Anda di halaman 1dari 6

Pengertian Pemikiran Pemikiran merupakan kegiatan atau perbuatan yang disimpulkan dan pemikiran ini tidak dapat diperhatikan

dengan mata kasar yang melibatkan perlambangan, penggunaan dan manipulasi yang simbolik. Menurut Greene (1975) di dalam Tim O Sullian et al(1996) menyatakan bahwa perkataan perkataan yang digunakan seharian meliputi berbagai hal kegiatan fikiran yang luas. Sedangkan menurut jhon barell (1991) pemikiran itu merupakan proses mencari makna serta usaha mencapai keputusan yang wajar. Secara etimologi pemikiran berarti proses, cara atau perbuatan memikir; yaitu menggunakan budi untuk memutuskan suatu persoalan dengan mempertimbangkan segala sesuatu dengan bijaksana. Konsep pemikiran yang asas ialah ketika otak berfikir. Otak secara langsung bertindak balas dengan berusaha untuk mengenal pasti rangsangan luar yang telah bertindak balas dengan deria. Seterusnya, otak akan menukarkan rangsangan ke dalam bentuk konsep, menbuat tafsiran dan bertindak berdasarkanpengalaman yang telah ada dalam ingatan. Pemikiran merupakan suatu proses membina ilmu dan kefahaman yang melibatkan aktivitas mental manusia yang berupayamenyelesaikan masalah ataupun konflik dalam berbagai hal kemahiran berfikir. Menurut Ruggierro ( 1984 ) yang diterjemahkan oleh Ishak Ramly ( 2005 : 155 ) mengartikan berfikir sebagai aktiviti mental yang mengeluarkan idea, menyelesaikan masalah, mengemukakan cadangan ataupun memenuhi kehendak untuk memahami. Hal tersebut bermakna pemikiran merupakan proses berfikir yang bertujuan mencari makna dan pemahaman bagi suatu perkara, menyelesaikan perkara, membuat keputusan, membuat refleksi dan mengungkapkan terhapad sesuatu idea. Pemikiran juga merujuk kepada proses membina ilmu dan pemahaman yang melibatkan aktifitas mental dalam otak manusia. Pemikiran jugaadalah aktifitas yang dilakukan hamper setiap saat. Jenis Jenis Pemikiran Pemikiran terbagi dalam beberapa jenis, yaitu 1. Pemikiran Kritis Mohd. Michael Abdullah (2003:3) mendefinikan kritis sebagai penimbangan baik atau buruk terhadap sesuatu perkara, kebenarannya, kejelasan bahasa dan susunan idea. Pemikiran kritis bertujuan untuk mengajar kaedah kaedah pemikiran agar alasan dengan lebih berkesan. Aspek yang diberikan penekanan dalam pemikiran kritis ini sering di kaitkan dengan individu yang lantang bersuaradan mengutamakan pendapat. Individu ini biasanya mampu beralasan dengan baik dan berfikir secara wajar dan relevan. 2. Pemikiran Kreatif Pemikiran kreatif merupakan pemikiran yang menghasilkan idea. Ishak Ramly ( 2005:158 ) pula menyatakan pemikiran kreatif merujuk kepada penekanan pada kecakapan dan berupaya menggunakan otak bagi mengghasilkan idea yang baru, asli, luar biasa, provokatif, mencabar, tepat, jelas dan memberikan pertimbangan pada penemuan penciptaan yang lebih luas dan terbuka. Hal ini menjadikan individu yang

mempunyai pemikiran yang kreatif dapat merencanakan dan membuat keputusan bagi menghasilkan berbagai idea yang baru. 3. Pemikiran Logik Ishak Ramly (2005:159) menyakatan penggunaan kata logic berasal dari kata Yunani yang bermaksud akal hujah. Menurut Kamus Dewan edisi ketiga (1996: m/s) logic bermaksud dapat diterima akal, masuk di akal. Jadi, pemikiran logikdapat diartikan sebagai alasan yang dapat diterima oleh akal. Pemikiran logic juga dikenalisebagai pemikiran penaakulan. 4. Pemikiran Positif Pemikiran positif apabila seseorang melihat sesuatu perkara atau idea dari berbagai aspek kebaikan dan faedah. Setiap perkara mempunyai keaikan dan keburukannya, namun individu yang berfikiran positif akan melihat kepada kebaikan dan faedah yang dapat dicapai sekiranya sesuatu perkara di laksanakan dan berusaha menghadapi, menyelesaikan rintangan ataupun halangan dalam melaksanakan perkara tersebut. Hal ini bernakna individu yang berfikiran positif ini mempunyai sifat ynag optimis dan mau maju dan Berjaya. 5. Pemikiran Negatif Ishak Ramly (2005:158) berpendapat, individu yang mempunyai pemikiran negative banyak memikirkan mengenai keburukan, bahaya, resiko dan masalah apabila ingin melakukan sesuatu perkara. Individu yang terlalu berfikiran negative akan membunuh kreativitas dan sering menolakidea baru. Hal ini karena mereka serring melihat idea baru ini dari sudut kelemahannya saja. Mereka juga sering memprediksikan masalah yang timbul sekiranya idea baru tersebut di laksanakan. Namun begitu, pemikiran negative juga mempunyai kelebihan tersendiri. Faedahnya adalah mereka menyediakan rencana darurat dan kecemasan bagi kemungkinankemungkinan yang diluar jangkauan. Hal ini secara tidak langsung dapat menghindarkan masalah yang diprediksikan akan berlaku. Pemikiran Politik Merupakan bagian dari ilmu politik yang mengkhususkan diri dalam penyelidikan tentang pemikiran-pemikiran yang terdapat dalam bidang politik,semenjak dari dahulu kala di masa Yunani Kuno sampai ke masa sekarang. Pada tahap itu politik berkembang secara pesat berdampingan dengan cabang-cabang ilmu sosial lainnya,seperti sosiologi, antropologi, ekonomi, dan psikologi. Pemikiran mengenai politik yang sangat normatif itu telah terdesak oleh definisi-definisi lain yang lebih menekankan pada upaya (means)untuk mencapai masyarakat yang baik, seperti kekuasaan,pembuatan keputusan, kebijakan, alokasinilai, dan sebagainya.Namun demikian pemikiran politik sebagai usaha untuk mencapai suatu masyarakat yang lebih baik dan untuk mencapai suatu tatanan kehidupan sosial yang lebih baik.Oleh karena itu tentu perlu disadari bahwa persepsi mengenai baik dan adil dipengaruhi oleh nilai-nilai serta ideologi masing-masing dan zaman yang bersangkutan. Pemikiran Politik adalah pemikiran yang berkaitan dengan pengaturan dan pemeliharaan urusan masyarakat. Pengertian ini berbeda sama sekali dengan apa yang didefinisikan oleh para pemikir politik barat. Para pemikir politik barat itu mendefinisikan politik

sebagai cara untuk mendapatkan kekuasaan, menjaganya dan melaksanakan kekuasaannya itu. Pemikiran politik memiliki dua makna yaitu makna pertama menunjuk teori sebagai pemikiran spekulatif tentang bentuk dan tata cara pengaturan masyarakat yang ideal, makna kedua menunjuk pada kajian sistematis tentang segala kegiatan dalam masyarakat untuk hidup dalam kebersamaan. Contoh pemikiran politik yang merupakan pemikiran spekulatif adalah pemikiran politik Marxis-Leninis atau komunisme, contoh lain adalah pemikiran politik yang berdasar pada pemikiran Adam Smith kapitalisme. Pemikiran Tan Malaka dalam tulisannya Madilog, merupakan contoh teori politik Indonesia. Nasakom yang diajukan Soekarno merupakan contoh lain. Sedangkan pemikiran politik sebagai hasil kajian empirik bisa dicontohkan dengan teori struktural fungsional yang diajukan oleh Talcot Parson (seorang sosiolog), antara lain diturunkan kedalam teori politik menjadi Civic Culture. Konsep sistem politik sendiri merupakan ciptaan para akademisi yang mengkaji kehidupan politik (sesungguhnya diturunkan dari konsep sistem sosial). Dari berbagai pemikiran politik yang ada maka akan timbul ideologi-ideologi politik seperti Libralisme, Sosialisme, Komunisme, Konservatisme dan Fasisme. Dari analisis hubungan antara pemikiran politik dan konsep yang di tuangkan ke dalam ideologi politik ini menimbulkan adanya sistem politik yang berkembang dalam kehidupan berbangsa ini. Sistem politik pun selalu bergerak dinamis, melibatkan fungsi dan lingkungan internal dan eksternal. Akibatnya, sistem politik di suatu negara akan bersinggungan dengan sistem politik di negara lain dan tidak pernah berdiri sendiri seperti yang di kemukakan oleh David Easton melalui pendekatan Teori Behavioral sistem politik. Sedangkan Gabriel Almond meneruskannya ke dalam turunan teori sistem politik yang lebih konkrit, yaitu menggabungkan teori sistem ke dalam struktural-fungsional. Nasionalisme yang berkembang di Indonesia sekitar tahun 1900-an melahirkan banyak aliran aliran politik yang menjadi sebuah pemikiran politik modern di Indonesia. Kemunculan nasionalisme di tengah tengah rakyat Indonesia dipimpin oleh para kaum terpelajar, namunmasih berada dalam suatu kelompok kecil. Kepemimpinan yang berada pad a sebuah kelompok kecil ini kemudian berkembang menjadi kelompok dimana ruang lingkupnya lebih luas dan lebih pesat dalam penyebaran pemikirannya, setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tahun 1945. Kemudian menurut Feith dan Castles (1988) dimana sekitar pada tahun 1950-an untuk pertama kalinya muncul suatu kelompok kaum cendekiawan yang tidak terikat dan bekerja di pinggir pinggir arena politik. Ketidakterikatan ini justru membuat mereka sangat antusias terhadap politik di Indonesia. Bahkan, tidak sedikit dari mereka (kaum cendekiawan yang tidak terikat) yang menjadi sumber pemikiran politik pada masa ini. Terdapat lima aliran pemikiran politik di Indonesia jika dilihat dari pembagian aliran pemikiran, yakni (1) nasionalisme radikal, (2) tradisionalisme jawa, (3) islma, (4) sosialisme demokratis, serta (5) komunisme (Feith dan Castles 1988, LIV). Menurut Ir. Soekarno (1964) terdapat tiga rumpun ideologi utama yang

menaungi seluruh organisasi politik di Indonesia yaitu, nasionalisme, islam , dan marxisme. Klasifikasi pemikiran politik dalam tiga golongan tersebut dikoalisikan oleh partai partai pro pemerintah yang disebut NASAKOM dibawah kepemimpinan demokrasi terpimpin. Namun pada saat pemilihan umum untuk pertama klainya di Indonesia yang diselenggarakan pada tahun 1955, terdapat empat partai besar yang menjulang tinggi di atas partai lainnya, yaitu PNI, partai reformis islam yaitu Masyumi, partai islam tradisional yaitu Nahdlatul Ulama, serta terakhir partai komunis yaitu PKI. Dimana kee mpat partai ideologis tersebut sangat menonjol dan telah mengakibatkan banyak orang berpikiran bahwa arena ideologi Indonesia terbagi ke dalam empat partai tersebut. Berdasarkan pemikiran Feith, bahwa dengan pembagian empat partai menjadi pembagian arena politik Indonesia tidaklah lengkap sehingga ia lebih kepada lima pembagian peimikiran politik Indonesia. Karena menurutnya, dua dari empat partai yang telah disebutkan sebelumnya dipengaruhi oleh lebih dari satu aliran politik, contonya saja Nahdlatul ulama yang tidak memperkembangkan konsep konsep yang berhubungan dengan politik modern sehingga para pemimpin partai ini cenderung mengandung aliran Masyumi. Akhirnya terdapat dua aliran lainnya yang juga penting, yaitu tradisionalisme jawa dan so sialisme demokratis, yang tidak secara khas terdapat di dalam salah satu keempat partai utama tersebut (Feith dan Castles 1988, LV). Aliran tradisionalisme jawa lebih dianggap sebagai pemikiran politik sendiri serta pemikiran yang kontroversi. Namun, ide ide dari aliran tradisionalisme jawa ini jelas ada dan memiliki pengaruh yang besar. PKI adalah golongan komunis di Indonesia dimana mengambil konsep konsep pemikiran barat. Kemudian PSI yang mewakili pemikiran sosialis demokratis di Indonesia sama mode rennya dengan PKI yang mengambil pemikiran orang orang barat, tetapi kurang mempengaruhi kalangan massa. Aliran nasionalisme radikal yang secara organisatoris diwakili oleh PNI, dimana partai tersebut menempati bagian terbesar dari wilayah tengah arena politik Indonesia. Konsep nasionalisme sebagai faktor persatuan yang dijunjung tinggi dan yang dapat mempersatukan rakyat telah dimiliki oleh kaum nasionalisme radikal semenjak tulisan Soekarno pada tahun 1926 mengenai nasionalisme, islam, dan marxisme. Pemikiran politik dalam periode ini bersifat moralis, bercirikan kecenderungan untuk melihat masyarakat sebagai tidak berbeda beda, dan pemikiran ini bersifat optimis (Feith dan Castles 1988, LX). Dikatakan bersifat moralis, menunjukkan fakta banhwa kebanyakan pemikir politik cenderung berpendapat bahwa tidak ada aspek politik yang termasuk daerah netral. Selain itu, politik jarang dianggap sebagai suatu bidang di mana terdapat banyak paradoks dan ironi. Sebagai contoh gejala, bahwa politik yan gbersifat otonom sering muncul sebelum manusia sempat mengembangkan suatu model budaya khas sebagai pegangan untuk memahami politik ini. Lalu pemikir politik Indonesia cenderung melihat masyarakatnya tidak terbagi dalam golongan yang memiliki kepentingan kepentingannya sendiri. Namun hanya terdapat pembagian yang bersifat saling

mengisi antara para pemimpin dengan rakyat. Terakhir mengenai pemikiran politik Indonesia yang cenderung bersifat optimis. Seperti salah satu bentuk optimis yang dilihat dari voluntarismeyang dianggap bahwa segala sesuatu akan tercapai jika dihadapi dngan pikiran yang jernih, mempunyai itikad baik, serta sadar akan adanya solidaritas persaudaraan. Anggapan anggapan tersebut sering dituangkan ke dalam keyakinan bahwa masalah masalah Indonesia akan terpecahkan dengan mudah.Indonesia Kesimpulannya, pemikir politik Indonesia merupakan hasil kreativitas para pemikir itu sendiri dimana usaha mereka mempertahankan pemikiran dengan perspektif para pendahulu mereka. Kemudian aspek aspek penting dari pemikiran politik Indonesia harus didekati melalui pendekatan sejarah, budaya, serta sosiologis kontemporer Indonesia.

PEMIKIRAN POLITIK INDONESIA

DI SUSUN OLEH: ANDI AHMAD ABDAU E11112263 ILMU POLITIK UNIVERSITAS HASANUDDIN 2014