Anda di halaman 1dari 5

Cross Sectional Skema dasar penelitian

Pada studi cross sectional, pengukuran pada variabel bebas (factor risiko) dan variabel tergantung (efek thypoid) dilakukan pada saat yang sama, dan hanya satu kali. Tidak ada follow-up pada studi cross sectional. Dengan studi ini akan diperoleh prevalens penyakit thypoid atau efek pada anak sekolah. Untuk mencari prevalens dapat diketahui menggunakan tabel di bawah ini :

Dari tabel di atas menunjukkan hasil pengamatan pada studi cross sectional A = subyek dengan factor risiko (+) (memiliki kebiasaan jajan di sekolah dan tidak mencuci tangan sebelum makan) yang mengalami thypoid (thypoid (+)) B = subyek dengan factor risiko (+) (memiliki kebiasaan jajan di sekolah dan tidak mencuci tangan sebelum makan) yang tidak mengalami thypoid (thypoid (-))

C = subyek dengan factor risiko (-) (memiliki kebiasaan tidak jajan di sekolah dan mencuci tangan sebelum makan) yang mengalami thypoid (thypoid (+)) D = subyek dengan factor risiko (-) (memiliki kebiasaan tidak jajan di sekolah dan mencuci tangan sebelum makan) yang tidak mengalami thypoid (thypoid (-)) Rasio prevalensi dapat dihitung dengan membagi prevalens efek pada kelompok dengan factor risiko(factor risiko (+)) dengan prefalens efek pada kelompok tanpa factor risiko (factor risiko (-)). RP = A/(A+B):C/(C+D) Penelitian cohort digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko dengan efek melalui pendekatanlongitudinal ke depan atau prospektif. Artinya faktor resiko yang akan dipelajari diidentifikasi dulu kemudian diikuti ke depan secara prospektif timbulnya efek, yaitu : penyakit atau salah satu indikator status kesehatan. Adalah suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana factor resiko dipelajari dengan menggunakan pandekatan retrospective. Dengan kata lain, efek (penyakit atau status kesehatan) diidentifikasi pada saat ini, kemudian factor resiko diidentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu yang lalu.

1) Teknik sampling secara probabilitas Teknik sampling probabilitas atau random sampling merupakan teknik sampling yang dilakukan dengan memberikan peluang atau kesempatan kepada seluruh anggota populasi untuk menjadi sampel. Dengan demikian sampel yang diperoleh diharapkan merupakan sampel yang representatif. Teknik sampling semacam ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut. a) Teknik sampling secara rambang sederhana atau random sampling. Cara paling populer yang dipakai dalam proses penarikan sampel rambang sederhana adalah dengan undian. b) Teknik sampling secara sistematis (systematic sampling). Prosedur ini berupa penarikan sample dengan cara mengambil setiap kasus (nomor urut) yang kesekian dari daftar populasi. c) Teknik sampling secara rambang proporsional (proporsional random sampling). Jika populasi terdiri dari subpopulasi-subpopulasi maka sample penelitian diambil dari setiap subpopulasi. Adapun cara peng-ambilannya dapat dilakukan secara undian maupun sistematis.

d) Teknik sampling secara rambang bertingkat. Bila subpoplulasi-subpopulasi sifatnya bertingkat, cara pengambilan sampel sama seperti pada teknik sampling secara proportional. e) Teknik sampling secara kluster (cluster sampling) Ada kalanya peneliti tidak tahu persis karakteristik populasi yang ingin dijadikan subjek penelitian karena populasi tersebar di wilayah yang amat luas. Untuk itu peneliti hanya dapat menentukan sampel wilayah, berupa kelompok klaster yang ditentukan secara bertahap. Teknik pengambilan sample semacam ini disebut cluster sampling atau multi-stage sampling.

2) Teknik sampling secara nonprobabilitas. Teknik sampling nonprobabilitas adalah teknik pengambilan sample yang ditemukan atau ditentukan sendiri oleh peneliti atau menurut pertimbangan pakar. Beberapa jenis atau cara penarikan sampel secara nonprobabilitas adalah sebagai berikut. a) Purposive sampling yang dietapkan peneliti. atau judgmental sampling Penarikan sampel secara purposif

merupakan cara penarikan sample yang dilakukan memiih subjek berdasarkan kriteria spesifik

b) Snow-ball sampling (penarikan sample secara bola salju). Penarikan sample pola ini dilakukan dengan menentukan sample pertama. Sampel berikutnya ditentukan berdasarkan informasi dari sample pertama, sample ketiga ditentukan berdasarkan informasi dari sample kedua, dan seterusnya sehingga jumlah sample semakin besar, seolaholah terjadi efek bola salju. c) Quota sampling (penarikan sample secara jatah). Teknik sampling ini dilakukan dengan atas dasar jumlah atau jatah yang telah ditentukan. Biasanya yang dijadikan sample penelitian adalah subjek yang mudah ditemui sehingga memudahkan pula proses pengumpulan data. d) Accidental sampling atau convenience sampling Dalam penelitian bisa saja terjadi

diperolehnya sampel yang tidak direncanakan terlebih dahulu, melainkan secara kebetulan, yaitu unit atau subjek tersedia bagi peneliti saat pengumpulan data dilakukan. Proses diperolehnya sampel semacam ini disebut sebagai penarikan sampel secara kebetulan.

Non

Random

Sampel

Adalah cara pengambilan sampel yang tidak semua anggota sampel diberi kesempatan untuk dipilih sebagai anggota sampel. Cara pengambilan sampel dengan non random sanpel ada tujuh 1) cara yaitu:

Proportional sampling adalah pengambilan sampel yang memperhatikan pertimbangan

unsur-unsur atau kategori dalam populasi penelitian. a) Teknik proporsional sampling Teknik ini menghendaki cara pengambilan sampel dari tiap-tiap sub populasi dengan memperhitungkan besar kecilnya sub-sub populasi tersebut. Cara ini dapat memberi landasan generalisasi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada tanpa memperhitungkan besar kecilnya sub populasi dan tiap-tiap sub populasi. Contoh : Penelitian mengambil 50 anak pandai dan 50 anak bodoh dengan mendasarkan pada tingkat IQ mereka, maka perbandingan tersebut disertai teknik random tidak mencukupi. Apabila teknik proporsional sampling disertai random maka disebut proporsional random sampling. Sampel yang diperoleh dengan teknik ini disebut proporsional sampel. Misallnya populasi untuk A = 25, B = 60, C = 15. Jadi, jumlah anggota populasi = 100. Sedangkan besar anggota sampel = 80 sehingga besar masing-masing sampel untuk A, B, dan C dapat dihitung sebagai berikut : untuk A : (25/100) x 80 = 20 orang, untuk B : (60/100) x 80 = 48 orang, dan untuk C : (15/100) x 80 = 12 orang. Sehingga jumlah sampel seluruhnya sebanyak 80 orang

2)

Stratified sampling adalah cara pengambilan sampel dari populasi yang terdiri dari strata

yang mempunyai susunan bertingkat. 3) Proporsive sampling adalah cara pengambilan sampel dengan menetapkan ciri yang

sesuai dengan tujuan. 4) Quota sampling adalah ruang dan tempat belajar baik yang tersedia dirumah maupun

dikampus.

5) angket. 6)

Double sampling atau sampling kembar sering digunakan dalam research dan penelitian

yang menggunakan angket lewat usaha menampung mereka dan mengembalikan dalam

Area probability sampling adalah cara pengambilan sampel yang menunjukkan cara

tertentu atau bagian sampel yang memiliki ciri-ciri populasi. 7) Cluster sampling adalah cara pengambilan sampel yang berdasarkan pada cluster-

cluster tertentu. 8) Combinet adalah gabungan antara beberapa sampling dalam teknik random sampling

dan teknik non random sampling di atas sehingga menyiapkan tampilan komunikasi.

Reabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama. (Notoatmojo, 2010). Pengujian reabilitas instrument dapat dilakukan dengan teknik Alpha Cronback Uji reabilitas Alpha Cronback dengan koefisien reliabilitasnya yang berada dalam rentangan 0-1,00, semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berati semakin reabel (Azwar, 2004) dikutip oleh Setiawan dan Saryono (2010). Analisis Regresi Uji regresi uji hubungan yg dpt mengetahui arah, besar kekuatan hubungan dan pengaruh variable independen terhadap variable dependen.