Anda di halaman 1dari 17

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh pihak lain yang
dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan yang berkaitan dengan
permasalahan penelitian ini.
1) Sri Suranta (2008). Melakukan penelitian yang berjudul analisis
pengaruh pengungkapan informasi pertanggungjawaban sosial
(Corporate Social Responsibility) terhadap Firm Value pada
perusahaan manufaktur di Indonesia. Dengan sampel penelitian
sebanyak 134 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia pada periode 2007. Variabel independent adalah CSR dan
variabel dependent adalah Nilai perusahaan. Penelitian ini menggunakan
uji regresi linier berganda, dengan hasil penelitian menunjukan bahwa
CSR berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
2) Samsinar Anwar (2010). Melakukan penelitian yang berjudul pengaruh
pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap kinerja keuangan
perusahaan dan harga saham. Dengan sampel penelitian semua
perusahaan di BEI selama tahun 2007-2009. Variabel independent adalah
CSR dan variabel dependent adalah kinerja keuangan perusahaan.
Penelitian ini menggunakan regresi linier berganda, dengan hasil
penelitian menunjukan bahwa CSR berpengaruh terhadap kinerja
keuangan perusahaan dan harga saham.
3) Ioannis Ioannou dan George Serafeim (2009). Melakukan penelitian
yang berjudul The Impact of Corporate Social Responsibility on
Investment Recommendation. Dengan sampel penelitian dari KLD
selama tahun 1993-2008. Variabel independent adalah CSR dan
variabel dependent adalah investmen recommendation. Hasil penelitian
ini menunjukan bahwa CSR mempunyai dampak terhadap
rekomendasi investasi.
7

4) Arif Fajriana (2009). Melakukan penelitian yang berjudul pengaruh
Corporate Sosial Responsibility terhadap nilai perusahaan dengan
kepemilikan manajemen sebagai variabel moderating. Dengan sampel
penelitian 40 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada
periode 2007-2008. Variabel independent adalah CSR dan variabel
dependent adalah nilai perusahaan. Penelitian ini menggunakan uji
regresi linier berganda, dengan hasil penelitian menunjukan bahwa
CSR berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
5) Novia Ratnaningsih (2010). Melakukan penelitian yang berjudul
pengaruh Corporate Social Responsibility Disclosure terhadap
Earning Response Coefficient. Dengan sampel penelitian sebanyak 20
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2006-
2007. Variabel independent adalah CSR dan variabel dependent adalah
ERC. Penelitian ini menggunakan uji regresi linier sederhana, dengan
hasil penelitian menunjukan bahwa CSR tidak berpengaruh terhadap
ERC.
6) Isnaeni Ken Zuraedah (2010). Melakukan penelitian yang berjudul
pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan dengan
pengungkapan Corporate Social Responsibility sebagai variabel
moderating. Dengan sampel penelitian perusahaan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2008 dalam kelompok Badan Usaha
Milik Negara non keuangan. Penelitian ini menggunakan uji regresi
linier berganda, dengan
8

II.2 Landasan Teori
II.2.1 Corporate Sosial Responsibility
II.2.1.1 Pengertian Corporate Sosial Responsibility
Definisi mengenai Corporate Social Responsibility sangatlah
beragam, bergantung pada visi dan misi perusahaan yang disesuaikan
dengan needs, desire, wants dan interest komunitas. Berikut adalah
beberapa definisi Tanggung Jawab Sosial :
The Word Business misalnya mendefinisikan CSR sebagai berikut :
Corporate Social responsibility is the continuing commitment by
business to behave ethically and contribute to economic development
while improving the quality of life of the workforce and their families as
well as of the local community and society at large.
Menurut World Bank CSR adalah :
the commitment of business to contribute to sustainable economic
development working with amployees and their representative the local
community and society at large to improve quality of life, in ways that are
both good for business and good for development.
Corporate Social Responsibility adalah suatu pendekatan bisnis
yang menciptakan nilai pemangku kepentingan dengan merangkum semua
peluang dan mengelola semua risiko yang dihasilkan dari kegiatan
pembangunan ekonomi, lingkungan dan sosial. (Oliver van Heel dalam
Rahmatullah 2011 : 4)
Corporate Social Responsibility adalah komitmen usaha untuk
bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk
peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup
karyawan, keluarganya, komunitas local dan masyarakat secara lebih luas
(Sankat dalam Rahmatullah 2011 : 5)
Secara umum, Corporate Social Responsibility merupakan
peningkatan kualitas kehidupan mempunyai arti adanya kemamupuan
manusia sebagai individu anggota komunitas untuk dapat menaggapi
keadaan sosial yang ada dan dapat menikmati serta memanfatkan
lingkungan hidup termasuk perubahan-perubahan yang ada sekaligus
9

memelihara, atau dengan kata lain merupakan cara perusahaan mengatur
proses usaha untuk memproduksi dampak positif pada suatu komunitas,
atau merupakan suatu proses yang penting dalam pengaturan biaya yang
dikeluarkan dan keuntungan kegiatan bisnis dari stakeholders baik secara
internal (pekerja, shareholders, dan penanaman modal) maupun eksternal
kelembagaan pengaturan umum, angota-anggota komunitas, kelompok
komunitas sipil dan perusahaan lain). (Rudito 2007 : 206)
Jadi, tanggung jawab perusahaan secara sosial tidak hanya terbatas
pada konsep pemberian donor saja, tetapi konsepnya sangat luas dan tidak
bersifat statis dan pasif, hanya dikeluarkan dari perusahaan akan tetapi hak
dan kewajiban yang dimiliki bersama antara stakeholders. Konsep
Corporate Social Responsibility melibatkan tanggung jawab kemitraan
antara pemerintah, lembaga, sumberdaya komunitas, juga komunitas lokal
(setempat). Kemitraan ini tidaklah bersifat pasif atau statis. Kemitaraan ini
merupakan tanggungjawab bersama secara sosial antara stakeholders.
(Rudito 2007:207)
Standar perilaku etis yang tinggi menuntut agar setiap perusahaan
memperlakukan masing-masing pihak yang berhubungan dengannya
dengan cara yang adil dan jujur. Komitmen sebuah perusahaan terhadap
etika bisnis dapat diukur melalui kecenderungan perusahaan dan
karyawannya untuk mematuhi hukum dan peraturan yang berkaitan
dengan factor-faktor seperti keselamatan dan mutu produk, praktik-praktik
kerja yang adil, praktik-praktik pemasaran dan penjualan yang adil,
keterlibatkan masyarakat. (Brigham 2006 : 24)
Berdasarkan uraian tersebut jadi dapat disimpulkan bahwa CSR
adalah tanggung jawab perusahaan atas dampak dari berbagai keputusan
dan aktivitas mereka terhadap masyarakat dan lingkungan melalui suatu
perilaku yang terbuka dan etis, yang konsisten dengan pembangunan
berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat, memerhatikan ekspektasi
para pemangku kepentingan, tunduk kepada hukum yang berlaku dan
konsisten dengan norma perilaku internasional dan diintegrasikan ke
dalam seluruh bagian organisasi.
10

II.2.1.2 Tujuan CSR
Dalam bisnis apa pun, yang diharapkan adalah keberlanjutan dan
kestabilan usaha, karena keberlanjutan akan mendatangkan keuntungan
sebesar- besarnya bagi perusahaan. Setidaknya terdapat tiga alas an
penting mengapa kalangan dunia usaha harus merespon CSR agar sejalan
dengan jaminan keberlanjutan operasional perusahaan, (Rahmatullah
2011 : 6-7) yaitu :
1. Perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar
bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat. Perusahaan
mesti menyadari bahwa mereka beroperasi dalam satu tatanan
lingkungan masyarakat. Kegiatan social ini berfungsi sebagai
kompensasi atau upaya imbal balik atas penguasaan sumber daya
alam atau sumber daya ekonomi oleh perusahaan yang kadang
bersifat ekspansif dan eksploratif, disamping sebagai kompensasi
social karena timbul ketidak nyamanan pada masyarakat.
2. Kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang
bersifat simbiosis mutualisme untuk mendapatkan dukungan dari
masyarakat. Wajar bila perusahaan dituntut untuk memberikan
kontribusi positif kepada masyarakat, sehingga bisa tercipta
harmonisasi hubungan bahkan pendongkrakan citra dan performa
perusahaan.
3. Kegiatan CSR merupakan salah satu cara untuk meredam atau bahkan
menghindarkan konflik sosial. Potensi konflik itu bisa berasal akibat
dampak operasional perusahaan atau akibat kesenjangan structural
dan ekonomis yang timbul antara masyarakat dengan komponen
perusahaan.
II.2.1.3 Model-model CSR
Menurut Kotler dan Lee dalam Rahmatullah (2011 : 27), terdapat
enam alternative program CSR yang dapat dipilih perusahaan dengan
mempertimbangkan tujuan perusahaan, tipe program, keuntungan
11

potensial yang akan diperoleh, serta tahap-tahap kegiatan. Enam kategori
diantaranya adalah :
1. Cause Promotion , perusahaan yang menggunakan program ini
menyediakan sejumlah dana sebagai bentuk kontribusi CSR atau
sumber daya lainnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
terhadap suatu masalah social atau untuk mendukung pengumpulan
dana, partisipasi dari masyarakat, atau dalam rangka merekrut
relawan untuk mendukung masalah social tersebut.
2. Cause Related Marketing (CRM), perusahaan yang
mengimplementasikan CSR dengan jenis program ini, berkomitmen
untuk menyumbangkan prosentase tertentu dari penghasilannya untuk
suatu kegiatan social berdasarkan besarnya penjualan produk.
3. Corporate Social Marketing (CSM), dalam program ini perusahaan
mengembangkan dan melaksanakan kampanyeuntuk merubah
perilaku masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan
keselamatan publik, menjaga kelestarian lingkungan hidup, serta
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
4. Corporate Philanthropy, perusahaan dengan program ini memberikan
kontribusi langsung secara cuma-cuma dalam bentuk hibah tunai,
sumbangan dan sejenisnya.
5. Community Volunteering, perusahaan mendukung serta mendorong
para karyawan, para pemegang franchise atau rekan pedagang eceran
untuk menyisihkan waktu mereka secara sukarela guna membantu
organisasi-organisasi masyarakat local maupun masyarakat yang
menjadi sasaran program.
6. Socially Responsible Business Practice (Community Development),
yaitu dimana perusahaan melakukan investasi yang mendukung
pemecahan suatu masalah social untuk meningkatkan kesejahteraan
komunitas dan melindungi lingkungan.
12

II.2.1.5 Bentuk Kegiatan CSR
Pada dasarnya bentuk tanggung jawab social perusahaan dapat
beraneka ragam, dari yang bersifat charity sampai pada kegitan yang
bersifat pengembangan komunitas. Akan tetapi, dari keseluruhan kegiatan
tersebut pada dasarnya tidak terkait dengan produk yang dihasilkan oleh
perusahaan, seperti reklame tetapi tidak berisi produk dari si pembuat
reklame. (Rudito 2007 : 210-212)
Kegiatan program yang dilakukan oleh perusahaan dalam konteks
tanggung jawab sosialnya dapat dikategorikan dalam tiga bentuk:
a. Public relation
Usaha untuk menanamkan persepsi positif kepada komunitas tentang
kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menanamkan image positif
perusahaan terhadap komunitas.
b. Strategi defensif
Usaha yang dilakukan oleh perusahaan guna menangkis anggapan
negatif komunitas luas yang sudah tertanam terhadap kegiatan
perusahaan, terhadap karyawannya, dan biasanya untuk melawan
serangan negatif dari komunitas yang sudah berkembang.
c. Keinginan tulus untuk melakukan CSR
Melakukan program untuk kebutuhan komunitas sekitar perusahaan.
Kegiatan perusahaan dalam konteks ini adalah sama sekali tidak
mengambil suatu keuntungan secara materil tetapi berusaha untuk
menanamkan kesan baik komunitas atau komunitas berkaitan dengan
kegiatan perusahaan.
II.2.1.6 Ruang Lingkup CSR
Pada hakikatnya CSR adalah nilai atau jiwa yang melandasi
aktivitas perusahaan secara umum, dikarenakan CSR menjadi pijakan
komprehensif dalam aspek ekonomi, sosial, kesejahteraan dan lingkungan.
Tidak etis jika nilai CSR hanya diimplementasikan untuk memberdayakan
masyarakat setempat, di sisi lain kesejahteraan karyawan yang ada di
13

dalamnya tidak terjamin, atau perusahaan tidak disiplin dalam membayar
pajak, suburnya praktik korupsi dan kolusi, atau mempekerjakan anak.
Oleh karena itu dalam CSR tercakup di dalamnya empat landasan
pokok yang antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan (Tanari
dalam Rahmatullah 2011 : 8-9) diantaranya :
a. Landasan pokok CSR dalam aktivitas ekonomi, meliputi :
- Kinerja keuangan berjalan baik
- Investasi modal berjalan sehat
- Kepatuhan dalam pembayaran pajak
- Tidak terdapat praktik suap/korupsi
- Tidak ada konflik kepentingan
- Tidak dalam keadaan mendukung rezim yang korup
- Menghargai hak atas kemampuan intelektual/paten
- Tidak melakukan sumbangan politisi/lobi
b. Landasan pokok CSR dalam isu lingkungan hidup, meliputi :
- Tidak melakukan pencemaran
- Tidak berkontribusi dalam perubahan iklim
- Tidak berkontribusi atas limbah
- Tidak melakukan pemborosan air
- Tidak melakukan praktik pemborosan energy
- Tidak melakukan penyerobotan lahan
- Tidak berkontribusi dalam kebisingan.
- Menjaga keanekaragaman hayati
c. Landasan pokok CSR dalam isu sosial, meliputi :
- Menjamin kesehatan karyawan atau masyarakat yang terkena
dampak
- Tidak mempekerjakan anak
- Memberikan dampak positif terhadap masyarakat
- Melakukan proteksi konsumen
- Menjunjung keberanekaragaman
- Menjaga privasi
- Melakukan praktik derma sesuai dengan kebutuhan
14

- Bertanggung jawab dalam proses outsourcing dan off-shorting
- Akses untuk memperoleh barang-barang tertentu dengan harga
wajar
d. Landasan pokok CSR dalam isu kesejahteraan
- Memberikan kompensasi terhadap karyawan
- Memanfaatkan subsidi dan kemudahan yang diberikan pemerintah
- Menjaga kesehatan karyawan
- Menjaga keamanan kondisi tempat kerja
- Menjaga keselamatan dan kesehatan kerja
- Menjaga keseimbangan kerja/hidup
Landasan diatas memberikan sebuah gambaran bahwa CSR
bukanlah hal yang parsial, melainkn suatu urusan yang komprehensif.
Tidak tepat jika perusahaan hanya focus pada aspek lingkungan hidup,
namun abai dalam aspek kesejahteraan karyawan dan ketidakseimbangan
antar aspek lainnya. Oleh karena itu poin-poin diatas bisa dijadikan
sebagai indikator sejauh mana keseriusan perusahaan dalam menerapkan
CSR.
II.2.2 Nilai Perusahaan
II.2.2.1 Pengertian Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap perusahaan
yang sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham tinggi membuat
nilai perusahaan juga tinggi. Nilai perusahaan lazim diindikasikan
dengan price to book value. Nilai price to book value (PBV) yang tinggi
akan membuat pasar percaya akan prospek kedepan perusahaan.
Nilai perusahaan dalam beberapa literature disebut dengan
berbagai istilah misalnya PBV atau M/B (market / Book) ratio. Istilah
nilai perusahaan dalam beberapa literature meskipun berbeda, tetapi
artinya adalah PBV merupakan perbandingan antara harga saham dengan
nilai buku per saham. Adapun yang dimaksud dengan nilai buku per
15

saham adalah perbandingan antara modal dengan nilai saham yang
beredar. (Van Horne 2007 : 374)
Dalam penelitian ini nilai perusahaan didefinisikan sebagai nilai
pasar. Karena nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran
pemegang saham secara maksimum apabila harga saham perusahaan
meningkat. Semakin tinggi harga saham, maka makin tinggi
kemakmuran pemegang saham. Untuk mencapai nilai perusahaan
umumnya para pemodal menyerahkan pengelolaannya kepada para
professional. Para professional diposisikan sebagai manajer ataupun
komisaris. Beberapa macam nilai menurut Van Horne (2007 : 374-375)
a. Nilai Nominal
Selembar saham bisa dapat menjadi saham dasar dengan atau tanpa
nilai nominal atau nilai pari (par value). Nilai nominal selembar saham
hanya merupakan angka tercatat dalam AD/ART perusahaan dan
memiliki nilai ekonomois yang kecil. Akan tetapi, perusahaan
seharusnya jangan menerbitkan saham biasa dengan harga kurang dari
nilai nominal, karena diskon dari nilai nominal akan dianggap sebagai
kewajiban kontinjen para pemilik kepada kreditor perusahaan. Jika
terjadi likuiditasi, para pemegang saham secara hukum akan
bertanggung jawab kepada para kreditor untuk diskon berapa pun dari
nilai nominal. Akibatnya, nilai nomial dari sebagian besar saham
ditetapkan cukup rendah dari nilai pasarnya.
b. Nilai Pasar
Nilai pasar per lembar adalah harga perdagangan saham saat ini. Untuk
saham yang diperdagangkan secara aktif, kuotasi harga pasar telah
tersedia. Bagi banyak saham yang tidak aktif dan yang memiliki
sedikit pasar, harga sulit untuk didapat. Nilai pasar selembar saham
biasanya akan berbeda dengan nilai buku dan nilai likuiditasnya. Nilai
per lembar saham adalah fungsi dari deviden saat ini dan deviden yang
diharapkan di masa yang akan mendatang dari perusahaan serta
persepsi risikonya dari sudut pandang investor.
16

c. Nilai Likuidasi (Liquidation Value)
Merupakan perkiraan jumlah uang tunai bersih atau yang bersifat
ekuivalen yang dapat diperoleh jika usaha suatu perusahaan dihentikan
dan aktiva-aktivanya dijual secara terpisah-pisah dalam suatu proses
penjualan yang bersifat norma.
II.2.2.2 Metode Pengukuran Nilai Perusahaan
Pengukuran nilai perusahaan sering kali dilakukan dengan
menggunakan rasio-rasio penilaian atau rasio nilai pasar. Rasio nilai pasar
(market value ratio), akan menghubungkan harga saham perusahaan pada
laba, arus kas, dan nilai buku per sahamnya. Rasio-rasio ini dapat
memberikan indikasi kepada manajemen mengenai apa yang dipikirkan
oleh para investor tentang kinerja masa lalu dan prospek perusahaan di
masa mendatang.
1. Rasio Harga/ Laba
Rasio harga/laba (price/earning P/E) menunjukan berapa
banyak jumlah uang yang rela dikeluarkan oleh para investor untuk
membayar setiap dolar laba yang dilaporkan. Rasio-rasio P/E akan
lebih tinggi pada perusahaan-perusahaan yang memiliki prospek
pertumbuhan yang kuat, jika hal-hal lain dianggap konstan, tetapi
mereka akan lebih rendah pada perusahaan-perusahaan yang lebih
beresiko. (Brigham 2006 : 110)
Rasio harga/laba (P/E) =
Harga pasar pcr saham
Laba pcr saham
2. Rasio Nilai Pasar/ Nilai Buku (market book M/B)
Rasio atas harga pasar saham terhadap nilai bukunya juga akan
memberikan indikasi yang lain tentang bagaimana investor
memandang perusahaan. Perusahaan dengan tingkat pengembalian
ekuitas yang relatif tinggi biasanya menjual dengan perkalian nilai
17

buku yang lebih besar jika dibandingkan dengan perusahaan yang
pengembaliannya rendah. (Brigham 2006 : 111)
Rasio nilai pasar/ nilai buku = M/B =
EkuItas saham bIasa
]umIah saham bcrcdar
3. Rasio Tobins Q
Rasio Tobins Q dalam penelitian ini digunakan sebagai
indikator penilaian nilai perusahaan. Rasio ini dikembangkan oleh
professor James Tobin. Rasio ini merupakan konsep yang berharga
karena menunjukan estimasi pasar keuangan saat ini tentang nilai
hasil pengembalian dari setiap dolar investasi incremental. Menurut
Smithers dan Wright Tobins Q dihitung dengan membandingkan
rasio nilai pasar saham perusahaan dengan nilai buku ekuitas
perusahaan. Rumusnya sebagai berikut :
q =
(EMV+D)
(EBV+D)
Dimana :
q = Nilai perusahaan
EMV = Nilai pasar ekuitas (EMV = closing price x jumlah saham
beredar)
D = Nilai buku dari total hutang
EBV = Nilai buku dari total aktiva
Jika rasio q diatas satu, ini menunjukan bahwa investasi dalam
aktiva menghasilkan laba yang memberikan nilai yang lebih tinggi
daripada pengeluaran investasi, hal ini akan merangsang investasi
baru. Jika rasio-q dibawah satu, investasi dalam aktiva tidaklah
menarik.
18

Jadi rasio-q merupakan ukuran yang lebih teliti tentang seberapa
efektif manajemen memanfaatkan sumber-sumber daya ekonomis
dalam kekuasaannya.
II.2.3 Pengertian Kepemilikan Manajemen
kepemilikan manajemen adalah prosentase kepemilikan saham
yang dimiliki oleh direksi, manajer dan dewan komisaris. Jensen dan
Meckling dalam Van Horne (2007) menyatakan bahwa guna mengurangi
konflik kepentingan antara principal dan agen dapat dilakukan dengan
meningkatkan kepemilikan manajerial dalam suatu perusahaan.
Hal itu berarti bahwa kepemilikan manajerial dalam suatu
perusahaan target akan mendorong penyatuan kepentingan antara principal
dan agen dalam mendorong informasi positif yang lebih banyak pada
publikasi terakhir sebelum pengumuman akuisisi.
Dengan adanya kepemilikan manajemen dalam sebuah perusahaan
akan menimbulkan dugaan yang menarik bahwa nilai perusahaan
meningkat sebagai akibat kepemilikan manajemen yang meningkat.
Kepemilikan manajemen adalah situasi dimana manajer memiliki
saham perusahaan atau dengan kata lain manajer tersebut sekaligus
sebagai pemegang saham perusahaan. Dalam laporan keuangan, keadaan
ini ditunjukan dengan besarnya persentase kepemilikan saham perusahaan
oleh manajer. Karena hal ini merupakan informasi penting bagi pengguna
laporan keuangan maka informasi ini akan diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan.
Struktur kepemilikan lain adalah kepemilikan institusional, dimana
umumnya dapat bertindak sebagai pihak yang memonitor perusahaan.
Perusahaan dengan kepemilikan institusional yang besar (lebih dari 5%)
mengindikasikan kemampuannya untuk memonitor manajemen.
Semakin besar kepemilikan institusional maka semakin efisien
pemanfaatan aktiva perusahaan dan diharapkan juga dapat bertindak
sebagai pencegahan terhadap pemborosan yang dilakukan oleh
19

manajemen. Hal ini berarti kepemilikan institusi dapat menjadi pendorong
perusahaan untuk melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial.
Dalam posisi sebagai bagian dari masyarakat, operasi perusahaan
seringkali mempengaruhi masyarakat sekitarnya. Eksistensinya dapat
diterima sebagai anggota masyarakat, sebaliknya eksistensinya pun dapat
terancam bila perusahaan tidak dapat menyesuaikan diri dengan norma
yang berlaku dalam masyarakat tersebut atau bahkan merugikan anggota
komunitas tersebut.
Keselarasan antara tindakan organisasi dan nilai-nilai masyarakat
ini tidak selamanya berjalan seperti yang diharapkan. Tidak jarang akan
terjadi perbedaan potensial antara organisasi dan nilai-nilai sosial yang
dapat mengancam legitimasi perusahaan. Hal ini dapat menghancurkan
legitimasi organisasi yang berujung pada berakhirnya eksistensi
perusahaan. (Haniffa dan Cooke dalam Machmud,2006).
Berdasarkan pernyataan tersebut maka apabila perusahaan ingin
mempertahankan eksistensinya sudah tentu perusahaan harus menghormati
nilai-nilai masyarakat sehingga bisa berjalan selaras antara kepentingan
perusahaan dan keinginan masyarakat sekitar perusahaan.
II.3 Pengaruh CSR dan kepemilikan manajemen sebagai suatu interaksi
terhadap Nilai Perusahaan
CSR merupakan strategi bisnis yang mampu memberikan brand
image kepada perusahaan sehingga perusahaan tersebut memiliki nilai
yang baik dimata masyarakat dan konsumen pasar. Dengan demikian
meskipun CSR memang bukan bagian dari kegiatan bisnis perusahaan
secara langsung, tetapi perlu diakui bahwa program CSR mampu
memberikan nilai positif bagi suatu perusahaan dan mampu memberikan
citra yang bagus terhadap perusahaan dimata masyarakat, sehingga mampu
meningkatkan nilai perusahaan.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan adalah
kepemilikan manajemen, karena kepemilikan manajemen mempunyai
20

peranan penting terhadap semua kegiatan yang akan dilakukan oleh
perusahaan, karena manajemen memiliki kendali terhadap kinerja perusahaan.
Seperti dalam penelitian Fajriana (2009) yang menyatakan adanya
pengaruh yang signifikan antara kepemilikan manajemen dengan nilai
perusahaan. Dari hasil penelitian tersebut bisa diartikan bahwa apabila
kepemilikan suatu perusahaan meningkat, maka nilai perusahaan tersebut
mengalami peningkatan. Tetapi apabila kepemilikan manajemen suatu
perusahaan mengalami penurunan, maka nilai dari suatu perusahaan
tersebut telah mengalami penurunan.
Masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perusahaan
tentu mengharapkan timbale balik yang positif, sehingga eksistensinya
dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Menurut Haniffa dan Cooke dalam Fajriana (2009) semakin tinggi
keselarasan hubungan perusahaan dengan masyarakat, maka semakin
tinggi eksistensinya perusahaan dapat diterima oleh masyarakat. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa semakin besar nilai kepemilikan manajemen
suatu perusahaan maka akan semakin luas pengungkapan informasi CSR
yang diharapkan mampu untuk meningkatkan nilai perusahaan.
21

II.4 Kerangka Pemikiran
Gambar 1
DIAGRAM KERANGKA PEMIKIRAN
Uji Regresi Linier berganda
II.5 Pengmbangan Hipotesis
Menurut penelitian Sri Suranta yang berjudul Analisis Pengaruh
Pengungkapan Informasi Pertanggungjawaban Sosial (Corporate Social
Responsibility) terhadap Firm Value pada perusahaan manufaktur di
Indonesia. Hipotesis dalam penelitian ini adalah pengaruh CSR disclosure,
institutiuonal ownership, size company, dan financial leverage terhadap
firm value. Sedangkan dalam penelitian Samsinar Anwar yang berjudul
pengaruh pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap Kinerja
Keuangan Perusahaan dan Harga Saham, memiliki hipotesis
pengungkapan CSR dalam laporan tahunan perusahaan berpengaruh
dengan kinerja keuangan perusahaan, pengungkapan tanggung jawab
sosial perusahaan dalam laporan tahunan berpengaruh terhadap harga
saham, pengaruh kinerja keuangan perusahaan (ROA, ROE, EVA)
terhadap harga saham.
Kepemilikan Manajemen
(X2)
Corporate Social
Responsibility
(X1)
Nilai Perusahaan
(Y)
22

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesa peneliti adalah:
H1 Corporate Social Responsibility Disclosure mempunyai pengaruh
terhadap nilai perusahaan.
H2 Prosentase Kepemilikan manajemen mempunyai pengaruh terhadap
nilai perusahaan.
H3 Interaksi CSR dan kepemilikan manajemen mempunyai pengaruh
terhadap nilai perusahaan.
H4 Pengungkapan CSR Disclosure, Presentase Kepemilikan manajemen,
Interaksi CSR dan Kepemilikan manajemen mempunyai pengaruh
terhadap nilai perusahaan.