Anda di halaman 1dari 16

Pengantar Teknologi Mineral

Oleh : Nama : 1. 2. 3. NPM : 1. 2. 3. Nurain Ishak Siti Deanti Amatilah Rizky Budi Nurhassanah 10070111106 10070111084 10070111097

Pengantar Teknologi Mineral Univesitas Islam Bandung Tahun 2011/2012

Eksplorasi mineral Eksplorasi mineral itu tidak hanya berupa kegiatan sesudah penyelidikan umum itu secara positif menemukan tanda-tanda adanya letakan bahan galian, tetapi pengertian eksplorasi itu merujuk kepada seluruh urutan golongan besar pekerjaan yang terdiri dari : 1. Peninjauan (reconnaissance atau prospeksi atau penyelidikan umum) dengan tujuan mencari prospek, 2. Penilaian ekonomi prospek yang telah diketemukan, dan 3. Tugas-tugas menetapkan bijih tambahan di suatu tambang Di Indonesia sendiri nama-mana dinas atau divisi suatu organisasi perusahaan, lembaga pemerintahan serta penelitian memakai istilah eksplorasi untuk kegiatannya yang mencakup mulai dari mencari prospek sampai menentukan besarnya cadangan mineral. Sebaliknya ada beberapa negara, misalnya Perancis dan Uni Soviet (sebelum negara ini bubar) yang menggunakan istilah eksplorasi untuk kegiatan mencari mineralisasi dan prospeksi untuk kegiatan penilaian ekonomi suatu prospek (Peters, 1978). Selanjutnya istilah eksplorasi mineral yang dipakai dalam buku ini berarti keseluruhan urutan kegiatan mulai mencari letak mineralisasi sampai menentukan cadangan insitu hasil temuan mineralisasi. Selanjutnya istilah eksplorasi mineral yang dipakai dalam buku ini berarti keseluruhan urutan kegiatan mulai dari mencari letak mineralisasi sampai menentukan cadangan insitunya. Pentahapan Dalam Perencanaan Kegiatan Eksplorasi: 1. Tahap Eksplorasi Pendahuluan Menurut White (1997), dalam tahap eksplorasi pendahuluan ini tingkat ketelitian yang diperlukan masih kecil sehingga peta-peta yang digunakan dalam eksplorasi pendahuluan juga berskala kecil 1 : 50.000 sampai 1 : 25.000. Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah : a. Studi Literatur Dalam tahap ini, sebelum memilih lokasi-lokasi eksplorasi dilakukan studi terhadap data dan peta-peta yang sudah ada (dari survei-survei terdahulu), catatan-catatan lama, laporan-laporan temuan dll, lalu dipilih daerah yang akan disurvei. Setelah pemilihan lokasi ditentukan langkah berikutnya, studi faktorfaktor geologi regional dan provinsi metalografi dari peta geologi regional sangat penting untuk memilih daerah eksplorasi, karena pembentukan endapan bahan galian dipengaruhi dan tergantung pada proses-proses geologi yang pernah terjadi, dan tanda-tandanya dapat dilihat di lapangan. b. Survei Dan Pemetaan Jika peta dasar (peta topografi) dari daerah eksplorasi sudah tersedia, maka survei dan pemetaan singkapan (outcrop) atau gejala geologi lainnya sudah dapat dimulai (peta topografi skala 1 : 50.000 atau 1 : 25.000). Tetapi jika belum ada, maka perlu dilakukan pemetaan topografi lebih dahulu. Kalau di daerah tersebut sudah ada peta geologi, maka hal ini sangat menguntungkan, karena survei bisa langsung ditujukan untuk mencari tanda-tanda endapan yang dicari (singkapan), melengkapi peta geologi dan mengambil conto dari singkapan-singkapan yang penting. Selain singkapan-singkapan batuan pembawa bahan galian atau batubara (sasaran langsung), yang perlu juga diperhatikan adalah perubahan/batas batuan, orientasi lapisan batuan sedimen (jurus dan

kemiringan), orientasi sesar dan tanda-tanda lainnya. Hal-hal penting tersebut harus diplot pada peta dasar dengan bantuan alat-alat seperti kompas geologi, inklinometer, altimeter, serta tanda-tanda alami seperti bukit, lembah, belokan sungai, jalan, kampung, dll. Dengan demikian peta geologi dapat dilengkapi atau dibuat baru (peta singkapan). Tanda-tanda yang sudah diplot pada peta tersebut kemudian digabungkan dan dibuat penampang tegak atau model penyebarannya (model geologi). Dengan model geologi hepatitik tersebut kemudian dirancang pengambilan conto dengan cara acak, pembuatan sumur uji (test pit), pembuatan paritan (trenching), dan jika diperlukan dilakukan pemboran. Lokasi-lokasi tersebut kemudian harus diplot dengan tepat di peta (dengan bantuan alat ukur, teodolit, BTM, dll.). Dari kegiatan ini akan dihasilkan model geologi, model penyebaran endapan, gambaran mengenai cadangan geologi, kadar awal, dll. dipakai untuk menetapkan apakah daerah survei yang bersangkutan memberikan harapan baik (prospek) atau tidak. Kalau daerah tersebut mempunyai prospek yang baik maka dapat diteruskan dengan tahap eksplorasi selanjutnya. 2. Tahap Eksplorasi Detail Setelah tahapan eksplorasi pendahuluan diketahui bahwa cadangan yang ada mempunyai prospek yang baik, maka diteruskan dengan tahap eksplorasi detail (White, 1997). Kegiatan utama dalam tahap ini adalah sampling dengan jarak yang lebih dekat (rapat), yaitu dengan memperbanyak sumur uji atau lubang bor untuk mendapatkan data yang lebih teliti mengenai penyebaran dan ketebalan cadangan (volume cadangan), penyebaran kadar/kualitas secara mendatar maupun tegak. Dari sampling yang rapat tersebut dihasilkan cadangan terhitung dengan klasifikasi terukur, dengan kesalahan yang kecil (<20%), sehingga dengan demikian perencanaan tambang yang dibuat menjadi lebih teliti dan resiko dapat dihindarkan. Pengetahuan atau data yang lebih akurat mengenai kedalaman, ketebalan, kemiringan, dan penyebaran cadangan secara 3-Dimensi (panjang-lebar-tebal) serta data mengenai kekuatan batuan sampling, kondisi air tanah, dan penyebaran struktur (kalau ada) akan sangat memudahkan perencanaan kemajuan tambang, lebar/ukuran bahwa bukaan atau kemiringan lereng tambang. Juga penting untuk merencanakan produksi bulanan/tahunan dan pemilihan peralatan tambang maupun prioritas bantu lainnya. 3. Studi Kelayakan Pada tahap ini dibuat rencana peoduksi, rencana kemajuan tambang, metode penambangan, perencanaan peralatan dan rencana investasi tambang. Dengan melakukan analisis ekonomi berdasarkan model, biaya produksi penjualan dan pemasaran maka dapatlah diketahui apakah cadangan bahan galian yang bersangkutan dapat ditambang dengan menguntungkan atau tidak. INFOWONOGIRI.COM-WONOGIRI-Eksplorasi pertambangan emas di wilayah Kecamatan Selogiri diharapkan mampu memberikan keuntungan bagi semua pihak, tak terkecuali bagi masyarakat Wonogiri dan PT Alexis Perdana Mineral (APM) selaku perusahaan yang sedang melakukan ekplorasi pertambangan di Selogiri.

Hal itu dikemukakan oleh Bupati Wonogiri Danar Rahmanto, Ketua DPRD Wonogiri Wawan Setya Nugroho, dan Ketua Komisi C DPRD Wonogiri di ruang data Setda, Kamis (4/8/11) saat digelar pemaparan hasil eksplorasi oleh PT Alexis Perdana Mineral. Diharapkan dengan kegiatan pertambangan yang akan dilakukan oleh PT Alexis ini akan menguntungkan semua pihak. Jangan sampai masyarakat Wonogiri kehilangan moment, ujar Bupati, saat sambutan. Bupati sempat mempertanyakan keseriusan pemaparan hasil eksplorasi ini. Di luar Bupati mengaku mendengar kabar ekspose hasil eksplorasi ini hanya untuk wacana dan cara mendongkrak harga di bursa Saham perusahaan tertentu. Bupati juga mempertanyakan perbedaan kegiatan investor mana yang tergolong sebagai eksplorasi dan mana ekploitasi. Pemaparan PT APM adalah bentuk pertanggungjawaban pemegang IUP untuk memberikan laporan secara berkala seperti diatur oleh UU No 4 Tahun 2009 pasal 111. PT APM telah melakukan eksplorasi selama 2,5 tahun dari masa eksplorasi IUP 6 tahun. Rinciannya 4 tahun eksplorasi dan 2 tahun Studi Kelayakan dan Amdal. Dalam waktu 2,5 tahun telah banyak yang dilaksanakan oleh PT. APM yaitu pemetaan geologi, penelitian geokimia, permodelan geofisika, pemboran eksplorasi sebanyak lebih dari 21 titik, serta rencana RC drilling di 80 titik pada tahun 2011. Penelitian pun termasuk kategori eksplorasi, sepeti yang dilakukan oleh penambang tradisional sejak jaman Belanda, dulu. Terjadinya benturan antara kepentingan nasional untuk menjadikan kawasan Kerinci-Seblat sebagai zona konservasi alam di Propinsi Bengkulu dengan kegiatan penambangan emas yang menunjang sektor ekonomi rakyat di Kecamatan Lebong Utara, telah menimbulkan persoalan sosial yang tidak dapat dianggap ringan. Walaupun aktifitas pertambangan yang berlangsung masih dalam skala kecil, tetapi metoda penambangan yang konvensional serta rendahnya tingkat kepedulian akan lingkungan diantara para penambang, telah menimbulkan ancaman kerusakan lingkungan yang serius pada daerah sekitar tambang. Kebutuhan kayu penyangga terowongan tambang merupakan sebab utama terjadinya penebangan pohon, disamping untuk membangun tempat tinggal, sementara itu penggunaan bahan kimia beracun dalam ekstraksi emas telah menyebabkan tercemarnya air permukaan di kawasan sekitar tambang. Karena itu menemukan daerah penambangan diluar kawasan hutan lindung merupakan jalan keluar yang bisa menyelesaikan persoalan secara manusiawi. Pengamatan geologi lapangan menunjukkan bahwa daerah penambangan alternatif yang terbentang ke arah Baratdaya dari kota Muaraaman, tidak memiliki potensi mineralisasi emas yang memadai. Hal ini terjadi karena mineralisasi emas/perak di kawasan ini terbentuk mengiringi gejala tektonik pada Kala sebelum Miosen Tengah setelah pengendapan Formasi Hulusimpang, sementara itu Formasi Hulusimpang di daerah penambangan alternatif ditutupi secara tidak selaras oleh Formasi Lemau, Formasi Bintunan dan Satuan Batuan Gunungapi. Gejala alterasi di Air Ulu Belimau dan pembentukan veinturat yang barren membuktikan adanya periode kedua aktifitas hidrotermal yang membawa sedikit mineralisasi pada daerah yang relatif terbatas.

EKSPLORASI EMAS Kondisi pasar logam emas yang semakin cerah belakangan ini menyebabkan banyak investor memburu komoditas ini. Daerah penyelidikan yang terletak di daerah Siulak Deras, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi pada koordinat 1011450,2 - 1011908 BT, dan 1o5146,4- 15711,2 LS (Gambar 1) merupakan sasaran karena sudah diketahui memiliki indikasi emas (Rudy dkk, 1996 dan Ingold, 2000). Kegiatan eksplorasi saat ini yang dilakukan dengan metoda pemetaan geologi, parit uji, geokimia tanah/endapan sungai dimaksudkan untuk mengetahui kondisi geologi lokal, melokalisir penyebaran dan menafsirkan model/tipe pembentukan emas di wilayah ini sebagai tindaklanjut berbagai penyelidikan terdahulu. Selama kegiatan telah diambil sebanyak 25 coto batuan, 76 conto endapan sungai, 36 conto konsentrat dulang dan 160 conto tanah. Selain sebagai bagian dari tugas dan fungsi dari Pusat Sumber Daya Geologi, hasil kegiatan ini diharapkan sebagai data dasar bagi investor dan pemerintah daerah Kabupaten Kerinci dalam pengusahaan/pengelolaan potensi sumber daya mineral di daerah ini. Hasil Penyelidik Terdahulu Indikasi emas ditemukan antara Sungai Penuh dan Tapan, di bagian barat di luar wilayah daerah eksplorasi (De Jongh 1917). Hasil penyelidikan geokimia regional menunjukkan anomali geokimia unsur As dan Cu pada endapan sungai yang mengalir di bagian utara S. Penuh atau bermuara dari wilayah usulan eksplorasi (Crow, M.J, 1993). Anomali geokimia Au dan butiran emas juga diperoleh di sekitar Siulak Deras (Rudy Gunrady dkk., 1996). Daerah penyelidikan ditafsirkan memiliki endapan emas tipe epithermal (PT. Ingold, 1999).

Hasil Penyelidikan Morfologi daerah penyelidikan dapat dibagi kedalam dua satuan utama yaitu, morfologi perbukitan terjal dan morfologi perbukitan landai. Satuan morfologi perbukitan terjal sangat luas menempati daerah penyelidikan, pada level ketinggian diatas 1000 m diatas permukaan laut, ditempati batuan gunungapi dan dicirikan penampang lembah sungai V . Satuan morfologi perbukitan bergelombang landai menempati sebagian kecil selatan daerah penyelidikan. Berada pada ketinggian dibawah 1.000 m diatas permukaan laut. Dicirikan lembah-lembah sungai yang lebar, banyak mengendapkan kerikil-bongkah batuan.

Litologi Ada enam satuan batuan menempati daerah penyelidikan dan diuraikan dari muda hingga tua sebagai berikut (Gambar 2): 1. Batuan Gunungapi/Lava (Kwarter) Menempati bagian baratlaut daerah penyelidikan, merupakan batuan gunungapi andesit-basalt yang berkomposisi lava-basalan. 2. Andesit (Pliosen) Merupakan batuan intrusi andesit hornblende menerobos batuan granodiorit. Menempati bagian barat dan timur wilayah penyelidikan. Tekstur batuan umumnya berkristal halus, telah mengalami ubahan khloritisasi dan piritisasi. 3. Breksi Gunungapi (Oligo-Miosen)

Menempati bagian selatan hingga timurlaut daerah kerja. Dicirikan fragmen-fragmen batuan andesit dari zona hancuran akibat sesar dan teramati dekat jalan raya Sungaipenuh-Siulak Deras. 4. Batupasir Tufan (Oligo-Miosen) Menempati bagian tengah daerah penyelidikan dengan penyebaran tidak terlalu luas. Terdiri dari komposisi pasir halus dan tufa berlapis dengan jurus tenggara dan miring 32o ke timurlaut. 5. Kuarsa Porfir (Oligosen) Menyebar tidak luas, hanya pada bagian utara daerah penyelidikan berdampingan dengan batuan granodiorit. Berkomposisi kuarsa berbutir kasar dan sedikit mineral gelap (ferromagnesia). Pada sebagian lokasi berselang seling dengan batuan granodiorit. 6. Granodiorit (Oligosen) Menempati bagian tengah hingga barat daerah penyelidikan dengan tekstur kasar dan terdiri dari komposisi kuarsa (sampai 40%) dan mineral-mineral ferromagnesia serta sedikit feldspar. Struktur Geologi Petunjuk struktur yang teramati adalah berupa gawir dan struktur penyerta seperti kekar-kekar (shear joint) dan urat-urat kuarsa (gash). Bidang slickenside yang teramati di S. Telang. Hasil pengolahan data struktur penyerta di Ujung Ladang (Sta 1) dan S. Telang (Sta 2) dan dari data gash fracture dapat diketahui jenis sesar dan arah tegasan utama N20E dan N200E. Tiga patahan secara umum berarah tenggara-baratlaut namun dengan jenis patahan yang berbeda (Gambar 2). Dua patahan paling timur dan tengah masing-masing merupakan sesar mendatar jenis dekstral dan sinistral. Satu patahan paling barat, merupakan jenis sesar normal dimana bagian timur relative turun dan bagian barat relatif naik. Ubahan dan Mineralisasi Ditemukan ubahan khloritisasi pada batuan andesit yang cukup luas di bagian tengah hingga utara daerah penyelidikan. Disamping itu juga teramati piritisasi pada batuan andesit dan granodiorit di bagian tengah dan barat aya daerah penyelidikan. Petunjuk mineralisasi logam ditemukan berupa kalkopirit, pirit dan galena pada urat-urat kuarsa di S. Telun atau barat daya daerah penyelidikan. Urat-urat kuarsa ini bertekstur milky quartz dan kompak, terdapat pada batuan andesit. Tebal urat beberapa puluh cm dan membentuk zona pembentukan urat (veining zone) hingga sekitar 15 meter lebarnya (Foto 1). Jurus zona urat pada batuan andesit ini adalah tenggara-barat laut dan miring 60o ke arah baratdaya. Pembahasan Keberadaan urat-urat kuarsa dalam dua batuan yang berbeda walaupun secara spasial dan umur relatif berdekatan cukup menarik karena kedua batuan mengalami ubahan dan piritisasi. Namun, karena memperlihatkan ciri-ciri fisik kuarsa yang berbeda tekstur yaitu sugary pada granodiorit/porfiri kwarsa dalam parit uji dan milky pada urat dalam andesit, memberi kesan adanya dua jenis mineralisasi pada sistem yang berlainan yaitu epitermal dan non- epitermal. Deduksi ini masih harus didukung dengan hasil analisis laboratorium yang sedang dikerjakan. Dalam penambangan emas, logam emas tidak berada dalam bentuk murninya, akan tetapi masih bercampur dengan logam dan campuran lain. Karena itu perlu adanya pemisahan dan pemurnian logam emas. Selama ini, pemisahan emas dilakukan dengan cara sianidasi, amalgamasi, dan peleburan. Sedangkan pemurnian emas dengan cara elektrolisis. Namun metode-metode tersebut banyak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.. Hal ini karena bahan kimia yang digunakan untuk reaksireaksi diatas bersifat toksik terhadap lingkungan. Pencucian tumpukan batuan dengan sianida (Cyanide Heap Leaching) dianggap sebagai cara paling hemat biaya untuk memisahkan butir-butir emas yang halus. Tapi cara ini sangat tidak ramah lingkungan karena sianida dapat melepaskan logam-logam berat

lainnya seperti kadmium, timah, merkuri yang berbahaya bagi manusia dan ikan, dalam konsentrasi rendah sekalipun. Menurut laporan Program lingkungan PBB (UNEP), dari tahun 1985 hingga 2000, lebih dari selusin waduk pembuangan limbah tambang emas mengandung sianida ambruk. Metode amalgamasi, yang dalam penggunaannya melibatkan raksa, hanya dapat mengisolasi emas sekitar 50%-60%. Selain dinilai tidak efisien, raksa juga menghasilkan residu yang berdampak negatif bagi lingkungan (Hocker, 2000). Bahkan uap raksapun dianggap berbahaya jika terhirup manusia. Gejala keracunan pada manusia antara lain : batuk, nyeri dada, bronchitis, pneumonia, tremor, insomnia, sakit kepala, cepat lelah, kehilangan berat badan, dan gangguan pencernaan. Mengingat metode-metode yang tidak ramah lingkungan tersebut, maka diperlukan metode lain yang lebih ramah terhadap lingkungan. Menurut Gardea-Torresdey, et al. (1998) sejak lama telah diketahui bahwa tumbuhan memiliki kemampuan untuk mengambil emas dari tanah dan mengakumulasikannya dalam jaringan secara cepat, baik secara aktif melalui metabolisme tumbuhan atau secara pasif melalui gugus fungsional dalam jaringan tumbuhan. Kemampuan ini dapat dimanfaatkan untuk memperoleh kembali ion emas(III) dari larutannya. Dewasa ini telah banyak dikembangkan metode adsorpsi dengan menggunakan biomassa tumbuhan, yang dikenal sebagai metode fitofiltrasi. Biomassa tumbuhan dapat digunakan untuk mengadsorpsi ion logam kationik maupun anionik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa biomassa tumbuhan dapat mengikat berbagai ion logam seperti Cu(II), Ni(II), Cd(II), Cr(III), Sn(II), Au(III), dan Zn(II) (GardeaTorresdey, et al. 1998). Selain itu, biomassa bersifat biodegradable, sehingga penggunaannya bersifat ramah lingkungan. Tiemann, et al., (2004) menduga bahwa gugus-gugus aktif yang terdapat pada protein dalam tumbuhan berperan penting bagi proses pengikatan ion logam. Tumbuhan yang memiliki kadar protein tinggi dan dapat digunakan untuk mengikat emas(III) dengan metode fitofiltrasi adalah rumput gajah. Metode fitofiltrasi ini diharapkan sebagai metode alternatif yang dapat digunakan dalam pengolahan pertambangan emas di Indonesia, sehingga residu dari hasil tambang emas yang diperoleh tidak akan membahayakan bagi lingkungan, hewan, dan manusia. Pengolahan emas sistem pelarutan ( leaching) sianida ataupun tiourea konvensional baru bernilai jika dilakukan terhadap batuan dengan kandungan minimal emas 5 gram / ton. Padahal dalam kenyataannya mayoritas batuan emas memiliki kandungan yang lebih kecil dari itu. Agar batuan dengan kandungan emas minimal 1 gram / ton dapat diproses secara ekonomis, maka diciptakan sistem pengolahan dump leach / heap leach. Berbeda dengan cara - cara konvensional, dalam sistem ini tidak dilakukan penghalusan ukuran batuan. Dengan kata lain tak perlu dilakukan proses - proses mekanis terhadap batuan hasil tambang. Batuan dengan ukuran seperti apa adanya ditumpuk diatas bidang datar ( lapang) yng telah dilapisi polimer sejenis plastik. Plastik berfungsi menahan cairan kimia agar tak meresap ke lapisan tanah di bawahnya, sehingga aman dari pencemaran. Proses pelarutan dilakukan dengan menyemprot cairan kimia dengan metode hujan buatan melalui sprinkle - sprinkle yang ditempatkan di atas tumpukan batuan. Tetes larutan selanjutnya akan melakukan penetrasi ke pori - pori batuan, melarutkan logam - logam yang di inginkan. Gaya grafitasi membawa larutan logam ke bagian bawah dan selanjutnya dialirkan ke kolam / danau penampungan. Hasil larutan yang telah masuk ke kolam / danau kemudian diproses untuk mendapatkan logam emas dan perak.

Tambang Emas di Indonesia dan Cara Pengolahan Limbahnya Indonesia memiliki berbagai macam bahan tambang yang terdapat di berbagai daerah. Minyak bumi, gas alam, emas, batubara, bijih besi, dan aspal merupakan jenis-jenis bahan tambang yang dimiliki oleh Indonesia. Salah satu jenis bahan tambang yang cukup banyak dan tersebar ketersediaannya di Indonesia adalah emas. Emas merupakan salah satu jenis bahan tambang yang memiliki nilai ekonomis sangat tinggi. Emas hampir dipasarkan dan diperdagangkan hampir di semua pasar perdagangan bahan tambang di seluruh dunia. Nilai investasi emas meningkat setiap terjadi perdagangan emas dalam jumlah yang cukup besar. Bahkan, jika dilihat lebih jauh lagi, emas memberikan kontribusi berupa devisa yang sangat besar bagi negara-negara pengekspor emas. Emas tidak terdapat di lapisan tanah yang cukup dalam dari permukaan bumi atau permukaan tanah. Bisa dikatakan bahwa bahan tambang jenis ini terletak di permukaan tanah, daerah aliran sungai yang berisi endapan-endapan mineral, bahkan di daerah hilir sungai yang merupakan akhir dari arah aliran air sungai yang mungkin saja menjadi tempat berkumpulnya arah aliran beberapa sungai yang membawa endapan-endapan mineral. Emas merupakan salah satu jenis mineral yang memiliki banyak manfaat. Jenis mineral ini dapat digunakan sebagai bahan konduktor pengantar panas di beberapa jenis alat elektronik. Namun, kegunaan emas yang utama adalah sebagai bahan perhiasan berupa kalung, emas, cincin, dan lain sebagainya. Jadi, secara garis besar, emas memiliki berbagai manfaat untuk kehidupan manusia. Untuk mendapatkan emas yang terletak di permukaan tanah ataupun yang terletak di daerah aliran sungai tidaklah terlalu sulit. Pencariannya hanya mempergunakan alat-alat yang sederhana. Teknik pencarian dan pengolahan limbahnya sangat sederhana. Namun, untuk mendapatkan emas yang terdapat di dalam lapisan tanah dengan kedalaman tertentu, pencarian emas perlu dipergunakan alatalat teknologi dan teknik pencarian yang cukup sulit. Survey lokasi merupakan salah satu kegiatan awal yang diperlukan untuk mengetahui jumlah ketersediaan emas, posisi atau letak emas, dan kedalaman emas dari permukaan tanah. Daerah yang memiliki banyak ketersediaan emas tentu saja harus menjadi basis atau sumber pencarian dan pengolahan limbah hasil eksplorasi emas. Daerah-daerah inilah yang kemudian menjadi daerah-daerah tambang emas yang mungkin saja alam dan lingkungannya dapat rusak karena adanya kegiatan penambangan emas ini.

Ilustrasi-Tambang Emas Indonesia memiliki banyak tambang emas yang tersebar mulai dari Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan Papua. Cadangan emas di Indonesia cukup besar. Ini dapat dilihat dari jumlah tersebarnya daerah tambang-tambang emas di Indonesia. Salah satu daerah tambang emas dengan jumlah kandungan emas yang sangat besar terletak di daerah Pegunungan Jayawijaya yang terletak di Provinsi Papua Barat. Derah ini hanya memiliki satu tempat tambang emas, yaitu tambang emas Grasberg. Tambang Grasberg adalah tambang emas terbesar di dunia dan tambang tembaga ketiga terbesar di dunia. Tambang ini terletak di provinsi Papua di Indonesia dekat latitude -4,053 dan longitude 137,116, dan dimiliki oleh Freeport yang berbasis di AS dengan pembagian hasil tambang mencapai 67.3%, Rio Tinto Group mendapatkan 13%, Pemerintah Indonesia mendapatkan 9.3% dan PT Indocopper Investama Corporation mendapatkan 9%. Operator tambang ini adalah PT Freeport Indonesia, yaitu anak perusahaan dari Freeport McMoran Copper and Gold. Biaya membangun tambang

di atas gunung sebesar 3 milyar dolar AS. Pada 2004, tambang ini diperkirakan memiliki cadangan 46 juta ons emas. Pada 2006 produksinya adalah 610.800 ton tembaga; 58.474.392 gram emas; dan 174.458.971 gram perak. Awal dari ditemukan tambang emas ini berawal dari geologis Belanda Jean-Jacquez Dozy yang mengunjungi Indonesia pada tahun 1936 untuk menskala glasier Pegunungan Jayawijaya di provinsi Irian Jaya di Papua Barat. Dia membuat catatan di atas batu hitam yang aneh dengan warna kehijauan. Pada 1939, dia mengisi catatan tentang Ertsberg (bahasa Belanda untuk gunung ore). Namun, peristiwa Perang Dunia II menyebabkan laporan tersebut tidak diperhatikan. Dua puluh tahun kemudian, geologis Forbes Wilson, bekerja untuk perusahaan pertambangan Freeport, membaca laporan tersebut. Dia dalam tugas mencari cadangan nikel, tetapi kemudian melupakan hal tersebut setelah dia membaca laporan tersebut. Dia memutuskan untuk menyiapkan perjalanan untuk memeriksa Ertsberg. Ekspedisi yang dipimpin oleh Forbes Wilson dan Del Flint, menemukan deposit tembaga yang besar di Ertsberg pada 1960. Penghasilan tembaga Grasberg meningkat dari 515.400 ton pada 2004 menjadi 793.000 ton pada 2005. Produksi emas meningkat dari 1,58 juta ons menjadi 3,55 juta ons. Jumlah produksi emas di tambang ini merupakan yang terbesar di dunia. Namun, jika dilihat dari jumlah pembagian hasil tambang emas ini, Pemerintah Indonesia hanya mendapatkan bagian yang sangat kecil. Bagian yang sangat besar diterima oleh operator penambangan yang mendapatkan bagian lebih dari 50%. Ini tentu saja sangat menyedihkan mengingat tambang emas Grasberg berada di wilayah Indonesia dan dimiliki oleh masyarakat Provinsi Papua Barat yang notabene merupakan salah satu provinsi yang terdapat di Indonesia. Indonesia memiliki banyak perusahaan yang bergerak di dalam bidang penambangan emas. Seperti Borneo Gold Corporation, yaitu perusahaan tambang emas yang melakukan kegiatan penambangan emas di Pulau Kalimantan. Perusahaan ini berkantor pusat di Toronto, Kanada. PT Freeport Indonesia yang merupakan perusahaan tambang emas dari Amerika Serikat. Perusahaan ini melakukan kegiatan penambangan di Provinsi Papua. Kalimantan Gold Co.Ltd merupakan perusahaan tambang emas dan tembaga. Perusahaan ini berada di Palangkaraya, Kalimantan Selatan. PT Kelian Equatorial Mining adalah perusahaan tambang emas pit terbuka yang melakukan kegiatan penambangan di Kelian, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Perusahaan ini berkantor pusat di Balikpapan. Logam Mulia merupakan anak perusahaan dari PT Aneka Tambang Tbk, Unit Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia. Memproduksi emas batangan, koin emas, dan lain-lain. Berkantor pusat di Jakarta. PT Mamberamo Indobara merupakan perusahaan tambang yang bergerak di bidang tambang batubara, emas, dan minyak gas. Lokasi tambang berada di daerah Mamberamo, Papua. Perusahaan ini berkantor pusat di Kota Legenda, Bekasi. PT Nusa Halmahera Minerals merupakan perusahaan yang bergerak di pertambangan emas. Perusahaan ini melakukan kegiatan pertambangan di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Perusahaan ini berkantor pusat di Jakarta. PT Southern Arc Minerals Inc (Kanada) dan PT Selatan Arc Minerals merupakan perusahaan tambang emas dan tembaga. Kantor pusat berada di Graha Krama Yudha, Warung Jati Barat, Jakarta Selatan. Tambang perusahaan ini berada di beberapa lokasi, seperti Wonogiri, Lombok, dan Sumbawa. Pengolahan emas ini selain menguntungkan juga dapat memberikan beberapa efek negatif. Selain melakukan eksplorasi alam secara berlebihan, penambangan emas dan pengolahan emas akan menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan. Kasus pencemaran limbah akibat penambangan emas salah satunya terjadi di Perairan Pantai Buyat. Dugaan terjadinya pencemaran logam berat di perairan pantai Buyat karena pembuangan limbah padat (tailing) seharusnya tidak akan

terjadi, seandainya limbah tersebut sebelum dibuang dilakukan pengolahan lebih dulu. Pengolahan limbah bertujuan untuk mengurangi hingga kadarnya seminimal mungkin bahkan jika mungkin menghilangkan sama sekali bahan-bahan beracun yang terdapat dalam limbah sebelum limbah tersebut dibuang. Walaupun peraturan dan tatacara pembuangan limbah beracun telah diatur oleh Pemerintah dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup, tetapi dalam prakteknya dilapangan, masih banyak ditemukan terjadinya pencemaran akibat limbah industri. Mungkin terbatasnya tenaga pengawas disamping proses pengolahan limbah biasanya memerlukan biaya yang cukup besar.Logam berat adalah logam yang massa atom relatifnya besar, kelompok logam-logam ini mempunyai peranan yang sangat penting dibidang industri misalnya : Kadmium Cd digunakan untuk bahan batery yang dapat diisi ulang. Kromium Cr untuk pemberi warna cemerlang atau verkrom pada perkakas dari logam. Kobalt Co untuk bahan magnet yang kuat pada loudspeker atau microphone. Tembaga Cu untuk kawat listrik. Nikel Ni untuk bahan baja tahan karat atau stainless steel. Timbal Pb untuk bahan battery atau Accu pada mobil. Seng Zn untuk pelapis kaleng. Mercury Hg dapat melarutkan emas sehingga banyak digunakan untuk memisahkan emas dari campurannya dengan tanah, bahan pengisi termometer dan dan masih banyak lagi kegunaan logam berat yang tidak mungkin saya sebutkan semuanya disini. Hanya sangat disayangkan disamping begitu banyak kegunaannya, kelompok logam-logam berat ini sangat beracun misalnya Hg, Pb Cd dan Cr dan lain-lain. Ditambah lagi sifatnya yang akumulatif di dalam tubuh manusia, dimana setelah logam berat ini masuk ke dalam tubuh manusia, biasanya melalui makanan yang tercemar logam berat. Logam berat ini tidak dapat dikeluarkan lagi oleh tubuh sehingga makin lama jumlahnya akan semakin meningkat. Jika jumlahnya telah cukup besar baru pengaruh negatifnya terhadap kesehatan mulai terlihat, biasanya logam-logam berat ini menumpuk di otak, syaraf, jantung, hati, ginjal yang dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan yang ditempatinya. Tersebarnya logam berat di tanah, peraian ataupun udara dapat melalui berbagai hal misalnya, pembuangan secara langsung limbah industri, baik limbah padat maupun limbah cair, tetapi dapat pula melalui udara karena banyak industri yang membakar begitu saja limbahnya dan membuang hasil pembakaran ke udara tanpa melalui pengolahan lebih dulu. Banyak orang beranggapan bahwa dengan cara membakar maka limbah beracun tersebut akan hilang, padahal sebenarnya kita hanya memindahkan dan menyebarkan limbah beracun tersebut keudara. Pencemaran dengan cara ini lebih berbahaya karena udara lebih dinamis sehingga dampak yang diakibatkannya juga akan lebih luas dan membersihkan udara jauh lebih sulit. Dalam kasus Buyat, logam berat mercury kemungkinan dapat berasal dari limbah proses pemisahan biji emas atau dari tanah bahan tambangnya sendiri memang mengandung mercury. Banyak alternatif yang dapat digunakan untuk mengolah limbah yang mengandung logam berat kususnya mercury diantaranya ialah dengan teknologi Low TemperatureThermal Desorption (LTTD) atau dengan teknologi Phytoremediation. Pada sistem thermal desorption, material diuraikan pada suhu rendah (< 300 oC) dengan pemanasan tidak langsung serta kondisi tekanan udara yang rendah (vakum). Dengan kondisi tersebut material akan lebih mudah diuapkan dibandingkan dalam tekanan tinggi. Jadi dalam sistem ini yang terjadi adalah proses fisika tidak ada reaksi kimia seperti misalnya reaksi oksidasi. Cara ini sangat efektif untuk memisahkan bahan-bahan organik yang mudah menguap misalnya, (volatile organic compounds/VOCs), semi-volatile organic compounds (SVOCs), (poly aromatic hydrocarbon/PAHs), (poly chlorinated biphenyl/PCBs), minyak, pestisida dan beberapa logam Cadmium, Mercury Timbal serta non logam misal Arsen, Sulfur, Chlor dan lain-lain. Material yang telah terpisah dalam bentuk uapnya akan lebih mudah untuk dikumpulkan kembali dengan cara dikondensasikan, diadsorbsi menggunakan filter, larutan atau media lain sehingga tidak tersebar kemana-mana. Dengan sistem thermal desorption material yang berbahaya di pisahkan agar lebih mudah untuk ditangani entah akan dibuang atau dimanfaatkan kembali, sedangkan bahan-bahan organik yang sukar menguap akan terkarbonisasi menjadi arang.

Limbah padat yang mengandung polutan mercury dan arsen dimasukkan ke dalam sistem LTTD, limbah akan mengalami pemanasan tidak langsung dengan kondisi tekanan udara lebih kecil dari 1 atmosfer. Polutan mercury dan arsen akan menguap (desorpsi), sedangkan limbah padat yang telah bersih dari polutan dapat dibuang ke tempat penampungan. Kemudian uap polutan yang terbentuk dialirkan ke dalam media pengabsorpsi (absorber). Untuk menangkap uap logam mercury dapat digunakan butiran logam perak atau tembaga yang kemudian membentuk amalgam. Sedangkan untuk menangkap ion-ion mercury dan arsen dapat digunakan larutan hidroksida (OH- ) - )sulfida (S2--) yang akan mengendapkan ion-ion tersebut. Dalam sistem ini perlu ditambahkan wet scrubber dan filter karbon untuk menangkap partikulat dan gas-gas beracun yang mungkin terbentuk pada proses desorbsi. Keunggulan sistem ini ialah prosesnya cepat dan biaya investasi peralatan dan operasionalnya murah, unitnya dapat dibuat kecil sehingga dapat dibuat sistem yang mobil. Teknologi mengolah limbah dengan sistem Phytoremediasi, menggunakan tanaman sebagai alat pengolah bahan pencemar. Pada limbah padat atau cair yang akan diolah, ditanami dengan tanaman tertentu yang dapat menyerap, mengumpulkan, mendegradasi bahan-bahan pencemar tertentu yang terdapat di dalam limbah tersebut. Banyak istilah yang diberikan pada sistem ini sesuai dengan mekanisme yang terjadi pada prosesnya. Misalnya : Phytostabilization, yaitu polutan distabilkan di dalam tanah oleh pengaruh tanaman, Phytostimulation : akar tanaman menstimulasi penghancuran polutan dengan bantuan bakteri rhizosphere, Phytodegradation, yaitu tanaman mendegradasi polutan dengan atau tanpa menyimpannya di dalam daun, batang atau akarnya untuk sementara waktu, Phytoextraction, yaitu polutan terakumulasi di jaringan tanaman terutama daun, Phytovolatilization, yaitu polutan oleh tanaman diubah menjadi senyawa yang mudah menguap sehingga dapat dilepaskan ke udara, dan Rhizofiltration, yaitu polutan diambil dari air oleh akar tanaman pada sistem hydroponic. Proses remediasi polutan dari dalam tanah atau air terjadi karena jenis tanaman tertentu dapat melepaskan zat carriers yang biasanya berupa senyawaan kelat, protein, glukosida yang berfungsi mengikat zat polutan tertentu kemudian dikumpulkan dijaringan tanaman misalnya pada daun atau akar. Keunggulan sistem phytoremediasi diantaranya ialah biayanya murah dan dapat dikerjakan insitu, tetapi kekurangannya diantaranya ialah perlu waktu yang lama dan diperlukan pupuk untuk menjaga kesuburan tanaman, akar tanaman biasanya pendek sehingga tidak dapat menjangkau bagian tanah yang dalam. Yang perlu diingat ialah setelah dipanen, tanaman yang kemungkinan masih mengandung polutan beracun ini harus ditangani secara khusus.

Newmont Akan Eksplorasi Emas di Hutan Sumbawa PT Newmont Nusa Tenggara, menurut rencana, memulai eksplorasi emas di Dusun Elang Dodo (Blok Elang), Desa Ropang, Kecamatan Ropang, Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa, tahun 2011. Izin pertambangan emas dari pemerintah sudah keluar sejak Oktober lalu. Lokasi eksplorasi di kawasan hutan tersebut diperkirakan memiliki potensi mineral emas dan tembaga lebih besar dibandingkan dengan lokasi penambangan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) saat ini di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Berapa besarnya, belum diketahui pasti karena masih perlu penelitian secara detail, ujar Kasan Mulyono, Manajer Humas PT NNT di Benete, Desa Maluk, Sumbawa Barat, Senin (15/11).

Sebelumnya, Presiden Direktur PT NNT Martiono Hadianto di Mataram mengatakan, izin eksplorasi PT NNT berakhir tahun 2008 dan tidak sempat diurus karena berbagai persoalan. Tapi, tanggal 27 Oktober lalu PT NNT berhasil mengantongi izin eksplorasi untuk jangka waktu 20 tahun di Blok Elang dengan lahan 25.000 hektar dari 87.500 hektar konsesi lahan yang dimiliki PT NNT di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Menyinggung rencana eksploitasi tahun 2011, Martiono belum mau memberi komentar. Alasannya, harus menempuh beberapa ketentuan terlebih dahulu, seperti studi kelayakan dan analisis dampak lingkungan.

Newmont Akan Eksplorasi Emas di Hutan Sumbawa PT Newmont Nusa Tenggara, menurut rencana, memulai eksplorasi emas di Dusun Elang Dodo (Blok Elang), Desa Ropang, Kecamatan Ropang, Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa, tahun 2011. Izin pertambangan emas dari pemerintah sudah keluar sejak Oktober lalu. Lokasi eksplorasi di kawasan hutan tersebut diperkirakan memiliki potensi mineral emas dan tembaga lebih besar dibandingkan dengan lokasi penambangan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) saat ini di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Berapa besarnya, belum diketahui pasti karena masih perlu penelitian secara detail, ujar Kasan Mulyono, Manajer Humas PT NNT di Benete, Desa Maluk, Sumbawa Barat, Senin (15/11). Sebelumnya, Presiden Direktur PT NNT Martiono Hadianto di Mataram mengatakan, izin eksplorasi PT NNT berakhir tahun 2008 dan tidak sempat diurus karena berbagai persoalan. Tapi, tanggal 27 Oktober lalu PT NNT berhasil mengantongi izin eksplorasi untuk jangka waktu 20 tahun di Blok Elang dengan lahan 25.000 hektar dari 87.500 hektar konsesi lahan yang dimiliki PT NNT di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Menyinggung rencana eksploitasi tahun 2011, Martiono belum mau memberi komentar. Alasannya, harus menempuh beberapa ketentuan terlebih dahulu, seperti studi kelayakan dan analisis dampak lingkunga Aceh sedang demam emas. Setelah ekplorasi di Gunong Ujeun, Krueng Sabe Aceh Jaya. Kini dihebohkan lagi dengan temuan kandungan emas dan biji besi di Pidie Jaya. Busang di Kalimantan Timur dan Wyoming di Amerika Serikat sudah pernah tertipu dengan hal semacam ini. Untuk membuktikan kandungan biji besi dan emas di pegunungan Pidie Jaya, empat orang tim ahli dilaporkan sudah beberapa hari berada di sana untuk meninjau lokasi-lokasi yang diyakini menyimpan kandungan emas dan biji besi. Diantaranya di Kecamatan Bandar Baru, Ulim, Meurah Dua, Trienggadeng, dan Kecamatan Bandar Dua. Berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan tim ahli dari PT Hoffmen Internasional diyakini lokasilokasi tersebut memiliki kandungan emas dan biji besi yang potensial untuk diekporasi. Siapa yang bisa menjamin itu benar?

Pemerintah terutama Pidie Jaya harus bersikap skeptis terhadap temuan itu, tidak gegabah mengamininya. Syukur kalau temuan itu benar, kalau tidak tentu hanya akan menguntungkan pihak tertentu saja. Pengalaman di beberapa daerah telah membuktikan hal itu. Berita temuan emas dan permata hanya dijadikan sebagai upaya untuk menaikkan nilai saham perusahaan ekplorasi di bursa saham internasional, atau untuk tujuan kapitalis negara-negara tertentu.

Dalam tulisan singkat ini, saya mencoba untuk menghadirkan dua contoh kasus yang sangat mencengangkan tentang ekplorasi emas dan permata, satu di Busang, Kalimantan Timur pada 1997 silam. Satu lagi kasus ekplorasi permata di Wyoming Amerika Serikat pada 1872 yang ternyata hanya tipuan belaka. Untuk kasus di Busang saya ambil dari buku Menyingkap Fakta Dhandy Dwi Laksono yang mengutipnya dari buku Bre-X Sebongkah Emas di Kaki Pelangi yang ditulis oleh Bondan Winarno. Sementara untuk kasus di Wyoming Amerika Serikat saya sadur dari The 48 Law of Power yang ditulis Robert Greene, penulis buku The Art of Seduction. Pada 1990-an, Michael de Guzman dari perusahaan tambang Bre-X asal Kanada mengklaim menemukan 40 juta on emas di Busang, Kalimantan Timur. Harga kandungan emas itu diperkirakan mencapai 25 miliar dolar Amerika. Temuan itu membuat saham Bre-X di bursa internasional naik pesat. Manajemen Bre-X termasuk Guzman kaya mendadak. Sementara wujud emas itu sendiri di Busang belum jelas. Pemerintah Indonesia dibawah rezim Soeharto pun ikut-ikutan latah membesar-besarkan temuan Guzman tersebut. Kerja sama pun digelar. Bre-X menggandeng Freeport yang berpengalaman dalam ekplorasi emas di Papua sebagai rekanan. Sementara untuk mitra lokal diajak PT Nusamba milik Bob Hasan. Kenyataannya, ketika Freeport melakukan pengujian di lokasi dan laboratorium, ternyata kandungan emas di Busang tak seheboh yang diklaim Bre-X. Guzman sendiri dikabarkan bunuh diri dengan terjun dari helikopter di pedalaman hutan Kalimantan pada 19 Maret 1997. Meski sejumlah pihak meyakini yang tewas itu bukan Guzman. Bondan Winanrno yang melakukan investigasi hingga ke tempat pemakaman Guzman pada 19 Maret 1997 di pemakaman Holy Crozs Memorial Park, yakin bahwa yang dimakamkan itu bukan Guzman. Guzman diyakini lari ke luar negeri dengan uang yang diperolehnya dari laba kenaikan saham Bre-X. Kasus lainnya pernah terjadi di Amerika Serikat pada 1872. Seorang ahli keuangan dari negeri adi daya itu, Asbury Harpending ketika berkunjung ke London menerima sebuah telegram yang berisi informasi bahwa sebuah tambang berlian ditemukan di bagian barat Amerika. Telegram itu dikirim pemilik Bank California, William Ralston. Harpending kemudian menunjukkan telegram itu kepada ahli keungan Baron Rothschild, salah seorang pria terkaya di dunia waktu itu. Tambang berlian itu ditemukan oleh Philip Arnold dan John Slack dua pemuda pencari emas di Wyoming, Amerika Barat. Untuk meyakinkan temuannya itu mereka membawa seorang ahli tambang dari San Fransisco ke tempat itu. Setelah kembali ke San Fransisco ahli tambang itu membawa batu-batu mulia yang ditemukannya ke beberapa toko permata.

Tergiur dengan temuan tambang permata itu, Harpending dan Ralston meminta dua pemuda penemu tambang itu menjumpainya di New York. Mereka dibawa ke toko permata milik Charles Tipany untuk memperkirakan harga permata yang ditemukan itu. Setelah mengetahui permata itu asli, Arnold dan Slack diberikan uang 300.000 dolar Amerika. Perjanjian tentang ekplorasi tambang permata itu pun dibicarakan. Pertemuan lanjutan digelar di Mansion Samuel L Barlow bersama para bangsawan yang akan ikut menanam saham di tambang permata itu. Hadir dalam pertemuan tersebut Jendral George Brinton McClellan, Komandan Pasukan Union Jendral Benjamin Butler, editor surat kabar New York Tribune Horace Greeley. Sementara Arnold dan Slack tidak ikut dalam pertemuan itu. Ketika mengetahui permata yang ditemua dua pemuda itu asli dengan harga tinggi, maka para bangsawan di Amerika ikut menanam saham dalam perusahaan pertambangan permata yang akan dibuka. Namun sebelum tambang dibuka, mereka meminta seorang ahli tambang untuk mengecek kembali dan melakukan pengujian langsung di tambang. Arnol dan Slack selaku penemu mengiyakannya. Louis Janin, pakar tambang terbaik di Amerika bertemu dengan dua pemuda itu untuk memastikan bahwa tambang itu bukan tambang palsu. Sampai di sana Janin melakukan penggalian selama delapan hari. Ia menemukan banyak batu permata di lokasi tambang. Ia juga menemukan batu merah delima, batu safir dan berlian. Janin kemudian memberitahu investor bahwa Amerika akan memiliki tambang permata terkaya sepanjang sejarah. Ralston dan Harpending kemudian membentuk perusahaan investor pribadi dengan modal satu 10 juta dolar Amerika. Untuk menguasai tambang itu, keduanya bermaksud menyingkirkan Arnold dan Slack selaku penemu pertama tambang tersebut. Keduanya ditawarkan uang dengan jumlah yang sangat besar waktu itu; 700.000 dolar Amerika dengan perjanjian tak lagi memiliki saham di perusahaan yang baru saja dibentuk itu. Kedua pemuda itu menyetujuinya. Raston dan Harpending kemudian membeli peralatan tambang yang menghabiskan jutaan dolar dana yang telah dikumpulkan dari para investor. Mereka kemudian melakukan eksplorasi di daerah Wyoming, lokasi tambang tersebut. setelah melakukan penggalian, ternyata mereka tidak menemukan apa-apa. Kemudian terungkap bahwa batu permata dan batu mulia lainnya yang ditemukan para ahli ketika melakukan pengujian di lokasi tambang merupakan batu permata yang sengaja ditanam oleh Arnold dan Slack yang dibeli dengan uang tabungannya sebagai pencari emas. Sementara untuk permata dan berlian yang ditemukan pada saat pengujian ke dua oleh ahli tambang Louis Janin, merupakan permata dan berlian yang belum diolah yang dibeli Arnold dan Slack di Amsterdam dengan dana yang didapat dari Ralston dan Harpending pada pertemuan pertama. Arnold dan Slack suskse menipu para investor terkemuka di Amerika tersebut. Keduanya lari ke luar negeri dam hidup mewah dengan uang 700.000 dolar Amerika yang diberikan Ralston dan Harpending. Inilah penipuan yang paling menghebohkan sepanjang abat di Amerika. Kita tentu tak mengiginkan apa yang terjadi di Busang dan Wyoming terjadi di Aceh. Kalau memang Aceh memiliki sumber daya alam yang luar biasa itu, lebih elok kalau eskplotasinya dilakukan oleh Pemerintah Aceh sendiri, tanpa bergantung pada perusahaan luar. Untuk itu tentu sumber daya manusianya harus disiapkan dari sekarang.

Lebih menguntungkan harta karun itu disimpan dulu untuk dikelola oleh orang Aceh sendiri ketika sumber daya manusianya siap, tinimbang menyerahkannya sekarang kepada perusahaan luar. Bek let boh puuek ro breuh lam umpang. Gemala Borneo eksplorasi emas di Romang AMBON: PT Gemala Borneo Utama melakukan eksplorasi deposit emas di Pulau Romang, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Eksplorasi masih tahap umum tersebut dilakukan karena perusahaan ini memiliki lima izin usaha pertambangan (IUP) di sebagian besar Pulau Romang, kata Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Maluku Ronny Kakerissa, hari ini. Ia mengatakan, jika dalam eksplorasi itu perusahaan berhasil menemukan deposit emas bernilai ekonomis, akan bermanfaat bagi MBD dalam mendorong pembangunan, pemerintahan, dan pelayanan sosial, menyusul peresmiannya menjadi kabupaten pada 16 September 2011. PT GBU adalah satu dari 63 perusahaan swasta yang mengantogi izin eksplorasi migas maupun tambang di MBD dengan sebagian besar masih menunggu pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan. Jadi potensi migas dan tambang, di samping sumber daya alam lainnya oleh Barnabas Orno Johanes Letelay sebagai Bupati dan Wakil Bupati perdana MBD yang dilantik di Kisar pada 26 April 2011 diarahkan untuk mendorong percepatan pembangunan, pemerintahan, dan pelayanan sosial di daerah yang erbatasan langsung dengan Timor Leste ini, ujar Ronny. Dia menyatakan, PT GBU yang induk perusahaannya berada di Australia yakni Robust Resource Ltd mendanai pembersihan lahan di kota Tiakur yang menjadi ibu kota Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) dengan memberikan dana hubah Rp8 miliar. Pembersihan lahan tersebut guna mendukung pembangunan berbagai infrastruktur di Tiakur, kecamatan Moa Lakor, agar kegiatan pemerintahan berlangsung di ibu kota MBD sebagaimana diatur UU.30 tahun 2008 Pasal 7. KKKS Kepala Dinas ESDM Maluku Bram Tomasoa mengatakan, PT GBU juga tercatat sebagai salah satu dari lima kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas yang telah mengajukan izin dan rekomendasi Gubernur Maluku untuk proses ekplorasi dan eksploitasi bahan tambang di provinsi ini, di mana sebagian besar bergerak di sektor minyak dan gas (migas) serta emas dan perak. Gubernur Ralahalu, menurut Tomasoa, telah menyarankan perusahaan yang akan melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi pertambangan di Maluku untuk mengedepankan pemberdayaan masyarakat sekitar sebagai bentuk tanggung jawab sosial dalam memberdayakan warga demi peningkatan kesejahteraan. Perusahaan pertambangan juga diingatkan untk memperhatikan masalah konservasi lingkungan guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti kasus lumpur Lapindo di Sidoardjo, Jawa Timur.

PT GBU akan melakukan kerja sama dengan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon dan Universitas Queensland, Australia, untuk melakukan kajian program pemberdayaan masyarakat yang cocok diterapkan di Pulau Romang, katanya. Sebelum PT GBU sudah ada perusahaan lain yang melakukan eksplorasi di Pulau Romang yakni PT Muswell Brook Mining yang bekerja sama dengan Asthon Mining dan melakukan eksplorasi di bagian utama pulau tersebut pada 1988-1992. Selain itu, perusahaan Billiton PLC (sekarang BHP Billiton) juga melakukan eksplorasi geologi, geokimia, dan geofisika di Pulau Romang bagian Selatan pada 1998-1999 dengan menghabiskan investasi US$3 miliar.