Anda di halaman 1dari 4

BILATERAL MANDIBULAR CANINE IMPACTION: A RARE CASE REPORT

Rafika Yusniar Kurniasari 1 , Helmi Hirawan 2

1 Kedokteran Gigi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah 2 Bidang Bedah Mulut, Kedokteran Gigi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Alamat korespondensi:

Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia, 53122. Email: rafikayusniarkurniasari@gmail.com

ABSTRAK Impaksi merupakan kegagalan suatu gigi untuk berada di lengkung gigi yang biasanya terjadi karena kekurangan ruang untuk erupsi atau terdapat sesuatu yang menghalangi jalan erupsi normal gigi tersebut. Tidak erupsinya gigi permanen lebih dari satu tahun usia normal gigi tersebut erupsi relatif jarang terjadi, kecuali pada kasus gigi molar ketiga dan gigi kaninus atas. Laporan kasus ini melaporkan pasien wanita berusia 17 tahun dengan impaksi kaninus mandibula bilateral. Prosedur perawatan yang dilakukan berupa pengambilan gigi kaninus rahang bawah yang impaksi dengan metode pembedahan. Pasien menunjukkan penyembuhan yang baik setelah dilakukan perawatan. Kata kunci: Bilateral, impaksi, kaninus

PENDAHULUAN Gigi yang mengalami impaksi adalah gigi yang jalan erupsi normalnya terhalang atau terblokir, biasanya oleh gigi di dekatnya atau jaringan patologis. 1 Hal ini biasanya bersifat herediter, akan tetapi pada beberapa kasus penyebab dari impaksi tidak diketahui. Gigi kaninus rentan mengalami impaksi karena urutan dan pola erupsinya. Gigi kaninus merupakan gigi kedua setelah gigi molar ketiga yang berfrekuensi tinggi untuk mengalami impaksi. Impaksi gigi kaninus rahang atas dua puluh kali lipat lebih banyak terjadi dibandingkan impaksi gigi kaninus rahang bawah. 2

RIWAYAT KASUS Pasien wanita berusia 17 tahun datang untuk konsultasi ortodontik. Riwayat penyakit tidak menunjukkan adanya alergi maupun masalah kesehatan. Pasien dalam keadaan sehat dan tidak ada kontraindikasi untuk perawatan gigi. Tidak ada gejala dan tanda disfungsi temporomandibular. Tidak ada riwayat trauma pada rongga mulut, gigi, bibir, maupun rahang. Pemeriksaan intraoral menunjukkan adanya gigi kaninus desidui yang persistensi, sehingga dilakukan foto

radiografi panoramik untuk melihat gigi kaninus permanen. Foto radiografi menunjukkan adanya impaksi gigi kaninus rahang bawah bilateral dimana gigi kaninus kanan rahang bawah lebih labial dibandingkan gigi insisivus kedua kanan, sedangkan gigi kaninus kiri rahang bawah berada di antara akar gigi insisivus pertama dan kedua kiri rahang bawah.

PENATALAKSANAAN KASUS Rencana perawatan impaksi gigi kaninus tersebut adalah dengan pengambilan gigi melalui proses pembedahan, dengan pertimbangan terdapat gigi insisivus yang tegak dan sedikit crowding pada rahang bawah pasien ini. Rencana perawatan yang akan dilakukan kemudian dijelaskan kepada pasien dan ibunya, sehingga didapatkan informed consent. Pengambilan gigi kaninus kanan rahang bawah dilakukan dengan sedikit memotong tulang dan gigi dikeluarkan secara utuh, sedangkan pengambilan gigi kaninus kiri rahang bawah harus dilakukan dengan osteotomi untuk membuka mahkota gigi dan juga memotong gigi agar dapat dikeluarkan. Area tersebut kemudian diirigasi dengan betadine dan saline. Flap

1

kemudian dijahit kembali pada tempatnya semula. Pasien diingatkan untuk datang kembali setelah satu minggu guna memantau penyembuhan dan melepas benang jahitan.

minggu guna memantau penyembuhan dan melepas benang jahitan. Gambar 1. Gambaran intraoral pasien Gambar 2. Radiografi

Gambar 1. Gambaran intraoral pasien

melepas benang jahitan. Gambar 1. Gambaran intraoral pasien Gambar 2. Radiografi panoramik. 1) Gigi kaninus permanen

Gambar 2.

Radiografi panoramik. 1) Gigi kaninus permanen kiri rahang bawah, 2) Gigi kaninus permanen kanan rahang bawah

rahang bawah, 2) Gigi kaninus permanen kanan rahang bawah Gambar 3. Mucoperiosteal flap dengan gigi kaninus

Gambar 3.

Mucoperiosteal flap dengan gigi kaninus kanan

2

Gambar 3. Mucoperiosteal flap dengan gigi kaninus kanan 2 Gambar 4. Pemotongan sedikit tulang di bagian

Gambar 4.

Pemotongan sedikit tulang di bagian labial untuk mengeluarkan gigi kaninus kiri rahang bawah

labial untuk mengeluarkan gigi kaninus kiri rahang bawah Gambar 5. Kedua gigi kaninus permanen rahang bawah

Gambar 5.

Kedua gigi kaninus permanen rahang bawah pasca diekstraksi

Kedua gigi kaninus permanen rahang bawah pasca diekstraksi Gambar 6. Tulang yang berongga setelah pengambilan gigi

Gambar 6.

Tulang yang berongga setelah pengambilan gigi kaninus yang impaksi

6. Tulang yang berongga setelah pengambilan gigi kaninus yang impaksi Gambar 7. Flap dijahit kembali sesuai

Gambar 7.

Flap dijahit kembali sesuai pada tempatnya

Gambar 8. Gambaran intraoral menunjukkan penyembuhan yang baik setelah perawatan DISKUSI Kegagalan erupsi gigi kaninus

Gambar 8. Gambaran intraoral menunjukkan penyembuhan yang baik setelah perawatan

DISKUSI Kegagalan erupsi gigi kaninus rahang bawah merupakan kejadian yang tidak biasa terjadi dan dianggap sebagai fenomena yang langka. Chu dkk. (2003) melaporkan bahwa terdapat lima impaksi gigi kaninus (0,07%) pada rahang bawah dalam 7486 pasien. 3 Studi yang dilakukan oleh Rohrer (1929) dengan memeriksa foto radiografi dari 3000 pasien menemukan 62 diantaranya impaksi gigi kaninus rahang atas (2,06%) dan hanya tiga impaksi gigi kaninus di rahang bawah (0,1%), dengan rasio 20:1. 4 Terdapat banyak alasan mengapa gigi kaninus gagal untuk erupsi, antara lain tidak cukupnya ruang untuk erupsi, supernumerary teeth, premature loss dari gigi kaninus desidui, mahkota gigi permanen terlalu panjang, faktor-faktor herediter, gangguan fungsional dari kelenjar endokrin, tumor, kista dan trauma. 5 Gigi kaninus rahang bawah memiliki akar yang paling besar diantara semua gigi, selain itu persistensi gigi kaninus desidui rahang bawah pada kasus ini menjadi penghalang sehingga tidak cukup ruang untuk erupsi gigi kaninus permanen rahang bawah. 6 Impaksi gigi kaninus rahang bawah juga lebih banyak terjadi pada aspek labial dari lengkung gigi daripada gigi kaninus rahang atas, salah satu contohnya pada kasus ini. Hal ini dikarenakan tahap pembentukan folikel gigi kaninus rahang bawah berada pada inferior border

3

mandibula yang berada di labial tulang alveolar, oleh karena itu sebagian besar kasus impaksi gigi kaninus rahang bawah terjadi pada aspek labial gigi di dekatnya. 6 Pengambilan gigi impaksi secara umum dengan metode pembedahan intraoral, akan tetapi Plumpton menyatakan bahwa beberapa pengambilan gigi kaninus rahang bawah yang impaksi dapat dilakukan dengan pembedahan ekstraoral. 5 Terdapat banyak pilihan perawatan yang diusulkan untuk kasus impaksi gigi kaninus rahang bawah. Beberapa pilihan perawatan untuk kasus impaksi gigi kaninus rahang bawah, antara lain: 6

1. Observasi klinis dan radiografi secara berkala.

2. Pengambilan gigi secara bedah.

3. Pembedahan untuk membantu erupsi gigi.

4. Pembedahan dengan bantuan erupsi menggunakan peranti ortodontik.

5. Autotransplantasi kaninus

Beberapa penulis menyatakan bahwa gigi impaksi yang asimtomatik dapat dibiarkan di dalam tempatnya,akan tetapi memerlukan serangkaian observasi radiografi yang harus diambil secara berkala. Observasi dari impaksi gigi kaninus rahang bawah dapat diindikasikan dalam situasi berikut: 1,5

1. Terdapat kontraindikasi sistemik untuk pembedahan

2. Terdapat impaksi yang dalam pada rahang bawah tanpa ada patologi terkait.

3. Pasien sudah memiliki penampilan gigi yang baik dan tidak ingin dilakukan intervensi pembedahan.

4. Apabila gigi kaninus desidui memiliki panjang akar yang baik dan secara pengamatan estetik dapat diterima dan asimtomatik.

5. Jika kemungkinan besar akan terjadi kerusakan pada struktur penting di sekitarnya atau kerusakan tulang pendukung yang luas.

6. Tulang yang menutupi gigi sangat termineralisasi dan padat, yaitu pada

pasien yang berusia lebih dari 26 tahun. Pengambilan gigi yang impaksi dengan pembedahan dapat dilakukan dalam situasi berikut: 1,5

1. Terdapat infeksi, kista, atau tumor yang berkaitan dengan gigi kaninus yang impaksi.

2. Gigi yang impaksi menyebabkan gangguan pada periodontal gigi yang berdekatan.

3. Adanya gejala neuralgi.

4. Terdapat crowding pada lengkung gigi rahang bawah yang membutuhkan terapi pencabutan untuk memperbaiki gigi insisivus yang crowding.

5. Gigi kaninus yang impaksi mengalami ankilosis.

6. Menyebabkan terjadinya resorpsi akar pada gigi yang berdekatan.

7. Akar gigi kaninus yang impaksi sangat dilaserasi.

8. Impaksi gigi kaninus yang parah.

9. Pasien menolak perawatan ortodontik

dan transplantasi. Pasien pada kasus ini menggunakan perawatan pengambilan gigi secara bedah karena berdasarkan foto radiografi panoramik, letak gigi kaninus kanan rahang bawah yang impaksi berada di labial gigi insisivus kedua kanan dan gigi

kaninus kiri rahang bawah berada di antara akar gigi insisivus pertama dan kedua kiri rahang bawah. 5 Hal ini dapat mengganggu kedudukan dan dapat menyebabkan gigi- gigi di dekatnya tersebut menjadi crowding sehingga menurunkan nilai estetis. Pengambilan gigi-gigi kaninus yang impaksi dilakukan agar apabila nantinya akan dilakukan perawatan ortodontik dapat memberikan hasil yang lebih memuaskan. 2,6

KESIMPULAN Adanya gigi kaninus desidui rahang bawah atau hilangnya gigi kaninus permanen harus selalu diperksa secara klinis dan radiografi. Pengelolaan anestesi sebelum pengambilan gigi harus dilakukan

4

dengan hati-hati dan tepat di sisi gigi yang harus diambil.

DAFTAR PUSTAKA

1. Pedersen, G.W. 1988. Oral surgery 1 st

edition. W.B. Saunders Company. Philadelphia.

2. Rebellato, J., Schabel, B. 2002. Treatment of patient with an impacted transmigrant mandibular canine & a

palatally impacted maxillary canine. Angle Orthod. 73(3):328-36.

3. Chu, F.C.S., Li, T.K.L., Lui, V.K.B., Newsome, P.R.H., Chow, R.L.K.,

2003. Prevalence of

impacted teeth and associated pathologies a radiograph study of the Hong Kong Chinese population. Hong Kong Med J. 9:158-63.

4. Rohrer, A. 1929. Displaced and impacted canines. Int J Orthod Oral Surg. 15:1003.

5. Monika, R., Mahesh, G., Nikhil, M. 2009. Bilateral mandibular canine impaction: a rare case report. J Oral Health Comm Dent. 3(2):38-41.

6. Alberto, P.L. 2007. Surgical Management of The Impacted Canine and Second Molar. Oral Maxillofacial Surgery Clinics of North America.

Cheung, L.K

19(1):59-68.