Anda di halaman 1dari 26

Terapi Oksigen

Nofiyarti (I1106026) PSPD Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tanjungpura Pontianak 26 April 2010

Definisi
Oksigen : Senyawa farmakologis, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa, digunakan untuk proses pembakaran (Proses oksidasi) Terapi oksigen : pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibanding konsentrasi oksigen udara dalam ruang dengan tujuan untuk mencegah hipoksemia

Tujuan
Mengoptimalkan oksigenasi jaringan dan meminimalkan asidosis memfasilitasi metabolisme aerob Mempertahankan PaO2 >60 mmHg atau SaO2 > 90 % ( FiO2 serendah mungkin)

mencegah hipoksia sel dan jaringan mengurangi kerja nafas mengurangi kerja otot jantung

Indikasi
Hipoksemia (pada AGDA PaO2 atau SpO2 ) Diduga hipoksemia (misalnya syok dan keracunan gas CO) Menurunnya kerja napas pemulihan pasca anestesi Menurunnya kerja miokard infark miokard Trauma berat

Hipoksemia
Penurunan tekanan parsial oksigen (PaO2 dalam darah arteri) Neonatus : PaO2 < 50 mmHg atau SaO2 < 88% Dewasa, anak, bayi : PaO2 < 60 mmHg atau SaO2 < 90%

Effect Respiratory Increases Ventilation


Cardiovascul ar

Possible benefit

Negative consequenc es

Increases PaO2

Increases Work of breathing

Hipoxemia

Increases HR and SV Induce Pulmonary Vasoconstriction

Improves ventilationperfusion matching Increases PaO2 & oxygen delivery

Increases Pulmonaryartery pressure

Hematologi c Increases Erythropoietin & hemoglobin consentration

Increases Oxygen Carying capacity

Increases myocardial work

Mekanisme hipoksemia

Gangguan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch) PPOK, retensi sputum, penyakit kardiovaskuler Hipoventilasi alveolar PPOK eksaserbasi, sleep apneau, overdosis obat Shunt (pirau) pneumonia, ARDS, atelektasis, edema paru kardiogenik, emboli paru Gangguan difusi fibrosis interstisial, edema interstisial, sarkoidosis, asbetosis, penyakit kolagen vaskular Penurunan tekanan oksigen inspirasi tempat ketinggian, anemia, perdarahan

Hipoksemia Hipoksia Jaringan


(Hipoksia hipoksik, hipoksia anoksia, hipoksia stagnan, hipoksia histotoksik)

Deteksi hipoksemia
Gejala klinis Analisis gas darah Oksimetri Transkutaneus

1. Gejala klinis
Sesak napas Napas cepat dan dangkal Frekuensi napas 35 kali/menit Ada gerak cuping hidung Retraksi sela iga Sianosis (sudah terlambat) lain-lain : kelelahan, disorientasi, takikardi, bradikardi, aritmia, hipertensi, hipotensi

2. Analisis gas Darah


PaO2 dan SaO2 (gold standard) Saturasi O2 : jumlah oksigen yang berikatan dengan Hb

PaO2 Normal Kisaran normal 97 > 80 Sa O2 (%) 97 > 95

Hipoksemia Ringan Sedang Berat

< 80 60-79 40-59 < 40

< 95 90-94 75-89 < 75

3. Pulse Oxymetri Menjepitkan alat oksimetri pada ujung jari atau daun telinga Akurasi cukup baik bila SaO2> 80%

Penggunaan Oksigen
Suplemen keadaan akut < 30 hari (mis pneumonia, asma eksaserbasi) Terapi

Short term oxygen therapy memerlukan oksigen 30-60 hari (mis gagal jantung) Long term Oxygen therapy memerlukan O2 > 90 hari (mis: PPOK)

Metode pemberian oksigen1


Pemberian oksigen : Fraksi Inspirasi oksigen (FiO2) serendah mungkin mempertahankan PaO2 > 60mmhg dan SaO2 > 90% Pemberian O2 tergantung :

FiO2 yang dibutuhkan Kenyamanan pasien Tingkat kelembaban Kebutuhan nebulisasi

Menentukan dosis oksigen

Metode pemberian oksigen


1. Sistem aliran rendah
diberikan untuk menambah konsentrasi udara ruangan. Tehnik ini menghasilkan FiO2 yang bervariasi tergantung pada tipe pernafasan dengan patokan volume tidal pasien. Pemberian O2 sistem aliran rendah ini ditujukan untuk klien yang memerlukan O2 tetapi masih mampu bernafas dengan pola pernafasan normal, misalnya klien dengan Volume Tidal 500 ml dengan kecepatan pernafasan 16 20 kali permenit.
Contoh alat pemberi oksigen aliran rendah: FIO2 rendah : kateter Nasal, Kanul Nasal FIO2 tinggi : sungkup muka sederhana, dengan kantong non rebreathing, dengan kantong rebreathing

Kateter nasal Paling sederhana, hanya berupa seutas selang kecil yang dipasang di rongga hidung Dapat memberikan FiO2 antara 24-32 % pada aliran oksigen antara 1-3 l/mnt
Kanul nasal Menghasilkan FiO2 antara 24-44%, tergantung pada aliran dan isi ayunan nafas penderita Aliran oksigen berkisar 1-6 l/mnt FiO2 bertambah 4% untuk setiap

Sungkup muka sederhana Memperbesar daya tampung anatomi udara respirasi Dapat memberikan FiO2 antara 6080% pada aliran oksigen 5-8 ltr/menit

Sungkup muka dengan kantung rebreathing


Memiliki kantung penampung udara respirasi dan tidak memiliki katup baik antara sungkup dg udara luar maupun dg kantung Harus selalu terpasang rapat pada muka penderita sehingga kantung mengembang (pastikan aliran > 8l/mnt) Dapat memberikan FiO antara 6080% pada aliran antara 8-12 l/mnt

Sungkup muka dengan kantung non rebreathing

FiO2 maks 60-80% pada aliran oksigen 100% sbb


6 l/mnt : 60%, 7 l/mnt : 70 %, > 10 l/mnt : 100%

Disarankan digunakan pada :


Gangguan nafas berat dg nafas spontan dan memerlukan O2 kadar tinggi Diharapkn dengan intervensi cepat dapat memperbaiki keadaan klinis (mis : asma berat, PPOK) sehingga intubasi dihindarkan Indikasi relatif pemasangan PET namun refleks faring masih ada/rahang mengunci/ktrbtsn fisik lain

2. Sistem aliran tinggi


Suatu teknik pemberian O2 dimana FiO2 lebih stabil dan tidak dipengaruhi oleh tipe pernafasan, sehingga dengan teknik ini dapat menambahkan konsentrasi O2 yang lebih tepat dan teratur. Adapun contoh tehnik system aliran tinggi yaitu sungkup muka dengan ventury.

Sungkup Venturi
Digunakan pada penderita hiperkarbi disertai dengan hipoksemia sedangberat PaO2 yang tinggi dapat mengakibatkan hilangnya rangsang nafas FiO2 dapat diberikan mulai 24%-40% tergantung dari jenis venturi yang

Kontraindikasi
Keterbatasan jalan nafas dg keluhan dispneu tapi PaO2 60 mmHg dan tidak mempunyai hipoksia kronik Pasien yg meneruskan merokok Pasien yg tidak menerima terapi adekuat

Kesimpulan

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai