Anda di halaman 1dari 17

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga

PENGARUH DIVIDEN TERHADAP KUALITAS LABA PERUSAHAAN

Kris Semionta Ginting, 040912056 Mahasiswa Prodi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Email: kris.student.febua@gmail.com

Puput Tri Komalasari Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Email: puput_tk@yahoo.com

ABSTRACT The objectives of this study is to examine the impact of dividend paying, size of dividend paid and persistence in dividend payment on earnings quality. The sample of the study is manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2003 to 2011, with as many as 71 firms. Earning quality is measured using ADA, AQ, AAQ and SMOOTH. Using multiple regression analysis, it was found that dividend paying, size of dividend paid and persistence in dividend payment had no significant effect on the earning quality. Thus, dividend payment can not be used as a signal or indicator of earning quality.

Keyword: Dividen, Earning Quality, Earning Management.

PENDAHULUAN Keterkaitan dividen dengan laba dapat dijadikan informasi (signaling theory) sebagai dasar analisis oleh investor untuk memperoleh gambaran mengenai kinerja perusahaan dan besarnya dividen yang mungkin didapatkan investor dari laba tersebut. Penelitian-penelitian terdahulu banyak menguji mengenai signaling theory, seperti penelitian Modligiani dan Miller (1961), Bhattacharya (1979) dan Miller dan Rock (1985), mengungkapkan bahwa dividen mengungkapkan prospek laba perusahaan dimasa yang akan datang dan pengumuman dividen akan diikuti oleh penyesuaian harga saham. Penelitian-penelitian sebelumnya mengenai dividen cenderung melihat hubungan antara perubahan dividen yang dibagikan dengan perubahan laba atau kinerja perusahaan maupun harga saham dimasa depan. Sementara penelitian yang membahas tentang hubungan dividen dengan aspek kualitas laba perusahaan, masih sedikit. Melihat pentingnya informasi mengenai laba, diharapkan perusahaan menyanjikannya sesuai dengan fakta sebenarnya tentang kondisi keuangan perusahaan. Agar informasi mengenai laba tersebut tidak menyesatkan dan dapat memberikan informasi bagi pengguna untuk mengambil keputusan, maka dibutuhkan laporan laba yang berkualitas. Laba yang kurang berkualitas bisa terjadi karena adanya perbedaan kepentingan (agency conflict) antara manajemen dengan pemegang saham sehingga menimbulkan asimetric information. Tingginya asimetri informasi memungkinkan manajer mengelola laba sedemikian rupa yang tidak sesuai dengan kenyataan sehingga laba yang dihasilkan kurang berkualitas.

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga Caskey dan Hanlon (2005), mereka mengemukakan bahwa kecurangan dalam laporan keuangan (fraudulent) merupakan indikasi dari kualitas laba yang buruk dan menemukan dari sampel mereka bahwa perusahaan yang melakukan kecurangan adalah perusahaan yang lebih jarang membayar dividen atau dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan sampel perusahaan tidak curang (non-fraudulent). Tong dan Miao (2011), mengungkapkan bahwa pembagian dividen berhubungan positif dengan kualitas laba, dan terdapat dua alasan mengapa dividen dapat menjadi indikasi kualitas laba yang baik. Pertama, terlalu mahal bagi manajer untuk membagikan dividen tunai atas laba yang tidak merefleksikan kinerja perusahaan, sebab dibutuhkan arus kas yang sebenarnya untuk membagikan dividen tersebut. Dalam hal ini, pembagian dividen mengurangi ketidakpastian atas perkiraan arus kas dan mengurangi manipulasi yang mungkin dilakukan oleh pihak manajemen. Alasan kedua, berdasarkan teori keagenan (agency theory), pembagian dividen dapat berperan dalam mengurangi biaya konflik keagenan antara manajer dan pemegang saham. Pembagian dividen meningkatkan kemungkinan manajer untuk memperoleh pendanaan eksternal, sehingga manajer akan diawasi oleh bank, bursa saham, dan penyedia dana. Oleh karena itu, perusahaan yang membagikan dividen diekspektasikan memiliki kualitas laba yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang tidak membagikan dividen. Menurut penelitian Skinner dan Stoles (2008), perusahaan yang membagikan dividen memiliki laba yang persisten dibandingkan dengan perusahaan yang tidak membagikan dividen. Selain itu, perusahaan yang membagikan dividen dalam jumlah yang relatif kecil memiliki kualitas laba yang yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang membagikan dividen dalam jumlah relatif besar. Penelitian Caskey dan Hanlon (2005) juga membuktikan bahwa perusahaan yang tidak menaikkan atau menurunkan dividen yang dibagikannya cenderung memiliki kualitas laba yang buruk dibandingkan perusahaan yang menaikkan ukuran dividen yang dibagikan. Tong dan Miao (2011), yang dalam penelitiaannya menggunakan berbagai proksi kualitas laba juga membuktikan adanya hubungan positif antara pembagian dividen, jumlah dividend dan persistensi dividen terhadap kualitas laba perusahaan. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka penelitian kali ini akan meneliti hubungan pembagian dividen beserta besar kecilnya dividen yang dibagikan terhadap kualitas laba. Selain itu, penelitian ini juga meneliti persistensi pembagian dividen terhadap kualitas laba. Tinjauan Pustaka Hubungan Dividen dengan Kualitas Laba Kinerja perusahaan yang telah dicapai oleh pihak manajemen diinformasikan kepada pemegang saham melalui laporan keuangan. Salah satu indikator kinerja perusahaan adalah laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa besarnya kompensasi yang akan didapatkan oleh manajemen tergantung dari besarnya laba yang mampu dihasilkan perusahaan. Ketika pemilik tidak dapat memonitor secara sempurna aktivitas manajemen, maka manajemen dapat menentukan kebijakan yang mengarah pada peningkatan tingkat kompensasi yang akan diperoleh manajemen, yang salah satunya adalah kebijakan akuntansi. Laba yang berkualitas adalah laba yang dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya. Laba yang tidak menunjukkan informasi yang sebenarnya tentang kinerja manajemen dapat menyesatkan pihak pengguna laporan. Pihak manajemen yang telah didelegasikan oleh pemegang saham untuk mengelola dan mengambil keputusan perusahaan, memiliki informasi yang superior dibandingkan para pemegang saham, hal inilah yang dapat menjadi masalah keagenan antara manajer dengan

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga pemegang saham. Dengan dilakukannya pembayaran dividen, maka dapat mengurangi dan mencegah permasalahan ini. Kemampuan untuk membayar dividen tergantung dari ketersediaan kas perusahaan. Terlalu mahal bagi manajer untuk membagikan dividen atas laba yang tidak merefleksikan kinerja perusahaan, sebab dibutuhkan arus kas yang sebenarnya untuk membagikan dividen tersebut. Dalam hal ini, pembagian dividen mengurangi ketidakpastian atas perkiraan arus kas dan mengurangi manipulasi yang mungkin dilakukan oleh pihak manajemen. Berdasarkan teori keagenan (agency theory), pembagian dividen meningkatkan kemungkinan manajer untuk memperoleh pendanaan eksternal, sehingga manajer akan diawasi oleh bank, bursa saham, dan penyedia dana. Glassman (2005) menyatakan bahwa pembayaran dividen akan menyebabkan perusahaan cenderung untuk tidak melaporkan laba yang direkayasa yang tidak menghasilkan arus kas yang sebenarnya untuk pembayaran dividen. Burton Malkiel (2003) juga berpendapat bahwa ketika laba yang dilaporkan dipandang secara skeptis, dividen akan memberikan sinyal yang kuat pada investor tentang kekuataan finansial dan kredibilitas laba yang dilaporkan. Oleh karena itu, perusahaan yang membagikan dividen diekspektasikan memiliki kualitas laba yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang tidak membagikan dividen. Pengukuran Kualitas Laba Proksi pertama yakni ADA (absolute value of the performance-adjusted discretionary accruals) merupakan model dari Kothari (2001). Model Kothari mengontrol faktor kinerja perusahaan (ROA) dalam modifikasinya atas model Modified Joness (1991). Model Modified Joness mencoba memperbaiki kelemahan model Jones yang hanya menggunakan perubahan laba dengan menambahkan perubahan piutang untuk estimasi model. Estimasi tersebut mengasumsikan bahwa semua perubahan dalam penjualan kredit merupakan manipulasi. ADA menangkap tindakan oportunistik manajemen atas laporan keuangan sehingga mengindikasikan akurasi laporan keuangan atas kinerja operasi saat ini. Semakin tinggi nilai ADA semakin rendah kualitas laba. ADA diperoleh dari nilai absolut residual dari persamaan berikut:
( )

Dimana: = Total akrual perusahaan, yaitu laba sebelum pos luar biasa (EBEI) dikurangi arus kas operasi (CFO) dibagi total aset pada perusahaan i dan tahun t. = Total aset perusahaan i pada tahun t. = Perubahan penjualan perusahaan i pada tahun t. = Perubahan piutang perusahaan i pada tahun t. = Nilai dari property, plant, dan equipment perusahaan i pada tahun t. = Return on asset perusahaan i pada tahun t-1 = Error penelitian perusahaan i pada periode t Proksi kedua (AQ) dan ketiga (AAQ) berdasarkan Dechow and Dichevs (2002), dimana dalam kedua model ini menggambarkan apakah arus kas yang dilaporkan dengan basis akrual benar-benar mencerminkan arus kas sebenarnya. Model Dechow menangkap estimasi dari arus kas operasi periode sebelumnya, saat ini, dan periode yang akan datang pada perubahan modal kerja. Residual dari estimasi tersebut merefleksikan akrual yang tidak berhubungan dengan realiasi cash flow; dan standar deviasi dari residual tersebut merupakan kualitas akrual pada level perusahaan, dimana standar deviasi tinggi menunjukkan kualitas akrual rendah. Selanjutnya, kualitas akrual digunakan sebagai pengukur kualitas laba (Sloan, 1996; Dechow dan Dichev, 2002; Francis, 2004). Kesalahan estimasi dalam akrual menyebabkan

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga menurunnya kemampuan akrual dalam proyeksi arus kas yang sebenarnya yang dapat digunakan untuk mendukung aktivitas perusahaan yang mengeluarkan kas, seperti dividen. Model ini juga menunjukkan bahwa perhitungan akrual menstabilkan dan memperbaiki pengakuan arus kas sehingga laba lebih baik lagi dalam merefleksikan kinerja masa kini dan indikator kinerja masa yang akan datang. Proksi kedua yakni AQ (Accrual Quality) diperoleh dari standar deviasi residual model ini secara tahunan. Model ini menangkap variabilitas kesalahan estimasi dalam proyeksi akrual terhadap arus kas laba yang dilaporkan beberapa periode. Rumus proksi kedua adalah: Menghitung nilai residual: (a) Menghitung CACCit , t= t-4,t

Dimana: = Nilai Accrual Quality perusahaan i pada tahun t = Standar deviasi = Nilai residual dari persamaan (a) perusahaan i pada tahun t = Akrual lancar (current accruals) dibagi dengan total asset perusahaan i pada tahun t. = Perubahan current asset perusahaan i pada tahun t. = Perubahan current liability perusahaan i pada tahun t. = Perubahan kas dan setara kas perusahaan i pada tahun t. = Perubahan utang jangka pendek perusahaan i pada tahun t. = Arus kas operasi dibagi dengan total aset perusahaan i pada tahun t. = Perubahan penjualan dibagi dengan total asset perusahaan i pada tahun t. = Aset tetap bruto dari property, plant, dan equipment perusahaan i pada tahun t dibagi dengan total asset perusahaan i pada tahun t. = Error penelitian perusahaan i pada periode t Proksi ketiga adalah AAQ (Absolute value of the residuals accrual quality), sama seperti AQ, nilai AAQ diperoleh dari model Dechow dan Dichev (2002). AAQ adalah nilai absolut dari residu estimasi persamaan diatas dalam satu tahun. ,

Dimana: = Nilai absolut residual perusahaan i pada tahun t = Nilai residual dari persamaan (a) perusahaan i pada tahun t Proksi keempat adalah SMOOTH, proksi ini ingin menunjukkan apakah terjadinya perataan dalam laba perusahaan. Hasil dari perataan laba ini akan menunjukkan managerial discretion pada laporan keuangan yang bertujuan efisiensi daripada tindakan oportunis dari manajemen. Semakin kecil rasio tersebut menunjukkan laba semakin smooth, sehingga dipandang laba semakin sustainable. Dengan kata lain, semakin smooth berarti semakin tinggi kualitas laba. Sebaliknya, jika rasio tersebut semakin besar menunjukkan laba semakin fluktuatif, berarti semakin rendah kualitas laba, dan dipandang sebagai kekaburan laba ( earnings opacity) (Sunarto:2009). Perataan laba diukur dengan rumus:

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga Dimana: NI = Laba bersih sebelum pos luar biasa perusahaan i pada tahun t. CFO = Arus kas oprasional perusahaan i pada tahun t. Asset = Total asset perusahaan i pada tahun t. = Standar deviasi dari t-4 hingga t. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Laba Tong dan Miao (2011) mengatakan bahwa dari penelitian sebelumnya telah dikemukakan beberapa faktor yang memiliki hubungan dengan dividen dan kualitas laba, diantaranya: 1. Ukuran Perusahaan (Size) Menurut penelitian Watts dan Zimmerman (1978), perusahan besar cenderung menghindari manajemen laba untuk menghindari eksposur dari luar perusahaan. Selain itu perusahaan yang besar dapat dikatakan lebih mampu menghasilkan laba dibandingkan perusahaan dengan total aset yang kecil. Size dihitung dari logaritma natural total asset. 2. Pertumbuhan Eksternal (Book To Market) Book to market ratio (BTM) adalah perbandingan antara nilai buku per lembar saham dengan nilai pasar saham. Nilai dari rasio ini ditentukan pada respon pasar (eksternal). Nilai buku per lembar saham sangat mencerminkan nilai perusahaan. Bagi investor, rasio BTM yang tinggi mencerminkan perusahaan tersebut masih undervalue dan memiliki prospek untuk mencapai nilai ekonomis sewajarnya. Rasio BTM yang rendah mengindikasikan perusahaan tersebut dihargai lebih mahal karena sedang bertumbuh dan memiliki profitabilitas yang tinggi. Nilai perusahaan yang tinggi (BTM rendah) akan membuat pasar percaya atas prospek perusahaan kedepan. Hal itu juga menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab nilai perusahaan yang tinggi mengindikasikan kemakmuran pemegang saham juga tinggi (Soliha dan Taswan, 2002). Perusahaan yang memiliki prospek pertumbuhan yang tinggi cenderung untuk memanipulasi laba untuk mempertahankan pertumbuhan yang tinggi. BTM dihitung dari nilai buku ekuitas dibagi nilai pasar ekuitas. 3. Pertumbuhan Internal (Growth) Pertumbuhan secara internal perusahaan didasarkan pada pertumbuhan penjualan yang mampu dihasilkan. Menurut McNichols (2002), perusahaan yang sedang bertumbuh memiliki akrual yang tinggi, sehingga perusahaan yang memiliki prtumbuhan yang tinggi dapat lebih leluasa untuk melakukan manajemen laba. Growth dihitung dari perubahan penjualan dibagi penjualan awal. 4. Pengembalian Terhadap Aset (ROA) Merupakan ukuran efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aset yang dimilikinya. Semakin besar nilai ROA menunjukkan semakin tinggi profitabilitas suatu perusahaan, karenanya perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi cenderung tidak akan melakukan manajemen laba. Dengan demikian, variabel ini diduga memiliki hubungan positif terhadap proksi kualitas laba. ROA diukur dari laba operasi sebelum pos luarbiasa (EBEI) dibagi total asset. 5. Kinerja Perusahaan (Loss) Perusahaan yang memiliki profitabilitas yang tinggi cenderung untuk menghindari manajemen karena kenyataannya perusahaan mampu untuk bertumbuh. Namun akan berbeda apabila perusahaan mengalami kerugian, praktik manajemen laba akan cenderung dilakukan untuk mempertahankan nilai perusahaan. Menurut Lang dan Lundholm (1993), determinan penting perilaku pengungkapan dan pelaporan adalah kinerja perusahaan. Lee dkk. (2006) menyatakan bahwa kualitas laba

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga berhubungan positif dengan kinerja perusahaan. Loss diukur dengan memberikan nilai 1 apabila perusahaan memperoleh laba negatif dan bernilai 0 bila berlaba positif. Umur Perusahaan (Age) Umur perusahaan dapat mencerminkan kemapanan suatu perusahaan. Perusahan yang lebih mapan diharapkan memiliki kualitas laba yang lebih baik. Perusahaan yang telah berada pada tahap maturity cenderung membagikan dividen dan tidak bertumbuh pesat lagi. Hasil studi Dechow dkk. (2003) menunjukkan bahwa karakteristik discretionary accruals yang relatif besar terdapat pada perusahaan dengan laba kecil disertai dengan karakteristik umur perusahaan yang lebih kecil. Umur perusahaan dihitung dari logaritma umur perusahaan sejak listing di bursa dalam satuan bulan. Laba Ditahan Laba ditahan adalah saldo laba bersih setelah dikurangi pajak yang diputuskan untuk tidak dibagikan kepada pemegang saham. Perusahaan yang memiliki kinerja baik pasti mampu untuk menghasilkan laba. Semakin tinggi laba yang dihasilkan maka semakin tinggi pula laba ditahan perusahaan. Oleh karena itu perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi cenderung menghindari manajemen laba. Laba ditahan diukur dari laba ditahan perusahaan dibagi total asset. Struktur Utang (Leverage) Praktik manajemen laba lebih potensial dilakukan pada perusahaan yang memiliki struktur utang yang tinggi untuk menghindari pelanggaran perjanjian utang. Jika utang meningkat, penggunaan debt covenant menjadi semakin diperlukan untuk mengurangi konflik keagenan. Kagagalan memenuhi perjanjian utang dapat mengakibatkan perusahaan menanggung biaya yang tinggi, sehingga perusahaan termotivasi untuk melakukan manajemen laba, Dichev and Skinner (2002). Leverage diukur dari total hutang dibagi total ekuitas. Intensitas Modal (Capital intensity) Penggunaan Intensitas modal didefinisikan sebagai rasio antar fixed asset seperti peralatan, mesin dan berbagai property terhadap asset total. Rasio ini menggambarkan seberapa besar asset perusahaan diinvestasikan dalam bentuk fixed asset untuk peningkatan profitabilitas perusahaan. Semakin tinggi rasio ini maka semakin tinggi kemungkinan profitabilitas suatu perusahaan, karenanya perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi cenderung tidak akan melakukan manajemen laba. Intensitas modal dihutung dari asset tetap dibagi total asset. Level Kompetisi (M_INDEX) Market index menunjukkan level kompetisi dalam suatu industri. Perusahaan yang memiliki pangsa pasar besar (M_INDEX tinggi) memiliki profitabilitas tinggi dan stabil (lebih mapan) sehingga tidak perlu melakukan manajemen laba dan memiliki laba yang berkualitas. Dengan demikian variabel ini diduga memiliki hubungan yang positif terhadap proksi kualitas laba. M_Index diperoleh dari penjualan perusahaan dibagi total penjualan dalam satu industri. Volatilitas Arus Kas Operasional Menurut penelitian Hribar dan Nichols (2007), pengujian kualitas laba kurang tercermin apabila volatilitas arus oprasional tidak terkontrol. Arus kas yang berfluktuatif dikhawatirnya dapat menjadi sinyal yang buruk, sehingga manajemen termotivasi untuk melakukan manajemen laba untuk menstabilkan arus kas. Dengan demikian variabel ini diduga memiliki hubungan yang negatif terhadap proksi kualitas laba. Volatilitas arus kas diperoleh dari standar deviasi empat tahun arus kas operasional dibagi total asset.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga Hipotesis H1: Pembagian dividen berpengaruh positif terhadap kualitas laba.. H2: H3: Jumlah dividen yang dibagikan berpengaruh positif terhadap kualitas laba. Pembagian dividen secara persisten berpengaruh positif terhadap kualitas laba.

Model Analisis Model Pertama

Model Kedua

Model Ketiga

Keterangan: = Kualitas laba yang diproyeksikan oleh ADA, AQ, AAQ,dan SMOOTH. = Pembagian dividen, yang bernilai 1 jika perusahaan membagikan dividen tunai, dan bernilai 0 jika perusahan tidak membagikan dividen pada tahun t. = Pembagian dividen, yang bernilai 1 jika perusahaan membagikan dividen yang besar atau payout ratio yang lebih dari 0.25, tetapi tidak lebih besar dari 2.0 pada tahun t dan bernilai 0 jika tidak demikian. = Pembagian dividen, yang bernilai 1 jika perusahaan membagikan dividen secara kontinyu dari t-4 sampai t, dan berniali 0 jika sebaliknya. = Ukuran perusahaan yang diproyeksikan dengan logaritma natural dari total asset. = Prospek pertumbuhan perusahaan yang diproyeksikan dengan book to market ratio. = Prospek pertumbuhan pertumbuhan penjualan. = Return on asset perusahaan. = Kinerja perusahaan, yang bernilai 1 jika laba sebelum pos luar biasa (EBEI) kurang dari nol, bernilai 0 jika sebaliknya pada tahun t. = Umur perusahaan yang diproyeksikan oleh logaritma natural dari lamanya perusahaan listing (dalam satuan bulan). = Laba ditahan dibagi total asset perusahaan pada tahun t. = Struktur utang perusahan yang diproyeksikan dengan debt equity ratio. = Intensitas modal perusahaan I pada tahun t perusahaan yang diproyeksikan dengan

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga =Level kompetisi dalam industri yang diproyeksikan dengan Market Index. = Volatilitas oprasional yang diproyeksikan dengan standar deviasi dari arus kas oprasional dideflasikan dengan total asset dari t sampai t-4. = Intercept persamaan regresi = Error penelitian perusahaan I pada periode t.

HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Hasil Penelitian


Tabel 1 Deskripsi Data PEMBAGIAN DIVIDEN BESAR DIVIDEN Membagikan Tidak Membagikan Besar Kecil 44.72% 55.28% 75.59% 24.41% Sumber: Data diolah..

PERSISTENSI DIVIDEN Persisten Tidak Persisten 44.09% 55.91%

Selama periode penelitian, terdapat 284 jumlah observasi yang memenuhi kriteria. Dari total 284 observasi, sebanyak 44,72% (127 observasi) membagikan dividen, sedangkan sisanya 55,28% (157 observasi) tidak membagikan dividen. Diantara 127 observasi yang membagikan dividen, sebanyak 75.59% atau 96 observasi tergolong membagikan dividen dalam jumlah besar (payout ratio 25%). Sedangkan sisanya 24.41% membagikan dividen dalam jumlah kecil. Dari observasi yang membagikan dividen terdapat sejumlah 44,09% (56 observasi) membagikan dividen secara persisten sedangkan sisanya 55.91% (71 observasi) tidak membagikan dividen secara persisten. Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata dari variabel ADA, AQ dan AAQ masing-masing sebesar 0.0698, 0.0885 dan 0.7916. Artinya rata-rata kesalahan akrual yang di proyeksikan ADA, AQ dan AAQ sebesar 6.98%, 8.85% dan 7.91% dari nilai aset. Variabel SMOOTH dalam penelitian ini rata-rata bernilai 1.16. Nilai terbesar serta terkecil dari SMOOTH masingmasing bernilai 29.26 dan 0.04. Nilai SMOOTH yang tinggi mengindikasikan perusahaan laba semakin fluktuatif, berarti semakin rendah kualitas laba, dan dipandang sebagai kekaburan laba. PEMBAHASAN Pengaruh Dividen dengan Kualitas Laba Beradasarkan hasil uji pengaruh secara parsial yang dapat dilihat dalam tabel 2, menunjukkan bahwa variabel DIV memiliki pengaruh positif terhadap keempat proksi kualitas laba ADA, AQ, AAQ dan SMOOTH. Namun tidak satupun yang menunjukkan hasil signifikan. Dalam penelitian ini hasil yang tidak signifikan, menunjukkan bahwa pembagian dividen yang dilakukan perusahaan tidak berarti menjamin perusahaan itu terbebas dari praktik manajemen laba dan mencerminkan perusahaan memiliki laba yang berkulitas. Berdasarkan bird in hand theory yang menyatakan bahwa investor lebih tertarik terhadap pembayaran dividen perusahaan dan signaling theory yang menunjukkan dividen dapat meningkatkan nilai perusahaan, maka pembagian dividen yang dilakukan oleh perusahaan bukan ingin menunjukkan bahwa perusahaan memiliki laba yang berkualitas karena tersedianya kas, tetapi lebih kepada mengurangi konflik keagenan dan meningkatkan nilai perusahaan. Breeden (2003) dalam Rahmad (2009) juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara membayar dividen dan kualitas laba, kemampuan membayar dividen lebih tergantung dengan keadaan dan kebutuhan kas perusahaan. Dong, dkk (2005) juga menyatakan bahwa

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga investor menolak bahwa pembayaran dividen oleh perusahaan, menunjukkan bahwa perusahaan tersebut bebas dari manipulasi. Pengaruh Jumlah Dividen dengan Kualitas Laba Dari tabel 3 menunjukkan variabel BIG_DIV berpengaruh secara positif (bertanda negatif) terhadap keempat proksi kualitas laba, namun tidak ada yang berpengaruh secara signifikan. Hal ini berarti bahwa besarnya jumlah dividen belum tentu mencerminkan kualitas laba perusahaan. Hasil yang tidak signifikan dalam penelitian ini diduga karena dalam kebijakan dividen perusahaan tentu harus memperhatikan berbagai faktor terlebih dahulu sebelum dibagikan. Misalnya model residual dividen, dimana sebelum membagikan dividen perusahaan mempertimbangkann kesempatan investasi perusahaan, struktur modal dan laba ditahan untuk kebutuhan modal, jika terdapat sisa laba maka dividen akan dibagikan. Hasil penelitian Savov (2006) juga menyatakan bahwa investasi berpengaruh negatif terhadap dividen, yang berarti apabila perusahaan melakukan investasi maka tidak cukup kas untuk dibayarkan dividen. Hal ini juga sesuai dengan masalah keagenan apakah laba yang dihasilkan akan dibagiakan dalam bentuk dividen atau dilakukan investasi sehingga dapat meningkatkan pendapatan dimasa mendatang. Hasil tidak signifikan ini juga sesuai dengan penelitian Skinner dan Soltes (2009) yang menunjukkan bahwa jumlah dividen tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba. Skinner dan Soltes (2009) berargumen bahwa status pembagian dividenlah yang lebih tepat sebagai indikator kualitas laba, terlepas dari berapa jumlah dividen yang dibagikan. Pengaruh Persistensi Pembagian Dividen dengan Kualitas Laba Sama halnya dengan variabel DIV dan BIG_DIV, variabel PDIV dalam tabel 3 juga menunjukkan pengaruh positif (bertanda negatif) kepada keempat proksi kualitas laba, yaitu ADA, AQ, AAQ dan SMOOTH. Namun tidak ada satupun yang menunjukkan pengaruh yang signifikan. Hasil tidak signifikan ini diduga karena pembagian dividen secara persisten tentu hanya bisa dilakukan oleh perusahaan yang tergolong berfundamental baik dan berpengasilan yang relatif stabil atau dapat digolongkan sebagai perusahaan besar (big firm). Skiner dan Soltes (2009) dalam penelitiannya mengatakan bahwa, perusahaan-perusahaan yang membagikan dividen cenderung merupakan kelompok yang homogen dengan kualitas laba yang lebih baik dibandingkan perusahaan-perusahaan yang tidak membagikan dividen, sehingga memampukan mereka membagikan dividen, terlepas dari jumlah yang dibagikan. Karakteristik data dalam penelitian ini mirip dengan karakteristik data penelitian Skiner dan Soltes (2009), dimana dalam penelitian ini hanya terdapat 15 perusahaan yang tergolong membagikan dividen secara persisten dan berjumlah besar (payout ratio 0.25). Selain itu, mungkin juga dikarenakan masih sedikitnya jumlah observasi yang membagikan dividen secara persiten, membuat hasil penelitian ini tidak signifikan. Dalam penelitian ini, dari 284 observasi hanya 56 observasi atau 19,7% yang tergolong membagikan dividen secara persisten. Dengan demikian sebesar 80,3% sisa dari total observasi, tentu tidak dapat dikatakan memiliki kualitas laba yang rendah. Pengaruh Size dengan Kualitas Laba Dalam model pertama, kedua dan ketiga, keempat proksi kualitas laba menunjukkan hubungan yang positif (bertanda negatif), tetapi hanya hanya proksi AQ dan AAQ saja yang signifikan. Perusahaan besar cenderung memiliki laba yang berkualitas karena perusahaan besar dapat dikatakan lebih mampu untuk menghasilkan dan mempertahankan laba dibandingkan perusahaan kecil, sehingga praktik manajemen laba cenderung dihindari. Selain itu perusahaan juga ingin menghindari eksposur dari luar, karena perusahaan besar biasanya diperhatikan oleh banyak orang.

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga Alasan bahwa tidak signifikannya ADA dan SMOOTH mungkin disebabkan pembentukan rumus kualitas laba itu sendiri. Proksi ADA mengukur kualitas laba berdasarkan akrual dan proksi SMOOTH mengukur perataan laba perusahaan. Sedangkan AQ dan AAQ berdasarkan arus kas perusahaan. Dalam hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perhitungan kualitas laba berdasarkan arus kas lebih menangkap manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Pengaruh BTM dengan Kualitas Laba Dalam model pertama, kedua dan ketiga, variabel BTM berhubungan positif (bertanda negatif) hanya pada proksi ADA, sedangkan ketiga proksi lainnya yakni AQ, AAQ dan SMOTH menunjukkan arah sebaliknya, terdapat hubungan negatif (bertanda positif) namun tidak signifikan antara BTM dengan ketiga proksi laba. Dugaan apabila perusahaan memiliki BTM rendah yang berarti memiliki nilai perusahaan tinggi, cenderung untuk melakukan manajemen laba untuk mempertahankan nilai perusahaan yang tinggi tidak terbukti. Perbedan hasil penelitian dengan dugaan, mungkin karena perusahaan yang memiliki BTM tinggi dihargai terlalu murah (underpricing), sehingga perlu melakukan manajemen laba untuk menaikkan nilai perusahaan. Sementara perusahaan yang memiliki BTM rendah telah mengindikasikan prospek pertumbuhan perusahaan kedepan sehingga lebih mampu untuk menghasilkan keuntungan kedepannya tanpa perlu melakukan manajemen laba. Selain itu alasan lainnya mungkin karena periode penelitian yang juga menyertakan tahun 2007-2008. Dimana pada tahun tersebut terjadi krisis global, yang mempengaruhi harga saham di Indonesia. Selain itu perbedaan hasil antara proksi laba, mungkin dikarenakan dari rumus proksi laba itu sendiri. Proksi ADA mengukur kualitas laba yang memfokuskan pada tingkat akrual perusahaan, sedangkan proksi AQ, AAQ memfokuskan pada arus kas operasi perusahaan, dan SMOOTH memfokuskan pada peraataan laba perusahaan. Penelitian sebelumnya yang dilakukan Tom Miao (2011) menunjukkan proksi SMOOTH menunjukkan arah sebaliknya dari dugaan, hal ini berarti berbedanya proksi kualitas laba yang digunakan akan menyebabkan perbedaan hasil pula. Pengaruh GROWTH dengan Kualitas Laba Dalam model penelitian pertama, kedua dan ketiga hubungan pertumbuhan penjualan (GROWTH) terhadap proksi kualitas laba ADA, AQ, AAQ dan SMOOTH berpengaruh secara negatif (bertanda positif) namun tidak signifikan. Alasan tidak signifikannya hasil penelitian mungkin dikarenakan perusahaan tersebut memang memperoleh laba yang sebenarnya dari pertumbuhan penjualannya sesuai dengan konsidisi ekonomi. Selain itu, pertumbuhan penjualan tentu akan menaikkan laba perusahaan sehingga praktik manajemen laba tidak perlu untuk dilakukan manajemen. Pengaruh ROA dengan Kualitas Laba Dalam model penelitian pertama, kedua dan ketiga menunjukkan adanya hubungan yang positif (bertanda negatif) namun tidak signifikan hanya pada proksi AQ saja. Sedangkan ketiga proksi lainnya ADA, AAQ dan SMOOTH menunjukkan arah yang sebaliknya namun tidak signifiakan. Dugaan semakin besar nilai ROA menunjukkan semakin tinggi profitabilitas suatu perusahaan, karenanya perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi cenderung tidak akan melakukan manajemen laba tidak terbukti. Perbedaan hasil penelitian ini diduga karena perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi merasa perlu untuk melakukan manajemen laba dikarenakan adanya motif untuk mengurangi pembayaran pajak serta menjaga agar target pendapatan periode berikutnya tidak terlalu berat untuk dicapai. Pengaruh LOSS dengan Kualitas Laba Dalam model penelitian pertama, kedua dan ketiga, hanya proksi AAQ dan SMOOTH saja menunjukkan adanya pengaruh negatif (bertanda positif) dan signifikan pada variabel

10

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga LOSS. Sedangkan proksi ADA dan AQ dari ketiga model menunjukkan hasil sebaliknya, yaitu berhubungan positif (bertanda negatif), namun hanya proksi ADA yang signifikan. Dugaan bahwa apabila perusahaan mengalami kerugian (LOSS), praktik manajemen laba akan cenderung dilakukan untuk mempertahankan nilai perusahaan hanya terbukti bila mengunakan proksi kualitas laba AAQ dan SMOOTH. Sedangkan hasil sebaliknya ditunjukkan bila menggunakan proksi ADA dan AQ. Perbedaan hasil dalam penelitian ini diduga karena perbedaan rumus perhitungan proksi kualitas laba itu sendiri. Rumus proksi ADA telah mengikutsertakan ROA dalam perhitungannya, dimana dalam perhitungan ROA telah memasukkan unsur discretionary accrual, sehingga discretionary accrual yang ingin ditunjukkan dalam ADA menjadi bias atau kurang tertangkap oleh proksi ADA. Dechow (2009) juga mengatakan bahwa perhitungan residual dengan kontrol performa (ROA) akan menambahkan gangguan (noise) saat mengukur discretionary accrual. Selain itu, Hasil penelitian Tom dan Miao (2011) juga menunjukkan terjadinya perbedaan arah dan signifikan pada proksi ADA. Sedangkan proksi AQ, yang dalam perhitungannya melalui standar deviasi empat tahun membuat discretionary accrual menjadi tidak terlihat namun hasil berbeda apabila hanya dalam satu tahun (perhitungan proksi AAQ). Pengaruh AGE dengan Kualitas Laba Dalam model penelitian pertama, kedua dan ketiga, hubungan variabel AGE menunjukkan adanya pengaruh positif (bertanda negatif) pada proksi AQ dan AAQ, tetapi hanya proksi AAQ saja yang signifikan. Sedangkan proksi ADA dan SMOOTH menunjukkan arah sebaliknya tetapi tidak signifikan. Perusahaan yang lebih berumur lebih mampu untuk menghasilkan laba (mapan) sehingga tidak perlu melakukan manajemen laba (laba berkualitas) terbukti bila menggunakan poksi AAQ sebagai kualitas labanya. Sedangkan hasil yang berbeda diduga karena perusahaan yang telah mencapai maturity tidak lagi membutuhkan dana yang banyak untuk melakukan ekspansi sehingga kurang dari pengawasan eksternal, selain itu perusahaan yang mencapai maturity lebih cenderung untuk melakukan praktik manajemen laba karena adanya kekhawatiran akan dilikuidasi (Ross, 2008) Pengaruh RE dengan Kualitas Laba Dalam model penelitian pertama, kedua dan ketiga hanya proksi AQ, AAQ dan SMOOTH saja yang menunjukkan adanya pengaruh positif (bertanda negatif) yang signifikan pada variabel RE. Proksi AAQ signifikan pada model kedua saja, sementara model pertama dan ketiga tidak signifikan. Sedangkan untuk proksi ADA menunjukkan pengaruh sebaliknya yakni negatif terhadap variabel RE, namun tidak signifikan. Semakin tinggi laba yang dihasilkan maka semakin tinggi pula laba ditahan perusahaan. Oleh karena itu perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi cenderung menghindari manajemen laba. Alasan proksi ADA menunjukkan hal sebaliknya, mungkin dikarenakan keterkaitan pembentukan rumus ADA itu sendiri. ADA mengukur kualitas laba berdasarkan pendapatan (akrual), sedangkan proksi lainnya berdasarkan arus kas. Hasil penelitian ini menunjukkan perhitungan kualitas laba berdasarkan arus kas lebih menangkap manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Pengaruh LEV dengan Kualitas Laba Dalam model penelitian pertama dan kedua dan ketiga menunjukkan adanya pengaruh negatif (bertanda positif) signifikan hanya pada proksi ADA, AQ dan AAQ. Sedangkan proksi SMOOTH berpengaruh positif (bertanda negatif) signifikan. Adanya hubungan negatif (bertanda positif) antara leverage dengan kualitas laba disebabkan karena kagagalan memenuhi perjanjian utang dapat mengakibatkan perusahaan menanggung biaya yang tinggi. Untuk mengindari biaya yang tinggi ini, perusahaan cenderung termotivasi untuk melakukan manajemen laba, Dichev and Skinner (2002).

11

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga Alasan proksi SMOOTH menunjukkan adanya hubungan positif signifikan (bertanda negatif) antara leverage dengan kualitas laba mungkin disebabkan karena semakin tinggi potensi kegagalan memenuhi perjanjian hutang, pihak kreditur akan lebih mengawasi perusahaan sehingga perusahaan berusaha menunjukkan laba yang lebih smooth agar terlihat berkualitas. Sehingga berbedanya hasil SMOOTH sebenanrnya menunjukkan bahwa perusahaan melakukan manajemen laba. Selain itu, mungkin berbedanya hasil yang ditunjukkan oleh SMOOTH sebenanrnya menunjukkan bahwa perusahaan melakukan manajemen laba dengan cara men-smoothing laba dan arus kasnya. Pengaruh CAP dengan Kualitas Laba Dalam model pertama dan kedua dan ketiga, proksi ADA, AQ dan AAQ menunjukkan adanya pengaruh positif (bertanda negatif) signifikan dengan intensitas modal (CAP) Sedangkan proksi SMOOTH menunjukkan pengaruh sebaliknya yakni negatif (bertanda positif) namun tidak signifikan. Intensitas Modal (Capital intensity) menggambarkan seberapa besar asset perusahaan diinvestasikan dalam bentuk fixed asset untuk peningkatan profitabilitas perusahaan. Sehingga semakin tinggi rasio ini maka semakin tinggi kemungkinan profitabilitas suatu perusahaan, oleh karenanya perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi cenderung tidak akan melakukan manajemen laba. Hasil berbeda yang ditunjukkan proksi SMOOTH, mungkin disebabkan karena rasio intensitas modal yang bersifat sensitif terhadap pendapatan (revenue) dan biaya (cost). Dimana semakin tinggi rasio ini berarti semakin tinggi pula bentuk aset tetap ( fix asset) perusahaan. Artinya kemungkinan profitabilitas perusahaan semakin tinggi karena memanfaatkan aset tetapnya. Begitu pula sebaliknya, kemungkinan perusahaan merugi juga semakin tinggi karena biaya yang harus ditanggung dari tingginya aset tetap yang dimiliki. Sehingga manajemen termotivasi untuk melakukan praktik manajemen laba. Pengaruh M-INDEX dengan Kualitas Laba Pada model pertama, kedua dan ketiga hanya proksi ADA yang menunjukkan adanya hubungan positif (bertanda negatif) tidak signifikan dengan M-INDEX. Sedangkan proksi AQ, AAQ dan SMOOTH menunjukkan arah sebaliknya yaitu berpengaruh negatif, namun signifikan hanya pada AQ. Perusahaan yang memiliki pangsa pasar besar berada pada level kompetisi rendah yang memiliki profitabilitas tinggi dan stabil (lebih mapan) sehingga tidak perlu melakukan manajemen laba dan memiliki laba yang berkualitas. Hasil penelitian yang berbeda arah mungkin menunjukkan bahwa semakin tinggi pangsa pasar (kompetisi rendah) perlu untuk melakukan manajemen laba, untuk mengurangi biaya pajak serta menjaga agar target pendapatan berikutnya tidak terlalu berat untuk dicapai. Karena perusahaan yang biasanya telah menguasai pangsa pasar telah memasuki tahap mature dan tidak berekspansi lagi. Pengaruh CFO_STD dengan Kualitas Laba Dalam model penelitian pertama, kedua dan ketiga menunjukkan bahwa volatilitas arus kas yang berhubungan negatif (bertanda positif) hanya pada proksi ADA, AQ dan AAQ, tetapi hanya ADA dan AAQ yang signifikan. Sedangkan hasil berbeda ditunjukkan oleh proksi SMOOTH yang berhubungan positif (bertanda negatif) dan signifikan. Kualitas laba kurang tercermin apabila volatilitas arus oprasional tidak terkontrol, Hribar dan Nichols (2007). Arus kas yang berfluktuatif dikhawatirnya dapat menjadi sinyal yang buruk, sehingga manajemen termotivasi untuk melakukan manajemen laba untuk menstabilkan arus kas. Sedangkan hasil yang tidak signifikan oleh AQ disebabkan perhitungan proksi AQ itu sendiri. Proksi AQ menghitung standar deviasi empat tahun, sehingga discretionary accrual yang ingin ditangkap dalam AQ kurang terlihat. Sementara berbedanya hasil yang ditunjukkan oleh SMOOTH,

12

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga mungkin sebenanrnya menunjukkan bahwa perusahaan melakukan manajemen laba dengan cara men-smoothing laba dan arus kasnya. KESIMPULAN Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan dividen terhadap kualitas laba. Selain itu penelitian ini juga ingin mencoba berbagai pengukuran proksi kualitas laba yakni ADA, AQ, AAQ dan SMOOTH. Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan menggunakan perusahaan di sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 20032011 dapat diambil kesimpulan bahwa pengaruh pembagian dividen, besarnya dividen yang dibayarkan dan persistensi pembagian dividen tidak terbukti signifikan terhadap kualitas laba yang diproksikan ADA, AQ, AAQ dan SMOOTH. Hal ini berarti dividen tidak mengandung informasi terkait kualitas laba. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan, yakni jumlah sampel yang hanya terbatas pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama tahun 200320011. Selain itu, proksi kualitas laba sendiri masih terbatas kemampuannya dalam menggambarkan laba yang berkualitas mengingat sampai saat ini belum ada kesepakatan bersama tentang ukuran laba yang berkualitas. Proksi kualitas laba yang digunakan dalam penelitian ini hanya menguji empat proksi kualitas laba saja, masih ada proksi kualitas laba lainnya yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya. Terlepas dari keterbatasan tersebut, penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi berbagai pihak, yakni emiten dalam kebijakan dividennya, serta pengguna laporan keuangan dalam pengambilan keputusan. Hasil penelitian ini juga berkontribusi terhadap penelitian yang sudah ada tentang kandungan informasi yang dimiliki oleh dividen, mengingat penelitian yang menganalisis hubungan dividen dan kualitas laba masih jarang.

13

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga DAFTAR PUSTAKA Bhattacharya, S. 1979. Imperfect information, dividend policy, and "the bird in the hand" Fallacy. Journal of Economics, Vol. 10, No. 1: 259- 270. Boulton, Thomas J., Scott B. Smart, dan Chad J. Zutter. 2011. Earnings Quality and International IPO Underpricing.The Accounting Review 86: 483-505. Breeden, R.2003. Restoring Trust: Report to The Hon. Jed S, Rakoff, The United Satates District Court for the Southern District of New York, on Corporate Governance for the Futher of MCI, Inc. Burton Malkiel. 2003. The dividend bounce. Wall Street Journal: Opinion. Caskey, J., dan M. Hanlon. 2005. Do dividends indicate honesty? The relation between dividends and the quality of earnings. Working paper, University of Michigan. Darmadji, Tjiptono dan Fakhruddin, Hendy M. 2001. Pasar Modal Indonesia. Jakarta: Salemba Empat. Dechow, P., R. Sloan and A. Sweeney. 1995. Detecting Earnings Managements. The Accounting Review Vol.70. Glassman, J. 2005. When numbers dont add up . Kiplingers (August): 32-34. Gordon, M. 1961. The investment, financing, and valuation of the corporation. Review of Economics and Statistics. Indonesia Capital Market Directory 2003-2011. Jakarta : ECFIN Jensen, M. 1986. Agency costs of free cash flow, corporate finance, and takeovers. The American Economic Review, Vol. 76, No. 2: 323-329. Kusuma H. 2005. Dampak Manajemen Laba Terhadap Relevansi Informasi Akuntansi: Bukti Empiris dari Indonesia. Jurnal Ekonomi Akuntansi. Fakultas Ekonomi Universitas Petra. Kothari, S., A. Leone, dan C. Wasley. 2001. Performance matched discretionary accruals measures. Journal of Accounting and Economics 39: 163197. Lang, M., dan R. Lundholm. 1993. Cross-sectional determinants of analyst ratings of corporate disclosures. Journal of Accounting Research 31: 246271. Lee, Chi-Wen Jevons, Laura Yue Li, dan Heng Yue. 2 006. Performance, Growth, and Earnings Management. Review of Accounting Studies11(2/3): 305-344. Lintner, J. 1956. Distribution of Incomes of Corporations Among Dividends, Retained Earnings, and Taxes. The American Economic Review, Vol. 46, No. 2: 97-113. Litzenberger, R dan K.Ramaswamy, 1980, "Dividends, Short Selling Restrictions, Tax Induced Investor Clientele and Market Equilibrium", Journal of Finance 35(2), 469-482. Mahmudi. 2001, Manajemen Laba (Earning Management): Sebuah Tinjauan Etika Akuntansi, Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol. 3, No.2, Agustus. McNichols, M. 2002. Discussion of the quality of accruals and earnings: The role of accrual estimation errors. The Accounting Review 77: 6169.

14

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga McNichols, M. 2000. Research design issues in earnings management studies. Departement of accounting Stanford University Miller, M., dan F. Modigliani. 1961. Dividend policy, growth and the valuation of shares. The Journal of Business 34. Miller, M. dan K. Rock. 1985. Dividend policy under asymmetric information. Finance 40: 10301051. The Journal of

15

Nasser, e.m & Herlina. 2003. Pengaruh Size, Profitabilitas dan Leverage Terhadap Perataan Laba Pada Perusahaan Go Publik. Jurnal Ekonomi, vol 7(3), hal 291-305. Nuryani, Siti. 2009. Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Hutang, Kebijakan Dividen dan Perataan Laba. Fakultas Ekonomi. Universitas Airlangga. Rahmad, Elly. 2009. Manajemen Laba, Investasi dan kebijakan dividen pada perusahaan. Fakultas Ekonomi. Universitas Airlangga. Ross, S. A., R. W. Westerfield dan B. D. Jordan. 2008. Corporate finance fundamentals 8th edition: international student edition. New York: McGraw-Hill/ Irwin. Sirait, Febriela. 2012. Hubungan Pembagian Dividen Dengan Kualitas Laba. Universitas Indonesia Savov, S. 2006. Earning Manajemen, Investment and dividen payment. Working paper, University of Mannheim. Sharpe, William F.,Gordon J Alexander and Jeffery V. Bailey. 1997. Investasi jilid I dan II (Edisi Bahasa Indonesia). Pearson Education Asia Pte. Ltd dan PT. Prenhallindo. Skinner, D. J. dan E. Soltes. 2009. What do dividends tell us about earnings quality? Review of Accounting Studies. Sun, Lan and Subhrendu Rath. The Effect of Firm Performance on Modeling Discretionary Accruals: An Evaluation of Accrual Models. Sunarto. 2008. Peran Persistensi Laba Memperlemah Hubungan Antara Earnings Opacity Dengan Cost of Equity dan Trading Volume Activity. Sundjaja, Ridwan S dan Inge Barlian. 2002. Manajemen Keuangan Satu, Edisi Keempat. Jakrta: Prenhallindo. Tong, Y, dan B. Miao.2011. Are dividends associated with the quality of earnings? Accounting Horizons 25:183 205. Watts, R., dan J. Zimmerman. 1990. Positive accounting theory: A ten-year perspective. The Accounting Review 65: 131156. Weston, fred J. dan Brigham, F. Eugene. 1989. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Edisi Kesembilan. Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga LAMPIRAN Tabel 2 Deskripsi Data Periode Pengamatan
N ADA AQ AAQ SMOOTH SIZE BTM GROWTH ROA AGE RE LEV CAP M_INDEX CFO_STD 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 Minimum .00008 .00627 .00040 .04062 10.74654 .02270 -.89119 -.16060 3.43399 -1.86593 .04135 .00330 .00036 .00318 Maximum .41782 .39651 .67339 29.26287 18.54163 30.11185 53.39483 .59665 5.85220 .76617 .99560 .83754 .91470 .74397 Mean .0698063 .0885715 .0791639 1.1624446 13.8701589 1.6702986 .3460234 .1106983 5.1509677 .1500869 .4950129 .3410930 .1564547 .0751551 Std. Deviation .06341744 .06603209 .08549809 2.73256862 1.47951683 2.57605848 3.19391565 .12293966 .32468039 .39680346 .23837763 .20040768 .21944072 .07178081

16

Tabel 3 Pengaruh Pembagian Dividen Terhadap Kualitas Laba (model pertama)


Kualitas Laba VARIABEL BEBAS Hubungan Tanda ADA AQ AAQ SMOOTH

DIV SIZE BTM GROWTH ROA LOSS AGE RE LEV CAP H_INDEX CFO_STD Constant F Statistic Sig. F R Square Adj. R Square

+ + + + + + + -

+ + + + +

B Sig. B Sig. B Sig. B Sig. -0.004 0.630 -0.013 0.165 -0.009 0.411 -0.191 0.221 -0.004 0.173 -0.013 0.000 -0.007 0.064 -0.004 0.950 -0.001 0.489 0.000 0.717 0.002 0.172 0.000 0.785 0.001 0.610 0.000 0.982 0.036 0.436 0.028 0.074 0.024 0.316 0.011 0.565 0.291 0.652 0.810 0.001 0.221 0.251

0.035 0.337 -0.007 0.849 -0.024 0.060 -0.017 0.218

0.007 0.491 -0.007 0.550 -0.038 0.008

0.006 0.599 -0.025 0.043 -0.019 0.172 -1.065 0.000 0.045 0.007 0.076 0.000 0.070 0.001 -1.473 0.000 0.164 0.636 0.347 0.330

-0.037 0.051 -0.047 0.018 -0.041 0.080 -0.028 0.155 0.326 0.000 0.064 8.440 .000
b

0.057 0.007 0.074 0.155 0.272 7.043 .000


b

0.012 0.640

0.137 0.023 -1.771 0.044 0.338 4.722 .000


b

0.676 7.797 .000b 0.259 0.226

0.272 0.24

0.238 0.204

0.182 0.143

Jurnal Manajemen Keuangan, Juli 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga Tabel 4 Pengaruh Besar Dividen Terhadap Kualitas Laba (model kedua)
Model Kedua VARIABEL BEBAS Hubungan Tanda ADA AQ AAQ SMOOTH

17

DIV SIZE BTM GROWTH ROA LOSS AGE RE LEV CAP H_INDEX CFO_STD Constant F Statistic Sig. F R Square Adj. R Square

+ + + + + + + -

+ + + + +

B Sig. B Sig. B Sig. B Sig. -0.014 0.108 -0.003 0.763 -0.003 0.809 -0.194 0.206 -0.004 0.199 -0.014 0.000 -0.008 0.039 -0.011 0.848 -0.001 0.597 0.000 0.767 0.002 0.218 0.000 0.730 0.001 0.660 0.000 0.954 0.031 0.511 0.028 0.077 0.025 0.304 0.011 0.563 0.301 0.641 0.814 0.000 0.228 0.237

0.043 0.237 -0.015 0.697 -0.024 0.065 -0.017 0.212

0.009 0.420 -0.008 0.512 -0.038 0.007

0.009 0.447 -0.030 0.012 -0.023 0.097 -1.093 0.000 0.043 0.010 0.081 0.000 0.073 0.001 -1.453 0.000 0.147 0.671 0.410 0.252

-0.037 0.049 -0.049 0.016 -0.042 0.072 -0.024 0.226 0.331 0.000 0.119 8.711 .000b 0.278 0.246 0.059 0.007 0.072 0.171 0.295 6.843 .000b 0.233 0.199 0.013 0.611

0.137 0.024 -1.737 0.049 0.391 4.659 .000b 0.18 0.141 0.705 7.809 .000b 0.26 0.227

Tabel 5 Pengaruh Persistensi Dividen Terhadap Kualitas Laba (model ketiga)


Model Ketiga VARIABEL BEBAS Hubungan Tanda ADA AQ AAQ SMOOTH

DIV SIZE BTM GROWTH ROA LOSS AGE RE LEV CAP H_INDEX CFO_STD Constant F Statistic Sig. F R Square Adj. R Square

+ + + + + + + -

+ + + + +

B Sig. B Sig. B Sig. B Sig. -0.001 0.909 -0.014 0.254 -0.004 0.786 -0.085 0.678 -0.005 0.163 -0.012 0.001 -0.008 0.063 -0.013 0.831 -0.001 0.447 0.000 0.701 0.002 0.246 0.000 0.790 0.001 0.691 0.000 0.960 0.028 0.531 0.028 0.076 0.020 0.400 0.012 0.536 0.140 0.826 0.809 0.001 0.197 0.308

0.031 0.377 -0.018 0.630 -0.024 0.060 -0.016 0.234

0.007 0.520 -0.009 0.425 -0.039 0.006

0.005 0.691 -0.026 0.033 -0.022 0.118 -1.129 0.000 0.047 0.005 0.079 0.000 0.073 0.001 -1.413 0.000 0.111 0.753 0.389 0.290

-0.038 0.050 -0.053 0.009 -0.044 0.068 -0.028 0.177 0.324 0.000 0.068 8.414 .000
b

0.064 0.004 0.061 0.245 0.280 6.974 .000


b

0.013 0.601

0.133 0.029 -1.886 0.034 0.349 4.661 .000


b

0.880 7.648 .000b 0.256 0.222

0.271 0.239

0.236 0.202

0.18 0.141