Anda di halaman 1dari 8

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

I.

SALEP Salep adalah obat-obatan yang diperuntukkan pemakaian diluar, sering kali dipakai pada kulit dan mempunyai konsistensi yang padat ( Van Duin ). Menurut FI III pengertian salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahkan obatnya harus larut atau tedispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. Sedangkan menurut FI IV, salep adalah sediaan semi padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Menurut !"# data standart, salep adalah sediaan yang mengandung kurang dari $%& air dan minyak ' minyak dan lebih dari (%& nilai hidrokarbon, lilin, atau basis yang sesuai dan biasanya dipakai pada permukaan kulit) topikal dan selaput lendir. Suatu salep, dimana setengah atau lebih terdiri dari *at ' *at padat , dinamakan pasta, jadi konsistensinya lebih keras. Sebaliknya jika salep berbentuk cairan kental dinamakan linimentum. Salep-salep yang banyak mengandung air disebut krim dan dapat digosokkan pada seluruh kilit. Salep tidak boleh bau tengik. +ecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalm salep yang mengandung obat keras atau obat narkotik adalah ,%&. Salep merupakan bentuk sediaan dengan konsistensi semisolida yang berminyak dan pada umumnya tidak mengandung air dan mengandung bahan akti- yang dilarutkan atau didispersikan ke dalam suatu pemba.a. /emba.a atau basis salep digolongkan menjadi 0 kelompok, yaitu 1 1. Dasar salep hidrokarbon !asar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak, misalnya 2aselin putih dan salep putih. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. !asar salep hidrokarbon sebagai emollient dan sukar dicuci. 2. Dasar salep serap !asar salep ini dibagi menjadi $ kelompok, kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak. Misalnya 1 para-in hidro-ilik dan lanolin anhidrat.

+elompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapt bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan, misalnya lanolin. 3. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air !asar salep ini emulsi minyak dalam air antara lain, salep hidro-ilik dan lebih tepat disebut dengan krim. +euntungan dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologi. 4. Dasar salep larut dalam air Basis ini juga disebut dasar salep tak berlemak. +euntungan dasar salep ini adalah dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air seperti, para-in, lanolin anhidrat atau malam. !alam pemilihan basis salep untuk mem-ormulasi suatu bahan aktimenjadi sediaan semisolida, harue mempertimbangkan -aktor--aktor sebagai berikut 1 ,. $. 3. 0. Si-at pelepasan yang diinginkan dari bahan obat yang ada dalam sediaan salep Si-at pelembaban yang diinginkan 4ingkat stabilitas bahan obat Faktor lain yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pengobatan Meskipun pembuatan salep kelihatannya sangat sederhana, namun sering dijumpai kesukaran-kesukaran pada pembuatan salep yang homogen tanpa bintik- bintik atau butir- butir. /ada pembuatan salep, untuk menghindari kesukaran-kesukaran dalam pembuatannnya biasanya mengikuti peraturan pembuatan salep yaitu, ,. 5at-*at yang larut dalam campuran lemak yang tersedia, dilarutkan didalamnya dan jika perlu dilakukan dengan penghangatan. $. 5at-*at yang mudah larut dalam air jika tidak ditentukan lain lebih dahulu dilarutkan dalam air, asal air yang dibutuhkan untuk melarutkannya dapat diserap oleh campuran lemak yang ditentukan, banyaknya air yang dipakai dikurangkan dari jumlah camputan lemak yang telah ditentukan. 3. 5at-*at yang cukup sukar larut dalam lemak dalam air, mula-mula diserbuk dan diayakan dengan ayakan B-0%. 5at padat dicampur dengan setengah

bobot lemak, yang jika perlu dicairkan terlebih dahulu, kemudian sisa lemak yang lain ditambahkan sedikit demi sedikit. 0. Bahan-bahan salep yang dibuat dengan cara dilelehkan atau dicairkan, maka campuran bahan-bahan tersebut harus diaduk sampai dingin.

II.

ANTI KERATOLITIKUM !ari segi terapeutik in-eksi jamur pada manusia dapat dibedakan atas in-eksi sistemik, determato-it, dan mukokutan. In-eksi sistemik dapat lagi dibagi atas in-eksi dalam 6internal) dan in-eksi subkutan. !asar -armakologis dari pengobatan in-eksi jamur belum sepenuhnya dimengerti. Secara umum in-eksi jamur dibedakan atas in-eksi jamur sistemik dan in-eksi jamur topikal 6dermato-it dan mukokutan). 7. 7nti 8amur unutk In-eksi Sistemik 7m-oterisin B Merupakan obat pilihan untuk in-eksi mikosis sistemik. 9bat ini kadang digunakan dalam bentuk kombinasi dengan -lusitosin sehingga menurunkan 6kurang toksik) kadar 7m-oterisin B. Bersi-at -ungisidal atau -ungistatika, tergantung organisme dan konsentrasinya. "-ekti- untuk kebanyakan jamur seperti Cryptococcus neoformans, Candida albicans, Histoplasma capsulatum, Coccidiodes immitis, banyak stain aspergilus, dan lastomyces dermatitidis. Flusitosin Flusitosin adalah -ungistatika dan e-ektimengobati kromblastomikosis dan dalam bentuk kombinasi, e-ekti- untuk kandidiasis dan kriptokokosis. Imida*ol dan 4ria*ol +etokona*ol Merupakan pengganti dari Imida*ol, merupakan satu keluarga a*ol yang berman-aat mikosis sistemik. Bersi-at -ungistatika atau -ungisida tergantung dosis. Meski akti- terhadap jamur yang sama dengan 7m-oterisin B, +etona*ol lebih berguna dalam pengobatan histoplasmosis. +etona*ol juga adikti- terhadap -lusitosin untuk Candida, antagonis untuk 7m-oterisin B Flukona*ol

+ombinasi -lusitosin dengan 7m-oterisin bersi-at sinergik 67m-oterisin B : permeabilitas, Flusitosin : penetrasi sel). Merupakan obat pilihan untuk Criptococcus neoformans untuk !andidemia dan !oksidioidomikosis. Vorikona*ol Itrakona*ol Merupakan obat antijamur keluarga asol yang baru. +aspo-ungin 4erbina-in B. 7nti 8amur untuk In-eksi !ermato-it dan Mukokutan ;riseo-ul2in 9bat ini secara prinsip bersi-at -ungisistatika. 9bai ini hanya e-ekti- terhadap triko-iton, mikrosporum dan epidermato-it. 9bat ini digunakan untuk pengobatan in-eksi tinea berat yang tidak memeberikan respon terhadap obat-obatan anti jamur lainnya. Imida*ol dan 4ria*ol Mikona*ol Menghambat akti-itas jamur "richophyton, #pidermophyton, $icrosporum, Candida dan $alasse%ia furfur. "-ekti- terhadap beberapa kuman gram positi-. Itrakona*ol Memiliki e-ek anti jamur dan antibakteri dengan mekanisme kerja mirip mikona*ol dan secara topikal digunakan untuk pengobatan tinea pedis, kruris dankorporis yang disebabkan ". rubrum, ". mentagrophytes, ". -loccosum dan $. Canis dan unuk tinea 2esikolor. 8uga untuk in-eksi kulit dan 2ul2oginitis yang disebabkan oleh C. albicans. 4olna-tat dan 4olsiklat 4olna-tat Suatu tiokarbamat yang e-ekti- untuk pengobatan Itrakona*ol <istatin

Merupakan suatu antibiotika polien= stuktur, rumusan kimia, mekanisme kerja dan resistensi mirip dengan &mfoterisin . /enggunaan terhadap kandida secara topikal terbatas karena toksisitas sistemiknya. 9bat ini diberikan secara per-oral unutk pengobatan kandidiasis oral. 4idak pernah diberikan secara parenteral, karena tidak diabsorbsi di saluran cerna. "kskresinya dalam tinja secara kuantitati-.e-ek samping jareng karena absorbsinya yang jelek, tetapi kadang menimbulkan mual dan muntah. . 7nti jamur 4opikal >ainnya 7sam ben*oat dan 7sam salisilat 7sam undesilenat ?aloprogin Siklopiroks 9lamin 4erbina-in

III. MACAM-MACAM PENYAKIT KULIT +ulit adalah organ komplek yang melihat keadaannya banyak mengalami lika. #espon dari maca-macam sistim kulit dapat digolongkan sebagai kenaikkan, pengurangan atau pnyimpangan dalam reproduksi, akti2itas atau sekresi. /erubahan yang terjadi pada kulit dapat menyebabkan masuknya bakteri dan proli-erasi. Interaksi dari keadaan semula, keadaan metal dan -isik pasien, respon in-lamasi, dan pengobatan akan membuat kondisi penyakit yang kompleks. Berdasarkan si-atnya kelainan kulit dibagi atas1 7. +elainan kulit primer berupa lesi yang timbul, mula-mula akibat kelainan kulit. Macam-macam kelainan kulit primer1 ,. Macula1 terjadi perubahan .arna kulit $. "ritema1 terjadi perubahan .arna kulit menjadi merah, disebabkan 2asodilatasi kapiler daerah kulit 3. /apula1 terjadi penonjolan kulit dan berbatas tegas, konsistensinya keras) kenyal, prnampang kurang dari ( mm dan bila labih ( mm disebut in-iltrate

0. Vesikula1 terjadi penonjolan kulit dan berbatas tegas, berongga, berisi cairan jernih, mempunyai penampang @ (mm. bila A (mm disebut bulla (. /ustula1 merupakan 2esikula yang bernanah B. +elainan kulit sekunder terjadi berupa kelanjutan atau modi-ikasi dari kelainan kulit primer. Macam-macam kelainan kulit sekunder1 ,. Skuama1 pelepasan sebagian dari lapisan tanduk $. +rusta1 cairan) eskudat) serum yang mongering 3. "rosi1 kerusakkan epidermis hanya mengenai bagian stratum corneum dan stratum lucidum 0. "kskoriasi1 kerusakkan epidermis mengenai lapisan lebih dalam, tetapi masih di atas stratum basal (. Fissura1 terbelahnya kulit karena tekanan) gerakkan pada kulit yang mengalami kekakuan dan dapat melampaui stratum basal /ada mikologi kedokteran dikenal ada 3 type penyakit jamur 6Mycosis) yakni 1 7. Mycosis super-icial 1 menyerang lapisan korneum pada kulit, kuku, dan rambut. ,. 8amur golongan dermatophyta yang terbagi menjadi 3 genus1 4richophyton menyerang kulit, kuku, dan rambut. Mycrosporum menyerang rambut dan kuku "pydermophyton menyerang kuku dan kulit. Mereka menyebabakan penyakit yang dikenal sebagai dermatophytosis atau kurap atau kadas atau ring .orm. $. 8amur golongan non-dermatophyta /iedra meyerang rambut disebabkan oleh 'iedra hortai. 4inea 2ersicolor 6panu) menyerang kulit disebabkan oleh $ale%ia furfur B. Mycosis subkutis 1 menyerang kulit, selaput lendir dan jaringan di ba.ah kulit 6subcutis) jarang menjalar ke 2iscera seperti1 ,. /hycomycosis subcutis disebabkan oleh $aristophorus. $. Mycetoma yang disebabkan oleh jamur golongan Schy*omycophyta dan "umycophyta. asidiobolus ranarum dan .

. Mycosis pro-unda atau sisitemik 1 menyerang organ dalam antara lain 1 ,. 7ctinomycosis oleh jamur 7ctinomycetes $. <ocardiasis oleh jamur <ocardia 3. andidiasis oleh jamur andida 0. 7spergilosis oleh jamur 7spergillus

IV.

PERSYARATAN MUTU Sediaan yang dibuat harus memenuhi persyaratan mutu yang setara dengan ketentuan CS/ dan memperhatikan kriteria penda-taran obat jadi. a. Aman 7man artinya sediaan yang kita buat harus aman secara -isilogis maupun psikologis, dengan dosis tertentu dapat meminimalisir suatu e-ek samping sehingga tidak lebih toksik dari bahan akti- yang belum di-ormulasi. Bahan sediaan -armasi merupakan suatu senya.a kimia yang mempunyai karakteristik -isika, kimia yang berhubungan dengan e-ek -armakologis, perubahan sedikit saja pada karakteristik tersebut dapat menyebabkan perubahan -armakokinetik, -armakodinamik suatu senya.a. 6()' *++, p.34) b. Efektif "-ekti- dapat diartikan sebagai dalam jumlah kecil mempunyai e-ek yang optimal. 8umlah atau dosis pemakaian sekali pakai, sehari dan selama pengobatan 6, kurun .aktu) harus mampu untuk mencapai reseptor dan memiliki e-ek yang dikehendaki Sediaan e-ekti- adalah sediaan bila digunakan menurut aturan yang disarankan dengan 6()' *++, p.34) c. Stabi ita! "i!ika Si-at ' si-at -isika seperti organoleptis, keseragaman, kelarutan dan 2iskositas tidak berubah 6()' *++, p.1-.3) B8 A , g)m>. aturan pakai menghasilkan e-ek -armakologi yang optimal untuk tiap ' tiap bentuk sediaan dengan e-ek samping yang minimal

#. Stabi ita! Kimia Secara kimia inert sehingga tidak menimbulkan perubahan .arna, p?, dan bentuk sediaan 6()' **++ / 1-.3) e. Stabi ita! Mik$%bi% %&i 4idak ditemukan pertumbuhan mikroorganisme selama .aktu edar. 8ika mengandung preser2ati- harus tetap e-ekti- selama .aktu edar Mikroorganisme yang tidak boleh ditemukan pada sediaan 1 )almonella spp, #. Coli, #ntrobacter spp., '. aeruginosa, Clostridium 6 0achman, p 412). spp., Candida albicans

4idak ditemukan pertumbuhan mikroorganisme selama .aktu edar. Mikroorganisme yang tidak boleh ditemukan pada sediaan 1 )almonella spp.= #.coli3 #nterobacter spp.3 '.aureginosa3 Clostridium spp.3 Candida albicans f. Stabi ita! T%k!ik% %&i /ada penyimpanan maupun pemakaian tidak boleh ada kenaikan toksisitas 6()' **++, p.1-.3) &. Stabi ita! "a$mak% %&i Selama penyimpanan dan pemakaian e-ek terapeutiknya harus tetap sama 6()' *++, p. 1-.3).