Anda di halaman 1dari 6

Nama NIM

: Chanra M T Simatupang : 100906031

Mata Kuliah : Filsafat Ilmu Politik

Sejarah Sumatera Utara Pada jaman pemerintahan Belanda, Sumatera Utara merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouvernement Van Sumatera yang meliputi seluruh Sumatera yang di kepalai oleh seorang Gubernur berkedudukan di Medan. Sumatera Utara terdiri dari daerah-daerah administratif yang dinamakan keresidenan. Pada Sidang I Komite Nasional Daerah (KND) Provinsi Sumatera diputuskan untuk dibagi menjadi 3 sub Provinsi yaitu sub Provinsi Sumatera Utara (yang terdiri dari Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur dan Keresidenan Tapanuli), sub Provinsi Sumatera Tengah dan sub Provinsi Sumatera Selatan. Melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1948 tanggal 15 April 1948 pemerintah menetapkan Sumatera menjadi 3 Provinsi yang masing-masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Provinsi Sumatera Selatan dan pada tanggal 15 selanjutnya ditetapkan menjadi hari jadi Provinsi Sumatera Utara. Awal tahun 1949 diadakan reorganisasi pemerintahan di Sumatera. Dengan keputusan Pemerintah Darurat RI tanggal 17 Mei 1949 Nomor 22/Pem/PDRI jabatan Gubernur Sumatera Utara ditiadakan, selanjutnya dengan ketetapan Pemerintah Darurat RI tanggal 17 Desember 1949 dibentuk Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/Sumatera Timur yang kemudian dengan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950, ketetapan ini dicabut dan kembali dibentuk Provinsi Sumatera Utara. Tanggal 7 Desember 1956 diundangkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Provinsi Aceh dan perubahan peraturan pembentukan Provinsi Sumatera Utara yang intinya Provinsi Sumatera Utara wilayahnya dikurangi dengan bagian-bagian yang terbentuk sebagai Daerah Otonomi Provinsi Aceh

Letak Geografis Sumatera Utara Propinsi Sumatera Utara terletak pada 1 - 4 Lintang Utara dan 98 - 100 Bujur Timur, yang pada tahun 2011 memiliki 25 Kabupaten dan 8 kota, dan terdiri dari 325 kecamatan, secara keseluruhan Provinsi Sumatera Utara mempunyai 5.456 desa dan kelurahan. Luas daratan Propinsi Sumatera Utara 72.981,23 km2. (Sumber: http://www.sumutprov.go.id/ongkam.php?me=sejarah) Suku di Sumatera Utara Jawa 30 persen Batak toba 20 persen Mandailing 20 persen Tionghoa 8 persen Melayu 6 persen Karo 5 persen Simalungun 3 persen Minang 3 persen Sunda 2 persen (sumber: Harian Tribun Medan: edisi 12 Desember 2012) Agama di Sumatera Utara Islam 65.5 persen Kristen (Protestan/Katolik) 31,4% persen Buddha 2,8 persen Hindu 0,2 persen Parmalim Konghucu (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Utara)

ANALISIS PASANGAN CALON GUBERNUR SUMATERA UTARA PERIODE 2013-2018 BERDASARKAN TEORI PILIHAN RASIONAL

1. Gatot Pudjonugroho dan T Erry Nurradi


Pada tahun 2005 Gatot Pudjonugroho terpilih menjadi Ketua DPW Partai Keadilan Sosial Sumatera Utara. Karir Gatot Pudjonugroho semakin berkembang dikemudian hari. Gatot Pudjonugroho diminta menjadi calon Wakil Gubernur Sumatera Utara mendampingi Syamsul Arifin. Pasangan yang popular di sebut Syampurno ini akhirnya tampil sebagai pemenang dalam Pemilukada gubernur langsung pertama oleh rakyat di tahun 2008. Pasangan berslogan, Rakyat tidak sakit, rakyat tidak lapar dan rakyat tidak bodoh, yang dilantik 16 Juni 2008 sayangnya kandas di tengah jalan. Gatot Pujonugroho diangkat menjadi penjabat (Pj) Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) terhitung sejak 21 Maret 2011. Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No.15/P Tahun 2011 tertanggal 21 Maret 2011. T Erry Nurradi dalam karir politiknya dapat dikatakan sukses, dua periode menjabat sebagai Bupati Serdang bedagai. Pengalaman sebagai bupati menjadi tolak ukur T Erry Nurradi dipilih menjadi pasangan Gatot Pudjonugroho. kandidat ini berasal dari agama Islam. Kandidat ini dari segi suku telah mendapat posisi penting yaitu 30 persen dan dari sisi agama telah unggul yaitu Islam 65,5 persen. T Erry Nurradi juga mendapat dukungan dari suku melayu. Pasangan calon gubernur ini juga mempunyai posisi yang kuat. Gatot Pudjonugroho satu-satunya calon incumbent mudah mendapatkan dukungan masyarakat karena dapat mencampur antara kepentingan pemerintah dan pencalonannya menjadi gubernur. Sedangkan T Erry Nurradi mendapat tambahan suara dari masyarakat yang dipimpinya. Pasangan ini didukung PKS, Hanura, PBR, Partai Patriot, dan PKNU. Dukungan ini setara dengan 17 kursi di DPRD Sumut. PKS punya 11 kursi, Hanura 5 kursi, dan PBR 1 kursi.

2. Chairuman Harahap dan Fadli Nurzal


Chairuman Harahap politisi Golkar yang pernah menjabat sebagai Ketua Komisi II DPR RI. Ia menjadi anggota legislatif mewakili Fraksi Golkar pada pemilu legislatif 2009. Chairuman lahir di Gunungtua, Kabupaten Tapanuli Selatan (saat ini: Kab.Padang Lawas Utara) pada 10 Oktober 1947. Sebelum menjadi anggota dewan, Chairuman pernah menjalani beberapa profesi yang berkaitan dengan hukum, seperti Kepala Kejaksaan Negeri Bengkalis Riau yang ia jabat pada 1991, Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Maluku pada tahun 1993, Kepala Pusat Operasi Intelejen (Kapusopsin) Kejagung tahun 1999, hingga Staf Ahli Jaksa Agung pada tahun 2000. Saat menjabat sebagai Ketua Komisi II, Chairuman ditunjuk sebagai Ketua Panja Mafia Pemilu pada Juli 2011. Januari 2012, Chairuman ditarik dari jabatannya sebagai Ketua Komisi II DPR dan digantikan oleh Agun Gunanjar Sudarsa. Saat Fadli Nurzal adalah anggota DPRD Sumut dari daerah pemilihan Deli Serdang dan Serdang Bedagai. Kedua pasangan calon ini diresmi diusung oleh enam partai politik, yakni Golkar, PPP, PPPI, PPP, Republikan dan Partai Buruh. Kedua pasangan ini medapatkan suara dari agama Islam. Berdasarkan suku, Chairuman Harahap memperebutkan suara mandailing yang memiliki jumlah 20 persen. Sedangkan Fadli Nurzal memperbutkan suara dari suku melayu.

3. Gus Irawan Pasaribu dan Soekirman


Lahir di Padang Sidempuan pada tanggal 31 Juli 1964, mengawali pendidikan di SD Negeri 7 Padang Sidempuan, menyelesaikan studi S-1 di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Syah Kuala dan telah menyelesaikan pendidikan Sekolah Pascasarjana (S-2) di USU pada Program Studi Magister Manajemen. Alumni SMAN-1 angkatan 1980 ini, sejak menyelesaikan studi S-1, memulai karir di PT. Bank Sumut (kala itu bernama BPDSU) sebagai Kepala Seksi Administrasi di Kantor Cabang Pematang Siantar setelah sebelumnya menjadi pegawai di Biro Personalia Kantor Pusat BPDSU.

Ir. Soekirman saat ini adalah wakil bupati Kabupaten Serdang Bedagai. Gus Irawan Pasaribu bersama Soekirman dalam pemilihan gubernur yang akan datang diprediksi mendapat suara dari banyak pihak. Dari Gus Irawan Pasaribu memperoleh suara dari karyawan Bank Sumut, Suku Batak Toba, Suku Mandailing, Islam. Sedangkan Soekirman memperoleh suara dari Suku Jawa dan Islam. Partai pendukung Gus Irawan-Soekirman di antaranya Partai Gerindra, Partai kebangkitan Bangsa, Partai Bulan Bintang, Partai Amanat Nasional, Partai Bintang Reformasi dan 18 partai lainnya.

4. Effendi Simbolon dan Jumiran Abdi


Effendi Muara Sakti Simbolon. Saya lahir di Banjarmasin 1 Desember 1964. Saat ini Effendi Muara Sakti Simbolon menjabat sebagai anggota DPR RI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Effendi Muara Sakti Simbolon yang tidak memiliki hubungan khusus dengan Sumatera Utara selain Suku (leluhur) berpasangan dengan Juriman Abdi. Keduanya merupakan pasangan yang cocok. Effendi Simbolon merupakan sosok yang kuat, tegas, visioner dan memahami kultur. Sedangkan Djumiran Abdi berpengalaman sebagai birokrat, bijak, religius, santun dan merakyat. Djumiran Abdi yang kini berusia 62 tahun, pernah memegang sejumlah jabatan di Pemerintahan Kota Medan. Kemudian juga tercatat sebagai ketua PWRI Medan, ketua Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakusuma) Kota Medan 1996-2005, mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut, dan saat ini merupakan wakil ketua Kwarda Pramuka Sumut. Sosoknya dipandang sangat tepat mendampingi Effendi yang kini berusia 48 tahun. Pasangan ini diusung PDIP, Partai Damai Sejahtera (PDS) dan Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN). Koalisi partai pendukung pasangan Effendi Simbolon dan Jumiran Abdi ini memiliki 21 kursi di DPRD Sumut, yaitu PDIP 12 kursi, PDS 5 kursi dan PPRN 4 kursi . Adapun peta suara pasangan ini dari Effendi Muara Sakti Simbolon adalah suku Batak dan Kristen sedangkan Juriman Abdi akan mendapat suara dari masyarakat Islam dan suku Jawa.

5. Amri Tambunan dan Rustam Efendy Simbolon


Amri dan RE Nainggolan merupakan orang yang berpengalaman dibirokrat dimana Haji Amri Tambunan menjadi Bupati Deliserdang dua periode dan RE Nainggolan pernah menjadi Bupati Taput dan sekdasu. Pengalaman di birokrat menjadi acuan pasangan ini. Amri Tambunan dan Rustam Efendy Simbolon mencalonkan diri karena didukung partai politik besar (demokrat) yang memiliki kursi suara di DPRD Sumut 27 suara. Karir Birokrasi Amri Tambunan : 1. Kaur Pembinaan Masyarakat Kantor Camat Medan Johor 1979 1981 2. Camat Tanjung Morawa 1984 1988 3. Asisten II Setwilda Tk. II Deliserdang 1988 1995 4. Pembantu Bupati Deli Serdang Wilayah IV 1995 1997 5. Kepala Subdis Retribusi Dispenda Tk. I SU 1997 6. Kepala Biro Humas Setdasu 1997 1999 7. Sekretaris Daerah Kota Medan 1999 2002 8. Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Provsu 2002 2004 9. Bupati Deli Serdang. (2004 2009, 2009 2014) Amri Tambunan memilih pasangan Rustam Efendy Simbolon didasarkan untuk mendapatkan suara dari Batak Toba yang jumlahnya mencapai 20 persen. Amri Tambunan diprediksikan akan menang di daerah Deli Serdang dan Pematang Siantar. Rustam Efendy Simbolon tidak hanya mendapatkan suara dari Batak Toba, tetapi suara dari Dairi akan mendukungnya karena pernah menjabat pemerintahan di Kabupaten Dairi. Selain itu, Rustam Efendy Simbolon memiliki suara di Tapanuli Utara dan Kabupaten pemekarannnya karena pernah menjabat Bupati Tapanuli Utara. Pasangan ini cukup mewakili dalam segi agama, dimana Amri Tambunan adalah seorang Islam dan Rustam Efendy Simbolon menganut agama Kristen.