Anda di halaman 1dari 29

PERDARAHAN POST PARTUM

DISUSUN OLEH: DEWI ANDRIANI (010911005) PRADITA SOFIANA (010911010) TATIA MONICA

DEFINISI
Oxorn & Forte, 2010 Hilangnya darah lebih dari 500 ml selama 24 jam pertama merupakan pengertian dari perdarahan postpartum.

Benson & Pernoll, 2009 Perdarahan postpartum dapat diartikan juga hilangnya darah lebih dari 500ml secara cepat atau lambat setelah melahirkan.

PERDARAHAN POST PARTUM


Menurut waktu terjadinya: Perdarahan postpartum primer (early postpartum hemorrhage) Hilangnya darah lebih dari 500ml yang terjadi dalam waktu 12-24 jam setelah melahirkan. Lebih sering dijumpai pada kasus-kasus bayi yang besar, hidramnion (kelebihan air ketuban), persalinan lama atau proses kelahiran yang sulit.

Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage) Hilangnya darah lebih dari 500 ml yang terjadi sejak 24 jam setelah melahirkan. Hampir selalu disebabkan oleh infeksi akibat retensi produk pembuahan di dalam uterus

Etiologi
Atonia Uteri Suatu keadaan dimana uterus gagal berkontraksi dan mengecil setelah janin keluar dari rahim Atonia uteri juga dapat timbul karena salah penanganan kala III persalinan, dengan memijat uterus dan mendorongnya kebawah dalam usaha melahirkan plasenta, sedang sebenarnya ia belum terlepas dari uterus.

Cont...
Trauma dan Laserasi Perdarahan yang terjadi akibat perlukaan jalan lahir : Robekan Perineum HematomaVulva Robekan dinding vagina Robekan serviks Ruptura uteri

Cont...
Retensio Plasenta Apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah bayi lahir. Bagian plasenta yang masih melekat menghambat retraksi myometrium dan perdarahan berlangsung terus menerus sampai sisa organ tersebut terlepas serta dikeluarkan. Kelainan darah Kegagalan pada mekanisme pembekuan, menyebabkan perdarahan yang tidak dapat dihentikan dengan tindakan yang biasanya dipakai untuk mengendalikan perdarahan.

Patofisiologi
Perdarahan berasal dari tempat plasenta, bila tonus uterus tidak ada, kontraksi uterus lemah, maka spiral anteries yang seharusnya tertutup akibat kontraksi uterus tersebut tetap terbuka. Darah akan terus mengalir melalui bekas melekatnya plasenta ke cavum uteri dan seterusnya keluar pervaginam

Pemeriksaan Diagnostik
Golongan darah Jumlah darah lengkap Kultur uterus dan vaginal: Urinalisis Profil koagulasi Sonografi

Penatalaksanaan
Penanganan perdarahan pasca persalinan pada prinsipnya adalah hentikan perdarahan, cegah/atasi syok, ganti darah yang hilang dengan diberi infus cairan (larutan garam fisiologis, plasma ekspander, Dextran-L, dan sebagainya), transfusi darah, kalau perlu oksigen.

cont Pada perdarahan yang timbul setelah anak lahir, ada dua hal yang harus segera dilakukan, yaitu menghentikan perdarahan secepat mungkin dan mengatasi akibat perdarahan. Tetapi apabila plasenta sudah lahir, perlu ditentukan apakah disini dihadapi perdarahan karena atonia uteri atau karena perlukaan jalan lahir.

Penanganan pada Atonia Uteri


Masase uterus + pemberian utero tonika (infus oksitosin 10 IU s/d 100 IU dalam 500 ml Dextrose 5%, 1 ampul Ergometrin I.V, yang dapat diulang 4 jam kemudian, suntikan prostaglandin. Kompresi bimanual

Tampon utero-vaginal Tindakan operatif

Penanganan pada trauma jalan lahir


Trauma jalan lahir seperti episiotomi dan robekan-robekan yang terjadi di vagina, pirenium dan serviks dapat ditangani oleh proses penjahitan.

Penanganan pada hematoma vulva


Penanganan hematoma tergantung pada lokasi dan besar hematoma. Pada hematoma yang kecil, tidak perlu tindakan operatif, cukup dilakukan kompres.

Penanganan pada retensio uteri


Pengeluaran plasenta dengan tangan kini dianggap cara yang paling baik

Asuhan Keperawatan
Pengkajian
Aktivitas/ istirahat Sirkulasi Integritas ego Seksualitas Penyuluhan/pembelajaran

Perdarahan postpartum primer (sampai 24 jam setelah kelahiran)


1. Sirkulasi: Perubahan tekanan darah dan nadi (mungkin tidak terjadi sampai kehilangan darah bermakna). Pelambatan pengisian kapiler. Pucat; kulit dingin/lembab. Perdarahan vena gelap dari uterus ada secara eksternal (plasenta tertahan). Dapat mengalami perdarahan pervaginam berlebihan, atau rembesan dari insisi sesaria atau episiotomi; rembesan dari kateter intravena, sisi injeksi intramuskular, atau kateter urinarius. Hemoragi berat atau gejala syok di luar proporsi jumlah kehilangan darah.

Cont Eliminasi: kesulitan berkemih dapat menunjukan hematoma dari porsi atas vagina. Nyeri/ketidaknyamanan: sensasi nyeri terbakar/robekan (laserasi), nyeri vulva/vagina/pelvis/punggung berat (hematoma), nyeri uterus lateral, nyeri panggul, nyeri tekan abdominal. Keamanan:
Laserasi jalan lahir: darah merah terang sedikit menetap dengan uterus keras, uterus kontraksi dengan baik; robekan terlihat pada labia mayora/minora, dari muara vagina ke perineum; robekan luas dari episiotomi, ekstensi episiotomi kedalam kubah vagina, atau robekan pada serviks.

Seksualitas:
Pembesaran uterus lunak dan menonjol, sulit dipalpasi; perdarahan merah terang dari vagina; bekuan-bekuan besar dikeluarkan pada masase uterus (atoni uterus). Uterus kuat, kontraksi baik atau kontraksi parsial, dan agak menonjol (fragmen-fragmen plasenta yang tertahan). Fundus uterus terinversi; mendekat pada kontak atau menonjol melalui os eksternal. Kehamilan baru dapat mempengaruhi overdistensi uterus, abrupsio plasenta, plasenta previa.

Perdarahan postpartum sekunder (24 jam sampai 28 hari setelah melahirkan)


Sirkulasi: rembesan kontinu atau perdarahan tiba-tiba, tampak pucat, anemis. Nyeri/ketidaknyamanan: nyeri tekan uterus (fragmen-fragmen plasenta tertahan), ketidaknyamanan vagina/pelvis, sakit punggung. Keamanan: lokhea bau busuk (infeksi), pecah ketuban dini. Seksualitas: tinngi fundus gagal kembali pada ukuran dan fungsi sebelum kehamilan, terus terlepasnya jaringan.

Diagnosa Keperawatan
Kekurangan volume cairan b.d. perdarahan pervaginam. Perubahan perfusi jaringan b.d. hipovolemia. Cemas b.d. ancaman perubahan pada status kesehatan atau kematian. Kurang pengetahuan tentang kondisi b.d. kurangnya pemajanandan tidak mengenal sumber informasi.

Rencana Keperawatan
Dx 1. Kekurangan volume cairan b.d. perdarahan pervaginam
Kriteria hasil: menunjukkan perbaikan dalam keseimbangan caitan dibuktikan oleh tanda vital stabil, pengisian kapiler cepat, sensorium tepat, dan haluaran urin individual dan berat jenis adekuat. Intervensi:

Tinjau ulang catatan kehamilan dan persalinan, perhatikan faktorfaktor penyebab atau pemberat pada situasi hemoragi. Kaji dan catat jumlah, tipe, dan sisi perdarahan; timbang dan hitung pembalut; simpan bekuan untuk dievaluasi oleh dokter.

Cont..
Lakukan tirah baring dengan kaki ditinggikan 20 sampai 30 derajat dan tubuh horisontal Berikan lingkungan yang tenang dan dukungan psikologis.

Kolaborasi untuk pemberian infus dari cairan isotonik atau elektrolit melalui jalur vena sentral. Berikan darah lengkap atau produk darah. Berikan obat-obatan sesuai indikasi.

Dx 2. Perubahan perfusi jaringan b.d. hipovolemia

Kriteria hasil: menunjukkan TD, nadi, gas darah arteri serta Hb/Ht dalam batas normal Intervensi:

Perhatikan Hb/Ht sebelum dan setelah kehilangan darah. Kaji status nutrisi, tinggi dan berat badan. Pantau tanda vital, catat derajat dan durasi episode hipovolemik Kaji warna dasar kuku, mukosa mulut, gusi, dan lidah; perhatikan suhu kulit. Perhatikan tingkat kesadaran dan adanya perubahan perilaku. Kaji payudara setiap hari, perhatikan ada atau tidaknya laktasi dan perubahan pada ukuran payudara. Pantau GDA dan kadar pH. Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan.

Dx 3. Cemas b.d. ancaman perubahan pada status kesehatan atau kematian.

Kriteria hasil: melaporkan ansietas berkurang, tampak rileks, dapat tidur atau istirahat dengan tepat, mengidentifikasi cara-cara sehat untuk menghadapi perasaan. Intervensi: Evaluasi respon psikologis serta persepsi klien terhadap kejadian hemoragi pascapartum. Klarifikasi kesalahan konsep. Evaluasi respon fisiologis pada hemoragi pascapartum; mis., takikardia, takipnea, gelisah, atau iritabilitas. Bantu klien dalam mengidentifikasi perasaan ansietas; berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan. Kaji stategi koping dan implikasi jangka panjang dari episode hemoragi. Tunjukkan sikap tenang, empati, dan mendukung.

Dx 4. Kurang pengetahuan tentang kondisi b.d. kurangnya pemajanandan tidak mengenal sumber informasi Kriteria hasil: mengungkapkan dalam istilah sederhana patofisiologis dan implikasi situasi klinisnya. Intervensi: Jelaskan faktor predisposisi atau penyebab dan tindakan khusus terhadap penyebab hemoragi. Kaji tingkat pengetahuan klien/pasangan, kesiapan, dan kemampuan untuk belajar. Dengarkan, bicara dengan tenang, dan berikan waktu untuk bertanya meninjau materi. Diskusikan implikasi jangka pendek dari hemoragi pascapartum, seperti perlambatan atau interupsi pada proses kedekatan ibu-bayi.

Diskusikan implikasi jangka panjang dari hemoragi pascapartum dengan tepat; mis., risiko hemoragi pascapartum pada kehamilan selanjutnya, atonia uterus, atau ketidakmampuan untuk melahirkan anak pada masa datang bila histerektomi dilakukan.

Referensi

Benson, R.C. & Pernoll, M.L. 2009. Buku saku obstetri dan ginekologi, ed. 9. Jakarta: EGC. Doenges,M.E. & Moorhouse, M.F. 2001. Rencana perawatan maternal/bayi: Pedoman untuk perencanaan dan dokumentasi keperawatan klien. Jakarta: EGC. Farrer, H. 2001. Perawatan maternitas. Jakarta: EGC. Hamilton, P.M. 1995. Dasar-dasar keperawatan maternitas. Jakarta: EGC. Oxorn, H. & Forte, W.R. 2010. Ilmu kebidanan: Patologi & fisiologi persalinan. Yogyakarta: Yayasan Essentia Medica. Perdarahan pasca persalinan, (On-line), (http://www.scribd.com/doc/8649214/PENDARAHAN-PASCA-PERSALINAN, diakses 22 september 2011). Perdarahan postpartum, (On-line), (http://www.scribd.com/doc/6502612/PerdarahanPostpartum, diakses 22 september 2011). Prawirohardjo, S. 2002. Ilmu kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. Smith, J.R. 2011. Postpartum hemorrhage. (On-line), (http://emedicine.medscape.com/article/275038-overview, diakses 22 september 2011).