Anda di halaman 1dari 2

BAB III PEMBAHASAN

Pada kasus ini diketahui seorang laki-laki usia 42 tahun dalam keadaan lemah, dengan nyeri kepala, muntah, demam, kelemahan anggota gerak sebelah kiri, dan bicara tidak jelas. Pada pasien ini ditegakkan diagnosis abses serebri yaitu di lobus parietal dextra berdasarkan trias abses otak yaitu gejala peningkatan tekanan intracranial meliputi nyeri kepala, mual, muntah; deficit neurologi fokal meliputi hemiplegic sinistra, hemiparese dextra dan disatria; serta demam. Selain itu juga diperkuat dengan temuan leukositosis pada pemeriksaan laboratorium walaupun pada abses otak leukositosis tidak harus selalu ditemukan dan lesi hiperdens berdiameter 4 cm dikelilingi kapsul hipodens pada pemeriksaan CT-Scan. Terapi non medikamentosa yang dilakukan pada pasien ini adalah pemberian nutrisi, pemasangan kateter untuk membantu pasien yang mengalami gangguan mobilitas fisik. Terapi medikamentosa berupa ceftriakson, citicolin, metformin. a. Ceftriakson Diberikan injeksi ceftriakson 2 X 2 gr. Ceftriakson merupakan antibiotic golongan sefalosforin generasi ke 3 yang efektif untuk organisme gramnegatif aerob dan dapat mencapai sawar darah otak. b. Metronidazole Diberikan injeksi 3 X 500 mg per hari Metronidazole efektif untuk kuman anaerob dan dapat menembus sawar darah otak. c. Piracetam Diberikan injeksi piracetam 4 x 3 gr. Piracetam adalah obat yang mengatur fungsi serebral yang diklaim dapat meningkatkan kognitif pada otak yang menurun. d. Citikolin metronidazole, piracetam,

18

Dierikan injeksi citikolin 2 x 500 mg. citikoln dapat membantu menangani penurunan kemampuan kognitif. e. Metformin Diberikan metformin per oral 3 x 500 mg. metformin merupakan obat untuk mengatasi hiperglikemi pada pasien DM tipe 2 dengan risiko hipoglikemia yang sangat kecil.

19