Anda di halaman 1dari 10

Pemeriksaan Telinga, Hidung, dan Tenggorokkan I. 1. 2. 3. II.

Informed Consent Berikan penjelasan yang cukup mengenai pemeriksaan fisik yang akan dilakukan. Jelaskan tujuan atau hasil yang diharapkan dari pemeriksaan fisik tersebut. Minta persetujuan pasien.

Persiapan Cuci tangan dengan sabun antiseptik, keringkan dan pakai handgloves. Kenakan masker dan head lamp. Nyalakan head lamp. Periksa sinar lampu dengan menyorotkannya ke telapak tangan. Matikan head lamp. Persilahkan pasien duduk di kursi pemeriksaan senyaman mungkin dengan posisi tegak, sedikit condong ke depan dan kaki menyamping. Pemeriksa duduk berhadapan dengan pasien di kursi beroda dengan posisi kaki menyamping. Selama proses pemeriksaan berlangsung, pemeriksa jangan mengangkangi pasien. Penilaian Awal Perhatikan apakah pasien terlihat sakit. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Kulit Wajah 1. Inspeksi Simetris atau tidak simetris. Tanda-tanda alergi pada wajah pasien seperti open-mouthed face, edema, dennie-morgan

III. IV. a)

Halaman | 593

2. 3.

infraorbital folds, pigmented transverse nasal crease. Massa. Palpasi Jika terdapat massa. Perkusi Di daerah sinus frontalis dan maxillaris, tanyakan kepada pasien nyeri atau tidak nyeri.

Sinus Maxillaris
b) Pemeriksaan Telinga 1. Inspeksi telinga luar Nyalakan head lamp. Inspeksi : Bentuk telinga.

Sinus Frontalis

Halaman | 594

2.

3.

\ Tanda-tanda dermatitis di kulit telinga bagian depan dan bagian belakang. Tanda-tanda trauma. Massa. Lakukan pada telinga kanan dan kiri. Inspeksi canalis acusticus (auditory canal) Tarik pinna ke belakang dan tarik tragus ke depan. Inspeksi : Tanda-tanda dermatitis di kulit. Cerumen atau sekret. Perhatikan konsistensi, warna, dan bau. Benda asing. Lakukan pada telinga kanan dan kiri. Pemeriksaan dengan menggunakan otoscope Matikan head lamp. Pilih spekulum telinga yang sesuai. Pasangkan pada otoscope. Nyalakan lampu otoscope. Periksa sinar lampu dengan menyorotkannya ke telapak tangan. Pegang otoscope seperti memegang pulpen. Untuk memeriksa telinga kanan, pegang otoscope dengan tangan kanan dan untuk memeriksa telinga kiri, pegang otoscope dengan tangan kiri. Tarik pinna ke belakang.

Halaman | 595

4.

Masukkan spekulum telinga ke lubang telinga secara perlahan. Letakkan jari kelingking di pipi pasien sebagai tumpuan. Inspeksi : Tanda-tanda inflamasi di mukosa. Cerumen atau sekret. Perhatikan konsistensi, warna, dan bau. Tanda-tanda inflamasi di membran tymphani. Perhatikan keutuhan dari membran (intak atau tidak) dan cone of light. Lakukan pada telinga kanan dan kiri. Rinne test Berikan penjelasan kepada pasien tentang Rinne test. Gunakan garpu tala 512 Hz. Pegang garpu tala dengan satu tangan. Getarkan garpu tala dengan cara memukulkannya ke siku. Cek apakah suara yang ditimbulkannya sudah ada. Letakkan garpu tala di tulang mastoid. Tanyakan kepada pasien apakah suara yang ditimbulkan oleh garpu tala masih terdengar atau sudah menghilang. Jika suara yang ditimbulkan sudah menghilang, pindahkan garpu tala ke depan telinga pasien. Tanyakan kepada pasien apakah suara yang ditimbulkan oleh garpu tala masih terdengar

Halaman | 596

atau sudah menghilang.

5.

Jika suara yang ditimbulkan sudah menghilang, kemudian tanyakan kepada pasien mana yang lebih jelas terdengar apakah saat garpu tala diletakkan di belakang telinga atau di depan telinga. Lakukan pada telinga kanan dan kiri. Weber test Berikan penjelasan kepada pasien tentang weber test. Gunakan garpu tala 512 Hz. Pegang garpu tala dengan satu tangan. Getarkan garpu tala dengan cara memukulkannya ke siku. Cek apakah suara yang ditimbulkannya sudah ada. Letakkan garpu tala di tengah-tengah kening. Tanyakan kepada pasien telinga mana yang mendengar lebih jelas.

c)

Pemeriksaan Hidung 1. Anterior rhinoscopy Nyalakan head lamp. Minta pasien untuk sedikit menenggadah. Pegang nasal speculum dengan satu tangan. Letakkan jempol pada sendi nasal speculum, jari telunjuk dalam keadaan bebas, ketiga jari yang lain memegang gagang nasal speculum. Masukkan nasal speculum secara perlahan dalam keadaan tertutup. Setelah berada di dalam rongga hidung, buka nasal speculum secara perlahan. Letakkan jari telunjuk di hidung pasien sebagai tumpuan.

Halaman | 597

2.

Inspeksi : Tanda-tanda inflamasi pada mukosa. Sekret. Perhatikan konsistensi dan warna. Septum. Perhatikan deviasi septum. Conchae. Perhatikan atophy atau hyperthrophy. Polyp atau tumor. Keluarkan nasal speculum secara perlahan dalam keadaan terbuka. Setelah berada di luar rongga hidung, tutup nasal speculum. Lakukan pada hidung kanan dan kiri. Pasase udara Gunakan spattle tongue. Letakkan spattle tongue di depan lubang hidung pasien. Minta pasien menutup lubang hidung bagian kiri. Minta pasien untuk bernapas seperti biasa dengan lubang hidung bagian kanan. Perhatikan embun yang terbentuk di permukaan spattle tongue. Lakukan prosedur yang sama di lubang hidung bagian kiri. Bandingkan hasilnya.

d) Pemeriksaan Rongga Mulut 1. Rongga mulut Minta pasien untuk membuka mulut. Minta pasien untuk rilex dan menahan lidahnya.

Halaman | 598

Letakkan spattle tongue di 2/3 lidah. Tekan lidah dengan spattle tongue. Minta pasien untuk mengucapkan kata aaaaa. Inspeksi : Tanda-tanda inflamasi pada phrynx dan cable stone appearance. Tanda-tanda inflamasi pada tonsil dan pembesaran tonsil. T0 = tonsil normal (tidak ada pembesaran tonsil) T1 = pembesaran di dalam fossa anterior T2 = pembesaran sudah melewati fossa anterior T3 = pembesaran 2/3 mendekati midline

T4 = pembesaran sudah mencapai midline Palate Gunakan spattle tongue untuk menggeser pipi bagian dalam. Inspeksi : Mucosa buccal. Perhatikan tanda-tanda inflamasi, stomatitis dan ductus stensen (di sekitar M1 atas). Gigi. Perhatikan carries. Minta pasien mengangkat lidahnya. Inspeksi : Bagian bawah lidah

Halaman | 599

Perhatikan tanda-tanda inflamasi, stomatitis, atau massa. V. 1. 2. 3. VI. o o VII. Clean dan Safety Letakkan peralatan yang telah dipakai ke dalam baskom berisi antiseptic solution. Buka dan buang gloves. Cuci tangan dengan sabun antiseptik dan keringkan. Pemeriksaan Fisik Umum Vital signs Lymphadenopathy Dokumentasi Catat hasil pemeriksaan di rekam medik.

CATATAN :

Pattern of Hearing Loss Conductive Loss Patophysiology Gangguan pada telinga luar atau tengah yang mengganggu konduksi suara ke telinga dalam. Penyebabnya meliputi adanya benda asing, otitis media, eardrum yang mengalami perforasi, dan otosclerosis of Sensorineural Loss Gangguan pada telinga dalam meliputi cochlear nerve dan neuronal yang menghantarkan impuls ke otak. Penyebabnya meliputi paparan suara yang keras, infeksi pada telinga dalam, trauma, tremor, familial and

Halaman | 600

ossicles Usual Age of Onset Anak-anak dan dewasa muda, sampai umur 40 tahun Abnormalitas biasanya terlihat, kecuali pada otosclerosis Sedikit efek pada suara Pendengaran terlihat membaik pada lingkungan yang berisik Suara pasien menjadi lembut karena suara pasien dikonduksikan melalui tulang ke telinga dalam dan saraf cochlea yang normal Garpu tala pada dahi Lateralisasi suara ke telinga yang terganggu Karena telinga tidak dikacaukan

congenital disorder, dan penuaan. Usia pertengahan ke atas

Ear Canal and Drum

Masalah tidak terlihat

Effects

Kebanyakan kehilangan pendengaran, jadi suara mungkin berubah Pendengaran memburuk pada lingkungan yang berisik Suara pasien mungkin keras karena kesulitan untuk mendengar suaranya sendiri Garpu tala pada dahi Lateralisasi suara ke telinga yang sehat Kerusakan pada telinga dalam atau

Weber Test (in unilateral hearing loss)

Halaman | 601

oleh ruangan yang berisik maka telinga dapat mendeteksi vibrasi garpu tala lebih baik dari normal. Rinne Test Garpu tala pada external auditory meatus kemudian pada tulang mastoid Bone conduction lebih panjang atau sama dengan air conduction (BC AC). Air conduction melewati telinga luar atau telinga dalam terganggu sedangkan vibrasi melalui tulang tidak bermasalah untuk mencapai cochlea.

saraf cochlea mengganggu transmisi impuls ke telinga yang terganggu.

Garpu tala pada external auditory meatus kemudian pada tulang mastoid Air conduction lebih panjang daripada bone conduction (AC > BC). Telinga dalam atau saraf cochlea tidak mampu untuk mentransmisikan impuls tanpa memperhatikan bagaimana vibrasi mencapai cochlea. The normal pattern prevails. th BATES 9 Guide to Physical Examination and History Taking.

Halaman | 602