Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Jamur tiram merupakan salah satu produk yang sekarang sedang diminati masyarakat baik sebagai makanan maupun obat. Budidaya jamur tiram selama ini masih sering dilakukan didataran tinggi karena ekologi yang dikehendaki adalah suhu rendah dengan tingkat kelembaban yang tinggi. Jamur tiram putih sudah banyak dikenal oleh konsumen sehingga telah memiliki pasar yang baik. Jamur tiram putih ini memiliki sifat menetralkan racun dan zat radioaktif dalam tanah. Khasiat kesehatan adalah menghentikan pendarahan dan mempercepat pengeringan luka pada permukaan tubuh, mencegah penyakit diabetes militus, dan memperlancar buang air besar. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang mengkonsumsi jamur tiram putih ini. Potensi jamur tiram sangat baik, sehingga banyak dari penduduk yang kemudian mulai membudidayakan jamur tiram putih ini. Dikota Palu (Sulawesi Tengah) terdapat banyak meibel usaha kayu sehingga itu mampu menghasilkan limbah serbuk gergaji, serta pengolahan dari limbah serbuk gergaji ini masih sangat kurang, Hal ini menjadi salah satu masalah bagi lingkungan. Dengan adanya pemanfaatan limbah serbuk gergaji dan dikomposisikan dengan dedak padi sebagai media tumbuh jamur tiram, melalui tahapan tertentu sehingga dapat bernilai ekonomis, serta memberikan kontribusi yang baik untuk kesehatan tubuh

1.2

Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari karya tulis ilmiah ini yaitu bagaimana cara memanfaatkan limbah serbuk gergaji dan dedak padi sebagai media tumbuh jamur tiram?

1.3 Tujuan Adapun tujuan dari karya tulis ilmiah ini yaitu untuk memanfaatkan limbah serbuk gergaji dan dedak padi sebagai media tumbuh jamur tiram.

BAB II TINAJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Botani jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) Jamur Tiram merupakan salah satu jenis jamur kayu. Jamur merupakan organisme yang tidak berklorofil, oleh karena itu jamur mengambil zat-zat makanan yang sudah jadi yang dibuat atau dihasilkan oleh organisme lain untuk kebutuhan hidupnya. Tubuh buah jamur memiliki tudung dan tangkai. Tudung berbentuk mirip cangkang tiram berukuran 3-14 cm dan permukaan bagian bawah berlapis-lapis seperti insang berwarna putih dan lunak (Sumarmi, 2006). Jamur tiram dapat ditanam pada bahan yang mengandung Lignosellulosa tanpa dipersiapkan lebih dahulu seperti difermentasi atau tanpa dikomposkan terlebih dahulu. Pertumbuhan mesellium pada bagas lebih cepat dibandingkan jeram dan sekam padi. Untuk jamur tiram putih sangat cocok ditanam pada media kayu gergaji dari kayu AIbizia (Sri Sumarsih, 2OO7 ). Tahap-tahap pertumbuhan jamur tiram adalah spora (Basidiospora) yang telah masak atau dewasa jika berada ditempat yang lembab akan tumbuh dan berkecambah membentuk serat-serat halus menyerupai serat kapas, yang disebut miselium atau miselia dalam waktu 21-49 hari. Jika tempat tumbuh miselia baik maka kumpulan miselia ini akan membentuk primordial atau bakal tubuh buah jamur selama 13-34 hari. Bakal tubuh buah jamur tersebut kemudian akan membesar dan akhirnya membentuk tubuh buah yang kemudian dipanen (2-3 hari). Tubuh buah jamur dewasa akan membantuk spora. Spora ini tumbuh di bagian ujung basidium sehingga disebut basidiospora. Jika sudah matang atau dewasa, spora akan jatuh dari tubuh buah jamur (Suriawiria, 2002).

2.2 Cara Budidaya Penumbuhan Miselium dimulai dengan media diinokulasi dengan bibit F-2, diinkubasikan dengan posisi baglog berdiri. Baglog ditata pada ruang dengan suhu kamar : 27 oC 30 oC. Masa inkubasi, miselium memenuhi media tanam
3

(miselium tumbuh sempurna) untuk jamur tiram putih sampai 3 - 4 minggu, untuk tiram coklat 4 - 6 minggu setelah inokulasi F-2. Tumbuhnya miselium pada media tanam ditandai adanya benang-benang putih diseluruh permukaan dan dalam media tanam. Bila pertumbuhan miselium telah mencapai 90 % - 95 o/o,bag log disusun mendatar pada ral<-rakan kumbung ( rumah jamur ) dan tutup baglog (cincin) dibuka. Penumbuhan tubuh buah jamur dibutuhkan suhu 22 oC - 26 oC dan kelembaban 90% - 94%. Untuk mencapai suhu dan kelembaban tersebut diatas dilakukan penyiraman seperti hujan dalam ruang kumbung dan dasar kumbung. Satu minggu setelah dibuka biasanya tunas tumbuh jamur tumbuh. Tubuh jamur yang tumbuh dibiarkan selama 3 - 4 hari dan bila pertumbuhan jamur sudah maksimal dipanen (Wigati lsnawan dkk, 2003). 2.3 Serbuk Gergaji Cahyana (2006) menyatakan serbuk kayu yang baik adalah serbuk kayu tersebut tidak bercampur dengan bahan bakar, misalnya solar, atau sebagaian besar bukan berasal dari jenis kayu yang banyak mengandung getah (terpentin) karena dapat menghambat pertumbuhan jamur. Contoh jenis kayu yang dapat digunakan adalah kayu sengon, randu, meranti, dan albasia. Jenis kayu tersebut tidak mengandung getah atau minyak yang dapat menghambat pertumbuhan jamur. Komposisi kandungan kimia kayu disajikan pada tabel 2 berikut ini: Tabel 2. Komposisi Kandungan Kimia Kayu Komposisi Kimia Kayu selulosa Lignin Pentosa Zat ekstratif Abu
Sumber: Cahyana (2004). 4

Golongan Kayu
Kayu berdaun lebar 40 -45 18 33 21 24 1 12 0,22 - 6 Kayu berdaun jarum 41 44 28 32 8 13 2,03 0,89

Serbuk

kayu sengon merupakan bahan substrat lignoselulosa yang

mengandung bahan organik cukup tinggi. Bahan organik yang dikandung serbuk gergaji kayu sengon tidak dapat secara langsung diserap oleh jamur tiram, sehingga diperlukan proses penguraian bahan organik terlebih dahulu dengan cara dikomposkan (Pasaribu, 1987 dalam Ervina, 2000). Agus (2006) menambahkan serbuk gergaji kayu yang baik digunakan adalah serbuk gergaji kayu yang tidak terlalu keras, misalkan kayu sengon, karena kayu yang tidak terlalu keras lebih baik digunakan sebagai media tanam. 2.4 Dedak Padi Dedak padi (huut dalam bahasa sunda) merupakan hasil sisa dari penumbukan atau penggilingan gabah padi. Gabah tersusun dari 15-30 % kulit luar (sekam), 4-5% kulit ari, 12-14% dedak, 65-67% endosperm dan 2-3% lembaga. Dedak tersusun dari tiga bagian yang masing masing berbeda kandungan zatnya. Ketiga bagian tersebut adalah: a. Kulit gabah yang banyak mengandung serat kasar dan mineral b. Selaput perak yang kaya akan protein dan vitamin B1, juga lemak dan mineral. c. Lembaga beras yang sebagian besar terdiri dari karbohidrat yang mudah dicerna.xxiii Dedak mengandung beberapa nutrisi yang diperlukan dalam pertumbuhan dan perkembangan jamur. Nutrisi yang dibutuhkan dalam bentuk unsur hara seperti nitrogen, fosfor, belerang, karbon serta beberapa unsur yang lain terdapat pada serbuk gergaji dalam jumlah yang terbatas sehingga diperlukan penambahan nutrisi yang bias didapatkan dari dedak. Dedak mengandung protein, selulosa, serat, nitrogen, lemak dan P2O5 (Genders, 1986).

BAB III METODE PELAKSANAAN KERJA

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktek kerja (Magang) ini dimulai pada tanggal 20

September sampai dengan tanggal 12 November 2013 di tempat Rumah Jamur ( Sumber Urip jamur) jalan Poebongo Lorong PS Harimau No 2 Kec. Palu Barat kota Palu.

3.2 Alat dan Bahan a. Alat Alat yang digunakan yaitu : 1. Alat Sterilisasi, bisa berupa drum, autoclave maupun boiler (steril bak) lengkap dengan kompor. 2. Alat Pengadukan, ayakan, cangkul, sekop, ember, ayakan besar (ayakan pasir), timbangan 3. Alat inokulasi, lampu bunsen, masker, spatula/pinset, alkohol/spritus, handSprayer 4. Plastik baglog, karet gelang,cincin penutup khusus jmur, kertas, plastik 5. Alat angkut (argo), keranjang 6. Alat penyiraman 7. Alat Panen

b. Bahan 1. Dedak padi 2. Serbuk gergaji 3. Kapur (CaCO3) 4. Gips

5. Air

3.3 prosedur kerja Adapun prosedur kerja pembibitan jamur tiram adalah : 1. Pengayakan Pengayakan adalah kegiatan memisahkan atau menyaring media yaitu limbah serbuk gergaji sehingga didapat media yang berukuran sama. Tujuannya untuk mendapatkan media tanam yang memiliki kepadatan tertentu tanpa merusak kantong plastik (baglog) dan mendapatkan tingkat

pertumbuhan miselia yang merata. 2. Pencampuran Media yang digunakan sebagai media tumbuh yaitu serbuk gergaji dan dedak dan bahan tambahannya yaitu kapur kapur (CaCO3) dan gips serta tiap baglog berisi 1 kg. 3. Pemeraman Kegiatan menimbun campuran kemudian menutupnya secararapat dengan menggunakan plastik atau terpal selama 1 malam. Tujuannya menguraikan senyawa-senayawa kompleks dengan bantuan mikroba agar diperoleh senyawa-senyawa yang lebih sederhana, sehingga lebih mudah dicerna oleh jamur dan memungkinkan pertumbuhan jamur yang lebih baik. 4. Pengisian Media ke Kantung Palstik (Bag log) Kegiatan memasukan campuran media ke dalam plastik polipropile (PP) dengan kepadatan tertentu agar miselia jamur dapat tumbuh maksimal dan mampu menghasilkan panen yang optimal. Tujuannya menyediakan media tanam bagi bibit jamur. Prosedur pelaksanaan pengisian media kekantong plastik (bag log) antara lain ;

Campuran yang sudah dikompos dimasukan kedalam kantong plastik

yang sudah disediakan Padatkan campuran dengan alat pemadat Ujung plastik disatukan dan dipasang cincin dari potongan paralon pada bagian leher plastik kemudian ditutup mnggunakan plastik yang dikat mnggunakan karet gelang. bungkusan akan menyerupai botol Sterilisasi Sterilisasi adalah suatu proses yang dilakukan untuk menonaktifkan mikroba,baik bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat menganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Tujuannya mendapatkan campuran media yang steril bebas dari mikroba dan jamur lain yang tidak dikendaki. Sterilisasi dilakukan menggunakan drum atau autoclave. 5. Pendinginan Proses pendinginan merupakan suatu upaya menurunan suhu media tanam setelah disterilkan agar bibit yang akan dimasukkan ke dalam bag log tidak mati.Pendinginan dilakukan 8 12 jam sebelum dinokulasi. Temperatur yangdiingin kanadalah 30o - 35C. Prosedur pelaksanaannya antara lain : Keluarkan baglog dari drum yang sudah disterilisasikan Diamkan dialam ruangan sebelum dilakukan inokulasi (pemberian bibit) Pendinginan dilakukan hingga temperatur mencapai 300 -35C

6. Inokulasi Bibit (Penanaman Bibit) Inokulasi adalah proses pemindahan sejumlah kecil miselia jamur dari biakan induk kedalam media tanaman yang telah disediakan. Tujuannya adalah menumbuhkan miselia jamur pada media tanam hingga menghasilkan jamur yang siap panen. Prosedur pelaksanaan inokulasi bibit antara lain ;

Petugas yang akan menginokulasi bibit harus bersih, mencuci tangan dengan alkohol, dan menggunakan pakaian bersih. Sterilkan saptula menggunakan alkohol 70% dan dibakar. Bibit yang digunakan bisa berupa tablet atau bibit botol Ambil sedikit bibit jamur tiram (miselia) menggunakan spatula untuk bibit yang botol, untuk 1 botol bibit menjadi 5 baglog sedangkan untuk bibit dalam bentuk tablet langsung ditumbuhkan pada baglog, untuk tiap baglog menggunakan 3 tablet. Selanjutnya media yang telah diisi bibit ditutup dengan kertas kembali. Media

baglog yang telah diinokulasi kemudian diingkubasi sampai seluruh baglog dipenuhi miselium. 7. Inkubasi Inkubasi adalah menyimpan atau menempatkan media tanam atau baglog pada kondisi ruang tertentu agar miselia jamur tumbuh. Tujuanya adalah untuk mendapatkan pertumbuhan miselia sampai memenuhi baglog. Suhu ruang pertumbuhan miselia jamur antara 28o30C untuk mempercepat pertumbuhan miselium Media baglog yg telah dinokulasi dipindahkan dalam ruang inkubasi Inkubasi dilakukan hingga seluruh permukaan media tumbuh dalam baglog berwarna putih merata + setelah 20-30 hari. Diusahakan agar untuk penyimpanan cahaya matahari minimal, kendalikan suhu ruangan mencapai 25o 33oC. 8. Pemindahan ke Tempat Budidaya Baglog yang telah putih ditumbuhi miselium dipindahkan ke tempat budidaya Baglog yang miseliumnya sudah putih dan ada penebalan dibuka cincin baglognya dan bagian paling atas dhilngkan menggunakan spatula (bagian yang keras), agar jamur bisa tumbuh.

9. Perawatan Perawatan baglog jamur bisa ditempatkan pada kumbung Baglog yang telah dibuka cincin dirawat dengan melakukan penyiraman, penyiram yang baik mestinya secara kabut untuk mempercepat pertumbuhan miselia jamur sampai diperoleh tubuh buah. Hal yang terpenting harus diperhatikan dalam kumbung adalah menjaga suhu dan kelembaban yang dibutuhkan jamur Apabila kelembaban kurang, miselia mati dan jika terlalu lembab jamur menjadi basah 10. Penyiraman Penyiraman dilakukan dengan cara penyemprotan atau pengkabutan dengan menggunakan air bersih yang ditujukan pada ruang kubung dan media tumbuh jamur, tujuan untuk menjaga kelembaban kubung. 11. Pemanenan Ciri-ciri jamur tiram yang sudah siap dipanen adalah ; Tudung belum keriting Warna belum pudar Spora belum dilepaskan Tekstur masih kokoh dan lentur Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan adalah: Panen dilakukan dengan mencabut Tanpa menyisakan bagian jamur Bersih dan tidak berceceran

10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan

NO 1

GAMBAR

KETERANGAN Limbah Serbuk gergaji

yang telah diayak

Proses pengisisan baglog

Baglog jamur tiram

11

3.

Jamur siap panen

4.2 Pembahasan Jamur tiram merupakan tanaman makroskopik yang tidak memiliki klorofil. Jamur sebagai tanaman yang memiliki spora dan merupakan sel-sel lepas yang bersambungan membentuk benang bersekat dan disebut hifa. Hifa jamur terdiri atas selsel yang berinti satu. Hifa jamur menyatu membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium bercabang dan pada titik pertemuannya membentuk bintik kecil yang disebut sporangium yang akan berkembang menjadi pin head (calon tubuh buah jamur) . (Djarijah, 2001). Dalam pembuatan baglog jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus)

membutuhkan proses pengayakan yang berfungsi untuk memisahkan atau menyaring media (Serbuk gergaji) agar mendapatkan partikel yang sama. Kemudian tahap selanjutnya yaitu proses pencampuran dimana dalam proses pencampuran media yang digunakan yaitu limbah serbuk gergaji, dedak padi serta bahan tambahannya yaitu kapur dan gypsum. Fungsi dari penambahan kapur yaitu sebagai pengatur pH serta gypsum sebagai tambahan mineral bagi jamur tiram. Langkah selanjutnya yaitu pemeraman dilakukan ketika selsai pencampuran Tujuannya menguraikan senyawa-senayawa kompleks dengan bantuan mikroba agar diperoleh senyawa-senyawa yang lebih sederhana, sehingga lebih mudah dicerna oleh jamur dan memungkinkan pertumbuhan jamur yang lebih baik. Proses selanjutnya yaitu pengisian Media ke Kantung

12

Palstik (Bag log), setelah itu media yang telah diisi kedalam baglog akan disterilisasi yaitu untuk menonaktifkan mikroba,baik bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat menganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Selanjutnya baglog didinginkan. Proses selanjutnya yaitu menginokulasi bibit Inokulasi adalah proses pemindahan sejumlah kecil miselia jamur dari biakan induk dari F2 kedalam media tanaman yang telah disediakan. Tujuannya adalah menumbuhkan miselia jamur pada media tanam hingga menghasilkan jamur yang siap panen. Dan proses selanjutnya yaitu masa inkubasi sampai tubuh buah jamur tiram tumbuh dan siap panen.

13

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa : 1. Jamur tiram merupakan salah satu jamur yang sangat digemari oleh masyarakat serta jamur tiram memiliki kandungan gizi yang cukup baik bagi tubuh. 2. Komposisi pembuatan baglog jamur terdiri dari serbuk gergaji, dedak padi,

5.2 Saran Sebaiknya untuk upaya selanjutnya agar mahasiswa dan masyarakat lebih diberi pelatihan mengenai budidaya jamur tiram untuk dapat mengembangkan usaha jamur tiram dan dapat bernilai komersial dan dapat memberikan kesehatan bagi tubuh.

14

DAFTAR PUSTAKA Cahyana dkk, 2004. Jamur Tiram. Jakarta: Penebar Swadaya Cahyana dkk, 2006. Budidaya Jamur Kuping. Jakarata: Penebar Swadaya Ervina, DW. 2000. Pengaruh Bekatul Dan Ampas Tahu Pada Media serbuk Gergaji Kayu Jati Terhadap Pertumbuhan Jamur Tiram Merah. Fakultas Pertanian UMM suriawiria, u., 2002. Budidaya Jamur Tiram, penerbit Kanisius, Yogjakarta, 86 hal. 64- 65. Sumarmi, 2006. Botani &'Iinjauan Gizi Jamur Tiram Putih Jurnal inovasi Pertanian Vol4, No 2, 2006 ( 124 - 130 ) Sri Sumarsih, 2007. Budidaya JamurTiram dengan Berbagai Media, http//Su marsihoT. Fi les Wordpress. Com l2008l 11 /brosu rpenanamanjamurZ. pdf.

15