Anda di halaman 1dari 10

http://blog.ub.ac.id/dessystoryline/2013/05/04/142/ NAMA : DESSY CHRISTINA SIAHAAN NIM : 125040200111198 KELAS : E DOSEN : Ir. TITIEK ISLAMI, MS.

KOPI (Coffea sp) 1) KLASIFIKASI TANAMAN Tanaman kopi merupakan tanaman tahunan maka susunan botaninya Sangat berbeda dengan tanaman musiman, dan dala tata nama secara taksonomi ini terdapat klasifikasi-klasifikasi dari tanaman kopi adalah sebagai berikut: Kindom : Plantae Divisio : Spermatophita Sub-divisio : angeospermae Kelas : dicotilednea Ordo : Rubiales Family : Rubiaceae Genus : Coffea Species : Coffea Sp 2) MORFOLOGI TANAMAN KOPI Morfologi dan botani tanaman kopi seperti: Akar, batang, daun, buah, dan bunga. 1) Akar Kopi termasuk keluarga (suku rubiaceae ),keluarga coffea,bijinya berkeping dua (dikotil).Susunan akarnya sebagai berikut: Akar tunggal: akar yang lupus masuk kedalam tanah, berbunga untuk tegaknya tanaman dan penolong bila terjadi kekeringan. Pada akar tunggal sering timbal akar yang di camping di sebut akar lebar. Pada akar-akar lebar tumbuh akar-akar rambut dan bulu-bulu akar, yang berguna untuk mengisap tanaman. 2) Batang Pohon kopi berbatang tegak lurus dan beruas-ruas hamper pada tiap tumbuh kuncup-kuncup pada batang dan cabang susunannya agak rumit pada batang-batang itu sering tumbuh cabang yang tegak lurus , yang direbut cabang ( orthotrop) nama cabang atau tunas-tunas yang tumbuh pada batang itu bisa disebut ( wiwilan0 tunas air atau cabang air.

3) Daun Kopi mempunyai daun bulat telur ujungnya agak meruncing sampai bulat tumbuh pada

batang, cabang dan ranting-ranting tersusun berdampingan pada ketiak.

4) Bunga Tumbuhnya bunga kopi pada ketiak-ketiak cabang primer tersusun berkelompok, tiap-tiap kelompok terdiri dari 4-6 kuntum bunga yang bertangkai pendek. Pada tiap-tiap ketiak daun dapat tumbuh 3-4 kelompok bunga maka pada tiap buku dapat tumbuh 30 kuntum bunga atau lebih dan pada musim berbunga satu (1) pohon dapat keluar sampai ribuan kuncup. Kucup bunga tersebut mempunyai susunan sebagai berikut: v Kelompok berwarna hijau, berukuran kecil dan pendek v Daun bunga mahkota terdiri dari 3-8 helaian bunga (tergantung pada jenisnya) Liberika 6-8 helai Robusta 3-8 helai v Benang sari terdiri dari 5-7 helai berukurang pendek v Tangkai putik berukuran kecil panjang, kepala putik berseri 2 helai v Bekal buah susunan tengelam didalamnya terdiri-dari 2 butir biji dari bakal buah hingga menjadi masak berlansung 7-12 bulan tergantung dari jenis iklim dan letal geografinya.

5) Buah Buah kopi yang masih muda berwarna hijau, sedangkan buah yang masak berwarna merah. Pada umumnya kopi mengandung 2 butir biji, biji-biji tersebut mempunyai bidang yang datar (perut) dan bidang yang cembung (punggun), tetapi ada kalanya hanya ada satu butir biji

yang bentuknya bulat panjang sering disebut biji atau kopi (lanang).

3) SYARAT TUMBUH 3.1 Iklim Faltor iklim merupakan salah satu syarat utama dalam pembudidayaan tanaman kopi. Tanaman kopi dapat tumbuh baik pada kisaran zona 200 lintang utara dan 200 lintang selatan.Di antara faktor iklim yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kopi, dalam garis besarnya dapat di bagi menjadi: a.Tinggi Tempat Dan Derajat Panas Suhu Kopi arabika dapat tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi,. Tetapi didataran rendah kurang dari 1000 m dpl, mudah diserang oleh penyakit HV begitu juga pada ketinggian melebihi 1700m, sudah tidak baik lagi, karena sudah terlalu dingin, lebih-lebih pada malam hari. Kopi Arabika yang baik pada ketinggian tempat 1000-1700m,dengan derajat panas 16-20o C. Derajat panas ini penting karena mempengaruhi cepat atau lambatnya kopi itu mulai berhasil. b. Curah Hujan Mengenai curah hujan yang penting bukan banyaknya dalam satu tahun melainkan pembagian curah hujan dalam masa satu tahun. Batas minimal dalam satu tahun adalah 10002000mm, sedangkan yang optimal adalah 2000-3000mm. c. Sifat-Sifat Angin Pohon kopi tidak dapat tahan terhadap anggin yang kencang, lebih-lebih dimusim kemarau, karena angina ini akan mempertinggi penguapan air di permukaan tanah pada perkebunan. Selain mempertinggi penguapan dapat juga mematahkan dan merebah pohon pelindung yang tinggi, sehingga dapat merusak tanaman dibawahnya.Untuk mengurangi kerasnya guncangan angina ditepi-tepi perkebunan dapat ditanami pohon penahan angin. Selain itu pohon pelindung dapat mengurangi derasnya guncangan angina. d. Pengaruh Iklim Terhadap Produksi Iklim besar sekali pengaruh terhadap produksi Pengaruh ini sudah tampak menjelang cabang-cabang yang dewasa itu akan berbunga samapai pada buah yang amsak.Dalam hal ini yang memegang peranan adalah curah hujan dan pancaran sinar matahari. Pada akhir musim penhujan, pada cabang-cabang produktif telah nampak tumbuh kuncup-kuncup bunga yang kecil sekali, kurang lebih ada lima buah. Tiap-tiap lubang di selubangi oleh sepasang penampu, lambat laun kuncup itu bertambah

besar hingga mencapai ukuran 10-12mm.pada tiap-tiap kuncup terdapat 4-6 buah. Dasar bunga yang bertangkai pendek keuar dari selubung penumpu daun pada permulaan berwarna hijau, kemudian berwarna putih; bentuknya serupa lilin, maka bunga demikian disebut . Pada saaat membentuk bunga lilin ini pertumbuhan bunga berhenti istirahat kurang lebih 7-8 hari. e. Tanah Tanaman kopi menghendaki persyaratan kondisi tanah yang subur dan mempunyai solum tanah yang cukup dalam (kurang lebih 1,5m).Jenis tanah yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi adalah mempunyai struktur tanah yang baik, mengandung bahan organic paling sedikit 3%, memiliki tata udara dan tata air yang baik. 3.2 Keadaan Umum Wilayah Pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi mempunyai sifat yang Sangat khusus dipengaruhi oleh linkungan, bahkan tanaman kopi mempunyai sifat yang sangat khusus karena masing-masing jenis kopi menhendaki suhu dan ketinggian tempat yang berbedabeda. Tanaman kopi pada umumnya menghendaki keadaan wilayah yang tinggi tempat 700-2000m dpl. Khususnya pada tanaman kopi jenis arabika mempunyai keadaan wilayah atau ketinggian tempat 1000-1700mdpl. Makadari dari sini dapat diuraikan klas-klas lahan yang dihendaki oleh tanaman kopi adalah sebagai berikut: Dadasarkan pada lahan atau linkungan dan iklim sesuai dengan yang telah ditentukan Dalam menentukan klas suatu lahan harus ditentukan tasa faktor yang mempunyai level yang paling rendah. 4) Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Budidaya Kopi Pemangkasan Kopi Dalam rangka mencapai pertumbuhan dan produktivitas yang optimal, maka perlu dilakukan pemangkasan (prunning). Pemangkasan tanaman kopi pada dasarnya ada dua sistem, yaitu pemangkasan batang tunggal (single stem) dan pemangkasan batang ganda (multiple stem). Perbedaan pokok pada sistem tersebut adalah pada banyaknya batang yang diperlihara dan cara penyediaan cabang-cabang buah baru. Baik pada sistem pemangkasan batang tunggal maupun pemangkasan batang ganda dilakukan tiga tahap pemangkasan, yaitu 1. pemangkasan bentuk, yang bertujuan membentuk kerangka tajuk tanaman yang kuat dan seimbang; 2. pemangkasan pemeliharaan/produksi, yang bertujuan mempertahankan keseimbangan kerangka tanaman yang telah diperoleh pemangkasan bentuk; dan 3. pemangkasan peremajaan, yang bertujuan mempermuda batang. Pengendalian Hama dan Penyakit Jenis hama utama yang menyerang tanaman kopi. Pada fase pertumbuhan vegetatif hama yang menyerang yaitu penggerek cabang, kutu putih (kutu dompolan), kutu hijau, penggerek batang merah dan nematoda. Penggerek cabang menyerang tanaman sejak di pembibitan sampai tanaman dewasa. Bagian tanaman yang diserang (digerek) yaitu bagian batang dan cabang yang dekat dengan permukaan tanah. Gejala serangan yang timbul yaitu daun pada batang/cabang yang terserang layu dan pada serangan parah mengakibatkan kematian. Cara pengendalian hama ini dilakukan dengan memotong cabang-cabang yang terserang, sedangkan pencegahan dapat dilakukan dengan meningkatkan toleransi tanaman melalui pemupukan berimbang, menjaga pertanaman tidak terlalu lembab dan menghilangkan tanaman inang lainnya. Kutu putih menyerang pucuk tanaman dan daun cabang muda hanya apabila populasinya

tinggi. Hama ini terutama menyerang bunga dan buah kopi sehingga disebut kutu dompolan. Pengendalian dapat dilakukan secara kultur teknis melalui pengaturan naungan dan penanaman tanaman kopi yang resisten; secara biologis dengan melepaskan serangga predator; dan secara kimia dengan menyemprotkan insektisida dengan konsentrasi 0,2 persen. Kutu hijau menyerang seluruh bagian tanaman kopi yang muda, yaitu daun, cabang dan batang yang masih muda. Gejala yang timbul akibat serangan hama ini yaitu bagian yang terserang menjadi kuning akhirnya mengering, tanaman menjadi kerdil, pertumbuhan tunastunas batang dan cabang menjadi pendek dan tidak sehat. Pengendalian hama ini dapat dilakukan secara kultur teknis melalui peningkatan pertumbuhan tanaman dan menjaga kelembaban dengan pengaturan tanaman pelindung; secara biologis dengan menggunakan predator; dan secara kimia dengan menggunakan insektisida. Penggerek batang merah menyerang batang dan cabang tanaman kopi muda. Akibatnya cabang atau batang di atas bagian yang digerek mati dan mudah patah. Pengendaliannya dilakukan dengan meningkatkan pertumbuhan tanaman serta memotong dan memusnahkan bagian yang terserang. Nematoda utama yang menimbulkan kerusakan pada tanaman kopi, yaitu Pratylenchus coffeae nematoda ini menyerang akar. Gejala umum dari serangan nematoda ini adalah akar bibit membusuk, kerdil, daun menguning, dan akhirnya mati. Pada pertanaman, daun-daun menguning, cabang primer kurang berkembang dan pucuk tanaman mengalami stagnasi. Daun layu secara perlahan-lahan, tanaman merana dan akhirnya tanaman akan mati. Pengendalian dilakukan dengan cara menggunakan lahan yang bebas nematoda, melakukan fumigasi pada media tumbuh untuk bibit, menanam varietas/klon yang resisten, dan meningkatkan daya tahan tanaman dengan pemeliharaan yang intensif. Penyakit penting pada tanaman kopi antara lain penyakit karat daun, penyakit busuk batang dan cabang, penyakit jamur upas dan penyakit bercak daun. Penyakit karat daun menyerang tanaman kopi terutama dari jenis Arabika yang ditanam pada ketinggian di bawah 1.000 m dpl. Penyakit ini terutama menyerang daun dengan gejala daun bercak kuning muda dengan garis tengah 2 4 mm kemudian meluas, bentuknya tidak teratur dan warnanya semakin tua. Akhirnya warna daun menjadi kecoklatan atau hitam seperti karat. Serangan ini menyebabkan daun-daun berguguran sehingga tanaman menjadi gundul, pucuk-pucuk pada cabang mati dan akhirnya tanaman mati secara keseluruhan. Pengendalian penyakit ini antara lain dengan menanam varietas yang resisten, dengan menggunakan fungisida dan peningkatan daya tahan tanaman melalui pemeliharaan yang intensif. Pemeliharaan Tanaman Pelindung Pengaturan tanaman pelindung sangat penting artinya terutama untuk meningkatkan rangsangan pembentukan bunga dan penyelamatan buah kopi. Selama musim hujan cuaca sering berawan, sehingga intensitas cahaya berkurang, karena itu keberadaan mahkota/tajuk tanaman pelindung kurang diperlukan. Pengaturan tanaman pelindung bertujuan untuk memberikan cukup cahaya matahari, memperlancar peredaran udara dan mengurangi kelembaban udara selama musim hujan. Kegiatan pengaturan tanaman pelindung meliputi beberapa aspek baik cara pengaturannya maupun waktu pelaksanaannya. Cara pengaturan tanaman pelindung dilakukan melalui pemangkasan bentuk, pemangkasan pengaturan dan penjarangan, sedangkan waktu pelaksanaannya bergantung pada keadaan cuaca dan lingkungan tumbuh serta keadaan tanaman. Pemeliharaan Jalan Produksi Pemeliharaan jalan produksi sebaiknya dilakukan secara berkala, untuk memperlancar proses pengangkutan hasil panen baik dari kebun ke tempat penampungan hasil (TPH) maupun dari TPH ke pabrik emplasemen. Pemeliharaan jalan produksi meliputi pengerasan dan penimbunan jalan, pengendalian gulma dan pendalaman saluran-saluran pembuangan air di

sepanjang jalan. Ukuran, letak dan panjang jalan ditentukan oleh ukuran, lokasi dan topografi kebun. Kebun rakyat umumnya tidak memerlukan jalan yang khusus karena luasnya yang relatif kecil. 5) PANEN DAN PASCA PANEN TANAMAN KOPI Pemanenan Kopi , jika usianya sudah produktif, harus dilakukan secara benar dan proses pasca panen harus juga mengikuti Standar standar yang baik, sehingga kopi yang dihasilkan tetap punya kualitas tersendiri.Tanaman kopi yang terawat dengan baik dapat mulai berproduksi pada umur 2,5 3 tahun tergantung dari lingkungan dan jenisnya. Tanaman kopi robusta dapat berproduksi mulai dari 2,5 tahun, sedangkan arabika pada umur 2,5 3 tahun. Jumlah kopi yang dipetik pada panen pertama relatif masih sedikit dan semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya umur tanaman sampai mencapai puncaknya pada umur 7 9 tahun. Pada umur puncak tersebut produksi kopi dapat mencapai 9 15 kuintal kopi beras/ha/tahun untuk kopi robusta dan 5 7 kuintal kopi beras/ha/tahun untuk kopi arabika. Namun demikian, bila tanaman kopi dipelihara secara intensif dapat mencapai hasil 20 kuintal kopi beras/ha/tahun. 1. Pemanenan buah kopi dilakukan secara manual dengan cara memetik buah yang telah masak. Ukuran kematangan buah ditandai oleh perubahan warna kulit buah. Kulit buah berwarna hijau tua ketika masih muda, berwarna kuning ketika setengah masak dan berwarna merah saat masak penuh dan menjadi kehitam-hitaman setelah masak penuh terlampaui (over ripe). 2. Kematangan buah kopi juga dapat dilihat dari kekerasan dan komponen senyawa gula di dalam daging buah. Buah kopi yang masak mempunyai daging buah lunak dan berlendir serta mengandung senyawa gula yang relatif tinggi sehingga rasanya manis. Sebaliknya daging buah muda sedikit keras, tidak berlendir dan rasanya tidak manis karena senyawa gula masih belum terbentuk maksimal. Sedangkan kandungan lendir pada buah yang terlalu masak cenderung berkurang karena sebagian senyawa gula dan pektin sudah terurai secara alami akibat proses respirasi. 3. Tanaman kopi tidak berbunga serentak dalam setahun, karena itu ada beberapa cara pemetikan : a. Pemetikan selektif dilakukan terhadap buah masak. b. Pemetikan setengah selektif dilakukan terhadap dompolan buah masak. c. Secara lelesan dilakukan terhadap buah kopi yang gugur karena terlambat pemetikan. d. Secara racutan/rampasan merupakan pemetikan terhadap semua buah kopi yang masih hijau, biasanya pada pemanenan akhir. Proses Pasca Panen Sortasi a. Sortasi buah dilakukan untuk memisahkan buah yang superior (masak, bernas, seragam) dari buah inferior (cacat, hitam, pecah, berlubang dan terserang hama/penyakit). Kotoran seperti daun, ranting, tanah dan kerikil harus dibuang, karena dapat merusak mesin pengupas. b. Biji merah (superior) diolah dengan metoda pengolahan basah atau semi-basah, agar diperoleh biji kopi HS kering dengan tampilan yang bagus. Sedangkan buah campuran hijau,kuning, merah diolah dengan cara pengolahan kering.

c. Hal yang harus dihindari adalah menyimpan buah kopi di dalam karung plastik atau sak selama lebih dari 12 jam, karena akan menyebabkan pra-fermentasi sehingga aroma dan citarasa biji kopi menjadi kurang baik dan berbau busuk (fermented). Pengolahan Cara kering Metoda pengolahan cara kering banyak dilakukan mengingat kapasitas olah kecil, mudah dilakukan, peralatan sederhana dan dapat dilakukan di rumah petani. 1. Pengeringan a. Kopi yang sudah di petik dan disortasi harus sesegera mungkin dikeringkan agar tidak mengalami proses kimia yang bisa menurunkan mutu. Kopi dikatakan kering apabila waktu diaduk terdengar bunyi gemerisik. b. Beberapa petani mempunyai kebiasaan merebus kopi gelondang lalu dikupas kulitnya, kemudian dikeringkan. Kebiasaan merebus kopi gelondong lalu dikupas kulit harus dihindari karena dapat merusak kandungan zat kimia dalam biji kopi sehingga menurunkan mutu. c. Apabila udara tidak cerah pengeringan dapat menggunakan alat pengering mekanis. d. Tuntaskan pengeringan sampai kadar air mencapai maksimal 12,5 % e. Pengeringan memerlukan waktu 2-3 minggu dengan cara dijemur f. Pengeringan dengan mesin pengering tidak diharuskan karena membutuhkan biaya mahal. 2. Pengupasan kulit ( Hulling) A. Hulling pada pengolahan kering bertujuan untuk memisahkan biji kopi dari kulit buah, kulit tanduk dan kulit arinya. b. Hulling dilakukan dengan menggunakan mesin pengupas (huller). Tidak dianjurkan untuk mengupas kulit dengan cara menumbuk karena mengakibatkan banyak biji yang pecah. Beberapa tipe huller sederhana yang sering digunakan adalah huller putar tangan (manual), huller dengan pengerak motor, dan hummermill. Pengolahan Cara Basah (Fully Washed) : a. Pengupasan Kulit Buah Pengupasan kulit buah dilakukan dengan menggunakan alat dan mesin pengupas kulit buah (pulper). Pulper dapat dipilih dari bahan dasar yang terbuat dari kayu atau metal. Air dialirkan kedalam silinder bersamaan dengan buah yang akan dikupas. Sebaiknya buah kopi dipisahkan atas dasar ukuran sebelum dikupas. b. Fermentasi 1. Fermentasi umumnya dilakukan untuk pengolahan kopi Arabika, bertujuan untuk meluruhkan lapisan lendir yang ada dipermukaan kulit tanduk biji kopi. Selain itu, fermentasi mengurangi rasa pahit dan mendorong terbentuknya kesan mild pada citarasa seduhan kopi arabika. 2. Fermentasi ini dapat dilakukan secara basah dengan merendam biji kopi dalam genangan air, atau fermentasi cara kering dengan cara menyimpan biji kopi HS basah di dalam wadah plastik yang bersih dengan lubang penutup dibagian bawah atau dengan menumpuk biji kopi HS di dalam bak semen dan ditutup dengan karung goni. 3. Agar fermentasi berlangsung merata, pembalikan dilakukan minimal satu kali dalam sehari. 4. Lama fermentasi bervariasi tergantung pada jenis kopi, suhu, dan kelembaban lingkungan serta ketebalan tumpukan kopi di dalam bak. Akhir fermentasi ditandai dengan meluruhnya lapisan lendir yang menyelimuti kulit tanduk. Waktu fermentasi berkisar antara 12 sampai 36 jam. c. Pencucian 1. Pencucian bertujuan menghilangkan sisa lendir hasil fermentasi yang menempel di kulit tanduk.

2. Untuk kapasitas kecil, pencucian dikerjakan secara manual di dalam bak atau ember, sedangkan kapasitas besar perlu dibantu mesin. d. Pengeringan 1) Pengeringan bertujuan mengurangi kandungan air biji kopi HS dari 60 65 % menjadi maksimum 12,5 %. Pada kadar air ini, biji kopi HS relatif aman dikemas dalam karung dan disimpan dalam gudang pada kondisi lingkungan tropis. 2) Pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran, mekanis, dan kombinasi keduanya. 3) Penjemuran merupakan cara yang paling mudah dan murah untuk pengeringan biji kopi. Penjemuran dapat dilakukan di atas para-para atau lantai jemur. Profil lantai jemur dibuat miring lebih kurang 5 7 o dengan sudut pertemuan di bagian tengah lantai. 4) Ketebalan hamparan biji kopi HS dalam penjemuran sebaiknya 6 10 cm lapisan biji. Pembalikan dilakukan setiap jam pada waktu kopi masih basah. Pada areal kopi Arabika, yang umumnya didataran tinggi, untuk mencapai kadar air 15 -17 %, waktu penjemuran dapat berlangsung 2 3 minggu. 5) Pengeringan mekanis dapat dilakukan jika cuaca tidak memungkinkan untuk melakukan penjemuran. Pengeringan dengan cara ini sebaiknya dilakukan secara berkelompok karena membutuhkan peralatan dan investasi yang cukup besar dan tenaga pelaksana yang terlatih. Dengan mengoperasikan pengering mekanis secara terus menerus siang dan malam dengan suhu 45 500 C, dibutuhkan waktu 72 jam untuk mencapai kadar air 12,5 %. Penggunaan suhu tinggi di atas 600 C untuk pengeringan kopi Arabika harus dihindari karena dapat merusak citarasanya. Sedangkan untuk kopi Robusta, biasanya diawali dengan suhu lebih tinggi, yaitu sampai 90 1000C dengan waktu 20 24 jam untuk mencapai kadar air maksimum 12,5 %, (pemanasan yang lebih singkat), karena jika terlalu lama maka warna permukaan biji kopi cenderung menjadi kecoklatan Untuk kopi Robusta dibutuhkan waktu 20-24 jam untuk mencapai kadar air 12,5 %. 6) Proses pengeringan kombinasi dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah penjemuran untuk menurunkan kadar air biji kopi sampai 20 25 %, dilanjutkan dengan tahap kedua, yaitu dengan menggunakan mesin pengering. Apabila biji kopi sudah dijemur terlebih dahulu hingga mencapai kadar air 20 25 %, maka untuk mencapai kadar air 12,5% diperlukan waktu pengeringan dengan mesin pengering selama 24 36 jam dengan suhu 4550 0C. e. Pengupasan kulit kopi HS 1) Pengupasan dimaksudkan untuk memisahkan biji kopi dari kulit tanduk yang menghasilkan biji kopi beras. 2) Pengupasan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pengupas (huller). 3) Sebelum dimasukkan ke mesin pengupas (huller), biji kopi hasil pengeringan didinginkan terlebih dahulu (tempering) selama minimum 24 jam. Pengolahan Cara Semi Basah (Semi Washed Process) Pengolahan secara semi basah saat ini banyak diterapkan oleh petani kopi arabika di NAD, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Cara pengolahan tersebut menghasilkan kopi dengan citarasa yang sangat khas, dan berbeda dengan kopi yang diolah secaara basah penuh (WP). Ciri khas kopi yang diolah secara semi-basah ini adalah berwarna gelap dengan fisik kopi agak melengkung. Kopi Arabika cara semi-basah biasanya memiliki tingkat keasaman lebih rendah dengan body lebih kuat dibanding dengan kopi olah basah penuh. Proses cara semi-basah juga dapat diterapkan untuk kopi Robusta. Secara umum kopi yang diolah secara semi-basah mutunya sangat baik. Proses pengolahan secara semi-basah lebih singkat dibandingkan dengan pengolahan secara basah penuh. Untuk dapat menghasilkan biji kopi hasil olah semi-basah yang baik, maka harus mengikuti prosedur pengolahan yang tepat, yaitu : 1. Pengupasan kulit buah

a. Proses pengupasan kulit buah (pulp) sama dengan pada cara basah-penuh. Untuk dapat dikupas dengan baik, buah kopi harus tepat masak (merah) dan dilakukan sortasi buah sebelum dikupas, yaitu secara manual dan menggunakan air untuk memisahkan buah yang diserang hama. b. Pengupasan dapan menggunakan pulper dari kayu atau metal. Jarak silinder dengan silinder pengupas perlu diatur agar diperoleh hasil kupasan yang baik (utuh, campuran kulit minuman) beberapa tipe pulper memerlukan air untuk membantu proses pengupasan c. Biji HS dibersihkan dari kotoran kulit dan lainnya sebelum difermentasi. 2. Fermentasi dan Pencucian a. Untuk memudahkan proses pencucian, biji kopi HS perlu difermentasi selama semalam atau lebih. Apabila digunakan alat-mesin pencuci lendir, proses fermentasi dapat dilalui. b. Proses fermentasi dilakukan secara kering dalam wadah karung plastik atau tempat dari plastik yang bersih. c. Setelah difermentasi semalam kopi HS dicuci secara manual atau menggunakan mesin pencuci (washer). 3. Pengeringan awal a. Pengeringan awal dimaksudkan untuk mencapai kondisi tingkat kekeringan tertentu dari bagian kulit tanduk/cangkang agar mudah dikupas walaupun kondisi biji masih relatif basah. b. Proses pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran selama 1-2 hari sampai kadar air mencapai sekitar 40 %, dengan tebal lapisan kopi kurang dari 3 cm (biasanya hanya satu lapis) dengan alas dari terpal atau lantai semen. c. Biji kopi dibalik-balik setiap 1 jam agar tingkat kekeringannya seragam. d. Jaga kebersihan kopi selama pengeringan. 4. Pengupasan kulit tanduk/cangkang Pengupasan kulit tanduk/cangkang pada kondisi biji kopi masih relatif basah dapat dilakukan dengan menggunakan huller yang didisain khusus untuk proses tersebut. Agar kulit dapat dikupas maka kondisi kulit harus cukup kering walaupun kondisi biji yang ada didalamnya masih basah: a. Pastikan kondisi huller bersih, berfungsi normal dan bebas dari bahan-bahan yang dapat mengkonyimasi kopi sebelum digunakan b. Lakukan pengupasan sesaat setelah pengeringan/penjemuran awal kopi HS. Apabila sudah bermalam sebelum dikupas kopi HS harus dijemur lagi sesaat sampai kulip cukup kering kembali c. Atur aturan huller dan aliran bahan kopi agar diperoleh proses pengupasan yang optimum. Sejumlah tertentu porsi kulit masih terikut bersama biji kopi labu yang keluar dari lubang keluaran biji. Hal tersebut tidak begitu masalah, karna porsi kulit tersebut mudah dipisahkan dengan tiupan udara (aspirasi) setalah kopi dikeringkan d. Biji kopi labu yang keluar harus segera dikeringkan, hindari penyimpanan biji kopi yang masih basah karena akan terserang jamur yang dapat merusak biji kopi baik secara fisik atau citarasa, serta dapat terkontiminasi oleh mikotoksin (okhtratoksin A, aflatoksin dll) e. Bersihkan huller setelah digunakan, agar sisa-sisa kopi dan kulit yang masih basah tidak tertinggal dan berjamur di dalam mesin. 5. Pengeringan biji kopi labu a. Keringkan biji kopi labu hasil pengupasan dengan penjemuran atau menggunakan mesin pengering mekanis b. Aturan tebal hamparan biji kopi kurang dari 5 cm, gunakan alas pelastik atau terpal atau latai semen. Hindari penjemuran langsung diatas permukaan tanah. c. Balik-balik massa kopi agar proses pengeringan seragam dan lebih cepat. d. Tuntaskan proses pengeringan sampai dicapai kadar air biji 11-12% biasanya diperlukan waktu 3-5 hari dalam kondisi normal e. Hindari penyimpanan biji kopi yang belum kering dalam waktu yang lebih dari 12 jam,

karena akan rusak akibat dari serangan jamur. Sortasi Kopi Beras a. Sortasi dilakukan untuk memisahkan biji kopi dari kotoran-kotoran non kopi seperti serpihan daun, kayu atau kulit kopi. b. Biji kopi beras juga harus disortasi secara fisik atas dasar ukuran dan cacat biji. Sortasi ukuran dapat dilakukan dengan ayakan mekanis maupun dengan manual. c. Pisahkan biji-biji kopi cacat agar diperoleh massa biji dengan nilai cacat sesuai dengan ketentuan SNI 01-2907-1999 3.7