Anda di halaman 1dari 1

Obat antidiabetes tipe 2 dengan teknologi nanopartikel ini ditempuh melalui enkapsulasi kukumin dengan kitosan berukuran 2-5

nanometer. Ketersediaan bahan baku untuk kurkumin dan kitosan melimpah sehingga berpeluang menjadi obat murah. ada dua cara untuk menjadikan kitosan dan kurkumin ini emmiliki ukuran nanopartikel, kata Ronny1. Kedua metode itu meliputi top down dan bottom up. Metode top down menggunakan prinsip fisika dengan peralatan homogenizer yang belum ada di Indonesia dan biayanya menjadi relative mahal. Metode bottom up pada prinsipnya ditempuh proses secara kimia dengan mencampurkan kitosan dan kurkumin tersebut. Kitosan terbuat dari kitin yang terkandung di dalam cangkang udang, termasuk ccangkang kepiting. Cangkang udang misalnya, diperkirakan mencakup 30-70% bagian dari tubuh udang sendiri sehingga cangkang menjadi limbah yang melimpah. Melalui proses pemurnian, cangkang akan menghasilkan kitin sebagai senyawa aminopolisakarida yang mampu mengikat 4-5 kali berat lemak ketimbang berat kitin itu sendiri. Untuk menjadikan kitin sebagai kitosan, ditempuh melalui proses hidrolisis kitin dengan asam dan basa. Kitosan merupakan kitin yang telah dihilangkan gugus asetilnya, lalu menyisakan gugus amina bebas yang menjadikan kitosan bersifat polikationik atau ion bermuatan positif. Karena muatan kitosan yang positif ini bisa ditempelkan dengan kurkumin yang bermuatan negative. Kata Ronny Obat nanopartikel ini selanjutnya mudah diserap dan masuk ke pembuluh darah dan jaringan sel. kurkumin dalam hal ini sebagai drug atau obat yang ingin diantar dengan kitosan nanopartikel. Kata Ronny. Kelimpahan bahan baku obat nanopartikel menjadi modal utama. Namun, ketekunan dan keseriusan semua pihak untuk mendukung riset ini tak kalah penting. Bahkan, amat penting.

Ronny merupakan satu diantara empat peneliti muda lainnya yang diberi hibah dana penelitian oleh Biro Oktroi dan AIPI. Roni mengajukan usulan penelitian bidang Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati.