Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN Malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian terutama

pada kelompok resiko tinggi yaitu bayi, anak balita, ibu hamil, selain itu malaria secara langsung menurunkan produktivitas kerja. Upaya untuk menekan angka kesakitan dan kematian dilakukan melalui program pemberantasan malaria yang kegiatannya antara lain meliputi diagnosis dini, pengobatan cepat dan tepat, surveilans dan pengendalian vektor yang kesemuanya ditujukan untuk memutus mata rantai penularan malaria.

BAB 2 PEMBAHASAN 2.1. Definisi Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh Plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah. Infeksi malaria memberikan gejala berupa demam, menggigil, anemia, dan splenomegali. Infeksi ini dapat berlangsung akut maupun kronik. 2.2. Epidemiologi Malaria dapat ditemukan mulai dari belahan bumi utara (Amerika Utara sampai ropa dan Asia! ke belahan bumi selatan (Amerika "elatan!, mulai dari daerah dengan ketinggian #$%& m sampai dengan daerah yang letaknya '&& m di ba(ah permukaan laut. )eadaan malaria di dunia saat ini diperkirakan terdapat *&&+%&& juta kasus malaria klinis, tahun dengan 1,%+#,- juta kematian. "ebanyak .&/ kematian terjadi pada anak+ anak dengan rasio 10 ' anak balita di Afrika meninggal karena malaria. 1i Asia 2enggara negara yang termasuk (ilayah endemi malaria adalah 3angladesh, 3hutan, India, Indonesia, Maldives, Myanmar, 4epal, "rilanka, dan 2hailand. 1i Indonesia malaria ditemukan tersebar luas pada semua pulau dengan derajar dan berat infeksi yang bervariasi. Menurut data yang berkembang hampir separuh dari populasi Indonesia bertempat tinggal di daerah endemik malaria dan diperkirakan ada *& juta kasus malaria setiap tahunnya. Malaria di suatu daerah dapat ditemukan secara autokton, impor, induksi, introduksi, atau reintroduksi. 1i daerah yang autokton, siklus hidup malaria dapat berlangsung karena adanya manusia yang rentan, nyamuk dapat menjadi vektor dan ada parasitnya. Introduksi malaria timbul karena adanya kasus kedua yang berasal dari kasus impor. Malaria reintroduksi bila kasus malaria muncul kembali yang sebelumnya sudah dilakukan eradikasi malaria. Malaria impor terjadi bila infeksinya berasal dari luar daerah (daerah endemi malaria!. Malaria induksi bila kasus berasal dari transfusi darah, suntikan, atau kongenital yang tercemar malaria. )eadaan malaria di daerah endemi tidak sama. 1erajat endemisitas dapat diukur dengan berbagai cara seperti angka limpa, angka parasit, dan angka sporo5oit, yang disebut angka malariometri. #

"ifat malaria juga dapat berbeda dari satu daerah ke daerah lain, yang tergantung pada beberapa faktor, yaitu parasit yang terdapat pada pengandung parasit, manusia yang rentan, nyamuk yang dapat menjadi vektor, dan lingkungan yang dapat menunjang kelangsungan hidup masing+masing. 2.3. Etiologi dan Penula an 6enyebab infeksi malaria ialah Plasmodium, yang selain menginfeksi manusia juga menginfeksi binatang seperti golongan burung, reptile, dan mamalia. Plasmodium ini pada manusia menginfeksi eritrosit dan mengalami pembiakan aseksual di jaringan hati dan di eritrosit. 6embiakan seksual terjadi pada tubuh nyamuk yaitu Anopheles betina. 6enularan malaria kebanyakan berlangsung secara alami, yaitu melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. 7aktu antara nyamuk mengisap darah yang mengandung gametosit sampai mengandung sporo5oit dalam kelenjar liurnya, disebut masa tunas ekstrinsik. "poro5oit adalah bentuk infektif. Infeksi dapat terjadi dengan dua cara, yaitu 0 1. "ecara alami melalui vektor, bila sporo5oit dimasukkan ke dalam badan manusia dengan tusukan nyamuk #. "ecara induksi, bila stadium aseksual dalam eritrosit secara tidak sengaja masuk dalam badan manusia. 7alaupun jarang, penularan malaria mungkin terjadi melalui transfusi darah dan atau transplantasi sumsum tulang, melalui semprit injeksi yang terkontaminasi parasit malaria (pada pecandu narkotik!. 7alaupun juga jarang, penularan bisa terjadi secara kongenital selama bayi masih dalam kandungan, karena berpindahnya infeksi malaria dari ibu ke bayinya melalui peredaran darah plasenta (malaria kongenital!. 2.!. Patofisiologi Mala ia 2erdapat empat proses yang berperan dalam patogenesis parasit ini, yaitu0 1. "ekuestrasi (sequestration!, merupakan proses perlekatan eritrosit terinfeksi (oleh P. falciparum! pada endotel mikrovaskular untuk kemudian menghilang dari peredaran darah tepi. 6roses ini mulai berlangsung pada stadium aseksual. 2erutama terjadi pada venula dan organ+organ vital seperti otak, hati, dan ginjal. #. "itoadherens (cytoadherense!. 6roses ini diperantarai oleh P. falciparum erythrocyte membrane protein-1 (6f M6+1!. 6rotein ini terdapat pada permukaan eritrosit *

terinfeksi, melekat pada membran parasit kemudian menghasilkan histidine rich protein. 6roses ini menyebabkan terbentuknya tonjolan yang merupakan titik perlekatan ke endotel vaskular. *. Rosetting, yaitu melekatnya eritrosit yang mengandung parasit matang kepada eritrosit yang tidak terinfeksi. 6erlekatan ini menyebabkan aliran darah terhambat dan memicu proses sitoadherens di pembuluh darah organ. '. "itokin. Infeksi oleh Plasmodium memicu pelepasan sitokin oleh makrofag, monosit, dan sel+sel endotel seperti 248+9, I:+1, I:+;, dan I:+$. 6elepasan 248+9 diikuti oleh demam, menggigil, malaise, dan sakit kepala. "aat ini juga sudah banyak bukti bah(a 248+9 memegang peranan penting bagi terjadinya malaria berat. 2.". Manifestasi #linis <ejala klinis malaria dapat berupa demam, nyeri otot, sakit kepala, menggigil, lesu, nyeri abdomen, mual, muntah, dan diare. 2anda yang dapat ditemukan yaitu peningkatan suhu tubuh, takikardi, pembesaran limpa, anemia, ortostatik hipotensi. <ejala klinis tidak muncul selama parasit masih berada di sel+sel hati. 1emam baru akan timbul pada akhir masa inkubasi intrinsik. <ejala demam yang muncul merupakan suatu paroksisme dari * stadium yang berurutan, yakni0 a. "tadium menggigil dimulai dengan perasaan dingin sekali, sehingga menggigil. 6enderita menutupi badannya dengan baju tebal dan dengan selimut. 4adinya cepat, tetapi lemah, bibir dan jari+jari tangannya menjadi biru, kulitnya kering dan pucat. )adang+kadang disertai dengan muntah. 6ada anak sering disertai kejang+kejang. "tadium ini berlangsung antara 1% menit sampai 1 jam. b. "tadium puncak demam dimulai pada saat perasaan dingin sekali perlahan berganti menjadi panas sekali. Muka menjadi merah, kulit kering dan terasa panas seperti terbakar, sakit kepala makin hebat, biasanya ada mual dan muntah, nadi penuh dan berdenyut makin keras. 6erasaan haus sekali pada saat suhu naik sampai '1=> (1&;=8! atau lebih. "tadium ini berlangsung selama #+; jam. c. "tadium berkeringat dimulai dengan penderita berkeringat banyak sehingga tempat tidurnya basah. "uhu turun dengan cepat, kadang+kadang sampai di ba(ah ambang normal. 6enderita biasanya dapat tidur nyenyak dan (aktu bangun, merasa lemah tetapi sehat. "tadium ini berlangsung # sampai ' jam.

'

"erangan demam yang khas ini sering dimulai pada siang hari dan berlangsung $+1# jam. "etelah itu terjadi stadium apireksia. :amanya serangan demam ini untuk setiap spesies malaria tidak sama. 6eriodisitas demam ini hanya berlangsung beberapa kali. Akibatnya penderita mengalami anemia oleh karena hancurnya setiap eritrosit terinfeksi. "elain disebabkan oleh penghancuran eritrosit pada saat sporulasi, anemia pada malaria dapat segera terjadi karena fagositosis sel+sel ? sehingga sel+sel ? mengalami hipertrofi dan splenomegali. 2.$. Diagnosis Banding a. Malaria tanpa komplikasi harus dapat dibedakan dengan penyakit infeksi lain sebagai berikut0 1! 1emam tifoid #! 1emam dengue *! lnfeksi "aluran 6ernafasan Akut (I"6A! '! :eptospirosis ringan %! lnfeksi virus akut lainnya. b. Malaria berat atau malaria dengan komplikasi dibedakan dengan penyakit infeksi lain sebagai berikut0 1! ?adang otak (meningitis,ensefalitis! #! "troke (gangguan serebrovaskuler! *! 2ifoid ensefalopati '! @epatitis %! :eptospirosis berat ;! <lomerulonefritis akut atau kronik -! "epsis $! 1emam berdarah dengue atau Dengue Shock Syndrome 2.%. Peme i&saan Diagnosti& Penun'ang 1iagnosis pasti infeksi malaria dilakukan dengan menemukan parasit dalam darah yang diperiksa dengan mikroskop. 6eranan diagnosis laboratorium terutama untuk menunjang penanganan klinis. Manfaat penunjang laboratorium adalah untuk diagnosis kasus pada kegagalan obat, penyakit berat dengan komplikasi, dan mendeteksi penyakit tanpa penyulit di daerah yang tidak stabil atau daerah dengan transmisi rendah dan % yang sangat tinggi mengakibatkan hyperplasia,

penting untuk daerah yang ada infeksi P.falciparum dan P.viva secara bersamaan, sebab pengobatan keduanya berbeda. a. Mi& os&op (a)a*a. "ediaan darah dengan pulasan <iemsa adalah merupakan dasar dari pemeriksaan dengan mikroskop cahaya. 6emeriksaan sediaan darah tebal dilakukan dengan memeriksa 1&& lapangan mikroskopis dengan pembesaran %&&+;&& kali yang setara dengan &,#& A: darah. Bumlah parasit dapat dihitung per lapangan mikroskopis. Metode semi kuantitaf untuk hitung parasit (parasite count! pada sediaan darah tebal adalah sebagai berikut. C D 1 E 1& parasit per 1&& lapangan CC D 11 E 1&& parasit per 1&& lapangan CCC D 1+1& parasit per 1 lapangan CCCC D F1& parasit per 1 lapangan CCCCC D F1&& parasit per 1 lapangan, setara dengan '&.&&& parasit , A: @itung parasit dapat juga dilakukan dengan menghitung jumlah parasit per #&& leukosit dalam sediaan darah tebal dan jumlah leukosit rata+rata $&&& , A: darah, sehingga densitas parasit dapat dihitung sebagai berikut. Pa asit + ,L da a) - ./umla) pa asit *ang di)itung 0 12223+.'umla) leu&osit *ang di)itung .22233 "ayang sekali bah(a diagnosis mikroskopis secara rutin kadang+kadang kurang bermutu atau tidak dapat dilakukan pada sistem pelayanan kesehatan di daerah perifer. 7alaupun teknolginya sederhana dan biayanya relatif murah, diagnosis mikroskopis ini tetap memerlukan infrastruktur yang memadai untuk pengadaan dan pemeliharaannya, serta untuk melatih tenaga mikroskopik dan mempertahankan mutu. 4. 5e&ni& mi& os&opis lain. 3erbagai jenis upaya telah dilakukan untuk meningkatkan sensitivitas teknik mikroskopis yang konvensional, di antaranya0 1! 5e&ni& 6B7 .Quantitative Buffy Coat3 dengan pulasan jingga akridin (acridine orange! yang berfluoresensi dengan pemeriksaan mikroskop fluoresen merupakan salah satu hasil usaha ini, tetapi masih belum dapat digunakan secara luas seperti ;

pemeriksaan sediaan darah tebal dengan pulasan <iemsa menggunakan mikroskop cahaya biasa. #! 5e&ni& #a8amoto merupakan modifikasi teknik pulasan jingga akridin yang memulas sediaan darah bukan dengan giemsa tetapi dengan akridin dan diperiksa dengan mikroskop cahaya yang diberi lampu halogen. (. 5e&ni& Dipsti(& 2eknik dipstick mendeteksi secara imuno+en5imatik suatu protein kaya histidin II yang spesifik parasit (immuno-en!ymatic detection of the parasite spesific histidine rich protein ""!. 2es spesifik untuk Plasmodium falciparum telah dicoba pada beberapa negara, antara lain di Indonesia. 2es ini sederhana dan cepat karena dapat dilakukan dalam (aktu 1& menit dan dapat dilakukan secara massal. "elain itu, tes ini dapat dilakukan oleh petugas yang tidak terampil dan memerlukan sedikti latihan. Alatnya sederhana, kecil dan tidak memerlukanaliran listrik. )elemahan tes dip+stick ini adalah 0 1! @anya spesifik untuk plasmodium falciparum (untuk plasmodium vivaG masih dalam tahap pengembangan! #! 2idak dapat mengukur densitas parasit (secara kuantitatif! *! Antigen yang masih beredar beberapa hari setelah parasit hilang masih memberikan reaksi positif. '! <ametosit muda (immature! bukan yang matang (mature!, mungkin masih dapat dideteksi. %! 3iaya tes ini cukup mahal. 7alaupun demikian tes yang sederhana dan stabil dapat digunakan untuk pemeriksaan epidemiologi dan operasional. @asil positif palsu (false positive! yang disebabkan oleh antigen residual yang beredar dan oleh gametosit muda dalam darah biasanya ditemukan pada penderita tanpa gejala (asimptomatik!. Badi seharusnya tidak mengakibatkan over treatment sebab tes ini digunakan untuk menunjang diagnosis klinis pada penderita dengan gejala. d. Mollecular Biological Techniques Metode yang berdasarkan deteksi asam nukleat dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu hibridisasi 14A atau ?4A berlabel yang sensitivitasnya dapat ditingkatkan dengan 6>? (polymerase chain reaction!. Akhir+akhir ini beberapa -

pelacak (probe! 14A dan ?4A yang spesifik telah dikembangkan untuk mengidentifikasi keempat spesies 6lasmodium, tetapi terutama untuk Plasmodium falciparum, tes ini sangat spesifik dan sensitif, dapat mendeteksi hingga minimal # parasit, bahkan 1 parasit,A: darah. 6enggunaan pelacak tanpa label radioaktif ( non radioactive labelled probe! meskipun kurang sensitif dibandingkan dengan yang menggunakan bahan label radioaktif, mempunyai shelf-life lebih panjang dan lebih mudah disimpan dan diolah. 2.1. Penatala&sanaan Mala ia Se(a a Umum Hbat antimalaria yang tersedia di Indonesia antara lain klorokuin, sulfadoksin+ pirimetamin, kina, primakuin, serta derivat artemisin. )lorokuin merupakan obat antimalaria standar untuk profilaksis, pengobatan malaria klinis, dan pengobatan radikal malaria tanpa komplikasi dalam program pemberantasan malaria, sulfadoksin+ pirimetamin digunakan untuk pengobatan radikal penderita malaria falciparum tanpa komplikasi. )ina merupakan obat antimalaria pilihan untuk pengobatan radikal malaria falciparum tanpa komplikasi. "elain itu kina juga digunakan untuk pengobatan malaria berat atau malaria dengan komplikasi. 6rimakuin digunakan sebagai obat antimalaria pelengkap pada malaria klinis, pengobatan radikal dan pengobatan malaria berat. Artemisin digunakan untuk pengobatan malaria tanpa atau dengan komplikasi yang resisten multidrugs. 3eberapa obat antibiotika dapat bersifat sebagai antimalaria. )husus di ?umah "akit, obat tersebut dapat digunakan dengan kombinasi obat antimalaria lain, untuk mengobati penderita resisten multidrugs. Hbat antibiotika yang sudah diuji coba sebagai profilaksis dan pengobatan malaria diantaranya adalah derivat tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, sulfametoksa5ol+trimetoprim, dan siprofloksasin. Hbat+obat tersebut digunakan bersama obat anti malaria yang bekerja cepat dan menghasilkan efek potensiasi antara lain dengan kina. a. Pengo4atan Mala ia Falciparum Lini pe tama9 A tesunat:Amodia&uin:P ima&uin dosis artesunatD ' mg,kg33 (dosis tunggal!, amodiakuinD 1& mg,kg33 (dosis tunggal!, primakuinD &,-% mg,kg33 (dosis tunggal!.

Apabila pemberian dosis tidak memungkinkan berdasarkan berat badan penderita, pemberian obat dapat diberikan berdasarkan golongan umur. 1osis makasimal penderita de(asa yang dapat diberikan untuk artesunat dan amodiakuin masing+masing ' tablet, * tablet untuk primakuin. Tabel-1 - Pengobatan Lini Pertama Malaria Falciparum Menurut elompo! "mur Ha i I /enis o4at Artesunat Amodiakuin 6rimakuin Artesunat Amodiakuin Artesunat Amodia&ui n )ombinasi ini digunakan sebagai pilihan utama untuk pengobatan malaria falciparum. 6emakaian artesunat dan amodiakuin bertujuan untuk membunuh parasit stadium aseksual, sedangkan primakuin bertujuan untuk membunuh gametosit yang berada di dalam darah. 6engobatan lini kedua malaria falciparum diberikan bila pengobatan lini pertama tidak efektif. Lini &edua9 #ina:Do&sisi&lin+5et asi&lin:P ima&uin 1osis kinaD1& mg,kg33,kali (*G,hari selama - hari!, doksisiklinD ' mg,kg33,hr (de(asa, #G,hr selama - hari!, # mg,kg33,hr ($+1' th, #G,hr selama - hari!, tetrasiklinD '+% mg,kg33,kali ('G,hr selama - hari!. Apabila pemberian dosis obat tidak memungkinkan berdasarkan berat badan penderita, pemberian obat dapat diberikan berdasarkan golongan umur. /umla) ta4let pe )a i menu ut &elompo& umu &+1 bln #+11 bln 1+' th %+. th 1&+1' th ;1" t) I I + I I I = J J + J J J > 1 1 K 1 1 1 1 # # 1J # # # 2 * * # * * * 3 ! ! 2<3 ! ! ! !

II III

Tabel-# - Pengobatan Lini e$ua "ntu! Malaria falciparum Ha i /enis o4at /umla) ta4let pe )a i menu ut &elompo& umu 2<11 4ln 1<! t) "< ? t) 12<1! t) ; 1" t) .

L LL LLL

n 0 dosis diberikan per kg33 0 #G%& mg doksisiklin 0 #G1&& mg doksisiklin

II<BII

)ina 1oksisiklin 6rimakuin )ina Do&sisi&li

+ +
L

*GJ + K *GJ <

*G1 + 1J *G1 <

*GJ #G1LL # *GJ 2@1AA

3@2<3 2@1AAA 2<2 3@2<3 2@1AAA

<

4. Pengo4atan Mala ia %iva& dan Mala ia 'vale Lini pe tama9 #lo o&uin:P ima&uin )ombinasi ini digunakan sebagai piliha utama untuk pengobatan malaria vivaG dan ovale. 6emakaian klorokuin bertujuan membunuh parasit stadium aseksual dan seksual. 6emberian primakuin selain bertujuan untuk membunuh hipno5oit di sel hati, juga dapat membunuh parasit aseksual di eritrosit. 1osis total klorokuinD #% mg,kg33 (1G,hr selama * hari!, primakuinD &,#% mg,kg33,hr (selama 1' hari!. Apabila pemberian dosis obat tidak memungkinkan berdasarkan berat badan penderita obat dapat diberikan berdasarkan golongan umur, sesuai dengan tabel. Tabel-( - Pengobatan Malaria viva& $an Malaria ovale Ha i /enis o4at )lorokuin 6rimakui n )lorokuin 6rimakui n )lorokuin 6rimakui n 6rimakui n /umla) ta4let menu ut &elompo& umu .dosis tunggal3 &+1 bln #+11 bln 1+' th %+. th 1&+1' th ;1" t) I J 1 # * 3<! + I + 1,$ + + + J + I + + I 1 I J I I J # J 1 J J K * K 1J K K 1 3<! 1 2 1 1

II

III IB< CIB

6engobatan efektif apabila sampai dengan hari ke #$ setelah pemberian obat, ditemukan keadaan sebagai berikut0 klinis sembuh (sejak hari keempat! dan tidak ditemukan 1&

parasit stadium aseksual sejak hari ketujuh. 6engobatan tidak efektif apabila dalam #$ hari setelah pemberian obat0 1! <ejala klinis memburuk dan parasit aseksual positif, atau #! <ejala klinis tidak memburuk tetapi parasit aseksual tidak berkurang atau timbul kembali setelah hari ke+1'. *! <ejala klinis membaik tetapi parasit aseksual timbul kembali antara hari ke+1% sampai hari ke+#$ (kemungkinan resisten, relaps atau infeksi baru!. Pengo4atan Mala ia %iva& Desisten #lo o&uin Lini &edua9 #ina:P ima&uin 1osis kinaD 1& mg,kg33,kali (*G,hr selama - hari!, primakuinD &,#% mg,kg33 (selama 1' hari!. 1osis obat juga dapat ditaksir dengan menggunakan tabel dosis berdasarkan golongan umur sebagai berikut. Tabel-) - Pengobatan Malaria viva& *esisten loro!uin Ha i /enis o4at 1+)ina P ima&ui 1<1! < n L 0 dosis diberikan per kg33 /umla) ta4let pe )a i menu ut &elompo& umu &+1 bln #+11 bln 1+' th %+. th 1&+1' th ; 1" t) L L *GJ *G1 *G# 3@3 < = > E 1

Pengo4atan Mala ia %iva& *ang Delaps "ama dengan regimen sebelumnya hanya dosis primakuin yang ditingkatkan. 1osis klorokuin diberikan 1 kali perhari selama * hari, dengan dosis total #% mg,kg33 dan primakuin diberikan selama 1' hari dengan dosis &,% mg,kg33,hari. 1osis obat juga dapat ditaksir dengan menggunakan tabel dosis berdasarkan golongan umur. Tabel-+ - Pengobatan Malaria viva& yang *elaps Ha i 1 /enis o4at )lorokuin 6rimakuin )lorokuin /umla) ta4let menu ut &elompo& golongan umu &+1 bln #+11 bln 1+' th %+. th 1&+1' th ; 1" t) I + I J + J 11 1 J + # 1 # * 1J * 3<! 2 3<!

2 3 1!<1!

6rimakuin )lorokuin 6rimakuin P ima&uin

+ 1,$ + <

+ I + <

J J J >

1 1 1 1

1J 1J 1J 1>

2 2 2 2

(. Pengo4atan Mala ia Malariae )lorokuin 1 kali perhari selama * hari, dengan dosis total #% mg,kg33. )lorokuin dapat membunuh parasit bentuk aseksual dan seksual P. malariae. 6engobatan dapat juga diberikan berdasarkan golongan umur penderita. Tabel-, - Pengobatan Malaria Malariae Ha i I II III /enis o4at )lorokuin )lorokuin #lo o&uin /umla) ta4let menu ut &elompo& golongan umu &+1 bln #+11 bln 1+' th %+. th 1&+1' th ; 1" t) I J 1 # * 3<! I 1+1 J = 1 > # 1 * 1> 3<! 2

2.?. Penilaian Despon Pengo4atan Mala ia a. #egagalan Pengo4atan Dini .#PD3 .-arly Treatment Failure3 Apabila sampai hari ke+* (@*! penderita menunjukkan salah satu dari gejala berikut. 1! ditemukan tanda+tanda bahaya atau malaria berat dengan komplikasi pada @1, @#, @* dan adanya parasitemia M%/ #! kepadatan parasit (parasitemia! pada @# F @& *! kepadatan parasit pada @* M #%/ @& Apabila telah ditemukan klasifikasi )61 dan pnderita belum diberi pengobatan alternatif "6, maka penderita harus dimonitor sampai @1'. Apabila telah dijumpai klasifikasi )61 dan penderita langsung diberi obat alternatif, maka tidak perlu dimonitor sampai hari ke+1'. 4. #egagalan Pengo4atan #asep .#P#3 .Late Treatment Failure3 Apabila pada @'+@1' penderita menunjukkan salah satu dari keadaan sebagai berikut. 1! ditemukan tanda bahaya atau malaria berat dengan komplikasi setelah @* dan parasitemia M%/ #! penderita kembali berobat di luar (aktu yang telah ditentukan (@ lainnya! karena adanya gejala klinis dan parasitemia 1#

*! timbulnya kembali parasitemia pada @- dan @1'. (. Despon #linis Memadai .D#M3 ..$equate Clinical *esponse3 1isebut juga sensitif, yaitu bila selama dilaksanakan tes terhadap penderita dari @1+ @1' dan setelah pengobatan diberikan dari @&+@# penderita menunjukkan perbaikan selama * hari dan sembuh sempurna, dan pada pemeriksaan "1 ditemukan negative @1+@1'. d. Pende ita /rop 'ut .DF3 6enderita disebut drop out apabila0 1! penderita tidak mengikuti kegiatan secara komplit #! penderita tidak dapat dimonitor pada setiap periode kegiatn *! penderita pinddah ke daerah lain '! tidak bersedia melanjutkan pengobatan %! diberi pengobatan malaria lain oleh pihak ketiga ;! timbul penyakit malaria campuran 2.12. Pen(ega)an Mala ia a. #emop ofila&sis 1! 1osis pencegahan dengan klorokuin berdasarkan umur (Tabel-0! Golongan umu .t)n3 /umla) ta4let &lo o&uin .dosis tunggalH 1@+minggu3 N1 I 1+' J %+. 1 1&+1' 1J F1' # "elama musim transmisi, obat diberikan #G dalam seminggu. 3agi pendatang sementara, obat diminum mulai satu minggu sebelum tiba di daerah malaria dan dilanjutkan ' minggu setelah meninggalkan daerah malaria tersebut. 6ada (anita hamil, berikan klorokuin % mg,kg33 atau # tablet dosis tunggal 1G seminggu. #! )ombinasi doksisiklin setiap hari C klorokuin,meflokuin ,minggu pada daerah yang resisten klorokuin. 4. Men(ega) Gigitan N*amu& 1*

1! 6enggunaan net mosquito (kelambu! yang telah dicelup permethrin,deltamethrin, alphametrin. :ebih baik kelambu yang terbuat dari bahan poliester. #! Memeakai baju dan celana panjang *! Repellent (. Ba&sinasi 1! s6f ;; #! 23O #%@ merupakan modifikasi 6fs #% 2.11. #ompli&asi a. Malaria serebral b. Anemia berat @bN% g/ atau @tN1%/ c. @ipoglikemia )<1N'&/ d. @ipotensi, hipovolemik syok e. <agal ginjal akut f. )oagulopati g. Ikterus h. Asidosis metabolik i. #alarial hemoglobinuria j. dema paru k. @iperparasitemia 2.12. P ognosis 6rognosis malaria berat tergantung pada kecepatan dan ketepatan diagnosis serta pengobatan. 6ada malaria berat yang tidak ditanggulangi, maka mortalitas yang dilaporkan pada anak+anak 1%/, de(asa #&/ dan pada kehamilan meningkat sampai %&/. 6rognosis malaria berat dengan gangguan satu fungsi organ lebih baik daripada gangguan # atau lebih fungsi organ. Mortalitas dengan gangguan * fungsi organ adalah %&/. Mortalitas dengan gangguan ' atau lebih fungsi organ adalah -%/. 2erdapat korelasi antara kepadatan parasit dengan mortalitas yaitu0 a. )epadatan parasit N1&&.&&&,A:, maka mortalitas N1/. b. )epadatan parasit F1&&.&&&,A:, maka mortalitas F1/. c. )epadatan parasit F%&&.&&&,A:, maka mortalitas F%/.

1'

2.13.

Mala ia Be at Malaria berat umumnya disebabkan oleh infeksi P. falciparum (alaupun

belakangan ini ada dilaporkan terjadinya malaria berat akibat infeksi P. viva . Ada beberapa kriteria yang menentukan apakah penderita itu tergolong malaria berat atau tidak, yaitu0 1. )riteria 6arasitologis Bika jumlah eritrosit yang mengandung parasit F%/ atau jika ditemukan ski5on dalam sediaan darah tepi. #. )riteria )linis a. Anemia berat0 @bN%g/ atau @tN1%/ b. Malaria serebral0 kesadaran menurun sampai dengan koma, ensefalopati, P.falciparum positif c. )egagalan ginjal0 kreatinin F* mg/, urine N'&& m:,#' jam d. Ikterus0 bilirubin darah F* mg/ e. @ipertermi0 suhu rectal F*.P> f. $lack %ater fever0 hemoglobinuria g. Malaria algid0 syok dan hipotermi h. <angguan elektrolit dan cairan i. dema paru j. @ipoglikemi0 kadar gula darah N'& mg/ k. <angguan perdarahan Bika ditemukan gambaran khas malaria disertai satu atau lebih kriteria klinis di atas, maka yang bersangkutan menderita malaria berat. Untuk penatalaksanaannya, dapat dilakukan tindakan berikut. 1. 5inda&an Supo tif a. Menjaga jalan nafas, jika perlu beri oksigen b. Memperbaiki keadaan umum c. Memonitor tanda+tanda vital 2. Pem4e ian o4at antimala ia a. )ina @>l

1%

1osis 1& mg,kg33 atau 1 ampul (isi #ml D %&& mg! dilarutkan dalam %&& ml dekstrosa dalam larutan garam diberikan selama $ jam, diulang dengan cairan yang sama setiap $ jam terus menerus hingga penderita dapat minum obat. b. )uinidin <lukonat 3ila kina @>l tidak tersedia, kuinidin cukup aman dan efektif sebagai obat anti malaria. &oading dose 1% mg basa,kg33 dilarutkan dalam cairan isotonis diberikan dalam ' jam pertama, diteruskan dengan -,% mg basa,kg33 dalam ' jam setiap $ jam, dilanjutkan peroral setelah penderita sadar. c. Amodiakuin &oading dose 1& mg,kg33 dalam %&& ml cairan untuk ' jam, kemudian % mg,kg33 dalam %&& ml cairan selama * hari. d. )lorokuin 1iberikan perinfus 1& mg,kg33 dengan 4a>l &,./ atau dekstrosa %/. 1iulang setiap 1#+#' jam, % mg,kg33 dalam ' jam sampai mencapai dosis total #% mg basa,kg33 dalam * hari. 2idak dianjurkan pemberian parenteral karena toksisitasnya. e. Meflokuin 1iberikan personde karena absorpsinya cepat dan tidak tersedia kemasan parenteral. 1osis 1$+#& mg,kg33 atau -%&+1#%& mg dosis tunggal. "ebaiknya dikombinasi dengan sulfadoksin dan pirimetamin untuk mencegah resistensi. f. Qinghaosu (Maltron! 1igunakan pada pengobatan malaria serebral di >ina dan 2ailan dengan pemberian personde, im ataupun iv, dosis ' mg,kg33 hari pertama dilanjutkan # mg,kg33 pada hari II dan III. 3. 5inda&an mengatasi &ompli&asi a. Menjaga jalan nafas agar tetap bersih dan bebas hambatan. b. Memberi penunjang pernafasan, misalnya H# c. 3ila kejang, beri antikonvulsan. 1osis de(asa dia5epam %+1& mg iv diulang tiap 1% menit bila masih kejang. 2idak boleh lebih dari 1&& mg,#' jam. d. 2ransfusi jika @bN% g,dl dan @tN1%/ dengan %hole blood atau packed red cell (6?>!. e. 3ila terjadi hipoglikemia0 1! 3eri %&+1&& ml glukosa '&/ iv. 1;

#! Infus glukosa 1&/ atau %/ untuk mencegah hipoglikemia berulang. *! Monitor )<1 tiap '+; jam. f. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit darah. g. 3ila terjadi malaria algid, perbaiki hemodinamik dengan pemberian plasma perinfus, 4a>l &,./, atau cairan ?inger. @indari penggunaan kina bila terjadi black %ater fever, dan perhatikan rehidrasi cairan.

1-

BAB 3 LAPFDAN #ASUS

#FLEGIUM PENIA#I5 DALAM .#PD3 7A5A5AN MEDI# PASIEN 4o. ?eg. ?" 0 ''.&1.%1 4ama :engkap 0 6riyanto 2anggal :ahir 0 1*+&$+1.$1 Umur 0 #$ 2hn Benis )elamin 0 laki+laki Alamat 0 1usun Mulyo 2.@ilir @amparan 6erak 4o. 2elepon 0 + 6ekerjaan 0 "tatus0 )a(in 6endidikan 0 ":26 Benis "uku 0+ Agama 0 Islam 1okter Muda 0 2halani, ".)ed 1okter 0 dr. 3angun 2anggal Masuk 0 #. Buly #&1& ANAMNESIS
Automentesis 'eternomentesis

DIJAIA5 PENIA#I5 SE#ADANG )eluhan Utama 1eskripsi 0 1emam 0 + @al ini dialami Hs sejak R 1 bulan ini. 1emam bersifat naik turun. 1emam turun dengan penurun panas. 1emam disertai menggigil dan berkeringat, a(alnya demam bersifat tidak teratur. 1alam # minggu ini demam disertai menggigil dan berkeringat berlangsung sekitar jam 1& pagi. Hs berkeringat sehingga ; kali diganti bajunya Mual (C!, Muntah (+!. 3atuk (C!, dahak (C!, (arna putih, volume I sdm per kali batuk ?i(ayat perdarahan spontan (+!, ri(ayat orang dekat rumah yang menderita demam berdarah (+!. ?i(ayat perjalanan ke daerah endemik malaria (C! yaitu 6ekan 3aru ?i(ayat menerima transfusi darah (+! 3A3 (C! 4, 3A) (C! 4

+ + + + + + ?62 ?6H

0 tidak jelas 0 2idak jelas

1$

DIJAIA5 PENIA#I5 DAHULU 2anggal + DIJAIA5 #ELUADGA


:aki+laki 6erempuan

6enyakit +

2empat 6era(atan +

6engobatan dan Hperasi +

C #eninggal *sebutkan sebab meninggal dan umur saat meninggal

(akek-)enek Ayah-"bu Pasien

Anak

DIJAIA5 PDIBADI 2ahun + ?i(ayat Alergi 3ahan , obat + <ejala + ?i(ayat imunisasi 2ahun Benis imunisasi + +

@obi Hlah ?aga )ebiasaan Makanan Merokok Minum Alkohol @ubungan "eks

0 2idak ada yang khusus 0 2idak ada yang khusus 0 2idak ada yang khusus 0+ 0+ 0+

1.

ANAMNESIS UMUM .*evie1 of 2ystem3 Berilah Tan$a Bila .bnormal /an Beri!an /es!ripsi Umum 0 1emam )ulit0 2idak dijumpai kelainan )epala0 Muka pucat (C! :eher0 2idak dijumpai kelainan Mata0 2idak dijumpai kelainan 2elinga0 2idak dijumpai kelainan @idung0 2idak dijumpai kelainan Mulut0 tidak dijumpai kelainan 2enggorokan0 2idak dijumpai kelainan 6ernafasan 0 2idak dijumpai kelainan Bantung0 2idak dijumpai kelainan DIS#DIPSI UMUM )esan "akit ?ingan SvO Sedang 3erat Abdomen 0 tidak dijumpai kelainan Alat kelamin 6ria 0 2idak dijumpai kelainan <injal dan "aluran )encing0 2idak dijumpai kelainan @ematologi0 tidak dijumpai kelainan ndokrin , Metabolik0 tidak dijumpai kelainan Musculoskeletal0 2idak dijumpai kelainan "istem saraf0 2idak dijumpai kelainan

mosi 0 2erkontrol Oaskuler 0 2idak dijumpai kelainan

<i5i 33 0;% )g, 23 01;$ >m IM2 D kg,m#, kesan0 normal 5ANDA BI5AL )esadaran 4adi @? 2ekanan darah

>ompos Mentis

$;G,I $;G,i 3erbaring0 1uduk0 :engan kanan0 1&&,$& mm@g :engan kanan0 1&&,$& mm@g :engan kiri 0 1&&,$& mm@g :engan kiri 0 1&&,$& mm@g Aksila0 *.,#> 8rekuensi0 #' G,menit ?ektal 0 tdp 1eskripsi0 regular

1eskripsi0 )omunikasi baik ?eguler, t,v0 cukup

2emperatur 6ernafasan

#U+#P+#G9 "edang,"edang,4ormal #&

#ULI5 9 2idak dijumpai kelainan. #EPALA 9 )epala simetris, rambut hitam, tidak mudah rontok LEHED9 2OB ?+# cm@#&, trakea medial, pembesaran kelenjar getah bening (+!, struma (+! 5ELINGA DAN HIDUNG9 1alam batas normal DFNGGA MULU5 DAN 5ENGGFDA#AN 9 1alam batas normal MA5A 9 >onjunctiva palpebra inferior pucat (C!, "clera ikterik (C!, ?> C,C, 6upil isokor, kiDka, *mm 5HFDA# Inspe&si Palpasi Pe &usi Aus&ultasi Depan "imetris 8usiformis "8 )a D )i, )esan 0 4ormal "onor pada kedua lapangan paru "60 Oesikuler "20 + Bela&ang "imetris 8usiformis "8 )a D )i, )esan 0 4ormal "onor pada kedua lapangan paru "60 Oesikuler "20 +

/AN5UNG 3atas Bantung ?elatif0 Atas 0 I>? III "inistra )anan 0 :"1 )iri 0 1 cm Medial :M>", I>? O Bantung 0 @? 0 $; G,i, reguler, M1FM# , A#FA1, 6#F61, A#F6#, desah (+! ABDFMEN Inspeksi 0 6alpasi 0 6erkusi 0 Auskultasi0

"imetris soepel, @,:,?D hepar teraba #cm 3A> kanan tympani, pekak hati (C! 6eristaltik (C!

PINGGANG "imetris, tapping pain (+! E#S5DEMI5AS9 "uperior0 Hedem +,+ Inferior 0 Hedem +,+ Alat #elamin9 2idak dilakukan pemeriksaan DE#5UM9 2idak dilakukan pemeriksaan #1

NEUDFLFGI9 ?efleks 8isiologis (C,C! 4ormal ?efleks 6atologis (+,+! BI7ADA )omunikasi baik PEMEDI#SAAN LAB IGD .21+2%+22123
Da a) utin0 @b0%,1* g,dlT ritrosit 0 G1&;,AlT:eukosit0 ;#1& ,mm*T @t0 1*,. /T

2rombosit0 1#& &&&,mm*T M>O0 $',#& f:T M>@0 *1,&& UgT M>@>0 *;,$ g,dl. 5est Kungsi Gin'al0 Ureum 0 ##,$& mg, dl, >reatinin 0 &,$# mg,dl, 5est Kungsi Hati 0 "<H2 0*1 U,:, "<620 #* U,: )<1 Ad ?andom 0 1.',$ mg,dl U inalisa Duangan0 7arna0 seperti teh pekat, protein (+!, ?eduksi (+!, 3ilirubin (+!, Urobilinogen (C!, "edimen0 ritrosit (&+1!,lpb, :eucosit (&+1!,lpb, pitel (&+1!,lpb, )ristal (+! Ke(es Dutin0 2idak dilakukan pemeriksaan

DESUME DA5A DASAD .Diisi dengan 5emuan Positif3 Fle) do&te 9 d . Bangun Nama Pasien 9 PDIIAN5F 1. #ELUHAN U5AMA 9 1emam No. DM 9 !!.21."1

2. ANAMNESIS 9 .Di8a*at Pen*a&it Se&a angH Di8a*at Pen*a&it Da)uluH Di8a*at Pengo4atanH Di8a*at Pen*a&it #elua gaH Dll.3 @al ini dialami Hs sejak R 1 bulan ini. 1emam bersifat naik turun. 1emam turun dengan penurun panas. 1emam disertai menggigil dan berkeringat, a(alnya demam bersifat tidak teratur. 1alam # minggu ini demam disertai menggigil dan berkeringat berlangsung sekitar jam 1& pagi. Hs berkeringat sehingga ; kali diganti bajunya. Mual (C!, muntah (+!. ?i(ayat ke daerah endemik malaria yaitu 6ekan 3aru (C!. 6ada pemeriksaan fisik dijumpai conjungtiva inferior pucat dan sklera ikterik. @epar juga teraba #cm di ba(ah arcus costae kanan. 1ari hasil lab dijumpai @b %,1g,dl

##

#*

DEN7ANA AJAL Nama Pende ita 9 PDIIAN5F No. DM. 9 ! ! 2 1 " 1 54. Den(ana *ang a&an dila&u&an masing<masing masala) .meliputi en(ana untu& diagnosaH penatala&sanaan dan edu&asi3 No. Masala) Den(ana Diagnosa Den(ana 5e api Den(ana Den(ana Edu&asi Monito ing 1 Malaria +U,1 rutin + tirah baring + )linis +menjelaskan kepada pasien dan 1d 0 +:82 lengkap + diet M3 + Apusan darah tebal keluarga tentang penyakit yang + anemia +?82 lengkap + IO81 ?: *& gtt,i + hemoglobin dideritai oleh pasien hemolitik +Apusan darah tepi + 6arasetamol * G %&& mg + 3ilirubin :engkap + Inj ranitidine 1 amp,$jam + "I, 2I3> + >hloroVuin '+'+# + "erum ferritin + ?eticulosit >ount + elektrolit + comb test

#'

Kollo8 Up 5gl *&+-+ #&1& S 1emam (C!, naik turun, menggigil (C! F "ens 0 > M 21 0 11&,-& mm@g 6ols 0$$ G ,min 8. 4afas 0 #& G,min Malaria 0 (CCC! 6lasmodium vivaG 2" 2emp0 *$.1o> A Malaria C anemia hemolitik ec +non auto imun + auto imun + + + + + + + *1+&-+ #&1& 1emam (C!, naik turun, menggigil (C! "ens 0 > M 21 0 11&,-& mm@g 6ols 0$& G ,min 8. 4afas 0 #' G,min Malaria 0 (CC! 6O 2" Malaria C anemia hemolitik ec +non auto imun + auto imun P 5)e ap* tirah baring diet M3 IO81 4a>l &,./ *&gtt,i Inj ranitidine 1 amp,1# j 6>2 *G %&& mg 6rimakuin 1G1%mg Arsvamon #G1 Diagnosti( + kepadatan parasit per hari + Bumlah ?etikulosit + Morfologi darah tepi + ?82 lengkap Apusan darah tepid an tebal

2emp0 *..%o>

+ tirah baring + diet M3 + IO81 4a>l &,./ *&gtt,i + Inj ranitidine 1 amp,1# j + 6>2 *G %&& mg + 6rimakuin 1G1%mg + Arsvamon tab #G1

#%

#;

5gl &#+&-+ #&1&

S 1emam (C!, naik turun, menggigil (C!

F "ens 0 > M 21 0 1&&,;& mm@g 6ols 0;$ G ,min 8. 4afas 0 #& G,min Malaria 0 (C! 6O 2emp0 *;.%o>

A Malaria C anemia hemolitik ec +non auto imun + auto imun + + + + + + +

P 5)e ap* tirah baring diet M3 IO81 4a>l &,./ *&gtt,i Inj ranitidine 1 amp,1# j 6>2 *G %&& mg 6rimakuin 1G1%mg Arsvamon tab #G1

Diagnosti( )epadatan parasit per hari

&*+&-+ #&1&

1emam (+!, mual (C!

"ens 0 > M 21 0 11&,-& mm@g 6ols 0;$ G ,min 8. 4afas 0 #& G,min Malaria 0 (+!

2emp0 *;.%o>

Malaria C anemia hemolitik ec +non auto imun + auto imun

+ tirah baring + diet M3 + IO81 4a>l &,./ *&gtt,i + Inj ranitidine 1 amp,1# j + 6>2 *G %&& mg + 6rimakuin 1G1%mg + Arsvamon tab #G1

)epadatan parasit per hari

&'+&-+ #&1&

1emam (+!, mual (C!

"ens 0 > M 21 0 11&,;& mm@g 6ols 0;$ G ,min 8. 4afas 0 #& G,min 2emp0 *;.%o> Malaria 0 (+!

Malaria C anemia hemolitik ec +non auto imun + auto imun

#-

+ tirah baring + diet M3 + IO81 4a>l &,./ *&gtt,i + Inj ranitidine 1 amp,1# j + 6>2 *G %&& mg + 6rimakuin 1G1%mg + Arsvamon tab #G1

)epadatan parasit per hari

DAK5AD MASALAH Nama Pende ita 9 PDIIAN5F 5anggal Ditemu&an *&,&-,1& No. DM. 9 ! ! 2 1 " 1 Masala) MASALAH + malaria + + + + + Selesai+ 5anggal 5e &ont ol+ 5anggal 5etap

No. 1. 2.

#$

#esimpulan Dan P ognosis )esimpulan 0 :aki+laki usia #$ tahun dengan diagnosa 0 Malaria 6rognosa 0 +Ad Oitam 0 1ubia ad bonam +Ad 8unctionam 0 1ubia ad bonam +Ad "anactionam 0 1ubia ad bonam

#.

Dafta Pusta&a 1epartemen )esehatan ?I. 6edoman 6enatalaksanaan )asus Malaria di Indonesia. Bakarta, #&&;T 1+1#, 1%+#*, ;-+;$. <una(an ". pidemiologi Malaria. 1alam0 @arijanto 64 (eds!. Malaria, pidemiologi, 6atogenesis, Manifestasi )linis dan 6enanganan. Bakarta0 <>, #&&&T 1+1%. @arijanto 64. Malaria. 3uku Ajar Ilmu 6enyakit 1alam. Bilid III, edisi IO. 8akultas )edokteran Universitas Indonesia. Bakarta, #&&;T @al0 1-%'+1-;&. 4ugroho A W 2ume(u 7M. "iklus @idup Plasmodium Malaria. 1alam @arijanto 64 (eds!. Malaria, pidemiologi, 6atogenesis, Manifestasi )linis dan 6enanganan. Bakarta0 <>, #&&&T *$+%#.

*&