Anda di halaman 1dari 4

February 15, 2008

Seabad Takdir
Oleh : Zaim Uchrowi

Dalam hujan serta kabut di tengah siang, saya sempat takziah ke makam Takdir. Sutan Takdir Alisjahbana
lengkapnya. Saya dulu, sebagaimana kebanyakan kita, mengenalnya cuma sebagai pengarang buku Layar
Terkembang. Sebuah karya yang terus akan disebut bersama roman klasik Siti Nurbaya dan Salah Asuhan. Tak
lebih dari itu yang kita tahu.

Beberapa orang mengaitkan Takdir dengan kontroversi. Ia dikaitkan dengan 'Polemik Kebudayaan'. Sebuah
polemik yang melibatkan para tokoh nasional di tahun 1935-36. Saat itu, Takdir dianggap sebagai budayawan
pro-Barat. Ia mengajak seluruh bangsa ini mengadopsi budaya Barat. Barat sudah terbukti maju. Barat telah
memimpin dan menguasai peradaban. Maka, kalau mau maju, adopsilah budaya Barat. Itu yang disebutnya
solusi buat bangsa. Sebuah bangsa yang telah berabad-abad terjajah ini.

Ajakan Takdir itu mengundang reaksi. Para tokoh pergerakan nasional menanggapi keras. Dr Soetomo,
misalnya. Ia menunjukkan halus dan utama budaya Timur. Mengapa harus budaya Barat? Perdebatan
berkepanjangan hingga, barangkali, menjadi polemik terkeras dalam sejarah modern kebangsaan Indonesia.
Dari polemik itu, Takdir kian terposisikan sebagai 'agen' budaya Barat. Pernikahan Takdir dengan perempuan
Jerman, setelah istrinya terdahulu meninggal, kian mempertebal prasangka publik padanya.

Namun, ada yang terlewat dari bahasan soal Takdir itu. Tak banyak yang membahas apa yang melatari
pandangan Takdir. Saya juga tak pernah tahu itu, sampai kemudian saya memimpin Balai Pustaka. Sebuah
tempat di mana Takdir selalu tersenyum pada saya lewat potret. Dari Polemik Kebudayaan yang dibukukan
Balai Pustaka, saya tahu betapa risau Takdir. Ia melihat bangsa ini begitu statis. Begitu kental dengan mental
terjajah. Begitu pasrah bangsa pada realitas alam. Itulah yang menjelaskan mengapa kita menjadi bangsa miskin
dan kalah.

Saya tersentak dengan pengungkapan Takdir. Realitas masyarakat sekarang tak banyak berbeda dengan
masyarakat yang dilihatnya di tahun 1930-an. Yakni masyarakat yang statis, lemah, miskin, hanya bisa pasrah
terhadap bencana alam, gemar tangan di bawah, serta mudah diperalat baik oleh kekuatan politik maupun
kapital. Mentalitas kita jauh dari mentalitas khalifatullah fil ard yang dituntunkan agama. Lebih setengah abad
merdeka, belum cukup signifikan mengubah kita.

Kenyataan ini memperjelas siapa sebenarnya Takdir, dan apa yang dimauinya. Sejak itu saya lebih suka
memggunakan tafsir sendiri tentang Takdir. Yakni, bahwa sebenarnya bukan 'Barat' atau 'Timur' yang tengah
diperjuangkan Takdir. Ia hanya melecut bangsa ini agar menjadi bangsa dinamis. Bukan bangsa statis. Ia ingin
bangsa ini mengendalikan, dan bukan dikendalikan, alam. Ia ingin membebaskan banyak pemimpin publik
sampai sekarang.

Takdir juga diidentikkan sebagai seorang sekuler. Tetapi, Takdirlah yang menunjuk dengan jelas apa penyakit
pemahaman agama (Islam) yang berkembang di Indonesia. Islam di sini, menurutnya, sangat diwarnai budaya
India lama. Budaya yang menghinakan sekelompok manusia, dan memuliakan kelompok manusia lainnya. Itu
yang menjelaskan mengapa banyak umat nikmat menjadi 'kawulo' dan gemar mencium tangan orang. Tak
sedikit pula para pemegang atribut agama yang suka dicium tangannya.

Padahal, itu bertolak belakang dengan prinsip Islam sebenarnya. Takdir pun menyeru kaum agama: mengapa
kalian tidak kembali ke nilai asli Islam yang diajarkan Nabi? Islam yang mengajarkan umatnya menjadi

http://hotinfo.jawabali.com/blbi/terima-uang-antasari-juga-harus-usut-kejagung-21
manusia merdeka, rasional, dan menghargai sesama secara setara. Bukanlah Islam nilai yang mengajarkan
untuk pasrah pada nasib.

Masih banyak lagi peran Takdir buat membangun Indonesia yang sekarang kita warisi. Dalam membangun
bahasa Indonesia hingga layak menjadi bahasa resmi negara salah satunya. Tapi, publik memang cenderung
untuk hanya kagum pada mereka yang gampang ditepuktangani. Maka, Takdir pun tak banyak diapresiasi
hingga ia terbaring damai di pekarangannya yang asri, di Tugu, Puncak, itu. Saya bersyukur dapat menziarahi
seabad setelah Takdir, dilahirkan. Ziarah yang memperkuat tekad untuk menerbitkan kembali buku Polemik
Kebudayaan pada Kebangkitan Nasional yang tahun ini juga genap seabad.

February 11, 2008

Ke Barat Bersama STA


Senin, 11 Februari 2008 | 02:53 WIB

Sapardi Djoko Damono

Dalam pengantarnya untuk antologi Puisi Baru yang disusunnya, Sutan Takdir Alisjahbana atau STA memberi
gambaran ringkas perkembangan pemikiran zaman yang melahirkan romantisisme di Barat.

Mengacu ke pembicaraan itu, tegas dinyatakan, ”…perubahan terbesar, yang terjadi di negeri ini dan yang
penting untuk memahamkan puisi baru sebagai pancaran masyarakat baru, yaitu perubahan yang disebabkan
oleh pertemuan masyarakat kita dengan masyarakat Eropa.”

Ia menjelaskan, serangkaian perubahan terjadi di benua itu sejak abad pertengahan. Pada dasarnya, hakikat
perubahan masyarakat agraris menjadi industri pada gilirannya menimbulkan serangkaian perubahan besar di
bidang filsafat, agama, seni, ilmu pengetahuan, dan politik.

Usai menjelaskan hubungan kebudayaan kita dan Barat, STA menegaskan, timbulnya puisi yang diberi label
baru itu dengan langsung dipengaruhi bahasa dan puisi Eropa, atau yang disebut puisi internasional. Alasan
STA sederhana, yakni angkatan muda yang saat itu duduk di sekolah berkenalan dengan anggapan masyarakat
Barat tentang bahasa dan puisi, dan hal itu ternyata sesuai dengan jiwa masyarakat kita yang sedang berubah.

Karangan itu adalah pengantar untuk sebuah antologi puisi. Namun, pada dasarnya apa yang disampaikan
merupakan inti dari gagasan dasar tentang perubahan kebudayaan. Ia menjadikan Eropa sebagai model yang
sudah seharusnya ditiru oleh, atau mau tidak mau akan berpengaruh terhadap, perubahan yang sedang dan akan
terjadi atas masyarakat kita.

Berbagai bidang

Berbicara tentang tokoh yang satu ini tentu bisa ke mana-mana sebab perhatian STA tidak hanya pada bidang
penulisan kreatif, tetapi juga berbagai bidang pemikiran. Tidak ada bidang humaniora dan ilmu sosial yang
tidak disentuhnya. Namun, saya berpandangan, inti gagasannya sebagian besar tersirat dan tersurat dalam
pengantar antologi yang disusunnya itu. Antologi itu terbit pertama kali tahun 1946, tetapi gagasan yang

http://hotinfo.jawabali.com/blbi/terima-uang-antasari-juga-harus-usut-kejagung-21
tercantum di dalamnya sudah dikandung sejak tahun 1930-an, ketika dengan amat bersemangat—sebagai orang
muda—ia menjadi pusat dari sebuah perbantahan yang kini kita kenal sebagai Polemik Kebudayaan.

Ia tidak pernah ragu-ragu menjelaskan dan menempatkan posisi dirinya dalam sejarah perkembangan
masyarakat modern, sebut saja masyarakat kapitalis, yang tidak bisa dibendung bahkan harus diupayakan
percepatan perkembangannya di negeri ini. Perubahan dari masyarakat agraris menjadi industri dianggapnya
sebagai suatu yang tidak bisa dielakkan sebab teknologi yang menunjang industri akan memaksa semua
masyarakat bersaing mendapatkan keuntungan materi.

Namun, disiratkan, perjuangan untuk mencapai kekayaan itu juga memberi pengetahuan dan kesadaran baru
tentang kemungkinan terjadinya proses saling memengaruhi di antara berbagai kebudayaan yang tidak hanya
ada di Eropa, tetapi juga di benua lain yang menjadi ”sasaran” kegiatan perdagangan mereka. Katanya,
kegelisahan, perjuangan, dan persaingan yang terjadi akibat timbulnya gagasan industrialisasi itu merambah ke
”politik, agama, seni, ilmu pengetahuan, dan filsafat”.

Pikiran semacam itu, yang menyinggung agama, menimbulkan reaksi yang bisa negatif. Ia dianggap memiliki
pemikiran sekuler yang tidak sesuai ”kepribadian” kita. Sebenarnya ia berbicara tentang kebudayaan di Eropa
yang Katolik saat menyatakan, karena kegagalan Perang Salib, ”Tuhan terdesak dari dunia dan dari hidup
manusia; kepada Tuhan hanya diberi tempat pada permulaan dan akhir dunia dan manusia. Baik buruk keadaan
dunia bergantung manusia sendiri.”

Kalimat itu sama sekali tidak terkait individualisme, yang disebutnya dalam beberapa karangan lain. Namun,
pada hakikatnya menyiratkan, masalah Tuhan adalah sepenuhnya pribadi. Masa itu disebutnya masa
kebangunan: manusia insaf akan tenaga dan kecakapannya.

Segala bidang

Perkembangan sosial-budaya yang dinilai positif itu dianjurkan untuk ditiru bangsa kita. Terkait pelaksanaan
gagasan itulah, ia menulis sebuah karangan di majalah Panji Pustaka tahun 1933 yang menyerang balik para
pengkritik kebijakan majalah itu. Dalam serangan yang disampaikan oleh pengkritik itu dikatakan, majalah itu
diterbitkan oleh pemerintah kolonial karena itu berkiblat ke Barat. Itu sebabnya keindahan tradisi lisan seperti
pantun sama sekali disingkirkan sehingga ”anak-anak muda zaman sekarang yang buah tangan dan perasaannya
berlumuran darah Barat yang mengejikan dan menjemukan kita sambil menggelengkan kepala karena sampai
hati mereka berkepanjangan ’memerkosa’ cara susunan syair dan pantun kita yang dari dahulu, dari ada dan
timbulnya suci adanya.”

Penulis itu menjelaskan, cara itu adalah pemerkosaan yang ”sedemikian halus dan tajam (gevoelig)”. Serangan
terhadap majalah itu merembet ke kebijakan yang katanya ”memperteguh imperialisme”.

Perbantahan tentang asas kesusastraan itu mewakili gagasan perubahan sosial budaya di zaman itu, yang hingga
kini masih terasa, mungkin tidak akan pernah selesai. Atas kritik itu STA menjawab, bentuk-bentuk sastra itu
sudah ada jauh sebelum Panji Pustaka. Jika mengikuti pemikiran pengkritik itu, seharusnya kita mempersoalkan
pendidikan Barat yang juga diikuti pengkritik itu. Gagasan tentang keharusan berkiblat ke Barat tidak hanya
disampaikan dalam tulisan nonfiksi, tetapi juga fiksi, antara lain Layar Terkembang, dengan membiarkan tokoh
novel itu menyerang landasan pemikiran Sanusi Pane seperti disiratkan dan disuratkan dalam drama
Sandhyakalaning Majapahit, yang dianggapnya melemahkan semangat.

Dengan ”rekan gerombolan”-nya di Pujangga Baru, ia menerapkan gagasan tentang keharusan semangat
pembaruan, suatu tendensi yang harus menggarisbawahi tiap karya sastra. Ia menginginkan Faustus, bukan
Arjuna; gagasan Sanusi Pane ”mengawinkan” dua tokoh itu ditolak.

Perkembangan bahasa

http://hotinfo.jawabali.com/blbi/terima-uang-antasari-juga-harus-usut-kejagung-21
Dalam rangka ulang tahun ke-16 Pujangga Baru, ia menjelaskan lagi gagasannya yang tumbuh sejak masih
muda, bahkan lebih tegas lagi. Tulisan itu sekaligus merupakan jawaban atas berbagai hal yang—meski
tampaknya menolak gagasannya—ternyata merupakan kelanjutan pemikirannya. Ia menyerang sikap ’bunglon’
sastrawan dan budayawan yang pada masa sebelum perang tampaknya sejalan pikirannya.

Teman-teman dekatnya, seperti Armijn Pane (yang karyanya diakui STA sebagai tak tertandingi, bahkan oleh
sastrawan setelah Kemerdekaan), Sanusi Pane, dan HB Jassin (yang pernah menjadi sekretaris redaksi Pujangga
Baru), langsung atau tak langsung dikaitkan sifat ”bunglon” di zaman Jepang, zaman yang menghentikan
penerbitan Pujangga Baru.

STA telah mengembara jauh ke Barat. Ia kokoh dalam hal yang satu, tetapi dalam tulisannya di Pujangga Baru
tahun 1934 tentang kedudukan bahasa Melayu-Tionghoa dikatakan, ”Saya yakin, bahwa perasaan yang
setinggi-tinggi dam semulia-mulia mana sekalipun akan dapat dijelaskan dalam bahasa Melayu-Tionghoa,
seperti dalam bahasa mana yang lain sekali pun di dunia ini… Ubahlah sedikit saja ejaannya dan kita akan
mendapat daripada bahasa Melayu-Tionghoa ini bahasa Indonesia yang seindah-indahnya mungkin.”

STA memang berjalan jauh ke Barat, tetapi terkait gagasan tentang kenyataan yang ada dalam perkembangan
bahasa, kakinya tetap di tanah tempat ia berpijak. Dalam rangka 100 tahun kelahirannya, ada baiknya kita
mengenangnya sebagai tokoh seperti itu.

Sapardi Djoko Damono Penyair

http://hotinfo.jawabali.com/blbi/terima-uang-antasari-juga-harus-usut-kejagung-21