Anda di halaman 1dari 42

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ASI eksklusif (menurut WHO) adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 6 bulan tanpa tambahan ataupun makanan lain. ASI eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja tanpa makanan dan minuman lain, ASI eksklusif dianjurkan sampai 6 bulan pertama kehidupan (Depkes RI, 2005). ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air, teh, dan air putih, serta tanpa tambahan makanan padat, seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim, kecuali vitamin dan mineral dan obat (Roesli, 2000). ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara ibu melalui proses menyusui. ASI adalah jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi baik fisik, psikologi, sosial maupun spiritual. ASI mengandung nutrisi, hormon, unsur kekebalan pertumbuhan, anti alergi, serta anti inflamasi. Nutrisi dalam ASI mencakup hampir 200 unsur zat makanan (Hubertin, 2004). ASI eksklusif memberikan banyak sekali manfaat untuk bayi, diantaranya ASI eksklusif dapat meningkatkan kualitas kesehatan, membantu proses pertumbuhan, dan perkembangan hidup bayi (Kasnodihardjo, 1998; Winarsih, 2004). ASI eksklusif juga berperan secara psikologis dengan cara meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan bayi, bayi juga akan merasa aman dan tentram. Hal tersebut sangat membantu perkembangan emosi bayi, sehingga membentuk pribadi yang percaya diri serta menjadi dasar spritual yang baik (Oetami Roesli, 2000). Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) hanya sekitar 35% anak-anak di dunia yang mendapatkan ASI eksklusif (www.ejhd.uib.no). UNICEF melaporkan bahwa persentase bayi yang mendapatkan ASI eksklusif di beberapa negara antara lain Asia Tenggara 45%, Asia Timur 32%, Timur Tengah 29%, Eropa Tengah 27%, dan Afrika 22%. (www.breastfeedingbasics.org). Data Susenas 2010 menunjukkan bahwa 61,5% bayi di Indonesia mendapatkan ASI eksklusif. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pencapaian di negara lain di Asia Tenggara. Sebagai perbandingan cakupan ASI eksklusif di India mencapai 46%, Phillippines 34,5%, Vietnam 27%, dan Myanmar 24%.

Di Indonesia, menurut hasil Survei Demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dilaporkan bahwa bayi di Indonesia rata-rata hanya mendapatkan asi eksklusif sampai 1,6 bulan. Sedangkan yang diberikan asi eksklusif sampai umur 4 5 bulan hanya 27%. Kondisi ini masih sangat jauh dari yang direkomendasikan dalam indikator Indonesia 2010 yaitu 80%. (Depkes RI, 2004). Menurut Pofil Data Kesehatan Indonesia Tahun 2011, cakupan pemberian ASI Ekslusif pada bayi umur 0 6 bulan mencapai 61,5%. Provinsi dengan pencapaian cakupan asi eksklusif tertinggi di Indonesia, yaitu Nusa Tenggara Barat 79,7%. Provinsi dengan pencapaian cakupan asi ekslusif terendah di Indonesia, yaitu Aceh 49,6%. Sebanyak 14 provinsi mempunyai pencapaian cakupan asi eksklusif dibawah angka pencapaian nasional 61,5% yaitu, Aceh (49,6%), Sumatera Utara (56,6%), Riau (57,5%), Bangka Belitung (54,9%), Kepulauan Riau (55,5%), Jawa Tengah (57,8%), Jawa Timur (49,7%), Banten (52,7%), Bali (50,2%), Kalimantan Barat (50,9%), Sulawesi Tengah (60,4%), Gorontalo (60,4%), Maluku Utara (61,3) dan Papua Barat (61,2%) (Depkes, 2011). Di Provinsi Riau, cakupan untuk bayi diberi ASI eksklusif tahun 2011 sebesar 45,9% menurun jika dibandingkan dengan tahun 2010 (52%) dan belum tercapai target Renstra 2011 (60%). Tetapi ada kabupaten sudah mencapai target yaitu Kabupaten Indragiri Hulu (60,1%), sedangkan Kab/Kota terendah pencapaiannya adalah Kab. Kuansing (29,7%). Sedangkan di Kabupaten Pelalawan cakupan bayi mendapat ASI eksklusif sebesar 40,1% (Dinkes Riau, 2011). Di Kabupaten Pelalawan, cakupan ASI eksklusif tahun 2013 sebesar 73,8%, dan belum mencapai target nasional 80%. Cakupan ASI eksklusif tertinggi dan sudah mencapai target adalah Kecamatan Teluk Meranti (82,5%), sedangkan cakupan ASI eksklusif terendah pencapaiannya adalah Kecamatan Kuala Kampar (45,8%) (Dinkes Pelalawan, 2013). Di Kecamatan Pangkalan Kerinci, cakupan ASI eksklusif pada tahun 2012 sebesar 70,4% dan meningkat pada tahun 2013 sebesar 73,5%. Cakupan ASI eksklusif tertinggi dan sudah mencapai target adalah desa Makmur (86,5%), namun pencapain ini masih belum merata karena masih ada wilayah yang pencapaiannya rendah dibandingkan wilayah lainnya yaitu desa Rantau Baru (60,5%) dan desa Kuala Terusan (50%). (Puskesmas Berseri Pangkalan Kerinci, 2013). Menyikapi permasalahan pentingnya pemberian ASI eksklusif pada bayi, pemerintah Indonesia telah menggalakkan program pemberian ASI eksklusif sejak tahun 1990 yang

dikenal dengan Gerakan Nasional Peningkatan Air Susu Ibu (PP-ASI). Sehubungan dengan itu telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan

No.450/MENKES/IV/2004 tentang pemberian ASI secara eksklusif pada bayi Indonesia (Depkes RI, 2005). Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Ibu-ibu yg tidak memberikan ASI eksklusif disebabkan oleh banyak faktor. Beberapa faktor yang mempengaruhi praktek pemberian ASI eksklusif antara lain berkaitan dengan pengetahuan ibu (Berg, 1986; Afriana, 2004), ibu yang bekerja (Wibowo, Februhartanty, Fahmida, Roshita; 2008), dan volume ASI (Kasnodihardjo, 1998). Selain itu, gencarnya promosi susu formula (Utomo, 1996; Judarwanto, 2006; Kasnodihardjo, 1998) serta faktor dukungan dari keluarga, masyarakat, dan tenaga medis (Utomo,1996; Februhartanty, 2008 ) juga berpengaruh terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Berdasarkan latar belakang diatas terlihat bahwa cakupan ASI eksklusif secara global, nasional bahkan tingkat kabupaten dan kecamatan masih dibawah target indikator nasional yaitu 80%. Dengan demikian dirasa perlu untuk dilakukannya analisa program cakupan ASI eksklusif dan analisa faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif. Analisis masalah secara menyeluruh dengan menganalisa kelemahan dan kekuatan yang dimiliki oleh program ASI eksklusif sebagai strategi untuk merealisasikan tujuan dan sebagai dasar perencanaan peningkatan program ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Pangkalan Kerinci.

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas, diketahuinya rumusan masalah: 1. Cakupan ASI eksklusif Tahun 2013 di Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci 73,5%, pencapaian tersebut masih dibawah target yang direkomendasikan dalam indikator Indonesia 2010 yaitu 80%. 2. Faktor faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif perlu dianalisa kembali untuk dijadikan strategi perencanaan dalam upaya peningkatan program ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Pangkalan Kerinci. 3. Belum adanya analisa yang mendeskripsikan tentang kelemahan, kekuatan, ancaman dan strategi yang dimiliki oleh program ASI eksklusif untuk diketahuinya perencanaan program yang baik terhadap penyelesaian masalah belum tercapainya target cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci.

C. Tujuan 1. Tujuan Umum Menganalisa data cakupan ASI eksklusif tahun 2012 2013 dan faktor-faktor yang diketahui menjadi penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif untuk mendeskripsikan kelemahan dan kekuatan program ASI eksklusif sebagai dasar strategi perencanaan peningkatan program ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Pangkalan Kerinci.

2. Tujuan Khusus a. Diketahuinya strategi peningkatan program ASI eksklusif berdasarkan jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif menurut kategori jenis kelamin di Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2012 2013 b. Diketahuinya strategi peningkatan program ASI eksklusif berdasarkan distribusi wilayah cakupan ASI eksklusif yang meliputi wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2012 2013 c. Diketahuinya strategi peningkatan program ASI eksklusif berdasarkan analisa masalah faktor-faktor peyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif d. Diketahuinya strategi peningkatan program ASI eksklusif berdasarkan analisa kelemahan, kekuatan, ancaman dan strategi dari masalah belum tercapainya cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Kecamatan Pangkalan Kerinci.

D. Manfaat 1. Bagi Puskesmas a. Mendapatkan informasi tentang analisa data cakupan ASI eksklusif yang menjadi dasar perencanaan peningkatan program ASI eksklusif di Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci b. Mengetahui faktor faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif sebagai dasar masalah tidak tercapainya target cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci c. Mendapatkan alternatif pemecahan masalah dari faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif untuk dijadikan pedoman program dalam upaya peningkatan program ASI eksklusif

d. Mendapatkan deskripsi tentang analisa kelemahan, kekuatan, ancaman dan strategi dari program ASI eksklusif untuk dijadikan dasar perencanaan dalam peningkatan mutu program dalam upaya mencapai target nasional cakupan ASI eksklusif e. Mendapatkan perencanaan program untuk meningkatkan kualitas kinerja tenaga kesehatan dan motivasi kader di Puskesmas dalam mendukung program ASI eksklusif sehingga kegiatan promosi ASI eksklusif dalam bentuk penyuluhan, konseling, maupun KIE-ASI lebih maksimal.

2. Bagi Masyarakat a. Mengetahui pengetahuan dan informasi tentang ASI eksklusif sehingga memberikan kesadaran dan motivasi bagi masyarakat dalam memberikan ASI eksklusif b. Mengetahui informasi tentang keuntungan pemberian ASI eksklusif dan kerugian pemberian susu formula c. Mengetahui informasi tentang manajemen laktasi dan cara-posisi menyusui yang benar sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri ibu untuk menyusui melalui persiapan menyusui ASI eksklusif d. Mengetahui pentingnya pemberian ASI eksklusif sehingga meningkatkan peran serta suami dan dukungan keluarga dalam mendukung, memotivasi dan membantu ibu untuk menyusui ASI eksklusif. e. Masyarakat akan mendapatkan pelayanan yang lebih baik di Puskesmas dengan adanya aplikasi perencanaan peningkatan program ASI eksklusif f. Sebagai media komunikasi, informasi dan edukasi tentang ASI eksklusif

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. ASI Eksklusif 1. Definisi ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja tanpa makanan dan minuman lain, ASI eksklusif dianjurkan sampai 6 bulan pertama kehidupan (Depkes RI, 2005). ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air, teh, dan air putih, serta tanpa tambahan makanan padat, seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim, kecuali vitamin dan mineral dan obat (Roesli, 2000). Menurut WHO, secara keseluruhan pemberian ASI eksklusif mencakup hal sebagai berikut, yaitu hanya ASI saja sampai umur enam bulan dimana menyusui dimulai 30 menit begitu setelah bayi lahir dan tidak memberikan makanan pre-lectal seperti air gula atau air tajin kepada bayi yang baru lahir. Menyusui sesuai kebutuhan bayi, memberikan kolostrum kepada bayi, menyusui sesering mungkin (tanpa jadwal), termasuk pemberian ASI pada malam hari dan cairan yang dibolehkan hanya vitamin atau mineral dan obat dalam bentuk drops atau sirup. ASI adalah satu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi baik fisik, psikologi, sosial maupun spiritual. ASI mengandung nutrisi, hormon, unsur kekebalan pertumbuhan, anti alergi, serta anti inflamasi. Nutrisi dalam ASI mencakup hampir 200 unsur zat makanan (Hubertin, 2004).

2. Komposisi ASI Eksklusif a. Komposisi Nutrisi ASI Eksklusif ASI mengandung sebagian besar air sebanyak 87,5%, oleh karena itu bayi yang mendapat cukup ASI tidak perlu mendapat tambahan air walaupun berada ditempat yang suhu udara panas. Kekentalan ASI sesuai dengan saluran cerna bayi, sedangkan susu formula lebih kental dibandingkan ASI. Hal tersebut yang dapat menyebabkan terjadinya diare pada bayi yang mendapat susu formula. Komposisi ASI yaitu : karbohidrat, protein, lemak,mineral,vitamin (Hubertin, 2004 ).

Di dalam ASI terdapat laktosa, laktosa ini merupakan karbohidrat utama dalam ASI yang berfungsi sebagai salah satu sumber makanan untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir dua kali lipat dibanding laktosa yang ditemukan pada susu formula. Kadar karbohidrat dalam kolostrum tidak terlalu tinggi, tetapi jumlahnya meningkat terutama laktosa pada ASI transisi (7-14 hari setelah melahirkan). Setelah melewati masa ini maka kadar karbohidrat ASI relatif stabil. (Badriul, 2008). Selain karbohidrat, ASI juga mengandung protein. Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein yang terdapat dalam susu formula. Protein dalam ASI dan susu formula terdiri dari protein whey dan casein. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein whey yang lebih mudah diserap oleh usus bayi, sedangkan susu formula lebih banyak mengandung protein casein yang lebih sulit dicerna oleh usus bayi. Jumlah casein yang terdapat di dalam ASI hanya 30%, dibanding susu formula yang mengandung protein dalam jumlah yang tinggi (80%) (Badriul, 2008). Disamping itu juga, ASI mempunnyai asam amino yang lengkap yaitu taurin. Taurin diperkirakan mempunyai peran pada perkembangan otak karena asam amino ini ditemukan dalam jumlah cukup tinggi pada jaringan otak yang sedang berkembang. ASI juga mengandung lemak, kadar lemak dalam ASI pada mulanya rendah Kemudian meningkat jumlahnya (Husaini, 2001). Lemak ASI berubah kadarnya setiap kali diisap oleh bayi yang terjadi secara otomatis. Selain jumlahnya yang mencukupi, jenis lemak yang ada dalam ASI mengandung lemak rantai panjang yang merupakan lemak kebutuhan sel jaringan otak dan sangat mudah dicerna serta mempunyai jumlah yang cukup tinggi. Dalam bentuk Omega 3, Omega 6, DHA (Docoso Hexsaconic Acid) dan Acachidonid acid merupakan komponen penting untuk bayi (Hubertin, 2004). Disamping karbohidrat, lemak, protein, ASI juga mengandung mineral, vitamin K, vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan vitamin yang larut dalam air. Hampir semua vitamin larut dalam air seperti vitamin B, asam folat, vitamin C terdapat dalam ASI. Makanan yang dikonsumsi ibu berpengaruh terhadap kadar vitamin ini dalam ASI. Kadar vitamin B1 dan B2 cukup tinggi dalam ASI tetapi kadar vitamin B6, B12 dan asam folat mungkin rendah pada ibu dengan gizi kurang (Badriul, 2008).

b. ASI menurut stadium laktasi Berdasarkan stadium laktasi, ASI dibagi dalam 3 bagian (King, 1985; Suraatmaja, 1997) yaitu: 1) Kolostrum Kolostrum merupakan caira pertama yang keluar dari kelenjar mamae mulai dari pertama sampai hari ketiga ataupun keempat, dimana volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam, berwarna lebih kekuningan dibandingkan susu matur. Kolostrum merupakan pencahar yang sangat ideal untuk membersihkan zat zat yang tidak terpakai di usus bayi yang baru lahir hingga akhirnya siap untuk menerima makanan yang akan datang. Kolostrum banyak mengandung protein dibandingkan susu matur. Tetapi selain itu, antibodi juga banyak terdapat dalam kolostrum sehingga memberikan perlindungan terhadap bayi hingga usia 6 bulan. Di dalam kolostrum kadar karbohidrat dan lemak jauh lebih rendah dibandingkan dengan susu matur namun kadar minealnya jauh lebih tinggi.

2) ASI masa transisi atau peralihan ASI transisi merupakan ASI peralihan dari kolostrum menjadi ASI matur, yang dikeluarkan mulai hari keempat sampai hari kesepuluh masa laktasi. Pada masa ini, kadar kolostrum makin rendah namun kadar protein dan lemak makin tinggi. Volume ASI transisi makin meningkat.

3) ASI matur ASI matur adalah ASI yang keluar pada hari kesepuluh sampai seterusnya dan volumenya relatif konstan. Merupakan cairan yang berwarna putih kekuningkuningan, mengandung faktor anti microbial dan tidak akan menggumpal jika dipanaskan. Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI yang cukup, ASI adalah makanan satu satunya yang cukup dan baik untuk pertumbuhan bayi hingga usia 6 bulan.

c. Faktor Kekebalan yang terdapat pada Komposisi ASI Di dalam ASI terdapat 2 macam kekebalan ( Santosa h, 1997; Ebrahim G J, 1986; Hayward, 1983 ) yaitu:

1) Faktor kekebalan non spesifik, yaitu : a) Faktor pertumbuhan lactobasilus bifidus Faktor ini sering disebut sebagai faktor bifidus, dimana banyak terdapat dalam kolostrum. Lactobasilus bifidus dalam usus bayi akan mengubah laktosa menjadi asam laktat dan asam asetat yang menyebabkan suasana menjadi semakin asam. Suasana asam ini akan menghambat pertumbuhan E.coli yang selalu meyebabkan diare pada bayi. b) Laktoferin Laktoferin mempunyai banyak persamaan dengan kerja trasferin yitu suatu protein yang mengikat Fe dalam darah. Namun selain itu Laktoferin juga menghambat pertumbuhan Candida albicans dan E.coli. c) Lisozim Lisozim adalah suatu substrat anti infeksi yang bekhasiat memecahkan dinding sel bakteri dari kuman kuman gram positif. d) Laktoperoksidase Laktoperoksidase merupakan suatu enzim yang bersama zat lain akan membunuh Streptokokus. 2) Faktor kekebalan spesifik, yaitu : a) Sistem komplemen ASI banyak mengandung komplemen C3 dan C4 ang dapat diaktifkan oleh antibodi yang terdapat dalam IgA susu. Komplemen yang sudah diaktifkan dapat bekerja menghancurkan sel bakteri dalam rongga usus. b) Khasiat seluler ASI mengandung berbagai macam sel, terutama makrofag 90 %, Limfosit dan Leukosit polimorfonuklear sedikit. Makrofag bersifat ameboid dan fagositik terhadap kuman kuman Stafilokokus, E.coli dan Candida albicans. Limfosit dalam ASI terdiri dari sel T dan sel B, dan ini aktif sebagai imunologik. c) Immunoglobulin

Di dalam ASI dijumpai semua macam immunoglobulin. IgA dengan konsentrasinya paling tinggi merupakan immunoglobulin yang paling penting dalam ASI karena berperan penting dalam fungsi biologis.

3. Manfaat ASI Eksklusif Komposisi ASI yang unik dan spesifik tidak dapat diimbangi oleh susu formula. Pemberian ASI tidak hanya bermanfaat bagi bayi tetapi juga bagi ibu yang menyusui. Manfaaat ASI bagi bayi antara lain; ASI sebagai nutrisi, ASI dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi, mengembangkan kecerdasan, dan dapat meningkatkan jalinan kasih sayang (Roesli, 2000). Manfaat ASI bagi bayi adalah sebagai nutrisi. ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang dan disesuaikan dengan pertumbuhan bayi. ASI adalah makanan bayi yang paling sempurna, baik kualitas dan kuantitasnya. Dengan tata laksana menyusui yang benar, ASI sebagai makanan tunggal akan cukup memenuhi kebutuhan tumbuh bayi normal sampai usia 6 bulan. Setelah usia 6 bulan, bayi harus mulai diberikan makanan padat, tetapi ASI dapat diteruskan sampai usia 2 tahun atau lebih. Negara-negara barat banyak melakukan penelitian khusus guna memantau pertumbuhan bayi penerima ASI eklslusif dan terbukti bayi penerima ASI eksklusif dapat tumbuh sesuai dengan rekomendasi pertumbuhan standar WHO-NCHS (Danuatmaja, 2003). Selain itu juga, ASI dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi. Dengan diberikan ASI berarti bayi sudah mendapatkan immunoglobulin (zat kekebalan atau daya tahan tubuh ) dari ibunya melalui plasenta, tetapi kadar zat tersebut dengan cepat akan menurun segera setelah kelahirannya. Badan bayi baru lahir akanmemproduksi sendiri immunoglobulin secara cukup saat mencapai usia sekitar 4 bulan. Pada saat kadar immunoglobulin bawaan dari ibu menurun yang dibentuk sendiri oleh tubuh bayi belum mencukupi, terjadilah suatu periode kesenjangan immunoglobulin pada bayi. Selain itu, ASI merangsang terbentuknya antibodi bayi lebih cepat. Jadi, ASI tidak saja bersifat imunisasi pasif, tetapi juga aktif. Suatu kenyataan bahwa mortalitas (angka kematian) dan mobiditas (angka terkena penyakit) pada bayi ASI eksklusif jauh lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapatkan ASI (Budiasih, 2008).

Disamping itu, ASI juga dapat mengembangkan kecerdasan bayi. Perkembangan kecerdasan anak sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan otak. Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan otak anak adalah nutrisi yang diterima saat pertumbuhan otak, terutama saat pertumbuhan otak cepat. Lompatan pertumbuhan atau growt spourt sangat penting karena pada inilah pertumbuhan otak sangat pesat. Kesempatan tersebut hendaknya dimanfaatkan oleh ibu agar pertumbuhan otak bayi sempurna dengan cara memberikan nutrisi dengan kualitas dan kuantitas optimal karena kesempatan itu bagi seorang anak tidak akan berulang lagi (Danuatmaja, 2003). Air susu ibu selain merupakan nutrient ideal, dengan komposisi tepat, dan sangat sesuai kebutuhan bayi, juga mengandung nutrient-nutrien khusus yang sangat diperlukan pertumbuhan optimal otak bayi. Nutrient-nutrient khusus tersebut adalah taurin, laktosa, asam lemak ikatan panjang (Danuatmaja, 2003). Kemudian yang terakhir adalah ASI dapat menjalin kasih sayang. Bayi yang sering berada dalam dekapan ibunya karena menyusui, dapat merasakan kasih sayang ibu dan mendapatkan rasa aman, tenteram, dan terlindungi. Perasaan terlindungi dan disayangi inilah yang menjadi dasar perkembangan emosi bayi, yang kemudian membentuk kepribadian anak menjadi baik dan penuh percaya diri (Ramaiah, 2006). Bagi ibu, manfaat menyusui itu dapat mengurangi perdarahan setelah melahirkan. Apabila bayi disusui segera setelah dilahirkan maka kemungkinan terjadinya perdarahan setelah melahirkan (post partum) akan berkurang (Siswono 2001). Karena pada ibu menyusui terjadi peningkatan kadar oksitosin yang berguna juga untuk

konstriksi/penutupan pembuluh darah sehingga perdarahan akan lebih cepat berhenti. Hal ini akan menurunkan angka kematian ibu yang melahirkan. Selain itu juga, dengan menyusui dapat menjarangkan kehamilan pada ibu karena menyusui merupakan cara kontrasepsi yang aman, murah, dan cukup berhasil. Selama ibu memberi ASI eksklusif 98% tidak akan hamil pada 6 bulan pertama setelah melahirkan dan 96% tidak akan hamil sampai bayi merusia 12 bulan (Glasier, 2005). Disamping itu, manfaat ASI bagi ibu dapat mengurangi terjadinya kanker. Beberapa penelitian menunjukan bahwa menyusui akan mengurangi kemungkinan terjadinya kanker payudara. Pada umumnya bila semua wanita dapat melanjutkan menyusui sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih, diduga angka kejadian kanker payudara akan berkurang sampai sekitar 25%. Beberapa penelitian menemukan juga bahwa menyusui akan

melindungi ibu dari penyakit kanker ovarium. Salah satu dari penelitian ini menunjukan bahwa risiko terkena kanker ovarium pada ibu yang menyusui berkurang sampai 20-25%. Selain itu, pemberian ASI juga lebih praktis, ekonomis, murah, menghemat waktu dan memberi kepuasan pada ibu (Maulana, 2007). B. Praktek Pemberian ASI Eksklusif 1. Langkah-langkah menyusui yang benar (Suradi, 2004) a. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada putting susu dan aroela sekitarnya b. Bayi diletakkan menghadap perut atau payudara 1) Ibu duduk atau berbaring santai. Bila duduk lebih baik menggunakan kursi yang rendah agar kaki ibu tidak tergantung dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi 2) Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siku ibu dan bokong bayi terletak pada lengan. Kepala bayi tidak boleh tertengadah dan bokong bayi ditahan dengan tangan ibu 3) 4) 5) 6) Satu tangan bayi diletakkan dibelakang badan ibu dan yang satunya di depan Perut bayi menempel badan ibu, kepala bayi menghadap payudara Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus Ibu menatap bayi dengan kasih saying

c. Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari lain menopang dibawah. Jangan menekan putting susu atau areolanya saja d. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut dengan cara: 1) 2) Menyentuh pipi bayi dengan puting susu Menyentuh sisi mulut bayi

e. Setelah bayi membuka mulut dan mulai mengisap, payudara tidak perlu dipegang atau disangga lagi.

2. Lama dan Frekuensi Meyusui Menurut Khasanah (2011) sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwalkan, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan disetiap saat bayi membutuhkan karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan atau kedingina, atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat

mengosongkan satu payudara sekitar 5 7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1 sampai 2 minggu kemudian. Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Bila sering disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI. Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali menyusui sampai payudara terasa kosong agar produksi ASI menjadi lebih baik. Setiap kali menyusui dimulai dengan payudara yang terakhir kali disusukan. Selama masa menyusui sebaiknya ibu memakai bra yang dapat menyangga payudara tetapi tidak terlalu ketat.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketidakberhasilan Pemberian ASI Eksklusif Alasan ibu untuk tidak menyusui terutama yang secara eksklusif sangat bervariasi. Namun yang sering diungkapkan sebagai berikut (Danuatmaja, 2003). 1. Faktor Internal a. Ketersediaan ASI Hal-hal yang dapat mengurangi produksi ASI adalah 1) tidak melakukan inisiasi menyusu dini 2) menjadwal pemberian ASI 3) memberikan minuman prelaktal (bayi diberi minum sebelum ASI keluar ), apalagi memberikannya dengan botol/dot 4) kesalahan pada posisi dan perlekatan bayi pada saat menyusui (Badriul, 2008 ). Inisiasi menyusui dini adalah meletakkan bayi diatas dada atau perut ibu segera setelah dilahirkan dan membiarkan bayi mencari puting ibu kemudian menghisapnya setidaknya satu jam setelah melahirkan. Cara bayi melakukan inisiasi menyusui dini disebut baby crawl. Karena sentuhan atau emutan dan jilatan pada puting ibu akan merangsang pengeluaran ASI dari payudara. Dan apabila tidak melakukan inisiasi menyusui dini akan dapat mempengaruhi produksi ASI (Maryunani, 2009). Ibu sebaiknya tidak menjadwalkan pemberian ASI. Menyusui paling baik dilakukan sesuai permintaan bayi (on demand) termasuk pada malam hari, minimal 8 kali sehari. Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh seringnya bayi menyusui. Makin jarang bayi disusui biasanya produksi ASI akan berkurang. Produksi ASI juga dapat

berkurang bila menyusui terlalu sebentar. Pada minggu pertama kelahiran sering kali bayi mudah tertidur saat menyusui. Ibu sebaiknya merangsang bayi supaya tetap menyusui dengan cara menyentuh telinga/telapak kaki bayi agar bayi tetap menghisap (Badriul, 2008). Seringkali sebelum ASI keluar bayi sudah diberikan air putih, air gula, air madu, atau susu formula dengan dot. Seharusnya hal ini tidak boleh dilakukan karena selain menyebabkan bayi malas menyusui, bahan tersebut mungkin menyebabkan reaksi intoleransi atau alergi. Apabila bayi malas menyusui maka produksi ASI dapat berkurang, karena semakin sering menyusui produksi ASI semakin bertambah (Danuatmaja, 2003). Meskipun menyusui adalah suatu proses yang alami, juga merupakan keterampilan yang perlu dipelajari. Ibu seharusnya memahami tata laksana laktasi yang benar terutama bagaimana posisi menyusui dan perlekatan yang baik sehingga bayi dapat menghisap secara efektif dan ASI dapat keluar dengan optimal. Banyak sedikitnya ASI berhubungan dengan posisi ibu saat menyusui. Posisi yang tepat akan mendorong keluarnya ASI dan dapat mencegah timbulnya berbagai masalah dikemudian hari (Cox, 2006).

b. Pekerjaan /aktivitas Pekerjaan adalah suatu kegiatan atau aktivitas seseorang untuk mendapatkan penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Wanita yang bekerja seharusnya diperlakukan berbeda dengan pria dalam hal pelayanan kesehatan terutuma karena wanita hamil, melahirkan, dan menyusui. Padahal untuk meningkatkan sumber daya manusia harus sudah sejak janin dalam kandungan sampai dewasa. Karena itulah wanita yang bekerja mendapat perhatian agar tetap memberikan ASI eksklusif sampai 6 bulan dan diteruskan sampai 2 tahun (pusat kesehatan kerja Depkes RI,2005). Beberapa alasan ibu memberikan makanan tambahan yang berkaitan dengan pekerjaan adalah tempat kerja yang terlalu jauh, tidak ada penitipan anak, dan harus kembali kerja dengan cepat karena cuti melahirkan singkat (Mardiati, 2006). Cuti melahirkan di Indonesia rata-rata tiga bulan. Setelah itu, banyak ibu khawatir terpaksa memberi bayinya susu formula karena ASI perah tidak cukup. Bekerja bukan alasan untuk tidak memberikan ASI eksklusif, karena waktu ibu

bekerja bayi dapat diberi ASI perah yang diperah minimum 2 kali selama 15 menit. Yang dianjurkan adalah mulailah menabung ASI perah sebelum masuk kerja. Semakin banyak tabungan ASI perah, seamakin besar peluang menyelesaikan program ASI eklusif (Danuatmaja, 2003). c. Pengetahuan Menurut Notoadmojo (2007) pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Pengetahuan akan memberikan pengalaman kepada ibu tentang cara pemberian ASI eksklusif yang baik dan benar yang juga terkait dengan masa lalunya. Dalam hal ini perlu ditumbuhkan motivasi dalam dirinya secara sukarela dan penuh rasa percaya diri untuk mampu menyusui bayinya. Pengalaman ini akan memberikan pengetahuan, pandangan dan nilai yang akan menberi sikap positif terhadap masalah menyusui (Erlina, 2008). Akibat kurang pengetahuan atau informasi, banyak ibu menganggap susu formula sama baiknya, bahkan lebih baik dari ASI . Hal ini menyebabkan ibu lebih cepat memberikan susu formula jika merasa ASI kurang atau terbentur kendala menyusui. Masih banyak pula petugas kesehatan tidak memberikan informasi pada ibu saat pemeriksaan kehamilan atau sesudah bersalin (Prasetyono, 2005). Untuk dapat melaksanakan program ASI eksklusif , ibu dan keluarganya perlu menguasai informasi tentang fisiologis laktasi, keuntungan pemberian ASI,

kerugian pemberian susu formula, pentingnya rawat gabung,cara menyusui yang baik dan benar, dan siapa harus dihubungi jika terdapat keluhan atau masalah seputar menyusui. d. Kelainan pada payudara Tiga hari pasca persalinan payudara sering terasa penuh, tegang, dan nyeri. Kondisi ini terjadi akibat adanya bendungan pada pembuluh darah di payudara sebagai tanda ASI mulai banyak diproduksi. Tetapi, apabila payudara merasa sakit pada saat menyusui ibu pasti akan berhenti memberikan ASI padahal itu

menyebabkan payudara mengkilat dan bertambah parah bahkan ibu bisa menjadi demam (Roesli, 2000).

Jika terdapat lecet pada puting itu terjadi karena beberapa faktor yang dominan adalah kesalahan posisi menyusui saat bayi hanya menghisap pada puting. Padahal seharusnya sebagian besar areola masuk kedalam mulut bayi. Puting lecet juga dapat terjadi pada akhir menyusui, karena bayi tidak pernah melepaskan isapan. Disamping itu, pada saat ibu membersihkan puting menggunakan alkohol dan sabun dapat menyebabkan puting lecet sehingga ibu merasa tersiksa saat menyusui karena sakit (Maulana, 2007). e. Kondisi kesehatan ibu Kondisi kesehatan ibu juga dapat mempengaruhi pemberian ASI secara eksklusif. Pada keadaan tertentu, bayi tidak mendapat ASI sama sekali, misalnya dokter melarang ibu untuk menyusui karena sedang menderita penyakit yang dapat membahayakan ibu atau bayinya, seperti penyakit Hepatitis B, HIV/AIDS, sakit jantung berat, ibu sedang menderita infeksi virus berat, ibu sedang dirawat di Rumah Sakit atau ibu meninggal dunia (Pudjiadi, 2001). Faktor kesehatan ibu yang menyebabkan ibu memberikan makanan tambahan pada bayi 0-6 bulan adalah kegagalan menyusui dan penyakit pada ibu. Kegagalan ibu menyusui dapat disebakan karena produksi ASI berkurang dan juga dapat disebabkan oleh ketidakpuasan menyusui setelah lahir karena bayi langsung diberi makanan tambahan.

2.

Faktor Eksternal a. Faktor Dukungan dan Motivasi dari Keluarga, Masyarakat dan Tenaga Kesehatan 1) Dukungan dan motivasi suami dan keluarga Dukungan dari keluargaa merupakan faktor pendukung yang pada prinsipnya adalah bersifat emosional maupun psikologis kepada ibu dalam memberikan ASI. ( Roesli, 2001 ). Di Indonesia, mengidentifikasi keyakinan ibu untuk menyusui (self efficacy) dan lingkungan rumah, terutama dukungan dari suami, merupakan faktor yang mempengaruhi menyusui eksklusif pada ibu bekerja maupun pada ibu yang tidak bekerja (Wibowo, Februhartanty, Fahmida, Roshita, 2008). Pada tingkat kelompok, berbagai penelitian telah mengidentifikasi peran suami sebagai salah satu faktor yang berhubungan dengan perilaku menyusui ibu

(Februhartanty, 2008; Littman, Medendorp, Goldfarb, 1994; Pisacane, Continisio GI, Aldimucci, DAmora, Continisio P, 2005). Seorang ibu yang tidak pernah mendapatkan nasehat atau penyuluhan tentang ASI dari keluarganya dapat mempengaruhi sikapnya ketika ia harus menyusui sendiri bayinya. Hubungan harmonis dalam keluarga akan sangat mempengaruhi lancarnya proses laktasi. ( Lubis, 2000 ). 2) Masyarakat Penelitian lain menyatakan jaringan sosial ibu merupakan faktor yang mempengaruhi (Humphreys, Thompson, Miner, 1998). Penelitian di Meksiko juga menemukan hubungan antara konseling kelompok sebaya (peer counseling) dengan durasi menyusui karena semakin sering ibu menerima kunjungan konselor sebaya, semakin lama ia akan menyusui bayinya (Morrow et al., 1999). Melalui penelitian kualitatif mengenai menyusui di Inggris menyebutkan bahwa ada ibu yang menganggap kegiatan menyusui sebagai sesuatu yang tidak nyaman untuk dilakukan di depan umum dan merupakan suatu hal yang tidak cocok dengan budaya barat yang modern sehingga memilih untuk memberikan susu formula kepada bayinya (Earle, 2002). Ini menunjukkan bahwa norma dan budaya yang berlaku di suatu masyarakat dapat mempengaruhi keputusan ibu (Earle, 2002). 3) Tenaga Kesehatan Program laktasi adalah suatu program multidepartemental yang melibatkan bagian yang terkait, agar dihasilkan suatu pelayanan yang komprehensif dan terpadu bagi ibu yang menyusui sehingga promosi ASI secara aktif dapat dilakukan tenaga kesehatan. Dalam hal ini sikap dan pengetahuan petugas kesehatan adalah faktor penentu kesiapan petugas dalam mengelola ibu menyusui. Selain itu sistem pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan juga mempengaruhi kegiatan menyusui (Arifin, 2004). Perilaku tenaga kesehatan biasanya ditiru oleh masyarakat dalam hal perilaku sehat. Promosi ASI eksklusif yang optimal dalam setiap tumbuh kembangnya sangatlah penting untuk mendukung keberhasilan ibu dalam menyusui bayinya (Elza, 2008). Selain itu adanya sikap ibu dari petugas kesehatan baik yang berada

di klinis maupun di masyarakat dalam hal menganjurkan masyarakat agar menyusui bayi secara eksklusif pada usia 0-6 bulan dan dilanjutkan sampai 2 tahun dan juga meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam hal memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang luas (Erlina, 2008).

b. Kondisi kesehatan bayi Kondisi kesehatan bayi juga dapat mempengaruhi pemberian ASI secara eksklusif. Bayi diare tiap kali mendapat ASI, misalnya jika ia menderita penyakit bawaan tidak dapat menerima laktosa, gula yang terdapat dalam jumlah besar pada ASI (Pudjiadi, 2001). Faktor kesehatan bayi adalah salah satu faktor yang dapat menyebabkan ibu memberikan makanan tambahan pada bayinya antara lain kelainan anatomik berupa sumbing pada bibir atau palatum yang menyebakan bayi menciptakan tekanan negatif pada rongga mulut, masalah organik, yaitu prematuritas, dan faktor psikologis dimana bayi menjadi rewel atau sering menangis baik sebelum maupun sesudah menyusui akibatnya produksi ASI ibu menjadi berkurang karena bayi menjadi jarang disusui (Soetjiningsih, 1997) c. Pengganti ASI (PASI) atau susu formula Meskipun mendapat predikat The Gold Standard, makanan paling baik, aman, dan satu dari sedikit bahan pangan yang memenuhi kriteria pangan berkelanjutan (terjangkau, tersedia lokal dan sepanjang masa, investasi rendah). Sejarah menunjukkan bahwa menyusui merupakan hal tersulit yang selalu mendapat

tantangan, terutama dari kompetitor utama produk susu formula yang mendisain susu formula menjadi pengganti ASI (YLKI, 2005). Seperti di Indonesia sekitar 86% yang tidak berhasil memberikan ASI eksklusif karena para ibu lebih memilih memberikan susu formula kepada bayinya. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya penggunaan susu formula lebih dari 3x lipat selama 5 tahun dari 10,8% pada tahun 1997 menjadi 32,5% tahun 2002 (Depkes,2006). Masyarakat lebih banyak memilih susu formula ketimbang ASI karena imingimingnya: membuat anak sehat dan cerdas. Iklan-iklannya terus diulang di media cetak maupun elektronik. Jelas, akan membuat para orangtua memilih membeli susu

formula yang sebenarnya berisiko tinggi bagi perkembangan bayi. Gencarnya gerakan kembali ke ASI masih kalah jauh dibanding gencarnya promosi susu formula. d. Keyakinan Kebiasaan memberi air putih dan cairan lain seperti teh, air manis, dan jus kepada bayi menyusui dalam bulan-bulan pertama umum dilakukan. Kebiasaan ini seringkali dimulai saat bayi berusia sebulan. Riset yang dilakukan di pinggiran kota Lima, Peru menunjukkan bahwa 83% bayi menerima air putih dan teh dalam bulan pertama. Penelitian di masyarakat Gambia, Filipina, Mesir, dan Guatemala melaporkan bahwa lebih dari 60% bayi baru lahir diberi air manis dan/atau teh. Nilai budaya dan keyakinan agama juga ikut mempengaruhi pemberian cairan sebagai minuman tambahan untuk bayi. Dari generasi ke generasi diturunkan keyakinan bahwa bayi sebaiknya diberi cairan. Air dipandang sebagai sumber kehidupan, suatu kebutuhan batin maupun fisik sekaligus (LINKAGES, 2002).

D. Program ASI Eksklusif di Indonesia Pemerintah indonesia mendukung kebijakan WHO dan UNICEF yang

merekomendasikan inisiasi menyusu dini sebagai tindakan penyelamatan kehidupan, karena inisiasi menyusu dini dapat menyelamatkan 22% dari bayi meninggal sebelum usia satu bulan. Menyusui satu jam pertama kehidupan yang diawali dengan kontak kulit antara ibu dan bayi dinyatakan sebagai indikator global. Ini merupakan hal baru bagi Indonesia, dan merupakan program pemerintah, sehingga diharapkan semua tenaga kesehatan di semua tingkatan pelayanan kesehatan baik swasta maupun masyarakat dapat mensosialisasikan dan melaksanakan mendukung suksesnya program tersebut, sehingga diharapkan akan tercapai sumber daya Indonesia yang berkualitas. Pada tanggal 7 April 2004 Departemen Kesehatan RI mengeluarkan ketetapan mengenai pemberian ASI eksklusif bagi bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan. Ketetapan ini dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 250/Menkes/SK/IV/2004. Dianjurkan memberikan ASI sampai usia 2 tahun diikuti pemberian makanan tambahan yang sesuai. Sebelumnya Departemen Kesehatan RI telah mengeluarkan SK Menkes No 237/Menkes/SK/IV/1997 yang berisi anjuran pemberian ASI eksklusif kepada bayi sampai berumur 4 bulan dan dianjurkan untuk menyusui sampai usia 2 tahun.

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

melalui

peraturan

nomor

450/Menkes/SKN/2004 mengajak Bangsa Indonesia melaksanakan pemberian hanya ASI saja selama 6 bulan kehidupan bayi dapat dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun (Nuchsan Umar Lubis, Cermin Dunia Kedokteran 168 vol. 36 no. 2 Maret-April 2009). Berdasarkan SK Menkes yang mengajak dan mendukung ASI eksklusif, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hingga kini terus menggalakkan program pemberian ASI eksklusif melalui peningkatan kapasitas petugas kesehatan baik pemerintah maupun swasta melalui program konseling menyusui. Program tersebut dilaksanakan dengan berbagai dukungan lembaga swadaya masyarakat, juga tim penggerak PKK, untuk terus menggalakkan program ASI eksklusif. (www.depkominfo.go.id). Untuk menggalakkan program pemberian ASI eksklusif, sejak Deklarasi akbar 1001 ibu hamil untuk melakukan inisiasi menyusu dini (IMD), Pemprov. DKI Jakarta melakukan program peningkatan kapasitas petugas kesehatan dalam konseling menyusui dan pemodelan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui, khususnya di Jakarta Utara (www.depkominfo.go.id): yaitu 1) Sarana pelayanan kesehatan mempunyai kebijakan tentang penerapan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui dan melarang promosi PASI, 2) Sarana pelayanan kesehatan melakukan pelatihan untuk staf sendiri atau lainnya 3) Menyiapkan ibu hamil untuk mengetahui manfaat ASI dan langkah keberhasilan menyusui, Memberikan konseling apabila ibu penderita infeksi HIV positif, 4) melakukan kontak dan menyusui dini bayi baru lahir (1/2 - 1 jam setelah lahir), 5) Membantu ibu melakukan teknik menyusui yang benar (posisi peletakan tubuh bayi dan pelekatan mulut bayi pada payudara, 6) Hanya memberikan ASI saja tanpa minuman pralaktal sejak bayi lahir, 7) Melaksanakan rawat gabung ibu dan bayi, 8) Melaksanakan pemberian ASI sesering dan semau bayi, 9) Tidak memberikan dot/ kempeng, 10) Menindak lanjuti ibubayi setelah pulang dari sarana pelayanan kesehatan (www.idai.co.id).

BAB III METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian Dalam merumuskaan perencanaan strategi dan untuk pengembangaan mutu pelayaanan, maka dilakukan analisis program cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci dengan menggunakan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat) dengan pendekatan deskriptif kualitatif matriks SWOT, melakukan wawancara terhadap pemegang program ASI eksklusif dan responden, dan dilakukannya analisa studi kepustakaan. Analisis SWOT 1. Definisi Analisi SWOT Analisis SWOT adalah analisis kondisi internal maupun eksternal suatu organisasi yang selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk merancang strategi dan program kerja. Analisis internal meliputi penilaian terhadap faktor kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness), dan analisis eksternal meliputi faktor peluang (opportunity) dan tantangan (threat).

2. Pendekatan kualitatif matriks SWOT Pendekatan kualitatif matriks SWOT sebagaimana dikembangkan oleh Kearns menampilkan delapan kotak, yaitu dua paling atas adalah kotak faktor eksternal (peluang dan tantangan) sedangkan dua kotak sebelah kiri adalah faktor internal (kekuatan dan kelemahan). Empat kotak lainnya merupakan kotak isu-isu strategis yang timbul sebagai hasil titik pertemuan antara faktor-faktor internal dan eksternal. Matriks SWOT Kearns Opportunity Strenght Weakness Sumber: Hisyam, 2008 Comparative advantage Divestement Treaths Mobilization Damage control

Keterangan: Sel A : Comparative Advantage Sel ini merupakan pertemuan dua elemen kekuatan dan peluang sehingga memberikan kemungkinan bagi suatu program untuk bisa meningkatkan mutu pelayanan lebih cepat. Sel B : Mobilization Sel ini merupakan interaksi antara ancaman dan kekuatan. Disini harus dilakukan upaya mobilisasi sumber daya yang merupakan kekuatan program untuk memperkecil ancaman dari luar tersebut, bahkan kemudian merubah ancaman itu menjadi sebuah peluang. Sel C : Divestment atau Investment Sel ini merupakan interaksi antara kelemahan program dan peluang dari luar. Situasi seperti ini memberikan suatu pilihan pada situasi yang kabur. Peluang yang tersedia sangat meyakinkan namun tidak dapat dimanfaatkan karena kekuatan yang ada tidak cukup untuk melakukannya. Pilihan keputusan yang diambil adalah melepas peluang yang ada untuk dimanfaatkan oleh program lain) atau memaksakan menggunakan peluang tersebut. Sel D: Damage Control Sel D merupakan kondisi yang paling lemah dari semua sel karena merupakan pertemuan antara kelemahan program dengan ancaman dari luar, dan karenanya keputusan yang salah akan membawa dampak yang buruk untuk program tersebut. Strategi yang harus diambil adalah damage control (mengendalikan kerugian) sehingga tidak lebih parah dari apa yang diperkirakan.

B. Analisis Masalah Dari data pelaporan tahunan Puskesmas Berseri Pangkalan Kerinci tahun 2013 dapat diketahui bahwa program cakupan ASI eksklusif belum mencapai target yang telah ditetapkan dalam indikator pencapaian nasional.

Masalah belum tercapainya target cakupan ASI eksklusif perlu disusun alternatif pemecahan masalahnya dengan terlebih dahulu menggali penyebab dari masalah tersebut. Menurut kerangka teori kepustakaan faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakberhasilan ASI eksklusif adalah: a. Kondisi Ibu dan bayi: proses ibu melahirkan (normal atau caesar), kesehatan dan status giz ibu, usia ibu saat hamil dan melahirkan, paritas ibu, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, kondisi bayi serta kemampuan dan kemauan bayi mengisap putting susu ibu. b. Kesadaran ibu: rasa percaya diri, pengetahuan atau pendidikan ibu mengenai ASI eksklusif, serta adanya pengaruh dari luar seperti dukungan keluarga dan lingkungan. c. Tenaga kesehatan: kinerja tenaga kesehatan dalam manajemen laktasi, kuantitas tenaga kesehatan dalam program gizi, cakupan pelaksanaan program gizi ASI eksklusif, dan peran aktif kader. d. Kader: kinerja dan motivasi kader. Penyebab belum tercapainya target cakupan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci, tergambar dalam diagram kerangka teori dibawah ini:

Kerangka teori penyebab rendahnya cakupan ASI eksklusif

C. Ruang Lingkup Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitiaan dilakukan di posyandu wilayah kerja Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci

2. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan terhitung sejak bulan Desember 2013 Januari 2014.

3. Sasaran penelitian Sasaran penelitian ini adalah seluruh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci, dan ibu ibu yang mempunyai anak bayi sebagai populasi target. Jumlah penduduk di Kecamatan Pangkalan Kerinci adalah 85.947 orang dengan jumlah penduduk laki-laki 45.033 dan jumlah penduduk perempuan 40.914 orang. Sementara jumlah bayi 0 6 bulan berjumlah 875 bayi dengan jumlah bayi laki-laki 458 dan bayi perempuan 417 sebagai populasi data. Responden pada penelitian adalah ibu-ibu yang memiliki bayi berusia 0 6 bulan yang datang ke posyandu. Sebagai responden ahli yang mengetahui permasalahan dan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan permasalahan penelitian dan yang mempunyai wewenang dalam merumuskan strategi perencanaan peningkatan mutu program adalah pemegang program ASI eksklusif di Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci.

D. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang bersifat kualitatif maupun yang bersifat kuantitatif. a. Data kualitatif merupakan data yang dinyatakan tidak dalam bentuk angka angka yang dapat dihitung besarannya. Data kualitatif dalam penelitian ini adalah

hasil wawancara dengan pemegang program ASI eksklusif dan hasil wawancara dengan responden ASI eksklusif serta data kepustakaan. b. Data kuantitatif merupakan data yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka yang dapat dihitung besarannya. Data kuantitatif dalam penelitian ini adalah data cakupan ASI eksklusif dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan dan data dari pelaporan tahunan di Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2012 2013.

2. Sumber Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersumber dari data primer dan data sekunder. a. Data primer, adalah data yang langsung diperoleh dari sumber data pertama dari lokasi penelitian yaitu hasil observasi dengan memberikan daftar pertanyaan berupa lembaran wawancara dengan pemegang program ASI eksklusif dan responden ASI eksklusif di posyandu wilayah kerja Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci. b. Data sekunder, adalah data yang diperoleh bukan dari sumber langsung tetapi data yang telah dikumpulkan oleh suatu instansi. Instansi yang dimaksud adalah Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan, Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci dan data dari studi kepustakaan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data cakupan ASI eksklusif dan data faktor faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif.

E. Instrument Penelitian Untuk membantu mendapatkan data, dalam penelitian ini digunakan instrument penelitian berupa lembar wawancara yang berisi daftar pertanyaan yang berkaitan dengan faktor faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif.

F. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang relevan, akurat dan mampu menjawab permasalahan secara objectif, maka digunakan beberapa teknik pengumpulan data yang sesuai dengan

sifat dan jenis data yang ada. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam (deep interview). Wawancara mendalam (deep interview) yaitu memperoleh keterangan dengan melakukan tanya jawab secara bertatap muka dengan informan yang mengetahui hal-hal yang mempengaruhi ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif dan permasalahan program cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci. Wawancara yang dilakukan yaitu wawancara mendalam dan berstuktur dengan menggunakan daftar pertanyaan yang sudah disiapkan sebagai instrument. Kemudian dari hasil wawancara itu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan lain untuk menggali informasi sehingga data dan informasi yang diperoleh lengkap serta tingkat validitasnya dapat dipertanggungjawabkan.

G. Penyajian Hasil Analisis Data Penyajian hasil analisis data dilakukan secara informal (dalam bentuk naratif) dan formal (dalam bentuk tabel dan grafik). Penyajian dalam bentuk naratif untuk mendeskripsikan pembahasan mengenai cakupan ASI eksklusif dan faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif sehingga diperoleh suatu gambaran lengkap dari permasalahan program ASI eksklusif. Penyajian formal dilakukan untuk mendeskripsikan cakupan ASI eksklusif dan strategi perencanaan dalam upaya peningkatan program ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Pangkalan Kerinci. Dalam penelitian ini akan mempergunakan analisis SWOT yang hasil analisisnya disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif matriks SWOT, dan data cakupan ASI eksklusif disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Analisis data cakupan ASI eksklusif berdasarkan jenis kelamin di Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2012-2013 Tabel 1. Jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif menurut jenis kelamin di Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2012
JUMLAH BAYI NO WILAYAH KERJA L P 192 167 31 28 14 2 4 438 L+P 320 278 52 47 23 4 6 730 96 69 16 18 5 1 1 206 JUMLAH BAYI ASI EKSKLUSIF L % 75,0 62,2 76,2 94,7 55,6 50,0 50,0 70,5 144 104 24 26 7 1 2 308 P % 75,0 62,3 77,4 92,9 50,0 50,0 50,0 70,3 240 173 40 44 12 2 3 514 L+P % 75,0 62,2 76,9 93,6 52,2 50,0 50,0 70,4 65,7

1 2 3 4 5 6 7

Kel. Kerinci Kota Kel. Kerinci Timur Kel. Kerinci Barat Desa Makmur Desa Mekar Jaya Desa Kuala Terusan Desa Rantau Baru
JUMLAH (KAB/KOTA)

128 111 21 19 9 2 2 292

Sumber: Data Program ASI Eksklusif Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci

Tabel 2. Jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif menurut jenis kelamin di Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2013
JUMLAH BAYI NO WILAYAH KERJA L P 161 182 28 27 13 2 3 416 L+P 335 385 60 56 27 4 7 874 133 135 25 27 11 2 2 335 JUMLAH BAYI ASI EKSKLUSIF L % 76,4 66,5 78,1 93,1 78,6 100 50,0 73,1 130 122 25 22 12 0 2 313 P % 80,7 67,0 92,6 81,5 92,3 0,0 66,7 75,2 263 257 50 49 23 2 4 648 L+P % 79 67 85,5 86,5 86,5 50,0 60,5 73,5 78,5 66,7 83,3 87,5 85,2 50,0 57,1 74,1

1 2 3 4 5 6 7

Kel. Kerinci Kota Kel. Kerinci Timur Kel. Kerinci Barat Desa Makmur Desa Mekar Jaya Desa Kuala Terusan Desa Rantau Baru
JUMLAH (KAB/KOTA)

174 203 32 29 14 2 4 458

Sumber: Data Program ASI Eksklusif Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci

Grafik 1. Jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif menurut jenis kelamin di Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2012
100 80 60 40 20 0 Kerinci Kota Kerinci Timur Kerinci Barat Makmur Mekar Jaya Kuala Terusan Rantau Baru Laki-Laki Perempuan

Sumber: Data Program ASI Eksklusif Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci

Grafik 2. Jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif menurut jenis kelamin di Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2013
120 100 80 60 40 20 0 Kerinci Kota Kerinci Timur Kerinci Barat Makmur Mekar Jaya Kuala Terusan Rantau Baru Laki-Laki Perempuan

Sumber: Data Program ASI Eksklusif Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci

B. Analisis data cakupan ASI eksklusif berdasarkan distribusi wilayah kerja Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2013 Tabel 3. Cakupan ASI eksklusif berdasarkan distribusi wilayah kerja Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2012 - 2013
DISTRIBUSI WILAYAH
TAHUN KERINCI TIMUR KERINCI KOTA KERINCI BARAT KUALA TERUSAN MAKMUR MEKAR JAYA RANTAU BARU

KEC. (%)

2012 2013

62,2 67

75 79

76,9 85,5

50 50

93,6 86,5

52,2 86,5

50 60,5

70,4 73,5

65,7

Sumber: Data Program ASI Eksklusif Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci

Grafik 3. Cakupan ASI eksklusif berdasarkan distribusi wilayah kerja Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2012 2013

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Kerinci Timur Kerinci Kota Kerinci Barat Kuala Terusan Makmur Mekar Jaya Rantau Baru

2012 2013

Sumber: Data Program ASI Eksklusif Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci

Grafik 4. Cakupan ASI eksklusif per-bulannya berdasarkan distribusi wilayah kerja Puskesmas
Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2013

140 120 100 80 60 40 20 0


Kerinci Timur Kerinci Kota Kerinci Barat Kuala Terusan Makmur Mekar Jaya Rantau Baru

Sumber: Data Program ASI Eksklusif Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci

Tabel 4. Cakupan ASI eksklusif per-bulannya berdasarkan distribusi wilayah kerja Puskesmas
Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2013
WILAYAH KERJA

CAKUPAN ASI EKSKLUSIF (%) 1


86,5 90,7 88,5 125 110,8 87,0 100 98,4

2
89,1 86,7 86,8 25,0 89,1 76,9 66,7 74,3

3
78,0 83,8 94,3 40,0 79,7 81,4 88,9 78,0

4
106 90,4 80,0 40,0 126,8 30,4 50,0 74,8

5
75,7 81,7 91,1 85,7 91,1 93,1 83,3 86,0

6
76,7 81,0 101,8 33,3 90,2 93,1 71,4 78,2

7
76,7 81,0 115,7 20,0 90,2 93,1 100 82,4

8
68,4 74,0 86,9 20,0 79,6 84,6 83,3 71,0

9
64,4 71,8 83,6 0,0 93,3 79,5 28,6 60,2

10
72,2 81,5 80,3 0,0 71,6 41,7 50,0 56,8

11
50,1 60,6 91,8 66,7 86,9 51,3 83,3 70,1

12
62,0 70,2 84,1 80,0 85,7 85,7 85,7 79,1

67 79 85,5 50 86,5 86,5 60,5 73,5 75,5 79,5 90,4 44,6 91,2 74,8 74,3 75,8

Kerinci Timur Kerinci Kota Kerinci Barat Kuala Terusan Makmur Mekar Jaya Rantau Baru JUMLAH

Sumber: Data Program ASI Eksklusif Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci

C. Analisis masalah faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif sebagai dasar perencanaan strategi peningkatan program ASI eksklusif Tabel 5. Faktor faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif : Alternatif Pemecahan Masalah Penyebab 1. Kondisi ibu dan bayi: a. Proses melahirkan b. Kesehatan dan status gizi ibu yang rendah c. Usia ibu saat hamil dan melahirkan (paling baik antara usia 20-30 tahun) d. Paritas ibu (menyangkut produksi ASI dan pengalaman ibu dalam memberikan ASI) e. Pekerjaan ibu f. Pendapatan keluarga g. Kondisi bayi (bayi sakit, kembar, premature), Alternatif Pemecahan Masalah Peningkatan kesehatan serta status gizi ibu hamil dan menyusui (PMT, tablet Fe, vaksin TT 2x selama hamil) Persiapan menyusui bagi ibu melalui manajemen laktasi: a. Periode masa kehamilan (antenatal) Pemeriksaan payudara, pemantauan BB atau status gizi ibu, pemberian KIE melalui konseling gizi ibu hamil, cara memberikan ASI pertama, upaya untuk memperbanyak ASI, cara perawatan payudara selama menyusui, manfaat dan keuntungan ASI eksklusif, serta bahaya susu botol, dan juga konseling mengenai KB

kemampuan dan kemauan bayi untuk menghisap putting susu ibu

b. Periode segera setelah bayi lahir Inisiasi menyusu dini (sesegera mungkin memberikan ASI) c. Periode pasca persalinan Rawat gabung dan KIE melalui konseling ASI eksklusif meliputi cara pemberian ASI yang baik dan benar serta cara pemerasan dan penyimpanan ASI, terutama bagi ibu yang bekerja. Peningkatan pengetahuan ibu, suami, keluarga dan lingkungan tentang pentingnya ASI eksklusif melalui: a. Penyuluhan ASI eksklusif b. Penyebaran leaflet c. Pemasangan poster di puskesmas, posyandu, maupun pelayanan kesehatan lainnya Peningkatan kepercayaan diri ibu untuk menyusui melalui persiapan menyusui dengan manajemen laktasi Pengikutsertaan peran suami dan keluarga dalam mendukung, memotivasi dan membantu ibu untuk menyusui Meningkatkan peran serta dan tanggung jawab tenaga kesehatan puskesmas terhadap penyelenggaraan manajemen laktasi 3 periode Optimalisasi pojok ASI Alokasi tambahan tenaga kesehatan dalam program gizi di puskesmas Perluasan pelaksanaan program ASI eksklusif (KP-ibu, pelatihan dan pembelajaran ASI eksklusif) di wilayah binaan puskesmas Optimalisasi kinerja kader dengan

2. Kesadaran Ibu a. Rasa percaya diri untuk menyusui yang kurang b. Pengetahuan/pendidikan ibu tentang ASIeksklusif yang masih rendah c. Kurangnya dukungan dari keluarga dan lingkungan

3. Tenaga Kesehatan a. Kinerja tenaga kesehatan belum optimal dalam manajemen laktasi b. Kuantitas tenaga kesehatan program gizi masih kurang c. Cakupan pelaksanaan program ASI masih terbatas

4. Kader

Kinerja kader yang belum optimal dan memotivasi yang masih kurang karena cakupan pelaksanaan program ASI eksklusif yang masih terbatas 5. Gencarnya promosi susu formula

menyelenggarakan pelatihan tentang ASI eksklusif. Peningkatan motivasi melalui pemanfaatan Forum Komunikasi Kader Posyandu (FKKP). Meningkatkan kerjasama lintas sektoral, termasuk rumah sakit untuk tidak memberikan susu formula pada bayi yang dilahirkan disana Meningkatkan pengetahuan ibu tentang manfaat pemberian ASI eksklusif dan kerugian pemberian susu formula dalam kegiatankegiatan promosi kesehatan (penyuluhan, konseling/KIE, pembagian leaflet, ataupun pemasangan poster di tempat pelayanan kesehatan).

D. Analisis masalah faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif melalui hasil wawancara responden 1. Hasil Wawancara dengan Pemegang Program ASI Eksklusif 2. Hasil Wawancara dengan Responden

E. Analisis SWOT berdasarkan masalah rendahnya cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2013 Tabel 6. Analisis SWOT ASI Eksklusif Kekuatan (S) Ada tenaga professional (personil medis: 5 dokter umum dan 3 dokter gigi) dan jumlah paramedis sebanyak 86 orang Kepercayaan dan Kelemahan (W) Pelatihan dan pembelajaran ASI eksklusif kurang maksimal Tidak adanya Forum Komunikasi Kader

kepuasan masyarakat terhadap puskesmas sangat baik Adanya fasilitas penunjang puskesmas Adanya program gizi cakupan ASI eksklusif, KIA dan posyandu yang telah terjadwal dengan baik, termasuk didalamnya konseling gizi dan ASI (pojok ASI) Pelaksanaan posyandu terjadwal baik Memiliki pelaporan dan pancatatan program ASI eksklusif yang baik

Posyandu Tidak adanya Kelompok Pendukung Ibu (KP-Ibu) Pendataan kurang menyuluruh sehingga belum tercapainya angka yang maksimal Alokasi dana dari puskesmas yang masih kurang Kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan yang masih kurang Tidak adanya program manajemen laktasi Peran kader yang belum optimal Kurangnya partisipasi lintas sektoral Cakupan pelaksanaan program gizi ASI Eksklusif masih terbatas

Peluang Lokasi wilayah Puskesmas cukup luas dan mudah dijangkau oleh petugas kesehatan Kinerja Dinas Kesehatan Pelalawan cukup baik Adanya kader kesehatan di wilayah puskesmas Adanya klinik swasta

Strategi SO Meningkatkan kerjasama dengan dokter spesialis dan ahli gizi sebagai konsultan melalui program kunjungan ahli Meningkatkan mutu pelayanan medis gizi Kerjasama dengan poliklinik dan praktisi swasta

Strategi WO Memperbaiki sistem pendataan yang ada Optimalisasi program manajemen laktasi 3 periode Meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan di Puskesmas sehingga kegiatan penyuluhan, konseling,

Adanya praktisi swasta (dokter praktek swasta, bidan praktek swasta) Adanya posyandu Adanya jaminan untuk pembiayaan kesehatan

Optimalisasi program gizi, posyandu, dan KIA,

maupun KIE-ASI dapat lebih maksimal

khususnya konseling/KIE Terus memberikan tentang gizi dan ASI eksklusif pembekalan dan pelatihan bagi para kader tentang masalah gizi terutama ASI eksklusif Meningkatkan peran serta kader dalam mendukung program ASI eksklusif, jika perlu dengan pemberian reward Optimalisasi pojok laktasi di puskesmas Meningkatkan kerjasama lintas sektoral, termasuk rumah sakit untuk tidak memberikan susu formula pada bayi yang dilahirkan disana.

Ancaman (T) Kurangnya pengetahuan masyarakat dan dukungan dari keluarga terhadap manfaat dan pentingnya ASI eksklusif Tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat yang masih rendah Kurangnya koordinasi antara puskesmas

Strategi ST Melakukan survey dan memberikan kuisioner pada masyarakat wilayah kerja Puskesmas untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan mereka tentang ASI eksklusif Meingkatkan kegiatankegiatan promosi kesehatan (penyuluhan, konseling/KIE,

Strategi WT Membentuk KP-Ibu sebagai sarana motivator bagi ibu dan keluarga, dan sebagai sarana sharing mengenai masalah-masalah yang dihadapi dalam pemberian ASI eksklusi Membentuk Forum Komunikasi Kader Posyandu sebagai sarana

dengan kader kesehatan yang ada

pembagian leaflet, pemasangan poster

diskusi dalam kegiatan promosi ASI eksklusif Mengadakan promosi ASI eksklusif dengan penyuluhan rutin serta memperbaiki perencanaan dan strategi promosi penyuluhan Membangun koordinasi yang baik antara puskesmas, kader, untuk melaksanakan program ASI eksklusif

BAB V PEMBAHASAN

A. Analisis data cakupan ASI eksklusif berdasarkan jenis kelamin di Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2012-2013 1. Dari tabel data cakupan ASI eksklusif menurut jenis kelamin tahun 2012 diketahui bahwa jumlah bayi laki-laki berjumlah 292, dan yang mendapatkan ASI eksklusif 206 (70,5%). Jumlah bayi perempuan berjumlah 438, dengan jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif 308 (70,3%). Dari keseluruhan bayi yang lahir di kecamatan pangkalan kerinci pada tahun 2012 yaitu 730 bayi, hanya 514 bayi yang mendapatkan asi eksklusif (70,4%). Jumlah bayi ASI eksklusif menurut jenis kelamin pada tahun 2012 ini masih dibawah target indikator pencapaian nasional dalam cakupan pemberian ASI eksklusif yaitu 80%. 2. Dari tabel data cakupan ASI eksklusif menurut jenis kelamin tahun 2013 diketahui bahwa jumlah bayi laki-laki berjumlah 458, dan yang mendapatkan ASI eksklusif 335 (73,1%). Jumlah bayi perempuan berjumlah 416, dengan jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif 313 (70,3%). Dari keseluruhan bayi yang lahir di kecamatan pangkalan kerinci pada tahun 2013 yaitu 874 bayi, diketahui bahwa yang mendapatkan asi eksklusif sebanyak 648 (73,5%). Jumlah bayi ASI eksklusif menurut jenis kelamin pada tahun 2013 ini masih dibawah target indikator pencapaian nasional dalam cakupan pemberian ASI eksklusif yaitu 80%, namun pencapaian ini lebih tinggi dan meningkat dari tahun 2012. 3. Dari analisa tabel data cakupan ASI eksklusif berdasarkan jenis kelamin, diketahui bahwa jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tertinggi tahun 2012 adalah di desa Makmur (93,6%), dengan jumlah bayi laki-laki yang diberi ASI eksklusif 94,7% dan bayi perempuan 92,9%. Cakupan pemberian ASI eksklusif paling rendah adalah desa Kuala Terusan dan Rantau baru yaitu 50%, dengan cakupan bayi laki-laki 50% dan bayi perempuan 50%. 4. Dari analisa tabel data cakupan ASI eksklusif berdasarkan jenis kelamin, diketahui bahwa jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tertinggi tahun 2013 adalah di desa Makmur (86,5%), dengan jumlah bayi laki-laki yang diberi ASI eksklusif 93,1% dan bayi perempuan 81,5%. Cakupan pemberian ASI eksklusif paling rendah adalah

desa Kuala Terusan yaitu 50%, dengan cakupan bayi laki-laki 100% dan bayi perempuan 0%. 5. Rendahnya cakupan ASI eksklusif di desa Kuala Terusan dan Rantau Baru disebabkan karena banyak faktor yaitu kurangnya pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif, ekonomi atau pendapatan keluarga masih rendah, kurangnya dukungan dan motivasi dari keluarga dan lingkungan terhadap ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan di desa yang masih kurang, promosi kesehatan dalam bentuk penyuluhan, KIE-ASI masih belum optimal, dan pelayanan kesehatan yang masih belum memadai di desa sementara jarak dengan pusat pelayanan kesehatan cukup jauh.

B. Analisis data cakupan ASI eksklusif berdasarkan distribusi wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2013 1. Dari tabel data cakupan ASI eksklusif berdasarkan distribusi wilayah kerja Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci, diketahui bahwa pada tahun 2012 pencapaian tertinggi ASI eksklusif yaitu desa Makmur (93,6%), sedangkan pencapaian terendah yaitu desa Rantau Baru (50%) dan Kuala Terusan (50%). Sedangkan pada tahun 2013 pencapaian tertinggi ASI eksklusif yaitu desa Makmur (86,5%) dan desa Mekar Jaya (86,5%), sedangkan pencapaian terendah masih didapatkan oleh desa Kuala Terusan (50%). 2. Dari tabel data cakupan ASI eksklusif berdasarkan distribusi wilayah kerja Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci, diketahui bahwa pencapaian ASI eksklusif meningkat pada tahun 2013 (73,5%) dibandingkan tahun 2012 (70,4%). Pencapaian cakupan ASI eksklusif tahun 2013 (73,5%) masih belum mencapai target dalam indikator pencapaian nasional yaitu 80%. 3. Berdasarkan analisa grafik cakupan pemberian ASI eksklusif berdasarkan distribusi wilayah kerja Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci tahun 20122013 diketahui penilaian terhadap pencapaian ASI eksklusif. Cakupan pemberian ASI eksklusif meningkat pada daerah Kerinci Kota, Kerinci Barat, Kerinci Timur, Mekar Jaya, dan Rantau Baru. Sementara desa Makmur cakupan pemberian ASI eksklusif menurun, dan desa Kuala Terusan tidak ada peningkatan maupun penurunan pencapaian cakupan ASI eksklusif.

C. Analisis masalah faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif sebagai dasar perencanaan strategi peningkatan program ASI eksklusif

1. Dari tabel 5 diketahui bahwa ada 5 faktor penyebab ketidakberhasilannya pemberian ASI eksklusif, yaitu: kondisi ibu dan atau bayi, kesadaran ibu, faktor tenaga kesehatan dan kader ASI eksklusif, serta faktor gencarnya promosi susu formula. 2. Alternatif pemecahan masalah belum berhasilnya program cakupan ASI eksklusif mencapai target 80%, apabila dilaksanakan diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan program ASI eksklusif dengan baik. Namun, untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut secara bersamaan akan sangat sulit. Untuk itu perlu dipilih proritas pemecahan masalah dengan mengacu pada efektivitas dan efisiensi pemecahan masalah. 3. Alternative pemecahan masalah dari faktor kondisi ibu dan bayi adalah optimalisasi kondisi ibu dan bayi melalui peningkatan status gizi ibu hamil dan menyusui, serta persiapan menyusui bagi ibu melalui manajemen laktasi. 4. Alternative pemecahan masalah dari faktor kesadaran ibu adalah peningkatan kesadaran ibu, keluarga, dan lingkungan melalui peningkatan pengetahuan tentang pentingnya ASI eksklusif melalui penyuluhan, penyebaran leaflet, pemasangan poster di puskesmas atau posyandu dan advokasi tempat kerja ibu untuk memfasilitasi ibu yang menyusui. Sementara peningkatan kepercayaan diri ibu untuk menyusui dengan manajemen laktasi. Pengikutsertaan peran suami dan keluarga dalam mendukung, memotivasi dan membantu ibu untuk menyusui. 5. Alternative pemecahan masalah dari faktor tenaga kesehatan adalah optimalisasi kinerja tenaga kesehatan melalui peningkatan peran serta dan tanggung jawab terhadap penyelenggaraan manajemen laktasi 3 periode. Perluasan program gizi terutama ASI eksklusif melalui program promosi kesehatan, penyuluhan, membentuk KP-Ibu, pelatihan dan pembelajaran ASI. 6. Alternative pemecahan masalah dari faktor kader adalah dengan menyelenggarakan pelatihan tentang ASI eksklusif, peningkatan motivasi dan membentuk forum komunikasi kader posyandu. 7. Alternative pemecahan masalah dari faktor gencarnya promosi susu formula adalah meningkatkan kerjasama lintas sektoral dan meningkatkan pengetahuan ibu dan keluarga tentang manfaat pemberian ASI eksklusif dan kerugian pemberian susu

formula melalui kegiatan-kegiatan promosi kesehatan (penyuluhan, konseling/KIE, pembagian leaflet, ataupun pemasangan poster di tempat pelayanan kesehatan).

D. Analisis masalah faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif melalui hasil wawancara responden

E. Analisis SWOT berdasarkan masalah rendahnya cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci Tahun 2013 1. Dari tabel analisis SWOT tentang deskripsi kelemahan, kekuatan, ancaman dan strategi yang bisa dilakukan, maka deskripsi ini dapat dijadikan perencanaan untuk peningkatan keberhasilan program ASI eksklusif di tahun berikutnya. 2. Dari analisis SWOT diketahui bahwa kelemahan yang dimiliki program ASI eksklusif di Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci yaitu: pelatihan dan pembelajaran ASI eksklusif masih kurang optimal, hal ini dikarenakan tidak adanya forum komunikasi kader posyandu dan kelompok pendukung ibu menyusui. Kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan dalam program ASI eksklusif masih kurang, sehingga cakupan pelaksanaan program ASI eksklusif masih terbatas dan tidak adanya secara khusus program manajemen laktasi di puskesmas. Kurangnya partisipasi lintas sektoral juga menjadi kelemahan dalam program ASI eksklusif di puskesmas. 3. Dari analisis SWOT diketahui bahwa kekuatan dalam program ASI eksklusif di Puskesmas Berseri yaitu adanya tenaga professional, meliputi dokter umum, dokter gigi, dan ahli gizi serta jumlah paramedis yang cukup banyak. Kepercayaan dan kepuasan masyarakat terhadap puskesmas sangat baik, adanya fasilitas penunjang puskesmas, adanya program gizi: ASI eksklusif, KIA dan posyandu yang telah terjadwal dengan baik, termasuk didalamnya konseling gizi dan adanya pojok ASI. 4. Dari analisis SWOT diketahui bahwa yang menjadi ancaman ketidakberhasilan program ASI eksklusif ini selain dari kelemahan yang dimiliki puskesmas juga karena kurangnya pengetahuan masyarakat dan dukungan dari keluarga terhadap manfaat dan pentingnya ASI eksklusif, tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat yang masih rendah serta kurangnya koordinasi antara puskesmas dengan kader kesehatan yang ada. 5. Dari analisis SWOT diketahui bahwa strategi perencanaan untuk meningkatkan keberhasilan program ASI eksklusif adalah dengan:

a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan di Puskesmas sehingga program gizi, posyandu, KIA maupun KIE-ASI dapat lebih maksimal b. Optimalisasi program manajemen laktasi 3 periode dan pojok ASI c. Meningkatkan motivasi dan peran serta kader dalam mendukung program ASI eksklusif, jika perlu dengan pemberian reward d. Membentuk KP-Ibu sebagai sarana motivator bagi ibu dan keluarga e. Membentuk Forum Komunikasi Kader Posyandu sebagai sarana diskusi dalam kegiatan promosi ASI eksklusif f. Meningkatkan kerjasama dengan dokter spesialis dan ahli gizi sebagai konsultan melalui program kunjungan ahli g. Meningkatkan kerjasama lintas sektoral, termasuk rumah sakit untuk tidak memberikan susu formula pada bayi yang dilahirkan disana h. Meningkatkan kegiatan-kegiatan promosi kesehatan (penyuluhan, konseling/KIE, pembagian leaflet, pemasangan poster di puskesmas, posyandu atau tempat sarana kesehatan lainnya).

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Cakupan ASI eksklusif berdasarkan jenis kelamin, pencapaian tertinggi tahun 2013 adalah di desa Makmur (86,5%), dengan jumlah bayi laki-laki yang diberi ASI eksklusif 93,1% dan bayi perempuan 81,5%. Cakupan pemberian ASI eksklusif paling rendah adalah desa Kuala Terusan yaitu 50%, dengan cakupan bayi laki-laki 100% dan bayi perempuan 0%. 2. Cakupan ASI eksklusif berdasarkan distribusi wilayah kerja Puskesmas Berseri Kecamatan Pangkalan Kerinci pada tahun 2012 pencapaian tertinggi ASI eksklusif yaitu desa Makmur (93,6%), sedangkan pencapaian terendah yaitu desa Rantau Baru (50%) dan Kuala Terusan (50%). Sedangkan pada tahun 2013 pencapaian tertinggi cakupan ASI eksklusif yaitu desa Makmur (86,5%) dan desa Mekar Jaya (86,5%), sedangkan pencapaian terendah adalah desa Kuala Terusan (50%). 3. Cakupan ASI eksklusif meningkat pada tahun 2013 (73,5%) dibandingkan tahun 2012 (70,4%). Pencapaian cakupan ASI eksklusif tahun 2013 masih belum mencapai target indikator pencapaian nasional yaitu 80%. 4. Faktor - faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif, yaitu: kondisi ibu dan atau bayi, kesadaran ibu, faktor tenaga kesehatan dan kader ASI eksklusif. 5. Dari analisis SWOT tentang kelemahan, kekuatan dan ancaman program ASI eksklusif diketahui suatu strategi perencanaan untuk meningkatkan keberhasilan program ASI eksklusif adalah dengan: a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan di Puskesmas sehingga program gizi, posyandu, KIA maupun KIE-ASI dapat lebih maksimal b. Optimalisasi program manajemen laktasi 3 periode dan pojok ASI c. Meningkatkan motivasi dan peran serta kader dalam mendukung program ASI eksklusif, jika perlu dengan pemberian reward d. Membentuk KP-Ibu sebagai sarana motivator bagi ibu dan keluarga e. Membentuk Forum Komunikasi Kader Posyandu sebagai sarana diskusi dalam kegiatan promosi ASI eksklusif f. Meningkatkan kerjasama dengan dokter spesialis dan ahli gizi sebagai konsultan melalui program kunjungan ahli

g. Meningkatkan kerjasama lintas sektoral, termasuk rumah sakit untuk tidak memberikan susu formula pada bayi yang dilahirkan disana h. Meningkatkan kegiatan-kegiatan promosi kesehatan (penyuluhan,

konseling/KIE, pembagian leaflet, pemasangan poster di puskesmas, posyandu atau tempat sarana kesehatan lainnya).

B. Saran