Anda di halaman 1dari 24

PENDAHULUAN

Psoriasis vulgaris merupakan bagaian dari penyakit kulit Dermatosis Eritroskuamosa yaitu penyakit kulit yang terutama ditandai dengan adanya eritama dan skuama yang meliputi psoriasis, parapsoriasis, pitiriasis rosea, dermatitis seboroik, lupus erimatosus, dan dermatofitosis. Kasus psoriasis ini makin sering dijumpai. Meskipun penyakit ini tidak menyebabkan kematian, tetapi menyebabkan gangguan kosmetik, terlebih-lebih mengingat perjalannya menahun dan residif. Penyebabnya masih belum jelas, biasanya lebih banyak mengenai usia dewasa muda, frekuensi pria dan wanita hampir sama. Insiden pada orang kulit putih lebih tinggi daripada penduduk kulit berwarna. Di Eropa dilaporkan sebanyak 3-7%, di Amerika Serikat 1-2%, sedangkan di Jepang 0,6%. Pada bangsa berkulit hitam, misalnya di Afrika, jarang dilaporkan, demikian pula bangsa indian di Amerika. Lesi pada psoriasis adalah sangat khas, sering disebut dengan plak karena terdapat peninggian pada kulit yang berwarna merah dan berbatas tegas. Psoriasis dapat mengenai kulit hampir seluruh bagian tubuh umumnya meliputi lutut, siku, kulit kepala, badan, dan kuku. Diatas plak tersebut terdapat skuama yang berlapis-lapis yang tersusun atas sel kulit yang mati. Kulit dengan psoriasis biasanya sangat kering, bisanya sakit, dan juga gatal.

BAB II LAPORAN KASUS


I. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Umur Status Pernikahan Pekerjaan Pendidikan Agama Alamat : Anak D : Perempuan : 7 tahun 9 bulan : Belum Menikah : Pelajar : SD : Islam : Balapulang

II.

ANAMNESIS Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 20 Desember pukul 11.00 WIB di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal.

Keluhan Utama Bercak merah bersisik pada kulit terasa gatal , panas dan nyeri

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien seorang anak perempuan datang diantar oleh ibunya ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal dengan keluhan utama bercak merah bersisik pada kulit kepala , leher bagian depan dan belakang , lengan tangan kanan dan kiri , punggung tangan kanan dan kiri, punggung , dan pada tungkai kaki kanan dan kiri. Bercak terasa gatal , panas dan juga nyeri terkadang. Awalnya keluhan tersebut timbul pada saat usia pasien berumur 3 bulan dan hanya ditandai dengan muncul bintikbintik kemerahan pada daerah leher tetapi makin lama makin melebar menjadi bercakbercak kemerahan lalu bersisik kasar. Bercak-bercak merah yang disertai dengan sisik kasar menyebar sampai ke bagian kepala pasien yang ditunjukkan sebagai ketombe. Pasien sudah melakukan pengobatan ke puskesmas dan ke poli kulit RSUD Kardinah Tegal. Awalnya saat keluhan timbul , ibu pasien membawa pasien ke puskesmas namun petidak kunjung membaik. Kemudian ibu pasien membawa pasien ke poli

RSUD kardinah Tegal dan sudah diberikan pengobatan obat minum dan juga obat salep yang dioleskan setiap kali habis mandi. Pasien menyangkal adanya lesi yang timbul yang serempak , dan juga adanya rambut yang rontok pada daerah lesi.

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengaku tidak pernah memiliki keluhan seperti ini sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga Di keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien

III. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tanda vital : Tampak sakit ringan : Compos mentis :

Tekanan darah : 110/80 mmHg Suhu Pernafasan : afebris : 18x/m : 120 cm : 25 kg : Gizi normal : Normocephali, rambut hitam, distribusi merata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, alis mata hitam, tidak ada madarosis

Tinggi badan Berat badan Status gizi Kepala Mata

Telinga Hidung Mulut

: Normotia, tidak ada kelainan kulit : Normal, deviasi (-), sekret (-), tidak ada kelainan kulit : Bibir tidak pucat, tidak ada kelainan kulit

Thorax Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi o Paru : Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/o Jantung: Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-) Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : buncit, tidak terdapat kelainan kulit : Supel, hepar dan lien tidak teraba membesar : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak diperiksa : Akral hangat, tidak ada edema, tidak sianosis, terdapat kelainan kulit (lihat status dermatologikus) Ekstremitas bawah : Akral hangat, tidak ada edema, tidak sianosis, terdapat kelainan kulit : Bentuk normal, pergerakan simetris, terdapat kelainan kulit. : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan

Genitalia Ekstremitas atas

Status Dermatologikus Distribusi Ad regio : Regional, bilateral : kulit kepala dan rambut ,leher, punggung tangan kanan dan kiri Lesi Efloresensi : Multipel, diskret, berbatas tidak tegas, ukuran plakat :Makula eritema, , ekskoriasi, krusta, skuama

Bercak merah bersisik kasar pada daerah kepala

Bercak berisisik kasar pada daerah kepala dan leher

Bercak bersisik pada daerah leher

Bercak bersisik pada punggung tangan kiri dan tangan kanan

IV. DIAGNOSIS BANDING a. Psoriasis b. Pitriasis rosea c. Dermatitis seboroik

V.

USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Pemeriksaan darah lengkap b. Pemeriksaan histopatologis

VI. RESUME Pasien seorang anak perempuan datang diantar oleh ibunya ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal dengan keluhan utama bercak merah bersisik pada kulit kepala , leher bagian depan dan belakang , lengan tangan kanan dan kiri , punggung tangan kanan dan kiri, punggung , dan pada tungkai kaki kanan dan kiri. Bercak terasa gatal , panas dan juga nyeri terkadang. Awalnya keluhan tersebut timbul pada saat usia pasien berumur 3 bulan dan hanya ditandai dengan muncul bintikbintik kemerahan pada daerah leher tetapi makin lama makin melebar menjadi bercakbercak kemerahan lalu bersisik kasar. Bercak-bercak merah yang disertai dengan sisik kasar menyebar sampai ke bagian kepala pasien yang ditunjukkan sebagai ketombe. Pasien sudah melakukan pengobatan ke puskesmas dan ke poli kulit RSUD Kardinah Tegal. Awalnya saat keluhan timbul , ibu pasien membawa pasien ke puskesmas namun petidak kunjung membaik. Kemudian ibu pasien membawa pasien ke poli RSUD kardinah Tegal dan sudah diberikan pengobatan. Keadaan umum Kesadaran Tanda vital : Tampak sakit ringan : Compos mentis :

Tekanan darah : 110/80 mmHg Suhu Pernafasan : afebris : 18x/m : 120 cm : 25 kg : Gizi normal

Tinggi badan Berat badan Status gizi

Status Dermatologikus Distribusi Ad regio : Regional, bilateral : kulit kepala dan rambut ,leher, punggung tangan kanan dan kiri Lesi Efloresensi : Multipel, diskret, berbatas tidak tegas, ukuran plakat :Makula eritema, , krusta, ekskoriasi, skuama

VII. DIAGNOSIS KERJA Psoriasis VIII. PENATALAKSANAAN 1. UMUM Memberikan penjelasan pada pasien tentang penyakit yang diderita dan pengobatannya. Bila terasa gatal, sebaiknya jangan menggaruk terlalu keras karena dapat menyebabkan luka dan infeksi sekunder. Menyarankan agar pasien menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta istirahat yang cukup. Menjelaskan pasien agar teratur dalam mengkonsumsi obat dan pemakaian obat salep 2. KHUSUS Sistemik (oral) : o Metylprednislon 4 mg 2 x1/2 o Interhistin 2 x1/2 Topikal : o Clobesan cream IX. PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad fungtionam Quo ad sanationam : Ad bonam : dubia : dubia ad malam

Quo ad kosmetikum : dubia ad malam

PEMBAHASAN Penyakit kulit tersebut dapat bersifat akut atau kronik, dapat hilang seterusnya bila diobati secara adekuat bahkan ada yang bersifat residitif. Etiologi nya pun bervariasi dapat karena adanya infeksi bakteri, virus atau jamur, penyakit alergi dan autoimun. Pasien seorang anak perempuan datang diantar oleh ibunya ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal dengan keluhan utama bercak merah bersisik pada kulit kepala , leher

bagian depan dan belakang , lengan tangan kanan dan kiri , punggung tangan kanan dan kiri, punggung , dan pada tungkai kaki kanan dan kiri. Bercak terasa gatal , panas dan juga nyeri terkadang. Awalnya keluhan tersebut timbul pada saat usia pasien berumur 3 bulan dan hanya ditandai dengan muncul bintik-bintik kemerahan pada daerah leher tetapi makin lama makin melebar menjadi bercak-bercak kemerahan lalu bersisik kasar. Bercak-bercak merah yang disertai dengan sisik kasar menyebar sampai ke bagian kepala pasien yang ditunjukkan sebagai ketombe. Pasien sudah melakukan pengobatan ke puskesmas dan ke poli kulit RSUD Kardinah Tegal. Awalnya saat keluhan timbul , ibu pasien membawa pasien ke puskesmas namun petidak kunjung membaik. Kemudian ibu pasien membawa pasien ke poli RSUD kardinah Tegal dan sudah diberikan pengobatan. pada status dermatologis pemeriksaan fisik kulit didapatkan bahwa : distribusi lesi regional , bilateral pada regio kulit kepala dan rambut ,leher, punggung tangan kanan dan kiri. Lesi berbentuk multipel, diskret, berbatas tidak tegas, ukuran plakat dengan efloresensi makula eritema, , krusta, ekskoriasi, skuama

Pada kasus ini di diagnosis psoriasis berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis yang terdapat pada pasien. Riwayat dan gejala klinis psoriasis ditemukan pada kasus ini. Dari anamnesis didapatkan keluhan terdapat bercak merah kasar terasa gatal yang kemudian digaruk jadi mengelupas, berwarna putih seperti serpihan ketombe, tampak bersisik dan makin menebal. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan penyakit kulit yang diderita

merupakan penyakit golongan dermatosis eritroskuamosa. Terdapat faktor genetik yang mempengaruhi kejadian psoriasis. Menurut pustaka, bahwa psoriasis yang terjadi pada usia lebih dini (masa anak-anak) menunjukkan adanya penyakit genetik yang diturunkan dari kedua orangtuanya. Penyingkiran diagnosis banding Pitiriasis Rosea Merupakan penyakit kulit golongan dermatosis eritroskuamosa yang penyebabnya belum diketahui. Lesi berupa eritema dan skuama yang halus. Pada pitiriasis Rosea, prdileksi pada lengan atas, badan dan paha, bentuk oval, distribusi memanjang mengikuti garis tubuh (pohon cemara), skuama sedikit tidak berlapis-lapis dan didahului oleh herald patch. Diagnosis ini dapat disingkirkan karena skuama pada pitiariasis halus, sedangkan pada pasien ini diatas plak eritema terdapat skuama yang kasar. Dermatitis Seboroik

Predileksi Dermatitis Seboroik pada alis, lipatan nasolabial, telinga sternum dan fleksura. Sedangkan Psoriasis pada permukaan ekstensor terutama lutut dan siku serta kepala. Skuama pada psoriasis kering, putih, mengkilap, sedangkan pada Dermatitis Seboroik skuama berminyak, tidak bercahaya. Psoriasis tidak lazim pada wajah dan jika skuama diangkat tampak basah bintik perdarahan dari kapiler (Auspitz sign), dimana tanda ini tidak ditemukan pada dermatitis seboroik. Penatalaksanaan Pada kasus ini diberikan terapi berupa metil prednisolon 4 mg 2x1/2 Interhistin 2x1/2 dan clobesan cream 2x/hr. metal prednisolon dan clobesan merupakan obat dari golongan kortikosteroid yang berkerja dengan cara vasokonstriksi untuk mengurangi eritema, menurunkan turnover sel dengan memperlambat proliferasi seluler dan mempunyai efek anti inflamasi, dimana diketahui pada psoriasis, leukosit memegang peranan dan steroid topikal dapat menurunkan inflamasi. Pemberian interhistin merupakan antihistamin yang pada kasus ini diindikasikan karena gatal sebagai keluhan utama pasien. Obat ini bekerja dengan menghambat mediator histamine 1 di perifer yang terbentuk dari reaksi imunologi. Selain medicamentosa, pemberian edukasi psoriasis sebagai penatalaksaan juga cukup penting. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa penyakit ini tidak menyebabkan kematian dan tidak menular, tetapi karena timbulnya dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja sehingga dapat menyebabkan gangguan kosmetik, menurunkan kualitas hidup, gangguan psikologis (mental), sosial, dan finansial

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI Psoriasis adalah penyakit kulit kronik residif dengan lesi yang khas berupa bercak-bercak eritema berbatas tegas, ditutupi oleh skuama yang tebal berlapis-lapis berwarna putih mengkilap serta transparan, disertai fenomen tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. Penyebab psoriasis hingga saat ini belum diketahui, tetapi yang pasti pembentukan epidermis dipercepat, dimana proses pergantian kulit pada pasien psoriasis berlangsung secara cepatyaitu sekitar 2-4 hari, sedangkan pada orang normal berlangsung 3-4 minggu. Penyakit ini tidak menyebabkan kematian, tidak menular, tetapi karena timbulnya dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja sehingga dapat menyebabkan gangguan kosmetik, menurunkan kualitas hidup, gangguan psikologis (mental), sosial, dan finansial.

EPIDEMIOLOGI Psoriasis ditemukan di mana-mana di dunia, tetapi catatan prevalensi di daerah yang berbeda bervariasi kurang dari 1% hingga mencapai 3% dari populasi.2,5 Insiden pada orang kulit putih lebih banyak dibandingkan dengan orang yang kulit berwarna.Di United States, psoriasis dijumpai sebanyak 2% dari populasi, dengan rata-rata 150.000kasus baru pertahun. Psoriasis jarang ditemukan di Afrika Barat dan Amerika Utara. Insiden penyakit ini juga rendah pada bangsa Jepang dan Eskimo, serta populasi kulit hitam.Insiden psoriasis pada pria agak lebih banyak dari pada wanita, psoriasis dapat terjadi pada semua usia, tetapi umumnya pada orang dewasa muda. Onset penyakit ini umumnya kurang pada usia yang sangat muda dan orang tua.2,5 Dua kelompok usia yang terbanyak adalah pada usia antara 20 30 tahun dan yang lebih sedikit pada usia antara 50 60 tahun.Psoriasis lebih banyak dijumpai pada daerah dingin dan lebih banyak terjadi pada musim hujan.

ETIOLOGI Penyebab psoriasis hingga saat ini tidak diketahui, terdapat predisposisi genetik tetapi secara pasti cara diturunkan tidak diketahui. Psoriasis tampaknya merupakan suatu penyakit keturunan dan tampaknya juga berhubungan dengan kekebalan dan respon peradangan Diketahui faktor utama yang menunjang penyebab psoriasis adalah hiperplasia sel epidermis.Penyelidikan sel kinetik menunjukkan bahwa pada psoriasis terjadi percepatan proliferasisel-sel epidermis serta siklus sel germinatum lebih cepat dibandingkan sel-sel pada kulit normal. Pergantian epidermis hanya terjadi dalam 3-4 hari sedangkan turn over time epidermis normalnya adalah 28-56 hari Faktor genetik sangat berperan, dimana bila orang tuanya tidak menderita psoriasis, resikountuk mendapat psoriasis 12 %, sedangkan jika salah seorang orang tuanya menderita psoriasis resikonya mencapai 34-39 %. Hal lain yang menyokong adanya faktor genetik ialah bahwa psoriasis berkaitan dengan HLA. Berdasarkan awitan penyakit dikenal dua tipe :Psoriasis tipe I dengan awitan dini bersifat familial dan berhubungan dengan HLA-B13, B17,Bw57, dan Cw6 sedangkan psoriasis tipe II dengan awitan lambat bersifat nonfamilial dan berhubungan dengan HLA-B27 dan Cw2 dan Psoriasis Pustulosa berkorelasi dengan HLA-B27. Psoriasis merupakan kelainan multifaktorial dimana faktor genetik dan lingkungan memegang peranan penting.Ada beberapa faktor faktor yang dapat mencetuskan psoriasis, yaitu: Trauma: Dilaporkan bahwa berbagai tipe trauma kulit dapat menimbulkan psoriasis. Infeksi: Sekitar 54 % anak-anak dilaporkan terjadi eksaserbasi psoriasis dalam 2-3minggu setelah infeksi saluran pernapasan atas. Infeksi fokal yang mempunyaihubungan erat dengan salah satu bentuk psoriasis ialah Psoriasis Gutata, sedangkan hubungannya dengan Psoriasis Vulgaris tidak jelas dan pernah di laporkan kasus-kasus Psoriasis Gutata yang sembuh setelah diadakan tonsilektomi. Streptococcus pyogenes telah diisolasi sebanyak 26 % pada Psoriasis Gutata Akut, 14 % pada pasien Psoriasis Plak, dan 16 % pada pasien Psoriasis Kronik. Stres : Dalam penyelidikan klinik, sekitar 30-40 % kasus terjadi perburukan olehkarena stres. Stres bisa merangsang kekambuhan psoriasis dan cepat menjalar bilakondisi pasien tidak stabil. Pada anak-anak, eksaserbasi yang dihubungkan denganstres terjadi lebih dari 90 %. Stres psikis merupakan faktor pencetus utama.2,12 Tidak ditemukan gangguan

kepribadiaan pada penderita psoriasis. Adanya kemungkinan bahwa stres psikologis dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan menerimaterapi dan dapat menyebabkan deteriorasi terutama pada kasus berat. Alkohol : Umumnya dipercaya bahwa alkohol berefek memperberat psoriasis tetapi pendapat ini belum dikonfirmasi dan kepercayaan ini muncul berdasarkan observasi pecandu alkohol yang menderita psoriasis. Peminum berat yang telah sampai padalevel yang membayakan kesehatan sering ditemukan pada pasien psorasis berat laki-laki dibandingkan penderita psorasis lainnya. Kemungkinan alkohol yang berlebihandapat mengurangi kemampuan pengobatan dan juga adanya gejala stres menyebabkan parahnya penyakit kulit. Faktor endokrin : Puncak insiden psoriasis pada waktu pubertas dan menopause. Padawaktu kehamilanumumnya membaik, sedangkan pada masa pasca partus memburuk. Sinar matahari : Dilaporkan 10 % terjadi perburukan lesi

PATOGENESIS Psoriasis merupakan penyakit multifaktorial yang disebabkan aktivitas berbagai gen yang berinteraksi dengan lingkungan, berhubungan kuat dengan alel HLA-CW-6. The HumanGenom Project akan membantu mengidentifikasi major histocompatibility Complex (MHC)dan gen non MHC yang terlibat pada psoriasis. Patogenesis psoriasis tetap tidak diketahui tetapi beberapa penulis percaya bahwa penyakitini merupakan autoimun murni dan sel T mediated. Beberapa penemuan mendukungautoimun ini seperti histokompatibiliti kompleks mayor (MHC) antigen, akumulasi sel Tterutama memori, serta adanya lapisan anti korneum dan anti keratinosit antibodi nukleus. Beragam data yang diperoleh akhir-akhir ini pada penyelidikan psoriasis menekankan bahwaterdapat aktivitas infiltrasi sel-sel CD4 pada lesi-lesi kulit. Lesi psoriasis lama umumnya penuh dengan sebukan limfosit T pada dermis yang terutama terdiri atas limfosit T CD4 dengan sedikit sebukan limfositik dalam epidermis. Pada psoriasis terdapat sekitar 17 sitokin yang produksinya bertambah. Sel langerhans juga berperan pada imunopatogenesis. Terjadinya proliferasi epidermis diawali dengan adanya pergerakan antigen, baik eksogen maupun endogen oleh sel Langerhans.

Beberapa sitokin dan reseptornya memperlihatkan peningkatan level pada epidermis psoriasis. Perubahan-perubahan biokimia yang ditemukan pada psoriasis meliputi :Konsentrasi lipid yang tinggi dan peningkatan level enzim protein nuklear pada glikolitik pathway yang menyebabkan turn over sel meningkat. Perhatian yang sungguh-sungguh difokuskan pada level siklik nukleotida terutama AMPsiklik (cAMP) yang mengontrol epidermopoesis. Juga dilaporkan terjadinya kenaikan yang menyolok dari level siklik GMP (cGMP) dalam epidermis. Walaupun demikian peningkatancGMP yang menyebabkan peningkatan kecepatan proliferasi seluler tidak diketahui hingga saat ini. cAMP epidermis sangat menurun selanjutnya asam arakidonik meningkat dalam epidermis. BENTUK KLINIS PSORIASIS Pada psoriasis terdapat berbagai bentuk klinis, yaitu: 1. Psoriasis Vulgaris Hampir 80 % penderita psoriasis adalah tipe psoriasis plak yang secara ilmiah disebut juga psoriasis vulgaris. Dinamakan pula tipe plak karena lesi-lesinya umumnya berbentuk plak. Tempat predileksinya seperti yang telah diterangkan di atas. 2. Psoriasis Gutata Diameter kelainan biasanya tidak melebihi 1 cm. Timbulnya mendadak dan

diseminata,umumnya setelah infeksi Streptococcus di saluran napas bagian atas sehabis influenza atau morbili, terutama pada anak dan dewasa muda. Selain itu, juga dapat timbul setelah infeksi yang lain, baik bakterial maupun viral, pada stres, luka pada kulit, penggunaan obat tertentu (antimalaria dan beta bloker) 3. Psoriasis Inversa (Psoriasis Fleksural) Psoriasis tersebut mempunyai tempat predileksi pada darerah fleksor sesuai dengan namanya,misalnya pada daerah aksilla, pangkal pahadi bawah payudara, lipatan-lipatan kulit diseklitas kemalua dan panggul. 4. Psoriasis Pustulosa

Ada dua pendapat mengenai psoriasis pustulosa, pertama dianggap sebagai penyakit tersendiri, kedua dianggap sebagai varian psoriasis. Terdapat dua bentuk psoriasis pustulosa, bentuk lokalisata dan generalisata. Bentuk lokalisata contohnya psoriasis pustulosa palm plantar (barber) yang menyerang telapak tangan dan kaki serta ujung jari. Sedangkan bentuk generalisata, contohnya psoriasis pustulosa generalisata akut (von Zumbusch) jika pustule timbul pada lesi psoriasis dan juga kulit di luar lesi, dan disertai gejala sistemik berupa panas / rasa terbakar. 5. Psoriasis Eritroderma Psoriasis Eritroderma dapat disebabkan oleh pengobatan topikal terlalu kuat atau oleh penyakitnya sendiri yang meluas. Bentuk ini dapat juga ditimbulkan oleh

infeksi,hipokalsemia, obat antimalaria, tar dan penghentian kortikosterid, baik topikal maupun sistemik. Biasanya lesi yang khas untuk psoriasis tidak tampak lagi karena terdapat eritema dan skuama tebal universal. Ada kalanya lesi psoriasis masih tampak samar-samar, yakni lebih eritematosa dan kulitnya lebih meninggi. DIAGNOSIS Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubah warnanya menjadi putih pada goresan,seperti lilin yang digores disebabkan oleh berubahnya indeks bias. Cara menggores dapat menggunakan pingir gelas alas. Pada fenomena Auspitz tampak serum atau darah berbintik-bintik yang disebakan oleh papilomatosis. Cara megerjakannya : skuama yang berlapis-lapis itu dikerok, bisa dengan pinggir gelas alas. Setelah skuamanya habis, maka pengerokan harus dilakukan perlahanlahan, jika terlalu dalam tidak akan tampak perdarahan yang berbintik-bintik melainkan perdarahan yang merata. Fenomena Kobner dapat terjadi 7-14 hari setelah trauma pada kulit penderita psoriasis,misalnya garukan dapat menyebabkan kelainan yang sama dengan kelainan psoriasis. Dua puluh lima sampai lima puluh persen penderita psoriasis yang lama juga dapat menyebabkan kelainan pada kuku, dimana perubahan yang dijumpai berupa pitting nail atau nail pit pada lempeng kuku berupa lekukan-lekukan miliar. Perubahan pada kuku terdiri dari onikolosis (terlepasnya seluruh atau sebagian kuku darimatriksnya), hiperkeratosis

subungual (bagian distalnya terangkat karena terdapat lapisantanduk di bawahnya), oil spots subungual, dan koilonikia ( spooning of nail plate). Disamping menimbulkan kelainan pada kulit dan kuku, penyakit ini dapat pula menyebabkan kelainan pada sendi, tetapi jarang terjadi. Antara 10-30 % pasien psoriasis berhubungan dengan atritis disebut Psoriasis Artritis yang menyebabkan radang pada sendi. Umumnya bersifat poliartikular, tempat predileksinya pada sendi interfalangs distal, terbanyak terdapat pada usia 30-50 tahun. Sendi membesar, kemudian terjadi ankilosis dan lesi kistik subkorteks. GAMBARAN HISTOPATOLOGI PSORIASIS Psoriasis memberikan gambaran histopatologi, yaitu perpanjangan (akantosis) reteridges dengan bentuk clubike, perpanjangan papila dermis, lapisan sel granuler menghilang, parakeratosis, mikro abses munro (kumpulan netrofil leukosit polimorfonuklear

yangmenyerupai pustul spongiform kecil) dalam stratum korneum, penebalan suprapapiler epidermis (menyebabkan tanda Auspitz), dilatasi kapiler papila dermis dan pembuluh darah berkelok-kelok, infiltrat inflamasi limfohistiositik ringan sampai sedang dalam papila dermisatas. LABORATORIUM Tidak ada kelainan laboratorium yang spesifik pada penderita psoriasis tanpa terkecuali pada psoriasis pustular general serta eritroderma psoriasis dan pada plak serta psoriasis gutata. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan bertujuan menganalisis penyebab psoriasis, seperti pemeriksaan darah rutin, kimia darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat. Bila penyakit tersebar luas, pada 50 % pasien dijumpai peningkatan asam urat, dimana hal ini berhubungan dengan luasnya lesi dan aktifnya penyakit. Hal ini meningkatkan resiko terjadinya artritis gout. Laju endapan eritrosit dapat meningkat terutama terjadi pada fase aktif. Dapat juga ditemukan peningkatan metabolit asam nukleat pada ekskresi urin.Pada psoriasis berat, psoriasis pustular general dan eritroderma keseimbangan nitrogen terganggu terutama penurunan serum albumin. Protein C reaktif, makroglobulin, level IgA serum dan kompleks imun IgA meningkat, dimana sampai saat ini peranan pada psoriasis tidak diketahui.

DIAGNOSIS BANDING a. Dermatofitosis (Tinea dan Onikomikosis) Pada stadium penyembuhan psoriasis telah dijelaskan bahwa eritema dapat terjadi hanya di pinggir, hingga menyerupai dermatofitosis. Perbedaannya adalah skuama umumnya pada perifer lesi dengan gambaran khas adanya central healing, keluhan pada dermatofitosis gatal sekali dan pada sediaan langsung ditemukan jamur. b. Sifilis Psoriasiformis Sifilis pada stadium II dapat menyerupai psoriasis dan disebut sifilis psoriasiformis. Perbedaannya adalah skuama berwarna coklat tembaga dan sering disertai demam pada malam hari (dolores nocturnal), STS positif (tes serologik untuk sifilis), terdapat riwayat senggama (coitus suspectus), dan pembesaran kelenjar getah bening menyeluruh serta alopesia areata. c. Dermatitis Seboroik Predileksi Dermatitis Seboroik pada alis, lipatan nasolabial, telinga sternum dan fleksura. Sedangkan Psoriasis pada permukaan ekstensor terutama lutut dan siku serta kepala. Skuama pada psoriasis kering, putih, mengkilap, sedangkan pada Dermatitis Seboroik skuama berminyak, tidak bercahaya. Psoriasis tidak lazim pada wajah dan jika skuama diangkat tampak basah bintik perdarahan dari kapiler (Auspitz sign), dimana tanda ini tidak ditemukan pada dermatitis seboroik. d. Pitiriasis Rosea Pada pitiriasis Rosea, lokasi erupsi pada lengan atas, badan dan paha, bentuk oval, distribusi memanjang mengikuti garis tubuh (pohon cemara), skuama sedikit tidak berlapis-lapis dan didahului oleh herald patch PENATALAKSANAAN Oleh karena penyebab pasti belum jelas, maka diberikan pengobatan simtomatis sambil berusaha mencari / mengeliminasi faktor pencetus : A. Topikal a. Preparat ter

Obat topikal yang biasa digunakan adalah preparat ter, yang efeknya adalah anti radang. Preparat ter berguna pada keadaan-keadaan: Bila psoriasis telah resisten terhadap steroid topikal sejak awal atau takhifilaksis olehkarena pemakaian pada lesi luas. Lesi yang melibatkan area yang luas sehingga pemakaian steroid topikal kurang bijaksana. Bila obat-obat oral merupakan kontra indikasi oleh karena terdapat penyakit sistemik. Menurut asalnya preparat ter dibagi menjadi 3, yakni yang berasal dari : Fosil, misalnya iktiol . Kayu, misalnya oleum kadini dan oleum ruski . Batubara, misalnya liantral dan likuor karbonis detergens. Ter dari kayu dan batubara yang efektif untuk psoriasis, dimana ter batubara lebih efektif daripada ter kayu, sebaliknya kemungkinan memberikan iritasi juga jauh lebih besar. Pada psoriasis yang menahun lebih baik digunakan ter yang beasal dari batubara, sebaliknya psoriasis akut dipilih ter dari kayu. Preparat ter digunakan dengan konsentrasi 2-5 %. Untuk mempercepat, ter dapat dikombinasi dengan asam salisilat 2-10 % dan sulfur presipitatum 3-5 %. b. Kortikosteroid Kerja steroid topikal pada psoriasis diketahui melalui beberapa cara, yaitu: 1. Vasokonstriksi untuk mengurangi eritema. 2. Menurunkan turnover sel dengan memperlambat proliferasi seluler. 3. Efek anti inflamasi, dimana diketahui pada psoriasis, leukosit memegang peranan dan steroid topikal dapat menurunkan inflamasi. Fluorinate, triamcinolone 0,1 % dan flucinolone topikal efektif untuk kebanyakan kasus psoriasis pada anak. Preparat hidrokortison 1%-2,5% harus digunakan pada fase akut dan sebagai pengobatan maintenance. Kortikosteoid tersedia dalam bentuk gel, lotion, solution dan krim, serta ointment dimana pada pemakaian jangka panjang dapat terjadi efek samping. Efek samping berupa

atrofi,erupsi akneiformis, striae, telangiektasis di muka, dapat terjadi pada pemakaian topikal potensi kuat, terutama bila digunakan under occlusion. Kadang-kadang pada pemakaian jangka panjang dapat terjadi hypothalamic pituitary adrenal axis (HPA) sehingga dianjurkan pemeriksaaan level serum kortisol. c. Ditranol (antralin) Antralin mempunyai efek sitostatik, sebab dapat mengikat asam nukleat, menghambat sintesis DNA dan menggabungkan uridin ke dalam RNA nukleus. Obat ini dikatakan efektif pada psoriasis Gutata. Kekurangannya adalah mewarnai kulit dan pakaian. Konsentrasi yang digunakan biasanya 02-0,8 persen dalam pasta, salep, atau krim.1,2 Lama pemakaian hanya jam sehari sekali untuk mencegah iritasi penyembuhan dalam 3 minggu. d. Calcipotriol Calcipotriol ialah sintetik vit D yang bekerja dengan menghambat proliferasi sel dan diferensiasi sel terminal, meningkatkan diferensiasi terminal keratinosit, dan menghambat proliferasi keratinosit. Preparatnya berupa salep atau krim 50 mg/g. Efek sampingnya berupa iritasi, yakni rasa terbakar dan tersengat, dapat pula telihat eritema dan skuamasi. Rasa tersebut akan hilang setelah beberapa hari obat dihentikan. e. Tazaroten Merupakan molekul retinoid asetilinik topikal, efeknya menghambat proliferasi dan normalisasi petanda differensiasi keratinosit dan menghambat petanda proinflamasi pada sel radang yang menginfiltrasi kulit. Tersedia dalam bentuk gel, dan krim dengan konsentrasi 0,05% dan 0,1%. Bila dikombinasikan dengan steroid topikal potensi sedang dan kuat akan mempercepat penyembuhan dan mengurangi iritasi. Efek sampingnya ialah iritasi berupa gatal, rasa terbakar, dan eritema pada 30% kasus, juga bersifat fotosensitif f. Emolien Efek emolien ialah melembutkan permukaan kulit. Pada batang tubuh (selain lipatan), ekstremitas atas dan bawah biasanya digunakan salep dengan bahan dasar vaselin 12kali/hari, fungsinya juga sebagai emolien dengan akibat meninggikan daya penetrasi bahan aktif. Jadi emolien sendiri tidak mempunyai efek antipsoriasis. B. Sistemik

a. Kortikosteroid Kortikosteroid dapat mengontrol psoriasis, dan diindikasikan pada Psoriasis Eritroderma, Psoriasis Artritis, dan Psoriasis Pustulosa Tipe Zumbusch. Dimulai dengan prednison dosisr endah 30-60 mg (1-2 mg/kgBB/hari), atau steroid lain dengan dosis ekivalen. Setelah membaik, dosis diturunkan perlahan-lahan, kemudian diberi dosis pemeliharaan. Penghentian obat secara mendadak akan menyebabkan kekambuhan dan dapat terjadi Psoriasis Pustulosa Generalisata. b. Sitostatik Obat sitostatik yang biasa digunakan ialah metotreksat (MTX). Indikasinya ialah untuk psoriasis, Psoriasis Pustulosa, Psoriasis Artritis dengan lesi kulit, dan Psoriasis Eritroderma yang sukar terkontrol dengan obat. Dosis 2,5-5 mg/hari selama 14 hari dengan istirahat yang cukup. Dapat dicoba dengan dosis tunggal 25 mg/minggu dan 50 mg tiap minggu berikutnya. Dapat pula diberikan intramuskular 25 mg/minggu, dan 50 mg pada tiap minggu berikutnya.Kerja metotreksat adalah menghambat sintesis DNA dengan cara menghambat dihidrofolatreduktase dan dengan demikian menghasilkan kerja antimitotik pada epidermis. Penyelidikan in vitro akhir-akhir ini, metotreksat 10-100 kali lebih efektif dalam menghambat proliferasisel-sel limfoid. Kontraindikasinya ialah kelainan hepar, ginjal, sistem hematopoietik, kehamilan, penyakit infeksi aktif (misalnya tuberkulosis), ulkus peptikum, kolitis ulserosa, dan psikosis. Efek samping metotreksat berupa nyeri kepala, alopesia, kerusakan kromosom,

aktivasituberkulosis, nefrotoksik, juga terhadap saluran cerna, sumsum tulang belakang, hepar, dan lien. Pada saluran cerna berupa nausea, nyeri lambung, stomatitis ulserosa, dan diare. Jikahebat dapat terjadi enteritis hemoragik dan perforasi intestinal. Sumsum tulang berakibattimbulnya leukopenia, trombositopenia, kadang-kadang anemia. Pada hepar dapat terjadifibrosis portal dan sirosis hepatik. c. DDS DDS (diaminodifenilsulfon) dipakai sebagai pengobatan Psoriasis Pustulosa tipe Barber dengan dosis 2100 mg/hari. Efek sampingnya ialah anemia hemolitik,methemoglobinemia, dan agranulositosis.

d. Etretinat (tegison, tigason) Etretinat merupakan retinoid aromatik, derivat vitamin A digunakan bagi psoriasis yang sukar disembuhkan dengan obat-obat lain mengingat efek sampingnya. Etretinat efektif untuk Psoriasis Pustular dan dapat pula digunakan untuk psoriasis eritroderma. Kerja retinoid yaitu mengatur pertumbuhan dan diferensiasi terminal keratinosit yang pada akhirnya dapat menetralkan stadium hiperproliferasi. Pada psoriasis obat tersebut mengurangi proliferasi sel epidermal pada lesi psoriasis dan kulit normal. Retinoid juga memberikan efek anti inflamasi seperti menghambat netrofil. Dosisnya bervariasi : pada bulan pertama diberikan 1mg/kgbb/hari, jika belum terjadi perbaikan dosis dapat dinaikkan menjadi 1 mg/kgbb/hari. Efek sampingnya berupa kulit menipis dan kering, selaput lendir pada mulut, mata, dan hidung kering, kerontokan rambut, cheilitis, pruritus, nyeri tulang dan persendian, peninggian lipid darah, gangguan fungsi hepar (peningkatan enzim hati), hiperostosis, dan teratogenik. Kehamilan hendaknya tidak terjadi sebelum 2 tahun setelah obat dihentikan.

e. Asitretin (neotigason) Merupakan metabolit aktif etretinat yang utama. Asitretin sebagai monoterapi sangat efektif untuk Psoriasis Eritroderma dan Pustular. Efek sampingnya dan manfaatnya serupa dengan etretinat. Kelebihannya, waktu paruh eliminasinya hanya 2-4 hari, dibandingkandengan etretinat yang lebih dari 100-120 hari. Dosisnya 0,5 mg/kgbb/hari. Obat ini lebih menjanjikan untuk penderita anak-anak dan wanita usia produktif. f. Siklosporin A Digunakan bila tidak berespon dengan pengobatan konvensional. Efeknya ialah imunosupresif. Dosisnya 1-4 mg/kgbb/hari. Bersifat nefrotoksik dan hepatotoksik, gastrointestinal, flu like symptoms, hipertrikosis, hipertrofi gingiva, serta hipertensi. Hasil pengobatan untuk psoriasis baik, hanya setelah obat dihentikan dapat terjadi kekambuhan.

g. Eritromisin Merupakan antibiotik pilihan karena menghambat efek kemotaksis netrofil dan biasanya pada psoriasis gutata yang rekuren setelah infeksi streptokokus dapat dipertimbangkan untuk pemeriksaan kultur tenggorokan. C. Fototerapi Sinar ultraviolet mempunyai efek menghambat mitosis, sehingga dapat digunakan untuk pengobatan psoriasis. Cara yang terbaik adalah dengan penyinaran secara alamiah, tetapi sayang tidak dapat diukur dan jika berlebihan maka akan memperparah psoriasis .Karena itu, digunakan sinar ulraviolet artfisial, diantaranya sinar A yang dikenal sebagai UVA. Sinar tersebut dapat digunakan secara tersendiri atau berkombinasi dengan psoralen (8metoksipsoralen, metoksalen) dan disebut PUVA, atau bersama-sama dengan preparat ter yang dikenal sebagai pengobatan cara Goeckerman. PUVA efektif pada 85 % kasus, ketika psoriasis tidak berespon terhadap terapi yang lain.Karena psoralen bersifat fotoaktif, maka degan UVA akan terjadi efek sinergik. Diberikan 0,6 mg/kgbb secara oral 2 jam sebelum penyinaran ultraviolet. Dilakukan 2x seminggu, kesembuhan terjadi 2-4 kali pengobatan. Selanjutnya dilakukan pengobatan rumatan (maintenance) tiap 2 bulan. Efek samping overdosis dari fototerapi berupa mual, muntah, pusing dan sakit kepala.Adapun kanker kulit (karsinoma sel skuamos) yang dianggap sebagai resiko PUVA masih kontroversial. PROGNOSIS Meskipun psoriasis tidak menyebabkan kematian, tetapi bersifat kronis dan residif. Belum ada cara yang efektif dan memberi penyembuhan yang sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

1. Adhi, Djuanda: psoriasis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi ketiga, BalaiPenerbit FKUI, Jakarta, 2000 2. Benny effendi wiryadi: psoriasis penatalaksanaan dalam metode diagnostik dan penatalaksanaan psoriasis dan dermatitis seboroik. BP FKUI, Jakarta, 2003 3. Emmy S, Sri linuwih, M. wisnu: psoriasis dalam penyakit kulit yang umum diIndonesia sebuah panduan bergambar. MMI, Jakarta, 2005 4. National Institutes of Health|Department of Health & Human Services

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/psoriasis.html 5. Siregar R.S: psoriasis dalam atlas berwarna saripati penyakit kulit. Edisi kedua, EGC,Jakarta, 2005 6. Yayasan Psoriasis Indonesia. Pusat Informasi Online Penyakit Kulit

Psoriasis.http://www.psoriasis.or.id/psoriasis.php