Anda di halaman 1dari 4

REHABILITATION STROKE

Masih belum diketahui pasti bagaimana otak mengkompensasi kerusakan akibat stroke. Beberapa sel otak bisa jadi hanya rusak sementara/tidak mati dan dapat melanjutkan fungsi. Di beberapa kasus, otak dapat mengatur kembali fungsinya. Kadang, sebagian otak akan mengambil alih fungsi otak lainnya yang rusak akibat stroke. General recovery guideline menunjukan bahwa: 10% stroke survivors hampir sembuh secara total 25% sembuh dengan minor impairment 40% mengalami moderate severe impairments & butuh perawatan khusus 10% membutuhkan perawatan di nursing home atau fasilitas perawatan jangka-panjang 15% segera meninggal setelah stroke

Rehabilitasi stroke = proses multidimensi yang didesain untuk memfasilitasi restorasi atau adaptasi terhadap hilangnya fungsi fisiologis atau psikologis saat proses patologis yang mendasari belum sepenuhnya terjadi. Tujuannya adalah: Meningkatkan aktivitas fungsional dan partisipasi dalam kehidupan sosial sehingga meningkatkan kualitas hidup. Membantu mempelajari kembali skill yang hilang akibat rusaknya otak. Contoh : mengkoordinasikan pergerakan kaki untuk berjalan dan aktivitas kompleks lainnya. Membantu mempelajari cara baru untuk melakukan tugas untuk mengkompensasi disabilitasnya. Contoh : belajar bagaimana mandi dan berpakaian hanya dengan 1 tangan atau bagaimana berkomunikasi secara efektif meskipun kemampuan berbahasa telah terganggu. Stroke rehab settings

Stroke rehabilitation team

Proses Pemulihan setelah Stroke Proses pemulihan setelah stroke dibedakan atas pemulihan neurologis (fungsi saraf otak) dan pemulihan fungsional (kemampuan melakukan aktivitas fungsional). Pemulihan neurologis terjadi awal setelah stroke. Mekanisme yang mendasari adalah pulihnya fungsi sel otak pada area penumbra yang berada di sekitar area infark yang sesungguhnya, pulihnya

diaschisis dan atau terbukanya kembali sirkuit saraf yang sebelumnya tertutup atau tidak digunakan lagi. Kemampuan fungsional pulih sejalan dengan pemulihan neurologis yang terjadi. Setelah lesi otak menetap, pemulihan fungsional masih dapat terus terjadi sampai batas-batas tertentu terutama dalam 3-6 bulan pertama setelah stroke. Hal itulah yang menjadi fokus utama rehabilitasi medis, yaitu untuk mengembalikan kemandirian pasien mencapai kemampuan fungsional yang optimal. Proses pemulihan fungsional terjadi berdasarkan pada proses reorganisasi atau plastisitas otak melalui: 1. Proses Substitusi Proses ini sangat tergantung pada stimuli eksternal yang diberikan melalui terapi latihan menggunakan berbagai metode terapi. Pencapaian hasilnya sangat tergantung pada intaknya jaringan kognitif, visual dan proprioseptif, yang membantu terbentuknya proses belajar dan plastisitas otak. 2. Proses Kompensasi Proses ini membantu menyeimbangkan keinginan aktivitas fungsional pasien dan kemampuan fungsi pasien yang masih ada. Hasil dicapai melalui latihan berulang-ulang untuk suatu fungsi tertentu, pemberian alat bantu dan atau ortosis, perubahan perilaku, atau perubahan lingkungan. Pemilihan jenis intervensi rehabilitasi didasarkan pada pertimbangan beratnya gejala-sisa stroke, fase stroke saat terapi, penyakit penyerta dan atau komplikasi medis, serta berbagai faktor terkait lainnya seperti usia pasien, motivasi, serta dukungan dan ekonomi keluarga. Sebagai contoh pasien usia lanjut, penderita PPOK yang mendapat stroke akibat oklusi total cerebri media tentu tidak mungkin diberikan program rehabilitasi substitusi agar ia dapat berjalan dan mandiri penuh dalam aktivitas sehari-harinya, rehabilitasi kompensasi tentu lebih tepat untuknya. Intervensi Rehabilitasi Medis pada Stroke Secara umum rehabilitasi pada stroke dibedakan dalam beberapa fase. Pembagian ini dalam rehabilitasi medis dipakai sebagai acuan untuk menentukan tujuan (goal) dan jenis intervensi rehabilitasi yang akan diberikan, yaitu: 1. Stroke fase akut: 2 minggu pertama pasca serangan stroke 2. Stroke fase subakut: antara 2 minggu-6 bulan pasca stroke 3. Stroke fase kronis: diatas 6 bulan pasca stroke

Stroke rehabilitation activites Terapi komunikasi mendapatkan kembali kemampuan berbicara, mendengar, menulis, dan comprehension Strengthening motor skills berupa latihan untuk meningkatkan kekuatan otot dan koordinasi Mobility training belajar menggunakan alat bantu utk berjalan seperti kursi roda atau tongkat atau plastic brace yang mampu menstabilisasi kekuatan ankle untuk menopang berat tubuh saat berjalan Range of motion therapy latihan dan terapi lain untuk menurunkan tekanan otot (spasticity) dan mendapatkan kembali range of motion Psychological evaluation test kemampuan kognitif, konseling dengan mental health professional, berpartisipasi dalam support grup, dan menggunakan obat untuk memperbaiki mood

Constraint-induced therapy / force-use therapy ekstremitas yang sehat akan dibatasi penggunaanya saat latihan, sebaliknya ekstremitas yang sakit akan di force/dipacu penggunaannya agar fungsinya meningkat Electrical stimulation menggunakan elektrisitas untuk menstimulasi otot-otot yang lemah, sehingga otot tsb berkontraksi Robotic technology menggunakan robot untuk membantu ekstremitas yang terganggu dengan melakukan pergerakan berulang-ulang membantu ekstremitas mendapatkan kekuatan dan fungsinya kembali Virtual reality computer-based therapy yang melibatkan interaksi dengan real-time environment Rohani membantu untuk support mental pasien di bidang keagamaan. Faktor yang mempengaruhi outcome rehabilitasi stroke Keparahan stroke Motivasi dan kesediaan pasien Skill dari tim rehabilitasi Kooperasi keluarga dan kerabat good support network akan meningkatkan recovery Waktu rehab semakin cepat mulai, semakin baik prognosisnya Keikutsertaan aktivitas rehabilitas diluar sesi terapi Durasi rehabilitasi tergantung keparahan stroke dan komplikasi. Beberapa survivor dapat sembuh dengan cepat. Sebagian besar lainnya membutuhkan rehab jangka panjang (bisa berbulan-bulan hingga tahunan). Panjang tiap sesi rehab bervariasi tergantung pada recovery, severity symptom, dan respon thdp terapi.