Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Lumpur pemboran adalah fluida yang dipakai, yang didesain untuk membantu proses pemboran. Salah satu faktor yang menentukan berhasil tidaknya suatu pemboran adalah pada lumpur bor. Karena berbagai faktor pemboran yang ada maka lumpur pemboran mutlak diperlukan pada proses tersebut. Pada mulanya orang hanya menggunakan air saja untuk mengangkat serpihan pemboran (cutting). Seiring dengan berkembangnya teknologi, lumpur mulai digunakan untuk mengangkat cutting. Fungsi suatu lumpur pemboran ditentukan oleh komposisi kimia dan sifat fisik lumpur. Kesalahan dalam mengontrol sifat fisik lumpur akan menyebabkan kegagalan dari fungsi lumpur yang pada gilirannya dapat menimbulkan hambatan pemboran dan akhirnya menimbulkan kerugian besar. Secara umum lumpur pemboran mempunyai tiga komponen atau fasa, yaitu: 1. Fraksi cairan : a. b. c. 2. Air Minyak Emulsi minyak dan air

Fraksi padat a. b. Reactive solid (clay, bentonite, attapulgite) Innert solid

3.

Fraksi zat-zat kimia a. b. c. d. e. Material pemberat Filtration loss reduce agent Viscousifier Thinner PH Adjuster (pengontrol)

f.

Shale stabilisator agent

Adanya bermacam-macam fraksi tersebut, maka Zaba dan Doherty (1970), mengelompokan lumpur bor berdasarkan fasa fluidanya, menjadi : 1. Lumpur air tawar (fresh water mud). Adalah lumpur yang fasa cairnya adalah air tawar dengan (kalau ada) kadar garam yang kecil (kurang dari 10000 ppm = 1 % berat garam). Jenis-jenis lumpur fresh water muds adalah sebagai berikut : a. Spud Mud, adalah lumpur yang digunakan pada pemboran awal atau bagian atas bagi conductor casing. Fungsi utamanya adalah untuk mengangkat cutting dan membuka lubang di permukaan. b. Natural Mud, yaitu dibentuk dari pecahan-pecahan cutting dalam fasa cair, sifat-sifatnya bervariasi tergantung formasi yang di bor. Lumpur ini digunakan untuk pemboran yang cepat seperti pemboran pada surface casing. c. Bentonite treated mud, yaitu mencakup sebagian besar dari tipe-tipe air tawar. Bentonite adalah material paling umum yang digunakan untuk koloid inorganic yang berfungsi mengurangi filtrate loss dan mengurangi tebal mud cake. Bentonite juga menaikkan viskositas. d. Phospate treated mud, yaitu mengandung polyphospate untuk mengontrol viskositas, gel strength dan juga dapat mengurangi filtrate loss serta mud cake dapat tipis. e. Organic colloid treated mud, terdiri dari penambahan

pregelatinized starch atau carboxymethyl cellulose pada lumpur yang digunakan untuk mengurangi filtration loss pada fresh water mud. f. Red mud, yaitu mendapatkan warnanya dari warna yang dihasilkan oleh treatment dengan cautic soda dan gueobracho (merah tua). Jenis lumpur ini adalah alkalin tannate treatment

dengan penambahan polyphospate untuklumpur dengan pH dibawah 10. g. Calcium mud, yaitu lumpur yang mengandung larutan kalsium (di sengaja). Kalsium bisa ditambah dengan bentuk slake lime (kapur mati), semen, plaster (CaSO4) atau CaCl2.

2.

Lumpur air asin ( salt water mud). Lumpur ini digunakan terutama untuk membor garam massive (salt dome) atau salt stringer (lapisan formasi garam) dan kadangkadang bila ada aliran air garam yang terbor. Filtrate loss besar dan mud cake tebal bila tidak ditambah organic colloid, pH lumpur dibawah 8, karena itu perlu presentatif untuk menahan fermentasi starch. Jika salt mud mempunyai pH yang lebih tinggi, fermentasi terhalang oleh basa. Suspensi ini bisa diperbaiki dengan penggunaan attapulgite sebagai pengganti bentonite. Adapun jenis-jenis lumpur salt water mud adalah : unsaturated salt water mud, saturated saltwater mud dan sodium-silicate muds.

3.

Oil in water 2emulsion mud. Pada lumpur ini, minyak merupakan fasa terbesar (emulsi) dan air sebagai sebagai fasa kontinu. Jika pembuatannya baik, filtratnya hanya air. Sebagai dapat digunakan baik fresh maupun salt water mud. Sifat-sifat fisik yang dipengaruhi emulsifikasi hanyalah berat lumpur, volume filtrat, tebal mud cake dan pelumasan. Segera setelah emulsifikasi, filtrate loss berkurang. Keuntungannya adalah bit yang lebih tahan lama, penetrasi rate naik, pengurangan korosi pada drillstring, perbaikan pada sifat-sifat lumpur (viskositas dan tekanan pompa boleh/dapat dikurangi, water loss turun, mud cake tipis) dan mengurangi balling (terlapisnya alat oleh padatan lumpur) pada drillstring.

4.

Oil base dan Oil base emulsion mud. Lumpur ini mengandung minyak sebagai fasa kontinunya. Komposisinya diatur agar kadar airnya rendah (3 5% volume). Relatif lumpur ini tidak sensitif terhadap kontaminan. Tetapi airnya adalah kontaminan karena memberi efek negatif bagi kestabilan lumpur ini. Untuk mengontrol viskositas, menaikkan gel strength, mengurangi efek kontaminasi air dan mengurangi filtrate loss perlu ditambahkan zat-zat kimia. Manfaat oil base mud didasarkan pada kenyataan bahwa filtratnya adalah minyak karena itu tidak akan menghidratkan shale atau clay yang sensitif baik terhadap formasi maupun formasi produktif (juga untuk completion mud). Kegunaan terbesar adalah pada completion dan work-over sumur.

5.

Gaseuos drilling fluids. Digunakan untuk daerah-daerah dengan formasi keras dan kering.

Lumpur pemboran mempunyai pengaruh yang penting dalam suatu operasi pemboran minyak, gas dan panas bumi. Kecepatan pemboran,

efisiensi, keselamatan dan biaya pemboran sangat tergatung pada lumpur pemboran yang dipakai. Pada dasarnya fungsi utama lumpur pemboran adalah untuk : a. b. c. d. e. f. Mengangkat serbuk bor ke permukaan Mengontrol tekanan formasi Mendinginkan pahat dan melumasi bit dan drill string Membersihkan dasar lubang bor Membantu dalam penilaian formasi Melindungi formasi produktif

Fungsi utama lumpur pemboran tersebut diatas ditentukan oleh komposisi kimia dan sifat fisik lumpur. Kesalahan dalam mengontrol sifat sifat fisik lumpur pemboran akan menyebabkan kegagalan dari fungsi

lumpur dan pada gilirannya dapat menimbulkan hambatan pemboran (hole problem) dan akhirnya mengakibatkan kerugian yang sangar besar.

2.1

Rumusan Masalah Untuk lebih memfokuskan tujuan penelitian tersebut, maka kami akan menganalisis permasalahan tentang kontaminasi lumpur pemboran yang nantinya akan di korelasikan dengan hasil dari laboratorium agar di dapatkan hasil yang optimum pada saat lumpur disirkulasikan. Diantaranya : 1. 2. 3. Apa penyebab lumpur terkontaminasi ? Apa pengaruh kontaminan pada lumpur pemboran ? Metode apa yang di gunakan untuk mengetahui lumpur pemboran terkontaminasi? 4. Bagaimana menanggulangi lumpur yang terkontaminasi ?

3.1

Tujuan Penelitian Tujuan dari penulisan proposal ini adalah menentukan berbagaimacam jenis dari kontaminasi lumpur pemboran

4.1

Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data lapangan yang dapat dianalisis dan dikembangkan untuk penulisan komprehensif.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Sejak digunakannya teknik rotary drilling dalam operasi pemboran di lapangan minyak, lumpur pemboran menjadi faktor penting. Bahkan lumpur pemboran menjadi salah satu pertimbangan dalam mengoptimasikan operasi pemboran. Oleh sebab itu mutlaklah untuk memelihara atau mengontrol sifat-sifat fisik lumpur pemboran agar sesuai dengan yang diinginkan. Salah satu penyebab berubahnya sifat fisik lumpur pemboran adalah adanya material-material yang tidak diinginkan (kontaminan) yang masuk ke dalam lumpur pada saat operasi pemboran sedang berjalan. Kontaminasi yang sering terjadi adalah sebagai berikut : 1. Kontaminasi sodium chlorida Kontaminasi ini sering terjadi saat pemboran menembus kubah garam (salt dome), lapisan garam, lapisan batuan yang mengandung konsentrasi garam yang cukup tinggi atau akibat air formasi yang berkadar garam tinggi dan masuk kedalam sistem lumpur. Akibat adanya kontaminasi ini, akan mengakibatkan berubahnya sifat lumpur seperti viscosity, yield point, gel strength dan filtration loss. Kadangkadang penurunan pH dapat pula terjadi dengan garam pada sistem lumpur. 2. Kontaminasi Gypsum Gypsum dapat masuk kedalam lumpur pada saat pemboran menembus formasi gypsum, lapisan gypsum yang terdapat pada formasi shale dan limestone. Akibat adanya gypsum dalam jumlah yang cukup banyak dalam lumpur pemboran, maka akan merubah sifat-sifat fisik lumpur tersebut seperti viscosity plastic, yield point, gel strength dan fluid loss. 3. Kontaminasi semen Kontaminasi semen dapat terjadi akibat operasi penyemanan yang kurang sempurna atau setelah pengeboran lapisan semen dalam

casing, float collar, dan casing shoe, kontaminasi semen akan mengubah viscosity plastic, yield point, gel strength, fluid loss dan pH lumpur. Selain dari ketiga kontaminasi diatas, bentuk kontaminasi lain yang dapat terjadi selama operasi pemboran adalah : a. Kontaminasi Hard water atau kontaminasi oleh air yang mengandung ion kalsium dan magnesium yang cukup tinggi. b. c. d. Kontaminasi Carbon Dioxide Kontaminasi Hydrogen Sulfida Kontaminasi Oxygen Dalam praktikum ini akan dipelajari perubahan sifat fisik lumpur akibat kontaminasi yang sering terjadi sekaligus cara penanggulangannya. Penyebab problem shale dapat dikelompokkan berdasarkan tinjauan dari segi lumpur maupun dari segi pemboran praktis ataupun mekanis. Dari segi lumpur telah dijelaskan bahwa hydratable, dispersible dan brittle terjadi karena adanya sifat reaktif shale terhadap air. Instabilitas tersebut dapat dicegah dengan menjaga agar air pada fluida pemboran tersebut tidak bersentuhan dengan shale. Clay sewaktu bersentuhan dengan air akan membentuk muatan negatif yang kuat pada permukaan platenya, hal inilah yang menyebabkan terjadinya swelling pada clay sehingga terjadi perubahan sifat-sifat lumpur secara tiba-tiba yang dapat mengganggu jalannya operasi pemboran. Beberapa penyebab secara mekanis, antara lain : Erosi, karena kecepatan lumpur annulus yang terlalu tinggi dapat menyebabkan gesekan dengan dinding formasi (sumur) yang terlalu kuat yangdapat menyebabkan runtuhnya dinding lumpur lubang pemboran. Gesekan pipa bor terhadap dinding lubang pemboran, hal ini juga dapat menyebabkan dinding lubang pemboran yang getas dan rentan akan runtuh karena seringnya rangkaian pipa bor menggesek lubang pemboran.

Adanya penekanan (pressure surge) atau penyedotan (swabbing) pada saat keluar masuknya rangkaian pipa bor dapat menyebabkan terjadinya sloughing karena adanya perbedaan tekanan secara tiba-tiba saat dilakukan penekanan dan penarikan rangkaian pipa bor.

Tekanan batuan formasi, hal ini berhubungan dengan tekanan abnormal dimana tekanan hidrostatis lumpur pemboran lebih kecil dari tekanan formasi.

Air filtrat atau lumpur yang masuk ke dalam pori-pori formasi batuan menyebabkan batuan mengembang dan terjadi swelling yang akan melemahkan ikatan antar batuan dimana akhirnya dapat menyebabkan terjadinya sloughing. Secara umum dapat dikatakan bahwa pembesaran lubang pemboran

dan shale problem berkaitan erat dengan dua masalah pokok, yaitu adanya tekanan formasi dan kepekaan terhadap lumpur atau air filtrat. Gejala-gejala umum yang terlihat jika sedang terjadi shale problem antara lain : Serbuk bor bertambah banyak Lumpur menjadi lebih kental Air filtrat bertambah besar Ada banyak endapan serbuk bor di dalam lubang pemboran Torsi bertambah besar Bit balling

Usaha-usaha untuk menanggulangi shale problem antara lain : Pemakaian lumpur secara tepat, artinya densitas lumpur cukup untuk menahan tekanan formasi, pH sesuai dengan jenis lumpur, semisal untuk lumpur PHPA pH ideal sekitar 8,5 dan untuk CLS pH antara 10 11, filtrasi rendah. Mengurangi kecepatan aliran lumpur pada annulus. Diusahakan pipa bor benar-benar dalam keadaan tegang Mengurangi kemiringan lubang pemboran

Menghindari swabbing maupun pressure surge pada saat keluar masuknya pahat. Dalam hal ini akan dipelajari perubahan sifat lumpur akibat

kontaminasi yang sering terjadi sekaligus cara penanggulangannya.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Rancangan Penelitian

3.1.1 Kontaminasi NaCl a) Buat lumpur standar : 22.5 gr bentonite + 350 cc aquades, ukur pH, viscositas, gel strength, fluid loss dan ketebalan Mud cake. b) Tambahkan NaCl sebanyak 1 gr kedalam lumpur standar. Ukur pH, Viscositas, gel strength, fluid loss dan ketebalan Mud cake. c) Lakukan langkah b dengan penambahan NaCl masing-masing 3.5 gr, 7.5 gr dan 17.5 gr. Ukur pH, Viscosity, gel strength, fluid loss dan ketebalan mud cake. d) Buatlah Lumpur baru dengan komposisi : Lumpur standar + 7.5 gr NaCl + 0.5 gr NaOH. Ukur pH, viscositas, gel strength, fluid loss dan ketebalan mud cake. e) Lakukan langkah d dengan penambahan 1 gr NaOH. Ukur pH, viscositas, gel strength, fluid loss dan ketebalan mud cake.

3.1.2 Kontaminasi Gypsum a) Buat lumpur standar : Ukur pH, Viscositas, gel strength, fluid loss dan ketebalan mud cake. b) Buatlah Lumpur baru dengan komposisi : Lumpur standar + 0.225 gr Gypsum. Ukur pH, viscositas, gel strength, fluid loss dan ketebalan mud cake. c) Lakukan langkah b dengan penambahan gypsum masing-masing 0.5 gr, 1 gr dan 1.5 gr. Ukur pH, Viscosity, gel strength, fluid loss dan ketebalan mud cake. d) Buatlah Lumpur baru dengan komposisi : Lumpur standar + 1.5 gr Gypsum + 0.2 gr Monosodium Phosphate. Ukur pH, viscositas, gel strength, fluid loss dan ketebalan mud cake.

e)

Lakukan langkah d dengan penambahan 1 gr soda ash.

3.1.3 Kontaminasi Semen a) Buat lumpur standar : Ukur pH, Viscositas, gel strength, fluid loss dan ketebalan Mud cake. b) Buatlah Lumpur baru dengan komposisi : Lumpur standar + 0.225 gr semen. Ukur pH, viscositas, gel strength, fluid loss dan ketebalan mud cake. c) Lakukan langkah b dengan penambahan semen masing-masing 0.5 gr, 1 gr dan 1.5 gr. Ukur pH, Viscosity, gel strength, fluid loss dan ketebalan mud cake. d) Buatlah Lumpur baru dengan komposisi : Lumpur standar + 1.5 gr semen + 0.2 gr Monosodium Phosphate. Ukur pH, viscositas, gel strength, fluid loss dan ketebalan mud cake. e) Lakukan langkah d dengan penambahan 1 gr Monosodium Phosphate.

3.2

Ruang Lingkup Sampel kontaminan lumpur tersebut kemudian akan di teliti di laboratorium.

3.3

Lokasi Peneliti Nama kota : Balikpapan Instansi : STT MIGAS BALIKPAPAN

3.4

Instrumen Penelitian

3.4.1 Peralatan Fann VG Baroid Wall building Tester Neraca pH indicator Komprsesor

Gelas Ukur Mud Mixer Stop Watch Titration Disk Jangka Sorong Filter Trap

Gambar 3.1 Fann VG

Gambar 3.2 Neraca

Gambar 3.3 Mud Mixer

Gambar 3.4 Stopwatch

Gambar 3.5 Filter Paper

Gambar 3.6 Baroid Wall Building Tester

Gambar 3.7 Titration disk

Gambar 3.8 Jangka Sorong

3.4.1 Bahan Aquades Bentonite Nacl Gypsum Semen Soda Ash Monosodium Phosphate Caustic Soda Edta Standar Murexid Asam Sulfat

Gambar 3.9 Bentonite

Gambar 3.10 Aquades

Gambar 3.11 Gypsum

Gambar 3.12 Soda Ash

Gambar 3.13 Caustic Soda

Gambar 6.14 Monosodium Phospate

Gambar 3.15 Larutan Buffer pH 10

Gambar 3.16 EDTA Standar

3.5

Teknik Pengumpulan Data Dari rancangan penelitian diatas, data tersebut kemudain diplotkan kedalam tabel sebagai berikut:

Tabel 6.1 Nilai Gel strength Dan Filtration loss Akibat Adanya Kontaminasi

Komposisi Lumpur LD LD + 7.5 gr NaCl LD + 17.5 gr NaCl LD + 7.5 gr NaCl + 0.5 NaOH LD + 0.9 gr Gypsum LD + 1.5 gr Gypsum LD + 15 gr Gypsum + soda ash LD + 1 gr semen LD + 1.5 gr semen LD + 1.5 gr semen + NH(H2PO4)

Dial reading 600 16 43 19 90 77 35 75 156 224 46 300 9 40 15.5 91 70 30 67 150 207 29

Gel strength 10 10 4 32 21 25 8 9 25 73 21 82 162 30 71 26 120 25 92 210 178 73

Filtration loss 0 1 5 4.5 1.8 2 3.6 2 2 1 2 7.5 5 17 20 14 9 15 8 9.6 8 8 20 9.5 25 24 34 15 26 16 18 16 17 25 11 27 28 37 17 30 18 20 18 17 30 13 30 30 41 18 32 20 22 19 18

Tabel 6.2 Nilai Tebal Mud cake Akibat Adanya Kontaminasi

Komposisi Lumpur LD LD + 7.5 gr NaCl LD + 17.5 gr NaCl LD + 7.5 gr NaCl + 0.5 NaOH LD + 0.9 gr Gypsum LD + 1.5 gr Gypsum LD + 15 gr Gypsum + soda ash LD + 1 gr semen LD + 1.5 gr semen LD + 1.5 gr semen + NH(H2PO4)

Tebal mud 1 1.1 4 4 4.4 1.5 3.6 2.8 3 3.3 2.8 2 1.7 3.9 3.9 4.6 1.5 3.7 2.9 3.1 3.4 3 3 1.7 4.2 4.2 4.6 1.5 4 2.5 3 3.5 3

Volume H2 SO4

Volume EDTA (ml)

0.6 1 5.3 1.1 1 0.6 0.4

Jika lumpur pemboran yang digunakan pada sumur X mendapatkan masalah akibat adanya kontaminasi garam gypsum atau semen. Analisa laboratorium menunjukkan hasil seperti tersaji pada tabel diatas.

3.6

Teknik Analisa Data Pada setiap proses pemboran, hampir selalu terjadi kontaminasikontaminasi pada lumpur pemboran. Hal itu dapat mempengaruhi sifat fisik lumpur pemboran tersebut. Pada percobaan ini parameter-parameter yang berubah antara lain viscositas, gel strength, dan ketebalan mud cake. Yang dimaksud dengan kontaminan yaitu material-material yang tidak diinginkan yang masuk ke dalam lumpur pemboran saat pemboran berlangsung. Kontaminan tersebut dapat berupa NaCl, gypsum, semen, dan lain-lain. Berdasarkan data percobaan diatas, terjadi perubahan nilai gel strength saat terjadi kontaminasi NaCl.
50 40 30 20 10 0 Lumpur dasar LD + 7,5 gr NaCl LD + 7,5 gr NaCl + 0.5 NaOH 13 1.7 4.2 4.6 mud cake percobaan ke-3 32 25 30 26 Filtration loss V30

41 Gel strength 10''

Diagram 3.1 Kontaminasi NaCl

Apabila diagram di atas diamati dapat terlihat jelas bahwa terjadi perubahan nilai gel strength saat terjadi kontaminasi NaCl yaitu nilai gel strength menjadi lebih kecil sehingga ditambahkan NaOH untuk menaikkan kembali nilai gel strength. Pada volume filtrat juga terjadi perubahan yaitu semakin banyak sehingga tebal mud cake juga bertambah dan saat ditambahkan NaOH, volume filtrat dan tebal mud cake tidak semakin kecil tapi semakin besar.

Dalam keadaan di lapangan, perubahan tebal mud cake menjadi suatu masalah. Apabila mud cake terlalu tebal maka akan menyebabkan pipa terjepit. Kontaminasi NaCl juga dapat mempengaruhi viscositas dan gel strength lumpur. Dalam aplikasinya di lapangan apabila nilai dari gel strength terlalu besar dapat mempersulit sirkulasi lumpur pemboran, juga akan menambah beban pompa sirkulasinya serta mempersulit pemisahan cutting.

120 120 100 80 60 40 20 0 Lumpur dasar LD + 0,9 gr gypsum LD + 0,9 gr gypsum + soda ash 32 13 18 1.7 1.5 2.5 32 92 Gel strength 10'' Filtration loss V30 mud cake percobaan ke-3

Diagram 3.2 Kontaminasi Gypsum

Berdasarkan diagram di atas dapat dilihat bahwa saat terjadi kontaminasi gypsum, nilai gel strength, filtration loss dan mud cake semakin besar. Kemudian ditambahkan soda ash dan terlihat bahwa nilai gel strength menjadi semakin kecil namun volume filtrat semakin besar sehingga mud cake semakin tebal.

200 150 100 50 0 Lumpur dasar 32 13 1.7

178

73 19 3.5 18 3

Gel strength 10'' Filtration loss V30 mud cake percobaan ke-3

LD + 1,5 gr semen

LD + 1,5 gr semen + NH(H2PO4)

Diagram 3.3 Kontaminasi Semen

Berdasarkan diagram di atas dapat dilihat bahwa saat terjadi kontaminasi semen, nilai gel strength, filtration loss dan mud cake semakin besar. Kemudian ditambahkan NH(H2PO4) dan terlihat bahwa nilai gel strength menjadi semakin kecil. Selain itu, penambahan NH(H2PO4) juga menyebabkan volume filtrat semakin kecil setelah terjadinya kontaminasi dan mud cake semakin kecil pula. Dalam pemboran, kontaminasi gypsum dan semen dapat

menyebabkan perubahan dari sifat-sifat fisik lumpur pemboran yaitu viscositas plastic, gel strength, filtration loss dan pembentukan mud cake sehingga perlu ditambahkan additive untuk menanggulangi masalah kontaminasi tersebut.

BAB IV

KESIMPULAN
1. Kontaminasi lumpur pemboran dapat menyebabkan perubahan terhadap pH, viskositas plastik, gel strength, filtration loss, dan tebal mud cake. 2. Kontaminasi gypsum dan semen meningkatkan nilai GS yang sangat besar. 3. Penambahan aditif soda ash dan NH(H2PO4) dapat menurunkan nilai gel strength. 4. Gel Strength terlalu besar dapat mempersulit sirkulasi lumpur pemboran, juga akan menambah beban pompa sirkulasinya serta mempersulit pemisahan cutting. 5. Kontaminasi terhadap lumpur pemboran sering terjadi pada saat pemboran berlangsung. Zat kontaminan tersebut antara lain : NaCl, gypsum, semen, hard water, karbon dioksida, hydrogen sulfida. 6. Jika tidak ditanggulangi, akan terjadi peningkatan gel strength, kenaikan densitas, terjadinya Mud Cake dan filtration loss. Akibatnya lumpur pemboran tidak dapat digunakan pada operasi pemboran, karena sifat lumpur sudah berubah 7. Untuk menanggulangi terjadinya kontaminasi Lumpur pemboran, adalah dengan melakukan penambahan zat additive kedalam lumpur pemboran, seperti soda ash, NaOH, dan monosodium phosphate NH(H2PO4).

KRITIK DAN SARAN

Penulis mengharapkan saran dan kritik yang kontruktif dan inovatif dari para pembaca demi kesempurnaan di dalam berbagai aspek dari proposal ini. Apabila terdapat kesalahan baik dari segi penulisan maupun tata bahasa dalam proposal ini, penulis memohon maaf yang besar-besarnya. Kritik dan saran dapat di tulis di bawah ini.