Anda di halaman 1dari 3

Penetapan Kadar Tanin a) Persiapan larutan blanko Sebanyak 1 ml aqua demineralisata ditambahkan dengan 6 ml besi (III) amonium disulfat

, diaduk selama 20 menit, ditambahkan dengan 6 ml kalium besi (III) sianida dan diaduk selama 20 menit. Ditambahkan aqua demineralisata sampai 50 ml. b) Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Dibuat larutan induk asam galat 500 g/ml, dalam aqua demineralisata dan diencerkan hingga 25 g/ml. Sebanyak 2 ml larutan dipipet kemudian ditambahkan dengan 6 ml besi (III) amonium disulfat, diaduk selama 20 menit, ditambahkan 6 ml kalium besi (III) sianida kemudian diaduk. Selanjutnya ditambahkan aqua demineralisatasampai 50 ml sehingga diperoleh konsentrasi akhir 1 g/ml. Serapannya diukur pada panjang gelombang maksimum pada 600 800 nm. c) Pembuatan Kurva Kalibrasi Asam Galat Dari larutan induk asam galat 25 g/ml dipipet masing-masing 2, 4, 8, 10, dan 12 ml kedalam labu ukur 50 ml. Masing-masing ditambahkan dengan 6 ml besi (III) amonium disulfat, diaduk selama 20 menit ditambahkan 6 ml kalium besi (III) sianida kemudian diaduk selama 20 menit, ditepatkan hingga 50 ml dengan aqua demineralisata. Ukur serapan dengan panjang gelombang maksimum yang dihasilkan. d) Penetapan larutan sampel Sebanyak 4,5 gr serbuk ekstrak daun miana dididihkan dengan 80 ml dengan aqua demineralisata selama 1 jam dengan suhu 80 C. Larutan disaring serta dibilas dengan 2 x 5 ml aqua deminerlisata dan ditepatkan hingga 100 ml. Diambil sebanyak 5 ml ekstrak, ditambah aqua demineralisata hingga 10 ml. Kemudian diambil 1 ml dari labu ukur 10 ml dan labu ukur 25 ml ditambahkan 60 ml besi (III) amonium disulfat. Larutan diaduk selama 20 menit ditambahkan 60 ml kalium besi (III) sianida, diaduk selama 20 menit serta ditambahkan aqua demineralisata hingga 500 ml. Larutan diukur dengan panjang gelombang maksimum yang dihasilkan. e) Pembuatan larutan blanko sampel Sebanyak 1 ml larutan sampel dimasukkan kedalam erlemeyer 100 ml, ditambahkan dengan 5 ml larutan gelatin, 10 ml asam natrium klorida dan 2 gr kaolin, dikocok 10 menit, kemudian ditepatkan hingga 50 ml dan dibiarkan mengendap. Campuran disaring segera, sebanyak 10 ml filtrat dimasukkan erlemeyer, ditambahkan dengan 6 ml aqua demineralisata, 3 ml larutan gelatin, 6 ml larutan asam natrium klorida dan 2 gr kaolin, kemudian dipindahkan kedalam labu ukur 50 ml, lalu erlemeyer dibilas dengan aqua demineralisata. Labu ukur tepatkan sampai 50 ml dengan aqua demineralisata lalu dikocok selama 10 menit dan dibiarkan mengendap, selanjutnya disaring. Sebanyak 10 ml filtrat dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml, ditambahkan dengan 6 ml besi (III) amonium disulfat, diaduk selama 20 menit, lalu ditambahkan 6 ml kalium besi (III) sianida, diaduk selama 20 menit, serta ditambahkan aqua demineralisata hingga 50 ml. Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum yang didapat. f) Pembuatan larutan blanko gelatin Sebanyak 1 ml aqua demineralisata dimasukkan kedalam erlemeyer 100 ml, ditambahkan dengan 5 ml larutan gelatin, 10 ml asam natrium klorida dan 2 gr kaolin, dikocok 10 menit, kemudian ditepatkan hingga 50 ml dan dibiarkan mengendap. Campuran disaring segera, sebanyak 10 ml filtrat dimasukkan ke dalam erlemeyer,

ditambah dengan 6 ml aqua demineralisata, 3 ml larutan gelatin, 6 ml larutan asam natrium klorida dan 2 gr kaolin, kemudia dipindahkan kedalam labu ukur 50 ml, lalu erlemeyer dibilas dengan aqua demineralisata. Labu ukur tepatkan sampai 50 ml dengan aqua demineralisata lalu dikocok selama 10 menit dan dibiarkan mengendap, selanjutnya diasring. Sebanyak 10 ml filtrat dimasukkan kedalam labu ukur 50 ml, ditambahkan dengan 6 ml besi (III) amonium disulfat, diaduk selama 20 menit, lalu ditambahkan 6 ml kalium besi (III) sianida, diaduk selama 20 menit, serta ditambahkan aqua demineralisata hingga 50 ml. Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum yang didapat. Serapan tanin total dapat dihitung dengan cara : AT = AS (Abs-Abg) Dimana : AT = Serapan tani total AS = Serapan sampel Abs = Serapan blanko sampel

Tanin Tanin merupakan salahsatu bahan alam yang dapat memberikan rasa kesat dan pahit dalam tanama dan makanan. Golongan ini terdiri atas senyawa polifenol larut-air, yang dapat memiliki bobot molekul yang tinggi (Heinrich et, al ., 2010). Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasannya tanin dapat bereaksi dengan proteina membentuk kopolimer mantap yang tak larut dalam air (Harborne, 1987). Secara kimia terdapat dua jenis tanin yang tersebar tidak merata dalam dunia tumbuhan. Tanin terkondesasi hampir terdapat semesta di dalam paku-pakuan dan gimnospermae, serta tersebar luas dalam angiospermae, terutama pad jenis tumbuhan berkayu. Dan sebaliknya tanin yang terhidrolisiskan penyebarannya terbatas pada tumbuhan berkeping dua (Harborne, 1987), penggolongan tanin dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Penggolongan Tanin Tata nama Tanin- terkondensasi Proantosianidin (flavolan) Tanin terhidrolis Glotanin Elaginatin Struktur Oligomer katekin dan flavan-3,4-diol Jangka bobot molekul 1000-3000 Endapan protein ++++

Ester asam galat dan glukosa ester asam Hessahidrosidifenat dan glukosa

1000-1500 1000-3000

+++++ +++++

Protatanin prazat Katekin (dan tanin galokatekin) Sumber : Harborne, 1987

200-600

Tanin terkondensasi atau flavolan secara biosintesis dapat dianggap terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal (atau galoketekin) yang membentuk senyawa dimer dan kemudian oligomer yang lebih tinggi. Ikatan karbon-karbon menghubungkan

satu-satuan flavolan dengan satuan berikutnya melalui ikatan 4-8 atau 6-8 (Harborne, 1987). Tanin terhidrolisiskan terutama terdiri atas dua kelas, yang paling sederhana ialah depsida galoiglukosa. Pada senyawa ini, inti yang berupa glukosa dikelilingi oleh lima gugus ester galoil atau lebih. Bila dihidrolisis elagitanin ini menghasilkan asam elagat (Harborne, 1987).