Anda di halaman 1dari 3

KEKUASAAN TUHAN MENURUT PANDANGAN IMAM BESAR ISLAM

Mengenai kekuasaan Allah tentu saja kita akan merujuk kepada ayat ayat yang menjelaskan hal itu. Tetapi untuk membahas hal ini tidak boleh hanya mengambil sebagian ayat dan meninggalkan sebagian yang lain. Karena ayat yang satu dan yang lain saling berhubungan. Dalam kaitannya dengan kekuasaan Allah ada ayat yang berbunyi: ...sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu(Al Baqoroh : 20) Menurut tafsir al maraghi pernyataan ini berarti bahwa apa yang dikehendaki Allah, maka hal tersebut tentunya pasti ada. Sebab bagi Allah tidak ada sesuatu yang tidak bisa, baik di bumi maupun dilangit, semuanya bisa dilakukan Allah . Pendapat ini sejalan dengan al ghazali yang mengemukakan bahwa salah satu sifat maani Allah adalah qudrah (maha kuasa) sehingga perbuatan Allah tidaklah terbatas dalam menciptakan alam saja, tetapi juga dalam menciptakan perbuatan manusia dan ikhtiarnya. Sehingga perbuatan manusia tidak terlepas dari kehendak Allah. Manusia hanya diberi kekuasaan yang terbatas dalam lingkungan kehendak Tuhan dan tidak akan melampaui garis garis qadar. Alghazali berpendapat berdasarkan firman Allah Allah sesatkan siapa saja yang dikehendakinya dan ia beri hidayah orang yang dikehendakinya Ayat tersebut memang dengan jelas menyatakan bahwa Allah dapat melakukan apapun yang dikehendakinya kepada siapapun sehingga semua yang ada di alam semesta ini tidak ada yang lepas dari kuasa Allah. Tetapi jika dihubungkan dengan perbuatan manusia yang tidak lepas dari kehendak Allah maka apakah Allah tidak berlaku dhalim terhadap makhluknya ketika Allah menyiksanya karena kesalahan yang diperbuatnya padahal perilakunya tidak lepas dari kehendak Allah. Maka dalam konteks tertentu pendapat ini tidak bisa dipakai karena jika kehendak dan kekuasaan Allah terhadap makhluk berlaku secara mutlak dan menyeluruh, kemudian dihubungkan dengan siksa Allah maka apakah tidak dhalim jika Allah menyiksa makhluk yang berbuat salah bukan karena kehendaknya sendiri. 1. Pendapat Imam Abu Hanifah Mengenai kekuasaan Allah Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa Allah tidak disifati dengan sifat sifat makhluknya, dan kita menyifati Allahsebagaimana Allah menyifati dirinya sendiri. Allah juga hidup, berkuasa, melihat, dan mengetahui. Tetapi kesemuanya itu tidak sama

dengan apa yang dimiliki oleh makhluk ataupun manusia. Sehingga sifat Allah tidak boleh direka reka bentuknya, dan juga tidak boleh disebutkan bahwa tangan Allah itu artinya kekuasaannya dan nikmatnya, atau bahwa murka Allah adalah siksanya dan ridha Allah adalah pahalanya, karena hal itu berarti meniadakan sifat sifat Allah, sebagaimana pendapat yang dipegang oleh ahli qadar dan golongan muktazilah. Beliau juga menyatakan bahwa orang yang menyifati Allah dengan sifat sifat manusia berarti ia telah kafir. Allah memiliki sifat dzatiyah dan filiyah. Sifat dzatiyahnya adalah hayah (hidup), qudrah (mampu), ilm (mengetahui), sama (mendengar), bashar (melihat), dan iradah (kehendak). Serta sifat filiyahnya adalah menciptakan, memberi rizki, membuat, dan lain lain yang berkaitan dengan sifat sifat perbuatan. Imam Abu Hanifah berkata bahwa Allah berada di langit bukan di bumi, kemudian ada orang yang bertanya tahukah anda bahwa Allah berfirman Allah itu bersamamu, beliau menjawab bahwa ungkapan itu seperti orang yang menulis surat kepada seseorang yang isinya, saya akan selalu bersamamu padahal kamu jauh darinya. Dari pendapat Abu Hanifah diatas kita dapat melihat bahwa beliau sangat menentang golongan yang memikirkan tentang seperti apa sifat sifat Allah itu, karena akibat dari penafsiran mereka tentang sifat sifat Allah itu menyebabkan mereka saling bermusuhan karena berbeda pendapat sehingga beliau melarang pembelajaran ilmu kalam. Imam Abu Hanifah secara tidak langsung mengatakan bahwa kekuasaan Allah itu tidak sama dengan kekuasaan makhluk. Kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu sehingga tidak ada yang luput dari kuasanya termasuk untuk membuat seseorang menjadi kafir ataupun mukmin. Karena menurut beliau di dunia ini dan akhirat tidaklah ada dan terjadi sesuatu kecuali berdasarkan kehendak Allah, dan beliau lebih lanjut menjelaskan bahwa semua perbuatan hamba, baik yang bergerak ataupun diam, merupakan usahanya, dan Allah yang menciptakannya. Semua perbuatan itu berdasarkan kehendak, pengetahuan, penetapan dan qadar Allah. 2. Pendapat Imam Malik Sebagaimana Imam Abu Hanifah, Imam Malik juga sangat menentang golongan yang menggunakan rasionya untuk memikirkan dzat dan sifat Allah, bahkan beliau mengatakan bahwa orang yang menyatakan bahwa Al-Quran itu makhluk, dia harus dihukum cambuk dan dipenjara sampai dia bertaubat . Beliau berkeyakinan bahwa Allah di langit dan ilmu (pengetahuan) Allah meliputi setiap tempat. Dan beliau yakin bahwa ketetapan Allah sudah

ditentukan telebih dahulu, yaitu sesuai firman Allah sekiranya kami menghendaki, kami akan memberikan petunjuk kepada semua orang. Tetapi tetaplah keputusanku, bahwa aku akan memenuhi neraka jahanam dengan jin dan manusia semuanya (As-Sajdah :13). Beliau menentang pendapat kelompok qadariyah yang menyatakan bahwa Allah tidak menciptakan maksiat, dan manusia itu mempunyai kemampuan, yang jika mau bisa menjadi orang orang taat atau menjadi orang orang yang durhaka. 3. Pendapat Imam Syafii Imam Syafii mempunyai aqidah yang sejalan dengan imam abu hanifah dan imam malik. Karena imam syafii termasuk juga dalam ahlussunah wal jamaah. Mengenai masalah kekuasaan Allah imam syafii mengatakan bahwa masalah makhluk yang bisa dilihat dengan mata kepala saja kita masih banyak yang tidak tahu, apalagi mengenai masalah ilmu pencipta makahluk itu. Kemudian Imam Syafii menyuruh untuk menjadikan makhluk sebagai bukti atas kekuasaan Allah, dan jangan memaksa diri untuk mengetahui hal hal yang tidak dapat dicapai oleh akal.