Anda di halaman 1dari 9

GERAKAN PEMBUDAYAAN BERSEPEDA GOWES INDONESIA SEBAGAI IMPLEMENTASI STRATEGI RELATIONSHIP MARKETING

Lintang Wisesa Atissalam, Ramadhani Ryan Akhmad, Futihatur Rahmawati Tim JogjaBike WMA 2011 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada Abstrak Kesuksesan pemasaran dapat diukur melalui tingkat kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan secara otomatis akan memicu loyalitas pelanggan pada perusahaan dan produknya. Salah satu upaya mencapai kepuasan pelanggan adalah melalui peningkatan pelayanan dan hubungan dengan pelanggan, atau yang disebut sebagai strategi Relationship Marketing. Strategi ini pun berlaku bagi pemasaran produk sepeda Wim Cycle. Dengan memperhatikan kondisi tren bersepeda masa kini, maka upaya penerapan strategi Relationship Marketing yang tepat adalah dengan menggalakkan gerakan pembudayaan bersepeda. Strategi ini selain bertujuan untuk membudayakan bersepeda, juga memiliki prospek jangka panjang pada potensi pangsa pasar di masa mendatang. Formulasi strategi yang disarankan adalah melalui gerakan Gowes Indonesia, yang terdiri atas empat program utama yaitu: 1) pembentukan Angkringan Sepeda, 2) Bike Gathering, 3) Online Marketing, serta 4) program CSR Tebar Sepeda. Kata Kunci: Strategi Pemasaran, Relationship Marketing, Budaya Bersepeda Pendahuluan Dunia pemasaran di era modern tidak hanya berorientasi pada keuntungan (profit oriented) semata, namun juga pada kepuasan pelanggan (customer satisfied oriented). Perusahaan tidak bisa berharap mendapat keuntungan maksimal tanpa memberikan pelayanan optimal yang mampu meningkatkan kepuasan pelanggan. Namun kenyataannya, belum tentu perusahaan yang berorientasi pada customer satisfied mampu memberikan kepuasan pada pelanggannya. Hal ini terutama dipengaruhi oleh faktor kualitas pelayanan perusahaan serta tingkat kepuasan pelanggan. Para pelanggan di pasar dewasa ini semakin sukar untuk dipuaskan. Yang diinginkan pelanggan adalah produk yang unggul, sesuai kebutuhan, harga terjangkau, disediakan dalam waktu singkat, dan dengan pelayanan bebas biaya. Jika keinginan pelanggan tak terpenuhi, maka loyalitas pelanggan akan berpindah pada perusahaan yang menawarkan tambahan nilai tanpa disertai tambahan biaya. Sehingga benar kiranya jika suatu perusahaan ingin mendapatkan loyalitas pelanggan, maka perusahaan tersebut harus mampu memberikan kepuasan kepada para pelanggannya. Untuk memberikan kepuasan pada pelanggan, diperlukan peningkatan kualitas pelayanan dan hubungan dengan pelanggan (Kotler, 1997).

Salah satu hal penting yang berkaitan dengan pencapaian kepuasan pelanggan adalah strategi pemasaran berorientasi pada hubungan dengan para pelanggan, yang disebut Relationship Marketing. Konsep ini mengutamakan strategi menjalin dan memperdalam hubungan dengan pelanggan (Tung, 1997). Relationship Marketing patut diupayakan mengingat konsep-konsep strategi pemasaran berbentuk transaksional sudah tidak efektif digunakan di dunia bisnis modern yang semakin ketat. Strategi Relationship Marketing patut diterapkan dalam pemasaran produk sepeda Wim Cycle, dengan memahami kondisi tren bersepeda di tanah air. Kegiatan bersepeda memang belum menjadi budaya di Indonesia, namun fungsinya semakin berkembang di masyarakat. Selain sebagai sarana transportasi dan olahraga, sepeda kini bahkan berperan sebagai tren fashion. Dengan kondisi semacam ini, maka penerapan Relationship Marketing yang jitu adalah dengan menggalakkan gerakan pembudayaan bersepeda di kalangan masyarakat. Selain mampu menggiatkan budaya bersepeda di Indonesia, strategi ini diharapkan akan membentuk hubungan mutualisme Wim Cycle dengan pelanggan yang berkelanjutan. Imbasnya, pangsa pasar masa depan telah tersedia dengan sendirinya. Strategi Relationship Marketing Pemasaran bukanlah bidang ilmu yang statis, akan tetapi selalu dinamis. Dunia pemasaran akan berubah-ubah seiring perkembangan zaman. Konsep pemasaran berkembang dari waktu ke waktu selaras dengan perubahan berbagai bidang yang mempengaruhi dunia usaha, khususnya sosial dan ekonomi. Perkembangan ilmu pemasaran akan terus berlanjut dengan beragam penemuan konsep baru, pembaharuan konsep strategi pemasaran, serta mendobrak tradisi pemasaran lama yang sudah tidak layak pakai. Strategi Relationship Marketing merupakan salah satu terobosan perkembangan ilmu pemasaran. Dengan orientasi customer satisfied, strategi ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi perusahaan yang menerapkannya. Relationship Marketing adalah strategi bisnis dan pemasaran yang memberdayakan kekuatan keinginan pelanggan dengan tekanan teknologi informasi untuk memberikan kepuasan pada pelanggan (Hutasuhut, 2004). Dalam penerapan konsep Relationship Marketing diperlukan adanya hubungan jangka panjang antara perusahaan dengan pelanggan dan komponen pemasaran lainnya, dengan bentuk hubungan yang menyeluruh meliputi aspek sosial, ekonomi, edukasi, teknologi, bahkan politik. Mc Kenna menyebutkan bahwa setidaknya ada lima prinsip yang berkaitan dengan penerapan Relationship Marketing, tiga prinsip di antaranya yakni: 1. Pemasaran adalah penciptaan pasar (market creation). Hubungan baik dalam jangka panjang berpotensi besar bagi diciptakannya produkproduk baru hasil permintaan (request) pelanggan. Hal ini berbeda dengan perusahaan berorientasi transaksi, yang hanya berjuang mengisi sebagian proporsi pasar dengan produk yang sudah ada. 2. Pemasaran adalah proses, bukan taktik sepenuhnya.

3.

Untuk membangun posisi yang berkelanjutan, perusahaan hendaknya membangun hubungan yang kuat dengan pasar dan segenap infrastruktur pemasaran. Pelayanan memuaskan, kedekatan hubungan, serta mampu mendengar keluhan dan keinginan pasar menjadi faktor penentu posisi perusahaan. Pelayanan yang berkualitas jauh lebih mempengaruhi loyalitas pelanggan daripada iklan yang gencar diperdengarkan, yang kemungkinan klaimnya sama saja dengan klaim iklan perusahaan lain. Pemasaran bersifat kualitatif, bukan kuantitatif semata. Penggunaan data-data kuantitatif memang cukup dapat memberikan gambaran dalam pengambilan keputusan perusahaan. Namun survey pemasaran yang menerapkan pendekatan kualitatif mempunyai kekuatan lebih besar dalam menggambarkan kecenderungan pasar mengenai produk perusahaan. Begitu pula dalam proses penjualan, pelanggan kerap kali menentukan pembeliannya berdasarkan faktor-faktor kualitatif seperti kepemimpinan, integritas, pelayanan, reabilitas, dan reputasi perusahaan.

Salah satu aspek yang sangat berpengaruh dalam implementasi strategi Relationship Marketing adalah loyalitas pelanggan. Loyalitas pelanggan adalah bentuk kesetiaan pelanggan terhadap produk, baik berupa barang atau jasa. Pelanggan yang setia cenderung untuk memperluas kesetiaannya pada produk-produk lain buatan perusahaan yang sama, sehingga kesetiaan pelanggan terhadap suatu perusahaan akan terjalin dalam jangka waktu yang lama, bahkan turun-temurun. Keki R. Bhote menjabarkan sepuluh prinsip dalam meraih loyalitas pelanggan, yakni: 1. Kemitraan yang didasarkan kepada etika dan integritas tinggi. 2. Nilai tambah dalam hubungan kemitraan customer supplier. 3. Saling memiliki keyakinan akan potensi dan kredibilitas (mutual trust). 4. Transparansi kebijakan dalam teknologi, strategi, dan data. 5. Kerjasama mutualisme antara perusahaan, supplier, dan pelanggan. 6. Tanggap terhadap antusiasme, kebutuhan, dan keinginan pelanggan. 7. Fokus terhadap detail demi kepuasan pelanggan. 8. Kedekatan perusahaan dengan pelanggan. 9. Memberikan perhatian lebih kepada pelanggan. 10. Mengantisipasi kebutuhan dan keinginan pelanggan di masa mendatang. Phillip Kotler memberikan perumusan bahwa jika suatu perusahaan ingin mendapatkan loyalitas pelanggan, maka perusahaan tersebut harus mampu memberikan kepuasan kepada para pelanggannya. Dan untuk memberikan kepuasan pada pelanggan, diperlukan peningkatan kualitas pelayanan. Kualitas pelayanan yang mumpuni merupakan bentuk kematangan suatu perusahaan dalam menjalankan strategi pemasarannya. Studi empiris Parasuraman, menyatakan bahwa terdapat lima dimensi kualitas pelayanan (Soetjipto: 1997). Kelima dimensi tersebut adalah: 1. Tangibles, yakni kemampuan memberi pelayanan nyata sesuai dengan yang dijanjikan. 2. Realibility, yakni mampu dipercaya kehandalannya. 3. Responsiveness, yakni tanggap terhadap kebutuhan dan keinginan pelanggan. 4. Assurance, yakni kemampuan memberikan kepastian dan jaminan kualitas. 5. Empathy, yakni kemampuan memberi perhatian lebih kepada pelanggan.

Intinya, strategi Relationship Marketing tidak lain adalah upaya pemasaran customer oriented dengan memperlakukan pelanggan sebagai mitra dalam hubungan yang saling menguntungkan. Sehingga dapat terjalin suatu kepuasan yang tinggi bagi para pelanggan, sekaligus kesuksesan pemasaran bagi pihak perusahaan. Implementasi Strategi Relationship Marketing Kelanjutan dari kepuasan pelanggan merupakan indikator yang handal untuk kelangsungan hidup dan kemampuan meraih laba dari suatu proses bisnis. Perusahaan yang gagal memberikan kepuasan pada pelanggan memiliki kecenderungan untuk merugi. Bahkan di masa mendatang akan mengalami musibah yang lebih kompleks. Umumnya pelanggan yang merasa tidak puas akan menceritakan pengalaman buruknya kepada orang lain. Hal ini berbahaya karena informasi negatif tentang kinerja perusahaan yang tidak memuaskan akan tersebar luas di masyarakat. Inilah yang disebut dampak bad word of mouth (Kotler, 1998). Agar pelanggan terlayani dan terpuaskan perlu adanya implementasi strategi Relationship Marketing yang handal. Tung (1997) menyebutkan beberapa langkah dalam meraih kunci sukses implementasi strategi Relationship Marketing, antara lain: 1. Mengidentifikasi pelanggan utama sebagai sasaran strategi. 2. Mengumpulkan dan menggunakan informasi dari pelanggan. 3. Mengukur nilai relasi dari strategi ini dengan menjelaskan laporan perkembangan rutin. 4. Mengkomunikasikan organisasi terkait akan kekuatan pelanggan jangka panjang. 5. Meningkatkan dan memantapkan keterkaitan dengan pelanggan, mencakup perencanaan serta penetapan tujuan, strategi, tindakan spesifik, dan sumber daya yang dibutuhkan. Dengan implementasi strategi Relationship Marketing yang handal, perusahaan akan mendapatkan beragam manfaat bagi kinerjanya. Beberapa manfaat spesifik strategi ini menurut Arman Hutasuhut (2004) di antaranya: 1. Adanya penerimaan dan profit dari penjualan di masa mendatang. 2. Adanya peluang menjual produk-produk lain perusahaan kepada pelanggan yang sama. 3. Adanya informasi positif yang menyebar di masyarakat oleh pelanggan yang terpuaskan. Imbasnya, banyak pihak yang terpengaruh dan mulai menjalin relasi dengan perusahaan. 4. Mampu meningkatkan kualitas pelayanan dan produk, dengan adanya konfirmasi atas keinginan pelanggan melalui komunikasi yang mumpuni. 5. Hubungan baik jangka panjang memungkinkan perusahaan memperoleh informasi dari pelanggan yang dapat memberikan pemikiran yang inovatif demi memuaskan pelanggan secara kompetitif dan proaktif. 6. Hubungan baik jangka panjang juga mampu menekan biaya pemasaran perusahaan, khususnya biaya untuk menarik minat masyarakat melalui promosi. 7. Potensi mendayagunakan pelanggan sebagai bagian dari perusahaan. Pelanggan aktif kepercayaan perusahaan biasanya akan membantu kinerja pelayanan perusahaan secara otomatis dan tanpa imbalan.

Gerakan Gowes Indonesia Dengan memperhatikan kondisi tren bersepeda di kalangan masyarakat Indonesia, maka strategi Relationship Marketing dapat diterapkan oleh Wim Cycle. Kegiatan bersepeda memang belum menjadi budaya di Indonesia, namun fungsinya semakin berkembang di masyarakat. Selain sebagai sarana transportasi dan olahraga, sepeda kini bahkan berperan sebagai tren fashion. Dengan kondisi semacam ini, maka penerapan Relationship Marketing yang jitu adalah dengan menggalakkan gerakan pembudayaan bersepeda di kalangan masyarakat. Selain mampu menggiatkan budaya bersepeda di Indonesia, strategi ini diprediksi akan membentuk hubungan mutualisme Wim Cycle dengan pelanggan yang berkesinambungan. Tim JogjaBike menggagas gerakan bertajuk Gowes Indonesia, sebagai gerakan pembudayaan bersepeda di kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya serta masyarakat Yogyakarta pada khususnya, yang berbasis pada edukasi, sosial, dan ekonomi. Pembentukan gerakan ini merupakan implementasi strategi Relationship Marketing bagi Wim Cycle. Dengan gerakan Gowes Indonesia, Wim Cycle akan mampu menjadi bagian dari budaya bersepeda masyarakat Indonesia. Dengan begitu, akan terjalin hubungan kedekatan jangka panjang antara Wim Cycle dengan masyarakat. Gerakan Gowes Indonesia dalam pelaksanaannya mencakup program-program di antaranya: 1) Angkringan Sepeda, 2) Bike Gathering, 3) Online Marketing, dan 4) Tebar Sepeda.

Gambar 1 Logo brand gerakan Gowes Indonesia oleh tim JogjaBike 1. Angkringan Sepeda Dalam membudayakan kegiatan bersepeda, maka perlu diketahui budaya yang eksis di masyarakat sasaran. Dikarenakan sasaran gerakan Gowes Indonesia secara khusus adalah masyarakat Yogyakarta, maka salah satu program yang digagas Tim JogjaBike mengadaptasi nama dan sistem budaya Yogyakarta, yakni Angkringan Sepeda. Angkringan adalah budaya kuliner khas Yogyakarta yang merakyat. Berupa lapak di pinggiran jalan kota, angkringan tersohor sebagai tempat jajanan rakyat sederhana yang biasanya beroperasi di malam hari. Mayoritas pelanggan angkringan adalah pria. Di daerah Jawa, terutama Jawa Tengah, angkringan pun banyak berdiri, seperti di kota Solo, angkringan terkenal dengan sebutan HIK (Hidangan Istimewa Kota).

Budaya angkringan diadaptasi oleh Tim JogjaBike ke dalam salah satu program gerakan Gowes Indonesia, yakni program Angkringan Sepeda. Selain dilatarbelakangi oleh budaya angkringan, ide ini dilatarbelakangi juga oleh budaya bersepeda di Belanda. Pemerintah Belanda telah menyediakan tempat khusus untuk meminjam atau memarkir sepeda di setiap pinggiran jalan kota bagi seluruh warganya. Warga yang ingin meminjam, menggunakan, atau memarkir sepeda dapat mengunjungi tempat tersebut untuk mendapatkan pelayanan secara gratis. Langkah ini ternyata manjur dalam memperkokoh budaya bersepeda di negeri kincir angin tersebut. Angkringan Sepeda yang digagas JogjaBike merupakan program kreatif dalam memenuhi kebutuhan bagi pengguna sepeda. Secara kasar, Angkringan Sepeda adalah angkringan (berupa stand atau shelter) yang isinya bukan lagi jajanan rakyat sederhana, namun pelayanan jasa dan produk sepeda. Sejatinya, Angkringan Sepeda adalah kombinasi kreatif antara toko sepeda, bengkel sepeda, dan tempat peminjaman sepeda. Angkringan Sepeda rancangan Tim JogjaBike akan melayani jasa sebagai berikut: 1. sewa sepeda, 2. pinjam sepeda, 3. service sepeda, 4. penjualan sepeda, dan 5. penjualan spare part sepeda. Lokasi pembangunan Angkringan Sepeda direncanakan mencakup wilayah kampus (sebagai pioneer sepeda kampus), daerah pariwisata (sebagai penyedia jasa bagi turis, khususnya turis asing), toko sepeda (sebagai nilai tambah toko sepeda), serta secara insidental akan didirikan di lokasi suatu kegiatan (misalnya di tempat pelaksanaan acara fun bike dan car free day).

Gambar 2 Logo brand Angkringan Sepeda oleh Tim JogjaBike Manfaat yang diprediksikan dari program Angkringan Sepeda ini adalah adanya kedekatan fasilitas sepeda dengan masyarakat dan pengguna sepeda. Sehingga dengan kedekatan ini, pembudayaan bersepeda akan segera terbentuk di masyarakat. Jika budaya bersepeda tumbuh subur, maka permintaan pasar akan produk sepeda akan meningkat. Hal ini sesuai dengan prinsip implementasi Relationship Marketing, yakni adanya hubungan jangka panjang dengan pelanggan akan memberikan pangsa pasar di masa mendatang.

2.

Bike Gathering Untuk menyukseskan gerakan Gowes Indonesia, diperlukan adanya sosialisasi dan dukungan dari berbagai pihak. Sehingga dalam pelaksanaannya perlu adanya peningkatan hubungan dan jaringan kepada pihak terkait. Program Bike Gathering merupakan wadah untuk menjalin hubungan dengan organisasi dan komunitas, khususnya yang memiliki prospek pada pembudayaan bersepeda. Secara gamblang, program Bike Gathering adalah kegiatan menjalin relasi dengan masyarakat demi menyukseskan gerakan Gowes Indonesia, sekaligus menerapkan prinsip strategi Relationship Marketing. Program Bike Gathering dalam pelaksanaannya dapat berupa ajang kumpul bersama, ajang pelatihan, workshop, fun bike, bahkan dimungkinkan berupa kompetisi. Kesemuanya tentu saja berkaitan erat dengan dunia sepeda.

Gambar 3 Logo brand Bike Gathering oleh JogjaBike 3. Online Marketing Di era modern seperti saat ini pembentukan hubungan relasi tidak harus melalui tatap muka, namun dapat pula dengan memanfaatkan teknologi. Hubungan di dunia maya nampaknya semakin menjadi tren masyarakat modern seiring dengan pesatnya perkembangan fasilitas teknologi. Bahkan, komunikasi dapat dilakukan antar benua melalui pemanfaatan teknologi informasi. Internet menjadi sarana pembentukan relasi yang efektif dan efisien. Tim JogjaBike pun menerapkan teknologi dalam strategi Relationship Marketing yang dijalankan. Tim JogjaBike menerapkan teknologi informasi pada sistem pemasaran (online marketing) melalui web blog di alamat http://jogjabike.blogspot.com. Melalui web blog ini, Tim JogjaBike menjalankan strategi pemasaran mulai dari promosi, pemesanan, hingga penjualan. Promosi dan pemesanan dilayani melalui web blog tersebut. Khusus untuk penjualan masih dilakukan dengan sistem tatap muka. Untuk lebih meningkatkan pangsa pasar online, Tim JogjaBike melengkapi web blog ini dengan info dan berita seputar sepeda, bergabung dengan komunitas online, serta memanfaatkan akun jejaring sosial.

Gambar 4 Logo brand Online Marketing oleh JogjaBike 4. Tebar Sepeda Salah satu program yang mampu meningkatkan kedekatan perusahaan dengan masyarakat adalah program Corporate Social Responsibility (CSR). CSR merupakan program tanggung jawab sosial perusahaan sebagai bentuk kepedulian pada sesama. CSR penting dilakukan sebagai bentuk syukur atas kepercayaan pelanggan pada jasa dan produk perusahaan. Bahkan beberapa perusahaan besar menjadikan CSR sebagai kewajiban dan komitmen dalam memberi kembali dan memberi nilai tambah kepada komunitas di mana perusahaan tersebut berbisnis. Program CSR untuk Wim Cycle yang diusulkan Tim JogjaBike bertajuk Tebar Sepeda. Program ini selain mendukung gerakan Gowes Indonesia, juga mampu meningkatkan relasi dalam strategi Relationship Marketing yang dijalankan. Program Tebar Sepeda adalah program CSR yang pelaksanaannya berupa pemberian bantuan beasiswa, bantuan sepeda gratis, atau pemberian keringanan biaya pembelian sepeda, yang ditujukan bagi: 1. Siswa (SD, SMP, SMA/sederajat) kurang mampu berprestasi akademik, 2. Siswa (SD, SMP, SMA/sederajat) kurang mampu berprestasi non-akademik, 3. Mahasiswa kurang mampu berprestasi akademik, dan 4. Mahasiswa kurang mampu berprestasi non-akademik. Mayoritas masyarakat menganggap CSR hanyalah kebijakan perusahaan yang bersifat satu arah, Sejatinya CSR bukan hanya bersifat satu arah, namun timbal balik. Dengan memberikan bantuan kepada sasaran yang telah disebutkan di atas, maka secara tidak langsung Wim Cycle telah melakukan promosi. Sasaran merupakan tokoh berprestasi, yang biasanya dijadikan panutan di lingkungannya. Jika tokoh panutan memakai produk Wim Cycle, secara langsung akan mampu mempengaruhi orang-orang di sekitar lingkungannya untuk memakai produk yang sama.

Gambar 4 Logo brand Tebar Sepeda oleh Tim JogjaBike

Penutup Dalam situasi persaingan yang semakin ketat, tidak ada pilihan bagi suatu perusahaan kecuali hanya untuk memenangkan persaingan secara sehat. Dalam persaingan ini tentu saja dukungan pelanggan adalah hal vital yang tidak dapat diremehkan. Untuk itu perlu diterapkan strategi pemasaran yang tidak hanya profit oriented semata, namun juga customer satisfied, yakni strategi Relationship Marketing. Strategi ini memperlakukan pelanggan sebagai mitra dalam hubungan yang saling menguntungkan. Sehingga kepuasan pelanggan tercapai, kesuksesan pemasaran perusahaan pun tergapai. Implementasi Relationship Marketing yang diusulkan tim JogjaBike kepada perusahaan Wim Cycle adalah melalui pembudayaan bersepeda di kalangan masyarakat Yogyakarta pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Gerakan bertajuk Gowes Indonesia ini dibentuk karena adanya perkembangan fungsi sepeda dalam masyarakat, serta demi terciptanya budaya bersepeda di Indonesia. Gerakan ini mencakup empat program utama yang selain mampu membudayakan bersepeda, juga turut membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan yang akan menjadi pasar potensial di masa mendatang. Keempat program tersebut adalah: 1) Angkringan Sepeda, 2) Bike Gathering, 3) Online Marketing, dan 4) program CSR Tebar Sepeda. Daftar Pustaka Barker, Michael J. 2003. The Marketing Book Fifth Edition. Oxford: ButterworthHeinemann. David, F.R. 2001. Strategic Management: Concepts and Cases. New Jersey: Prentice Hall. Elu, W.B. 1997. Membangun Keunggulan Melalui Relationship Marketing. Usahawan No.03 Maret Tahun XXVI. Kotler, Phillip. 2000. Marketing Management. New Jersey: Prentice Hall. Maharsi, P. 1996. Penciptaan Nilai Pelanggan, Perpaduan Antara Nilai yang Diharapkan Pelanggan dan Mutu Produk yang Dikirimkan Pemasaran. Usahawan No.01 Januari Tahun XXV. Malcolm, H.B. 1995. Rencana Pemasaran. Jakarta: Arcan Sofjian, Assauri. 1992. Manajemen Pemasaran Dasar, Konsep, dan Strategi. Jakarta: Rajawali. Swastha D.H., Basu. 1990. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: Liberty Tung, K.Y. 1997. Relationship Marketing Kemampuan Laba Jangka Panjang. Usahawan No.03 Maret XXVI.