Anda di halaman 1dari 20

Penyebab, Gejala & Pengobatan Keracunan Karbon Monoksida Bumbata | Buka Mata Buka Telinga

Karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau yang dihasilkan akibat pembakaran tidak sempurna bahan bakar berbasis karbon.

Akumulasi karbon monoksida juga dapat disebabkan karena instalasi peralatan yang tidak tepat atau akibat ventilasi yang buruk.

Gas ini dikenal sebagai silent killer karena tidak berbau sehingga mustahil dideteksi oleh indera.

Dosis kecil karbon monoksida menyebabkan keluhan ringan seperti mual dan pusing, sedangkan dosis besar menyebabkan kerusakan otak dan bahkan kematian.

Sumber dan Penyebab

Karbon monoksida terbentuk akibat pembakaran bahan bakar tertentu (mis: solar, batubara, bensin, gas alam) yang tidak sempurna disebabkan oleh kurangnya oksigen.

Sumber utama karbon monoksida adalah gas buang kendaraan bermotor, asap dari kebakaran, dan asap dari mesin.

Selain itu, gas ini juga muncul dari peralatan memasak yang rusak, pengering pakaian gas, pemanas, atau tungku kayu bakar.

Kurangnya ventilasi akan menambah peningkatan konsentrasi karbon monoksida di sebuah ruangan.

Gejala Keracunan Karbon Monoksida

Hemoglobin yang merupakan pigmen merah dalam sel darah merah bertugas membawa oksigen ke berbagai jaringan tubuh.

Saat seseorang menghisap karbon monoksida, alih-alih oksigen, hemoglobin justru mengikat karbon monoksida dan mengalirkannya ke seluruh tubuh.

Hemoglobin yang berikatan dengan karbon monoksida lantas membentuk senyawa yang disebut carboxyhemoglobin. Ini adalah senyawa yang diyakini menjadi penyebab utama keracunan karbon monoksida.

Hemoglobin yang justru berikatan dengan karbon monoksida membuat tubuh perlahan-lahan kekurangan oksigen.

Segala macam proses kimia pada jaringan tubuh yang kekurangan oksigen akan terhambat.

Hal ini menciptakan kondisi yang dikenal sebagai cedera hipoksia pada jaringan.

Keracunan karbon monoksida dapat dideteksi dengan gejala-gejala sebagai berikut:

Sakit kepala Pusing Mual Nyeri dada Sesak napas Muntah Nyeri perut Kantuk

Pingsan Kejang Pengobatan

Individu yang mengalami keracunan karbon monoksida harus pindah dari daerah tersebut ke tempat dengan cukup pasokan udara segar.

Jika seseorang berhenti bernapas, CPR (cardiopulmonary resuscitation) mungkin harus diberikan.

Setiap orang harus dites apakah benar mengalami keracunan karbon monoksida untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Penanganan akan meliputi:

1. Memberikan oksigen dosis tinggi menggunakan masker wajah dari tabung oksigen.

Oksigen kadar tinggi akan membantu karbon monoksida untuk memisahkan diri dari hemoglobin.

2. Ketika seseorang menghirup karbon monoksida dosis tinggi dan menderita keracunan berat, dosis oksigen yang lebih tinggi harus diberikan menggunakan ruang hiperbarik.

Terapi oksigen hiperbarik ditujukan untuk mempercepat proses penguraian ikatan carboxyhemoglobin.

Oksigen hiperbarik juga akan langsung menyediakan oksigen ke seluruh jaringan tubuh.

Seperti terlihat diatas, pemberian oksigen merupakan satu-satunya metode untuk meringankan keracunan karbon monoksida.[]

Sumber: http://bumbata.com/18658/penyebab-gejala-pengobatan-keracunan-karbonmonoksida/#ixzz2An28PTJN

Waspadai Keracunan Karbon Monoksida di Dalam Rumah Vera Farah Bararah - detikHealth Selasa, 22/12/2009 08:30 WIB

Info Penyakit Info Obat Asma Deskripsi Penyebab Gejala Pengobatan Anemia Anorexia Nervosa (Foto: examiner) Berita Lainnya Rusia Punya Krokodil, Indonesia Punya Lem dan Miras Oplosan Tak Ingin Warganya Jadi Zombie, India Lacak Penyebaran Krokodil Efek Kecanduan Krokodil: Korengan dan Bau Obat Sampai Akhir Hayat Dengan Alat Tes Terbaru, Warna Darah Berubah Biru Jika Ada Virus HIV Seram! Krokodil Bisa Bikin Pecandunya Seperti Zombie Washington, Keracunan karbon monoksida bisa terjadi di rumah. Membakar sampah di halaman rumah, memanaskan mobil di garasi yang tertutup atau asap dari perapian bisa menjadi penyebabnya.

Karbon monoksida merupakan salah satu senyawa yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna. Karbon monoksida yang terhirup dalam tubuh bisa menimbulkan bahaya dan dapat meracuni tubuh yang bisa berakibat hingga kematian.

Seperti yang dialami oleh Cheryl Burt saat harus kehilangan dua dari tiga anaknya yang meninggal akibat keracunan karbon monoksida saat tengah tidur. Burt tidak menyangka bahwa suatu hal yang dipikirnya tidak bermasalah bisa merenggut nyawa anaknya.

"Ketika ada karbon monoksida di dalam rumah, seseorang tidak dapat melihat, merasakan ataupun mencium baunya. Orang hanya bisa merasakan efeknya seperti sakit kepala, mual dan pusing tapi Anda tidak menyadari bahwa Anda telah mengalami keracunan," ujar Cheryl Burt, seperti dikutip dari ABCNews, Selasa (22/12/2009).

Pada malam kejadian 14 tahun lalu itu, menurut Cheryl dirinya tidur bersama ketiga anaknya Nicholas Todd Burt (4 tahun), Zachary Todd Burt (16 bulan), dan Ryan Todd Burt. Tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa ketika tersadar kepalanya begitu sakit dan badannya teramat lemah akibat terkena racun yang membuatnya sulit bergerak.

Hanya Cheryl dan Ryan yang akhirnya bisa selamat sedangkan dua balitanya tewas disampingnya akibat keracunan CO. Keracunan CO yang dialami keluarganya berasal dari tungku perapian yang ventilasinya tidak berfungsi dengan baik sehingga asap CO tidak bisa keluar dari rumah.

Cheryl mengungkapkan ceritanya 14 tahun lalu itu di depan kongres AS pada 17 Desember 2009 sebagai bagian dari kampanye meningkatkan kesadaran tentang keracunan karbon monoksida.

Di Amerika Serikat diperkirakan setiap tahunnya 500 orang meninggal akibat keracunan karbon monoksida dan 15.000 orang harus dilarikan ke rumah sakit dengan gejala keracunan karbon moniksida.

Untuk mencegah terjadinya keracunan karbon monoksida memang dibutuhkan alat detektor yang memenuhi standar untuk menentukan apakah kadarnya sudah melewati batas normal atau tidak. Dengan alat detektor ini maka kasus keracunan akibat senyawa karbon monoksida bisa dikurangi atau dicegah.

Karbon monoksida adalah hasil sampingan dari pembakaran tidak sempurna bahan bakar seperti gas alam, minyak, minyak tanah dan kayu. Menurut komisi keamanan produk konsumen AS (CPSC), cara termudah agar bisa melindungi diri dari keracunan karbon monoksida adalah dengan memiliki alat detektor tersebut.

Gejala yang paling umum dari keracunan karbon monoksida ini sulit untuk didiagnosis karena mirip dengan penyakit lainnya. Gejala-gejalanya termasuk sakit kepala, pusing, mual, muntah, sakit dada dan merasa bingung (kebingunan). Jika dalam keluarga ada yang mengalami gejala ini, waspadalah kemungkinan adanya kebocoran gas karbon monoksida di dalam rumah.

Penyebab keracunan yang paling umum terjadi di dalam rumah misalnya membakar sampah atau barang lainnya di halaman rumah serta menyalakan mobil di ruang tertutup seperti garasi sehingga gas karbon monoksidanya bisa masuk ke dalam rumah. Jika kadarnya tinggi tak menutup kemungkinan orang-orang yang berada dalam rumah bisa mengalami sesak napas dan pusing.

Keracunan terjadi karena sel-sel darah merah mengikat karbon monoksida lebih cepat dibandingkan dengan oksigen. Sehingga jika ada banyak karbon monoksida di udara, tubuh akan mengganti oksigen dengan karbon monoksida tersebut. Oksigen dihambat oleh tubuh sehingga bisa merusak jaringan dan menyebabkan kematian.

Penggunaan alarm CO sangat membantu untuk mengetahui apakah kadar CO di rumah sudah diambang batas atau belum.

(ver/ir) http://health.detik.com/read/2009/12/22/083005/1264043/763/waspadai-keracunan-karbonmonoksida-di-dalam-rumah

Definisi Karbon Monoksida Karbon monoksida adalah zat pencemar udara yang patut mendapat perhatian, 90% dari seluruh zat pencemar kendaraan bermotor adalah berupa gas CO (Samsuri, 1982:90). Karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa , tidak mudah larut dalam air, tidak menyebabkan iritasi, beracun dan berbahaya. Karbon monoksida pertama kali dihasilkan oleh kimiawan Perancis de Lassone pada tahun 1776 dengan memanaskan seng oksida

dengan kokas. Dia menyimpulkan bahwa gas yang dihasilkan adalah hidrogen, karena ketika dibakar ia menghasilkan lidah api berwarna biru. Gas ini kemudian diidentifikasi sebagai senyawa yang mengandung karbon dan oksigen oleh kimiawan Inggris William Cumberland Cruikshank pada tahun 1800. Sifat-sifat CO yang beracun pertama kali diinvestigasi secara seksama oleh fisiolog Perancis Claude Bernard sekitar tahun 1846. Dia meracuni beberapa anjing dengan gas tersebut, dan mendapati darah anjing-anjing tersebut berwarna lebih merah di seluruh pembuluh darah. Selama Perang Dunia II, karbon monoksida digunakan untuk menjaga kendaraan bermotor agar tetap berjalan di daerah-daerah yang kekurangan bensin. Pembakar batu-bara atau kayu dipasangkan, dan karbon monoksida yang diproduksi dengan gasifikasi dialirkan ke karburator. CO dalam kasus ini dikenal sebagai "gas kayu" (Wikipedia, 2009).

2.1.1 Sifat-sifat gas CO adalah: Gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, tidak menyebabkan iritasi, beracun dan berbahaya Tidak mudah larut dalam air Perbandingan berat terhadap udara (1 atm derajat C) 0.967 Mudah terbakar dan menghasilkan lidah api berwarna biru, menghasilkan karbon dioksida

Karakteristik biologik yang paling penting dari CO adalah kemampuannya untuk berikatan dengan hemoglobin, pigmen sel darah merah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh (Anonim, 2008). Karbon monoksida ( CO ), terdiri dari satu atom karbon yang secara kovalen berikatan dengan satu atom oksigen. Dalam ikatan ini, terdapat dua ikatan kovalen dan satu ikatan kovalen koordinasi atara atom karbon dan oksigen. Molekul CO memiliki panjang ikat 0,1128 nm. Perbedaan muatan formal dan elektronegativitas saling meniadakan, sehingga terdapat momen dipol yang kecil dengan kutub negatif di atom karbon, walaupun oksigen memiliki elektronegativitas yang lebih besar. Alasannya adalah orbital molekul yang terpenuhi paling tinggi memiliki energi yang lebih dekat dengan orbital p karbon, yang berarti bahwa terdapat rapatan elektron yang lebih besar dekat karbon. Selain itu, elektronegativitas karbon yang lebih rendah menghasilkan awan elektron yang lebih baur, sehingga menambah momen dipol. Hal ini juga merupakan alasan mengapa kebanyakan reaksi kimia yang melibatkan karbon monoksida terjadi pada atom karbon, bukan pada atom oksigen. Panjang ikatan molekul karbon monoksida sesuai dengan ikatan rangkap tiga parsialnya. Molekul ini memiliki momen dipol ikatan yang kecil dan mempunyai tiga struktur resonansi:

Resonansi paling kiri adalah bentuk yang paling penting. Hal ini dapat diilustrasikan dengan reaktivitas karbon monoksida yang bereaksi dengan karbokation. Dinitrogen bersifat isolektronik terhadap karbon monoksida. Hal ini berarti bahwa molekul-molekul ini memiliki jumlah elektron dan ikatan yang mirip satu sama lainnya. Sehingga, sifat-sifat fisika antara N2 dan CO sangat mirip, walaupun CO lebih reaktif (Wikipedia, 2009). Karbon monoksida yang terdapat di alam terbentuk dari salah satu proses sebagai berikut: Pembakaran tidak lengkap terhadap karbon atau komponen yang mengandung karbon Reaksi antara karbon dioksida dan komponen yang mengandung karbon pada suhu tinggi Pada suhu tinggi, karbon dioksida terurai menjadi CO dan O (Anonim, 2008).

CO adalah anhidra dari asam format. Oleh karena itu, CO bisa diproduksi dari dehidrasi asam format Gas produser dibentuk dari pembakaran karbon dioksida pada temperatur tinggi ketika terdapat karbon yang berlebih. Dalam sebuah oven, udara dialirkan melalui kokas. CO2 yang pertama kali dihasilkan akan mengalami kesetimbangan dengan karbon panas, menghasilkan CO. Reaksi O2 dengan karbon membentuk CO disebut sebagai kesetimbangan Boudouard. Di atas 800C, CO adalah produk yang predominan: O2 (g) + 2 C (s) 2 CO (g) H = -221 kJ/mol Kerugian dari metode ini adalah apabila dilakukan dengan udara, ia akan menyisakan campuran yang terdiri dari nitrogen. Gas sintetik atau gas air diproduksi via reaksi endotermik uap air dan karbon:

H2O (l) + C (s) H2 (g) + CO (g) H = 131 kJ/mol CO juga merupakan hasil sampingan dari reduksi bijih logam oksida dengan karbon:

MO (s) + C (s) M (s) + CO (g) H = 131 kJ/mol Produksi CO dalam skala laboratorium adalah dengan pemanasan campuran bubuk seng dan kalsium karbonat. Zn (s) + CaCO3 (s) ZnO (s) + CaO (s) + CO (g) Metode laboratorium lainnya adalah dengan mereaksikan sukrosa dengan natrium hidroksida dalam sistem tertutup (Wikipedia, 2009).

2.1.2 Keberadaan CO di Atmosfer Karbon monoksida memiliki efek radiative forcing secara tidak langsung dengan menaikkan konsentrasi metana dan O3 adanya di stratosfer melalui reaksi kimia dengan konstituen atmosfer lainnya (misalnya radikal hidroksil OH-) yang sebenarnya akan melenyapkan metana dan ozon. Dengan proses alami di atmosfer, karbon monoksida pada akhirnya akan teroksidasi menjadi karbon dioksida. Sehingga konsentrasi karbon monoksida memiliki jangka waktu pendek di atmosfer (Wikipedia, 2009). Keberadaan atau umur dari karbon monoksida di atmosfer tidak lama hanya kira-kira 4 bulan. Hal ini terjadi karena karbon monoksida di atmosfer dihilangkan melalui reaksi dengan radikal hidroksil, HO CO + HO CO2 + H

Reaksi menghasilkan radikal hidroperoksil O2 + H + M HOO + M

Yang kemudian radikal NO- dihasilkan kembali dari radikal hidroperoksil (NOO) melalui reaksi: HOO + NO HOO + HOO NO + NO2 H2O2 + O2

Reaksi terakhir terjadi dengan disosiasi dari H2O2 melalui reaksi photo kimia dan menghasilkan kembali HO: H2O2 + hv 2HO

Gas metana juga terlibat dalam reaksi siklus atmosfer yang berhubungan dengan CO, HO, dan CH4. CH4 + HO CO + H2O H + O2 H3C + H2O CO2 + H HOO

Radikal hidroperoksil selanjutnya menghasilkan kembali HO seperti reaksi yang sudah ditulis sebelumnya. Mikroorganisme tanah melalui aktifitasnya dapat menghilangkan CO dari atmosfer. Oleh karena itu, tanah merupakan tempat penampungan dari karbon monksida.

2.1.3 Sumber CO Emisi gas karbon monoksida dari alam, proses geologis maupun dari aktivitas manusia. Karbon monoksida yang dihasilkan akibat aktivitas manusia merupakan salah satu penyumbang karbon monoksida terbesar di alam. Sumber karbon monoksida dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu:

Sumber Titik Karbon monoksida, walaupun dianggap sebagai polutan, telah lama ada di atmosfer sebagai hasil produk dari aktivitas gunung berapi. Ia larut dalam lahar gunung berapi pada tekanan yang tinggi di dalam mantel bumi. Kandungan karbon monoksida dalam gas gunung berapi bervariasi dari < 0,01 % - > 2 % bergantung pada gunung berapi tersebut. Oleh karena sumber alami karbon monoksida bervariasi dari tahun ke tahun, maka sangat sulit untuk secara akurat menghitung emisi alami gas tersebut. CO dapat terbentuk secara alamiah walaupun jumlahnya relatif sedikit. Seperti: gas hasil kegiatan gunung berapi, proses biologi dll (Anonim, 2008) Sebagai hasil sampingan kegiatan manusia

Selain itu juga CO berasal dari pembakaran produk-produk alam dan sitesis, termasuk rokok (Anonim, 2008). Karbon monoksida dapat juga dihasilkan reaksi oksida gas metana oleh radikal hidroksil dan dari perombakan/ pembusukan tanaman meskipun tidak sebesar yang dihasilkan pembakaran bensin. Sumber Area Pada sumber ini gas karbon monoksida dapat berasal dari proses industri. Dimana pabrik-pabrik yang terdapat di kawasan industri ini tidak memasang scruber pada cerobong asap pabrik. Scruber adalah alat yang berfungsi sebagai penyaring sehingga asap yang dilepas pabrik ke udara, merupakan asap yang sudah melalui penyaringan, dan tidak mengandung gas karbon monoksida yang berbahaya bagi lingkungan. Sumber Bergerak Di kota-kota besar, sumber utama penghasil CO adalah kendaraan

bermotor seperti mobil, truk, bus dan sepeda motor karena pembakaran BBM yang tidak sempurna. Karbon monoksida terbentuk apabila terdapat kekurangan oksigen dalam proses pembakaran. Kota besar yang padat lalu lintasnya akan banyak menghasilkan gas CO sehingga kadar CO dalam udara relatif tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan. Secara sederhana pembakaran karbon dalam minyak bakar terjadi melalui beberapa tahap sebagai berikut : 2C (s) + O2 (g) > 2CO (g) 2CO (g) + O2 (g) > 2CO2 (g) Reaksi pertama berlangsung sepuluh kali lebih cepat daripada reaksi kedua, oleh karena itu CO merupakan intermediat pada reaksi pembakaran tersebut dan dapat merupakan produk akhir jika jumlah O2 tidak cukup untuk melangsungkan reaksi kedua. CO dapat menjadi produk akhir meskipun jumlah oksigen di dalam campuran pembakaran cukup, hal ini dikarenakan proses pembakaran

antara minyak bakar dan udara tidak tercampur rata. Pencampuran yang tidak rata antara minyak bakar dengan udara menghasilkan beberapa tempat yang kekurangan oksigen. Semakin rendah perbandingan antara udara dengan minyak bakar, semakin tinggi jumlah karbon monoksida yang dihasilkan (Prabu, 2008).

2.1.4 Konsentrasi sumber 0.1 ppm - kadar alami atmosfer 0.5 - 5 ppm - rata-rata kadar di rumah 5 - 15 ppm - kadar dekat kompor gas rumah 100-200 ppm - daerah pusat kota Meksiko 5,000 ppm - cerobong asap rumah dari pembakaran kayu 7,000 ppm - gas knalpot mobil yang tidak diencerkan - tanpa pengubah katalitik 30,000 ppm - asap rokok yang tidak diencerkan (Wikipedia, 2009).

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi CO di udara antara lain ialah faktor cuaca, seperti intensitas dan arah angin, suhu udara dan kelembaban. Faktor yang memegang peranan penting sebenarnya adalah jumlah kendaraan, kecepatan dan jenis kendaraannya (Samsuri, 1982 :100). Konsentrasi CO di udara pada tempat tertentu dipengaruhi oleh kecepatan emisi (pelepasan) CO di udara dan kecepatan dispersi dan pembersihan CO dari udara. Pada daerah perkotaan kecepatan pembersihan CO dari udara sangat lambat, oleh karena itu kecepatan dispersi dan pembersihan CO dari udara sangat menentukan konsentrasi CO di udara. Kecepatan dispersi dipengaruhi langsung oleh faktor-faktor meteorologi seperti kecepatan dan arah angin, turbulensi udara, dan stabilitas atmosfer. Di kota-kota besar, meskipun turbulensi ditimbulkan karena adanya kendaraan yang bergerak dan aliran udara di atas dan di sekeliling bangunan, tetapi karena keterbatasan ruangan maka gerakan udara sangat terbatas sehingga konsentrasi CO di udara dapat meningkat (Anonim, 2008). Akan tetapi berdasarkan penelitian ternyata kadar CO di udara tidak selalu meningkat setiap hari, hal ini pasti ada proses alam yang mengubah CO itu dengan cepat. Atau mungkin ada zat lain yang merupakan katalis, atau ada proses biologis yang menggunakan CO lagi dalam reaksi (Samsuri, 1982:100).

2.1.5 Penyebaran CO Penyebaran gas CO di udara tergantung pada keadaan lingkungan. Untuk daerah perkotaan yang banyak kegiatan industri dan lalu lintasnya padat, udaranya sudah banyak tercemar oleh gas CO.

Sedangkan daerah pinggiran kota atau desa, cemaran CO di udara relatif sedikit. Ternyata tanah yang masih terbuka dan belum ada bangunan di atasnya, dapat membantu penyerapan gas CO. Hal ini disebabkan mikroorganisme yang ada di dalam tanah mampu menyerap gas CO yang terdapat di udara. Angin dapat mengurangi konsentrasi gas CO pada suatu tempat karena dipindahkan ke tempat lain. Kendaraan bermotor merupakan sumber polutan CO yang utama (sekitar 59,2%), maka daerahdaerah yang berpenduduk padat dengan lalu lintas ramai memperlihatkan tingkat polusi CO yang tinggi. Konsentrasi CO di udara per waktu dalam satu hari dipengaruhi oleh kesibukan atau aktivitas kendaraan bermotor yang ada. Semakin ramai kendaraan bermotor yang ada, semakin tinggi tingkat polusi CO di udara. Gas-gas karbon monoksida tersebut tentunya akan beredar ke atmosfer. Keberadaan atau umur dari karbon monoksida di atmosfer tidak lama hanya kira-kira 4 bulan. Hal ini terjadi karena karbon monoksida di atmosfer dihilangkan melalui reaksi dengan radikal hidroksil, HO CO + HO CO2 + H

Reaksi menghasilkan radikal hidroperoksil O2 + H + M HOO + M

Yang kemudian radikal NO- dihasilkan kembali dari radikal hidroperoksil (NOO) melalui reaksi: HOO + NO HOO + HOO NO + NO2 H2O2 + O2

Reaksi terakhir terjadi dengan disosiasi dari H2O2 melalui reaksi photo kimia dan menghasilkan kembali HO: H2O2 + hv 2HO

Gas metana juga terlibat dalam reaksi siklus atmosfer yang berhubungan dengan CO, HO, dan CH4. CH4 + HO CO + H2O H + O2 H3C + H2O CO2 + H HOO

Radikal hidroperoksil selanjutnya menghasilkan kembali HO seperti reaksi yang sudah ditulis sebelumnya. Mikroorganisme tanah melalui aktifitasnya dapat menghilangkan CO dari atmosfer. Oleh karena itu, tanah merupakan tempat penampungan dari karbon monksida.

2.2

Dampak Karbon Monoksida

2.2.1

Dampak positif Karbon Monoksida

Karbon monoksida digunakan dalam sistem kemasan modifikasi udara Amerika Serikat, utamanya digunakan dalam produk-produk daging segar seperti daging kerbau dan babi. CO berkombinasi dengan mioglobin membentuk karboksimioglobin, sebuah pigmen cerah yang berwarna merah ceri. Karboksimioglobin lebih stabil dari bentuk mioglobin yang dioksigenasikan, yakni oksimioglobin, yang dapat dioksidasi menjadi pigmen coklat, metmioglobin. Warna merah yang stabil ini dapat bertahan lebih lama, sehingga memberikan kesan kesegaran. Kadar CO yang digunakan berkisar antara 0,4% sampai dengan 0,5%. Karbon monoksida diproduksi secara alami sebagai pemecahan dari heme, sebuah substrat untuk enzim heme oksigenase. Reaksi enzimatis ini memecahkan heme menjadi CO, biliverdin, dan Fe3+. CO yang diproduksi secara edogen kemungkinan memiliki peran fisiologis yang penting dalam tubuh (misalnya sebagai neurotransmiter atau pelemas pembuluh darah). Selain itu, CO meregulasi reaksi peradangan yang dapat mencegah berkembangnya beberapa penyakit seperti aterosklerosis atau malaria berat. CO adalah nutrien bagi bakteri metanogen, sebuah blok pembangun untuk asetilkoenzim A. Pada bakteri, CO diproduksi via reduksi karbon dioksida dengan enzim karbon monoksida dehirogenase, sebuah protein yang mengandung Fe-Ni-S. Dikenal juga sebuah protein sensor-CO yang berdasarkan heme, CooA. Cakupan peranan biologis zat ini masih tidak jelas, namun tampaknya ia merupakan bagian dari lintasan signal pada bakteri dan arkea. CO juga baru-baru ini dikaji di beberapa laboratorium riset di seluruh dunia atas sifatnya yang anti-peradangan dan sitoprotektif yang dapat digunakan untuk terapi pencegahan kondisi patologis seperti cedera reperfusi iskemia, penolakan trasplan, aterosklerosis, spesi, malaria berat, atau autoimunitas. Sampai sekarang ini tidak ada aplikasi medis CO kepada manusia (Wikipedia, 2009). Karbon monoksida adalah gas industri utama yang memiliki banyak kegunaan dalam produksi bahan kimia pukal (bulk chemical). Sejumlah aldehida dengan hasil volume yang tinggi dapat diproduksi dengan reaksi hidroformilasi dari alkena, CO, dan H2. Karbon monoksida merupakan komponen dasar dari syngas yang sering digunakan untuk tenaga industri. Karbon monoksida juga digunakan pada proses pemurnian nikel.

2.2.2

Dampak negatif Karbon Monoksida

Gas karbon monoksida (CO) yang sebagian besar dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna dapat mencemari lingkungan dimana gas CO dilepaskan. Namun daerah lain pun dapat tercemari gas CO karena gas CO dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dengan bantuan angin. Akibat meningkatnya gas karbon monoksida, persediaan oksigen ditempat tersebut semakin berkurang. Hal ini dapat terjadi akibat dari pembakaran karbon dalam minyak bakar yang terjadi melalui beberapa tahap. 2C (s) + O2 (g) 2CO (s) + O2 (g) 2CO (g) 2CO2 (g)

Reaksi pertama berlangsung sepuluh kali lebih cepat dari pada reaksi kedua. Oleh karena itu CO merupakan intermediat pada reaksi pembakaran tersebut dan dapat merupakan produk akhir jika jumlah oksigen tidak cukup untuk melangsungkan reaksi kedua. CO juga dapat merupakan produk akhir meskipun jumlah oksigen di dalam campuran pembakaran cukup, tetapi antara minyak bakar dan udara tidak tercampur rata. Pencampuran yang tidak rata antara minyak bakar dengan udara menghasilkan beberapa tempat yang kekurangan oksigen. Semakin rendah perbandingan antara udara dan minyak bakar, semakin tinggi jumlah karbon monoksida yang dihasilkan. Padahal manusia, tumbuhan, dan hewan yang merupakan bagian dari lingkungan sangat membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup. CO antropogenik (Sumber-sumber pencemar udara dari titik tetap (point sources) dari emisi automobil dan industri memberikan kontribusi pada efek rumah kaca dan pemanasan global (Prabu, 2008) Setiap ruangan terbatas yang memungkinkan CO berakumulasi adalah berbahaya. Misalnya saluran gas kota di rumah yang selalu tertutup, atau hanya sebentar saja terbuka dalam satu hari, aliran atau kebocoran gas itu dapat menyebabkan pencemaran udara di dalamnya. Kalau CO di udara dihirup oleh paru-paru maka oksigen (yang mutlak dibutuhkan tubuh) akan kalah bersaing dengan CO lebih cepat terikat oleh hemoglobin dibanding oksigen dan membentuk senyawa karboksihemoglobin. CO (g) + Hb (aq) HbCO (aq)

Reaksi di atas dapat di balik (reversibel), dan CO masih dapat terlepas lagi, sehingga hemoglobin masih mungkin mengikat lagi oksigen yang diperlukan. Akan tetapi ternyata afinitas Hb terhadap CO lebih besar dari pada terhadap oksigen, sekitar 250 kali lipat. Hal ini mengakibatkan CO sukar terlepas dari Hb. Akibatnya fungsi Hb sebagai pembawa oksigen tidak berjalan lancar, dan seolaholah tubuh kekurangan oksigen yang bisa menyebabkan kematian. Pergeseran reaksi kesetimbangan ke sebelah kiri (pelepasan Hb oleh CO) dapat dipercepat jika udara yang dihisap mengandung kadar oksigen tinggi, sehingga banyak terbentuk lagi oksihemoglobin (HbO2) yang diperlukan oleh jaringan tubuh untuk pembakaran. Sebaliknya jika kadar oksigen rendah, seperti di tempat yang tinggi dapat menguatkan efek racun CO. Menurut standar kriteria, yang menyebabkan bahaya dari keadaan HbCO adalah sebagai berikut: Jika HbCO terdapat 2% - 5% akan mempengaruhi sistem saraf sentral Jika HbCO terdapat 5% mempengaruhi kesehatan jantung, dan apabila dalam pengukuran tepat: CO 15 ppm selama 8 jam akan menyebabkan terbentuknya 2% HbCO, keadaan ini sudah kurang baik. CO 30 ppm selama 8 jam akan menyebabkan terbentuknya 4% HbCO, keadaan ini menyebabkan kita prihatin. CO 40 ppm selama 8 jam menyebabkan terbebtuknya 5% HbCO, dan keadaan ini sudah berbahaya (Samsuri, 1982 :99) Jadi, keracunan CO di sini tidak menyebabkan jaringan tubuh rusak, melainkan terjadinya gangguan terhadap fungsi dan pekerjaan utama hemoglobin. Selain itu karbon monoksida juga dapat

membahayakan bagi wanita yang sedang hamil karena dapat mengakibatkan anak yang dilahirkan nantinya dapat mengalami prematur dan berat badan bayi di bawah normal, karena karbon monoksida dapat mengurangi fungsi oksigensi jaringan dan plasental. Hal semacam ini sering terjadi pada wanita yang mempunyai kebiasaan merokok.

2.3

Pengendalian Karbon Monoksida

Melihat berbagai dampak yang ditimbulkan karbon monoksida di lingkungan, maka dari itu diperlukan adanya pengendalian terhadap karbon monoksida. Pengendalian tersebut meliputi pencegahan terhadap munculnya karbon monoksida di lingkungan serta penanggulangan terhadap karbon monoksida yang sudah mencemari lingkungan.

2.3.1

Pencegahan

Dengan adanya pengaruh yang cukup membahayakan dari gas CO terutama di tempat sumber (sumber yang menghasilkan CO). Oleh karena itu, perlu dilakukan pencegahan terhadap munculnya CO, pencegahan tersebut meliputi pencegahan munculnya CO pada sumber bergerak dan sumber yang tidak bergerak. 2.3.1.1 Sumber Bergerak Pada sumber bergerak, sumber CO kebanyakan berasal dari kendaraan bermotor. Untuk mencegah munculnya CO, langkah awal yaitu merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap baik, misalnya melakukan servis yang teratur. Pada saat servis, sebaiknya meminta mekanik agar kadar CO dalam emisi gas buang selalu memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah (Ahmad, R. 2004: 123). Selanjutnya, perlu dilakukan uji emisi yang dilakukan pada setiap mobil dan melakukan KIR kendaraan secara berkala, serta melakukan pemasangan filter pada knalpot (Anonim, 2008). Emisi dari gas CO dapat diturunkan dengan pengaturan pemasukan udara. Seperti perbandingan bahan bakar (berat : berat) kira 16 : 1, dalam pembakaran mesin mobil (Ahmad, R. 2004: 123). Sekarang ini, mobil-mobil yang modern sudah banyak yang menggunakan Catalytic Exhaust Reaktors untuk menurunkan emisi CO. Kelebihan udara dipompakan ke dalam tempat pembuangan gas dan campuran tersebut dilewatkan melalui ruang katalitik dalam sistem pembuangan dimana akan terjadi oksidasi dari CO menjadi CO2 (Ahmad, R. 2004: 123). 2.3.1.2 Sumber Tidak Bergerak Pada sumber yang tidak bergerak, sumber CO kebanyakan berasal dari pabrik industri. Untuk mencegah munculnya CO, maka perlunya melakukan perawatan pada mesin industri agar tetap baik dan melakukan pengujian secara berkala, perlunya pemasangan scruber pada cerobong asap serta perlunya penggunaan bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar CO rendah (Anonim, 2008). 2.3.1.3 Manusia

Dilihat dari dampak yang ditimbulkan akibat adanya CO serta pencegahan pada sumbersumber munculnya CO, maka perlu diketahui bahwa manusia (khususnya kesehatan manusia) dilingkungan merupakan salah satu subjek yang terkena langsung dampak yang ditimbulkan CO. Oleh karena itu, untuk mencegah dampak kesehatan maka perlu dilakukan beberapa hal, diantaranya yaitu : penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti masker gas, menutup/menghindari tempat-tempat yang diduga mengandung CO seperti sumur tua, gua, dll (Anonim, 2008). Serta perlunya pemasangan detektor karbon monoksida yang dapat mendeteksi gas CO pada tingkat tertentu dalam sebuah ruangan atau kendaraan. Detector Karbon monoksida akan memberikan peringatan erupa alarm jika dalam ruangan atau kendaraan tersebut terdapat gas CO (Samsuri, 1982:100).

2.3.2

Penanggulangan

Adanya karbonmonoksida yang telah mencemari lingkungan sudah tidak dapat dihindari lagi, maka dari itu perlu adanya penanggulangan terhadap karbon monoksida tersebut. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan diantaranya, yaitu : Mengatur pertukaran udara di dalam ruang seperti menggunakan exhaustfan

Bila terjadi korban keracunan CO maka diberikan pengobatan atau pernafasan buatan serta segera melarikan korban ke rumah sakit atau puskesmas terdekat (Anonim,2008).

2.4

Analisa Karbon Monoksida di Lingkungan

Sample : Gas CO yang dikeluarkan oleh mobil ketika mesin di panaskan di dalam ruangan tertutup. Obyek : Manusia

2.4.1

Sifat Fisik

Dilihat dari sifat fisiknya, gas karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna, berbau, dan tidak berasa. Gas CO utamanya dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna dari bensin atau solar.

2.4.2

Penyebab Terjadinya Gas CO

Penyebab utama timbulnya karbon monoksida (CO) pada mobil adalah apabila unsur oksigen (udara) tidak cukup untuk melakukan pembakaran sempurna sehingga karbon di dalam bahan bakar tidak terbakar seluruhnya. Hal ini diakibatkan karena adanya pencampuran antara bahan bakar dengan udara yang kurang sempurna, sehingga menyebabkan campuran sulit untuk terbakar seluruhnya atau waktu pembakaran yang terlalu cepat. Namun demikian, perbandingan campuran yang sesuai belum menjamin terjadi pembakaran sempurna. Ini dikarenakan campuran harus homogen dan pembentukan CO2 memerlukan waktu. Untuk itu perlu adanya sistem pencampuran bahan bakar

dan udara sehingga mendekati ideal, sehingga dapat menekan emisi yang dikeluarkan (Haryati, 2007: 17).

2.4.3

Proses Terjadinya Gas CO

Pada peristiwa pembakaran, suhu suatu ruang bakar akan naik secara drastis, demikian juga dengan tekanan yang terjadi. Pada proses pembakaran tekanan yang baik adalah dari 40-60 bar dan pada temperatur 2000-2500 oC. Secara kimia proses pembakaran yang terjadi antara bahan bakar yang berupa senyawa karbon dapat dijelaskan sebagai berikut. Apabila suplai udara cukup, akan terjadi proses sebagai berikut : C (s) + O2 (g) CO2 (g) + panas

Atom karbon (C) yang dioksidasi dengan gas oksigen (O2) akan menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) dan panas yang dikeluarkan sebagai hasil pembakaran. Gas karbon dioksida yang dihasilkan merupakan bentuk pembakaran yang sempurna dan gas ini pun tidak beracun sehingga aman bagi lingkungan. Sedangkan apabila pembakaran terjadi pada jumlah udara yang tidak cukup, reaksi yang terjadi adalah : 2C (s) + O2 (g) 2 CO (g) + 247 kJ

dari reaksi antara 2 karbon yang bereaksi dengan gas oksigen pada pembakaran yang tidak sempurna atau kurangnya campuran udara akan menghasilkan gas karbon monoksida yang akan menjadi polusi bagi lingkungan dan menyebabkan keracunan (Haryati, 2007: 17).

2.4.4

Proses Masuknya Gas CO pada Manusia

Apabila CO di udara dihirup oleh paru-paru maka oksigen (yang mutlak dibutuhkan tubuh) akan kalah bersaing dengan CO lebih cepat terikat oleh hemoglobin dibanding oksigen dan membentuk senyawa karboksihemoglobin. CO (g) + Hb (aq) HbCO (aq)

Reaksi di atas dapat di balik (reversibel), dan CO masih dapat terlepas lagi, sehingga hemoglobin masih mungkin mengikat lagi oksigen yang diperlukan. Akan tetapi ternyata afinitas Hb terhadap CO lebih besar dari pada terhadap oksigen, sekitar 250 kali lipat. Hal ini mengakibatkan CO sukar terlepas dari Hb. Akibatnya fungsi Hb sebagai pembawa oksigen tidak berjalan lancar, dan seolaholah tubuh kekurangan oksigen yang bisa menyebabkan kematian. Pergeseran reaksi kesetimbangan ke sebelah kiri (pelepasan Hb oleh CO) dapat dipercepat jika udara yang dihisap mengandung kadar oksigen tinggi, sehingga banyak terbentuk lagi oksihemoglobin (HbO2) yang diperlukan oleh jaringan tubuh untuk pembakaran. Sebaliknya jika kadar oksigen rendah, seperti di tempat yang tinggi dapat menguatkan efek racun CO. Menurut standar kriteria, yang menyebabkan bahaya dari keadaan HbCO adalah sebagai berikut:

1. Jika HbCO terdapat 2% - 5% akan mempengaruhi sistem saraf sentral 2. Jika HbCO terdapat 5% mempengaruhi kesehatan jantung, dan apabila dalam pengukuran tepat: CO 15 ppm selama 8 jam akan menyebabkan terbentuknya 2% HbCO, keadaan ini sudah kurang baik. CO 30 ppm selama 8 jam akan menyebabkan terbentuknya 4% HbCO, keadaan ini menyebabkan kita prihatin. CO 40 ppm selama 8 jam menyebabkan terbebtuknya 5% HbCO, dan keadaan ini sudah berbahaya. Jadi, keracunan CO di sini tidak menyebabkan jaringan tubuh rusak, melainkan terjadinya gangguan terhadap fungsi dan pekerjaan utama hemoglobin.

2.4.5

Alat Identifikasi Gas CO

Untuk mengukur konsentrasi CO di udara dipakai alat Drager Multigas Detector dan hasilnya dapat dibaca dalam skala pembacaan antara 100 3000 ppm untuk 10 kali tekanan,dan antara 100 3000 ppm untuk 1 kali tekanan. Alatnya berupa tabung dengan panjang kurang lebih 10 cm, di sebelah kiri pada dindingnya terdapat skala 100, 500, 1000, 2000, dan 3000 yang menyatakan konsentrasi CO dalam ppm, sedang di sebelah kanan pada dindingnya terdapat skala dari 10 sampai 300. Bagian ujungnya yang atas dipecahkan dan dihubungkan dengan pompa penekan, bila alat ini akan dipakai untuk mengukur konsentrasi CO. Dengan menekan pompa satu kali dapat terukur konsentrasi udara antara 100 sampai 300 ppm, sedang untuk mengukur konsentrasi antara 10 sampai 300 ppm, maka pompa ditekan 10 kali (Samsuri, 1982 :100).

2.4.6

Pencegahan Keracunan Gas CO

Pencegahan keracunan gas CO meliputi: Sebaiknya ketika memanaskan mesin mobil dilakukan di ruangan yang cukup ventilasi

Melakukan servis yang teratur pada mobil agar kadar CO dalam emisi gas buang selalu memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah Perlu dilakukan uji emisi yang dilakukan pada mobil Melakukan KIR kendaraan secara berkala Melakukan pemasangan filter pada knalpot

2.4.7

Penanggulangan Keracunan Gas CO

Mengatur ventilasi agar korban cepat mendapatkan oksigen, sehingga kebutuhan oksigen dalam tubuh korban tercukupi Melarikan korban ke rumah sakit atau puskemas terdekat.

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan

3.1.1 Karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa , tidak mudah larut dalam air, tidak menyebabkan iritasi, beracun dan berbahaya. Ia terdiri dari satu atom karbon yang secara kovalen berikatan dengan satu atom oksigen. Dalam ikatan ini, terdapat dua ikatan kovalen berikatan dan satu ikatan kovalen koordinasi antara karbon dan oksigen. 3.1.2 Dampak positif dari Karbon Monoksida adalah digunakan dalam sistem kemasan modifikasi udara Amerika Serikat, utamanya digunakan dalam produk-produk daging segar seperti daging kerbau dan babi. Sedangkan dampak negatifnya adalah gas Karbon Monoksida (CO) yang sebagian besar dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna dapat mencemari lingkungan dimana gas CO dilepaskan. Akibat meningkatnya gas karbon monoksida, persediaan oksigen ditempat tersebut semakin berkurang. 3.1.3 Untuk mencegah munculnya CO, langkah awal yaitu merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap baik, misalnya melakukan servis yang teratur. Pada saat servis, sebaiknya meminta mekanik agar kadar CO dalam emisi gas buang selalu memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah. 3.1.4 Penyebab utama timbulnya karbon monoksida (CO) pada mobil adalah apabila unsur oksigen (udara) tidak cukup untuk melakukan pembakaran sempurna sehingga karbon di dalam bahan bakar tidak terbakar seluruhnya. Hal ini diakibatkan karena adanya pencampuran antara bahan bakar dengan udara yang kurang sempurna, sehingga menyebabkan campuran sulit untuk terbakar seluruhnya atau waktu pembakaran yang terlalu cepat

Pembakaran Sempurna dan Tidak Sempurna


Ditulis oleh Bambang Sugianto pada 16-06-2009

Pembakaran bahan bakar dalam mesin kendaraan atau dalam industri tidak terbakar sempurna. Pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon (bahan bakar fosil) membentuk karbon dioksida dan uap air. Sedangkan pembakaran tak sempurna membentuk karbon monoksida dan uap air. Misalnya: a. Pembakaran sempurna isooktana: C8H18 (l) +12 O2 (g) > 8 CO2 (g) + 9 H2O (g) H = -5460 kJ

b. Pembakaran tak sempurna isooktana: C8H18 (l) + 8 O2 (g) -> 8 CO (g) + 9 H2O (g) H = -2924,4 kJ

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_fisika1/termokimia/pembakaran-sempurna-dantidak-sempurna/