Anda di halaman 1dari 8

CHILDREN GROWUP CLINIC

Beranda

Peduli Anak

Children Ball Therapy

Children Motoric Therapy

Medicine Massage Therapy Picky Eaters Clinic Konsultasi Online

Swimming Spa Baby Sleep Clinic About Us

Parenting

Khusus Profesional

Asthma Allergy Clinic Autism Clinic

Foot Clinic Supported By

Oral Motor-Speech Clinic 100 Diseases-Top Articles

Widodo Judarwanto Sites

Inilah Penanganan Efek Samping Imunisasi dan KIPI

Kenali Tanda dan Gejala Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

Search

K e n a l i K e j a di a n Ik u t a n Pa s c a Imu n i s a s i ( K IPI) da n Pe n a n g a n a n n ya
Posted on Mei 16, 2012

Kenali Kejadian Ikut an Pasca Imunisasi (KIPI) dan Penanganannya


Reaksi yang timbul pada anak setelah imunisasi dapat berasal dari unsur kuman dari vaksin maupun zat-zat tambahan yang dapat berupa reaksi simpang vaksin. Reaksi-reaksi tersebut dapat sebagai akibat dari efek farmakologi, efek samping, interaksi obat, intoleransi, reaksi idiosinkrasi dan reaksi alergi. Reaksi alergi adalah reaksi yang timbul akibat kepekaan seorang anak yang berhubungan dengan faktor genetik (keturunan). Ada pula reaksi yang bukan karena vaksinnya sendiri, yaitu akibat dari kesalahan tehnik pembuatan, pengadaan dan distribusi vaksin, kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, atau semata-mata kejadian yang timbul secara kebetulan. Menurut hasil telaah Pokja KIPI Depkes RI, justru penyebab timbulnya KIPI sebagian besar karena kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi dan faktor kebetulan. Ini sesuai pula dengan yang dilaporkan oleh Vaccine Safety Comitee (VSC), Institute of Medicine AS. Kejadian ikutan setelah imunisasi yang telah dikenal oleh sebagian besar anggota masyarakat yaitu efek panas setelah imunisasi PDT dan Campak. Sebetulnya, masih ada efek lain daripada itu seperti sakit pada tempat suntikan, warna kemerahan di sekitar bekas tempat suntikan, anak yang menangis terus menerus setelah mendapat imunisasi DPT.

Katego ri
Pilih Kategori

Artikel Favo rit


Menentukan Penyebab Nyeri Perut Berdasarkan Lokasi dan Sifat Nyeri Daftar Lengkap Harga Vaksin Imunisasi Anak Pedoman Jadwal dan Cara Pemberian Makan Pada Bayi Kondisi ibu dan Janin Dalam Kehamilan Trimester Ke Tiga atau Minggu ke 29 - 40 Daftar Lengkap Susu Formula di Indonesia: Harga dan Cara Pemilihannya Fungsi dan Analisa Berbagai Pemeriksaan Laboratorium Karakteristik Feses dan Gangguan Fungsi Saluran Cerna Ondansetron, Obat Anti Mual Sangat Kuat 15 Penyebab Muntah dan 15 Obat Muntah Rekomendasi Jumlah Takaran Makan dan Minum Bayi Usia 0 12 bulan 1001 Kata Mutiara Untuk Anak Indonesia Cara Pemilihan Susu Terbaik Bagi Anak, Bukan Yang Terkenal Termahal Disukai Antibiotika Yang Aman dan

Cuma karena kejadiannya agak jarang sering luput dari perhatian orangtua balita. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau adverse events following immunization adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari (arthritis kronik pasca vaksinasi rubella), atau bahkan 42 hari (infeksi virus campak vaccine-strain pada pasien imunodefisiensi pasca vaksinasi campak, dan polio paralitik serta infeksi virus polio vaccinestrain pada resipien non imunodefisiensi atau resipien imunodefisiensi pasca vaksinasi polio). Pada umumnya reaksi terhadap obat dan vaksin dapat merupakan reaksi simpang (adverse events), atau kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin. Reaksi simpang vaksin antara lain dapat berupa efek farmakologi, efek samping (side-effects), interaksi obat, intoleransi, reaksi idoisinkrasi, dan reaksi alergi yang umumnya secara klinis sulit dibedakan. Efek farmakologi, efek samping, serta reaksi idiosinkrasi umumnya terjadi karena potensi vaksin sendiri, sedangkan reaksi alergi merupakan kepekaan seseorang terhadap unsur vaksin dengan latar belakang genetik. Reaksi alergi dapat terjadi terhadap protein telur (vaksin campak, gondong, influenza, dan demam kuning), antibiotik, bahan preservatif (neomisin, merkuri), atau unsur lain yang terkandung dalam vaksin. KIPI yang paling serius terjadi pada anak adalah reaksi anafilaksis. Angka kejadian reaksi anafilaktoid diperkirakan 2 dalam 100.000 dosis DPT, tetapi yang benar-benar reaksi anafilaksis hanya 1-3 kasus diantara 1 juta dosis. Anak yang lebih besar dan orang dewasa lebih banyak mengalami sinkope, segera atau lambat. Episode hipotonik/hiporesponsif juga tidak jarang terjadi, secara umum dapat terjadi 4-24 jam setelah imunisasi. KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi, yang diduga ada hubungannya dengan pemberian imunisasi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), KIPI dibagi menjadi 3 (tiga)kategori, yaitu: Related programme atau hal hal berkaitan dengan kegiatan imunisasi, misalnya timbul bengkak bahkan abses pada bekas suntikan vaksin. Biasanya karena jarum tidak steril. Contoh lain adalah kelenjar limfe misalnya di daerah ketiak, atau lipat paha membengkak dan terasa sedikit nyeri. Ini akibat aktivitas sistem kekebalan tubuh yang menerima vaksin tersebut. Reaction related to properties of vaccine atau reaksi terhadap sifat sifat yang dimiliki oleh vaksin yang bersangkutan. Misalnya saja reaksi terhadap bahan campuran vaksin. Reaksi ini biasanya berupa pembengkakan, kemerahan, demam (misalnya terhadap vaksin campak, biasanya akan normal kembali dalam satu hari). Coincidental atau koinsidensi. Koinsidensi adalah dua kejadian secara bersama tanpa adanya hubungan satu sama lain. Ketika anak menerima imunisasi, sebenarnya dia sudah dalam keadaan masa perjalanan penyakit yang sama atau penyakit lain (masa tunas) yang tidak ada hubungannya dengan vaksin yang bersangkutan. Misalnya saja, anak sedang dalam perjalanan mau sakit batuk pilek atau diare bahkan seringkali penyakit akut yang lebih serius disertai demam. Kejadian yang bukan disebabkan efek langsung vaksin dapat terjadi karena kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi serta penyimpanan vaksin, kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, atau semata-mata kejadian yang timbul secara kebetulan. Sesuai telaah laporan KIPI oleh Vaccine Safety Committee, Institute of Medicine (IOM) USA menyatakan bahwa sebagian besar KIPI terjadi karena kebetulan saja. Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan (pragmatic errors). Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Ada 5 (lima) kelompok faktor etologi yang dapat menyebabkan KIPI menurut klasifikasi lapangan WHO Western Pacific (1999), yaitu: Kesalahan program/teknik pelaksanaan (programmic errors) Sebagian kasus KIPI

Antibiotika Yang Aman dan Berbahaya bagi Ibu Hamil atau Menyusui 10 Permasalahan Kesehatan Bayi Yang Sering Dianggap Normal Tehnik dan Cara Pijat Bayi Yang Baik dan Benar 9 Jenis Imunisasi Yang Diberikan Saat Bayi Sebelum 1 Tahun Penanganan Terkini Tuberkulosis atau TB (TBC) Pada Anak Beranda Tanda Bahaya Bayi Jatuh Dari Tempat Tidur dan Penanganannya Perkembangan Motorik, Bahasa dan Stimulasi Anak Usia 1-2 Tahun

Artikel Terkini
Waspadai Obat Herbal Mungkin Beresiko Berbahaya Pada Anak 10 Kondisi Kehamilan Penyebab Gangguan Janin Inilah 4 Manfaat Pemeriksaan Kehamilan Kapan Pemeriksaan Kehamilan Harus Ke Dokter Spesialis Kandungan ? Jenis dan Tahapan Pemeriksaan Kehamilan Penanganan Terkini Influenza A virus H7N9 Tindakan Berlebihan Saat Demam pada Anak Inilah Obat Herbal Terbaik Untuk Anak Merokok Saat Kehamilan Akibatkan Gangguan Perhatian dan Agresif Pada Anak 25 Tips Dahsyat Untuk Membangun Rasa Percaya Diri Anak Menari Perbaiki Gangguan Mental Depresi dan Rendah Diri Pentingnya Second Opinion Ke Dokter Lainnya Waspadai 10 Penyakit Paling Berbahaya Pada Anak Perbuatan Kriminal Dimasa Depan, Bisa Diidentifikasi Sejak Dini Norovirus Ancaman Baru Bagi Manusia Modern Norovirus Menggeser Rotavirus Sebagai Penyebab Utama Diare Nutrition Update: Prevalence of

Kesalahan program/teknik pelaksanaan (programmic errors) Sebagian kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program penyimpanan, pengelolaan, dan tata laksana pemberian vaksin. Kesalahan pada berbagai tingkatan prosedur imunisasi: (1) Dosis antigen (terlalu banyak) Lokasi dan cara menyuntik (2) Sterilisasi semprit dan jarum suntik (3) Jarum bekas pakai (4) Tindakan aseptik dan antiseptic (5) Kontaminasi vaksin dan perlatan suntik (6) Penyimpanan vaksin (7) Pemakaian sisa vaksin (8) Jenis dan jumlah pelarut vaksin (9) Tidak memperhatikan petunjuk produsen (10) Kecurigaan terhadap kesalahan tata laksana perlu diperhatikan apabila terdapat kecenderungan kasus KIPI berulang pada petugas yang sama. (11) Reaksi suntikan

Childhood Celiac Disease and Changes in Infant Feeding Update Journal: Pediatrics March 2013, Volume 131 2013 Rekomendasi dan Jadwal Imunisasi Pada Anak dan Dewasa 2013 Childhood and Adolescent Immunization Schedule 2013

Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope. Beberapa contoh KIPI setelah imunisasi DPT adalah anak menangis terus tak bisa dibujuk sekitar 3 jam pasca-imunisasi, reaksi syok (anafilaksis), dan kesadaran menurun. KIPI setelah pemberian imunisasi Campak berupa sakit atau radang sendi yang mendadak atau kronis. Kejadian-kejadian tersebut memang terbukti kuat sebagai akibat imunisasi. Demikian pula reaksi-reaksi yang ditimbulkan oleh vaksin lainnya. Cuma kejadiannya sangat jarang kalau sebagai akibat dari vaksinnya. Adanya kerusakan syaraf, perdarahan, infeksi pada jaringan otak setelah mendapat imunisasi DPT, kejadian-kejadian tersebut terbukti tidak ada hubungan dengan pemberian imunisasi. Demikian pula gangguan saraf setelah imunisasi Campak, tidak ada hubungan dengan imunisasinya. Telah pula dibahas oleh pejabat yang terkait dalam pelaksanaan PIN, bahwa sampai saat ini vaksin polio yang sudah dipakai sampai miliaran dosis, terbukti tidak menimbulkan efek samping. Induksi vaksin (reaksi vaksin) Gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah dapat diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun demikian dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi anafilaksis sistemik dengan resiko kematian. Reaksi simpang ini sudah teridentifikasi dengan baik dan tercantum dalam petunjuk pemakaian tertulis oleh produsen sebagai indikasi kontra, indikasi khusus, perhatian khusus, atauberbagai tindakan dan perhatian spesifik lainnya termasuk kemungkinan interaksi obat atau vaksin lain. Petunjuk ini harus diperhatikan dan ditanggapi dengan baik oleh pelaksana imunisasi. Faktor kebetulan (koinsiden) Seperti telah disebutkan di atas maka kejadian yang timbul ini terjadi secara kebetulan saja setelah diimunisasi. Indicator faktor kebetulan ini ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama disaat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan karakterisitik serupa tetapi tidak mendapatkan imunisasi. Penyebab tidak diketahui Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan kedalam salah satu penyebab maka untuk sementara dimasukkan kedalam kelompok ini sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya denagn kelengkapan informasi tersebut akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI.
Follow Me

Update Info rmatio n


Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Artikel Tereko mendas i


100 Artikel Favorit 0 100 Penyakit Anak 0 Kumpulan Artikel Dr Widodo 0 Kumpulan Artikel Imunisasi 0

Klinik Khus us
Klinik Alergi Anak Klinik Autism Indonesia Klinik Khusus Gangguan Bicara Klinik Khusus Kesulitan Makan Dan Gangguan Pertumbuhan Berat Badan Klinik Khusus Masalah Kaki Pain Management Clinic Widodo Judarwanto-Pediatrician Sites

Gejala Klinis KIPI


Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi lainnya. Pada umumnya makin cepat KIPI terjadi makin cepat gejalanya. Reaksi KIPI Lokal Gejala KIPI Abses pada tempat suntikan

Limfadenitis Reaksi lokal lain yang berat, misalnya selulitis, BCG-itis


Link Internas io nal
Children's health MayoClinic.com Children's Health MedlinePlus Kids Health WHO Child health

SSP

Kelumpuhan akut Ensefalopati Ensefalitis Meningitis Kejang

Lain-lain

Reaksi alergi: urtikaria, dermatitis, edema Reaksi anafilaksis Syok anafilaksis Artralgia Demam tinggi >38,5C Episode hipotensif-hiporesponsif Osteomielitis Menangis menjerit yang terus menerus (3jam) Sindrom syok septik
Link Nas io nal
Departemen Kesehatan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia

Gejala Klinis KIPI sesuai jenis Imunisasi


Tidak ada satupun jenis vaksin yang aman tanpa efek samping, maka apabila seorang anak telah mendapatkan imunisasi perlu diobsevasi beberapa saat, sehingga dipastikan tidak terjadi KIPI (reaksi cepat). Berapa lama observasi sebenarnya sulit ditentukan, tetapi pada umumnya setelah pemberian setiap jenis imunisasi harus dilakukan observasi selama 15 menit.untuk menghindarkan kerancuan maka gejala klinis yang dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka waktu tertentu timbulnya gejala klinis. Jenis Vaksin Gejala Klinis KIPI Saat timbul KIPI Toksoid Tetanus (DPT, DT, TT) Syok anafilaksisNeuritis brakhialKomplikasi akut termasuk kecacatan dan kematian Pertusis whole cell (DPwT) Syok anafilaksisEnsefalopatiKomplikasi akut termasuk kecacatan dan kematian Campak Syok anafilaksisEnsefalopatiKomplikasi akut termasuk kecacatan dan kematian TrombositopeniaKlinis campak pada resipien imunokompromaisKomplikasi akut termasuk kecacatan dan kematian Polio hidup (OPV) Polio paralisisPolio paralisis pada resipien imunokompromaisKomplikasi akut termasuk kecacatan dan kematian Hepatitis B Syok anafilaksisKomplikasi akut 4 jamtidak 30 hari6 bulan 7-30 hari6 bulantidak tercatat 4 jam2-18 haritidak tercatat 4 jam72 jamtidak tercatat
Fo llo w My Twitter
A randomized, double-blind trial of the effect of treatment with montelukast on bronchial hyperresponsiveness and... fb.me/2HaWSQNUT 21 hours ago Clinical asthma phenotypes and therapeutic responses fb.me/1vTFg4TsL 21 hours ago
Ik u ti

Twitter Terbaru
@SBYudhoyono, Selamat menjlnkan UN SMP. Anak Indonesia jngn terpengaruh gonjang ganjing UN. Jujur, berdoa & berusahalah. Benarkan Pak Beye? 2 days ago
Ik u ti @ wid o ju d a rwa n to

4 jam5-15 haritidak tercatat

termasuk kecacatan dan kematian BCG BCG-itis

tercatat 4-6 minggu

Mengingat tidak ada satupun jenis vaksin yang aman tanpa efek samping, maka apabila seorang anak telah mendapatkan imunisasi perlu diobsevasi beberapa saat, sehingga dipastikan tidak terjadi KIPI (reaksi cepat). Berapa lama observasi sebenarnya sulit ditentukan, tetapi pada umumnya setelah pemberian setiap jenis imunisasi harus dilakukan observasi selama 15 menit.untuk menghindarkan kerancuan maka gejala klinis yang dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka waktu tertentu timbulnya gejala klinis. Kelompok Resiko yang harus diwaspadai saat imunisasi Reaksi simpang Imunisasi. Anak yang mendapat reaksi simpang pada imunisasi terdahulu. Bayi berat lahir rendah. rendah Pada dasarnya jadwal imunisasi bayi kurang bulan sama dengan bayi cukup bulan. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada bayi kurang bulan adalah: Titer imunitas pasif melalui transmisi maternal lebih rendah dar pada bayi cukup bulan Apabila berat badan bayi sangat kecil (<1000 gram) imunisasi ditunda dan diberikan setelah bayi mencapai berat 2000 gram atau berumur 2 bulan imunisasi hepatitis B diberikan pada umur 2 bulan atau lebih kecuali bila ibu mengandung HbsAg Apabila bayi masih dirawat setelah umur 2 bulan, maka vaksin polio yang diberikan adalah suntikan IPV bila vaksin tersedia, sehingga tidak menyebabkan penyebaaran virus polio melaui tinja Pasien imunokompromais. Keadaan imunokompromais dapat terjadi sebagai akibat penyakit dasar atau sebagai akibat pengobatan imunosupresan (kemoterapi, kortikosteroid jangka panjang). Jenis vaksin hidup merupakan indikasi kontra untuk pasien imunokompromais dapat diberikan IVP bila vaksin tersedia. Imunisasi tetap diberikan pada pengobatan kortikosteroid dosis kecil dan pemberian dalam waktu pendek. Tetapi imunisasi harus ditunda pada anak dengan pengobatan kortikosteroid sistemik dosis 2 mg/kg berat badan/hari atau prednison 20 mg/ kg berat badan/hari selama 14 hari. Imunisasi dapat diberikan setelah 1 bulan pengobatan kortikosteroid dihentikan atau 3 bulan setelah pemberian kemoterapi selesai. Pada resipien yang mendapatkan human immunoglobulin Imunisasi virus hidup diberikan setelah 3 bulan pengobatan utnuk menghindarkan hambatan pembentukan respons imun. Indikasi Kontra dan Perhatian Khusus Untuk Imunisasi Pada umumnya tidak terdapat indikasi kontra imunisasi untuk individu sehat kecuali untuk kelompok resiko. Pada setiap sediaan vaksin selalu terdapat petunjuk dari produsen yang mencantumkan indikasi kontra serta perhatian khusus terhadap vaksin. Petunjuk ini harus dibaca oleh setiap pelaksana vaksinasi. PENANGANAN MASALAH Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Abses pada tempat suntikan. Bengkak tidak perlu diobati dikompres dengan air hangat atau larutan fisiologis NaCl bila timbul nanah, tetapi bila luka besar dan bengkak di ketiak anjurkan ke dokter Limfadenitis. Limfadenitis BCG adalah timbulnya pembesaran kelenjar disekitar tempat suntikan BCG seperti diketiak atau di lipatan paha. Limfadenitis BCG merupakan efek samping yang sering dijumpai padavaksinasi BCG meskipun jarang menimbulkan masalah yang serius. Kejadiannya berkisar 1-2 per1000 vaksinasi. Penanganan limfadenitis BCG masih diperdebatkan. Di lapangan tidak jarang kelainan ini diberi obat antituberkulosis (Isoniasid, INH) meskipun hasilnya tidak memuaskan. Bahkan ada yang melakukan oprasi pengambilan kelenjar yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Pada tipe lirnfadenitis nonsupuratif, tindakan eksisi tidak dianjurkan, sedangkan pada tipe supuratif,eksisi dapat dianjurkan. Tindakan eksisi dilakukan apabila dengan aspirasi tidak menunjukkan hasilyang baik, sudah terjadi bentuk sinus, atau kelenjarnya multipel. Selain itu tindakan eksisi lebihdiindikasikan pada kosmetik yaitu rnencegah pecahnya kelenjar secara tidak beraturan. Pemberianobat antituberkulosis setelah eksisi tidak memberikan hasil yang lebih baik. Kalau eksisi dianjurkan,maka tindakan insisi pada limfadenitis BCG tidak dianjurkan.
Plugin sosial Facebook

Fo llo w Me
Grow Up Clinic Jakarta
Suka 739 o rang menyukai Gro w Up Clinic Jakarta

BCG-itis. BCG, luka tidak perlu diobati cukup dibersihkan atau dikompres dengan air hangat atau larutan fisiologis NaCl bila timbul nanah, tetapi bila luka besar dan bengkak di ketiak anjurkan ke dokter. DPT, bila panas atau rewel diberikan obat penurun panas dan berikan kompres dingin. Campak, bila timbul panas atau rewel berikan obat panas Shock anafilaksis. Shock anafilaksis adalah suatu syndroma klinis yang ditandai dengan adanya hipotensi, tacycardia, kulit yang dingin, pucat basah, hiperventilasi, perubahan status mental, penurunan produksi urine yang diakibatkan oleh reaksi anafilaksis. Penanganan Shock anafilaksis. 1. Baringkan penderita dalam posisi shock yakni tidur terlentang dengan tungkai lebih tinggi dari kepala pada alas yang keras 2. Bebaskan jalan nafas 3. Tentukan penyebab dan lokasi masuknya bahan alergen 4. Bila masuk melalui ekstremitas pasang torniquette 5. Berikan Adrenalin 1 : 1000 sebanyak 0,25 ml sub cutane 6. Monitor pernafasan dan hemodinamika 7. Berikan suplemen oksigen 8. Untuk kasus yang sedang berikan Adrenalin 1 : 1000 sebanyak 0,25 ml intra muskuler 9. Bila berat berikan Adrenalin 1 : 100- sebanyak 2,5 5 ml intra vena 10.Bila vena colaps berikan Adrenalin sub lingual atau trans tracheal 11.Berikan Aminophillin 5 6 mg/ kg BB Iv bolus diikuti 0,4 0,9 mg/kg BB/ menit per drip ini untuk bronchospasme yang persisten 12.Berikan cairan infus dengan berpedoman pada kadar hematokrit 13.Monitor hemodinamika dan pernafasan 14.Bila tidak membaik rujuk ke intitusi yang lebih tinggi Reaksi alergi: urtikaria, dermatitis, edema dalam keadaan tertentu dapat diberikan antihistamin, sebaiknya tidak diberikan kortikosteroid. Gejala ini dalam beberapa saat akan membaik, bila terdapat faktor utama yang lain bisa berkepanjangan tetapi dalam ekadaan ini imuniasasi hanya dalam keadaan kebetulan (co-accident). Artralgia Bila mengganggu diberi antipiretik atau analgesik sejenis paracetamol atau NSID lainnya Demam tinggi >38,5 C. Bila mengganggu diberi antipiretik atau analgesik Episode hipotensif-hiporesponsif Osteomielitis Osteomielitis adalah proses inflamasi atau peradangan tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati). Osteomielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau Bila mengganggu diberi antipiretik atau analgesik sejenis paracetamol atau NSID lainnya. Harus segera dibawa ke dokter ortopedi Menangis menjerit yang terus menerus (3jam). Bila mengganggu diberi antipiretik atau analgesik Neuritis brakhial. Dapat diberi vitamin neurotropik Bila mengganggu diberi antipiretik atau analgesik Artikel Imunisasi terkait lainnya Rekomendasi Jadwal Imunisasi Anak Terbaru Tahun 2012 Inilah Penyebab Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Kenali Tanda dan Gejala Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Kenali Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dan Penanganannya Inilah Penanganan Efek Samping Imunisasi dan KIPI Vaksin Polio Haram ?, Inilah Rekomendasi MUI Inilah 20 Mitos Tidak Benar Yang Disebarkan Kampanye Hitam Anti Imunisasi Kontroversi Imunisasi di Kalangan Umat Islam Dampak Pengabaian Imunisasi, Difteri Mengancam Permasalahan Pemberian Imunisasi Polio Permasalahan Imunisasi Dalam Masyarakat

Update Photo-Poster: Imunisasi Hak Anak Yang Tidak Bisa Ditunda Hepatitis B dan Imunisasi Hepatitis B Pada Anak dan Remaja Vaksin Polio Tetes Aman, Tetapi Lebih Aman Polio Injeksi Vaksin Pentavalent, Vaksin Terbaru Biofarma Mencegah 5 Penyakit RotaTeq dan Rotarix Vaksin Terbaru Mencegah Infeksi Diare Rotavirus Prevenar dan Synflorix, Vaksin Pnemokokus Mencegah Invasive Pneumococcal Disease (IPD) Benarkah Kontroversi Autism dan Imunisasi Thimerosal ? Cara Menyikapi Kontroversi Autism dan Imunisasi Kumpulan Artikel Lengkap Kesehatan Anak dr Widodo Judarwanto SpA Update Photo-Poster: Imunisasi Hak Anak Yang Tidak Bisa Ditunda Jadwal Terbaru dan Terlengkap : Imunisasi Anak Rekomendasi IDAI 2011 ARTIKEL IMUNISASI LAINNYA supported by

C H I L D RE N GRo W U P C L I N I C Yudhasmara Foundation Inspirasi Orangtua Cerdas, Tumbuhkan Anak Semakin Sehat, Kuat dan Pintar
CHILDREN GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 44466102 CHILDREN GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, phone (021) 44466103 97730777 email : judarwanto@gmail.com narulita_md@yahoo.com http://childrengrowup.wordpress.com WORKING TOGETHER FOR STRONGER, SMARTER AND HEALTHIER CHILDREN BY EDUCATION, CLINICAL INTERVENTION, RESEARCH AND NETWORKING INFORMATION . Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult
LAYANAN KLINIK KHUSUS CHILDREN GRoW UP CLINIC Children Allergy Clinic Online Picky Eaters Clinic (Klinik Kesulitan makan Pada Anak) dan GROW UP CLINIC (Klinik Khusus Gangguan Pertumbuhan Berat badan Anak) Children Foot Clinic Children Rehabilitation Clinic Children Speech Clinic Pain Management Clinic Jakarta Medicine Baby Gym & Children Massage NICU Premature Follow up Clinic PROFESIONAL MEDIS CHILDREN GRoW UP CLINIC Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation Dr Widodo Judarwanto SpA, Pediatrician Fisioterapis

Clinical Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO SpA, pediatrician

email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae For Daily Newsletter join with this Twitter https://twitter.com/WidoJudarwanto Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright 2012, CHILDREN GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved

Like this :

Memuat...

Catatan ini telah ditulis dalam Imunisasi, Permasalahan Kesehatan Tersering dan di-tag dengan Kenali Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dan Penanganannya. Penunjuk permalink. Inilah Penanganan Efek Samping Imunisasi dan KIPI Kenali Tanda dan Gejala Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

T i n gga l k a n Ba l a sa n
Enter your comment here...

CHILDREN G ROWUP CLINIC

Tema: Twenty Ten

Blog pada WordPress.com.