Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN pada Tn.S (57 Th) dengan Dx. Medis: HIL di Ruang OK RS dr.

Soepraoen Malang
Untuk Memenuhi Tugas Individu Kepaniteraan Klinik Departemen Surgikal

Oleh : Fendi Eka Mustofa NIM. 0910723024

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

LAPORAN PENDAHULUAN HERNIA


1. DEFINISI Kata Hernia berasal dari Bahasa Latin, herniae, yang berarti penonjolan isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah (defek) pada dinding rongga itu, baik secara kongenital maupun didapat, yang memberi jalan keluar pada setiap alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut (Sjamsuhidajat, 2004). Secara umum Hernia merupakan proskusi atau penonjolan isi suatu rongga dari berbagai organ internal melalui pembukaan abnormal atau kelemahan pada otot yang mengelilinginya dan kelemahan pada jaringan ikat suatu organ tersebut (Griffith, 1994). Hernia dapat terjadi karena adanya suatu daerah yang lemah yang disebut Locus Minoris Resistantie (LMR). Bagian-bagian dari hernia adalah sebagai berikut : 1. Kantong hernia Pada hernia abdominalis biasanya adalah peritoneum parietalis, tetapi tidak semua hernia mempunyai kantong, intersisialis. 2. Isi hernia. Organ/ jaringan yang keluar melalui kantong hernia, biasanya hernia abdominalis berupa usus. 3. Pintu hernia : bagian LMR yang dilalui kantong hernia. 4. Leher hernia : bagian tersempit kantong hernia yang sesuai pintu hernia. seperti hernia incisionalis, adipose,

Anatomi dari dinding perut dari luar ke dalam terdiri dari : 1. Kutis 2. lemak subkutis 3. fasia skarpa 4. muskulus obligus eksterna 5. muskulus obligus abdominis interna 6. muskulus abdominis tranversal 7. fasia transversalis 8. lemak peritoneal 9. peritoneum

Regio inguinalis Kanalis inguinalis Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh anulus inguinalis internus yang merupakan bagian yang terbuka dari fasia tranversus abdominis. Di medial bawah, diatas tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi oleh anulus inguinalis eksternus, bagian terbuka dari aponeurosis m. Obligus eksternus. Atapnya ialah aponeurosis m.oblikus eksternus dan di dasarnya terdapat ligamentum inguinale. Kanal berisi tali sperma pada lelaki, ligamentum rotundum pada perempuan.

Gambar 2. Kanalis inguinalis

Kanalis femoralis Kanalis femoralis terletak medial dari v.femoralis di dalam lakuna vasorum, dorsal dari ligamentum inguinalis, tempat vena safena magna bermuara di dalam v.femoralis. Foramen ini sempit dan dibatasi oleh tepi yang keras dan tajam. Batas kranioventral dibentuk oleh ligamentum inguinalis, kaudodorsal oleh pinggir os pubis dari ligamentum iliopektineal (ligamentum cooper), sebelah lateral oleh sarung vena femoralis, dan sebelah medial oleh ligamentum lakunare Gimbernati. Hernia femoalis keluar melalui lakuna vasorum kaudal dari ligamentum inguinale. Keadaan anatomi ini sering mengakibatkan inkaserasi hernia femoralis. 2. ETIOLOGI Hernia congenital - Processus vaginalis peritoneum persisten - Testis tidak samapi scrotum, sehingga processus tetap terbuka - Penurunan baru terjadi 1-2 hari sebelum kelahiran, sehingga processus belum sempat menutup dan pada waktu dilahirkan masih tetap terbuka - Predileksi tempat: sisi kanan karena testis kanan mengalami desensus setelah kiri terlebih dahulu - Dapat timbul pada masa bayi atau sesudah dewasa. Hernia indirect pada bayi berhubungan dengan criptocismus dan hidrocele

Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap usia. Lebih banyak pada lelaki ketimbang perempuan. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia pada anulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong hernia dan isi hernia. Selain itu diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar itu. Pada orang yang sehat, ada tiga mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis, yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur m.oblikus internus abdominis yang menutup anulus inguinalis internus ketika berkontraksi dan adanya fasia transversa yang kuat yang menutupi trigonum Hasselbach yang umumnya hampir tidak berotot. Gangguan pada mekanisme ini dapat menyebabkan terjadinya hernia.

Hernia didapat Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya hernia inguinalis antara lain: 1. Kelemahan aponeurosis dan fasia tranversalis, 2. Prosesus vaginalis yang terbuka, baik kongenital maupun didapat, 3. Tekanan intra abdomen yang meninggi secara kronik, hipertrofi prostat, konstipasi, dan asites, 4. Kelemahan otot dinding perut karena usia, 5. Defisiensi otot, 6. Hancurnya jaringan penyambung oleh karena merokok, penuaan atau penyakit sistemik. Pada neonatus kurang lebih 90 % prosesus vaginalis tetap terbuka, sedangkan pada bayi umur satu tahun sekitar 30 % prosesus vaginalis belum tertutup. Akan tetapi, kejadian hernia pada umur ini hanya beberapa persen. tidak sampai 10 % anak dengan prosesus vaginalis paten menderita hernia. Pada lebih dari separuh populasi anak, dapat dijumpai prosesus vaginalis paten kontralateral, tetapi insiden hernia tidak melebihi 20 %. Umumnya disimpulkan adanya prosesus vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia, tetapi diperlukan faktor lain, seperti anulus inguinalis yang cukup besar. Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur. Pada keadaan itu tekanan intraabdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal. Sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan n.ilioinguinalis dan iliofemoralis setelah apendektomi. Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum, hernia disebut hernia skrotalis. Tekanan intra abdomen yang meninggi secara kronik, seperti batuk kronik, hipertrofi

prostat, konstipasi dan ansietas disertai hernia inguinalis. Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur. Pada keadaan itu tekanan intra abdomen tidak tinggi dan kanalis berjalan lebih vertikal. Sebaliknya, bila otot dinding perut berkontraksi kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan n. Ilioinguinalis dan iliofemoralis setelah apendiktomi ( Sjamsuhidayat, 2004).

3. PATOFISIOLOGI

Bagan Pathway Masalah Keperawatan Hernia

Secara patofisiologi peningkatan tekanan intra abdomen akan mendorong anulus inguinalis internus terdesak. Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena yang didapat faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Lebih banyak pada laki- laki dari pada perempuan. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia pada Anulus Internus yang cukup besar sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar itu. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis dapat mencegah masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis, kelemahan dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan inguinalis. Bila isi kantong hernia dapat di pindahkan ke rongga abdomen dengan manipulasi hernia disebut redusibel. Hernia irredusibel dan hernia inkarserta adalah hernia yang tidak dapat dipindahkan atau dikurangi dengan manipulasi. Nyeri akan terasa jika cincin hernia terjepit, jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia akan terisi transudat berupa cairan serosangoinus, ini adalah kedaruratan bedah karena usus terlepas, usus ini cepat menjadi gangrene. Pada hernia redusibel dilakukan tindakan bedah elektif karena ditakutkan terjadi komplikasi (Sjamsuhidayat, 2004). 4. MANIFESTASI KLINIS Benjolan pada regio iunginale, di atas ligamentum inguinal, yang mengecil bila pasien berbaring. Bila pasien mengejan atau batuk, mengangkat berat, maka benjolan hernia akan bertambah besar. Bila isinya terjepit akan menimbulkan perasaan sakit di tempat itu disertai perasaan mual. Bila terjadi hernia inguinalis strangulata perasaan sakit akan bertambah hebat serta sakit diatasnya menjadi merah dan panas.

- Pada laki-laki isi henia dapat mengisi skrotum Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia reponsibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan di lipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan dan menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri jarang dijumpai kalau ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau periumbilikal berupa nyeri visceral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk ke dalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual muntah baru timbul kalau terjadi inkaserata karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren. 5. KLASIFIKASI

Berdasar terjadinya: a. b. Hernia bawaan atau kongenital. Hernia dapatan atau akuisita.

Berdasar sifat hernia: a. Hernia reponible yaitu bila isi hernia dapat dimasukkan kembali. Usus keluar bila berdiri atau mengedan dan masuk lagi bila berbaring atau didorong masuk. Tidak terdapat keluhan atau gejala obstruktif. b. Hernia ireponible yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga, hal ini disebabkan perlengketan isi usus pada peritonium kantong hernia. Tidak ada keluhan nyeri atau tanda sumbatan usus. Berdasarkan isinya: a. b. c. Hernia adipose, isinya jaringan lemak. Standing hernia, isinya kembali sebagian dari dinding kantong hernia. Hernia litter, hernia inkaserata/strangulasi yang sebagian dinding ususnya terjepit dalam cincin hernia. Berdasar letaknya: a. b. c. d. e. f. g. Diafragma. Inguinal. Umbilikalis. Femoralis. Perineal. Ventral. Scrotal.

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG Anamnesis Gejala yang ditimbulkan hernia sangat bervariasi dan lebih tergantung pada tekanan yang menekan isi hernia daripada ukuran hernia, hernia yang besar bisa hanya menyebabkan penderita merasa tidak enak. Sementara hernia yang kecil yang terjepit erat menyebabkan rasa nyeri lokal nausea. Apalagi hernia yang mengalami strangulasi akan menimbulkan gwjala yang hebat dan progresif dan perlu pertolongan segera. Pada awalnya (hernia yang baru terjadi) umumnya tidak terdapat keluhan sakit. Kalaupun ada hanya rasa tidak enak, kecuali pada hernia inkarserata yang menimbulkan rasa sakti yang hebat. Selanjutnya gejala hernia berkaitan erat terutama dengan letak dan isi hernia, misalnya: Hernia femoralis yang berisi kandung kemih akan menimbulkan kelainan kencing, seperti frekuensi, urgensi, disuria terminal dan bahkan hematuria. Hernia haitus oesophagus menimbulkan palpitasi dan rasa sesak substernal oleh karena tekanan lambung. Tekanan isi hernia yang berupa usus akan menimbulkan obstruksi usus, bahkan meskipun hanya sebagian kecil usus saja yang terjepit. Inspeksi Tanda klinis pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada saat inspeksi saat pasien mengedan, dapat dilihat hernia inguinalis lateral muncul sebagai penonjolan di regio inguinalis yang berjalan dari lateral atas medial bawah. Dilakukan pada penderita baik dengan ileus maupun tidak. Pasien disuruh berdiri dan mengejan, lihat apakah daerah lipat paha ada benjolan atau tidak, lihat pula saat tidur. Hal ini untuk membedakan dengan limphadenopathy dimana benjolan tetap ada pada posisi tidur. Palpasi - Akan teraba benjolan abnormal yang dapat teraba adanya fluktuasi, tegas atau keras, tergantung isi hernia dan tekanan. Isi hernia yang berupa omentum, atau colon sigmoid, yang mengandung feses akan teraba liat, sedang usus yang mengandung gas akan teraba lembut dan dapat ditekan atau tegang tergantung derajat incarcerasinya. Kecuali bila mengalami incarcerasi, masa hernia dapat dalam posisi supinasi. - Benjolan yang dapat dilihat di atas lipat paha menunjukkan hernia inguinalis, sedang di bawah lipat paha hernia femoralis. Palpasi hernia inguinalis lateralis dapat dilakukan dengan 3 jari, sedang untuk bagian medialis dapat dengan jari telunjuk melalu scrotum. - Kantong hernia yang kosong dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantong yang memberikan sensasi gesekan dua permukaan sutera. Tanda ini disebut tanda sarung tangan sutera, tetapi pada umumnya tanda ini susah ditentukan. Kalau kantong hernia berisi organ, tergantung isinya, pada palpasi mungkin teraba usus,

omentum maupun ovarium. Dengan jari telunjuk atau dengan jari kelingking, pada anak dapat dicoba mendorong isi hernia dengan cara mendorong isi hernia dengan menekan kulit skrotum melalui anulus eksternus sehingga dapat ditentukan apakah hernia ini dapat direposisi atau tidak. Dalam hal hernia dapat direposisi, pada waktu jari masuk berada dalam anulus eksternus, pasien diminta mengedan. Kalau ujung jari menyentuh hernia berarti hernia inguinalis lateralis, dan bagian sisi jari yang menyentuhnya adalah hernia inguinalis medial. Diagnosis ditegakkan atas dasar benjolan yang dapat direposisi, atau jika tidak dapat direposisi, atas dasar tidak adanya pembatasan jelas di sebelah kranial dan adanya hubungan ke kranial melalui anulus eksternus Pemeriksaan lain: a. b. c. Perkusi, bila isi gas akan terdengar suara timpani Auskultasi, terdengar suara usus, bila negatif kemungkinan omentum Diapanaskopi

Menggunakan sinar kuat pada kamar gelap untuk melihat apakah cairan atau tidak. Caranya dengan melihat scrotum yang disinari, bila jernih berarti ada cairan/ hidrocele dan nilai diapanaskopi positif, bila gelap berarti hernia dan nilai diapanaskopi negatif. d. e. Radiologi, foto abdomen dengan kontras barium, fluoroskopi. Lab darah: hematologi rutin, BUN, kreatinin, elektrolit darah.

7. PENATALAKSANAAN a. Konservatif Bukan merupakan tindakan definitif. a. Reposisi. Memasukan isi hernia secara hati-hati, dilakukan dengan baik dan tekanan lembut tapi pasti. Pada hernia reponible dilakukan tekanan secara terus-menerus pada benjolan seperti dengan bantal pasir, pasien tidur pada posisi supine

antitrendernburg atau memakai korset. Komlikasinya: perdarahan, jepitan dengan pintu dan isinya tidak masuk cavum abdomen tapi masuk sela-sela jaringan, sehingga terjadi hernia intersisialis. Hal ini terjadi bila pintu hernia terlalu kecil. b. Suntikan. Dengan cairan sklerotik, misalnya kinin atau bradikinin dengan maksud supaya pintu hernia mengecil, bahkan jika mungkin dihilangkan (ditutup). Hal ini setelah reposisi, harus hati-hati karena bila isi hernia terjepit bisa menimbulkan incarserata. c. Sabuk hernia. Dilakukan bila pintu hernia masih kecil, bahayanya akan menimbulkan incarserata bila pemasangannya tidak pas. Dapat menambah lebar pintu hernia.

b. Terapi pembedahan a. b. c. Elektif : untuk hernia repinibilis 2 x 24 jam : untuk hernia ireponibilis (elektif terbatas) Spoed/cepat : hernia incarserata

Tindakan konservatif dilakukan bila keadaan umum (KU) jelek, tapi hernia masih bersifat reponibilis. Bila KU jelek dan hernianya incarserata, maska harus dilakukan tindakan operatif tapi hanya bersifat paliatif (menghilangkan ileus) dahulu, sedang penutupan hernia setelah KU baik. Hernia reponibilis pada bayi dioperasi jia umur bayi lebih dari 6 bulan atau BB lebih dari 6 kg. Tujuan operasi hernia : a. b. c. Reposisi hernia (isi hernia). Menutup pintu hernia (menghilangkan LMR). Mencegah residif dengan memperkuat dinding perut.

Metode pembedahan antara lain : a. Perbaikan bassini Kantong indirek dibuka, diperiksa, diligasi. Bagian dasar inguinalis diperkuat dengan menjahit fascia transversalis pada ligamentum inguinalis di belakang funikulus. b. Ligasi kantong hernia Merupakan tindakan pada hernia inguinalis pada bayi dan anak. c. Perbaikan shoudice. Fascia transversal dibagi secara longitudianl dan kedua lembaran diimbrikasi pada ligamentum inguinal. Perbaikan diperkuat dengan menjahit muskulus obligus internus dan conjoined tendon pada opneurosisi obligustrenus, untuk hernia direk dan indirek.

HERNIOTOMY

Tehnik konvensional ( Open herniorepair ) Pembedahan untuk hernia inguinalis lateralis pada anak biasanya dilakukan melaui insisi lipatan kulit terbawah dengan memisahkan aponeurosis muskulus obligus eksternus sampai pada kanalis inguinalis interna. Setelah nervus ilioinguinalis diidentifikasi, kantung hernia dicari dan pembuluh darah vas deferens dipisahkan dari kantung hernia. Dilakukan ligasi tinggi setelah kantung dibuka dan dievaluasi. Komplikasi tehnik konvensional 1. Pendarahan 2. Infeksi luka operasi 3. Cedera nervus ilioinguinalis 4. Cedera vas deferens 5. Atropi testis 6. Postoperative hydrocele 7. Ascendensus testis iatrogenic 8. Rekurensi 9. Methachronous contralateral hernia Laparaskopi herniotomy Penggunaan laparaskopi pada hernia inguinalis anak-anak dilaporkan pertama kali oleh El Gohari pada tahun 1997 ketika memperkenalkan repair secara laparaskopi pada anak perempuan. Keberhasilan pertama kali repair secara laparaskopi pada hernia inguinalis anak laki-laki dilaporkan pertama kali oleh Montupet pada tahun 1999. Keuntungan dari laparaskopi herniotomy adalah mudah memeriksa kanalis inguinalis kontralateral, menghindarkan cedera pada vas deferens, pembuluh darah, mengurangi lama waktu operasi, dan kemampuan untuk mengidentifikasi hernia inguinalis medialis dan hernia femoralis. Pada penelitian prospektif, randomized, single blind pada 97 pasien, laparaskopi herniotomi menurunkan nyeri, penyembuhan yang cepat dan memberikan kosmetik luka yang lebih baik. Secara umum laparaskopi herniotomy pada anak-anak dibagi menjadi dua yaitu ligasi intrakorporeal dan ligasi ekstrakorporeal. Laparaskopi herniotomy Intracorporeal Intrakorporeal laparaskopi herniotomy pada anak-anak pertama kali dilaporkan oleh Schier dengan penutupan primer peritoneum lateral sampai spermatic cord dengan jahitan simple interrupted. Kemudian dimodifikasi menggunakan jahitan Z. modifikasi lain adalah dengan menggunakan jahitan N serta purse string dan Flip-flap hernioplasty dimana lipatan peritoneum digunakan untuk menutupi kanalis inguinalis. Tehnik ini

memiliki beberapa keuntungan yaitu mencegah hydrocele postoperative, pemulihan yang cepat, dan tidak adanya laporan angka rekurensi. Laparaskopi herniotomy Ekstrakorporeal Pada laparaskopi herniotomy ekstrakorporeal, luka insisi kecil dibuat diatas kanalis inguinalis dan kemudian jahitan dimasukan kedalam rongga abdomen dibelakang peritoneum. Kemudian jahitan tadi mengelilingi cincin interna menghindari vasa darah dan vas deferens, dan dikeluarkan melalui luka yang sama. Kemudian disimpul diluar tubuh melalui visualisasi laparaskopi. Pada beberapa tahun terakhir tehnik yang dikembangkan menggunakan two port dan single port, variasi dari tehnik ekstrakorporeal menggunakan endoneedle, reverdin needle. Alat-alat tersebut dimasukkan melalui perkutaneus pada region inguinal dibawah tuntunan laparaskopi dan diarahkan medial dan lateral mengitari kanalis inguinalis extraperitoneal. Grasper ditempatkan pada port sisi yang berbeda digunakan untuk mengarahkan benang keluar dan masuk lubang needle-needle tersebut untuk membentuk jahitan matras. Dua sisi benang tersebut kemudian dikeluarkan dan disimpul ekstrakorporeal. Pada laparaskopi ekstrakorporeal single port, tehnik ini sebenarnya sama dengan tehnik two port. Cincin internal hernia diikat dengan tehnik laso menggunakan benang 1-0 atau 2-0 absorbable yang dimasukkan dalam needle besar 3040 mm mengelilingi cincin dan dilakukan secara perkutan. Tehnik ini belum distandarisasi dan memiliki resiko tinggi kerusakan kontralateral jika dilakukan oleh orang yang belum ahli. Komplikasi laparaskopi herniotomy a. Komplikasi yang berhubungan dengan tindakan laparaskopi secara umum : emboli udara, hypothermia, penurunan venous return, hyperchapnia, acidosis, cedera akibat needle/trocard, cedera usus dan pembuluh darah. b. Cedera Vasculer c. Post-operative hydrocele d. Rekurensi KOMPLIKASI Komplikasi hernia tergatung kepada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi hernia dapat bertahan dalam kantong hernia pada hernia ireponibel, ini dapat terjadi kalau isi hernia terlalu besar, misalnya terdiri dari omentum, organ ekstraperitoneal, disini tidak ada keluhan kecuali ada benjolan. Dapat pula isi hernia terjepit oleh cincin hernia yang akan menimbulkan hernia strangulata. Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur didalam hernia dan terjadi transudasi kedalam kantong hernia. Timbulnya udem akan menambah jepitan pada cincin hernia sehingga perfusi jaringan

makin terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia akan terisi transudat yang bersifat serosanguinis. Kalau isi hernia terdiri dari usus maka akan terjadi perforasi yang akhirnya akan menimbulkan abses lokal, fistel dan peritonitis jika ada hubungan dengan rongga perut. Gambaran klinis pada hernia inkaserata yang mengandung usus yang dimulai dengan gambaran obstruksi usus dengan gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa. Bila terjadi strangulasi akan menyebabkan gangguan vaskularisasi dan akan terjadilah ganggern. Hernia strangulata adalah keadaan emergensi yang perlu tindakan operatif secepatnya. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HERNIA A. PENGKAJIAN 1. Identitas Ditemukan 80 % pada pria Ditemukan prosentase yang lebih besar pada pekerja berat 2. Keluhan utama : Pada hernia reponibilis dan irriponibilis dijumpai keluhan berupa

kecemasan,penurunan rasa percaya diri. Pada hernia inkarcerata dan hernia strangulata dijumpai keluhan berupa nyeri hebat pada daerah benjolan,tidak bisa kentut (flatus) ,tidak bisa BAB (buang air besar), kembung (abdominal distended) ,mual dan muntah, bengkak dan kemerahan pada benjolan. 3. Riwayat Penyakit Sekarang: Diawali timbulnya/munculnya benjolan yang mula mula kecil dan hilang dengan istirahat,berlanjut pada fase benjolan semakin membesar dan menetap,benjolan tidak hilang meskipun dengan istirahat. Benjolan yang menetap semakin membesar oleh karena tekanan intra abdominal yang meningkat mengakibatkan benjolan semakin membesar yang berakibat terjadinya jepitan oleh cincin hernia. Pada fase hernia yang terjepit tidak dilakukan operasi dengan cepat mengakibatkan terjadinya kematian jaringan. 4. Riwayat Penyakit Dahulu: Ditemukan adanya Penyakit penyakit menahun seperti: TBC,PPOM 5. Riwayat Penyakit Keluarga Ditemukan prosentase yang kecil keterkaitan dengan penyakit keturunan. 6. Riwayat Psikologis Cemas, penurunan rasa percaya diri 7. Pola Aktivitas sehari hari 8. Pola makan dan minum

Pada hernia reponibilis dan irreponibilis belum dijumpai adanya gangguan dalam pemenuhan kebutuhan makan dan minum. Pada hernia inkarcerata dan strangulata dijumpsi adanya gejala mual dan muntah yang mengakibatkan terjadinya gangguan pemenuhan kebutuhan makan dan minum (kurang cairan dan elektrolit) 9. Pola eliminasi BAB dan BAK Pada hernia reponibilis dan irreponibilis tidak dijumpai adanya gangguan BAB dan BAK Pada hernia inkarcerata dan strangulata dijumpai keluhan berupa tidak bisa kentut dan tidak bisa BAB. 10. Pola aktivitas/bekerja

Adanya kecemasan dan penurunan percaya diri mengakibatkan penurunan dalam aktivitas bekerja 11. Pola istirahat/tidur

Pada hernia reponibilis dan irreponibilis tidak dijumpai gangguan pemenuhan kebutuhan tidur. Pada hernia inkarcerata dan strangulata ditemukan adanya gejala berupa nyeri hebat yang mengakibatkan gangguan pemenuhan istirahat tidur 12. Pemeriksaan Fisik

B1 (BREATHING) Pada hernia reponibilis dan irreponibilis pernafasan dalam batas normal. Pada hernia inkarcerata dan strangulata di jumpai adanya peningkatan RR (> 24 x /mnt) B2 (BLOOD) Pada hernia reponibilis dan irreponibilis masih dalam batas normal Pada hernia inkarcerata dan strangulata ditemukan: penurunan peningkatan nadi. B3 (BRAIN) Kesadaran secara kauntitatif (GCS) dalam batas normal (4-5-6) Kesadaran secara kualitatif : kompos mentis,kadang dijumpai kesadaran yang apatis dan gelsah pada hernia inkarcerata dan strangulata. B4 (BLADDER) Pada hernia inkarcerata dan strangulata di jumpai penuruna produksi urine B5 (BOWEL) B6 (BONE) Kekuatan otot masih dalam batas normal. tekanan darah,

Diagnosa Keperawatan yang sering muncul 1. Potensial Gangguan perfusi jaringan usus berhubungan dengan jepitan isi hernia oleh cincin hernia 2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi. 3. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi. 4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi. 5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. 6. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan mual dan muntah 7. Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit berhubungan dengan mual dan muntah.

RENCANA INTERVENSI Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi. Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang Kriteria Hasil : - klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang - tanda-tanda vital normal - pasien tampak tenang dan rileks INTERVENSI a. pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri b. Anjurkan klien istirahat ditempat tidur c. Atur posisi pasien senyaman mungkin d. Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam e. Kolaborasi untuk pemberian analgetik.