Anda di halaman 1dari 7

OBAT ORAL

1.LAMESON KANDUNGAN 6-Metilprednisolon. INDIKASI Kondisi meradang & alergi, rematik yang merespon terapi kortikosteroid. KONTRA INDIKASI Tuberkulosa, ulkus peptikum, infeksi jamur sistemik, herpes simpleks, diabetes melitus, cacar air. PERHATIAN Hamil, stres, cenderung psikosis (penyakit jiwa atas dasar kelainan organik atau gangguan emosi yang ditandai dengan kehancuran kepribadian dan kehilangan kontak dengan kenyataan, seringkali dengan delusi, halusinasi, atau ilusi), insufisiensi/kegagalan ginjal, hipertensi. Interaksi obat : antidiabetik, obat-obat anti radang non steroid, Rifampisin, Barbiturat. EFEK SAMPING Retensi Natrium & cairan, gangguan penyembuhan luka, gangguan metabolisme karbohidrat, kelemahan otot, peningkatan tekanan dalam mata dan dalam tengkorak, osteoporosis. DOSIS Diawali dengan dosis sebesar 4-48 mg/hari, kemudian secara bertahap dikurangi sampai dosis terendah yang efektif untuk pemeliharaan. PENYAJIAN Dikonsumsi bersamaan dengan makanan. 2.AERIUS KANDUNGAN Desloratadine. INDIKASI Menghilangkan gejala pada hidung dan bukan hidung dari rinitis alergika (musiman dan sepanjang tahun). Terapi simtomatik (hanya untuk menghilangkan gejalanya saja) gatal-gatal, mengurangi jumlah dan ukuran hives (penyakit dengan rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak) pada pasien dengan urtikaria idiopatik kronis (biduran menahun yang tidak diketahui sebabnya). PERHATIAN Hamil, menyusui.

EFEK SAMPING Faringitis, mulut kering, nyeri otot, ketagihan tidur, nyeri saat haid. INDEKS KEAMANAN PADA WANITA HAMIL C: Penelitian pada hewan menunjukkan efek samping pada janin ( teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan belum ada penelitian yang terkendali pada wanita atau penelitian pada wanita dan hewan belum tersedia. Obat seharusnya diberikan bila hanya keuntungan potensial memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada janin. KEMASAN Tablet salut-selaput 5 mg x 30 butir. DOSIS Dewasa dan anak berusia 12 tahun ke atas : 5 mg sekali sehari. PENYAJIAN Dikonsumsi bersamaan dengan makanan atau tidak

OBAT TOPIKAL
1.FORMYCO KANDUNGAN Ketoconazole / Ketokonazol. INDIKASI Tinea corporis (kurap pada badan), tinea cruris (kurap lipat paha), tinea versicolor (panu), tinea manus (seperti kutu air tapi pada tangan), tinea pedis (kutu air), & kandidiasis kulit, dermatitis seboroik. KONTRA INDIKASI Penggunaan pada mata. EFEK SAMPING Iritasi, gatal-gatal & rasa terbakar. INDEKS KEAMANAN PADA WANITA HAMIL C: Penelitian pada hewan menunjukkan efek samping pada janin ( teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan belum ada penelitian yang terkendali pada wanita atau penelitian pada wanita dan hewan belum tersedia. Obat seharusnya diberikan bila hanya keuntungan potensial memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada janin. KEMASAN Krim 2 % x 10 gram. DOSIS Tinea corporis, tinea cruris, tinea versicolor, tinea manus, tinea pedis, kandidiasis kulit : gunakan sedikit krim sekali sehari selama 2 minggu atau sampai beberapa hari setelah gejalagejala hilang. Dermatitis seboroik : gunakan sejumlah kecil krim 2 kali sehari selama 4 minggu atau sampai bersih secara klinis.

2.DIPROSONE GENERIK Betametason dipropionat. INDIKASI Manifestasi peradangan & gatal-gatal pada psoriasis berat atau resisten & dermatosis yang responsif terhadap kortikosteroid. KONTRA INDIKASI Penyakit virus, infeksi kulit akibat bakteri & jamur, jerawat, rosase, & dermatitis perioral. PERHATIAN Penggunaan yang luas atau penggunaan jangka panjang, wanita hamil, bayi & anak berusia kurang dari 12 tahun. Hindari kontak dengan mata. EFEK SAMPING Perubahan atrofi setempat (pengobatan jangka panjang & intensif). Gatal-gatal, folikulitis, hipertrikosis, erupsi akneformis, hipopigmentasi, dermatitis perioral & dermatitis kontak alergik, pengelupasan kulit, infeksi sekunder, stria, dan biang keringat. KEMASAN Krim 0,05 % x 10 gram. DOSIS Gunakan 1 atau 2 kali sehari.

INTERAKSI OBAT 1. INTERAKSI FARMAKOKINETIK Obat Oral


Absorpsi Lameson Diabsorpsi cukup baik di usus. Aerius Diabsorpsi secara baik di usus. Pemberian antihistamin H1 secara oral efeknya timbul 1530 menit dan maksimal setelah 1-2 jam, mencapai konsentrasi puncak plasma rata-rata dalam 2 jam. Ikatan dengan protein plasma berkisar antara 78-99%. Kadar tertinggi terdapat pada paru-paru sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot, dan kulit kadarnya lebih rendah. Interaksi Obat Tidak terjadi interaksi di kedua obat ini. Karena kedua obat tidak mengubah ataupun mempengaruhi pH saluran cerna,perubahan waktu pengosongan lambung, maupun perubahan flora di usus. Tidak terjadi kompeetisi di antara kedua obat. Karena Methylprednisolone memiliki reseptor yang spesifik, sehingga pengikatan aerius pada protein plasma tidak dihambat.

Distribusi

Methylprednisolone berikatan dengan reseptor protein spesifik corticosteroid binding globulin (CBG), suatu globulin yang disintesa di lever. Sekitar 95% kortikosteroid yang yang beredar disirkulasi akan berikatan dengan CBG dan sisanya sekitar 5% beredar bebas dan atau terikat longgar dengan albumin Metabolisme Biotransformasi steroid terjadi di dalam dan di luar hati. Semua kortikosteroid yang aktif memiliki ikatan rangkap pada atom C4,5 dan gugus keton pada atom C3. Reduksi ikatan rangkap C4,5 terjadi di dalam hati dan jaringan ekstrahepatik serta menghasilkan senyawa inaktif. Perubahan gugus keton menjadi gugus hidroksil hanya terjadi di hati. Sebagian besar hasil reduksi gugus keton pada atom C3 melalui gugus hidroksilnya secara enzimatik bergabung dengan asam sulfat atau

Dimetabolisme melalui hepatic microsomal mixed-function oxygenase system, tetapi dapat juga melalui paruparu dan ginjal. Konsentrasi plasma yang relatif rendah setelah pemberian dosis tunggal menunjukkan kemungkinan terjadi efek lintas pertama oleh hati.

Tidak terjadi interaksi di kedua obat karena keduanya tidak berkompetisi dalam mekanisme kerja substrat dengan enzim metabolisme.

Ekskresi

asam glukuronat membentuk ester yang mudah larut dan kemudian diekskresi. Reaksi enzimatik yang membuat produk akhir menjadi mudah larut untuk diekskresi terutama terjadi di hati dan sebagian kecil di ginjal.

Antihistamin H1 dieksresi melalui urin setelah 24 jam, terutama dalam bentuk metabolitnya.

Tidak terjadi interaksi antar kedua obat karena tidak terjadi kompetisi untuk sistem transport aktif.

Obat Topikal
Absorpsi Diprosone Diprosone mengandung betamethasone dipropionate yang diabsorpsi secara transepidermal dan menuju ke daerah di lapisan kulit yang mengalami inflamasi. Obat ini akan diekskresi melewati kelenjar keringat dan dapat melalui pembuluh darah sehingga dapat diekskresi melalui urin. Formyco Ketoconazole krim yang merupakan kandungan dalam formyco akan diabsorpsi secara transepidermal dan menuju ke tempat dimana jamur menginfeksi. Obat ini akan diekskresi melewati kelenjar keringat dan dapat melalui pembuluh darah sehingga dapat diekskresi melalui urin. Interaksi Obat Kedua obat ini tidak mengalami interaksi karena tempat sasaran yang dituju berbeda. Kedua obat ini tidak mengalami interaksi dalam ekskresi karena mengadakan kompetisi

Ekskresi

2. INTERAKSI FARMAKODINAMIK Obat Oral


Indikasi Lameson Kondisi meradang & alergi, rematik yang merespon terapi kortikosteroid. Aerius pada hidung dan bukan hidung dari rinitis alergika (musiman dan sepanjang tahun). (hanya untuk menghilangkan gejalanya saja) gatal-gatal, mengurangi jumlah dan ukuran hives (penyakit dengan rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak) pada pasien dengan urtikaria idiopatik kronis (biduran menahun yang tidak diketahui Interaksi Obat -

sebabnya). Mekanisme Kerja Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul hormon memasuki sel jaringan melalui membran plasma secara difusi pasif di jaringan target, kemudian bereaksi dengan resepto protein spesifik dalam sitoplasma sel jaringan dan membentuk kompleks reseptor steroid, lalu bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik. Aerius, dengan bahan aktif desloratadine (DL), adalah sebuah H1 Antagonist. Desloratadine akan menghambat pengikatan histamin dengan reseptor spesifik pada berbagai jaringan, yaitu reseptor H1. Antihistamin dan histamin saling berlomba menempati reseptor histamin. Blokade reseptor H1 oleh antihistamin H1 tidak diikuti aktivasi reseptor H1, tetapi hanya mencegah agar histamin tidak berikatan dengan reseptor H1, sehingga tidak terjadi efek biologik misalnya kontraksi otot polos, vasodilatasi, dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Tidak terjadi interaksi di antara kedua obat ini karena reseptor kedua obat berbeda.

Obat Topikal
Indikasi Diprosone Manifestasi peradangan & gatal-gatal pada psoriasis berat atau resisten & dermatosis yang responsif terhadap kortikosteroid. Formyco Tinea corporis (kurap pada badan), tinea cruris (kurap lipat paha), tinea versicolor (panu), tinea manus (seperti kutu air tapi pada tangan), tinea pedis (kutu air), & kandidiasis kulit, dermatitis seboroik. Menghambat sintesis ergosterol yang menyebabkan permeabilitas membran sel jamur meningkat. Mungkin pula terjadi gangguan sintesis asam nukleat atau penimbunan peroksida dalam sel jamur yang akan menimbulkan kerusakan. Interaksi Obat -

Mekanisme Kerja

Melalui proses penetrasi, glukokortikoid masuk ke dalam inti sel-sel lesi, berikatan dengan kromatin gen tertentu, sehingga aktivitas sel-sel tersebut mengalami perubahan. Selsel ini dapat menghasilkan protein baru yang dapat membentuk atau menggantikan sel-sel yang tidak berfungsi,

Tidak terjadi interaksi karena mekanismekerja kedua obat berbeda dimana reseptor yang diduduki kedua obat tidak sama.

menghambat mitosis (antiproliferatif), bergantung pada jenis dan stadium proses radang. Glukokotikoid juga dapat mengadakan stabilisasi membran lisosom, sehingga enzim-enzim yang dapat merusak jaringan tidak dikeluarkan.