Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Fotogrametri merupakan seni, ilmu, dan teknologi untuk mendapatkan data dan informasi mengenai objek fisis bumi dan kenampakan alam melalui proses perekaman, pengukuran, dan interpretasi foto serta pola dari energi radiasi elektromagnetik yang terekam juga melalui fenomena yang lain. Fotogrametri dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk untuk penentuan koordinat photo udara menggunakan orientasi dalam dan orientasi luar. Koordinat merupakan bagian yang sangat penting dalam sebuah peta. Hal ini juga berlaku pada sebuah photo udara karena photo udara juga merupakan salah satu jenis peta. Photo udara merupakan sebuah peta yang diambil dengan melakukan pemotretan di udara menggunakan pesawat terbang. Kemudian hasil photo tersebut diolah dalam laboratorium untuk mencari koordianatnya. Proses pembentukan model stereo merupakan kegiatan awal dalam setiap pekerjaan pemetaan fotogrametris, baik dalam pemetaan garis maupun pembuatan peta ortofoto. Oleh karena itu, penyiapan sepasang foto udara berpasangan, yang memenuhi pertampalan, pada sepasang proyektor mutlak dilaksanakan, yakni pertampalan depan ( overlap ) sebesar 60 % serta pertampalan samping ( sidelap ) sebesar 20-40 % dimana paling tidak semua titik dari obyek akan terletak pada dua foto. Apabila foto-foto berurutan dipasang dalam proyektor, dan diberi penyinaran maka akan terekonstruksi atau terbentuk kembali berkas-berkas sinar yang sesuai dengan berkas sinar didalam kamera. Model stereo merupakan obyek yang diamati-diukur-digambar menjadi media peta manuskrip; sementar pengertian model = kenampakan dalam ruang ( 3 D ) dari sebagian topografi yang dihasilkan oleh pasangan berkas-berkas sinar pada saat pemotretan. Dengan kata lain pengaturan model 3-D tidak lain adalah membentuk atau merekonstruksi kembali berkas sinar dari sepasang proyektor seperti kondisi pada saat pemotretan dilaksanakan. Apabila kedua proyektor diorientasi relatifkan seperti kamera pada saat pemotretan, sinar-sinar yang bersesuaian dari proyektor akan saling berpotongan. Dari seluruh titik akan membentuk model optikal, yang secara geometris sama dengan obyek yang dipotret. Skala model disini tergantung dari basis antara kedua proyektor, dan dapat bervariasi dengan melakukan pengubahan basisnya. Selanjutnya dengan gerakan rotasi dan translasi model dapat dibawa pada suatu bidang referensi (acuan) horizontal. Model ini dapat diproyeksikan dalam proyeksi orthogonal ke bidang proyeksi dengan skala tertentu yang analog dengan bidang acuan horizontal di tanah. Untuk mendapatkan koordinat photo udara dapat dilakukan dengan mencari orientasi dalam dan orientasi luarnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencari orientasi dalam dan orientasi luar yaitu menggunakan software LISA. Penggunaan software ini dapat menentukan orientasi dalam dan orientasi luar serta menentukan definisi model foto lebih cepat dari pada penghitungan manual.

1.2 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari pembuatan makalah ini adalah: 1. Memahami tentang orientasi dalam ilmu fotogrametri, khususnya orientasi dalam dan orientasi luar, 2. Mengetahui bagaimana cara proses pertampalan foto hingga mendapatkan hasil yang baik (Definisi Model) 3. Mengetahui cara membuat bentuk 3D pada sepasang foto udara 4. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan software LISA untuk melakukan aerophotomodelling dan mozaicing.

1.3 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam praktikum ini antara lain : 1. Bagaimana penggunaan software LISA untuk menentukan orientasi dalam dan orientasi luar, 2. Bagaimana proses pertampalan yang dilihatkan dalam bentuk 3 dimensi, dan 3. Bagaimana standar deviasi diperlihatkan selama proses penggunaan software tersebut.

1.4 Batasan Masalah Batasan masalah dalam praktikum ini hanya untuk menghitung orientasi dalam dan orientasi luar serta standar deviasi dan sampai pada proses pembentukan foto 3 dimensi.

1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum Pelaksanaan praktikum dilaksanakan pada: Hari/Tanggal : Senin/ 23 Nopember & 30 Nopember 2009 Pukul : 09.30-11.30 BBWI Tempat : Laboratorium Geospasial Teknik Geomatika FTSP ITS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Fotogrametri Fotogrametri atau aerial surveying adalah teknik pemetaan melalui foto udara. Hasil pemetaan secara fotogrametrik berupa peta foto dan tidak dapat langsung dijadikan dasar atau lampiran penerbitan peta. Proses pembentukan model stereo merupakan kegiatan awal dalam setiap pekerjaan pemetaan fotogrametris, baik dalam pemetaan garis maupun pembuatan peta ortofoto. Oleh karena itu, penyiapan sepasang foto udara berpasangan, yang memenuhi pertampalan, pada sepasang proyektor mutlak dilaksanakan, yakni pertampalan depan ( overlap ) sebesar 60 % serta pertampalan samping ( sidelap ) sebesar 20-40 % dimana paling tidak semua titik dari obyek akan terletak pada dua foto. Apabila foto-foto berurutan dipasang dalam proyektor, dan diberi penyinaran maka akan terekonstruksi atau terbentuk kembali berkas-berkas sinar yang sesuai dengan berkas sinar didalam kamera. Model stereo merupakan obyek yang diamati-diukur-digambar menjadi media peta manuskrip; sementar pengertian model = kenampakan dalam ruang ( 3 D ) dari sebagian topografi yang dihasilkan oleh pasangan berkas-berkas sinar pada saat pemotretan. Dengan kata lain pengaturan model 3-D tidak lain adalah membentuk atau merekonstruksi kembali berkas sinar dari sepasang proyektor seperti kondisi pada saat pemotretan dilaksanakan. Apabila kedua proyektor diorientasi relatifkan seperti kamera pada saat pemotretan, sinar-sinar yang bersesuaian dari proyektor akan saling berpotongan. Dari seluruh titik akan membentuk model optikal, yang secara geometris sama dengan obyek yang dipotret. Skala model disini tergantung dari basis antara kedua proyektor, dan dapat bervariasi dengan melakukan pengubahan basisnya. Selanjutnya dengan gerakan rotasi dan translasi model dapat dibawa pada suatu bidang referensi (acuan) horizontal. Model ini dapat diproyeksikan dalam proyeksi orthogonal ke bidang proyeksi dengan skala tertentu yang analog dengan bidang acuan horizontal di tanah. Pemetaan secara fotogrametrik tidak dapat lepas dari referensi pengukuran secara terestris, mulai dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga kepada pengukuran batas tanah. Batas-batas tanah yang diidentifikasi pada peta foto harus diukur di lapangan.. Bedasarkan definisi tersebut, maka pekerjaan fotogrametri dapat dibagi menjadi dua, yaitu: a. Metric fotogrametri suatu pengukuran yang sangat teliti dengan hitungan-hitungannya untuk menentukan ukuran dan bentuk suatu objek.

b. Intrepretasi fotogrametri kegiatan-kegiatan pengenalan dan identifikasi suatu objek

Biasanya foto yang digunakan adalah foto udara yaitu suatu foto yang pemotretannya dilakukan dari pesawat udara. Akan tetapi foto yang pemotretannya dilakukan diatas permukaan tanahpun dapat digunakan (foto terristris)

Foto udara dapat diklasifikasikan berdasarkan pada saat pengambilan photonya menjadi:tiga jenis yaitu foto tegak, foto miring dan foto miring sekali. Yang dimaksud dengan foto tegak adalah foto yang pada saat pengambilan objeknya sumbu kamera udara sejajar dengan arah gravitasi( tolerensi <3 oblique), sedangkan yang disebut dengan foto miring sekali apabila pada foto tersebut horison terlihat. Untuk foto miring, batasannya adalah antara kedua jenis foto tersebut. Secara umum foto yang digunakan untuk peta adalah foto tegak (Wolf,

a. Foto udara tegak Adalah foto udara dengan sumbu kameranya searah dengan arah gaya berat. Jika sumbu kamera pada saat pemotretan dilakukan keadaanya tegak, maka bidang foto akan sejajar dengan bidang datum.

b. Foto udara miring Adalah Foto udara dengan sumbu kameranya membentuk sudut dengan arah gaya berat pada saat pemotretan dilakukan. Foto udara miring dapat dibagi menjadi dua yaitu: a. Miring tinggi (high oblique), yaitu bila pada photonya cakrawala nampak tergambar. b. Miring rendah (low oblique), yaitu bila photonya tidak nampak cakrawala. Foto udara dapat dikatakan miring jika kemiringannya melebihi 3o, ini didasarkan pada kemampuan kemiringan dari alat pemroses photo udara (analog plotter).

Diagram alur Proses Dalam Fotogrametri

2.2

Konsep Orientasi Pemotretan suatu daerah yang dilakukan dengan overlap atau pertampalan depan 60% serta pertampalan samping sebesar 20%-40% semua titik dari obyek paling tidak akan terletak pada dua foto. Apabila foto-foto berurutan dipasang di dalam proyektor, dan diberi penyinaran maka akan terkonstruksi atau terbentuk kembali berkas-berkas sinar yang sesuai dengan berkas sinar di dalam kamera. Kemudian bila kedua proyektor diorientasi relatifkan seperti kamera pada saat pemotretan, sinar-sinar yang bersesuaian dari proyektor akan saling berpotongan. Dari seluruh titik akan membentuk model optikal, yang secara geometris sama dengan obyek yang dipotret. Skala model di sini tergantung dari basis antara kedua proyektor, dan dapat bervariasi dengan melakukan pengubahan basisnya. Selanjutnya dengan gerakan rotasi dan translasi model dapat dibawa pada suatu bidang referensi (acuan) horizontal. Model ini dapat diproyeksikan dalam proyeksi orthogonal ke bidang acuan horizontal di tanah. Dengan keadaan ini model sebagai obyek asli, pada dasarnya dapat dilakukan pengukuran teknis yang diperlukan.

Pada prinsipnya untuk memperoleh model optikal tiga dimensi adalah merupakan inverse dari prosedur fotografik geometrik, dan untuk pengukuran obyek pada model diperlukan alat penglihatan stereo yang canggih, seperti alat plotter stereo berbagai merk dan jenisnya.

Beberapa contoh alat plotter analog : a. b. c. d. e. WILD Autograph A7, A10 WILD Aviograph B8S, B9 ZIESS Planimat D 2, Planicart SANTONI IIC, VC KERN PG 2, PG 4

Plotting dibuat untuk dapat menentukan tiga macam kemiringan dan posisi relatif X, Y, Z dari kamera udara. Jika photo 1 yang ada pada proyektor 1 dinyatakan sebagai basis (statis) maka photo 2 ditentukan oleh koordinat bx, by, bz serta 3 unsur orientasi, yaitu: a. Omega () : Putaran mengelilingi sumbu x (bx) b. Phie () c. Kappa () : Putaran mengelilingi sumbu y (by) : Putaran mengelilingi sumbu z (bz)

Jika harga putaran (, , ) pada foto 1 dan foto 2 sudah ditentukan/diketahui, maka hubungan antara kedua kamera dengan permukaan bumi (obyek) bisa ditentukan. Sebagai tahap awal tanpa melihat hubungan dengan permukaan bumi terlebih dahulu, hanya mengusahakan untuk bisa melihat 1 model foto secara streoskop dengan sempurna, disebut orientasi relatif. Kemudian tanpa mengubah orientasi relatif ini, kemudian diperhitungkan kemiringan model terhadap permukaan bumi dan membuat skala yang diinginkan, hal ini disebut orientasi absolut. Sebelum dilakukan orientasi relatif dan orientasi absolut diperlukan data-data awal pada saat pemotretan dilakukan, dan ini disebut dengan orientasi dalam.

2.3

Macam Orientasi Di dalam fotogrametri dikenal ada dua macam orientasi yaitu :

1. 2.

Orientasi Dalam Orientasi Luar : a. Orientasi Relatif b. Orientasi Absolut

2.3.1 Orientasi Dalam Orientasi dalam bertujuan untuk mengetahui kuantitas mengenai berkas atau bundel sinar antara obyek dan lensa pada waktu pemotretan, dan yang kemudian direkonstruksi secara geometris dari titik bayangan. Atau dengan kata lain orientasi dalam didefinisikan sebagai pembentukan berkas sinar antara titik-titik obyek dan lensa kamera. Besaran unsur orientasi dalam adalah posisi titik utama terhadap pusat foto, Xo, Yo dan konstanta kamera (ck) atau panjang fokus kamera (f) yang didapat dari hasil terakhir kalibrasi kamera udara berupa pergeseran dari distorsi lensa (dc) dan pusat proyeksi (dxo,dyo). Sasaran ini yang digunakan untuk mendapatkan kembali berkas sinar yang terpaut di dalam sebuah foto dan yang secara geometris sesuai dan sama dengan berkas yang terjadi pada saat pemotretan. Pada dasarnya tujuan dari orientasi dalam adalah membentuk kembali berkas sinar yang terjadi pada saat pemotretan ke dalam proyektor. Pembentukan berkas ini dilakukan dengan cara mengimpitkan pusat foto dengan pusat pembawa plat, dan memasangkan kembali ke tempatnya serta memasang harga panjang fokus kamera pada proyektor.

2.3.2 Orientasi Luar Setiap berkas sinar dapat dinyatakan sebagai badan yang kuat. Posisinya didalam ruang tiga dimensional ditentukan dengan enam unsur, biasanya dengan tiga koordinat dan tiga sudut. Perangkat keenam unsur tersebut adalah XL, YL, ZL, , , . Posisi dan ketinggian berkas sinar tiap foto terhadap sistem koordinat tanah. a. Orientasi Relatif Orientasi relatif adalah pekerjaan terhadap dua berkas sinar dibawa ke dalam posisi perspektif. Sinar-sinar yang bersesuaian dari kedua berkas tersebut dibuat berpotongan secara serentak dengan menggunakan lima unsur orientasi. Untuk saling memotongkan sinar-sinar yang bersesuaian tadi dapat dilakukan dengan mengoperasikan kedua buah proyektor atau hanya dengan salah satu proyektor. Bila berkas sinar di dalam orientasi relatiflah sama

dengan berkas sinar yang sesuai dalam pemotretan maka model optikal menjadi sama dengan objeknya. Jadi orientasi relatif merupakan suatu proses penyesuaian sepasang foto yang bertampilan dalam ruang sembarang dengan keadaan pada saat pemotretan. Orientasi ini menghasilkan suatu formasi bentuk bayangan model tiga dimensi dalam ruang dengan skala sembarang. Dalam keadaan model telah terorientasi secara relatif maka paralaks di semua titik telah hilang. Maksud dan tujuan orientasi relatif adalah penghilangan paralaks di semua titik agar diperoleh suatu model 3D. Pekerjaan ini dapat dilakukan dengan cara empiris, numeris atau analitis. b. Orientasi Absolut Yang dilakukan dalam orientasi absolut adalah operasi pada amodel relatif 3D, yaitu (1) membetulkan skala dan (2) pembetulan sistem koordinat. Penentuan skala dilakukan dengan membandingkan jarak di model dengan jarak di objek. Membawa model ke sistem koordinat dengan menggunakan unsur gerakan rotasi. Untuk pekerjaan ini diperlukan sejumlah titik kontrol. Pekerjaan orientasi absolut ini tidak lain adalah mengikatkan sepasang foto yang telah terorientasi relatif ke sistem koordinat tanah. Unsur gerakan rotasinya: common dan common . Dalam pembetulan skala , skala ditentukan dengan panjang garis basis bx, yaitu jarak antar dua proyektor. bx ditentukan dari perbandingan panjang pada bidang datar dengan panjang diatas bumi yang sudah diskalakan. Besarnya koreksi bx dinyatakan dengan persamaan: bx = ( L L ) ( bx / L)

2.4

Software LISA LISA merupakan sebuah paket program Fotogrametri yang dibuat oleh Dr-Ing. Wilfried Linder dari Universitas Dusseldorf dan didisribusikan oleh MapTec-Bad Nenndorf, Jerman dan Institute of Photogrammetry and GeoInformation (IPI), Universitas Hannover. Program ini terdiri dari LISA BASIC sebagai raster GIS yang dimungkinkan untuk melakukan tahapan image processing, terrain modelling dan sebagainya. Selanjutnya terdapat LISA FOTO yang merupakan extension dari LISA BASIC yang digunakan sebagai digital photogrammetric workstation.

Seluruh program ditulis dalam FORTRAN 95 (compiler Turbo Fortran FTN95) dan beberapa dengan C++. Untuk instalasi menggunakan sistem MS Windows NT atau MS Windows 2000. Semua penjelasan dan gambar dalam buku petunjuk ini diambil dari buku DIGITAL PHOTOGRAMMETRY A Practical Course Second Edition oleh Wilfried Linder penerbit Springer tahun 2006.