Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH NUTRISI PAKAN HEWAN

Pakan unggas (Itik)

Disusun oleh : Kelompok 2 I Wayan Widyastawan Hertin Anganita Nur Afisha Fitriana Raras Woro Anggi Rahma Putra J3P212067 J3P212 J3P212 J3P212 J3P212

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013

BAB I PENDAHULUAN

Pendahuluan Pakan unggas berdasarkan penggunaannya dibadakan atas pakan konvensional dan pakan inkonvensional. Pakan konvensional yaitu pakan yang sering digunakan meliputi jagung, dedak, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung ikan, tepung tulang, dan kulit kerang (grit). Pakan Inkonvensional yaitu pakan unggas alternatif yag jarang digunakan, biassanya penggunaannya apabila ketersediaan pakan konvensional diantaranya sorgum, gaplek, bungkil kacang tanah, kacang kedele, kacang tanah, kulit kerang, cacing, siput dan lain sebagainya. Pakan unggas berdasarkan sifat fisik dan kimia dibagi atas berguna sebagai, Sumber energy, yang termasuk dalam kelas ini adalah berbagai bahan pakan yang mengandung protein kasar yang mengandung protein kasar kurang dari 20% dan serat kasar kurang dari 18% dalam bahan kering. Contoh : jagung , dedak dan lain-lain. Sumber protein, yang termasuk dalam kelas ini adalah berbagai bahan pakan yang mengandung protein kasar lebih dari atau sama dengan 20% dalam bahan kering, baik yang berasal dari nabati maupun hewani. Contoh : bungkil kelapa, bungkil kedelai dan tepung ikan. Sumber mineral, yang termasuk dalam klas ini adalah berbagai bahan pakan yang mengandung kadar mineral yang tinggi, baik sumber mineral makro maupun sumber mineral mikro. Contoh: Tepung tui/lang, kulit kerang dan lain-lain. Sumber vitamin, yang termasuk dalam sumber ini adalah berbagai bahan pakan yang tinggi kadar vitaminnya, baik yang mengandung satu macam vitamin atau lebih. Contohnya, Premix, Topmix, dan lain-lain. Feed additives, yang termasuk dalam kelas ini adalah berbagai bahan berbagai bahan pakan yang ditambahkan dalam bahan pakan adalah berbagai bahan pakan yang ditambahkan kedalam pakan dalam jumlah sedikit dalam jumlah tertentu, misalnya untuk memacu pertumbuhan, dan biasannya mengandung asam amino, mineral mikro, vitamin, anti biotic, anti oksidan. Contoh : Premix topmix, dan lain-lain.

BAB II PEMBAHASAN

Pakan Pada Unggas Pakan untuk unggas biasanya terdiri dari pakan konvensional maupun pakan inkonvensional, pengunaan pakan konvensional dinilai kurang memberikan dampak positif bagi unggas sehingga diberikan pakan inkonvensional untuk ungas sehinga dapat mencapai hasil sesuai kebutuhan, dengan membuat campuran pakan yang diformulasikan khusus untuk unggas yang disebut ransum, ransum sendiri adalah campuran 2 atau lebih bahan pakan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan pakan secara kompleks. Berdasarkan jenisnya ransum dibedakan ke dalam lima jenis yaitu, Grain (bijian) adalah jenis ransom yang diberikan pada unggas, terdiri dari murni biji-bijian, Meal adalah jenis ransom yang terdiri dari satu macam bahan pakan (bijian atau bungkil) yang sudah digiling, Mash adalah campuran bahan pakan yang berbentuk tepung, Pellet adalah mash yang berbentuk seperti tabung setelah melalui proses pelletingyang berukuran 58mm, Crumbs/crumble adalah perllet yang dibentuk menjadi butiran dengan ukuran 3mm. Crumble ini disebut juga broken pellet, Dari lima jenis ransum yang sering digunakan diIndonesia, yaitu mash, crumble dan pellet. Masing-masing jenis ransum tersebut mempunyai spesifikasi sendiri. Karakteristik ransum jenis mash : Ransum mudah berdebu. Pakan penyusunan tidak tercampur merata Ransum tidak efisien Ayam memilih pakan berbentuk butiran seperti jagung dalam ransumnya Harga ransum relatif murah bila dibandingkan dengan bentuk crumble ataupun pellet Pembuatan ransum sangat mudah Karakterristik crumble : Ransum tidak berdebu sehingga mudah dikonsumsi Pakan penyusun ransum tercampur merata Meningkatkan konsumsi makan Ransum lebih effisien Relatif tidak mengandung bakteri yang membahayakan Karakteristik ransum jenis pellet : Harga lebih mahal dibandingkan crumble dan mash Tidak cocok digunakan pada kandang yang memakai tempat pakan otomatis (chain feeder), karena ransum akan menjadi partikel-partikel kecil sehingga ayam akan mengalami kesulitan dalam mengkonsumsinya Meningkatkan konsumsi air minum Dapat menumbuhkan sifat kanibalisme Menyebabkan kotoran menjadi basah (wet droppings) Berdasarkan macamnya ransum dibedakan atas beberapa jenis antara lain,

Chick mash/starter mash, yaitu ransum berbentuk tepung yang diberikan pada ayam petelur dari mulai menetas hingga berumur delapan minggu. Grower mash, yaitu ransum berbentuk tepung yang diberikan pada ayam petelur dari umur 9-20 minggu. Layer mash/complete layer, yaitu rasum berbentuk tepung yang diberikan pada ayam petelur yang sedang berproduksi Broiler starter, yaitu ransum berbentuk crumble yang diberikan pada ayam broiler (ayam pedaging) dari mulai menetas sampai umur empat minggu. Broiler finisher, yaitu ransum berbentuk crumble yang diberikan pada ayam broiler (ayam pedaging) dari umurlimaminggu hingga saat dipanen (umur 5 atau 6 minggu) Breeder mash, yaitu ransum berbentuk mash yang diberikan untuk ayam bibit. Konsentrat yaitu ransum berbentuk tepung dengan kandungan protein tinggi. Dalam pengujian kualitas pakan unggas sebagai bahan penyusun ransum memerlukan beberapa pengujian agar menghasikan performan produksi yang optimal sesuai dengan kebutuhan masing masing unggas. Evaluasi dapat dilakukan secara fisik, mikroskopis, kimia dan biologis. Evaluasi bahan secara fisik dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan panca indra kita missal dari bau, rasa, warna, dan perabaan. Keterampilan mengevaluasi secara fisik biasanya berdasarkan pengalaman. Evaluasi bahan secara mikroskopis dengan cara mengamati dibawah mikroskop mengenai struktur jaringan tanaman maupun jaringan hewan. Evaluasi ini memerlukan kemampuan yang lebih teliti dan berpengalaman. Evaluasi bahan secara kimiawi dilakukan dilaboraturium biasanya dianalisis mengnai kandungan nutrient dengan analisis proksimat seperti kandungan air, protein, energi, lemak, serat kasar dan abu. Evaluasi bahan secara biologis bahan pakan untuk ayam biasanya dilakukan secara langsung pada ayam. Yaitu bahan pakan yang akan dievaluasi dicampurkan kedalam susuna ransum dengan jumlah tertentu, kemudian diberikan pada ayam, dan selanjutnya dilihat pengaruhnya seperti pertambahanan bobot badan, konsumsi ransum dan sebagainya. Pakan Untuk Itik Pada pemeliharaan itik intensif semua kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan atau bertelur harus diberikan secara intensif, dalam pemberian pakan untuk itik hala hal hal yang harus diperhatikan yaitu kecukupan atas Zat gizi yang dibutuhkan oleh itik untuk dapat hidup, bertumbuh dan bertelur adalah: air, protein, sumber energi (lemak dan karbohidrat), vitamin dan mineral. Adapun uraiannya yaitu, 1. Air. Air merupakan zat gizi yang penting terutama untuk proses metabolisme (pemecahan atau pembentukan zat gizi dalam tubuh), pengangkutan zat gizi dan zat khusus didalam darah serta untuk pengeluaran panas tubuh. Penyediaan air secara terus menerus sangat diperlukan karma ternak itik tidak dapat minum air dalam jumlah banyak pada suatu saat. Kekurangan air akan menyebabkan ternak kerdil bahkan mati. Berbeda dengan ayam, selain sebagai zat gizi (diminum), air

juga dibutuhkan itik untuk membasahi kepalanya. Oleh karma itu ke dalaman air pada tempat minum harus dapat membasahi kepala itik. 2. Protein dan Energi Protein adalah zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, menggantikan jaringan tubuh yang sudah tua dan untuk pembentukan antibodi yang berguna untuk melawan penyakit di dalam tubuh. Penentuan kebutuhan protein selalu dihubungkan dengan tingkat energi dalam pakan karma protein dapat dijadikan sebagai sumber energi dan dibutuhkan dalam pembentukan protein. Untuk itik periode bertelur, pemberian pakan dengan kadar protein tinggi (18%) dapat memproduksi telur lebih balk dibandingkan pakan dengan kadar protein lebih rendah (16%), sedangkan energi metabolisme untuk itik yang sedang bertelur adalah 2.700 Kkal/kg. Pemberian kadar protein yang lebih rendah menyebabkan telur yang dihasilkan lebih kecil, sedangkan bila kadar energi pakan yang lebih rendah akan menyebabkan penurunan produksi telur, tetapi tidak mempengaruhi berat telur. 3. Vitamin dan Mineral Vitamin adalah zat gizi yang dibutuhkan sebagai pernbantu (katalis) dalam proses pembentukan atau pemecahan zat gizi lain di dalam tubuh, jadi hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Mineral dibutuhkan untuk membentuk kerangka (tulang) tubuh, membantu pencernaan dan metabolisme dalam sel serta untuk pembentukan kerabang (kulit) telur. Zat kapur atau (Calcium = Ca) dan fosfor (P) adalah zat mineral yang paling banyak dibutuhkan. Kedua zat ini mempunyai hubungan yang saling terkait. Untuk itik yang sedang bertelur dibutuhkan zat kapur dan fosfor yang cukup tinggi dalam pakannya berkisar 3,0% Ca dan 0,60% P. Penurunan zat kapur hingga 1,25% dalam pakan menyebabkan penurunan produksi telur dan kerabang telur yang lebih tipis. Kekurangan zat fosfor akan menurunkan nafsu makan dan menyebabkan pertumbuhan yang terlambat, serta penurunan produksi dan berat telur. Penambahan garam dapur 0,2% hingga 0,5% sudah dapat menunjang pertumbuhan dan produksi telur yang balk. Kebutuhan akan mineral lain (Mg, K, Zn, Fe, I, Mn, Mo, Se, Co, Cl) dan vitamin adalah dalam jumlah yang sangat sedikit. Dalam praktek sehari-hari digunakan campuran mineral dan vitamin (premix) yang telah banyak diperdagangkan dengan komposisi yang telah disesuaikan, sehingga hanya perlu diberikan sebanyak 0,25 - 0,5 Kg premix untuk tiap 100 Kg pakan. Secara ringkas kebutuhan zat gizi utama untuk itik yang disarankan disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Kebutuhan Beberapa Zat Gizi Untuk Itik.

Macam bahan pakan yang digunakan Bagi peternak skala kecil dengan jumlah itik puluhan ekor sampai ratusan ekor, dianjurkan untuk mengusahakan pakan alternatif Pakan ini dapat dibuat sendiri dengan alternatif bahan paling murah dan mudah didapat di sekitar lokasi usaha. Berbagai bahan pakan yang dapat digunakan antara lain adalah: dedak, menir, cangkang udang, ikan rucah, seng (ZnSo4), kapur dan Top Mix. Untuk dapat digunakan sebagai bahan pakan terlebih dahulu perlu dilakukan analisis terhadap bahan pakan tersebut, apalagi wring dilaporkan bahwa kandungan gizi suatu bahan pakan dapat berubah tergantung kepada asal bahan tersebut, ada atau tidak adanya pemalsuan, lama/baru kondisi penyimpanan dan prows produksinya. Cara penyusunan Ransum untuk itik Setelah diketahui kebutuhan gizi serta kandungan gizi bahan pakan yang tersedia, selanjutnya dapat disusun pakan yang tepat agar campuran pakan tersebut dapat memenuhi kebutuhan itik untuk berproduksi dengan baik. Contoh susunan pakan itik adalah sebagai berikut: 1. Dedak = 54,64 % 2. Menir = 13,66 % 3. Cangkang Udang Segar = 19,58 % 4. Ikan Rucah Segar = 9,11 % 5. Seng (ZnSo4) = 0.05 % 6. Kapur = 2,73 % 7. Top Mix = 0,23 % 3. Cara Pemberian Pakan Semua bahan selain cangkang udang dan ikan rucah segar ditimbang untuk keperluan satu minggu. Kemudian dicampur secara merata lalu dibagi menjadi 7 bagian dan masing-masing bagian dimasukkan kedalam kantong plastik yang berbeda. Masing-masing kantong plastik berisi 10,70 kg campuran perhari untuk 100 ekor. Ikan rucah segar (1,37 kg) dan setengah bagian dari pakan campuran dalam kantong plastic (5,40 kg) diberikan dalam bentuk agak basah pada jam 07.00 (pagi), kemudian cangkang udang segar (2,94 kg) dan setengah bagian dari pakan campuran tadi (5,40 kg) diberikan jam 15.00 (sore hari) dalam bentuk agak basah yaitu dengan jalan menambahkan sedikit air supaya tidak mudah ditiup angin dan memudahkan itik untuk mengkonsumsinya.

Gambar. Campuran ransum

Daftar Pustaka Rasyaf, M.1984. Beternak Itik Petelur. Yayasan Kanisius, Yogyakarta. Sandhy, S.W.2000. Beternak Itik Tanpa Air. Penebar Swadaya Jakarta. Sinurat, A. P.2000. Penyusunan Ransum Ayam Buras dan Itik. Balai Penelitian Ternak Ciawi. Whendrato, I dan Madyana, LM, 1986. Beternak Itik Tegal Secara Populer. Eka Offset, Semarang.