Anda di halaman 1dari 23
No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman
No. Dokumen
FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak
LAPORAN PRAKTIKUM
Revisi
LABORATORIUM SPT
Halaman

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI

PENGENALAN ALAT, MIKROTOM, OPTI LAB,

DAN PEMBUATAN PREPARAT

PENGENALAN ALAT, MIKROTOM, OPTI LAB, DAN PEMBUATAN PREPARAT NAMA : Dawam Suprayogi DOSEN : Dr.

NAMA

:

Dawam Suprayogi

DOSEN

:

Dr. E.Suharyanto,M.S.,M.Sc., Ph.D

LABORATORIUM STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

2013

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman I. Tujuan Praktikum

No. Dokumen

FO-UGM-BI-07-13

BORANG

Berlaku Sejak

LAPORAN PRAKTIKUM

Revisi

LABORATORIUM SPT

Halaman

I.

Tujuan Praktikum

1. Mahasiswa dapat mengetahui nama dan fungsi alat-alat yang ada di dalam laboratorium struktur perkembangan tumbuhan.

2. Mahasiswa dapat mengetahui cara membuat preparat tumbuhan.

3. Mahasiswa dapat mengetahui cara kerja mikrotom dalam pembuatan preparat dan penggunaan optilab untuk keperluan pengamatan.

II.

Dasar Teori

2.1

Jenis Preparat

Mikroteknik secara umum dikenal sebagai teknik pembuatan preparat mikroskopis, menganalisis, dan juga melakukan mikrometri sebagai bagian dari proses penelitian histologi. Preparat tumbuhan dibuat dengan beberapa jenis

tergantung dari tujuan penggunaan preparat tersebut. Jenis tersebut yaitu preparat segar, preparat semi permanen, dan preparat permanen.

1. Preparat segar Preparat segar digunakan untuk mengamati jaringan dalam kondisi hidup. Salah satu contoh penggunaannya adalah pengamatan pergerakan kloroplas pada Hydrilla sp. Preparat segar menggunakan media akuades sehingga hanya dapat digunakan dalam waktu singkat. Setiap pengamatan menggunakan preparat segar dianjurkan untuk membuat preparat baru terlebih dahulu.

2. Preparat semi permanen Preparat semi permanen dapat bertahan lebih lama dari pada preparat segar. Preparat ini menggunakan media gliserin. Menurut Susandarini (2004) gliserin memiliki indeks refraksi 1,4 dan baik digunakan untuk preparat semi permanen.

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman 3. Preparat permanen

No. Dokumen

FO-UGM-BI-07-13

BORANG

Berlaku Sejak

LAPORAN PRAKTIKUM

Revisi

LABORATORIUM SPT

Halaman

3.

Preparat permanen Media yang digunakan pada preparat permanen adalah balsam kanada. Adds et.al (2001) menjelaskan penggunaan balsam kanada memiliki keuntungan yaitu pengeringan lebih cepat dan tidak berubah warna dalam waktu lama. Preparat permanen yang diproduksi dengan cara ini dapat disimpan dalam waktu lama tanpa penurunan kualitas.

2.2

Metode Pembuatan Preparat

Selain jenis-jenis preparat berdasarkan umur pemakaiannya, membuat preparat juga dapat dilakukan dengan beberapa metode. Hal ini dilakukan berdasarkan tujuan pengamatan dari preparat yang akan dibuat. Metode tersebut yaitu antara lain metode paraffin, metode squash, metode asetolisis, metode maserasi, dan metode whole mount. Metode paraffin digunakan untuk pembuatan preparat yang memiliki tekstur lunak seperti daun, bunga, dan pucuk tumbuhan. Dengan di embedding pada paraffin, jaringan yang lunak akan menjadi lebih mudah untuk di iris. Selain metode paraffin dikenal juga metode squash. Metode ini digunakan untuk mengamati mitosis yang biasanya menggunakan akar tumbuhan. Metode asetolisis digunakan saat membuat preparat serbuk sari (pollen) dan spora. Metode ini menggunakan campuran asam asetat glasial dan asam sulfat pekat dengan perbandingan 9:1. Dengan direndam pada campuran tersebut, dinding sel pollen menjadi lisis. Sebelum diamati menggunakan mikroskop, objek di berikan minyak silikon (Preston, 1963). Metode maserasi digunakan dengan prinsip membusukkan beberapa bagian jaringan tertentu, Dengan cara ini, jaringan yang diamati akan tetap utuh dan lebih jelas. Metode ini memiliki tiga variasi cara yaitu metode Jeffery, metode Harlow, dan metode Schultze (Bendre dan Kumar, 2009). Membuat preparat dengan metode whole mount akan menghasilkan objek preparat berada dalam keadaan utuh. Kondisi tersebut memungkinkan

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman pengamatan struktur

No. Dokumen

FO-UGM-BI-07-13

BORANG

Berlaku Sejak

LAPORAN PRAKTIKUM

Revisi

LABORATORIUM SPT

Halaman

pengamatan struktur utuh dari suatu organisme dan objek akan terlihat dengan jelas ketika diamati menggunakan mikroskop. Struktur yang dapat diamati menggunakan metode whole mount ini adalah struktur reproduksi maupun struktur vegetatif pada suatu organisme. Objek preparat tumbuhan yang dapat dibuat sengan metode ini adalah tumbuhan kecil yang dapat di tempatkan dalam kaca objek. Objek tersebut di mounting dengan asam laktat 85% (Youssef dan Dugan, 2000).

2.3 Mikrotom Mikrotom adalah alat yang digunakan untuk memotong spesimen. Alat ini digunakan untuk membuat preparat jaringan. Hasil preparat yang baik tergantung pada pengetahuan yang mendalam tentang peralatan dan pengalaman praktis. Mikrotom dapat mempuat potongan specimen dengan ketebalan yang paling umum digunakan yaitu 5-10µm (Majrit, 2008). Kebanyakan proses pembuatan preparat menggunakan mikrotom dilakukan pada blok jaringan yang ditanam pada parafin. Mekanisme kerja mikrotom adalah obyek (blok parafin) bergerak maju dengan jarak yang telah ditentukan sampai bersentuhan dengan pisau pemotong. Spesimen bergerak secara vertikal melewati permukaan pisau sehingga menghasilkan irisan tipis jaringan (Bancroft et al., 2008). Berdasarkan prinsip kerjanya mikrotom terdiri dari beberapa jenis, diantaranya:

1. Mikrotom Tangan (Hand microtome) Mikrotom tangan merupakan bentuk paling dasar. Bentuknya menyerupai penggulung benang, dan memiliki satu lubang tempat memasukkan dan mengunci objek (dalam fiksatif) yang akan diiris. Setelah objek dimasukkan ke dalam lubanmg mikrotom, pengirisan dilakukan dengan silet atau pisau tajam. Irisan dengan ketebalan 150- 250µm dapat dipotong dengan menggunakan alat ini (Hayat, 1981).

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman Selain itu, alat

No. Dokumen

FO-UGM-BI-07-13

BORANG

Berlaku Sejak

LAPORAN PRAKTIKUM

Revisi

LABORATORIUM SPT

Halaman

Selain itu, alat ini dapat juga digunakan untuk mengiris jaringan yang bertekstur keras.

2. Mikrotom Putar (Rotary Microtome) Mekanisme dasar mikrotom putar menggunakan roda yang dapat diputar 360 o . Spesimen bergerak vertikal melewati permukaan pisau pemotong dan kembali ke posisi awal. Mikrotom putar memiliki beberapa model yaitu: manual, semi otomatis, dan otomatis. Keuntungan penggunaan mikrotom ini yaitu: kemampuan untuk memotong tipis spesimen, dan dapat digunakan pada semua jenis jaringan (Mailhiot, 2005 dalam Bancroft et al., 2008).

3. Mikrotom geser (Sliding microtome) Pada mikrotom ini bagian yang bergerak pada saat pengirisan sampel adalah pisaunya. Sampel diletakkan pada bagian yang terkunci, lalu pisau yang digerakkan akan mengiris objek dengan ketebalan yang ditentukan. Mikrotom ini digunakan untuk sampel yang bertekstur keras atau pada sampel yang di embedding dalam celloidin (Bancroft et al.,

2008).

2.4 Mikroskop cahaya

Keingintahuan akan benda-benda kecil yang mikroskopis, mendorong ditemukannya mikroskop. Mikroskop yang pertama kali ditemukan dan dikembangkan adalah mikroskop cahaya. Dalam mikroskop cahaya, cahaya tampak diteruskan melalui spesimen dan kemudian melalui lensa kaca. Lensa ini merefraksikan cahaya sedemikian rupa sehingga citra spesimen diperbesar ketika diproyeksikan ke mata atau ke kamera. Tiga parameter penting dalam teknik penggunaan mikroskop adalah perbesaran, resolusi dan kontras. Perbesaran adalah rasio ukuran citra objek

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman dengan ukuran objek

No. Dokumen

FO-UGM-BI-07-13

BORANG

Berlaku Sejak

LAPORAN PRAKTIKUM

Revisi

LABORATORIUM SPT

Halaman

dengan ukuran objek sebenarnya. Mikroskop cahaya dapat memperbesar secara efektif 1000 kali ukuran objek sebenarnya. Dengan perbesaran lebih tinggi lagi akan membuat detail benda tidak lagi terlihat jelas. Resolusi adalah ukuran kejelasan citra; jarak minimum yang dapat memisahkan dua titik sehingga masih dapat dibedakan sebagai dua titik. Parameter ketiga adalah kontras, ini didefinisikan sebagai kemampuan menonjolkan perbedaan bagian dari sampel. Sehingga bagian-bagian sel dapat lebih jelas dibedakan (Reece et. al., 2011).

III.

Metode

 

3.1

Waktu dan Tempat Waktu dan tempat pelaksanaan praktikum yaitu :

 

Hari, tanggal : Selasa, 3 Desember 2013 Pukul : 09.00 sampai selesai Tempat : Laboratorium Struktur Perkembangan Tumbuhan Universitas Gadjah Mada

3.2

Alat

Pada

praktikum

kali

ini

dijelaskan

cara

penggunaan

alat-alat

yang

digunakan pada laboratorium struktur perkembangan tumbuhan. Antara

lain:

1.

Hot plate

2.

Kaca objek dan Kaca penutup

3.

Mikroskop

4.

Mikrotom

5.

Optilab

6.

Oven

7.

Pengasah Pisau Mikrotom

8.

Pisau Silet

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman 3.3 Bahan Selain

No. Dokumen

FO-UGM-BI-07-13

BORANG

Berlaku Sejak

LAPORAN PRAKTIKUM

Revisi

LABORATORIUM SPT

Halaman

3.3 Bahan

Selain penggunaan alat, digunakan juga beberapa bahan-bahan, antara lain:

1. Alkohol

2. Balsam Kanada

3. Fast Green

4. Parafin

5. Safranin

6. Xilol

3.4 Prosedur Kerja Berikut dijelaskan prosedur kerja pembuatan preparat:

Preparat Segar

1. Diteteskan akuades di tengah kaca objek bersih.

2. Diambil bagian tumbuhan yang akan diamati, bila jaringan terlalu besar gunakan pisau silet untuk mengirisnya

3. Ditempatkan objek pengamatan ke dalam akuades pada kaca objek.

4. Ditempatkan kaca penutup secara perlahan menyentuh akuades pada kaca objek dengan membentuk sudut 60 derajat lalu dijatuhkan dengan hati-hati hingga objek tertutup.

Preparat Semi Permanen

1. Dipotong bahan dengan menggunakan sliding microtome,

2. Ditampung irisan dalam petridish yang berisi akuades,

3. Diambil irisan lalu letakkan diatas kaca objek

4. Dibubuhi dengan gliserin, ditutup dengan gelas penutup.

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman  Preparat Permanen

No. Dokumen

FO-UGM-BI-07-13

BORANG

Berlaku Sejak

LAPORAN PRAKTIKUM

Revisi

LABORATORIUM SPT

Halaman

Preparat Permanen Tanpa Embedding

Hari ke I:

Fiksasi: Dipakai larutan Alkohol 70% Pengirisan: Dibuat irisan-irisan melintang atau membujur dengan menggunakan Sliding microtome dengan ketebalan 20-30µm

(mikronmeter). Irisan ditampung dalam petridish yang diberi Alkohol 70%. Pewarnaan: Dengan menggunakan Safranin 1 % dalam Alkohol 70% selama 24 jam.

Hari ke II: Safranin dibuang lalu diganti berturut-turut dengan :

Alkohol 70%

10 menit

Alkohol 80%

10 menit

Alkohol 95%

10 menit

Alkohol 100%

10 menit

Alkohol 100%

10 menit

Alkohol/xilol 3:1

10 menit

Alkohol / xilol 1:1

10 menit

Alkohol / xilol 1:3

10 menit

Xilol

10 menit

Xilol

10 menit

Penutupan: Irisan diatur diatas gelas benda ditutup dengan gelas penutup dengan pemberian Balsam Kanada terlebih dahulu. Preparat dikeringkan dikeringkan diatas hot plate dengan temperature 45°C hingga Balsam Kanada kering.

Pemberian nama: Disebelahah kiri gelas penutup dilekatkan etiket dan diberi keterangan: nama spesies, organ, penampang.

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman  Preparat Permanen

No. Dokumen

FO-UGM-BI-07-13

BORANG

Berlaku Sejak

LAPORAN PRAKTIKUM

Revisi

LABORATORIUM SPT

Halaman

Preparat Permanen dengan Embedding pada Paraffin

Hari ke I:

Fiksasi: Dipakai larutan FAA :

Formalin

Hari ke II: Pencucian dan dehidrasi:

5 bagian

Asam asetat glasial

5 bagian

Alkohol 70%

90 bagian

Diamkan selama 24 jam.

Fiksatif dibuang lalu diganti berturut-turut dengan :

Alkohol 70%

Alkohol / xilol 3:1

30 menit

Alkohol 80%

30 menit

Alkohol 95%

30 menit

Alkohol 100%

30 menit

Alkohol 100%

30 menit

Dealkoholisasi:

30 menit

Alkohol /xilol 1:1

30 menit

Alkohol/xilol 1:3

30 menit

Xilol

30 menit

Xilol

30 menit

Campuran Xilol/paraffin 1:9 dengan temperature 57°C selama 24 jam

Hari ke III :Infiltrasi: Campuran xilol/paraffin dibuang diganti dengan paraffin murni. Temperatur tetap 57°C selama 24 jam.

Hari ke IV:Penyelubungan: Parafin dibuang diganti dengan paraffin murni yang baru. Setelah ±1 jam dibuat blok.

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman Hari ke V:

No. Dokumen

FO-UGM-BI-07-13

BORANG

Berlaku Sejak

LAPORAN PRAKTIKUM

Revisi

LABORATORIUM SPT

Halaman

Hari ke V: Pengirisan: Dibuat irisan-irisan dengan menggunakan rotary microtome dengan ketebalan 6-12µm (mikronmeter). Perekatan: Irisan direkatkan pada gelas benda dengan campuran Gliserin : Albumin yang dibubuhi air, kemudian gelas benda ditaruh diatas Hot plate dengan temperature 45°C sampai pita paraffin merenggang.

Hari ke VI: Pewarnaan : dengan safranin 1% dalam Alkohol 70% dan fast green 1% dalam Alkohol 95%. Berturut-turut gelas benda dimasukkan dalam :

Xilol

3 menit

Xilol

3 menit

Alkohol / xilol 1:3

3 menit

Alkohol / xilol 1:1

3 menit

Alkohol / xilol 3:1

3 menit

Alkohol 100%

3 menit

Alkohol 100%

3 menit

Alkohol 95%

3 menit

Alkohol 80%

3 menit

Alkohol 70%

3 menit

Safranin 1% dalam Alkohol 70%

1 jam

Alkohol 70%

1 menit

Alkohol 80%

1 menit

Alkohol 95%

1 menit

Alkohol 100%

1 menit

Alkohol 100%

1 menit

Alkohol / xilol 3:1

1 menit

Alkohol / xilol 1:1

1 menit

Alkohol / xilol 1:3

1 menit

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman Xilol 1 menit

No. Dokumen

FO-UGM-BI-07-13

BORANG

Berlaku Sejak

LAPORAN PRAKTIKUM

Revisi

LABORATORIUM SPT

Halaman

Xilol

1 menit

Xilol

1 menit

Penutupan: Irisan ditutup dengan gelas penutup dengan pemberian Balsam Kanada terlebih dahulu. Preparat dikeringkan diatas Hot plate dengan temperature 45°C hingga Balsam Kanada kering.

Pemberian nama: Disebelah kiri gelas penutup dilekatkan etiket dan diberi keterangan: nama spesies, organ, penampang.

IV.

Hasil dan Pembahasan

4.1

Deskripsi Laboratorium

Laboratorium Struktur dan Perkembangan Tumbuhan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada merupakan sebuah laboratorium yang digunakan untuk melakukan berbagai akitivitas yang berkaitan dengan percobaan maupun kegiatan-kegiatan penelitian. Dalam menjalankan fungsinya, laboratorium ini didukung dengan perangkat peralatan, bahan-bahan, mekanisme termasuk tata cara penggunaan alat, dan organisasi pengelolaannya. Laboratorium ini dipimpin oleh Bapak Dr. E. Suharyanto, M.S, M.Sc, Ph.D., dan dibantu oleh staff dosen lainnya yaitu Prof. (Emeritus) Dr. Issirep Sumardi, Prof. Dr. L. Hartanto Nugroho, M.Agr., Dr. Maryani, M.Sc., Drs. Sutikno, S.U., dan Dra. Siti Susanti, M.S. serta asisten dan seorang laboran. Laboratorium ini juga aktif melakukan berbagai kegiatan penelitian. Penelitian yang dilakukan pada laboratorium ini meliputi beberapa bidang dalam ilmu botani. Bidang penelitian tersebut yaitu morfologi, anatomi, embriologi, mikroteknik, palinologi, organologi, metabolik sekunder, kultur jaringan, dan beberapa tema di bidang fisiologi. Ruangan yang terdapat di dalam laboratorium

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman
No. Dokumen
FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak
LAPORAN PRAKTIKUM
Revisi
LABORATORIUM SPT
Halaman

ini meliputi ruang kuliah dan praktikum, ruang penelitian, ruang pembuatan preparat, ruang kultur jaringan, dan ruang asisten.

4.2 Instrumentasi Alat dan Bahan

Pada praktikum instrumentasi ini, dijelaskan beberapa alat yang biasa digunakan dalam praktikum maupun penelitian pada laboratorium struktur perkembangan tumbuhan. Setiap alat memiliki fungsi dan spesifikasi masing- masing, sehingga dalam penggunaannya menyesuaikan dengan kebutuhan peneliti. Selanjutnya akan dijelaskan beberapa alat yang terdapat dalam

laboratorium struktur perkembangan tumbuhan.

1. Hot plate

Dalam pembuatan preparat, hot plate digunakan untuk mengeringkan preparat. Preparat yang telah diletakkan di kaca objek, di beri gliserin atau kanada balsam (tergantung jenis preparat). Setelah diberi gliserin atau kanada balsam, preparat diletakkan di atas hot plate (Gambar 1) dengan suhu sekitar 45 o C. Penggunaan hot plate ini akan menghemat waktu pengeringan preparat, sehingga proses pembuatan preparat menjadi lebih cepat.

akan menghemat waktu pengeringan preparat, sehingga proses pembuatan preparat menjadi lebih cepat. Gambar 1. Hot plate

Gambar 1. Hot plate

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman
No. Dokumen
FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak
LAPORAN PRAKTIKUM
Revisi
LABORATORIUM SPT
Halaman

2. Kaca objek dan kaca penutup

LABORATORIUM SPT Halaman 2. Kaca objek dan kaca penutup Gambar 2. Preparat pada kaca objek Kaca

Gambar 2. Preparat pada kaca objek

Kaca objek (object glass) dan kaca penutup (cover glass) sangat umum digunakan dalam pembuatan preparat. Kaca ini berfungsi sebagai tempat meletakkan irisan-irisan preparat. Untuk menjaga agar kaca penutup tetap melekat dengan kaca objek pada preparat biasa digunakan gliserin atau kanada balsam. Pada Gambar 2 terlihat penggunaan kaca objek dan kaca penutup sebagai tempat meletakkan preparat yang telah di iris menggunakan mikrotom dengan metode paraffin.

3. Mikroskop

menggunakan mikrotom dengan metode paraffin. 3. Mikroskop Gambar 3. Mikroskop cahaya monokuler Mikroskop secara umum

Gambar 3. Mikroskop cahaya

monokuler

Mikroskop secara umum digunakan untuk membantu mengamati benda yang berukuran mikroskopis. Salah satunya adalah sel tumbuhan. Mikroskop dipakai untuk mengamati preparat yang telah dibuat sehingga dapat digambar, diukur, maupun difoto. Pada laboratorium struktur perkembangan tumbuhan terdapat mikroskop cahaya, baik yang monokuler (Gambar 3) maupun binokuler. Sumber cahaya pada mikroskop tersebut telah menggunakan lampu LED yang menghasilkan cahaya berwarna putih, sehingga objek yang diamati menjadi lebih jelas.

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman
No. Dokumen
FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak
LAPORAN PRAKTIKUM
Revisi
LABORATORIUM SPT
Halaman

4. Mikrotom

PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman 4. Mikrotom Gambar 4. Mikrotom geser ( sliding microtome ) Terdapat

Gambar 4. Mikrotom geser (sliding microtome)

Terdapat dua jenis mikrotom di laboratorium struktur perkembangan tumbuhan. Mikrotom tersebut adalah mikrotom geser (Gambar 4) dan mikrotom putar (Gambar 5). Penggunaan dua jenis mikrotom ini dibedakan berdasarkan sampel yang akan diiris. Mikrotom geser digunakan untuk sampel yang teksturnya keras dan tidak perlu di embedding dalam paraffin. Mikrotom putar digunakan untuk mengiris preparat yang

Mikrotom putar digunakan untuk mengiris preparat yang Gambar ( rotary microtome ) 5. Mikrotom putar teksturnya

Gambar

(rotary microtome)

5.

Mikrotom

putar

teksturnya keras maupun lunak. Untuk penggunaan mikrotom putar, objek biasanya di embedding dalam paraffin. Pada mikrotom putar, objek yang akan diiris diletakkan di bidang yang terkunci namun akan bergerak naik turun seiring dengan putaran roda putar mikrotom. Pisau pada mikrotom putar tidak dapat digerakkan.

5. Optilab

Pisau pada mikrotom putar tidak dapat digerakkan. 5. Optilab Gambar 6. Optilab Secara fisik, optilab (Gambar

Gambar 6. Optilab

Secara fisik, optilab (Gambar 6) merupakan kamera dengan resolusi 5 megapixel yang dihubungkan ke komputer/laptop melalui port USB. Optilab dipasangkan dengan mikroskop sebagai pengganti lensa okuler (Gambar 7). Oleh karena itu, optilab juga memiliki perbesaran yang sama dengan lensa okuler pada umumnya yaitu

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman
No. Dokumen
FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak
LAPORAN PRAKTIKUM
Revisi
LABORATORIUM SPT
Halaman

10X. Optilab adalah salah satu alat bantu untuk menayangkan bidang pengamatan mikroskop melalui komputer/laptop. Dengan dihubungkannya bidang pengamatan mikroskop ke

komputer/laptop, hasil pengamatan tersebut juga dapat disimpan sebagai gambar atau video, dan juga dapat ditayangkan melalui infocus proyektor. Sebagai upaya modernisasi perangkat mikroskop, penggunaan optilab sangat berperan positif termasuk

dalam dunia pendidikan

meningkatkan efisiensi mikroskop, karena tidak diperlukan banyak mikroskop untuk pengamatan objek. Selain itu, dengan ditampilkannya hasil pengamatan ke layar, peserta didik dapat mengamati objek yang sama dalam waktu bersamaan. Hal ini dapat menghindari kesalahan persepsi peserta didik dalam mendeskripsikan objek amatan yang dilihatnya.

Penggunaan optilab

objek amatan yang dilihatnya. Penggunaan optilab Gambar 7. Penggunaan Optilab pada mikroskop 6. Oven Gambar

Gambar 7. Penggunaan Optilab pada mikroskop

6.

Oven

optilab Gambar 7. Penggunaan Optilab pada mikroskop 6. Oven Gambar 8. Proses pemanasan paraffin Oven digunakan

Gambar 8. Proses pemanasan paraffin

Oven digunakan untuk mencairkan paraffin (Gambar 8) sebelum digunakan sebagai media embedding jaringan lunak pada pembuatan preparat permanen. Dalam proses pencairan paraffin digunakan suhu antara 58-60 o C. Hal ini dilakukan untuk menjaga paraffin agar tidak mendidih. Setelah cair, maka paraffin siap digunakan sebagai media embedding jaringan.

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman
No. Dokumen
FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak
LAPORAN PRAKTIKUM
Revisi
LABORATORIUM SPT
Halaman

7. Pengasah Pisau Mikrotom

Revisi LABORATORIUM SPT Halaman 7. Pengasah Pisau Mikrotom Gambar 9. Alat pengasah pisau mikrotom Pisau yang

Gambar 9. Alat pengasah pisau mikrotom

Pisau yang digunakan pada mikrotom harus tajam agar menghasilkan irisan preparat yang sesuai dengan ketebalan yang diinginkan. Untuk menjaga kerajaman pisau ini, beberapa jenis mikrotom mengharuskan pisaunya untuk diasah kembali menggunakan alat pengasah (Gambar 9). Namun ada juga mikrotom yang menggunakan pisau sekali pakai seperti pisau cutter.

8. Pisau Silet (Razor)

pakai seperti pisau cutter . 8. Pisau Silet ( Razor ) Gambar 10. Pisau silet Dalam

Gambar 10. Pisau silet

Dalam pembuatan preparat segar dapat pula menggunakan pisau silet (Gambar 10) untuk mengiris preparat. Namun, ketebalan irisan bisa tidak seragam bila dibandingkan dengan menggunakan mikrotom.

Selain alat-alat yang telah dipaparkan di atas, dalam praktikum maupun penelitian di laboratorium struktur perkembangan tumbuhan juga digunakan beberapa bahan. Penggunaan bahan-bahan ini berbeda-beda tergantung proses penelitian dan keperluan peneliti. Selanjutnya akan dijelaskan beberapa bahan- bahan yang umum digunakan di laboratorium ini.

1. Alkohol

Pada proses pembuatan preparat dibutuhkan alkohol bertingkat dengan konsentrasi 70%, 80%, 95%, dan 100%. Alkohol digunakan untuk tujuan dehindasi sel yang akan dibuat preparat permanen. Selain itu, alkohol juga digunakan sebagai pelarut zat warna (safranin dan fast green).

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman
No. Dokumen
FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak
LAPORAN PRAKTIKUM
Revisi
LABORATORIUM SPT
Halaman

2. Balsam Kanada

Revisi LABORATORIUM SPT Halaman 2. Balsam Kanada Balsam kanada digunakan sebagai perekat objek pengamatan ke

Balsam kanada digunakan sebagai perekat objek pengamatan ke kaca objek. Penggunaan balsam kanada biasanya pada preparat permanen. Adds et.al (2001) menjelaskan penggunaan balsam kanada memiliki keuntungan yaitu pengeringan lebih cepat dan tidak berubah warna dalam waktu lama.

Gambar 11. Balsam Kanada

3. Fast Green

Penggunaan pewarna fast green adalah sebagai pewarna kehijauan pada preparat. Pada pembuatan preparat permanen tumbuhan pewarnaan dengan fast green dilakukan dengan mencampurkan fast green pada fase perendaman preparat dengan alkohol 95%. Hal ini dilakukan karena fast green merupakan pewarna yang larut dalam alkohol (Anonim, 2003).

4. Paraffin

pewarna yang larut dalam alkohol (Anonim, 2003). 4. Paraffin Gambar 12. Paraffin Paraffin digunakan sebagai media

Gambar 12. Paraffin

Paraffin digunakan sebagai media embedding jaringan lunak, sebelum diiris dengan mikrotom. Paraffin dalam suhu kamar berbentuk padatan (Gambar 12), sehingga sebelum digunakan paraffin harus dicairkan terlebih dahulu dalam oven bersuhu 58-60 o C. Dengan suhu tersebut, paraffin telah cair namun tidak sampai mendidih. Cochran (2004) menjelaskan, parafin digunakan karena

dapat menempel pada jaringan yang akan diiris, jaringan menjadi tidak mengkerut. Spesimen yang telah di embedding dengan

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman
No. Dokumen
FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak
LAPORAN PRAKTIKUM
Revisi
LABORATORIUM SPT
Halaman

paraffin lalu ditempatkan pada skaca objek dan dibiarkan kering. Selanjutnya, parafin akan dihapus dengan xylene (xylol) atau pelarut lain.

5. Safranin

Safranin merupakan salah satu pewarna preparat. Warna yang muncul dengan pemberian safranin adalah merah. Safranin dapat larut dengan air maupun alkohol.

6. Xylol

Safranin dapat larut dengan air maupun alkohol. 6. Xylol Gambar 13. Xylol Preparat yang telah di

Gambar 13. Xylol

Preparat yang telah di embedding pada paraffin selanjutnya perlu dibersihkan agar struktur preparat dapat terlihat jelas. Salah satu pelarut yang digunakan untuk membersihkan paraffin adalah xylol (Gambar 13). Sass (1951) menjelaskan, dipilihnya xylol sebagai pelarut adalah karena biaya yang tidak mahal, dan xylol juga tidak beracun. Terdapat pelarut lain yang juga dapat digunakan seperti chloroform, namun chloroform harganya mahal dan juga beracun.

4.3 Pengamatan Preparat Menggunakan Mikroskop dan Optilab

Pada proses pengamatan preparat, praktikan mengamati preparat segar dan preparat permanen. Preparat segar yang diamati adalah daun Rhoe discolor dan daun Hydrilla sp. Pada sampel Rhoe discolor (Gambar 14) terlihat adanya stomata. Hasil amatan ini di ambil menggunakan optilab, sehingga memungkinkan untuk diberikan keterangan ukuran sel. Dari Gambar 14 terlihat ukuran sisi panjang stomata tersebut adalah 43,1µm. Fitur pengukuran ini sangat memudahkan dalam proses pengamatan, sehingga pengamat dapat dengan mudah mengetahui berapa ukuran sel yang sedang diamatinya. Stomata merupakan modifikasi dari epidermis.Stomata merupakan jalur pertukaran O2 dengan CO2 dan juga merupakan jalur utama keluarnya air dari

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman
No. Dokumen
FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak
LAPORAN PRAKTIKUM
Revisi
LABORATORIUM SPT
Halaman

permukaan daun. Walaupun luas permukaan stomata hanya 1-2% luas permukaan daun, namun bagian permukaan daun yang lain dilapisi oleh kutikula berlilin yang membatasi keluarnya air dari permukaan daun. Setiap stomata diapit oleh sepasang sel penjaga yang mengatur membuka dan menutupnya stomata melalui perubahan tekanan turgor (Reece, 2011).

stomata melalui perubahan tekanan turgor (Reece, 2011). Sel tetangga Sel penjaga Dinding sel Gambar 14. Stomata

Sel tetangga

Sel penjaga

Dinding sel

turgor (Reece, 2011). Sel tetangga Sel penjaga Dinding sel Gambar 14. Stomata Rhoe discolor Pengamatan preparat

Gambar 14. Stomata Rhoe discolor

Pengamatan preparat segar berikutnya adalah daun Hydrilla sp. Dari hasil pengamatan terlihat sangat jelas kloroplas pada daun tersebut. Warna hijau yang

sangat jelas kloroplas pada daun tersebut. Warna hijau yang Kloroplas Dinding sel Gambar 15. Sel daun

Kloroplas

Dinding sel

sangat jelas kloroplas pada daun tersebut. Warna hijau yang Kloroplas Dinding sel Gambar 15. Sel daun

Gambar 15. Sel daun Hydrilla sp.

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman
No. Dokumen
FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak
LAPORAN PRAKTIKUM
Revisi
LABORATORIUM SPT
Halaman

terlihat pada objek pengamatan merupakan kloroplas. Pada saat pengamatan menggunakan optilab, terlihat pergerakan kloroplas pada daun Hydrilla sp.Hal ini terjadi karena daun tersebut masih aktif melakukan fotosintesis. Pengamatan berikutnya menggunakan preparat permanen yang telah tersedia di laboratorium struktur perkembangan tumbuhan. Preparat yang digunakan adalah akar, batang, dan daun Zea mays (Gambar 16). Pada pengamatan menggunakan preparat ini, bagian-bagian penyusunnya sangat jelas terlihat. Hal ini didukung dengan ketebalan preparat yang sama, sehingga memungkinkan pengamatan dapat dilakukan dengan baik. Pengirisan sampel menggunakan mikrotom akan menghasilkan preparat yang tipis dan merata. Selain itu, preparat juga diberi warna sehingga perbedaan antar sel dapat terlihat jelas.

(a)
(a)
(b)
(b)
(c)
(c)

Gambar 15. Preparat Zea mays: (a) akar, (b) batang, (c) daun

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman V. Penutup 5.1

No. Dokumen

FO-UGM-BI-07-13

BORANG

Berlaku Sejak

LAPORAN PRAKTIKUM

Revisi

LABORATORIUM SPT

Halaman

V.

Penutup

5.1

Simpulan Dari praktikum instrumentasi di laboratorium struktur perkembangan

tumbuhan ini dapat disimpulkan:

1.

Bidang penelitian yang dilaksanakan di laboratorium struktur perkembangan tumbuhan yaitu morfologi, anatomi, embriologi, mikroteknik, palinologi, organologi, metabolik sekunder, kultur jaringan, dan beberapa tema di bidang fisiologi tumbuhan.

2.

Pemahaman tentang penggunaan alat dan bahan sangat penting untuk menunjang keberhasilan penelitian.

3.

Preparat yang biasa digunakan ada tiga jenis yaitu preparat segar, preparat semi permanen, dan preparat permanen

4.

Mikrotom yang digunakan di laboratorium struktur perkembangan tumbuhan adalah mikrotom putar (untuk preparat yang di embedding dalam paraffin) dan mikrotom geser (untuk preparat yang bertekstur keras.

5.

Penggunaan optilab sangat membantu dalam proses pembelajaran. Efisiensi penggunaan mikroskop juga meningkat.

5.2

Saran

Mengingat pentingnya keterampilan membuat prepatar yang baik, maka perlu adanya praktik pembuatan preparat semi permanen maupun permanen. Selain itu, dalam penggunaan optilab jumlah unit yang terbatas membuat praktikan kurang mendalami pemahaman cara penggunaannya.

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman Daftar Rujukan Adds,

No. Dokumen

FO-UGM-BI-07-13

BORANG

Berlaku Sejak

LAPORAN PRAKTIKUM

Revisi

LABORATORIUM SPT

Halaman

Daftar Rujukan Adds, J., Larkcom, E., Miller, R., Sutton R., 2001. Tools, Techniques and Assessment in Biology - A Course Guide for Students and Teachers. Cheltenham: Nelson Thornes, Ltd.

Anonim, 2003. Food Chemical Codex, 5 th Edition. Washington: The National Academies Press.

Bancroft, J., Suvarna, K., Layton, C., 2008. Theory and practice of histological techniques. 7 th edition. Philadelphia: Churchill Livingstone Elsevier.

Bendre, M. A., Kumar, A., 2009. Text Book of Practical Botany 1. New Delhi:

Rastogi Publications.

Cochran, P. E., 2004. Laboratory Manual for Comparative Veterinary: Anatomy and Physiologi. Toronto: Thomson Learning, Inc.

Hayat, M. A., 1981. Fixation for Electron Microscopy. New York: Academic Press, Inc.

Majrit, B., 2008. Manual of Histology, General Anatomy, Embryology and Genetics. Calcutta: Academic Publishers.

Preston, R. D., 1963. Advances in Botanical Research, Vol. 1. London: Academic Press, Inc.

Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A., Minorsky, P. V., Jackson, R. B., 2011. Campbell Biology Ninth Edition. San Francisco: Pearson Education, Inc.

No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13 BORANG Berlaku Sejak LAPORAN PRAKTIKUM Revisi LABORATORIUM SPT Halaman Sass, J. E.,

No. Dokumen

FO-UGM-BI-07-13

BORANG

Berlaku Sejak

LAPORAN PRAKTIKUM

Revisi

LABORATORIUM SPT

Halaman

Sass, J. E., 1951. Botanical Microtechnique. Iowa: The Iowa State College Press.

Susandarini, R., 2004. Diakses 7 Desember 2013. Teknik Preparasi Serbuk Sari

dan

chapter_view.php?BIO3107.Paleobotani&320

Pengamatan

Preparat

Serbuk

Sari.

http://elisa1.ugm.ac.id/

Youssef, N. N., Dugan, F. M., 2000. Location of an Endophytic Neotyphodium sp. within Various Leaf Tissues of Wild Barley (Hordeum brevisubulatum subsp. violaceum). Plant Genetic Resources Newsletter. No. 124. p.17-19