Anda di halaman 1dari 7

Tinjauan Pustaka Definisi ekstrak menurut Farmakope Indonesia adalah produk dari simplisia yang diperoleh dengan menyari

(dengan cara penyarian tertentu) simplisia dengan pelarut cair dan dilanjutkan dengan dikentalkan atau dikeringkan. Sedangkan menurut Farmakope Indonesia Edisi III, yang dimaksud dengan ekstrak adalah Sediaan kental yang diperoleh dengan menyari senyawa aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Ekstrak kering adalah sediaan tanaman yang diperol eh dengan cara pemekatan dan pengeringan ekstrak cair sampai mencapai konsentrasi yang diinginkan menurut cara-cara yang memenuhi syarat. Pengaturan biasanya dilakukan

berdasar kandungan bahan aktif dengan cara penambahan bahan tambahan inert. Untuk mendapatkan senyawa yang khas (zat aktif) dalam suatu tumbuhan, diperlukan metode ekstraksi yang cepat dan teliti (Harborne, 1987). Ekstraksi adalah penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dan menggunakan pelarut yang dipilih dimana zat yang diinginkan dapat larut. Bahan mentah obat yang berasal dari tumbuhtumbuhan ataupun hewan tidak perlu diproses lebih lanjut kecuali dikumpulkan atau dikeringkan. Tiap-tiap bahan mentah obat disebut ekstrak, tidak mengandung hanya satu unsur saja tetapi berbagai unsur, tergantung pada obat yang digunakan dan kondisi dari ekstraksi Didalam satu simplisia ada senyawa yang dapat larut dalam cairan penyari dan ada yang tidak larut seperti serat, karbohidrat, protein dan lain-lain (Ansel, 1989). Ekstrak yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ekstrak daun jambu biji. 1. Jambu biji ( Psidium guajava L.) Kandungan kimia yang terdapat dalam daun jambu biji antara lain: asam psidiloat, asam ursolat, asam krategolat, asam oleanolat, asam guaiavolat, tannin 9-12%, quercetin, dan minyak atsiri (Sudarsono dkk., 2002). Pada buah mengandung asam amino (triptofan, lisin), kalsium, kalium, fosfor, besi, belerang, vitamin A, vitamin B,

vitamin B1, vitamin C dan pektin (serat). Pada jambu biji yang daging buahnya merah mengandung likopen (Hembing W, 2008)

2. Flavonoid Flavonoid adalah salah satu kelompok senyawa fenol terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, dan biru, dan sebagian zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan.Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantai propane (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3C6. Susunan inid apat menghasilkan tiga jenis struktur, yakni 1,3-diarilpropan atau flavonoid, 1,2-diarilpropan atau isoflavonoid, dan 1,1-diarilpropan atau neoflavonoid. Ketiga struktur tersebut dapat dilihat di bawah ini.

Gambar 1. Struktur (a) flavonoid (b) isoflavonoid (c) neoflavonoid. Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman hijau, kecuali alga. Flavonoid yang lazim ditemukan pada tumbuhan tingkat tinggi (Angiospermae) adalah flavon dan flavonol dengan C- dan O-glikosida, isoflavon Cdan O-glikosida, flavanon C- dan O-glikosida, khalkon dengan C- dan O-glikosida dan dihidrokhalkon, proantosianidin dan antosianin, auron O-glikosida dan dihidroflavonol O-glikosida. Golongan flavon, flavonol, flavanon, isoflavon, dan khalkon juga sering ditemukan dalam bentuk aglikonnya.Senyawa-senyawa flavonoid terdapat dalam semua bagian tumbuhan tinggi, seperti bunga, daun, ranting, buah, kayu, kulit kayu dan akar.

Akan tetapi, senyawa flavonoid tertentu seringkali terkonsentrasi dalam suatu jaringan tertentu, misalnya antosianidin adalah zat warna dari bunga, buah, dan daun. 3. Quercetin Quercetin adalah senyawa kelompok flavonol terbesar, quercetin dan glikosidanya berada dalam jumlah sekitas 60-75% dari flavonoid. Quercetin adalah salah satu zat aktif kelas flavonoid yang secaara biologis amat kuat. Bila vitamin C mempunyai aktifitas antioksidan 1, maka quercetin memiliki aktivitas antioksidan 4.7. Flavonoid merupakan sekelompok besar antioksidan bernama polifenol yang terdiri atas antosianidin, bioflavon, katekin, flavanon, flavon, dan flavonol. Quercetin termasuk ke dalam kelompok flavonol. Quercetin dipercaya dapat melindungi tubuh dari beberapa jenis penyakit degeneratif dengan cara mencegah terjadinya proses peroksidasi lemak. Quercetin juga mampu mencegah kerusakan oksidatif dan kematian sel melalui beberapa mekanisme antara lain menangkap radikal oksigen, perlindungan terhadap perosidasi lipid dan mengkelatkan ion logam. Quercetin memperlihatkan kemampuan mencegah proses oksidasi dari Low Density Lipoproteins (LDL) dengan cara menangkap radikal bebas dan mengkelat ion logam transisi. Ketika flavonol quercetin beraksi dengan radikal bebas, quercetin mendonorkan protonnya dan menjadi senyawa radikal, tapi elektron tidak berpasangan yang dihasilkan didelokalisasi oleh resonansi, hal ini membuat senyawa quercetin radikal memiliki energi yang sangat rendah untuk menjadi radikal yang reaktif. Tiga gugus dari struktur quercetin yang membantu dalam menjaga kestabilan dan bertindak sebagai antioksidan ketika bereaksi dengan radikal bebas antara lain: a. Gugus O-dihidroksil pada cincin B b. Gugus 4-oxo dalam konjugasi dengan alkena 2,3 c. Gugus 3- dan 5- hidroksil Gugus fungsi tersebut dapat mendonorkan elektron kepada cincin yang akan meningkatkan jumlah resonansi dari struktur benzen senyawa quercetin.

Gambar 2. Struktur Quercetin. Flavonoid ini dapat diekstraksi dengan etanol 70% (Harborne, 1987; Anonim, 1979). Pelarut etanol dapat digunakan untuk menyari zat yang kepolaran relatif tinggi sampai relatif rendah, karena etanol merupakan pelarut universal, etanol tidak menyebabkan pembengkakan membran sel, dapat memperbaiki stabilitas bahan obat yang terlarut dan juga efektif dalam menghasilkan jumlah bahan aktif yang optimal (Voigt, 1994). 4. Pola Kromatogram Pola/profil kromatogram bertujuan untuk memberikan gambaran awal komposisi kandungan kimia berdasar pola kromatogram (KLT, KCKT, KG). Prinsip penentuan pola kromatogram adalah dengan menyari ekstrak menggunakan pelarut tertentu, kemudian dianalisis dengan kromatografi. Kromatografi adalah teknik pemisahan fisik suatu campuran zat-zat kimia yang berdasarkan pada perbedaan migrasi dari masing-masing komponen campuran yang terpisah pada fase diam di bawah pengaruh pergerakan fase yang bergerak. Kromatografi sendiri bertujuan untuk pemisahan komponen dari matriks sampel dan tetap dibiarkan dalam fase diam kemudian ditentukan untuk analisis. Dalam konteks pekerjaan ini kromatografi dipakai sebagai salah satu metode analisis. Disamping itu kromatografi dipakai pula untuk tujuan produksi atau preparatif, dalam hal ini komponen yang ingin dipisahkan dari matriks sampel harus dikeluarkan dari dalam fase diam, sehingga didapatkan bentuk komponen murni (isolasi).

Pada umumnya, semua teknik pemisahan kromatografi akan dapat dipakai untuk analisis sedangkan untuk preparatif atau produksi lebih terbatas pada kromatografi kolom, lapis tipis atau filtrasigel. 4.1. Keuntungan Metode Kromatografi Sampai saat ini setelah mengalami perkembangan dengan pesat ternyata metode kromatografi sudah merupakan metode yang rutin dilakukan di laboratorium-laboratorium analisis. Kromatografi lapis tipis (KLT), kromatografi kolom, dan kromatografi kertas dapat dilaksanakan hampir di semua laboratorium karena mudah sekali pelaksanaannya. Metode kromatografi kegunaan dan frekuensi pemakaiannya menempati urutan kedua sesudah spektrofotometri, hal ini disebabkan ada beberapa aspek kegunaan metode kromatografi yang menguntungkan antara lain : a. kromatografi merupakan suatu proses berlipat ganda, artinya selama proses kromatografi terjadi banyak terulang kali kontak adsorbsi dan partisi komponen yang dipakai b. jangkauan analisis untuk analisis kualitatif sangat luas dari rentang kadar yang sangat tinggi bahkan untuk preparatif, sampai kadar yang sangat rendah. c. dapat dilaksanakan dengan mudah dan cepat, untuk hal ini diperlukan operator yang memiliki keterampilan yang baik, berpengalaman dan memiliki dasar pengetahuan teori yang memadai. d. biaya relatif murah dengan bahan yang mudah didapat bahkan pelarut pengembangannya dapat dipakai beberapa kali. e. ketelitian dan ketepatan yang memadai 4.2 Kromatografi Lapis Tipis Ada tiga macam metode pemisahan kromatografi planar yaitu: a. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

b. Kromatografi kertas dan c. Elektro Kromatografi (elektro foresa) Berbeda dengan kromatografi kolom yang fase diamnya diisikan atau terpaking didalam kolom, kromatografi planar fase diamnya merupakan lapisan uniform bidang datar yang didukung oleh pelat kaca, pelat alumunium, pelat plastik atau pelat sellulose pada kromatografi kertas.boleh dikatakan kromatografi planar ini merupakan bentuk terbuka dari kromatografi kolom.

Sehinggakromatogarfi planar ini pelaksanaannya lebih mudah dan lebih murah dibandingkan kromatografi kolom. Dibandingkan dengan kromatografi cair kinerja tinggi(KCKT), dan kromatografi gas (KG), KLT memiliki beberapa keuntungan, yaitu: a. KLT memberikan fleksibilitas yang lebih besar, dalam hal memilih fase gerak. b. Berbagai macam teknik untuk optimasi pemisahan seperti pengembangan 2 dimensi, pengembangan bertingkat, dan pembaceman penjerap dapat dilakukan pada KLT. c. Proses kromatografi dapat diikuti dengan mudah dan dapat dihentikan kapan saja. d. Semua komponen dalam sampel dapat dideteksi Pada identifikasi atau analisis lebih spesifik beberapa golongan kandungan kimia yang ditetapkan diantaranya adalah minyak atsiri, steroid, tanin, flavonoid, triterpenoid, alkaloid, dan antrakuinon dengan menggunakan metode

spektrofotometri, titrimetri, volumetri, gravimetri, atau lainnya. Namun metode analisis harus sudah diuji validitasnya, terutama linearitas dan selektivitas. Tujuan dari penetapan kandungan kimia tertentu adalah memberikan data kadar kandungan kimia tertentu sebagai senyawa identitas atau senyawa yang diduga bertanggung jawab pada efek farmakologi.

5. Analisis Kualitatif dengan Metode KLT Kromatografi Lapis Tipis ( KLT ) menandai puncak perkembangan kromatografi adsorpsi yang dicetuskan pertama kali oleh Izamailov dan Shraiber pada tahun 1938. Sebagai fase diam adalah bahan padat yang diletakkan pada pelat gelas secara uniform dengan ketebalan lebih kurang 0.250 mm. Disamping pelat gelas juga sudah umum dipakai pelat dari logam atau plastic untuk memudahkan dokumentasi. Teknik KLT sangat penting artinya dalam bidang analisis dan kedudukan KLT telah menggeser kedudukan kromatografi kertas. Hanya saja elusi pada KLT pada umumnya dilakukan dengan cara menaik satu atau dua dimensi. Sebagai fase diam dipakai cairan atau campuran cairan yang dikenal sebagai pelarut pengembang atau pelarut pengembang campur. KLT merupakan metode pemisahan komponen-komponen atas dasar perbedaan adsorbs atau partisi oleh fase diam di bawah gerakan pelarut pengembang atau pelarut pengembangan campur. Pemilihan pelarut pengembangan campur sangat dipengaruhi oleh macam dan polaritas zat-zat kimia yang dipisahkan. Pada umumnya perbandingan pelarut pengembangan campur memakai perbandingan volume ( v/v ), akan tetapi perbandingan berat ( b/b ) akan lebih menguntungkan sebab perbandingan berat ( b/b ) akan tetap, baik pada fase cair atau uap dan dapat dipakai berulangkali dengan perbandingan tetap seperti semula.