Anda di halaman 1dari 3

Program-program pendidikan dari pemerintah pun mulai banyak memberi penekanan pada pendidikan karakter.

Pembentukan karakter memang menjadi salah satu kunci dari kemajuan dan pembangunan bangsa. Dalam psikologi, khususnya psikologi positif, belakangan ini pembahasan tentang karakter dengan kekuatan dan keutamaannya cukup menonjol. Serta dengan kekuatan dan keutamaan karakter, orang dapat menghasilkan perasaan-perasaan positif dalam situasi apa pun. Oleh sebab itu, pendidikan karakter juga merupakan usaha untuk membantu peserta didik mencapai kebahagiaan. Karakter bukan kepribadian meskipun keduanya berkaitan erat. Kepribadian manusia adalah kesatuan yang teratur dengan unsur-unsur yang berkaitan satu sama lain. Organisasi, dinamika, dan interaksi antara psikis dan fisik manusia dalam kepribadiannya menentukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya, sedangkan karakter adalah segi-segi kepribadian yang ditampilkan keluar dari, dan disesuaikan dengan nilai dan norma tertentu. Identifikasi karakter yang merupakan pengenalan terhadap keutamaan tertentu pada diri seseorang dapat dilakukan melalui pengenalan terhadap ciri-ciri keutamaan yang tampil dalam perilaku khusus dan respons secara umum dari orang itu. Hubungan antara keutamaan, kekuatan, dan tema situasional karakter bersifat hierarkis. Para filsuf dan agamawan menjadikan keutamaan sebagai nilai moral oleh karena itu keutamaan dianggap sebagai dasar dari tindakan yang baik. Berbagai perilaku dapat dinilai berdasarkan keutamaan yang secara umum terdiri dari: kebijaksanaan, courage (kesatriaan), kemanusiaan, keadilan, pengendalian atau pengelolaan diri, dan transendensi. Dan kekuatan adalah unsur psikologis, lebih tepatnya, proses yang mendefinisikan keutamaan. Dengan kata lain, keutamaan dapat dicapai melalui pencapaian kekuatan karakter. Sedangkan tema situasional dari karakter adalah kebiasaan khusus yang mengarahkan orang untuk mewujudkan kekuatan karakter dalam situasi tertentu. Dalam pendidikan karakter, perancangan lingkungan yang memfasilitasi tampilnya tema situasional menjadi faktor penting untuk pembentukan karakter yang baik.

Dalam usaha membentuk karakter, diperlukan pemahaman mengenai keutamaan dan kekuatan karakter yang sejauh ini sudah dikembangkan oleh manusia. Kebijaksanaan dan pengetahuan merupakan keutamaan yang berkaitan dengan fungsi kognitif, yaitu tentang bagaimana mendapatkan dan menggunakan pengetahuan. Ada lima kekuatan yang tercakup dalam keutamaan ini, yaitu (1) kreativitas, orisinalitas dan kecerdasan praktis, (2) rasa ingin tahu atau minat terhadap dunia, (3) cinta akan pembelajaran, (4) pikiran yang kritis dan terbuka, (5) perspektif atau kemampuan memahami beragam perspektif yang berbeda dan memadukannya secara sinergis untuk pencapaian hidup yang baik. Kemanusiaan dan cinta merupakan keutamaan yang mencakup kemampuan interpersonal dan bagaimana menjalin pertemanan dengan orang lain. Keutamaan ini terdiri atas kekuatan baik dan murah hati, selalu memiliki waktu dan tenaga untuk membantu orang lain, mencintai dan membolehkan diri sendiri untuk dicintai, serta kecerdasan sosial dan kecerdasan emosional. Keutamaan kesatriaan merupakan kekuatan emosional yang melibatkan kemauan kuat untuk mencapai satu tujuan meskipun mendapat halangan atau tentangan, baik eksternal maupun internal. Keutamaan ini mencakup empat kekuatan, yaitu untuk menyatakan kebenaran dan mengakui kesalahan, ketabahan atau kegigihan, teguh dan keras hati, integritas, kejujuran, dan penampilan diri dengan wajar, serta vitalitas bersemangat dan antusias. Keutamaan keadilan mendasari kehidupan yang sehat dalam satu masyarakat. Ada tiga yang tercakup di sini, yakni kewarganegaraan atau kemampuan mengemban tugas, dedikasi dan kesetiaan demi keberhasilan bersama, kesetaraan perlakuan terhadap orang lain atau tidak membeda-bedakan perlakuan yang diberikan kepada satu orang dengan yang diberikan kepada orang lain, dan kepemimpinan. Pengelolaan diri adalah keutamaan untuk melindungi diri dari segala akibat buruk yang mungkin terjadi di kemudian hari karena perbuatan sendiri. Di dalamnya tercakup kekuatan pemaaf dan pengampun, pengendalian diri, kerendahan hati, dan kehati-hatian.

Transendensi merupakan keutamaan yang menghubungkan kehidupan manusia dengan seluruh alam semesta dan memberi makna kepada kehidupan. Di dalam keutamaan ini tercakup kekuatan penghargaan terhadap keindahan dan kesempurnaan, kebersyukuran atas segala hal yang baik, penuh harapan, optimis, dan berorientasi ke masa depan, semangat dan gairah besar, untuk menyongsong hari demi hari, spiritualitas: memiliki tujuan yang menuntun kepada kebersatuan dengan alam semesta, serta menikmati hidup dan selera humor yang memadai. Manusia memiliki kemampuan untuk memahami keterkaitan dirinya dengan seluruh alam semesta, juga keterkaitan semua hal yang ada di alam semesta. Pemaknaan terhadap keseluruhan alam ini dimungkinkan adanya pada manusia meskipun secara fisik ia terbatas dan tak pernah dapat mengenali keseluruhan dunia secara empirik. Kekuatan dalam keutamaan transendensi ditandai oleh kemampuan untuk membayangkan apa yang mungkin ada di luar situasi yang dialami kini dan di sini. Daya yang memungkinkan manusia untuk melakukan itu semua disebut spiritualitas. Istilah spiritualitas mempunyai pengertian yang luas dan menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda. Pandangan lain menunjukkan bahwa spiritualitas tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Spiritualitas memberikan kedalaman dan integritas kepada kehidupan manusia sebagai makhluk yang hidup dalam kebudayaan, tempat, dan waktu tertentu. Dimensi spiritualitas manusia selalu berusaha melakukan penyelarasan dengan alam semesta dan menjawab pertanyaan tentang yang tak terbatas. Dengan demikian, spiritualitas dapat dipahami sebagai dasar kekuatan dan keutamaan karakter manusia. Dan juga, pembentukan karakter erat sekali hubungannya dengan pencapaian kebahagiaan. Apabila ingin bahagia, maka kita harus mulai dengan berpikir positif, memandang hidup dan orang lain sebagai hal yang baik, serta memaknai dunia dan seisinya sebagai kebaikan yang dianugerahkan kepada kita. Jika dipahami bahwa inti pendidikan adalah pembentukan karakter maka

seharusnyalah dicamkan pula bahwa setiap pendidikan adalah pembentukan karakter.