Anda di halaman 1dari 53

DAFTAR ISI

BAB

I

Pendahuluan

1

 

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Tujuan

2

1.3 Sasaran

2

1.4 Metodologi

2

1.5 Ruang Lingkup Wilayah

2

BAB

II

Inventarisasi Data Wilayah, Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

3

 

2.1 Kabupaten Majalengka

3

2.1.1 Gambaran Umum Wilayah

3

2.1.1.1 Letak dan Administrasi Wilayah

3

2.1.1.2 Penggunaan Lahan Eksisting

4

2.1.1.3 Kependudukan

5

2.1.1.4 Sektor Pertanian

5

2.1.2 Pemetaan Lahan Sawah dalam Audit Lahan 2010

9

2.1.3 Kebijakan Terkait Sektor Pertanian Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah

10

2.1.3.1 Penetapan Kawasan Pertanian dalam Rencana Pola Ruang Wilayah

10

2.1.3.2 Penetapan Kawasan LP2B

11

2.1.3.3 Rencana Penggunaan Lahan

12

2.2 Kabupaten Purbalingga

12

2.2.1 Gambaran Umum Wilayah

12

2.2.1.1 Letak dan Administrasi Wilayah

12

2.2.1.2 Penggunaan Lahan Eksisting

14

2.2.1.3 Kependudukan

14

2.2.1.4 Sektor Pertanian

15

2.2.2 Pemetaan Lahan Sawah dalam Audit Lahan 2010

16

2.2.3 Kebijakan Terkait Sektor Pertanian Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah

17

2.2.3.1 Penetapan Kawasan Pertanian dalam Rencana Pola Ruang Wilayah

17

2.2.3.2 Penetapan Kawasan LP2B

21

2.2.3.3 Rencana Penggunaan Lahan

21

2.3 Kabupaten Gunung Kidul

22

2.3.1 Gambaran Umum Wilayah

22

2.3.1.1 Letak dan Administrasi Wilayah

22

2.3.1.2 Penggunaan Lahan Eksisting

23

2.3.1.3 Kependudukan

24

2.3.1.4 Sektor Pertanian

25

2.3.2 Pemetaan Lahan Sawah dalam Audit Lahan 2010

26

2.3.3 Kebijakan Terkait Sektor Pertanian Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah

27

2.3.3.1 Penetapan Kawasan Pertanian dalam Rencana Pola Ruang Wilayah

27

2.3.3.2 Penetapan Kawasan LP2B

29

2.3.3.3 Rencana Penggunaan Lahan

29

2.4 Kabupaten Madiun

30

2.4.1 Gambaran Umum Wilayah

30

2.4.1.1 Letak dan Administrasi Wilayah

30

2.4.1.2 Penggunaan Lahan Eksisting

32

2.4.1.3 Kependudukan

32

2.4.1.4 Sektor Pertanian

33

2.4.2 Pemetaan Lahan Sawah dalam Audit Lahan 2010

35

2.4.3 Kebijakan Terkait Sektor Pertanian Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah

36

2.4.3.1 Penetapan Kawasan Pertanian dalam Rencana Pola Ruang Wilayah

36

2.4.3.2 Penetapan Kawasan LP2B

38

2.4.3.3 Rencana Penggunaan Lahan

39

BAB

III

Kajian Lahan Sawah Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten

40

 

3.1 Kabupaten Majalengka

40

3.2 Kabupaten Purbalingga

43

3.3 Kabupaten Gunung Kidul

45

3.4 Kabupaten Madiun

47

BAB

IV

Kesimpulan dan Saran

49

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1

Jenis Penggunaan Lahan Kabupaten Majalengka Tahun 2011 4

5

Tabel 2.2

Luas Daerah, Jumlah Dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Majalengka

Tabel 2.3

Tahun 2011 Luas Jenis Lahan Sawah Kabupaten Majalengka Tahun 2007 – 2011 6

Tabel 2.4

Luas Tanam, Luas Panen, Produksi Dan Produktivitas Padi Sawah

Luas Lahan Sawah di Kabupaten Majalengka Hasil Audit Lahan Tahun 2010

7

Tabel 2.5

Kabupaten Majalengka Tahun 2011 Luas Tanam, Luas Panen, Produksi Dan Produktivitas Padi Ladang

8

Tabel 2.6

Kabupaten Majalengka Tahun 2011

9

Tabel 2.7

Rencana Penggunaan Lahan Kabupaten Majalengka

12

Tabel 2.8

Luas Wilayah Penggunaan Lahan Kabupaten Purbalingga Tahun 2011

14

Tabel 2.9

Kepadatan Penduduk Kabupaten Purbalingga Menurut Kecamatan Tahun

15

2011

Tabel 2.10

Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten

15

Tabel 2.11

Purbalingga Tahun 2011 Luas Lahan Sawah di Kabupaten Purbalingga Hasil Audit Lahan Tahun 2010

16

Tabel 2.12

Luas eksisting lahan tanaman pangan dan rencana lahan pertanian pangan

20

Tabel 2.13

berkelanjutan Kabupaten Purbalingga berdasarkan RTRW Rencana Tata Ruang Wilayah Kab. Purbalingga Tahun 2011 – 2031

21

Tabel 2.14

Jenis Penggunaan Lahan Eksisting

23

Tabel 2.15

Jumlah penduduk dan kepadatan penduduk menurut Kecamatan

24

Tabel 2.16

Luas Lahan menurut Kecamatan dan Jenis Lahan Tahun 2011

25

Tabel 2.17

Luas Lahan Sawah Menurut Kecamatan dan Sistem Irgasi Tahun 2011

25

Tabel 2.18

Luas Sawah Kabupaten Gunung Kidul

26

Tabel 2.19

Rencana Penggunaan Lahan Kabupaten Gunung Kidul

30

Tabel 2.20

Luas Wilayah Penggunaan Lahan Kabupaten Madiun Tahun 2009

32

Tabel 2.21

Jumlah Penduduk Kabupaten Madiun Tahun 1996-2008

33

Tabel 2.22

Luas Panen, Produksi Dan Produktivitas Tanaman Padi Kabupaten Madiun

34

Tabel 2.23

Tahun 2008 Luas Panen, Produksi Dan Produktivitas Tanaman Padi Kabupaten Madiun

34

Tabel 2.24

Tahun 2004 – 2007 Luas Lahan Sawah di Kabupaten Madiun Berdasarkan Hasil Audit Lahan

35

Tabel 2.25

Tahun 2010 Rencana Penggunaan Lahan Kabupaten Madiun

39

Tabel 3.1

Luas Hasil Overlay Sawah Pusdatin dengan Rencana Kawasan dalam RTRW Kabupaten Majalengka

41

Tabel 3.2

Luas Hasil Overlay Sawah Pusdatin dengan Rencana Kawasan dalam

43

Tabel 3.3

RTRW Kabupaten Purbalingga Luas Hasil Overlay Sawah Pusdatin dengan Rencana Kawasan dalam

45

Tabel 3.4

RTRW Kabupaten Gunung Kidul Luas Hasil Overlay Peta Lahan Sawah dengan Rencana Kawasan dalam RTRW Kabupaten Madiun

47

DAFTAR PETA

Peta 2.1

Peta Administrasi Wilayah Kabupaten Majalengka

4

Peta 2.2

Peta Lahan Sawah Kabupaten Majalengka

9

Peta 2.3

Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Majalengka Tahun 2031

11

Peta 2.4

Peta Administrasi Wilayah Kabupaten Purbalingga

13

Peta 2.5

Peta Lahan Sawah Kabupaten Purbalingga

17

Peta 2.6

Peta Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Purbalingga Tahun 2011 -

20

2031

Peta 2.7

Peta Administrasi Wilayah Kabupaten Gunung Kidul

23

Peta 2.8

Pola Penggunaan Lahan Eksisting Kabupaten Gunung Kidul

24

Peta 2.9

Peta Lahan Sawah Kabupaten Gunung Kidul

26

Peta 2.10

Peta rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Gunung Kidul

29

Peta 2.11

Tahun 20 10 - 2030 Peta Administrasi Wilayah Kabupaten Madiun

31

Peta 2.12

Peta Lahan Sawah Kabupaten Madiun

35

Peta 2.13

Peta Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Madiun Tahun 2010 - 2030

38

Peta 3.1

Kesesuaian LP2B Dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Majalengka

41

Peta 3.2

Kesesuaian LP2B Dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Purbalingga

44

Peta 3.3

Kesesuaian LP2B Dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten

46

Peta 3.4

Gunung Kidul Kesesuaian LP2B Dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Madiun

48

1.1 Latar Belakang

BAB I Pendahuluan

Alih fungsi lahan pertanian merupakan ancaman serius terhadap ketahanan dan keamanan pangan. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya aman merata dan terjangkau. Kedaulatan Pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandiri dapat menentukan kebijakan pangannya, yang menjamin hak atas pangan bagi rakyatnya, serta memberikan hak bagi masyarakatnya untuk menentukan sistem pertanian pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal.

Alih fungsi lahan-lahan pertanian subur selama ini kurang diimbangi oleh upaya-upaya terpadu mengembangkan lahan pertanian melalui pemanfaatan lahan marginal. Di sisi lain, alih fungsi lahan pertanian pangan menyebabkan berkurangnya penguasaan lahan sehingga berdampak pada menurunnya pendapatan petani. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian laju alih fungsi lahan pertanian pangan melalui perlindungan lahan pertanian pangan untuk mewujudkan ketahanan, kamandirian dan kedaulatan pangan, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat pada umumnya.

Berdasarkan UU No 41 tahun 2009, untuk keperluan Kemandirian, Keamanan dan Ketahanan Pangan maka diperlukan Penyelamatan Lahan Pertanian Pangan. Penyelamatan harus segera dilakukan karena laju konversi lahan sawah atau pertanian pangan lainnya sangat cepat. penyelamatan lahan pertanian pangan dari lahan pangan yang sudah ada atau cadangannya yang disusun berdasarkan kriteria yang mencakup kesesuaian lahan, ketersediaan infrastruktur, penggunaan lahan, potensi lahan dan adanya luasan dalam satuan hamparan (Pasal 9). Amanat undang- undang tersebut perlu ditindaklanjuti dengan mengidentifikasi lahan pertanian yang ada saat ini baik yang beririgasi dan tidak beririgasi. Untuk menghambat laju konversi maka UU ini memerlukan penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LCP2B) dan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B).

Upaya perlindungan LP2B dilakukan melalui pembentukan kawasan (KP2B) yang akan terdiri dari LP2B dan LCP2B dan berbagai unsur pendukungnya. Hal ini bermakna selain sawah maka berbagai unsur pendukung juga perlu diketahui untuk menentukan kebijakan atau program yang sesuai. KP2B selanjutnya perlu menjadi bagian integral Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten, sedangkan LP2B dan LC2B diintegrasikan dalam Rencana Tata Ruang rinci. Dalam perundangan ini juga dinyatakan lahan pertanian pangan yang akan dilindungi bisa menjadi bagian kawasan maupun membentang di luar kawasan. Dalam perundangan ini juga dinyatakan lahan pertanian pangan yang akan dilindungi dapat terdapat di dalam kawasan maupun di luar kawasan. Saat ini pemerintah kabupaten/kota menjadi perintis upaya penyelamatan sawah. Hingga September 2013 dokumen RTRW

Kabupaten/kota yang telah diperdakan mencapai 62,5% dan 69 diantaranya telah menetapkan luas LP2B di dalam Perda Tata Ruangnya.

Didasari hal tersebut diatas perlu dilakukan kajian berdasarkan data lahan pertanian serta kesesuaian penetapan lahan pangan pertanian berkelanjutan (hasil inventarisasi) dalam rencana tata ruang wilayah kabupaten untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten.

1.2 Tujuan Adapun tujuan kajian inventarisasi data Lahan Pangan Pertanian Berkelanjutan (LP2B) adalah melihat kesesuaian data Hasil Pemetaan Lahan Sawah dengan penetapan LP2B dan Rencana Tata Ruang Wilayah dan memberikan masukan/saran kepada Pemerintah Daerah Kabupaten mengenai luas dan lokasi penetapan LP2B.

1.3 Sasaran Sasaran pelaksanaan kajian terhadap hasil inventarisasi Lahan Pangan Pertanian Berkelanjutan adalah:

a. Teridentifikasinya area LP2B di wilayah kabupaten

b. Teridentifikasinya pola ruang wilayah kabupaten

c. Teridentifikasinya lahan sawah hasil pemetaan audit lahan yang terakomodir dalam area LP2B dan kawasan pertanian dalam pola ruang wilayah kabupaten

1.4 Metodologi Metode yang digunakan dalam kajian ini yaitu melakukan analisis spasial dengan meng- overlay peta lahan sawah hasil kegiatan audit lahan tahun 2010 dengan peta rencana pola ruang wilayah yang didalamnya terdapat area yang ditetapkan sebagai LP2B

1.5 Ruang Lingkup Wilayah Lingkup wilayah yang dikaji adalah 4 (empat) kabupaten yang memiliki data RTRW berikut data spasial hasil inventarisasi.

BAB II Inventarisasi Data Wilayah, Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten

Secara umum untuk melaksanakan kajian terhadap penetapan lahan pertanian pangan terlebih dahulu dilakukan Inventarisasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Dalam pelaksanaan Inventarisasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan pada tahap awal dilakukan pada 4 lokasi kabupaten di Pulau Jawa sebagai berikut :

2.1 Kabupaten Majalengka (Provinsi Jawa Barat)

2.1.1 Gambaran Umum Wilayah 2.1.1.1 Letak dan Administrasi Wilayah Kabupaten Majalengka terletak antara 6 0 32’16,39” Lintang Selatan sampai dengan 7 0 4’ 24,75” Lintang Selatan dan 108 0 2’ 30,87” Bujur Timur sampai

dengan 108 0 24’ 32,84” Bujur Timur dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Barat Kabupaten Sumedang

Sebelah Timur Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon

Sebelah Utara Kabupaten Indramayu

Sebelah Selatan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya

Luas wilayah Kabupaten Majalengka : 1.204,24 Km² (120,424 ha) atau 2,71% dari luas wilayah Propinsi Jawa Barat. Wilayah Administrasi Kabupaten Majalengka terdiri atas 23 Kecamatan yang terbagi dalam 13 Kelurahan dan 317 Desa. Kondisi Geografis Majalengka terbagi dalam 3 zona daerah yaitu : daerah pegunungan dengan ketinggian 500 - 857 m di atas permukaan laut dengan luas 482,02 Km² atau 40,03 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka; daerah bergelombang/berbukit dengan ketinggian 50-500 m diatas permukaan laut dengan luas 376,53 Km² atau 31,27 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka dan daerah daratan rendah dengan ketinggian 19-50 m diatas permukaan laut dengan luas 345,69 Km² atau 28,70 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka. Kondisi ini memungkinkan tumbuh suburnya potensi sumber daya alam yang melimpah seperti sayuran, buah buahan, pangan juga pariwisata Berdasarkan pada Administrasi Kabupaten Majalengka secara spasial disajikan pada Peta 2.1.

Peta 2.1 Peta Administrasi Wilayah Kabupaten Majalengka

Peta 2.1 Peta Administrasi Wilayah Kabupaten Majalengka 2.1.1.2 Penggunaan Lahan Eksisting Kabupaten Majalengka merupakan

2.1.1.2 Penggunaan Lahan Eksisting

Kabupaten Majalengka merupakan daerah agraris, hal ini dapat ditunjukkan dengan besarnya luas lahan yang dipergunakan untuk sawah, yaitu sekitar 39,59 % dari seluruh luas lahan yang ada di Kabupaten Majalengka. Luas lahan sawah pada tahun 2011 sebesar 55.907 Ha, dan yang menggunakan irigasi mencapai 70,95 %, untuk lebih jelasnya sebagaimana pada Tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1 Jenis Penggunaan Lahan Kabupaten Majalengka Tahun 2011

No.

Jenis Penggunaan Lahan

Luas

(Ha)

%

1

Belukar

19.365

13,71

2

Hutan

6.303

4,46

3

Kolam

254

0,18

4

Ladang

18.459

13,07

5

Padang Rumput

566

0,40

6

Pemukiman

12.248

8,67

7

Perkebunan

26.798

18,98

8

Sawah Irigasi

39.668

28,09

9

Sawah Tadah Hujan

16.239

11,50

10

Tanah Berbatu

29

0,02

11

Tubuh Air

1.200

0,85

12

Water Fiil

70

0,05

 

Total

141.201

100,00

2.1.1.3 Kependudukan Jumlah penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2011 berdasarkan hasil Estimasi Penduduk 2011 adalah 1.171.478 jiwa terdiri atas 585.393 jiwa laki- laki dan 586.085 jiwa perempuan. Rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten

Majalengka pada tahun 2011 adalah 973 Jiwa/Km2, kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Jatiwangi dengan kepadatan 2.071 Jiwa/Km2 dan kepadatan terendah berada di Kecamatan Kertajati dengan kepadatan 305 Jiwa/Km 2 , secara rinci sebagaimana pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Luas Daerah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Majalengka Tahun 2011

   

Penduduk (Jiwa)

Kepadatan

No.

Kecamatan

 

Jumlah

Penduduk per

Luas daerah (km2)

Penduduk

km2

1

Lemahsugih

78,64

57.472

731

2

Bantarujeg

66.52

42.851

644

3

Malausma

45.04

41.037

911

4

Cikijing

43,54

60.096

1.380

5

Cingambul

37,03

35.954

971

6

Talaga

43,5

43.442

999

7

Banjaran

41,98

23.972

571

8

Argapura

60,56

33.560

554

9

Maja

65,21

48.720

747

10

Majalengka

57

69.395

1.217

11

Cigasong

24,17

34.341

1.421

12

Sukahaji

32.52

39.812

1.224

13

Sindang

23.97

14.393

600

14

Rajagaluh

34,37

41.469

1.207

15

Sindangwangi

31,76

30.387

957

16

Leuwimunding

32,46

55.458

1.709

17

Palasah

38,69

45.730

1.182

18

Jatiwangi

40,03

82.883

2.071

19

Dawuan

23.80

44.859

1.885

20

Kasokandel

31.61

46.275

1.464

21

Panyingkiran

22,98

29.732

1.294

22

Kadipaten

21,86

43.531

1.991

23

Kertajati

138,36

42.196

305

24

Jatitujuh

73,66

50.817

690

25

Ligung

62,25

56.186

903

26

Sumberjaya

32,73

56.902

1.739

 

Jumlah

981

1.171.470

29.367

Sumber : BPS Kab. Majalengka, Estimasi Penduduk 2011

2.1.1.4 Sektor Pertanian Pertanian di Kabupaten Majalengka secara umum memiliki potensi yang besar dan variatif dan didukung oleh kondisi agroekosistem yang cocok untuk pengembangan komoditas pertanian dalam arti luas (tanaman, ternak, ikan, kebun dan hutan). Kontribusi terbesar dari pertanian adalah dari sub tanaman pangan dan hortikultura rata-rata mencapai 25,74 persen terhadap PDRB Kabupaten Majalengka, dimana produksi terbesar di Kabupaten Majalengka berasal dari usaha budidaya tanaman pangan dan hortikultura.

Selama perkembangan 4 (empat) tahun luas lahan pertanian di Kabupaten Majalengka dengan irigasi teknis mengalami kenaikan sebesar 520 ha, dari 17.462 ha pada tahun 2007 menjadi 17.982 ha pada tahun 2011, pada Irigasi Non PU juga mengalami kenaikan sebesar 871 ha, dari 7.118 ha pada tahun

2007 menjadi 7.989 ha pada tahun 2011, demikian juga dengan tadah hujan mengalami kenaikan sebesar 10 ha, dari 12.412 pada tahun 2007 menjadi 12.422 ha, pada irigasi setengah teknis mengalami penurunan sebesar 38 ha, dari 8.008 ha pada tahun 2007 menjadi 7.970 ha tahun 2011, demikian juga dengan irigasi sederhana mengalami penurunan 499 ha, dari 6.032 ha pada tahun 2007 menjadi 5.533 ha pada tahun 2011, sebagaimana pada Tabel 2.3.

Produksi padi sawah mengalami peningkatan yaitu dari 605.880 ton pada tahun 2010 menjadi 615.158 ton pada tahun 2011 atau sekitar 1,53 %. Sedangkan jika dilihat dari luas panen mengalami penurunan yaitu dari 101.112 Ha pada tahun 2010 menjadi 96.767 Ha pada tahun 2011 atau turun sekitar 4,3 %. Penurunan luas panen ini tidak sejalan dengan meningkatnya luas tanam, yaitu meningkat sebesar 3.86 % yaitu 101.081 Ha menjadi 104.980 Ha. Di lain pihak produksi padi embil mengalami penurunan sebesar 27.87 %, hal ini sejalan dengan menurunnya luas panen sebesar 33,84 %. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.4 dan tabel 2.5 sebagai berikut :

Tabel 2.3 Luas Jenis Lahan Sawah Kabupaten Majalengka Tahun 2007 – 2011

No.

Jenis Lahan Sawah

 

Luas Lahan Sawah (Ha)

 

2007

2008

2009

2010

2011

1

Irigasi Teknis

17.462

17.441

17.982

17.982

17.982

2

Irigasi Setengah Teknis

8.008

7.935

7.970

7.970

7.970

3

Irigasi Sederhana Milik PU

6.032

6.224

5.534

5.534

5.533

4

Irigasi Non PU

7.118

6.738

7.901

7.901

7.989

5

Tadah Hujan

12.412

12.660

12.512

12.512

12.422

6

Sementara Tidak Diusahakan

   

‐‐‐‐‐

   

7

Lain lain

20

139

 

‐‐‐

 
 

Jumlah

50.905

51.052

51.137

51.899

51.896

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka, 2011

Tabel 2.4 Luas Tanam, Luas Panen, Produksi Dan Produktivitas Padi Sawah Kabupaten Majalengka Tahun 2011

   

Luas

Luas

   

No

Kecamatan

Tanam

Panen

Produksi

Produktivitas

(Ha)

(Ha)

(Ton)

(Ku/Ha)

1

Lemahsugih

6.332

5.008

31.935

63,77

2

Bantarujeg

3.377

3.235

20.288

62,71

3

Malausma

3.854

2.277

14.426

63,36

4

Cikijing

3.979

3.605

22.591

62,67

5

Cingambul

1.515

1.774

11.031

62,18

6

Talaga

3.364

2.829

18.004

63,64

7

Banjaran

2.544

2.546

16.041

63

8

Argapura

2.119

1.973

12.549

63,6

9

Maja

6.201

5.325

34.315

64,44

10

Majalengka

3.756

3.397

22.151

65,21

11

Cigasong

2.356

2.148

13.460

62,66

12

Sukahaji

3.324

3.291

20.628

62,68

13

Sindang

1.761

1.510

9.439

62,51

14

Rajagaluh

2.952

2.642

16.417

62,14

15

Sindangwangi

2.054

1.823

11.538

63,29

16

Leuwimunding

3.545

3.410

22.014

64,56

17

Palasah

4.677

4.461

28.858

64,69

18

Jatiwangi

5.560

5.278

33.921

64,27

19

Dawuan

4.313

4.148

26.464

63,8

20

Kasokandel

2.847

2.689

16.898

63,84

21

Panyingkiran

1.763

1.588

10.138

63,84

22

Kadipaten

2.219

2.091

13.257

63,4

23

Kertajati

10.059

10.132

63.889

63,06

24

Jatitujuh

7.488

7.112

45.043

63,33

25

Ligung

8.327

7.972

50.960

63,92

26

Sumberjaya

4.694

4.503

28.903

64,19

Kab. Majalengka 2011

104.980

96.767

615.158

63,57

 

2010

101 081

101 112

605 880

59,92

Sumber : Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, 2011

Tabel 2.5 Luas Tanam, Luas Panen, Produksi Dan Produktivitas Padi Ladang Kabupaten Majalengka Tahun 2011

No

Kecamatan

Luas Tanam

Luas Panen

Produksi

Produktivitas

(Ha)

(Ha)

(Ton)

(Ku/Ha)

1

Lemahsugih

308

308

1.170

38

2

Bantarujeg

 

---

 

-

3

Malausma

 

5--

 

-

4

Cikijing

10

-

-

-

5

Cingambul

 

---

 

-

6

Talaga

2

7

25

35,71

7

Banjaran

 

---

 

-

8

Argapura

 

---

 

-

9

Maja

 

---

 

-

10

Majalengka

278

271

1.040

38,39

11

Cigasong

 

---

 

-

12

Sukahaji

 

---

 

-

13

Sindang

5

3

11

36,68

14

Rajagaluh

 

---

 

-

15

Sindangwangi

 

---

 

-

16

Leuwimunding

 

---

 

-

17

Palasah

 

---

 

-

18

Jatiwangi

 

---

 

-

19

Dawuan

 

- 22

76

34,55

20

Kasokandel

 

- 26

100

38,34

21

Panyingkiran

 

---

 

-

22

Kadipaten

 

---

 

-

23

Kertajati

1.150

823

3.429

41,66

24

Jatitujuh

74

74

287

38,78

25

Ligung

 

---

 

-

26

Sumberjaya

 

---

 

-

Kab. Majalengka 2011

1.832

1.534

6.138

40,01

 

2010

1.515

2.284

8.510

37,26

Sumber : Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, 2011

2.1.2 Pemetaan Lahan Sawah dalam Audit Lahan 2010 Pada tahun 2010 Pusat Data dan Informasi Pertanian, Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian telah melaksanakan Audit Lahan Tahun 2010 yaitu melakukan Pemetaan Lahan Sawah di Pulau Jawa dengan menggunakan data citra satelit resolusi tinggi. Luas lahan sawah di Kabupaten Majalengka dapat dilihat pada Tabel 2.6 dan berdasarkan spasial sebagaimana pada Peta 2.2.

Tabel 2.6 Luas Lahan Sawah di Kabupaten Majalengka Hasil Audit Lahan Tahun 2010

     

Luas Jenis Sawah Pusdatin

 

No

Kecamatan

Irigasi

Non Irigasi

(ha)

%

(ha)

%

1

ARGAPURA

109

0,21

787

1,54

2

BANTARUJEG

2.987

5,86

1.736

3,41

3

CIKIJING

1.212

2,38

98

0,19

4

DAWUAN

4.012

7,87

0

5

JATITUJUH

3.263

6,40

69

0,14

6

JATIWANGI

2.593

5,09

0

7

KADIPATEN

1.091

2,14

0

8

KERTAJATI

2.178

4,27

4.115

8,07

9

LEMAHSUGIH

1.332

2,61

1.034

2,03

10

LEUWIMUNDING

827

1,62

330

0,65

11

LIGUNG

5.184

10,17

0

12

MAJA

84

0,16

2.333

4,58

13

MAJALENGKA

1.129

2,22

731

1,43

14

PALASAH

1.971

3,87

12

0,02

15

PANYINGKIRAN

746

1,46

27

0,05

16

PEMBANTU BANJARAN

439

0,86

442

0,87

17

PEMBANTU CIGASONG

928

1,82

313

0,61

18

PEMBANTU CINGAMBUL

1.501

2,95

166

0,32

19

PEMBANTU SINDANGWANGI

91

0,18

426

0,84

20

RAJAGALUH

0

812

1,59

21

SUKAHAJI

776

1,52

945

1,85

22

SUMBERJAYA

2.522

4,95

0

23

TALAGA

1.535

3,01

74

0,14

 

Jumlah

36.513

71, 65

14.449

28,35

 

Jumlah Total

 

50.962

Peta 2.2 Peta Lahan Sawah Kabupaten Majalengka

  50.962 Peta 2.2 Peta Lahan Sawah Kabupaten Majalengka Sumber : Data Spasial Pemetaan Lahan Sawah

Sumber : Data Spasial Pemetaan Lahan Sawah Tahun 2010

2.1.3.

Kebijakan Terkait Sektor Pertanian Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah

2.1.3.1 Penetapan Kawasan Pertanian dalam Rencana Pola Ruang Wilayah Sesuai dengan Perda nomor 11 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang

Wilayah Kabupaten Majalengka tahun 2011 – 2031

Kebijakan dan strategi penataan ruang Kabupaten Majalengka dalam pengembangan infrastruktur wilayah guna mendukung kehidupan sosial ekonomi masyarakat dalam menjamin ketersediaan pangan Nasional adalah dengan pengembangan kawasan budi daya. Pada pasal 18 dalam Perda No.

11/2011 telah ditetapkan rencana pola ruang wilayah Kabupaten Majalengka meliputi :

yang

s a l a h

s a t u

a. Kawasan lindung; dan

b. Kawasan budidaya

Kawasan budidaya sebagaimana dimaksud diatas dijabarkan pada pasal 27

yang terdiri dari :

a. kawasan peruntukkan hutan produksi;

b. kawasan peruntukkan pertanian;

c. kawasan peruntukkan perikanan;

d. kawasan peruntukkan pertambangan;

e. kawasan peruntukkan industri;

f. kawasan peruntukkan pariwisata;

g. kawasan peruntukkan permukiman; dan

h. kawasan peruntukkan lainnya.

Sedangkan kawasan peruntukan pertanian berdasarkan pasal 27 point b, dijabarkan dalam pasal 29 antara lain sebagai berikut :

(1) Kawasan peruntukkan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf b terdiri atas:

a. kawasan peruntukkan pertanian tanaman pangan;

b. kawasan peruntukkan hortikultura;

c. kawasan peruntukkan perkebunan;dan

d. kawasan peruntukkan peternakan.

(2) Kawasan peruntukkan pertanian tanaman pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:

a. kawasan peruntukkan pertanian lahan basah;dan

b. kawasan peruntukkan pertanian lahan kering.

(3) Kawasan peruntukkan pertanian lahan basah sebagaimana dimaksud

pada ayat (2) huruf a seluas kurang lebih 39.190 (tiga puluh sembilan ribu seratus sembilan puluh) hektar berupa lahan pertanian pangan berkelanjutan terdiri atas:

a. sawah irigasi teknis terdapat di Kecamatan Kertajati, Jatitujuh, Ligung, Sumberjaya, Palasah, Jatiwangi, Dawuan, Kasokandel, Kadipaten, Panyingkiran, Majalengka, Cigasong, Maja, Sukahaji, Sindang, Rajagaluh, Sindangwangi, Leuwimunding, Bantarujeg, dan Lemahsugih.

b. sawah irigasi setengah teknis terdapat di Kecamatan Kertajati, Jatitujuh, Ligung, Sumberjaya, Palasah, Jatiwangi, Dawuan, Kasokandel, Kadipaten, Panyingkiran, Majalengka, Cigasong, Maja, Sukahaji, Malausma, Rajagaluh, Sindangwangi, Leuwimunding, Lemahsugih, Cikijing, Talaga, Banjaran, Argapura dan Bantarujeg.

c. sawah tadah hujan terdapat di Kecamatan Kertajati, Jatitujuh, Ligung, Sumberjaya, Jatiwangi, Kasokandel, Kadipaten, Panyingkiran, Majalengka, Cigasong, Malausma, Sindangwangi, Leuwimunding, Lemahsugih, Cikijing, Talaga, Banjaran, Argapura, Bantarujeg, Cingambul. (4) Kawasan peruntukkan pertanian lahan kering sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b seluas kurang lebih 626 (enam ratus dua puluh enam) hektar berada di seluruh kecamatan. Penetapan Kawasan Peruntukkan Pertanian mengenai teknis pelaksanaannya dan pengaturannya lebih lanjut diatur dalam Peraturan Bupati, ini diatur dalam Perda RTRW nomor 11 Tahun 2011 pada pasal 29 ayat 8.

Peta 2.3 Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Majalengka Tahun 2031

2.3 Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Majalengka Tahun 2031 Sumber : RTRW Kabupaten Majalengka Tahun 2011

Sumber : RTRW Kabupaten Majalengka Tahun 2011 - 2031

2.1.3.2 Penetapan Kawasan LP2B Pemerintah Daerah Kabupaten Majalengka melalui Perda No. 11 Tahun 2011 ini juga telah menetapkan sebagian luas Kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan sebagaimana dimaksud diatas, yaitu seluas kurang lebih 39.190 hektar ditetapkan sebagai lahan pertanian tanaman pangan berkelanjutan. Dari data spasial yang diperoleh pada RTRW Kabupaten Majalengka, mengenai kawasan mana yang ditetapkan sebagai lahan pangan pertanian berkelanjutan tidak didapat keterangan atau informasinya.

2.1.3.3 Rencana Penggunaan Lahan Dalam Rencana Pola Ruang yang ditetapkan dalam peraturan daerah Kabupaten Majalengka Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Majalengka Tahun 2011 – 2031 disampaikan pula rencana luas penggunaan lahan sebagaimana pada Tabel 2.7.

Tabel 2.7 Rencana Penggunaan Lahan Kabupaten Majalengka

   

Luas

No

Kawasan dalam RTRW

(ha)

%

 

Kawasan Lindung

27,454

22.20

1

Kawasan Hutan Lindung

2,588

2.09

2

Kawasan Hutan Produksi

4,319

3.49

3

Kawasan Industri

482

0.39

4

Kawasan Lindung Geologi

1,457

1.18

5

Kawasan Lindung Lainnya

1,813

1.47

6

Kawasan Perlindungan Setempat

1,196

0.97

7

Kawasan Perlindungan Terhadap Bawahannya

8,910

7.21

8

Kawasan Rawan Bencana Alam

5,848

4.73

9

Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya

78

0.06

10

Minyak Gas

762

0.62

 

Kawasan Budidaya

96,190

77.

80

11

Kawasan Pertambangan

1,023

0.83

12

Kawasan Peruntukan Lainnya

4,932

3.99

13

Kawasan Peruntukan Pariwisata

111

0.09

14

Kawasan Peruntukan Perikanan

2,681

2.17

15

Kawasan Peruntukan Permukiman

29,876

24.16

16

Kawasan Peruntukan Pertanian

49,240

39.82

17

(blank)

8,327

6.73

 

Total

123,644

100.00

Sumber : RTRW Kabupaten Majalengka

2.2 Kabupaten Purbalingga (Provinsi Jawa Tengah)

2.2.1 Gambaran Umum Wilayah 2.2.1.1 Letak dan Administrasi Wilayah Kabupaten Purbalingga, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah dengan Ibukotanya adalah Purbalingga. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Pemalang di utara, Kabupaten Banjarnegara di timur dan selatan, serta Kabupaten Banyumas di barat dan selatan. Terletak pada 101° 11" BT - 109°35" BT dan 7°10" LS - 7°29 LS" dan terbentang pada altitude ± 40 – 1.500 meter diatas permukaan laut dengan dua musim yaitu musim Hujan antara April– September dan musim Kemarau antara Oktober–Maret. Secara umum

Purbalingga termasuk dalam iklim tropis dengan rata-rata curah hujan 3,739 mm

– 4,789 mm per tahun. Luas wilayah Kabupaten Purbalingga adalah 77.764,122

kilometer persegi. Suhu udara di wilayah Kabupaten Purbalingga antara 23.20°

C – 32.88° C dengan rata-rata 24.49° C.

Kabupaten Purbalingga berada di cekungan yang diapit beberapa rangkaian pegunungan. Di sebelah utara merupakan rangkaian pegunungan (Gunung Slamet dan Dataran Tinggi Dieng). Bagian selatan merupakan Depresi Serayu, yang dialiri dua sungai besar Kali Serayu dan anak sungainya, Kali Pekacangan. Anak sungai lainnya yaitu seperti Kali Klawing, Kali Gintung, dan anak sungai lainnya.

Kabupaten Purbalingga terdiri atas 18 kecamatan, yaitu Kemangkon, Bukateja, Kejobong, Pengadegan, Kaligondang, Purbalingga, Kalimanah, Padamara, Kutasari, Bojongsari, Mrebet, Bobotsari, Karangreja, Karangjambu, Karanganyar, Kertanegara, Karangmoncol dan Rembang. Sebanyak 18 kecamatan itu dibagi lagi atas 224 desa dan 15 kelurahan.

Jenis tanah di Kabupaten Purbalingga sebagian besar di dominasi oleh tanah latosol coklat dan regosol, tanah aluvial dan grumusol kelabu berdasarkan data dari Pusat Penelitian Tanah Bogor Tahun 1969. Persentase Jenis tanah dan luasannya adalah Latosol Coklat dan Regosol 19,22 %, Aluvial Coklat Tua 17,79 %, Latosol Coklat dari Bahan Induk Vulkanik 10,92 %, Latosol Merah Kuning 5,78 %, Latosol Coklat Tua 8,02 %, Andosol Coklat 7,28 %, Litosol 0,74 %, Padmolik Merah-Kuning 12,92 %, Grumusol Kelabu 17,33 %.

Menurut Klasifikasi ketinggian, Kabupaten Purbalingga terdiri dari lima kelas dengan klasifikasi sebagai berikut : 15–25 m (0,56 %), 25–100 m (27,02 %), 100–500 (44,13 %), 500–1000 m (23,05 %), di atas 1000 m (5,24 %). Karateristik kelas kemiringan lereng di wilayah Kabupaten Purbalingga berkisar antara 0% hingga 51%.

Berdasarkan pada Administrasi Kabupaten Purbalingga secara spasial sebagaimana pada Peta 2.4.

Peta 2.4 Peta Administrasi Wilayah Kabupaten Purbalingga

Peta 2.4 Peta Administrasi Wilayah Kabupaten Purbalingga Sumber : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Purbalingga

Sumber : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Purbalingga Tahun 2010

2.2.1.2 Penggunaan Lahan Eksisting Penggunaan lahan di Kabupaten Purbalingga didominasi oleh penggunaan lahan sawah seluas 21.209 Ha (irigasi seluas 16.872 ha, tadah hujan 4.240 ha dan tanah sawah lebak, folder, dll seluas 97 ha), atau sekitar 27,27%, Tegalan 16.654 Ha (21,44%) dan Perkampungan 16.470 Ha (21,18%). Untuk rincinya dapat dilihat

pada Tabel 2.8 Penggunaan Lahan Eksisting Kabupaten Purbalingga.

Tabel 2.8 Luas Wilayah Penggunaan Lahan Kabupaten Purbalingga Tahun 2011

No.

Penggunaan Lahan

Luas (ha)

 

%

1

Lahan Pertanian

   

1.1. Lahan Sawah

21.209

 

27,27

1. Pengairan Teknis

5.194

6,68

2. Pengairan Setengah Teknis

7.509

9,66

3. Pengairan Sederhana

3.876

4,98

4. Pengairan Non PU

293

0,38

5. Tadah Hujan

4.240

5,45

6. Pasang Surut

-

-

7. Tanah Sawah Lebak, Polder dll

97

 

0,12

1.2. Bukan Lahan Sawah

27.370

35,20

1. Tegal Kebun

16.654

21,42

2. Ladang Huma

-

-

3. Perkebunan

820

 

1,05

4. Ditanami Pohon/Hutan Rakyat

5.075

6,53

5. Tambak

-

 

-

6. Kolam/Tebat/Empang

219

 

0,28

7. Padang Pengembalaan/Padang Rumput

-

 

-

8. Sementara Tidak Diusahakan

-

-

9. Lainnya (pekarangan yang ditanami tanaman pertanian

4.602

 

5,92

2.

Lahan Bukan Pertanian

29.185

37,54

1. Rumah, Bangunan, dan Halaman Sekitarnya

16.470

21,18

2. Hutan Negara

9.647

12,41

3. Rawa-rawa (tidak ditanami)

-

 

-

4. Lainnya (jalan, sungai, danau, lahan tandus, dll

3.068

 

3,95

 

Jumlah/Total

77.764

 

100

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan, Kabupaten Purbalingga

2.2.1.3 Kependudukan Jumlah penduduk Kabupaten Purbalingga tahun 2011 diperkirakan mendekati 863.391 jiwa (lihat Tabel 2.9), dengan rata-rata kepadatan 1.050 jiwa/km 2 . Kota Purbalingga sebagai Ibukota Kabupaten berpenduduk sekitar 40.000 jiwa dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Purbalingga Tahun 2011 sebagaimana pada Tabel 2.10.

Tabel 2.9 Kepadatan Penduduk Kabupaten Purbalingga Menurut Kecamatan Tahun 2011

   

Luas Daerah (Km 2 )

Jumlah

Kepadatan Penduduk per Km 2

No.

Kecamatan

Penduduk

1.

Kemangkon

45.13

53,077

1176

2.

Bukateja

42.4

66,431

1567

3.

Kejobong

39.98

42,831

1071

4.

Pengadegan

41.74

35,698

855

5.

Kaligondang

50.54

56,256

1113

6.

Purbalingga

14.73

56,384

3828

7.

Kalimanah

22.5

50,611

2249

8.

Padamara

18.12

39,994

2207

9.

Kutasari

38.07

55,679

1463

10.

Bojongsari

29.24

56,166

1921

11.

Mrebet

44.5

66,327

1490

12.

Bobotsari

26.05

47,279

1815

13.

Karangreja

49.16

39,854

811

14.

Karangjambu

36.82

23,721

644

15.

Karanganyar

29.95

34,503

1152

16.

Kertanegara

26.74

30,380

1136

17.

Karangnoncol

45.63

50,339

1103

18.

Rembang

61.88

57,861

935

 

Jumlah/Total

663.18

863,391

1,302

 

2010

663.18

851,963

1,285

2009

663.18

844,252

*)

1,273

2008

663.18

837,267

*)

1,263

2007

663.18

830,328

*)

1,252

Sumber : BPS Kabupaten Purbalingga, Hasil Registrasi Penduduk *) Angka Perbaikan

Tabel 2.10 Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Purbalingga Tahun 2011

No.

Kecamatan

Banyak Penduduk

Laju

2010

2011

Pertumbuhan

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

1.

Kemangkon

52,343

53,077

1.40

2.

Bukateja

65,686

66,431

1.13

3.

Kejobong

42,346

42,831

1.15

4.

Pengadegan

35,437

35,698

0.74

5.

Kaligondang

55,477

56,256

1.40

6.

Purbalingga

55,565

56,384

1.47

7.

Kalimanah

49,547

50,611

2.15

8.

Padamara

38,867

39,994

2.90

9.

Kutasari

54,632

55,679

1.92

10.

Bojongsari

54,998

56,166

2.12

11.

Mrebet

65,387

66,327

1.44

12.

Bobotsari

46,849

47,279

0.92

13.

Karangreja

39,447

39,854

1.03

14.

Karangjambu

23,496

23,721

0.96

15.

Karanganyar

34,275

34,503

0.67

16.

Kertanegara

30,297

30,380

0.27

17.

Karangnoncol

49,941

50,339

0.80

18.

Rembang

57,373

57,861

0.85

 

Jumlah/Total

851,963

863,391

1.01

Sumber : BPS Kabupaten Purbalingga, Hasil Registrasi Penduduk

2.2.1.4 Sektor Pertanian Sub sektor Tanaman Pangan merupakan salah satu sub sektor pertanian. Sub sektor ini mencakup tanaman padi (padi sawah dan padi gogo), jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kacang kedelai. Menurut luas panen tanaman padi sawah dalam tahun 2011 menurun sebesar 0.02 %, bila dibandingkan dengan tahun 2010, produksi padi sawah tahun 2011 yang sebesar 207.132 ton (GKG) turun bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 216.980 ton (GKG),

produktivitasnya yaitu 55,82 kw/ha. Luas panen padi gogo tahun 2011 juga menurun, sebesar 40,89 % (dari 863 ha tahun 2010 menjadi 513 ha). Luas panen tersebut juga mempengaruhi jumlah produksi. Pada tahun 2010 yaitu mencapai 3.716 ton (GKG) turun menjadi 2.107 ton (GKG) tahun 2011.

2.2.2 Pemetaan Lahan Sawah dalam Audit Lahan Tahun 2010 Pada tahun 2010 Pusat Data dan Informasi Pertanian, Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian telah melaksanakan Audit Lahan Tahun 2010 yaitu melakukan Pemetaan Lahan Sawah di Pulau Jawa dengan menggunakan data citra satelit resolusi tinggi. Luas lahan sawah di Kabupaten Purbalingga dapat dilihat pada tabel 2.11 dan berdasarkan spasial sebagaimana pada Peta 2.5 sebagai berikut.

Tabel 2.11 Luas Lahan Sawah di Kabupaten Purbalingga Hasil Audit Lahan Tahun 2010

     

Luas Jenis Sawah Pusdatin

 

No

Kecamatan

Irigasi

Non Irigasi

(ha)

%

(ha)

%

1

BOBOTSARI

996

5,45

9

0,05

2

BOJONGSARI

952

5,21

34

0,19

3

BUKATEJA

2.543

13,92

0

4

KALIGONDANG

999

5,47

2

0,01

5

KALIMANAH

1.317

7,21

0

6

KARANGANYAR

1.967

10,76

0

7

KARANGMONCOL

873

4,78

438

2,39

8

KARANGREJA

12

0,07

931

5,09

9

KEJABONG

4

0,02

6

0,03

10

KEJOBONG

230

1,26

19

0,10

11

KEMANGKON

2.365

12,94

0

12

KUTASARI

785

4,29

10

0,05

13

MREBET

743

4,07

338

1,85

14

PADAMARA

1.253

6,85

0

15

PENGADEGAN

23

0,13

32

0,18

16

PURBALINGGA

607

3,32

0

17

REMBANG

387

2,12

401

2,19

 

Jumlah

16.056

87,86

2.218

12,14

 

Jumlah Total

 

18.274

Peta 2.5 Peta Lahan Sawah Kabupaten Purbalingga

Peta 2.5 Peta Lahan Sawah Kabupaten Purbalingga Sumber : Data Spasial Pemetaan Lahan Sawah Tahun 2010

Sumber : Data Spasial Pemetaan Lahan Sawah Tahun 2010

2.2.3 Kebijakan Terkait Sektor Pertanian Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah

2.2.3.1 Penetapan Kawasan Pertanian dalam Rencana Pola Ruang Wilayah

Sesuai dengan Perda nomor 5 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang

Wilayah

Kabupaten

Purbalingga

tahun

2011

2031

yang

s a l a h

s a t u

Kebijakan

dan strategi penataan ruang Kabupaten Purbalingga dalam

pengembangan infrastruktur wilayah guna mendukung kehidupan sosial ekonomi

masyarakat dalam menjamin ketersediaan pangan Nasional adalah dengan

pengembangan kawasan budi daya. Pada pasal 17 dalam Perda No. 5/2011 telah ditetapkan rencana pola ruang wilayah Kabupaten Purbalingga meliputi :

a. Kawasan lindung; dan

b. Kawasan budidaya

Kawasan budidaya sebagaimana dimaksud diatas dijabarkan pada pasal 26 yang

terdiri dari :

a. kawasan peruntukan hutan produksi;

b. kawasan hutan rakyat;

c. kawasan peruntukan pertanian;

d. kawasan peruntukan perikanan;

e. kawasan peruntukan pertambangan;

f. kawasan peruntukan industri;

g. kawasan peruntukan pariwisata;

h. kawasan peruntukan permukiman; dan

i. kawasan peruntukan lainnya Sedangkan kawasan peruntukan pertanian berdasarkan pasal 26 point c diatas, diatur dalam pasal 29 antara lain sebagai berikut :

(1) Kawasan peruntukan pertanian terdiri atas: a). pertanian tanaman pangan; b). pertanian hortikultura; c). perkebunan; dan d). peternakan. (2) Pertanian tanaman pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a seluas kurang lebih 25.207 (dua puluh lima ribu dua ratus tujuh) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 16.030 (enam belas ribu tiga puluh) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 9.177 (sembilan ribu seratus tujuh puluh tujuh) hektar yang terdiri dari :

a. Kecamatan Bobotsari seluas kurang lebih 1.437 (seribu empat ratus tiga puluh tujuh) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 910 (sembilan ratus sepuluh) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih

527 (lima ratus dua puluh tujuh) hektar;

b. Kecamatan Bojongsari seluas kurang lebih 1.352 (seribu tiga ratus lima puluh dua) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 1.086 (seribu delapan puluh enam) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 266 (dua ratus enam puluh enam) hektar;

c. Kecamatan Bukateja seluas kurang lebih 2.591 (dua ribu lima ratus sembilan puluh satu) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 1.740 (seribu tujuh ratus empat puluh) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 851 (delapan ratus lima puluh satu) hektar;

d. Kecamatan Kaligondang seluas kurang lebih 1.732 (seribu tujuh ratus tiga puluh dua) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 868 (delapan ratus enam puluh delapan) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 864 (delapan ratus enam puluh empat) hektar;

e. Kecamatan Kalimanah seluas kurang lebih 1.314 (seribu tiga ratus empat belas) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 679 (enam ratus tujuh puluh sembilan) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 635 (enam ratus tiga puluh lima) hektar;

f. Kecamatan Karanganyar seluas kurang lebih 1.539 (seribu lima ratus tiga puluh sembilan) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 268 (dua ratus enam puluh delapan) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 1.271 (seribu dua ratus tujuh puluh satu) hektar;

g. Kecamatan Karangjambu seluas kurang lebih 794 (tujuh ratus sembilan puluh empat) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 319 (tiga ratus Sembilan belas) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih

475 (empat ratus tujuh puluh lima) hektar;

h. Kecamatan Karangmoncol seluas kurang lebih 1.909 (seribu sembilan ratus sembilan) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 1.235 (seribu dua ratus tiga puluh lima) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 674 (enam ratus tujuh puluh empat) hektar;

i. Kecamatan Karangreja seluas kurang lebih 202 (dua ratus dua) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 85 (delapan puluh lima) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih117 (seratus tujuh belas) hektar;

j. Kecamatan Kejobong seluas kurang lebih 474 (empat ratus tujuh puluh empat) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 382 (tiga ratus delapan puluh dua) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 93 (sembilan puluh tiga) hektar;

k. Kecamatan Kemangkon seluas kurang lebih 2.883 (dua ribu delapan

ratus delapan puluh tiga) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 1.938 (seribu sembilan ratus tiga puluh delapan) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 945 (semblian ratus empat puluh lima) hektar;

l. Kecamatan Kertanegara seluas kurang lebih 1.215 (seribu dua ratus lima belas) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 1.122 (seribu seratus dua puluh dua) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 92 (sembilan puluh dua) hektar;

m. Kecamatan Kutasari seluas kurang lebih 1.164 (seribu seratus enam puluh empat) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 1.025 (seribu dua puluh lima) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 139 (seratus tiga puluh sembilan) hektar;

n. Kecamatan Mrebet seluas kurang lebih 2.032 (dua ribu tiga puluh dua) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 1.997 (seribu

sembilan ratus Sembilan puluh tujuh) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 35 (tiga puluh lima) hektar;

o. Kecamaan Padamara seluas kurang lebih 1.233 (seribu dua ratus tiga puluh tiga) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 720 (tujuh ratus dua puluh) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 514 (lima ratus empat belas) hektar;

p. Kecamatan Pengadegan seluas kurang lebih 154 (seratus lima puluh empat) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 55 (lima puluh lima) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 99 (sembilan puluh sembilan) hektar;

q. Kecamatan Purbalingga seluas kurang lebih 714 (tujuh ratus empat belas) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 259 (dua ratus lima puluh sembilan) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 455 (empat ratus lima puluh lima) hektar; dan

r. Kecamatan Rembang seluas kurang lebih 2.468 (dua ribu empat ratus enam puluh delapan) hektar terdiri dari lahan basah seluas kurang lebih 832 (delapan ratus tiga puluh dua) hektar dan lahan kering seluas kurang lebih 1.634 (seribu enam ratus tiga puluh empat) hektar

(3) Kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) seluas kurang lebih 22.616 (dua puluh dua ribu enam ratus enam belas) hektar ditetapkan sebagai lahan pertanian tanaman pangan

berkelanjutan.

Luas lahan eksisting dan rencana lahan pertanian pangan berkelanjutan berdasarkan pada RTRW Kabupaten Purbalingga secara rinci sebagaimana pada Tabel 2.12 dan Peta 2.6 berikut:

Tabel 2.12

Luas eksisting lahan tanaman pangan dan rencana lahan pertanian pangan berkelanjutan Kabupaten Purbalingga berdasarkan RTRW

     

Luas Lahan Sawah

 

No.

Kecamatan

Lahan Eksisting

 

LP2B

L. Basah

L. Kering

Total

L. Basah

L. Kering

Total

   

(Ha)

(Ha)

(Ha)

(Ha)

(Ha)

(Ha)

1

Kemangkon

1.938

945

2.883

1.938

657

2.595

2

Bukateja

1.740

851

2.591

1.740

592

2.332

3