduktase. Teori Hormon Estrogen berperan pada inisiasi dan maintenance pada prostat manusia. Faktor interaksi stroma dan epitel Hal ini banyak dipengaruhi oleh Growth Factor. Basic Fibroblast Growth Factor (FGF) dapat menstimulasi sel stroma dan ditemukan dengan konsentrasi yang lebih besar pada pasien dengan pembesaran prostat jinak. -FGF dapat dicetuskan oleh mikrotrauma karena miksi, ejakulasi atau infeksi. Teori Sel Stem Sel stem adalah sel yang terletak pada dasar hirarki dan dapat memperbaharui diri sendiri serta tidak tergantung pada androgen. Berikutnya adalah sel amplifying yang berasal dari sel stem. Proliferasi sel amplifying dianggap akan menghasilkan amplifikasi mayoritas diantara sel-sel prostat. Ketidaktergantungan terhadap androgen dari kedua jenis sel ini dibuktikan dengan tetap terdapatnya kedua sel ini dalam jumlah yang sama walaupun sumber androgen sudah ditiadakan untuk jangka waktu lama. Namun demikian, sel transit yang berasal dari sel amplifying secara mutlak tergantung pada androgen. Dengan adanya androgen maka sel-sel ini akan berploriferasi menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal. Dengan demikian, bila
9

sel transit ini ditiadakan akan berakibat terjadinya involusi prostat walaupun sel stem dan amplifying tetap ada.

Gambar 7. Benign Prostat Hyperplasia 2.4.2 Kanker prostat Etiologi kanker prostat juga belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor risiko yang mempengaruhi antara lain :6,9 1. Faktor genetik Diduga bila pada keluarga misalnya ayah/kakak (first degree relative) dan kakek/paman (second degree relative) yang menderita kanker prostat maka resiko keganasan prostat tiga kali lebih banyak.

2. Faktor hormonal Akibat aksi androgen pada sel epitel prostat, testosteron yang bebas masuk ke dalam sel menjadi dehidrotestosteron dengan bantuan enzim 5 alpha reduktase. Steroid reseptor kompleks dengan DNA akan niengakibatkan spesifik m-RNA dan sintesa protein yang mempunyai efek metabolik dan proliferatif. 3. Faktor diet dan lingkungan Faktor diet yaitu diet yang banyak mengandung lemak hewani 4. Faktor infeksi Diduga bakteri dan virus dapat mempengaruhi terjadinya kanker prostat, tetapi faktor ini masih menjadi perdebatan.

10

Diantara faktor-faktor risiko tersebut, faktor risiko herediter (genetik) dan faktor diet yang telah terbukti sebagai faktor risiko yang paling mempengaruhi insidensi kanker prostat.

Gambar 11. Kanker prostat 2.5 Patofisiologi 2.5.1 BPH Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan uretra prostatika dan menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urine, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomik buli-buli berupa hipertofi otot detrusor. Perubahan struktur buli-buli tersebut, oleh pasien dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract syptoms (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala prostatismus.Obstruksi yang disebabkan oleh hiperplasia prostat benigna tidak hanya disebabkan oleh adanya masa prostat yang menyumbat uretra posterior, tetapi juga disebabkan oleh tonus otot polos yang ada pada stroma prostat, kapsul prostat, dan otot polos pada leher buli-buli. Otot polos itu dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari nervus pudendus.3,9 Pada BPH terjadi peningkatan rasio stroma terhadap epitel. Kalau pada prostat normal rasio stroma dibanding dengan epitel adalah 2:1, pada BPH rasionya meningkat menjadi 4:1 dan hal ini menyebabkan pada BPH terjadi peningkatan otot polos prostat dibandingkan dengan prostat normal. Dalam hal ini masa prostat yang menyebabkan obstruksi komponen
11

statik sedangkan tonus otot polos yang merupakan komponen dinamik sebagai penyebab obstruksi prostat.3 2.5.2 Kanker Prostat Patofisiologi terjadinya kanker prostat ini belum diketahui secara pasti. Namun faktor herediter dan diet diduga kuat memegang peranan penting. Berdasarkan TNM kanker prostat diklasifikasikan sebagai berikut:3

2.6 Manifestasi Klinis 2.6.1 BPH 3,10 Pada BPH biasanya ditemukan gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi terjadi karena destrusor gagal berkontraksi dengan cukup kuat atau gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus. Gejala dan tanda obstruksi tersebut antara lain : Perubahan ukuran dan pancaran air kemih Interupsi pancaran/miksi terputus (intermitency) Menetes pada akhir miksi (terminal dribling)
12

Harus menunggu pada permulaan miksi (hesistency) Rasa belum puas sehabis miksi

Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna pada saat miksi atau pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada kandung kemih, sehingga vesika sering berkontraksi meskipun belum penuh. Gejala dan tanda tersebut antra lain : Nokturia Frekuensi miksi bertambah (frequency) Miksi sulit ditahan (urgency) Nyeri saat miksi (disuria)

2.6.2 Kanker Prostat 3 Biasanya kanker prostat berkembang secara perlahan dan tidak menimbulkan gejala sampai kanker telah mencapai stadium lanjut. Kadang gejalanya menyerupai BPH, yaitu berupa kesulitan dalam berkemih dan sering berkemih. Gejala tersebut timbul karena kanker menyebabkan penyumbatan parsial pada aliran air kemih melalui uretra. Kanker prostat bisa menyebabkan air kemih berwarna merah (karena mengandung darah) atau menyebabkan terjadinya penahanan air kemih mendadak. Pada beberapa kasus, kanker prostat baru terdiagnosis setelah menyebar ke tulang (terutama tulang panggul, iga dan tulang belakang) atau ke ginjal (menyebabkan gagal ginjal). Kanker tulang menimbulkan nyeri dan tulang menjadi rapuh sehingga mudah mengalami fraktur. Setelah kanker menyebar, biasanya penderita akan mengalami anemia. Kanker prostat juga bisa menyebar ke otak dan menyebabkan kejang serta gejala mental atau neurologis lainnya. Gejala lainnya adalah: Segera setelah berkemih, biasanya air kemih masih menetes-netes Nyeri ketika berkemih Nyeri ketika ejakulasi Nyeri punggung bagian bawah Nyeri ketika buang air besar Nokturia (berkemih pada malam hari) Inkontinensia urine (beser) Nyeri tulang atau tulang nyeri jika ditekan

13

Hematuria (darah dalam air kemih) Nyeri perut Penurunan berat badan.

2.7 Diagnosis 2.7.1 BPH Diagnosis BPH dapat ditegakkan berdasarkan atas berbagai pemeriksaan awal dan pemeriksaan tambahan. Jika fasilitas tersedia, pemeriksaan awal harus dilakukan oleh setiap dokter yang menangani pasien BPH, sedangkan pemeriksaan tambahan yang bersifat penunjang dikerjakan jika ada indikasi untuk melakukan pemeriksaan itu. Anamnesis Pemeriksaan awal terhadap pasien BPH adalah melakukan anamnesis atau wawancara yang cermat guna mendapatkan data tentang riwayat penyakit yang dideritanya. Anamnesis itu meliputi :11,12 Keluhan yang dirasakan dan seberapa lama keluhan itu telah mengganggu Riwayat penyakit lain dan penyakit pada saluran urogenitalia (pernah mengalami cedera, infeksi, atau pembedahan) Riwayat kesehatan secara umum dan keadaan fungsi seksual Obat-obatan yang saat ini dikonsumsi yang dapat menimbulkan keluhan miksi Tingkat kebugaran pasien yang mungkin diperlukan untuk tindakan pembedahan. Salah satu pemandu yang tepat untuk mengarahkan dan menentukan adanya gejala obstruksi akibat pembesaran prostat adalah International Prostate Symptom Score (IPSS). WHO dan AUA telah mengembangkan dan mensahkan prostate symptom score yang telah distandarisasi. Skor ini berguna untuk menilai dan memantau keadaan pasien BPH. Analisis gejala ini terdiri atas 7 pertanyaan yang masing-masing memiliki nilai 0 hingga 5 dengan total maksimum 35. Kuesioner IPSS dibagikan kepada pasien dan diharapkan pasien mengisi sendiri tiap-tiap pertanyaan. Keadaan pasien BPH dapat digolongkan berdasarkan skor yang diperoleh adalah sebagai berikut.11,13 Skor 0-7: bergejala ringan Skor 8-19: bergejala sedang Skor 20-35: bergejala berat.
14

Selain 7 pertanyaan di atas, di dalam daftar pertanyaan IPSS terdapat satu pertanyaan tunggal mengenai kualitas hidup (quality of life atau QoL) yang juga terdiri atas 7 kemungkinan jawaban. Pemeriksaan fisik Colok dubur atau digital rectal examina-tion (DRE) merupakan pemeriksaan yang penting pada pasien BPH, disamping pemerik-saan fisik pada regio suprapubik untuk mencari kemungkinan adanya distensi buli-buli. Dari pemeriksaan colok dubur ini dapat diperkirakan adanya pembesaran prostat, konsistensi prostat, dan adanya nodul yang merupakan salah satu tanda dari keganasan prostat. Mengukur volume prostat dengan DRE cenderung underestimate daripada pengukuran dengan metode lain, sehingga jika prostat teraba besar, hampir pasti bahwa ukuran sebenarnya memang besar. Kecurigaan suatu keganasan pada pemeriksaan colok dubur, ternyata hanya 26-34% yang positif kanker prostat pada pemeriksaan biopsi. Sensitifitas pemeriksaan ini dalam menentukan adanya karsinoma prostat sebesar 33%. Perlu dinilai keadaan neurologis, status mental pasien secara umum dan fungsi neuromusluler ekstremitas bawah. Disamping itu pada DRE diperhatikan pula tonus sfingter ani dan refleks bulbokavernosus yang dapat menunjukkan adanya kelainan pada busur refleks di daerah sakral.11,12 Pemeriksaan Penunjang Radiologis a) Foto Rontgen dan IVP Foto polos berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, dan kadang kala dapat menunjukkan bayangan buli-buli yang penuh terisi urine, yang merupakan tanda dari suatu retensi urine. Pemeriksaan IVP dapat menerangkan kemungkinan adanya: 1) kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis, 2) memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan oleh adanya indentasi prostat (pendesakan buli buli oleh kelenjar prostat) atau ureter di sebelah distal yang berbentuk seperti mata kail (Fish Hook Appearance) dan 3) penyulit yang terjadi pada buli buli yaitu adanya trabekulasi, divertikel, atau sakulasi bulibuli. Pemeriksaan IVP sekarang tidak direkomendasikan lagi pada BPH.3,9

15

Gambar 9. Tampak Fish Hook appearance (ditandai dengan anak panah) pada gambar di atas

Gambar 10. Tampak defek penekanan pada bagian inferior buli buli (panah) yang diakibatkan oleh BPH

b) Ultrasonografi Pemeriksaan ultrasonografi yang sering dilakukan adalah ultrasonografi transrektal atau TRUS. TRUS bisa mengukur besar atau volume kelenjar prostat, adanya kemungkinan pembesaran prostat maligna, sebagai guidance (petunjuk) untuk melakukan biopsi aspirasi prostat, menentukan jumlah residual urine, dan mencari kelainan lain yang mungkin ada di dalam buli buli. Pada BPH gambaran yang ditemukan adalah daerah hipoechoic terutama sering dijumpai di area transisional zone (TZ). Pengukuran volume pada prostat dilakukan dengan mengukur prostat dalam 3 dimensi yang berbeda yaitu dengan mengukur dimensi transversal dan

16

anteroposterior pada potongan aksial dan dimensi longitudional pada potongan sagital. Volume prostat dihitung dengan rumus:14 Volume = transversal x anteroposterior x longitudinal x 0.52

Gambar 11 .Tampak ukuran prostat membesar,tampak indentasi caudal ke buli-buli Pemeriksaan Penunjang Lainnya a) Urinalisis Pemeriksaan urinalisis dapat mengungkapkan adanya leukosituria dan hematuria. BPH yang sudah menimbulkan komplikasi infeksi saluran kemih, batu buli-buli atau penyakit lain yang menimbulkan keluhan miksi, di antaranya: karsinoma bulibuli in situ atau striktura uretra, pada pemeriksaan urinalisis menunjukkan adanya kelainan. Pada pasien BPH yang sudah mengalami retensi urine dan telah memakai kateter, pemeriksaan urinalisis tidak banyak manfaatnya karena seringkali telah ada leukosituria maupun eritostiruria akibat pemasangan kateter.16 b) Faal Ginjal Obstruksi infravesika akibat BPH menyebabkan gangguan pada traktus urinarius bawah ataupun bagian atas. Dikatakan bahwa gagal ginjal akibat BPH terjadi sebanyak 0,3-30% dengan rata-rata 13,6%. Gagal ginjal menyebabkan resiko terjadinya komplikasi pascabedah (25%) lebih sering dibandingkan dengan tanpa disertai gagal ginjal (17%), dan mortalitas menjadi enam kali lebih banyak. Pasien LUTS yang diperiksa ultrasonografi didapatkan dilatasi sistem pelvikalises 0,8% jika kadar kreatinin serum normal dan sebanyak 18,9% jika terdapat kelainan kadar kreatinin serum. Oleh karena itu pemeriksaan faal ginjal ini berguna sebagai petunjuk perlu tidaknya melakukan pemeriksaan pencitraan pada saluran kemih bagian atas.16
17

c) PSA PSA disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ specific tetapi bukan cancer specific. Serum PSA dapat dipakai untuk meramalkan perjalanan penyakit dari BPH; dalam hal ini jika kadar PSA tinggi berarti: (a) pertumbuhan volume prostat lebih cepat, (b) keluhan akibat BPH/laju pancaran urine lebih jelek, dan (c) lebih mudah terjadinya retensi urine akut. Pertumbuhan volume kelenjar prostat dapat diprediksikan berdasarkan kadar PSA. Makin tinggi kadar PSA makin cepat laju pertumbuhan prostat. Laju pertumbuhan volume prostat rata-rata setiap tahun pada kadar PSA 0,2-1,3 ng/dl laju adalah 0,7 mL/tahun, sedangkan pada kadar PSA 1,4-3,2 ng/dl sebesar 2,1mL/tahun, dan kadar PSA 3,3-9,9 ng/dl adalah 3,3 mL/tahun. Kadar PSA di dalam serum dapat mengalami peningkatan pada keradangan, setelah manipulasi pada prostat (biopsi prostat atau TURP), pada retensi urine akut, kateterisasi, keganasan prostat, dan usia yang makin tua. Serum PSA meningkat pada saat terjadi retensi urine akut dan kadarnya perlahan lahan menurun terutama setelah 72 jam dilakukan kateterisasi. Rentang kadar PSA yang dianggap normal berdasarkan usia adalah 17 40-49 tahun: 0-2,5 ng/ml 50-59 tahun:0-3,5 ng/ml 60-69 tahun:0-4,5 ng/ml 70-79 tahun: 0-6,5 ng/ml

Meskipun BPH bukan merupakan penyebab timbulnya karsinoma prostat, tetapi kelompok usia BPH mempunyai resiko terjangkit karsinoma prostat. Pemeriksaan PSA bersamaan dengan colok dubur lebih superior daripada pemeriksaan colok dubur saja dalam mendeteksi adanya karsinoma prostat. Oleh karena itu pada usia ini pemeriksaan PSA menjadi sangat penting guna mendeteksi kemungkinan adanya karsinoma prostat.16 d) Uroflometri Uroflometri adalah pencatatan tentang pancaran urine selama proses miksi secara elektronik. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mendeteksi gejala obstruksi saluran kemih bagian bawah yang tidak invasif. Dari uroflometri dapat diperoleh informasi mengenai volume miksi, pancaran maksimum (Qmax), pancaran rata-rata (Qave), waktu yang dibutuhkan untuk mencapaipancaran maksimum, dan lama pancaran. Pemeriksaan ini sangat mudah, non invasif, dan sering dipakai untuk mengevaluasi
18

gejala obstruksi infravesika baik sebelum maupun setelah mendapatkan terapi. Hasil uroflometri tidak spesifik menunjukkan penyebab terjadinya kelainan pancaran urine, sebab pancaran urine yang lemah dapat disebabkan karena obstruksi pada leher buli - buli atau kelemahan otot detrusor.16 e) Pemeriksaan Residual Urine Residual urine atau post voiding residual urine (PVR) adalah sisa urine yang tertinggal di dalam buli-buli setelah miksi. Jumlah residual urine ini pada orang normal adalah 0,09-2,24 mL dengan rata-rata 0,53 mL. Pemeriksaan residual urine dapat dilakukan secara invasif, yaitu dengan melakukan pengukuran langsung sisa urine melalui kateterisasi uretra setelah pasien berkemih, maupun non invasif, yaitu dengan mengukur sisa urine melalui USG atau bladder scan. Pengukuran melalui kateterisasi ini lebih akurat dibandingkan dengan USG, tetapi tidak mengenakkan bagi pasien, dapat menimbulkan cedera uretra, menimbulkan infeksi saluran kemih, hingga terjadi bakteriemia. Dahulu para ahli urologi beranggapan bahwa volume residual urine yang meningkat menandakan adanya obstruksi, sehingga perlu dilakukan pembedahan; namun ternyata peningkatan volume residual urine tidak selalu menunjukkan beratnya gangguan pancaran urineatau beratnya obstruksi. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Prasetyawan dan Sumardi (2003), bahwa volume residual urine tidak dapat menerangkan adanya obstruksi saluran kemih. Namun, bagaimanapun adanya residu urine menunjukkan telah terjadi gangguan miksi.16 f) Ureterosistoskop Pemeriksaan ini secara visual dapat mengetahui keadaan uretra prostatika dan buli buli. Terlihat adanya pembesaran prostat, obstruksi uretra dan leher buli-buli, batu buli-buli, trabekulasi buli-buli, selule, dan divertikel bulibuli. Selain itu sesaat sebelum dilakukan sistoskopi diukur volume residual urine pasca miksi. Sayangnya pemeriksaan ini tidak mengenakkan bagi pasien, bisa menimbulkan komplikasi perdarahan, infeksi, cedera uretra, dan retensi urine sehingga tidak dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin pada BPH. Uretrosistoskopi dikerjakan pada saat akan dilakukan tindakan pembedahan untuk menentukan perlunya dilakukan TUIP, TURP, atau prostatektomi terbuka. Disamping itu pada kasus yang disertai dengan hematuria atau dugaan adanya karsinoma buli-buli sistoskopi sangat membantu dalam mencari lesi pada buli buli.16

19

g) Pemeriksaan Urodinamika Kalau pemeriksaan uroflometri hanya dapat menilai bahwa pasien mempunyai pancaran urine yang lemah tanpa dapat menerangkan penyebabnya, pemeriksaan uro-dinamika (pressure flow study) dapat membedakan pancaran urine yang lemah itu disebabkan karena obstruksi leher buli-buli dan uretra atau kelemahan kontraksi otot detrusor. Pemeriksaan ini cocok untuk pasien yang hendak menjalani pembedahan. Pemeriksaan urodinamika merupakan pemeriksaan optional pada evaluasi pasien BPH bergejala. Meskipun merupakan pemeriksaan invasif, urodinamika saat ini merupakan pemeriksaanyang paling baik dalam menentukan derajat obstruksi prostat (BPO), dan mampu meramalkan keberhasilan suatu tindakan pembedahan. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas 87%, spesifisitas 93%,dan nilai prediksi positif sebesar 95%.17 2.7.2 Kanker Prostat Cara terbaik untuk menyaring kanker prostat adalah melakukan pemeriksaan colok dubur dan pemeriksaan darah. Colok dubur pada penderita kanker prostat akan menunjukkan adanya benjolan keras yang bentuknya tidak beraturan. Pada pemeriksaan darah dilakukan pengukuran kadar antigen prostat spesifik (PSA), yang biasanya meningkat pada penderita kanker prostat, tetapi juga bisa meningkat (tidak terlalu tinggi) pada penderita BPH. Jika pada pemeriksaan colok dubur ditemukan benjolan, maka dilakukan pemeriksaan USG. Dengan melakukan rontgen atau scanning tulang, bisa diketahui adanya penyebaran kanker ke tulang.3 Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan: Analisa air kemih Sitologi air kemih atau cairan prostat Biopsi prostat.

Pemeriksaan Radiologis a) Foto Rontgen Foto polos panggul tidak dapat digunakan untuk menunjukkan adanya penyakit lokal di prostat. Scan tulang radiovnuklida lebih sensitif dari radiograf untuk menggambarkan metastase tulang. Scan tulang akan menunjukkan daerah yang
20

abnormal bahkan jika temuan radiografi polosnya normal. Selain itu, rontgen dada mungkin dapat kehancuran tulang.15 menunjukkan metastasis sklerotik atau lesi litik dengan

Gambar 12. Foto polos pelvis memperlihatkan lesi osteoblastik pada tulang sebagai metastase dari ca prostat

b) Ultrasonografi Transrectal ultrasonografi (TRUS), memainkan peran sentral dalam diagnosis karsinoma prostat karena memungkinkan biopsi-dibantu USG. Pasien biasanya dirujuk untuk TRUS karena suatu kelainan ditemukan sewaktu dilakukan rectal toucher atau karena tingkat PSA serum meningkat. Gambaran lesinya dapat muncul berupa hipoechoic, hiperechoic, atau isoechoic. Namun, TRUS memiliki spesifisitas yang rendah karena banyak kondisi patologis lain yang gambarannya sama di perifer zone prostat. Untuk alasan ini, penilaian diagnostik karsinoma di prostat harus dibuat dengan cara penafsiran histologis. TRUS memungkinkan untuk biopsi yang akurat dan komprehensif dari kelenjar prostat sambil melakukan pemeriksaan pencitraan. Banyak proses patologik yang muncul dengan gambaran hipoechoic di daerah PZ prostat atau sebagai daerah hipervaskuler pada pencitraan dopler. Diagnosis diferensial dari daerah hipoechoic di PZ termasuk prostatitis, prostatitis tuberculosis, prostatitis granulomatosa, PIN dan atrofi prostat. Hal ini dapat dibedakan dengan melakukan biopsi pada daerah yang menunjukkan kelainan fokal ultrasonografi.3

21

Gambar 13. TRUS potongan axial prostat menunjukkan derah hipoechoic yang luas (panah) di bagian kanan perifer zone. Dari hasil biopsi menunjukkan adenoca prostat

Gambar 14.TRUS Ca prostat dengan area hipoechoic di sebelah kiri peripheral zone dan sedikit daerah hipoechoic di sebelah kanan (panah)

22

Gambar 15. TRUS pasien dengan pemeriksaan rectal toucher yang normal dan kadar PSA 9ng/mL. Terdapat gambaran hipoechoic bilateral yang luas dominan kiri pada peripheral zone (panah). Biopsi menunjukkan diferensiasi sel poorly differentiated, kapsul minor ireguler di sebelah kiri, ini menunjukkan tumor T3. c) CT scan CT scan dapat digunakan untuk mencari metastasis di kelenjar getah bening dan untuk menilai stadium tumor primer dengan menilai penyebaran ekstrakapsular pada pasien yang dicurigai sudah menderita penyakit lanjut, terutama jika direncanakan untuk mendapat radioterapi. CT scan tidak dapat menilai dengan akurat tumor stadium T1 atau T2, namun invasi pada jaringan lemak periprostatik atan vesikula seminalis pada stadium tumor T3 dapat dibuktikan. CT scan juga dapat digunakan untuk menilai metastasis pada jaringan lunak di tempat lain. Karena penilaian stadium dengan CT scan dilakukan dengan menilai bentuk prostat, kadang terdapat sedikit kesulitan dalam menilai stadiumnya. Ini dikarenakan dengan CT Scan tidak dapat ditunjukkan penyebaran mikroskopik pada kapsul prostat.17

23

Gambar16. CT-Scan axial setinggi ginjal menunjukkan para-limfadenopati luas (panah) yang merupakan stadium lanjut ca prostat

Gambar 17. Metastatik ca prostat yang melibatkan jaringan lunak di sebelah kanan (panah).

d) MRI MRI bisa menilai anatomi internal prostat dan bisa mengidentifikasi daerah yang abnormal melalui perubahan intensitasnya. MRI memungkinkan evaluasi yang menyeluruh pada penderita ca prostat karena bisa menilai lokasi penyakit primer di prostat dan dan keterlibatan kelenjar getah bening. Gambaran pada T1-weighted, prostat terlihat homogen dengan intensitas medium, baik di daerah normal maupun

24

daerah intraprostat. Namun pada gambaran T2-weighted, daerah karsinoma di daerah PZ akan terlihat hipointens sementara sekitarnya hiperintens. Sama dengan TRUS, MRI tidak bisa dengan tepat menilai karsinoma di daerah TZ. Peran MRI saat ini terutama dalam menilai perluasan ekstrakapsular dan invasi vesikula seminalis. Tanda penyebaran ekstrakapsular mencakup: penonjolan irregular pada kapsul prostat dan hilangnya sudut retroprostatika. Daerah hipointens yang menyebar ke dalam vesikula seminalis dari basis prostat adalah bukti dari sudah terjadinya invasi ke vesikula seminalis.15

Gambar 18. Potongan coronal T2 MRI menunjukkan daerah hipointensitas di sebelah kiri menunjukkan ca prostat

Gambar 19.Endorectal MRI pada pasien dengan ca prostat yang luas menunjukkan bulging di kapsular prostat sebelah kanan (panah). Ini adalah tumor T3

25

Gambar 20. Potongan axial T2 endorectal MRI pasien ca prostat menunjukkan hipointensitas di peripheral zone (panah)

Gambar 21. Potongan aksial T1 setinggi pelvis menunjukkan pembesaran kelenjar limfe disebelah kiri (panah)

e) Kedokteran Nuklir Kedokteran nuklir digunakan untuk menilai metastasis tulang dari karsinoma prostat.Paling sering digunakan adalah bone scanning dengan menggunakan technetium-99m.bone scan mempunyai sensitivitas yang tinggi tapi tidak spesifik terhadap metastase karsinoma prostat.15

26

Gambar 22. Bone scan menunjukkan multiple area dari peningkatan aktivitas dari metastasis ca prostat

Gambar 23. Isotop bone scan, menunjukkan metastasi difus.

Pemeriksaan Penunjang lainnya a) Tumor Marker Terdapat beberapa penanda tumor untuk membantu menegakkan diagnosis dan mengikuti perkembangan penyakit ini, yaitu 1) PAP (prostatic Acid Phosphatase) dihasilkan oleh sel asini prostat dan disekresikan ke dalam duktuli prostat dan 2) PSA (Prostate Specific Antigen) yaitu suatu glikoprotein yang dihasilkan oleh
27

sitoplasma sel prostat, dan berperan dalam melakukan likuefasi. PSA berguna untuk deteksi dini adanya karsinoma prostat dan evaluasi lanjutan setelah terapi karsinoma prostat.17 2.8 Penatalaksanaan 2.8.1 BPH Tujuan terapi pada pasien BPH adalah mengembalikan kualitas hidup pasien.Terapi yang dilakukan tergantung pada derajat keluhan, keadaan pasien, maupun kondisi obyektif kesehatan pasien yang diakibatkan oleh penyakitnya. Pilihannya adalah mulai dari: (1) tanpa terapi (watchful waiting), (2) medikamentosa, dan (3) terapi intervensi. Di Indonesia, tindakan Transurethral Resection of the prostate (TURP) masih merupakan pengobatan terpilih untuk pasien BPH.17 a) Watchful waiting Watchful waiting artinya pasien tidak mendapatkan terapi apapun tetapi perkembangan penyakitnya keadaannya tetap diawasi oleh dokter. Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah, yaitu keluhan ringan yang tidak menggangu aktivitas sehari-hari. Pada watchful waiting ini, pasien tidak mendapatkan terapi apapun dan hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat memperburuk keluhannya, misalnya (1)jangan banyak minum dan mengkonsumsi kopiatau alkohol setelah makan malam, (2) kurangi konsumsi makanan atau minuman yang menyebabkan iritasi pada buli-buli (kopi atau cokelat), (3) batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin,(4) jangan menahan kencing terlalu lama. Setiap 6 bulan, pasien diminta untuk datang kontrol dengan ditanya dan diperiksa tentang perubahan keluhan yang dirasakan, IPSS, pemeriksaan laju pancaran urine, maupun volume residual urine. Jika keluhan miksi bertambah jelek daripada sebelumnya, mungkin perlu difikirkan untuk memilih terapi yang lain.17

b) Medikamentosa Pasien BPH bergejala biasanya memerlukan pengobatan bila telah mencapai tahap tertentu.Pada saat BPH mulai menyebabkan perasaan yang mengganggu, apalagi membahayakan kesehatannya, direkomendasikan pemberian medikamentosa. Dengan memakai piranti skoring IPSS dapat ditentukan kapan seorang pasien memerlukan terapi. Sebagai patokan jika skoring >7 berartipasien perlu
28

mendapatkan terapi medikamentosa atau terapi lain. Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk: (1) mengurangi resistensi otot polos prostat sebagai komponen dinamik atau (2) mengurangi volume prostat sebagai komponenstatik. Jenis obat yang digunakan adalah: 1. Antagonis adrenergik reseptor yang dapatberupa: a. preparat non selektif: fenoksibenzamin b. preparat selektif masa kerja pendek:prazosin, afluzosin, dan indoramin c. preparat selektif dengan masa kerja lama:doksazosin, dan terazosin, 2. Inhibitor 5 redukstase, yaitu finasteride dandutasteride

c) Terapi intervensi 1. Pembedahan Mungkin sampai saat ini solusi terbaik pada BPH yang telah mengganggu adalah pembedahan, yakni mengangkat bagian kelenjar prostat yang menyebabkan obstruksi. Hanya saja pembedahan ini dapat menimbulkan berbagai macam penyulit pada saat operasi maupun pasca bedah. Indikasi pembedahan yaitu pada BPH yang sudah menimbulkan komplikasi, diantaranya adalah: (1) retensi urine, (2) infeksi saluran kemih berulang, (3) hematuria makroskopik, (4) batu buli-buli, (5) gagal ginjal, dan (6) divertikulum buli buli yang cukup besar. Terdapat tiga macam teknik pembedahan yang direkomendasikan di berbagai negara, yaitu prostatektomi terbuka, insisi prostat transuretra (TUIP), dan reseksi prostat transuretra (TURP).9 Prostatektomi terbuka merupakan cara yang paling tua, paling invasif, dan paling efisien diantara tindakan pada BPH yang lain dan memberikan perbaikan gejala BPH 98%. Pembedahan terbuka ini dikerjakan melalui pendekatan transvesikal yang mula-mula diperkenalkan oleh Hryntschack dan pendekatan retropubik yang dipopulerkan oleh Millin. Pendekatan transvesika hingga saat ini sering dipakai pada BPH yang cukup besar disertai dengan batu buli-buli multipel, divertikula yang besar, dan hernia inguinalis. Pembedahan terbuka dianjurkan pada prostat volumenya diperkirakan lebih dari 80-100 cm3. Dilaporkan bahwa prostatektomi terbuka menimbulkan komplikasi striktura uretra dan inkontinensia urine yang lebih sering dibandingkan denganTURP ataupun TUIP.9

29

Prosedur TURP merupakan 90% dari semua tindakan pembedahan prostat pada pasien BPH. Operasi ini lebih disenangi karena tidak diperlukan insisi di kulit perut, lama rawatan lebih cepat, dan memberikan hasil yang tidak banyak berbeda dengan tindakan operasi terbuka. Komplikasi dini yang terjadi pada saat operasi sebanyak 18-23%, dan yang paling sering adalah perdarahan sehingga membutuhkan transfusi. Timbulnya penyulit biasanya pada reseksi prostat yang beratnya lebih dari 45 gram, usia lebih dari 80 tahun dan lama reseksi lebih dari 90 menit. Sindroma TUR terjadikurang dari 1%.9 Penyulit yang timbul di kemudian hari adalah: inkontinensia stress, striktura uretra, kontraktur leher buli-buli yang lebih sering terjadi pada prostat yang berukuran kecil, dan disfungsi ereksi.9 TUIP atau insisi leher buli-buli (bladderneck insicion) direkomendasikan pada prostat yang ukurannya kecil (kurang dari 30 cm3), tidak dijumpai pembesaran lobus medius, dan tidak diketemukan adanya kecurigaan karsinoma prostat. Dengan TUIP waktu yang dibutuhkan lebih cepat, dan lebih sedikit menimbulkan komplikasi dibandingkan dengan TURP. TUIP mampu memperbaiki keluhan akibat BPH dan meningkatkan Qmax meskipun tidak sebaik TURP.9 2. Laser Prostatektomi Energi laser mulai dipakai sebagai terapi BPH sejak tahun 1986, yang dari tahun ke tahun mengalami penyempurnaan. Jika dibandingkan dengan

pembedahan, pemakaian Laser ternyata lebih sedikit menimbulkan komplikasi dan penyembuhan lebih cepat, tetapi kemampuan dalam meningkatkan perbaikan gejala miksi maupun Qmax tidak sebaik TURP. Disamping itu terapi ini membutuhkan terapi ulang 2% setiap tahun. Kekurangannya adalah: tidak dapat diperoleh jaringan untuk pemeriksaan patologi, sering banyak menimbulkan disuria pasca bedah yang dapat berlangsung sampai 2 bulan, tidak langsung dapat miksi spontan setelah operasi, dan peak flow rate lebih rendah dari pada pasca TURP.9

2.8.2

Karsinoma Prostat a) Prostatektomi Radikal Pada prostatektomi radikal dilakukan pengangkatan kelenjar prostat bersama dengan vesikula seminalis. Prostatektomi radikal merupakan pilihan terbaik pada stadium T1-2 N0 M0. Selain itu dengan prostatektomi radikal, akan lebih akurat
30

dalam menentukan stadiumnya. Tapi, ada beberapa efek samping yang mungkin muncul. Diantaranya inkontinensia urine, perdarahan dan impotensi.3,9 b) Radioterapi Radioterapi ditujukan untuk pasien yang telah tua atau pada tumor yang telah bermetastasis. Pemberian radioterapi pada penderita kanker prostat bisa dilakukan melalui 2 cara yakni, radiasi eksterna dengan teknik IMRT/IGRT atau brachytherapy dengan implantasi bahan radioaktif. Radiasi eksterna adalah jenis yang paling sering dipakai dan biasanya didahului dengan limfadenektomi. Radioterapi sama efektifnya dengan pembedahan pada kanker prostat. Radioterapi tidak mempunyai risiko perdarahan dan anatesi. Selain itu radioterapi juga tidak membutuhkan rawat inap atau waktu pemulihan yang lama. Namun, radioterapi juga mempunyai kelemahan. Pada radioterapi, keadaan tumor post terapi tidak diketahui. Kadar serial PSA digunakan sebagai penanda terhadap kemajuan terapi. Selain itu, radioterapi juga mempunyai efek samping berupa diare, tenesmus, perdarahan saluran cerna dan lelah.9 c) Watchfull waiting Pada watchfull waiting, pasien diobservasi, dengan hanya melakukan terapi palliative jika gejala karsinoma meningkat. Terapi paliatve mencakup orchiectomy atau terapi deprivative hormone. Watchfull waiting sering dilakukan pada pasien berusia tua, pasien dengan stadium awal atau pasien dengan gangguan kesehatan lainnya.9

2.9 Komplikasi 2.9.1 BPH Komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita BPH yang dibiarkan tanpa pengobatan adalah 1) trabekulasi, yaitu terjadi penebalan serat serat detrusor akibat tekanan intra vesika yang selalu tinggi akibat obstruksi, 2) sakulasi, yaitu mukosa bulibuli menerobos di antara serat-serat detrusor, 3) divertikel, bila sakulasi menjadi besar. Komplikasi lain adalah pembentukan batu vesika akibat selalu terdapat sisa urin setelah buang air kecil, sehingga terjadi pengendapan batu. Bila tekanan intra vesika yang selalu tinggi tersebut diteruskan ke ureter dan ginjal, akan terjadi hidroureter dan hidronefrosis yang akan mengakibatkan penurunan fungsi ginjal.3,9

31

2.9.2 Karsinoma Prostat Komplikasi dapat terjadi karena penyakit itu sendiri atau karena terapi pengobatan yang dilakukan. Yang paling dikhawatirkan, terapi pengobatan akan berpengaruh pada fungsi seksual pria, seperti timbulnya disfungsi ereksi meski masih dapat diatasi. Komplikasi yang umum terjadi:3,9 1. Penyebaran karsinoma Penyebaran karsinoma prostat terjadi melalui aliran darah atau sistim limfa, mempengaruhi tulang dan organ tubuh lain. Terapi karsinoma prostat yang telah menyebar, dilakukan dengan terapi hormon, terapi radiasi dan kemoterapi. 2. Nyeri Nyeri pada tulang dapat terjadi pada penderita karsinoma prostat. 3. Kesulitan dalam buang air kecil 4. Disfungsi ereksi atau impotensi. Ini dapat terjadi karena karsinoma prostat itu sendiri atau karena terapi penyembuhan yang dilakukan, seperti pembedahan, radiasi dan terapi hormon. 5. Depresi. Banyak pria mengalami depresi setelah terdiagnosa menderita karsinoma prostat atau setelah melakukan terapi, akibat efek terapi. Tetapi konseling dan obat antidepresan dapat mengatasinya.

2.10 Prognosis 2.10.1 BPH Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap individu walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun BPH yang tidak segera ditindak memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi karsinoma prostat. Menurut penelitian, karsinoma prostat merupakan karsinoma pembunuh nomor 2 pada pria setelah karsinoma paru-paru. BPH yang telah diterapi juga menunjukkan berbagai efek samping yang cukup merugikan bagi penderita.8 2.10.2 Karsinoma Prostat Prognosis karsinoma prostat tergantung dari stadium dari karsinoma itu sendiri. Semakin dini deteksinya, angka harapan hidup pasien karsinoma prostat makin baik.8

32

BAB III PENUTUP 3. 1 Kesimpulan Hiperplasia prostat adalah pertumbuhan dari nodula-nodula fibroadematosa majemuk dalam prostat yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. Hiperplasia prostat ini terbagi dua yakni, Benign Prostat Hyperplasia (BPH) dan kanker prostat. Benign Prostat Hyperplasi (BPH) adalah suatu keadaan dimana kelenjar periuretral prostat mengalami hiperrplasia yang akan mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. Sedangkan kanker prostat adalah suatu tumor ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat. Pembesaran prostat dianggap sebagai proses pertambahan usia. Oleh karena itu dengan meningkatnya usia harapan hidup maka meningkat pula prevalensi BPH. Hiperplasia prostat didiagnosa berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lain. Pemeriksaan penunjang yang sangat bermanfaat diantaranya adalah pemeriksaan radiologi seperti foto polos, USG, CT Scan, MRI prostat. Pemeriksaanpemeriksaan radiologis ini sangat membantu dalam menegakkan diagnose, sehingga dapat dilakukan pengobatan yang lebih tepat dan lebih dini.

33

DAFTAR PUSTAKA

1. Standring S. Prostate. Dalam Grays Anatomy The Anatomical Basics of Clinical Practice. Thirty-Ninth Edition. Editor Ellis H, Healy JC. Churchill Livingstone. 2. Faiz O, Moffat D. Viscera Pelvis. At a Glance Series Anatomi. Erlangga, Jakarta; 2002 3. Widjoseno G. Saluran Kemih dan Alat Kelamin Lelaki . Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Editor Sjamsuhidajat R, de Jong W. Edisi 2. EGC Jakarta; 2005. 4. http://www. prostateline.com. Anatomy of the Prostate Gland 5. http://training.anatomy.com. Prostate Gland Anatomy and Physiology 6. Umbas, R. 1995. Patofisiologi dan Patogenesis Pembesaran Prostat Jinak. Yayasan penerbit IDI, Jakarta ; 1-5 7. Pedoman radioterapi dalam penatalaksanaan ca prostat RSCM, netty adelima siagian, Bsc 8. Kirby, RS. Crhistmas.Benign Prostatic Hyperplasia, 2nd edition. Mosby, Int. 1997 9. Rahardjo, J. 1996. Prostat Hipertropi. Dalam : Kumpulan Ilmu Bedah. Bina rupa aksara, Jakarta ; 161-70 10. Mansjoer, A, Suprahaita, Wardhani.2000. pembesaran prostat jinak.dalam:kapita selekta kedokteran.media aesculapius, jakarta :329 11. Chatelain Ch, Denis L, Mc. Connel J. Benign Prostate Hyperplasia, 5th International Consultation on BPH London, Health Publication. Ltd, 519-535, 2001 12. AVA Practice guideline comitte. AVA guideline on management BPH. Chapter 1. Diagnose and treatment recommendation. J Urol. 170:530-547, 2003. 13. Barry W, Fowler FJ, et al. The American Urological Association Symptom Index for BPH. J Urol:148:1549, 2000. 14. Thomas S, Chaussye, Focused ultrasound and localized prostatic cancer. Efficacy results from the European multicentric study. J. Endo Urol. Oct, 2003;17 (8):673 15. Sanford DM, Barentz JO. Diffusion and perfusion imaging of the prostate. 2008;16 (4):685-695. 16. Rahardjo, D. Prostat:kelainan-kelainan, diagnose, penanganan. Jakarta:Asian medical, 15.1996 17. Dawson C, Whitefield. ABC Urology:Bladder Outflow Obstruction. BMJ, 317:767770.2000

34