Anda di halaman 1dari 3

UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK BATANG KASTURI (Mangifera casturi Kosterm) DALAM BENTUK PASTA GIGI TERHADAP PERTUMBUHAN

Streptococcus mutans 2302-UNR SECARA IN VITRO

I.

Latar belakang

Indonesia

merupakan

negara

yang

kaya

akan

tanaman

obat. Penggunaannya

dapat dalam bentuk segar tunggal, campuran, dan berupa ramuan yang lebih dikenal sebagai obat tradisional atau jamu. Obat tradisional sudah biasa digunakan oleh masyarakat sejak dahulu, sehingga obat tradisional relatif aman dikonsumsi manusia. Meskipun demikian, pembuktiannya secara ilmiah tetap diperlukan untuk menjamin keamanannya. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri di negara berkembang termasuk Indonesia memiliki prevalensi yang tinggi, khususnya penyakit infeksi pada rongga mulut (Sarmin, 2011). Beberapa penyakit infeksi rongga mulut yang disebabkan oleh bakteri antara lain gingivitis, abses gigi, dan karies gigi. Bakteri yang paling berperan dalam pembentukan karies gigi yaitu Streptococcus mutans (S. mutans). Permukaan gigi yang telah terinfeksi oleh S. mutans mengakibatkan rusaknya struktur gigi, yang dapat menyebabkan gigi berlubang maupun karang gigi. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, penanggalan gigi, berbagai kasus berbahaya (seperti jantung, ginjal, otot, mata, dan kulit), hingga kematian (Notohartojo et al., 2011). Bakteri S. mutans merupakan flora normal di dalam rongga mulut, berbentuk bulat dan berantai, tumbuh dan berkembang biak pada suhu 18-40oC (suhu rongga mulut). Bakteri ini bersifat nonmotil (tidak bergerak) dan fakultatif anaerob. Morfologi S. mutans tidak memiliki endospora, tidak berkapsul dan memiliki dinding bakteri tebal yang tersusun atas peptidoglikan, sehingga S. mutans dapat digolongkan sebagai bakteri gram positif. Bakteri S. mutans merupakan mikroorganisme khusus yang dilengkapi dengan reseptor yang memungkinkan untuk melekat pada permukaan gigi dan menciptakan lingkungan yang berlendir (Toodar, 2012). Tumbuhan kasturi (Mangifera casturi Kosterm) merupakan flora khas Kalimantan Selatan yang berkhasiat sebagai antibakteri. Menurut penelitian Rosyidah (2010) yang melakukan uji aktivitas antibakteri fraksi saponin dari kulit batang tumbuhan kasturi, menunjukkan bahwa fraksi yang dihasilkan dari kulit batang kasturi memiliki aktivitas antibakteri. Fridayanti (2012) telah menguji senyawa yang terdapat di dalam kulit batang kasturi yang bersifat antibakteri adalah saponin, steroid, dan tannin. Senyawa yang dihasilkan bersifat mudah larut dalam air, sehingga digunakan pelarut polar, yaitu etanol 96%. Penelitian Ariza

(2013) tentang potensi antibakteri ekstrak metanol kulit batang kasturi terhadap bakteri S. mutans penyebab karies menunjukkan bahwa ekstrak kulit batang kasturi memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan S. mutans, dengan daya hambat minimal terhadap bakteri S. mutans adalah 20 %. Berdasarkan uraian beberapa penelitian di atas, disimpulkan bahwa di dalam kulit batang kasturi memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. mutans. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan uji daya antibakteri kulit batang kasturi dalam bentu sediaan pasta gigi terhadap pertumbuhan S. mutans secara in vitro.