Anda di halaman 1dari 18

Teori Belajar Humanisme

Menurut Carl Rogers

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah psikologi pendidikan


Dosen Pengampu: Eva Latipah, M.Si

Disusun oleh:
Nama : Siti Nasiroh
NIM : 08670048
Prodi : Pendidikan Kimia

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2009
KATA PENGANTAR

Alhamduliilahirobbil’alamin, penulis memuji syukur kehadirat Allah SWT karena


sampai detik ini Allah SWT masih bermurah hati memberikan segala karunia-Nya
sehangga penulis dapat menyelesaikan makalah “Teori Pembelajaran Humanistime”
yang disusun guna memenuhi tugas mata kuliah psikololgi pendidikan.
Salam sejahtera semoga tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW sebagai
Rahmatan Lil’alamin. Semoga kelak kita menjadi salah satu umatnya yang
mendapatkan syafa’at dari beliau. Amin, Ya Robbal’alamin.
Pada kesempatan kali ini panulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah memberikan bantuan baik dari segi moril maupun mateil dan
yang secara langsung maupun tidak langsung:
1. Ibu Eva Latipah, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi
Pendidikan dan dosen pembimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
2. Ayah dan ibuku, semoga Allah SWT selalu melimpahkan karunia-Nya dalam
bentuk kesehatan, kemurahan rizki-Nya, dan kesehatan untuk kalian. Semoga
Allah SWT mempermudah jalannya dalam menggapai ridho-Nya.
3. Sahabat-sahabatku, Feron, Nani, dan Mba Naeli kalian selalu membangkitkan
semangatku untuk menjadi lebih baik dan selalu memberikan dukungannnya serta
kebaikan hatinya dalam mengerti akan sifatku yang kurang baik.
4. Teman-teman yang lain yang telah memberikan dukungannya.
5. Pihak lain yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Sebagai hamba Allah Swt, penulis yakin bahwa makalah ini jauh dari sempurna.
Oleh karena itu dengan segala krendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun demi memperoleh hasil yang lebih baik dikesempatan mendatang.

Yogyakarta, 6 Maret 2009

Penulis
DAFTAR ISI

I. HALAMAN DEPAN……………………………………………… i
II. KATA PENGANTAR……………………………………………. ii
III. DAFTAR ISI………………………………………………………… iii
IV. BAB I PENDAHULUAN……………………………………………. 1
A. Latar Belakang Masalah………………………………………… 1
B. Rumusan Masalah……………………………………………….. 1
C. Tujuan Penulisan………………………………………………… 1
V. Bab II PEMBAHASAN……………………………………………… 2
A. Pengertian Teori Humanisme…………………………………….2
B. Teori Humanisme Menurut Rogers……………………………. 3
C. Aplikasinya dalam Dunia Pendidikan…………………………. 5
1. Pendidikan humanis…………………………………...
2. Pendidik humanis……………………………………...
VI. BAB III PENUTUP…………………………………………………. 7
A. Kesimpulan……………………………………………………… 7
B. Saran…………………………………………………………….. 7
VII. DAFTAR PUSTAKA……………………………………………….. 8
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai suatu
hasil dari latihan atau pengalaman. Belajar merupakan suatu hal yang paling vital
dalam setiap usaha penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, sehingga tanpa
proses belajar takkan pernah ada pendidikan. Proses belajar itu terjadi secara internal
dan bersifat pribadi dalam diri peserta didik. Belajar dan pembelajaran berhubungan
sangat erat karena pembelajaran merupakan suatu proses yang digunakan dalam
belajar. Belajar dan pembelajaran juga terjadi secara bersama-sama dan beriringan.
Pembelajaran merupakan suatu aktifitas yang dengan sengaja untuk memodifikasi
berbagai kondisiyang diarahkan pada tercapainya suatu tujuan yaitu tercapainya
tujuan pendidikan.
Sebagai calon pendidik kelak yang tidak hanya difungsikan sebagai staff pengajar
tetapi juga sebagai orang tua kedua dilingkungan sekolah, diharapkan dapat
memahami kondisi kejiwaan dan memahami karakteristik dari peserta didiknya. Serta
mengetahui model pembelajaran yang dikuasai olah peserta didiknya. Dan diharapkan
agar dapat mengerti, memahami serta dapat mengaplikasikan salah teori
pembelajaran, yaiti teori pembelajaran humanisme.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan teori pembelajaran humanisme?
2. bagaimana penjelasan Carl Roger mengenai teorinya?
3. Bagaimana aplikasinya dalam dunia pendidikan?

C. Tujuan
1. Mahasiswa mengerti dan memahami tentang teori belajar humanisme yang
dikmukaakn oleh Rogers.
2. Mahasiswa dapat mengaplikasikan pembelajaran humanis terhadap dirinya
sebagai subyek pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Teori Humanisme


Teori belajar Humanisme memandang bahwa perilaku manusia ditentukan oleh
faktor internal dirinya dan bukan oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan.
Menurut teori belajar humanisme, aktualisasi diri merupakan puncak perkembangan
individu. Kebermaknaan perwujudan dirinya itu bahkan bukan saja dirasakan oleh
dirinya sendiri, tetapi juga oleh lingkungan sekitarnya.

Menurut teori belajar humanisme, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan


manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika peserta didik memahami
lingkungannya dan dirinya sendiri. Peserta didik dalam proses belajarnya harus
berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya,
bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Bagi penganut teori humanistik, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada
manusia itu sendiri. Teori ini sangat menekankan pentingnya “isi” dari proses belajar.
Dalam kenyataannya teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses
belajar dalam bentuiknya yang paling ideal. Dengan kata lain teoti ini lebih tertarik
pad aide belajar dalam bentukny yang paling ideal daripada belajar apa adanya,
seperti apa yang biasa kita amati dalam keseharian. Teori apapun dapat dimanfaatkan
asal tujuannya untuk “memanusiakan manusia” mencapai aktualisasi diri dan
sebagainya dapat tercapai.1

Perhatian psikologi humanistikyang terutama tertuju pada masalah


bagaimanatiap-tiap inividu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribasi
nereka yang mereka hubungkan dengan pengalaman-pengalaman mereka sendiri.
Menurut para pendidik aliran mumanustik, penyusunan dan penyajian materi
pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa. Tujuan utama pada
1
Dr. Hamzah B. Uno, M.Pd. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
2006. hal 13
pendidikan adalah membantu anak untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu
masing-masing individu unytuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang
unik dan membantunya dalam merealisasikan / mewujudkan potensi-potensi yang ada
pada diri mereka. Dalam menyoroti masalah perilaku, para ahli psikologi behaviorist
dan humanistik mempunyai pandangan yang berbeda. Para behaviorist memandang
orang sebagai makhluk reaktif yang memberikan responnya terhadap lingkungan;
pengalaman mas lampau dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
Sebliknya, para humanist mempunyai pendapat bahwa tiap orang itu menentukan
perilaku mereka sendiri, mereka bebas memilih kualitas hidup mereka dan tak terikat
pada lingkungannya.2

Pendekatan humanisme diikhtisarkan sbb;


• Siswa akan maju menurut iramanya sendiri dengan suatu perangkat materi
yang sudah ditentukan lebih dulu untuk mencapai suatu perangkat tujuan
yang telah ditentukan pula dan para siswa bebas menentukan cara mereka
sendiri dalam mencapai tujuan mereka.
• Pendidik aliran humanistik mempunyai perhatian yang murni dalam
pengmbangan anak-anak, perbedaan-perbedaan individual

B. Teori Humanistik Menurut Carl Rogers


Metode yang diterapkan Rogers dalam psikoterapi awalnya disebut non direktive
atau terapi yang berpusat pada klien (client centered therapy), dan pioner dalam
risetnya pada proses terapi. Pendekatan terapi yang berpusat pada klien dari Rogers
sebagai metode untuk memahami orang lain, menangani masalah-masalah gangguan
emosional. Rogers berkeyakinan bahwa pandangan humanistik dan holisme terhadap
nilai-nilai kemanusiaan. Dalam teorinya, klien diajak untuk memahami diri dan pada
akhirnya menyadari untuk mengembangkan diri secara utuh (berfungsi secara utuh).

Lima sifat khas orang yang berfungsi sepenuhnya (fully human being):

2
Drs. Tadjab, M.A. Ilmu Jiwa Pendidikan. Surabaya : Karya Abditama. 1994. hal 79-80.
1. Keterbukaan pada pengalaman

Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua


pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan
demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positip maupun
negatip.

2. Kehidupan ekstansial

Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap


pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu
berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman
selanjutnya.

3. Kepercayan terhadap organisme orang sendiri

Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap


pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang
dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat
mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.

4. Perasaan bebas

Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya
paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan.
Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai
kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak
pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan
dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin
dilakukannya.

5. Kreatifitas
Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme
mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan
cirri-ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan
berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka
ragam di sekitarnya

Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya


sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam
membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini
bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan
tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut
Rogers, teknik-teknik assessment dan pendapat para terapist bukanlah hal yang
penting dalam melakukan treatment kepada klien.

Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Aktualisasi diri
adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi
-potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh
pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak - kanak. Aktualisasi diri
akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia
tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari
fisiologis ke psikologis.

Pandangan ini dikembangkan berdasarkan terapi yang dilakukannya. Kehidupan


yang sebaik-baiknya bukan sasaran yang harus dicapai, tetapi arah dimana orang
dapat berpartisipasi sepenuhnya sesuai dengan potensi alamiahnya. Berfungsi utuh
adalah istilah yang dipakai Rogers untuk menggambarkan individu yang memakai
kapasitas dan bakatnya, merelisasi potensinya, dan bergerak menuju pemahaman
yang lengkap mengenai dirinya sendiri dan seluruh rentang pengalamannya /
unconditional positive regards

Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya


guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa
tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide
baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa
3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide
baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang
proses.

Rogers menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip belajar humanistik yang penting


diantaranya ialah :

1. Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.


2. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid
mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
3. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya
sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
4. Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan
diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
5. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh
dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
6. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
7. Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut
bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
8. Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik
perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang
mendalam dan lestari.
9. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah
dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya
sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
10. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah
belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus
terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses
perubahan itu.3

Salah satu model pendidikan terbuka mencakuo konsep mengajar guru yang
fasilitatif yang dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun
1975 mengenai kemampuan para guru untuk menciptakan kondidi yang mendukung
yaitu empati, penghargaan dan umpan balik positif.

Carl Rogers menyatakan pentingnya penerimaan tanpa syarat, penghargaan


dan hubungan yang nyaman antara terapis dan klien, hubungan dialogis yang
memberdayakan klien untuk mencapai aktualisasi diri siswa 4(dalam Palmer, 2003).
Implikasi ajaran tersebut dalam bidang pendidikan adalah perlunya perilaku guru
yang menerima siswa sesuai potensinya, menciptakan hubungan yang saling percaya
dan nyaman, hubungan dialogis yang memberdayakan siswa untuk mencapai
aktualisasi diri. Pengajaran yang baik adalah “proses yang mengundang siswa untuk
melihat dirinya sebagai orang yang mampu, bernilai, dan mengarahkan diri sendiri,
dan pemberian semangat kepada mereka untuk berbuat sesuai dengan persepsi dirinya
tersebut” (Purkey & Novak, dalam Eggen & Kauchak, 1997).

Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang


semata-mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk
pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang
yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang
partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.

C. Aplikasi teori belajar humanisme dalam pendidikan


1. Pendidikan Humanistik

3
Drs. Tadjab, M.A. Ilmu Jiwa Pendidikan. Surabaya : Karya Abditama. 1994. hal 82-83.
4
Palmer, J.A. (editor). 2003. 50 Pemikir Pendidikan. Dari Piaget Sampai Masa
Sekarang. (terjemahan : Farid Assifa). Yogyakarta : Penerbit Jendela
Menurut Rogers (dalam Palmer, 2003) dalam proses pendidikan dibutuhkan rasa
hormat yang positif, empati, dan suasana yang harmonis/tulus, untuk mencapai
perkembangan yang sehat sehingga tercapai aktualisasi diri
Salah satu cara untuk mendeskripsikan pendidikan humanistik adalah dengan
melihat apa yang terjadi di kelas. Kirchenbaum dalam (Roberts, 1975) melihat ada 5
dimensi yang dapat dijadikan jalan untuk menjadi kelas yang humanis.
1. Pilihan dan kendali diri
Dalam hidupnya siswa dihadapkan dengan proses menetapkan tujuan dan
membuat keputusan. Pendidikan humanistik memfasilitasi kemampuan tersebut
dengan memberikan latihan mengambil keputusan terkait dengan tujuan sekolah
maupun aktivitas harian. Siswa dapat dilatih melalui aktivitas kegiatan siswa dan
belajar yang memungkinkannya memiliki pilihan dan kendali dalam merancang,
menetapkan tujuan, memutuskan, dan mempertanggung jawabkan keputusan yang
telah dibuatnya.
2. Memperhatikan minat dan perasaan siswa
Kelas menjadi humanis ketika kurikulum dan pembelajaran menunjukan
perhatian pada minat dan perasaan siswa. Mengkaitkan materi pelajaran dengan
minat, pengetahuan, dan pengalaman yang sudah dimiliki siswa dan meminta
tanggapan siswa merupakan contoh aktivitas yang dinilai siswa memperhatikan
minat mereka.
3. Manusia seutuhnya
Perlu perubahan orientasi pembelajaran dan penilaian dari orientasi aspek
kognitif menuju ke arah perhatian, penghormatan, dan penghargaan terhadap
siswa sebagai manusia seutuhnya. Integrasi ketrampilan berpikir dengan
kecakapan hidup yang lain sangat penting agar lebih efektif menjadi individu.
4. Evaluasi diri
Pendidikan humanistik bergerak dari evaluasi yang dikontrol guru menuju
evaluasi yang dilakukan oleh siswa. Siswa perlu difalitasi untuk memantau
kemajuan belajarnya sendiri baik melalui tes atau umpan balik dari orang lain.
5. Guru sebagai fasilitator
Guru perlu mengubah peran, yaitu berubah dari sebagai direktur belajar
menjadi fasilitator atau penolong. Guru hendaknya lebih suportif daripada
mengkritisi, lebih memahami daripada menilai, lebih real dan asli daripada
berpura-pura. Jika keadaan tersebut dapat dilakukan maka akan berkembang
hubungan menjadi resiprokal, yaitu guru sering menjadi pembelajar, dan siswa
sering menolong dan mengajar juga.
Untuk mengembangkan pendidikan yang humanis maka diperlukan:
1. Pendidikan yang menghargai dan mengembangkan segenap potensi manusia;
tidak saja dimensi kognitif, namun juga kemampuan afektif, psikomotorik dan
potensi unik lainnya. Siswa dihargai bukan karena ia seorang juara kelas
melainkan karena ia mengandung potensi yang positif.
2. Interaksi antara siswa dan guru yang resiprokal dan tulus
Tanpa hubungan yang saling percaya dan saling memahami maka pendidikan
yang mengeksporasi segenap perasaan dan pengalaman siswa sulit untuk
dilaksanakan.
3. Proses pembelajaran yang mendorong terjadinya proses interaksi dalam
kelompok dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi
pengalaman, kebutuhan, perasaannya sendiri sekaligus belajar memahami
orang
4. Pengembangan metode pembelajaran yang mampu menggerakkan setiap
siswa untuk menyadari diri, mengubah perilaku, dan belajar dalam aktivitas
kelompok melalui permainan, bermain peran dan metode belajar aktif lainnya.
5. Guru yang peduli, penuh perhatian, dan menerima siswa sesuai dengan
tertinggi setiap insan.
6. Mengembangkan sistem penilaian yang memungkinkan keterlibatan siswa
misalnya dengan penilaian teman sebaya, dan siswa menilai kemajuan yang
telah dicapai sendiri melalui evaluasi diri.

2. Pendidik yang Humanistik


Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator:
1. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada pencintaan suasana
awal,situasi kelompok, atau pangalaman kelas.
2. Fasilitator membantu untuk memproleh dan memperjelas tujuan-tujuan
perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat
lebih umum.
3. Mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk
melaksanakan tutjuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan
pendurong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4. Mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang
paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untukmembntu mencapai
tujuan mereka.
5. Menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat
dimanfaatkan oleh kelompok.
6. Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas dan
menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan
mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bgi individual
ataupun bagi kelompok.
7. Bilamana cuacu penerimaan kelas telah mantap, fasilitator berangsur-angsur
dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang
anggota kelompok, dan turut menyatakan pandangannya sebagai seorang
anividu, seperti siswa yanglain.
8. Mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok perasaannya dan juga
pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksaan, tetapi sebagai
suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa.
9. Harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya
perasaan yang dalam dan kuat selama belajar.
10. Di dalam berperan sebagai fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk
mengenali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.5

5
Drs. Wasty Soemanto, M.Pd. Psikologi Pendidikan, Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Jakarta:
Rieneka Cipta.1998. hal. 233-234
Salah satu model pendidikan terbuka mencakup konsep mengajar guru yang
fasilitatif yang dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun
1975 mengenai kemampuan para guru untuk menciptakan kondidi yang mendukung
yaitu empati, penghargaan dan umpan balik positif

Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah:

1. Merespon perasaan siswa


2. Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah
dirancang
3. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
4. Menghargai siswa
5. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
6. Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan
kebutuhan segera dari siswa.
7. Tersenyum pada siswa.

Borton (dalam Roberts, 1975) lebih lanjut menjelaskan beberapa karakteristik


peran pendidik humanistik disamping perhatian terhadap perasaan siswa “disini dan
kini”, yaitu :
1. Guru memfasilitasi siswa mempelajari dirinya sendiri, memahami perasaan
dan tindakan yang dilakukannya
2. Guru mengenali harapan dan imajinasi siswa sebagai bagian penting dari
kehidupan siswa dan memfasilitas proses saling bertukar perasaan
3. Guru memperhatikan bahasa ekspresi non verbal, seperti gesture dan suara.
Melalui ekspresi non verbal ini beberapa keadaan perasaan dan sikap
dikomunikasikan oleh siswa.
4. Guru menggunakan permainan, improvisasi, dan bermain peran sebagai cara
untuk menstimulasi perilaku yang dapat dipelajari dan diubah.
5. Guru memfasilitas belajar dengan menunjukkan secara eksplisit tentang
bagaimana prinsip-prinsip dasar dinamika kelompok sehingga siswa dapat
lebih bertanggung jawab untuk mendukung belajar mereka.
Menurut Hamacheek,1996; Guru yang efektif tampaknya adalah guru yang
“manusiawi”. Mereka mempunyai rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis
dripada autaktorik, dan mereka mampu berhubungan dengan mudah dan wajar
dengan para siswa, baik secara perorangan maupun secara kelompok. Guru yang
tidak efektif jelas kurang memiliki rasa humor, mudah menjadi tidak sabar,
mengunakan komentar-komentar yang melukai dan mengurangi rasa ego,kurang
integrasi, cenderung agak otoriter, dan biasanya kurang peka terhadap kebutuhan-
kebutuhan siswa mereka.
Menurut Combs dan kawan-kawan, cirri-ciri guru yang baik adalah;
1. Guru yang mempunyai anggapan bahwa orang lain itu mempunyai
kemampuan untuk memecahkan masalah mereka sendiri dengan baik.
2. Guru yang melihat bahwa orang lain mempunyai sifat ramah dan bersahabat
dan bersifat ingin berkembang.
3. Guruyng cenerung melihat orng lain sebagai orang yang septutny dihargai.
4. Guru yng melihat orang-orang dan perilku mereka pada dasarnya berkembang
dari dalam; jdi, bukan merupakan produk dari peristiwa-peristiwa eksternal
yang dibentuk dan digerakkan. Dia melihat orang-orang itu mempunyai
kreatifitas dan dinamika; jadi bukan orang yang pasif atau lamban.
5. Guru yang menganggap orang lain itu pada dasarnya dapat dipercayai dan
dpat diandalkan dalam pengertian dia akan berperilaku menurut aturan-aturan
yang ada.
6. Guru yang melihat orng lain itu dapat memenuhi dan memingkatkan dirinya,
bukan menghalangi, aplagi mengancam.

2. Aplikasi dalam Pembelajaran


Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses
pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam
pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru
memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa.
Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk
memperoleh tujuan pembelajaran
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada
materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani,
perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan
aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan
terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa
diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang
lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi
hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.

Belajar adalah menekankan pentingnya isi dari proses belajar bersifat eklektik,
tujuannya adalah memanusiakan manusia atau mencapai aktualisasi diri. Aplikasi
teori humanistik dalam pembelajaran guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir
induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara
aktif dalam proses belajar. Hal ini dapat diterapkan melalui kegiatan diskusi,
membahas materi secara berkelompok sehingga siswa dapat mengemukakan
pendapatny masing-masing di depan kelas. Guru memberi kesempatan kepada siswa
untuk bertanya apabila kurang mengerti terhadap materi yang diajarkan.Pembelajaran
berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi
pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap,
dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah
siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola
pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Teori belajar humanisme memandang manusia secara utuh sebagai manusia. dan
tujuan belajarnya adalah untuk memanusiakan manusia. Teori belajar ini berusaha
memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang
pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah mambantu siswa untuk
mengembangkan dirinya yaitu membantu masing- masing individu untuk mengenal
diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan
potensi- potensi yang ada pada diri mereka.

B. Saran

Pengertian, prinsip, dan perkembangan teori pembelajaran hendaknya dipahami


oleh para pendidik dan diterapkan dalam dunia pendidikan dengan benar, sehingga
tujuan pendidikan akan benar-benar dapat dicapai. Dengan memahami berbagai teori
belajar, prinsip-prinsip pembelajaran dan pengajaran, pendidikan yang berkembang di
bangsa kita niscaya akan menghasilkan out put-out put yang berkualitas yang mampu
membentuk manusia Indonesia seutuhnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. B. Uno, Hamzah. 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. Jakarta :
PT. Bumi Aksara.
2. http://rohman-makalah.blogspot.com/2008/07/teori-belajar-akhmad-sudrajat-
m.html
3. Palmer, J.A. (editor). 2003. 50 Pemikir Pendidikan. Dari Piaget Sampai Masa
Sekarang. (terjemahan : Farid Assifa). Yogyakarta : Penerbit Jendela.
4. Roberts, T.B. 1975. Four Psychologies Applied to Education. New York :
Schenkman Publishing Company Halsted Press Division John Wiley and
Sons
5. Soemanto, Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan, Landasan Kerja Pemimpin
Pendidikan. Jakarta: Rieneka Cipta.
6. Tadjab. 1994. Ilmu Jiwa Pendidikan. Surabaya : Karya Abditama.