Anda di halaman 1dari 4

Pathogenesis Kerusakan komponen otot dan jaringan elastik dinding bronkus merupakan respon tubuh terhadap infeksi berupa

proses inflamasi yang melibatkan sitokin, oksida nitrit dan neutrofil protease sehingga terjadi kerusakan pada jaringan alveolar peribronkial dan selanjutnya terjadi fibrosis peribronkial. Akhirnya terjadi kerusakan dinding bronkus dan inflamasi transmural sehingga terjadi dilatasi abnormal bronkus (1) adanya kerusakan dinding bronkus, (2) adanya kerusakan fungsi bronkus dan (3) adanya akibat lanjut bronkiektasis atau komplikasi dan sebagainya. Kerusakan dinding bronkus dapat berupa dilatasi dinding bronkus, kerusakan elemen elastis dan otot-otot polos bronkus, kerusakan mukosa dan silia. Kerusakan tersebut akan menimbulkan stasis sputum, gangguan ekspektorasi, gangguan reflek batuk dan sesak nafas1.

b.Hemoptosis Hemoptisis atau hemoptoe terjadi kira-kira pada 50% kasus bronkiektasis. Keluhan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah dan timbul perdarahan. Perdarahan yang terjadi bervariasi mulai yang paling ringan sampai perdarahan yang cukup banyak apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri bronkialis (darah berasal dari peredaran darah sistemik). Sesak nafas (dispnea) Pada sebagian besar pasien (50% kasus) ditemukan keluhan sesak nafas. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronkitis kronis yang terjadi serta seberapa jauh timbulnya kolaps paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang (ISPA), yang bisanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas tadi. Kadang-kadang ditemukan wheezing, akibat adanya obstruksi bronkus. Wheezing dapat lokal atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya. Kelainan Radiologis Gambaran foto dada (plain film) pasien bronkiektasis posisi berdiri sangat bervariasi, tergantung berat ringannya kelainan serta letak kelainannya. Dengan gambaran foto dada tersebut kadangkadang dapat ditemukan kelainannya, tetapi kadang-kadang sukar. Gambaran radiologis khas untuk bronkiektasis biasanya menunjukkan kista-kista kecil dengan fluid level, mirip seperti gambraran sarang tawon pada daerah yang terkena. Gambaran seperti ini hanya dapat ditemukan pada 13% kasus. Kadang-kadang gambaran radiologis paru menunjukkan adanya bercak-bercak pneumonia, fibrosis atau kolaps (atelektasis), bahkan kadang-kadang gambaran seperti pada paru normal (7% kasus). Gambaran bronkiektasis akan jelas pada bronkogram. Kelainan Faal Paru Tergantung pada luas dan beratnya penyakit. Fungsi ventilasi dapat masih normal bila kelainannya ringan. Pada penyakit yang lanjut dan difus, kapasitas vital (KV) dan kecepatan aliran udara ekspirasi satu detik pertama (FEV1) terdapat tendensi penurunan, karena terjadinya obstruksi aliran udara pernafasan. Pada bronkiektasis dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan PaO2 derajat ringan sampai berat, tergantung pada beratnya kelainan. Penurunan PaO2 ini menunjukkan adanya abnormalitas regional (maupun difus) distribusi ventilasi, yang berpengaruh pada perfusi paru. Keadaan Umum: jari tabuh (clubbing fingers) kuku kue ku (k4)=kuku gelas arloji (hour glass nails) menunjukkan adanya hipoksemia kronis Palpasi toraks (daerah bronkus yang terserang): - vibrasi di dekat hilus, saat gumpalan dahak melintasi

cincin tulang rawan dinding bronkus Auskultasi (daerah bronkus yang terserang): ronki basah sedang sampai kasar para-hiler dan/atau parakardial (tergantung letak bronkus yg terserang) pemeriksaan Foto paru : Gambaran cincin-cincin kecil di daerah para-hiler/para-kardial di atas dasar yang agak suram (infiltrat) cincin ini adalah bayangan dinding bronkus yg menebal dan mengalami dilatasi Bila gambaran cincin terlalu banyak akan terbentuk gambaran sarang tawon (honeycomb appearance) di darah parakardial ki atau ka atau ke-dua2nya Bronkografi (dengan memasukkan lipiodol kedalam broncheal tree): Jelas terlihat pelebaran bronkus serta obliterasi percabangan distalnya (gambaran bronkus yang mendadak melebar dan hilang bagian distalnya) Pada umumnya juga tampak bentuk bronkiektasis yang dihadapi CT scan juga dapat menunjukkan kelainan2 dasar ini. (karena tanpa bahaya komplikasi dan lebih mudah bronkografi sudah ditinggalkan!) Pemeriksaan Faal Paru (spirometri) Pengurangan kapasitas vital paru lebih dari 20% dari yang diantisipasi. Kecepatan Arus Puncak Ekspirasi Maksimal (KAEM) atau Peak Flow Rate (PFR) menurun Darah (hanya dapat memperkuat dugaan saja): Rutin: Lekositosis ringan (tidak selalu) dg shift to the right (pergeseran ke kanan) tanda infeksi kronis Lekositosis berat dg shift to the left bila ada eksaserasi akut Kultur darah: bakteriemi (ttp sering -, bila + kmgk metastasis pernanahan, terutama di otak?) Analisis gas darah : hipoksemia ringan (semakin parah penderita hipoksemia semakin nyata) Sputum (!) : Makroskopis indikasi bgmn keadaan penderita Makin purulen makin bahaya, karena sedang/hampir terjadi eksaserbasi akut/super-infeksi Bau busuk indikasi infeksi bakteri anaerob. Kumpulan sputum selama 24 jam (tidak diencerkan, tidak dikocok, tidak diaduk): volume? warna? bau? konsistensi? Adakah korelasi dengan kondisi klinik? - Mikroskopis dengan Preparat Gram: Multi-bakteri (Gram +/-, basil/kokus) - Kultur aerob/anaerob dengan tes resistensi - Perhatikan bakteri yang jumlahnya paling banyak dan pada pemeriksaan ulangan selalu ditemukan peranan penting sbg pencetus eksaserbasi

enegakan diagnosis bronkiektasis dapat ditempuh melewati proses diagnosis yang lazim dikerjakan di bidang kedokteran, meliputi: (1) anamnesis, (2) Pemeriksaan fisis, (3) Pemeriksaan penunjang, terutama pemeriksaan radiologik1,2. Tanda-tanda penting : 1. Sputum dan napas berbau. 2. Rhonki (+). 3. Kadang disertai bunyi wheezing. 4. Jari tabuh. 5. Jantung dan trakea tertarik pada daerah yang terkena(IPD Kecil) .

II.8. DIAGNOSIS BANDING Beberapa penyakit yang perlu diingat atau dipertimbangkan kalau kita berhadapan dengan bronkiektasis: 1. Bronkitis kronis (ingatlah definisi klinik bronkitis kronik). 2. Tuberkulosis paru (penyakit ini dapat disertai kelainan anatomis paru berupa bronkiektasis). 3. Abses paru (terutama bila telah ada hubungan dengan bronkus besar). 4. Penyakit paru penyebab hemoptisis, misalnya: karsinoma paru, adenoma paru dan sebagainya. 5. Fistula bronkopleural dengan empiema2,3.
II.9. KOMPLIKASI Ada beberapa komplikasi bronkiektasis yang dapat dijumpai pada pasien, antara lain: 1. Bronkitis kronik. 2. Pneumonia dengan atau tanpa atelektasis. Bronkiektasis sering mengalami infeksi berulang, biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas, hal ini sering terjadi pada mereka yang drainase sputumnya kurang baik. 3. Pleuritis. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. Umumnya merupakan pleuritis sicca pada daerah yang terkena. 4. Efusi pleura atau empiema (jarang). 5. Abses metastasis di otak. Mungkin akibat septikemia oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada bronkus. Sering menjadi penyebab kematian. 6. Hemoptisis. Terjadi karena pecahnya pembuluh darah cabang vena (arteri pulmonalis), cabang arteri bronkialis atau anastomosis pembuluh darah. Komplikasi hemoptisis hebat dan tidak terkendali merupakan indikasi tindakan bedah gawat darurat. Sering pula hemoptisis masif yang sulit diatasi ini merupakan penyebab kematian utama pasien bronkiektasis. 7. Sinusitis. Keadaan ini sering ditemukan dan merupakan bagian dari komplikasi bronkiektasis pada saluran nafas. 8. Kor-pulmonal kronik (KPK). Komplikasi ini sering terjadi pada pasien bronkiektasis yang berat dan lanjut atau mengenai beberapa bagian paru. Pada kasus ini bila terjadi anastomosis cabang-cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus (bronkiektasis, akan terjadi arteriovenous shunt, terjadi gangguan oksigenasi darah, timbul sianosis sentral, selanjutnya terjadi hipoksemia. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal, kor pulmonal kronik. Selanjutnya dapat terjadi gagal jantung kanan. 9. Kegagalan pernafasan. Merupakan komplikasi paling akhir yang timbul pada pasien bronkiektasis yang berat dan luas. 10. Amiloidosis. Keadaan ini merupakan perubahan degeneratif, sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi. Pada pasien yang mengalami komplikasi amiloidosis ini sering ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinuria.

Prognosis Bila proses patologis terbatas dan tidak ada kontra-indikasireseksi paru/lobektomi penyembuhan untuk selamanya. Bila operasi tidak dapat dilakukan kelainan dasar akan selalu tetap ada tetapi terapi konservatif dapat meminimalkan keluhan penderita dan mencegah timbulnya komplikasi yang tidak diinginkan.

Terapi konservatif : Meningkatkan higiene paru Membatukkan keluar dahak setuntas mgk, a.l. dg Ekspektoran Ambroxol HCl surfaktan >> dahak longgar Inhalasi uap air dahak longgar Memilih posisi tubuh yang tepat untuk evakuasi sputum (postural drainage) NO SMOKING/hindari polutan udara (debu/kimia/dll)

Hemoptysis adalah pengeluaran darah yang berasal dari paru-paru atau saluran bronchial. Hemoptysis adalah darah yang keluar dari mulut dengan dibatukkan
- Rales (crekles) adalah suara yang dihasilkan saat udara melewati jalan nafas yang penuh eksudat, biasanya terdengar saat inspirasi, tidak hilang saat dibatukkan, terjadi pada pneumonia, TBC.