Anda di halaman 1dari 116

BAHAN AJAR BUDAYA NUSANTARA

PROGRAM DIPLOMA III KEUANGAN SPESIALISASI KEBENDAHARAAN NEGARA

WORO ARYANDINI DAN TIM

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA TAHUN 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Mahaesa, yang atas berkah-Nya sehingga buku Bahan Ajar Budaya Nusantara Jilid I ini dapat diterbitkan. Bahan Ajar yang dihasilkan ini akan digunakan sebagai salah satu acuan pembelajaran bagi seluruh dosen mata kuliah Budaya Nusantara sebagai bentuk standardisasi proses pendidikan dan pembelajaran dalam rangka menjaga mutu dan meningkatkan kualitas lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Tugas utama kita, dosen-dosen Budaya Nusantara, adalah mencoba membantu mendiskripsikan kebudayaan suku-suku bangsa dalam masyarakat yang majemuk. Kuliah Budaya Nusantara pada hakekatnya mempelajari suatu masyarakat yang multietnik secara komparatif, dan menganalisis dengan segala teori kualitatif maupun kuantitatif yang berkaitan dengan kajian masyarakat yang multietnik itu, akan sangat bermanfaat bagi para mahasiswa yang nantinya ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Kebudayaan Suku-suku Bangsa Indonesia Indonesia, yang dalam antropologi Dr. Junus

Ensiklopedi Suku-suku Bangsa Indonesia karya pakar

Mellalatoa, terdiri atas 931 suku bangsa itu, sangat perlu dimengerti dan dipahami oleh kita semua. Buku Bahan Ajar ini yang hanya memuat ikhtisar 19 suku bangsa yang ada di Indonesia, diharapkan dapat merupakan langkah awal untuk memahami suku-suku bangsa di Indonesia pada umumnya. Kami memandang proyek penulisan buku Bahan Ajar ini sebagai salah satu tugas yang diberikan oleh Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara kepada

generasi pertama Dosen Budaya Nusantara di perguruan tinggi ini, dalam rangka menstabilisasi pendidikan Budaya Nusantara. Salah satu tugas itu adalah penulisan suatu buku Bahan Ajar yang dapat mengikhtisarkan menjadi satu bahan keterangan tentang sebanyak mungkin masyarakat dan adatistiadat dari aneka warna suku bangsa di Indonesia.

2|P a g e

2|P a g e

Kami telah berusaha semaksimal mungkin agar Bahan ajar ini memenuhi persayaratan, baik dari segi materi maupun penampilannya. Namun karena keterbatasan pengetahuan kami, tentu Bahan Ajar ini masih kurang sempurna. Oleh karenanya kami mohon kritik dan saran, untuk perbaikan pada cetakan beruikutnya. Akhirnya kami mengucapkan banyak terimakasih kepada Direktur STAN yang telah memberi kepercayaan kepada kami untuk membuat buku Bahan Ajar ini, dan kepada semua penulis yang dengan sumbangan bab yang ditulisnya memberi isi pada buku ini. Tak lupa juga saya menyatakan penghargaan saya sebesar-besarnya kepada semua yang telah membantu dalam semua tahap menuju ke arah penyelesaian dan penerbitan buku ini, terutama Staf Program Studi Akuntasi STAN, yang telah membantu menyediakan peta untuk masing-masing kebudayaan, serta untuk membuat Bahan Ajar ini. selalu membantu tersedianya keperluan

Catatan: Buku Bahan Ajar Budaya Nusantara Jilid I ini dimaksudkan untuk pemberian materi bahan perkuliahan tahap pertama setiap semester Jakarta, Agustus 2011

Woro Aryandini

1|P a g e

1|P a g e

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2 DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 2 PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 3 BANGSA ................................................................................................................................... 4 A. Konsep Suku Bangsa .................................................................................................... 4 B. Pengertian Kemajemukan Bangsa ................................................................................ 8 C. Terbentuknya Bangsa Indonesia .................................................................................. 9 D. Simbol dan Slogan Bangsa Indonesia ........................................................................ 10 KEBUDAYAAN ..................................................................................................................... 14 B. Wujud Kebudayaan .................................................................................................... 15 C. Kerangka Kebudayaan ............................................................................................... 15 D. Sistem Nilai Budaya ................................................................................................... 17

2|P a g e

2|P a g e

PENDAHULUAN

Kepulauan Indonesia yang juga disebut Nusantara merupakan suatu gugusan pulau yang terpanjang dan terbesar di dunia. Ia terdiri atas ribuan pulau, yang diatasnya dihuni oleh ratusan suku bangsa dengan adat istiadatnya masing-masing, yang berbeda-beda. Adat istiadat atau kebudayaan suku bangsa itu dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain letak geografis, iklim - termasuk curah hujan - , keadaan tanah, jumlah penduduk, di

samping masih ada faktor lainya. Sebagai daerah kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia, ia juga merupakan tempat persinggahan dan dilewati oleh lalu lalangnya orang dari Benua Asia yang mengunjungi Benua Australia, dan sebaliknya. Faktor ini juga mempengaruhi adat istiadat suatu suku bangsa, karena tentu ada jejak atau peninggalan dari manusia yang melewati suatu daerah. Oleh karenanya akan disinggung pula tentang

persebaran bangsa-bangsa yang menjadikan bangsa Indonesia atau terjadinya bangsa Indonesia. Untuk memahami budaya tiap suku bangsa di Nusantara bukanlah hal yang mudah, karena budaya mencakup gagasan, perilaku berpola dan kebudayaan fisiknya yang berupa hasil karya tiap suku bangsa. Karenanya dalam setiap bab yang berbicara tetang suatu suku bangsa, akan dianalisis sistem budayanya yang merupakan kompleks gagasan, sistem sosialnya yang merupakan wujud perilaku berpolanya, dan kebudayaan fisknya yang merupakan hasil karyanya, berupa unsur universal yang ada pada setiap kebudayaan suatu masyarakat. Bahan Ajar Budaya Nusantara Jilid I terdiri atas delapan bab, Bab I, Bab II dan Bab III merupakan paparan tentang konsep dan teori yang berkaitan tentang bangsa maupun suku bangsa, kebudayaan dan dinamikanya. Bab IV berbicara tentang pengaruh suatu kebudayaan yang masuk, dalam hal ini kebudayaan Hindu, Budha, Islam, dan Barat. Bab V, Bab VI, Bab VII, dan Bab VIII secara utuh membicarakan suatu kebudayaan tiap suku bangsa.

3|P a g e

3|P a g e

BAB
BANGSA

Tujuan Instruksional Khusus : Mahasiswa dapat menguraikan arti bangsa, suku bangsa, keanekaragaman budaya bangsa, terbentuknya bangsa Indonesia serta simbol dan slogan yang dimilikinya. A. Konsep Suku Bangsa Kebudayaan atau culture adalah keseluruhan pemikiran dan benda yang dibuat atau diciptakan oleh manusia dalam perkembangan sejarahnya. Para ahli umumnya sepakat bahwa kebudayaan adalah perilaku dan penyesuaian diri manusia berdasarkan hal-hal yang dipelajari atau sering disebut dengan learning behavior Ki Hajar Dewantara mendefinisikan kebudayaan sebagai kemenangan atau hasil perjuangan hidup, yakni perjuangannya terhadap dua kekuatan yang kuat dan abadi, alam dan zaman. Kebudayaan tidak pernah mempunyai bentuk yang abadi, tetapi terus menerus berganti-gantinya.. Tiap-tiap kelompok masyarakat pada periode yang sama seringkali memiliki budaya yang berbeda-beda. Perbedaan budaya juga mungkin dalam satu kelompok masyarakat karena adanya perbedaan zaman atau masa. Berbicara tentang Kebudayaan Nusantara tentu tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan suku bangsa yang hidup dan berkembang di Indonesia. Kelompok etnik atau suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya

mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku pun ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut dan oleh kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku atau ciri-ciri biologis. Anggota suatu suku bangsa pada umumnya ditentukan menurut garis keturunan

4|P a g e

4|P a g e

ayah (patrilinial) seperti suku bangsa Batak, menurut garis keturunan ibu (matrilineal) seperti suku Minang, atau menurut keduanya seperti suku Jawa. Adapula suku bangsa yang ditentukan berdasarkan percampuran ras seperti sebutan "orang peranakan" untuk campuran bangsa Melayu dengan Tionghoa, "orang Indo" sebutan campuran bule dengan bangsa Melayu, "orang Mestis" untuk campuran Hispanik dengan bumiputera, "orang Mulato" campuran ras Negro dengan ras Kaukasoid, Eurosia, dan sebagainya. Adapula suku bangsa yang ditentukan menurut agamanya, seperti sebutan Melayu di Malaysia untuk orang bumiputera yang Muslim, orang Serani bagi yang beragama Nasrani (peranakan Portugis seperti orang Tugu), suku Muslim di Bosnia, orang Moro atau Bangsa Moro di Filipina Selatan, dan sebagainya. Terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia. Suku Jawa adalah kelompok suku terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai 41% dari total populasi. Orang Jawa kebanyakan berkumpul di Pulau Jawa, akan tetapi jutaan jiwa telah bermigrasi dan tersebar ke berbagai pulau di Nusantara bahkan ke luar negeri seperti ke Malaysia dan Suriname. Suku Sunda, Suku Melayu, dan Suku Madura adalah kelompok terbesar berikutnya di negara ini. Banyak suku-suku terpencil, terutama di Kalimantan dan Papua, memiliki populasi kecil yang hanya beranggotakan ratusan orang. Pembagian kelompok suku di Indonesia pun tidak mutlak dan tidak jelas akibat perpindahan penduduk, percampuran budaya, dan saling pengaruh; sebagai contoh sebagian pihak berpendapat orang Banten dan Cirebon adalah suku tersendiri dengan dialek yang khusus pula, sedangkan sementara pihak lainnya berpendapat bahwa mereka hanyalah sub-etnik dari suku Jawa secara keseluruhan. Demikian pula Suku Baduy yang sementara pihak menganggap mereka sebagai bagian dari keseluruhan Suku Sunda. Contoh lain percampuran suku bangsa adalah Suku Betawi yang merupakan suku bangsa hasil percampuran berbagai suku bangsa pendatang baik dari Nusantara maupun orang Tionghoa dan Arab yang datang dan tinggal di Batavia pada era kolonial. Hal-hal yang menjadi unsur pembentuk suku bangsa meliputi hubungan darah,

kesamaan bahasa, kesamaan adat istiadat, kesamaan religi, dan kesamaan mitologi.

5|P a g e

5|P a g e

Gambar 1.1 Unsur-Unsur Pembentuk Suku Bangsa

hubungan darah

Kesamaan mitologi

unsurunsur suku bangsa

Kesamaan bahasa

Kesamaan religi
1. Hubungan Darah

Kesamaan adat istiadat

Hubungan darah atau kekerabatan merupakan unsur utama pembentuk suku bangsa. Pada awalnya manusia berasal dari satu nenek moyang yang sama yaitu Adam dan Hawa. Kemudian dari mereka terlahir anak cucu yang tinggal bertebaran di bumi. Pada tiap-tiap wilayah yang mereka tinggali berkelompoklah masyarakat atau suku yang memiliki identitas yang spesifik dibanding dengan kelompok yang lain. Secara fisik adanya hubungan darah ini dapat dikenali dari kesamaan warna kulit, rambut, dan bentuk fisik yang lain. Dari kesamaan hubungan darah ini muncullah suku-suku yang sangat beragam. Sebelum terbentuknya bangsa-bangsa dan negara-negara di Eropa, sesungguhnya

Inggris, Prancis, Belanda, Portugis, Spanyol dan bangsa-bangsa di sekita Eropa merupakan suku bangsa tidak ubahnya suku Jawa, Sunda, Madura, Bugis dan suku-suku lainnya di Indonesia. 2. Kesamaan Bahasa Bahasa merupakan unsur pembentuk suku bangsa yang mudah kita kenali. Dalam satu areal / pulau dapat terdiri dari beberapa suku. Contoh yang paling mudah adalah di

6|P a g e

6|P a g e

Pulau Jawa. Selain suku Jawa yang banyak mendiami Jawa Timur dan Jawa Tengah, juga terdapat suku Sunda yang mendiami Jawa Barat, suku Betawi yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Selain itu juga terdapat suku Madura yang tinggal di pulau Madura yang masih bagian dari propinsi Jawa Timur. Dapat juga ditambahkan di sini adanya suku Tengger yang mendiami Gunung Bromo di Jawa Timur. Kalau kita perhatikan unsur pembentuk suku-suku di atas, terlihat dengan mudah yang menjadi penentunya adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat di tiap-tiap suku bersangkutan. Suku Jawa menggunakan bahasa Jawa, suku Sunda menggunakan bahasa Sunda, suku Betawi menggunakan bahasa Betawi, suku Madura menggunakan bahasa Madura dan suku Tengger menggunakan bahasa Tengger 3. Kesamaan Adat Istiadat Kesamaan adat kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari merupakan unsur pembentuk suku bangsa yang sangat mudah dikenali. Dengan melihat adat istiadat seseorang sering kali kita dapat menduga dari seseorang berasal. Dalam pengertian sempit adat istiadat sering diknotasikan sebagai budaya masyarakat setempat, meskipun pada dasarnya budaya sesungguhnya lebih luas pengertiannya dari sekedar adat istiadat. Cara berpakaian, rumah tinggal hingga dalam upacara perkawinan terlihat nyata perbedaan adat yang dimiliki antar suku di Indonesia. Pakaian khas orang Jawa berbeda dengan pakaian adat orang Dayak ataupun Papua. Rumah adat orang Minangkabau tentu berbeda dengan rumah adat orang Bugis ataupun orang Maluku. Dalam upacara perkawinan terlihat perbedaan yang nyata antara adat suku Aceh dengan suku Betawi ataupun orang Nusa Tenggara. 4. Kesamaan Religi Kesamaan agama yang dianut suatu kelompok masyarakat sering menjadi unsur pembentuk suatu suku bangsa. Suku Aceh dan Madura identik dengan agama Islam sedangkan suku Toraja identik dengan agama Kristen. Sementara itu Bali diidentikkan dengan agama Hindu dan suku Tionghoa identik dengan agama Konghucu. Adanya kesamaan religi umumnya menjadi unsur pembentuk suatu suku bangsa, meskipun tidak seluruh anggota masyarakat suatu suku bangsa mempunyai keyakinan agama yang homogen. Sebagai contoh meskipun Bali mayoritas beragama Hindu namun cukup banyak juga masyarakat yang beragama Islam ataupun Kristen.

7|P a g e

7|P a g e

5. Kesamaan Mitologi Mitologi adalah ilmu tentang mitos. Mitologi berkaitan dengan sastra yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan makhluk halus di suatu kebudayaan. Mitologi terkait dekat dengan legenda maupun cerita rakyat. Mitos pada umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi, kehidupan makhluk halus dan sebagainya.Mitos itu sendiri, ada yang berasal dari indonesia dan ada juga yang berasal dari luar negeri. Salah satu mitos yang terdapat pada suku Batak adalah keyakinan bahwa asal mula manusia di dunia ini adalah yang tinggal di tanah Batak tepatnya saat ini berada di pulau Samosir. Ada juga mitos di sebagian suku Jawa utamanya di Yogyakarta tentang Nyi Roro Kidul sebagai penguasa laut selatan. Mitos-mitos ini dapat menjadi unsur pembentuk suatu ikatan kesukuan meskipun dalam banyak hal mitos ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan atau bertentangan dengan keyakinan agama (syirik) B. Pengertian Kemajemukan Bangsa Menurut Prof. Dr. H. Nur Syam, Guru Besar Sosiologi IAIN Sunan Ampel, kemajemukan atau multikulturalisme adalah seperangkat ide atau gagasan yang menghasilkan aliran yang berpandangan bahwa terdapat variasi budaya di dalam kehidupan masyarakat. Yang terjadi adalah adanya kesetaraan budaya, sehingga antara satu entitas budaya dengan budaya lainnya tidaklah berada di dalam suasana bertanding untuk memenangkan pertarungan. Di dalam Kitab Suci Al Quran, disebutkan bahwa Allah telah menciptakan manusia dalam berbagai penggolongan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Kitab-kitab suci yang lain pun juga menginformasikan hal yang sama tentang multikulturalitas tersebut. Secara empiris (kasat mata) tidak ada masyarakat yang bercorak monokultur. Secara empiris masyarakat terdiri dari berbagai penggolongan sosial, budaya, politik, agama, serta terdiri dari berbagai etnis dan suku. Adanya realitas keragaman pada masyarakat dan bangsa harus mampu memunculkan kesadaran unity in diversity, berbeda-beda tetapi satu jua, yang dalam slogan bangsa Indonesia dikenal dengan Bhinneka Tunggal Ika. Kebhinnekaan bukan malapetaka tetapi rahmat yang perlu dijaga.

8|P a g e

8|P a g e

C. Terbentuknya Bangsa Indonesia Nusantara merupakan istilah yang dipakai oleh orang Indonesia untuk

menggambarkan wilayah kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kata ini tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga ke-16), namun untuk menggambarkan konsep yang berbeda dengan penggunaan sekarang. Pada awal abad ke-20 istilah ini dihidupkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara sebagai nama alternatif untuk negara lanjutan Hindia-Belanda. Setelah penggunaan nama Indonesia disetujui untuk dipakai, kata Nusantara dipakai sebagai sinonim untuk kepulauan Indonesia. Malaysia memakai istilah ini namun dalam pengertian yang agak berbeda. Di Malaysia, istilah ini lazim digunakan untuk menggambarkan kesatuan geografi-antropologi kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia, termasuk Semenanjung Malaya namun biasanya tidak mencakup Filipina. Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan lokal yang telah ada sebelum bentuknya nasional Indonesia pada tahun 1945. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku-suku di Indonesia merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi. Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar daripada kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan Jawa dan Betawi.

9|P a g e

9|P a g e

Selanjutnya kebudayaan Arab masuk bersama dengan penyebaran agama Islam oleh pedagang-pedagang Arab yang singgah di Nusantara dalam perjalanan mereka menuju Tiongkok. D. Simbol dan Slogan Bangsa Indonesia Secara singkat bangsa dapat didifinisikan sebagai kumpulan masyarakat yang membentuk suatu negara karena dipersatukan oleh cita-cita yang sama. Dalam konteks negara kita, bangsa Indonesia terbentuk dari kumpulan suku-suku bangsa yang sangat beragam dari Sabang sampai Merauke yang berhimpun bersama dengan membentuk negara Indonesia dengan tujuan mencapai kemakmuran dan kejayaan bangsa dan negara. Simbol bangsa dan negara Indonesia sejak masa perjuangan hingga saat ini meliputi rumusan falsafah bangsa yang tertuang dalam Pancasila, lambang Burung Garuda, dan Bendera Merah Putih. 1. Pancasila Rumusan yang terinci dalam lima sila pada Pancasila merupakan ringkasan tata nilai yang berlaku dan hidup pada bangsa Indonesia khususnya pada saat Pancasila itu disepakati oleh para founding fathers negara Indonesia. Pada saat ini nilai-nilai luhur yang terangkum pada Pancasila mulai memudar dan berganti dengan nilai-nilai yang cenderung negatif milik bangsa lain karena adanya ilfiltrasi budaya dan pemikiran pada bangsa Indonesia 2. Burung Garuda Lambang negara Indonesia berbentuk burung Garuda yang kepalanya menoleh ke sebelah kanan (dari sudut pandang Garuda), perisai berbentuk menyerupai jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno, dan diresmikan pemakaiannya sebagai lambang negara pertama kali pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950 3. Bendera Merah Putih Bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Sang Merah Putih. Bendera Negara Sang Merah Putih berbentuk empat persegi panjang dengan

10 | P a g e

10 | P a g e

ukuran lebar 2/3 (dua-pertiga) dari panjang serta bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih yang kedua bagiannya berukuran sama. Warna merah-putih bendera negara diambil dari warna Kerajaan Majapahit. Sebenarnya tidak hanya kerajaan Majapahit saja yang memakai bendera merah putih sebagai lambang kebesaran. Sebelum Majapahit, kerajaan Kediri telah memakai panji-panji merah putih. Selain itu, bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya, bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Warna merah dan putih ini adalah bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar

melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII. Ketika terjadi perang di Aceh, pejuangpejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran. Di zaman kerajaan Bugis Bone,Sulawesi Selatan sebelum Arung Palakka, bendera Merah Putih, adalah simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone. Bendera Bone itu dikenal dengan nama

Woromporang. Pada waktu perang Jawa (1825-1830 M) Pangeran Diponegoro memakai panji-panji berwarna merah putih dalam perjuangannya melawan Belanda. Kemudian, warna-warna yang dihidupkan kembali oleh para mahasiswa dan para nasionalis di awal abad 20 sebagai ekspresi nasionalisme terhadap Belanda. Bendera merah putih digunakan untuk pertama kalinya di Jawa pada tahun 1928. Di bawah pemerintahan kolonialisme, bendera itu dilarang digunakan. Sistem ini diadopsi sebagai bendera nasional pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika kemerdekaan diumumkan dan telah digunakan sejak saat itu pula. Selain simbol-simbol bangsa dan negara, kita juga memiliki slogan-slogan yang menunjukkan jati diri bangsa dan negara Indonesia. Slogan bangsa Indonesia ketika masa perjuangan untuk meraih kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan adalah hidup atau mati. Kemudian untuk mempersatukan bangsa yang sangat beragam dari aspek agama, suku, bahasa, dan banyak perbedaan

11 | P a g e

11 | P a g e

lainnya kita memiliki slogan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Pada masa reformasi ini muncul slogan dari para pemimpin politik yang sering disampaikan dalam pertemuan umum dan kampanyenya yang kita dengar Bersama Kita Bisa. Mungkin tidak ada salahnya kalau saat ini kita gunakan slogan ini untuk membangkitkan semangat meraih kemajuan dan kejayaan bangsa dan negara dengan sedikit perubahan sehingga menjadi Indonesia Bisa.

RANGKUMAN 1) Kelompok etnik atau suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku pun ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut dan oleh kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku atau ciri-ciri biologis. Hal-hal yang menjadi unsur pembentuk suku bangsa meliputi hubungan darah, kesamaan bahasa, kesamaan adat istiadat, kesamaan religi, dan kesamaan mitologi. 2) Kemajemukan atau multikulturalisme adalah seperangkat ide atau gagasan yang menghasilkan aliran yang berpandangan bahwa terdapat variasi budaya di dalam kehidupan masyarakat. Adanya realitas keragaman pada masyarakat dan bangsa harus mampu memunculkan kesadaran unity in diversity, berbeda-beda tetapi satu jua. Kebhinnekaan bukan malapetaka tetapi rahmat yang perlu dijaga. 3) Nusantara merupakan istilah yang dipakai oleh orang Indonesia untuk menggambarkan wilayah kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kata ini tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga ke-16). Pada awal abad ke-20 istilah ini dihidupkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara sebagai nama alternatif untuk negara lanjutan HindiaBelanda.Setelah penggunaan nama Indonesia disetujui untuk dipakai, kata Nusantara dipakai sebagai sinonim untuk kepulauan Indonesia. 4) Simbol bangsa dan negara Indonesia sejak masa perjuangan hingga saat ini meliputi rumusan falsafah bangsa yang tertuang dalam Pancasila, lambang Burung Garuda, dan Bendera Merah Putih. Slogan bangsa Indonesia ketika masa perjuangan untuk meraih kemerdekaan dan mempertahankan

kemerdekaan adalah hidup atau mati. Slogan Bhinneka Tunggal 12 Ika |,P kita age gunakan untuk mempersatukan bangsa yang beraneka budaya.

12 | P a g e

LATIHAN 1) Jelaskan apa pengertian suku bangsa! 2) Sebutkan unsur-unsur apa saja yang menjadi pembentuk suku bangsa! 3) Jelaskan proses terbentuknya bangsa Indonesia! 4) Berikan 3 (tiga) contoh kemajemukan suku bangsa! 5) Sebutkan simbol-simbol bangsa Indonesia!

13 | P a g e

13 | P a g e

BAB
KEBUDAYAAN

Tujuan Instruksional Khusus: Mahasiswa dapat menguraikan makna definisi kebudayaan, wujud kebudayaan yang berupa sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik meliputi unsur-unsur E.kebudayaan yang universal

A. Definisi Kebudayaan Menurut Koentjaraningrat (1980:195) kata kebudayaan berasal dari kata bhudayah (Bahasa Sansekerta), yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagi hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Sedangkan kata budaya merupakan perkembangan majemuk dari budi daya, yang berarti daya dari budi yang berupa cipta , rasa, dan karsa, dengan kebudayaan yang berarti hasil dari cipta, rasa dan karsa. Namun dalam Bahan Ajar ini kebudayaan dan budaya diartikan sama. Kebudayaan mencakup keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk menginterprestaikan, memahami, dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kebudayaan dapat diartikan secara luas mau pun secara sempit. Ahli Antriopologi menangkapnya secara luas, yang oleh Koentjaraningrat (198o:193) diberi definisi sebagai berikut: Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan, tindakan berpola, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan manusia yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar Cakupannya adalah bahasa, tatanan sosial, pencarian nafkah, pengetahuan, kesenian, teknologi, dan religi. Ketujuh unsur kebudayaan ini lazim disebut Cultural Universal (unsur kebudayaan yang universal).

14 | P a g e

14 | P a g e

Kebudayaan yang diartikan secara sempit biasanya diberi arti terbatas kepada hal-hal yang indah seperti candi, tari-tarian, seni rupa, seni suara, dan kesusasteraan, yaitu yang membuat manusia lebih beradab, lebih halus, dan lebih berbudi B. Wujud Kebudayaan Kebudayaan yang diartikan secara luas mempunyai tiga wujud, yaitu: 1. Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia. Wujud ini disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, letaknya di dalam kepala masing-masing orang yang menganutnya. Disebut sistem budaya karena gagasan dan pikiran tersebut tidak merupakan kepingan-kepingan yang terlepas, melainkan saling berkaitan berdasar asasasas yang sangat erat hubungannya, sehingga menjadi sistem gagasan dan pikiran yang relatif mantap dan kontinu. Jika masyarakat menyatakan gagasannya dalam bentuk tulisan, maka wujud sistem budaya itu berada dan dapat ditangkap dalam bentuk karangan-karangan, dalam buku-buku yang dihasilkan warga masyarakat itu. Sistem budaya ini berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendalikan dan memberi arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia di dalam masyarakat . Ia disebut adat, tata kelakuan, atau adat istiadat. 2. Kompleks perilaku berpola, berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, sifatnya konkret, dapat diamati, atau diobservasi. Wujud ini disebut sistem sosial. Sistem ini tidak dapat dilepaskan dari sistem budaya. Apa pun bentuknya, pola-pola aktivitas tersebut ditentukan atau ditata oleh gagasan-gagasan yang berada di dalam kepala manusia. Karena manusia saling berinteraksi, maka pola aktivitas dapat pula menimbulkan gagasan, konsep dan pikiran baru. 3. Benda hasil karya manusia, disebut wujud kebudayaan fisik, misalnya arca , nyanyian, gedung, meja, dan yang semacam itu. Karena setiap kebudayaan memiliki paling sedikit tujuh unsur kebudayaan fisik ini, maka disebut juga sebagai cultural universal, unsur kebudayaan yang universal C. Kerangka Kebudayaan Kerangka Kebudayaan terdiri atas tiga lingkaran yang konsentris, sesuai dengan tiga wujud kebudayaan yang ada: 1. Lingkaran pertama, yang paling dalam disebut Sistem Budaya. Meskipun tidak terlihat (covert culture), karena berada di dalam otak masing-masing individu, merupakan jaringan dari beberapa sistem, yaitu :

15 | P a g e

15 | P a g e

a. Sistem nilai budaya b. Sistem norma c. Etika d. Pandangan Hidup e. Ideologi Nasional 2. Lingkaran kedua, terletak lebih luar, disebut Sistem Sosial, yaitu perilaku berpola. Interaksi sosial yang berpola itu dapat diamati karena ia sudah tampak; dan kemudian makna interaksi itu dapat dianalisis, dapat dipotret, dan dapat difilmkan. 3. Lingkaran yang ketiga adalah yang paling luar, karenanya paling jelas terlihat. Lingkaran ini berisi tujuh unsur kebudayaan yang disebut unsur kebudayaan yang (Cultural Universal), universal

karena selalu ada dalam setiap masyarakat. disebut juga

Kebudayaan Fisik. Ketujuh unsur kebudayaan itu adalah: a. Bahasa b. Sistem Pengetahuan c. Sistem Teknologi d. Sistem Organisasi Sosial e. Sistem Ekonomi f. Sistem Religi

g. Kesenian Hubungan antara ketiga wujud kebudayaan tadi (termasuk ketujuh unsur kebudayaan yang disebut Cultural Universal), dapat dilihat dalam Bagan1 dan Bagan 2 Bagan I Wujud Kebudayaan

16 | P a g e

16 | P a g e

Bagan II

<,-----------------Salah

Dalam Sistem Budaya terdapat : a. Sistem nilai budaya b. Sistem norma c. Etika d. Pandangan Hidup e. Ideologi nasional Kebudayaan fisik terdiri atas: a. Bahasa b. Sistem Pengetahuan c. Sistem Teknologi d. Sistem Organisasi Sosial e. Sistem Ekonomi f. Sistem Religi

g. Kesenian D. Sistem Nilai Budaya Dalam kajian sosiologi, yang dimaksud dengan sistem nilai budaya adalah nilai inti (score value) dari masyarakat. Nilai inti ini diikuti oleh setiap individu atau kelompok individu yang jumlahnya cukup besar. Orang-orang ini betul-betul menjunjung tinggi nilai inti ini sehingga menjadi salah satu faktor penentu untuk berperilaku. Karena itu sistem nilai budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Sistem nilai budaya itu

17 | P a g e

17 | P a g e

demikian kuat menyerap dan berakar di dalam jiwa masyarakat sehingga sulit diganti atau diubah dalam waktu singkat. Sistem nilai budaya menyangkut masalah-masalah pokok bagi kehidupan manusia. Bagian yang paling dalam dari sistem budaya dan yang menjadi pengendali dan pemberi arah pada kelakuan dan tindakan manusia adalah sistem nilai budaya. Sistem nilai budaya ini berkaitan dengan konsep nilai dan oreintasi nilai budaya. 1. Konsep Nilai Nilai merupakan unsur yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam hidupnya manusia tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai. Nilai adalah suatu hal tentang apa yang diinginkan atau tidak diinginkan, tentang apa yang boleh dikerjakan atau tidak boleh dikerjakan, tentang apa yang berharga atau yang tidak berharga. Bidang yang berhubungan dengan nilai adalah etika (nilai yang berkaitan dengan tingkah laku manusia, berkaitan dengan moral) dan estetika (nilai yang berkaitan dengan seni, berkaitan dengan keindahan. Nilainilai ini dalam masyarakat tercakup dalam tradisi dan adat kebiasaan, yang secara tidak sadar diterima dan dilaksanakan oleh anggota masyarakat tersebut 2. Orientasi Nilai Budaya Secara universal orientasi nilai budaya ini telah disusun kerangkanya oleh seorang antropolog bernama C. Kluckhohn. Untuk memudahkan pemahaman tentang sistem nilai budaya ini secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut:

Kerangka Kluckhohn mengenai lima dasar hidup yang menentukan Orientasi Nilai Budaya manusia. Masalah Dasar Orientasi Nilai Budaya Hidup itu buruk, tetapi Hakikat hidup Hidup itu buruk Hidup itu baik manusia wajib berikhtiar supaya hidupnya menjadi baik Hakikat Karya Karya itu untuk nafkah hidup Karya itu untuk kedudukan dan Karya itu untuk menambah karya

Dalam Hidup

18 | P a g e

18 | P a g e

kehormatan Persepsi manusia tentang waktu Pandangan manusia terhadap alam Orientasi ke masa lampu Orientasi ke masa kini Manusia berusaha menjaga keselarasan dengan alam Orientasi Hakikat hubungan antara manusia dengan sesama Orientasi vertical : rasa ketergantungan kepada tokoh atasan Horizontal: Rasa ketergantungan kepada sesama (berjiwa gotong royong) Individualisme, menilai tinggi usaha atas kekuatan sendiri Manusia berhasrat menguasai alam

Orientasi ke masa depan

Manusia tunduk kepada alam yang dashyat

RANGKUMAN 1) Dalam Ilmu Antropologi, yang dimaksud dengan kebudayaan adalah dalam pengertiannya yang luas, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan manusia: gagasannya, perilakunya, dan hasil karya dalam kebudayaaan fisiknya. Hal ini berbeda dengan pengertian kebudayaan yang umumnya dibicarakan dalam lingkungan masyarakat umum, yaitu kebudayaan dalam arti sempit, yang hanya berkaitan dengan keindahan dan seni, yang umumnya dipakai pada waktu ada upacara adat atau untuk mendukung pariwisata. 2) Setiap masyarakat mempunyai kebudayaannya masing-masing. Kebudayaan masing-masing masyarakat itu unik, khas, dan menjadi ciri atau identitas dari sebuah masyarakat. Mungkin dua masyarakat atau lebih memiliki sebuah atau lebih unsur kebudayaan yang sama. Hal itu tidak menjadikan dua atau lebih masyarakat itu menjadi tidak mempunyai identitas. Mereka (hanya) termasuk dalam sebuah daerah kebudayaan. 3) Kebudayaan hanya dimiliki oleh manusia, karena manusia berakal budi. Oleh manusia kebudayaannya ditularkan ke generasi berikutnya atau ke kelompok lain dengan cara belajar. Berbeda dengan makhluk lain, terutama binatang, mereka tidak belajar, namun keahliannya telah diprogram dalam otaknya ketika mereka masih dalam bentuk telur atau janin, jadi secara genetik. Jadi kebudayaan atau adat kebiasaan seekor itik akan tetap saja dari sejak menetas sampai dia mati. Sedangkan kebudayaan manusia selalu berubah, dari dia lahir, dewasa, sampai dia tua dan meninggal (Ini akan kta bicarakan dalam Bab III).
19 | P a g e

19 | P a g e

4) Kebudayaan itu mempunyai wujud, baik wujud fisik maupun wujud non-fisik. Yang berupa wujud non-fisik tercakup dalam sistem budaya, adanya dalam pikiran seorang individu. Wujud kebudayaan fisik terdapat dalam sistem sosial, bagaimana masyarakat itu berinteraksi dan sudah dapat dilihat dan didengar. Yang lebih jelas lagi adalah wujud kebudayaan fisik yang terdapat dalam lingkaran paling luar dari kerangka kebudayaan, yang terdapat dalam cultural universal atau unsur kebudayaan yang universal. Meskipun demikian, tidak semua unsur dari cultural universal itu dapat dipegang atau diraba, meskipun dapat ditangkap dengan pancaindera. Misalnya religi, pengertian religi adalah non-fisik, tetapi penghayatannya ada bagian yang berupa fisik, misalnya seseorang bersembahyang, membuat sesajen, dan berdoa. 5) Hubungan antara ketiga wujud kebudayaan itu: wujud gagasan, wujud perilaku berpola dan wujud kebudayaan fisiks, dapat terlihat jelas dalam Kerangka Kebudayaan. Sebagai contoh, kita ambil sebuah juring dari Kerangka Kebudayaan. Bagian yang paling ujung, sebagai puncaknya adalah wujud gagasannya, kemudian yang di tengah adalah wujud perilaku berpolanya, dan yang paling bawah adalah wujud kebudayaan fisiknya. 6) Bila dalam gagasannya ia tidak menyukai seseorang, maka akan terlihat pada sistem sosialnya ia bermuka masam ketika melihat orang yang tidak disukainya, yang kemudian akan terlihat jelas ketika ia terpaksa berbicara dengan orang itu, ia akan mmpergunakan katakata yang kasar, yang merupakan bahasanya, ini merupakan kebudayaan fisiknya. 7) Sistem nilai budaya yang menjadi inti dari seluruh wujud gagasannya adalah pusat dari semua aktivitas seorang individu. Ia menjadi motor dari perilakunya, dan pendorong bagi kebudayaan fisiknya. Dalam sistem nilai budaya itu terdapat konsep nilai yang terdiri atas etika, sopan santun, moral dan estetika, yang berkaitan dengan keindahan, keindahan jasmaniah dan keindahan rohaniah. Hal ini akan menghasilkan orientasi nilai budaya seseorang. LATIHAN 8) Seseorang akan mengfokuskan perhatian dalam hidupnya kepada kelima masalah dasar hidup, yaitu berkaitan denga hakikat hidup manusia.

Hubungannya dengan waktu, hubungannya dengan karya, hubungannya dengan alam, dan hubungannya dengan sesama. 9) Kita mengambil contoh seorang yang optimistik. Berkaitan dengan hakikat

hidup, bila ia termasuk orang yang memandang hidup dengan perasaan yang optimis, meskipun suatu saat ia menderita, ia akan berusaha mengubah keadaannya yang kurang menguntungkan menjadi hidup yang menyenangkan.
20 | P a g e

20 | P a g e

Hubungannya dengan waktu, ia akan mengarahkan hidupnya untuk masa depan yang lebih baik daripada yang dialaminya sekarang. Hubungannya dengan

karya, ia akan berusaha membuat lapangan kerja agar banyak orang dapat dibantu kehidupannya. Hubungannya dengan alam, ia akan menghormati alam dengan cara menyelaraskan diri dengan hukum-hukum yang telah dibuat oleh alam. Hubungannya dengan sesama, ia akan bergotong royong untuk kebaikan lingkungannya, kebaikan mayarakatnya. 10) Jadi tergantung kepada orientasi nilai budaya seseorang, bagaimana ia akan mengerjakan sesuatu atau berbuat sesuatu. Oleh Dr. Woro Aryandini , SS, MSi

LATIHAN 1) Jelaskan apa perbedaan antara kebudayaan dalam arti luas dan kebudayaan dalam arti sempit. 2) Jelaskan bagaimana kebudayaan ditanggapi oleh manusia, dan instink ditanggapi oleh binatang. 3) Bila Anda naik bis kota atau KRL yang penuh sesak, apa antisipasi Anda bila ada seseorang atau beberapa orang yang seolah-olah memepet Anda? 4) Jelaskan hubungan antara wujud-wujud kebudayaan yang tergambar dalam Kerangka Kebudayaan. Ambillah contoh seperti yang diutarakan di atas, namun dengan topik yang berbeda. 5) Ketika sebuah gunung berapi meletus, ambil saja misalnya Gunung Merapi, bagaimana orientasi nilai budaya orang-orang di lereng Gunung Merapi itu? Uraikan sejelas mungkin!

21 | P a g e

21 | P a g e

BAB
DINAMIKA KEBUDAYAAN

Tujuan Instruksional Khusus : Mahasiswa dapat menguraikan dinamika yang terjadi dalam kebudayaan, penyebabnya, dampaknya, dan penanggulangannya terhadap dampak negatif dari dinamika kebudayaan

A. Penyebab Dinamika Kebudayaan Kebudayaan itu tidaklah statis, kebudayaan selalu berubah, ia dinamis sebagaimana kehidupan manusia itu juga dinamis. Ia berubah karena adanya perubahan diri manusia yang menghasilkan kebudayaan. Perubahan itu dapat disebabkan karena jumlah manusia berubah, gagasannya berubah, mau pun komposisi penduduk dalam suatu daerah yang berubah. Proses penumbuhan dan perubahan kebudayaan berjalan akumulatif, makin lama makin banyak terhimpun unsur-unsur kebudayaan baru. Ada unsur-unsur baru yang masuk, namun ada pula unsur-unsur lama yang sudah tidak diperlukan menghilang. Namun yang hilang tidaklah sebanyak yang muncul. Unsur baru yang muncul dapat membawa suatu perbaikan kualitatif, setidak-tidaknya dalam wujud kebudayaan fisik. Karenanya kebudayaan tidak pernah mundur. Mungkin unsur kebudayan lama yang pernah menghilang muncul kembali, melalui sebuah proses yang ada kalanya cukup panjang. Proses perubahan kebudayaan tidaklah sama dalam semua kebudayaan. Dalam

masyarakat yang terisoler perubahan kebudayaan berjalan lambat, sebaliknya dalam masyarakat yang terbuka, tidak terisoler, perubahan kebudayaan cenderung berjalan cepat. Perubahan kebudayan adalah perubahan yang terjadi dalam sistem ide yang dimiliki bersama oleh para warga atau sejumlah warga dari suatu masyarakat yang bersangkutan. Perubahan itu mencakup aturan, norma, nilai-nilai, teknologi, selera, rasa keindahan, kesenian dan bahasa. Bila sistem budayanya berubah, maka sistem sosialnya juga akan

22 | P a g e

22 | P a g e

beruah, demikian pula kebudaayan fisiknya sebagai hasil karya. Bila kita mengacu kepada wujud kebudayaan, maka perubahan itu terjadi dalam ketiga wujud kebudayaan, yaitu pada tingkat sistem budaya, sistem sosial, dan kebudayaan fisiknya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kebudayaan itu selalu dalam keadaan bergera. Perubahan itulah dinamakan dinamika kebudayaan. Penyebabnya atau faktornya ada bermacam-macam, antara lain: 1. Dari Dalam Masyarakat Sendiri a. Karena Perubahan Jumlah penduduk Penduduk adalah populasi manusia yang tinggal di suatu tempat atau daerah. Dinamika penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu tempat. Perubahah jumlah penduduk ini disebabkan karena kelahiran, kematian, dan migrasi. Ini dinamakan perubahan alami. Dalam hal ini terlihat fertilitas dan mortalitas menunjang adanya peubahan kebudayaan. Fertilitas adalah tingkat pertambahan anak yang dihitung dari jumlah kelahiran setiap 1000 penduduk. Tingkat kelahiran yang dihitung dari jumlah kelahiran per seribu penduduk dalam satu tahun disebut angka kelahiran rata-rata atau angka kelahiran kasar (Crude Birth Rate, disingkat CBR). yang

Di samping itu ada tingkat kelahiran dari wanita umur produktif per tahun, yaitu:

Mortalitas adalah tingkat kematian yang dihitung dari jumlah kematian setiap 1000 penduduk. Tingkat kematian yang dihitung dari jumlah kematian per seribu penduduk dalam satu tahun disebut angka kematian kasar (Crude Death Rate, disingkat CDR)

Karena kebudayaan itu adalah kumpulan dari gagasan anggota masyarakat, maka kalau anggota masyarakat itu berubah, maka kebudayaan juga akan

23 | P a g e

23 | P a g e

berubah. Dengan kelahiran, maka anggota suatu masyarakat itu bertambah. Dengan adanya kematian maka anggota masyarakat itu berkurang. Itu menyebabkan adanya gerak kebudayaan, pikiran dan gagasan dalam masyarakat itu berubah. Demikian juga dengan adanya migrasi. Migrasi adalah perpindahan penduduk. Penduduk dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, pindah ke daerah baru untuk berbagai alasan. Alasannya mungkin ia berdagang ke tempat lain, seperti pedagang dari Jurangmangu yang berjualan ke Blok M, atau mahasiswa yang meninggalkan daerahnya dari berbagai pelosok tanah air untuk kuliah di STAN. Mereka yang

meninggalkan tempatnya untuk pindah ke daerah lain ini yang dinamakan emigrasi, pergi ke luar dari daerahnya. Sebaliknya orang yang memasuki daerah yang baru, sebagai contoh para mahasiswa yang kuliah di STAN dari berbagai daerah ini, bagi masyarakat yang dimasukinya, masyarakat Jurangmangu ia disebut sebagai imigran,. Bentuk dan sifat migrasi dapat bermacam-macam, antara lain: 1) migrasi primitif, yaitu perpindahan penduduk karena mencari sebagai pemburu dan peramu 2) migrasi lambat, yaitu ketika sekelompok orang dari Benua Asia berjalan menuju ke Benua Amerika pada akhir Jaman Glasial e-4 3) migrasi cepat atau mendadak, yaitu perpindahan penduduk berupa pengungsian karena perang atau bencana alam 4) migrasi khusus, yaitu pelayaran orang-orang dari Eropa ke Amerika, Asia, dan Afrika, dan pelayaran orang-orang Cina ke Asia Tenggara 5) migrasi paksaan, yaitu perpindahan penduduk sebagai budak, kuli kontrak, dan romusha 6) migrasi spontan, yaitu ketika banyak orang Jawa pindah ke Deli, ketika pada abad ke-20 di sana dibuka perkebunan tembakau 7) migrasi yang berupa transmigrasi dan urbanisasi pada masa sekarang a) Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari pulau yang padat penduduknya ke pulau yang kurang padat penduduknya. Namun ada juga transmigrasi lokal, yaitu perpindahan orang dalam sebuah pulau. makan,

24 | P a g e

24 | P a g e

b) Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota b. Karena adanya inovasi (penemuan baru) , baik berupa discovery , mau pun invention. 1) discovery adalah penemuan konsep atau gagasan baru, misalnya

timbulnya hipotesa bumi bulat yang diutarakan pada abad ke-15. 2) invention adalah penemuan teknik baru berdasar konsep yang sudah ada, misalnya pembuatan rudal adalah perbaikan dari konsep sebuah panah. c. Dapat juga karena adanya revolusi dalam masyarakat itu sendiri, misalnya adanya pembrontakan atau pertentangan dalam masyarakat, misalnya perubahan dari pemerintahan ORLA ke ORBA. 2. Dari luar masyarakat, yaitu karena perubahan lingkungan alam dan lingkungan masyarakat tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidup dalam lingkungan terbuka, yang berada pada jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain cenderung berubah secara cepat. Perubahan dapat berupa: a. Difusi, yaitu menerima pancaran dari kebudayaan lain. Sebagai contoh masyarakat Tionghoa di Indonesia membawa kebudayaan leluhurnya berupa makanan antara lain bakmi, bakso, dan yang semacam itu, yang diterima oleh masyarakat Indonesia lainnya. b. Asimilasi, yaitu dua masyarakat dengan kebudayaan yang berbeda saling memancarkan kebudayaannya ke masyarakat yang lain. Sebagai contoh, masyarakat Tionghoa di Jawa Timur senang makan soto, sedangkan masyarakat Jawa di Jawa Timur senang makan bakso. c. Akulturasi, bila kebudayaan luar yang masuk ke dalam suatu masyarakat disaring; yang sesuai dengan kebutuhan kebudayaan masyarakat yang dimasuki akan diterima menjadi kebudayaan masyarakat itu, sedangkan yang tidak sesuai ditolak. Sebagai contoh, kebudayaan Hindu yang berupa tulisan diadopsi oleh bangsa Indonesia, tetapi sistem perkawinan poliandri pada bangsa Hindu ditolak oleh bangsa Iindonesia. d. Infiltrasi, yaitu masuknya kebudayaan luar ke dalam suatu masyarakat secara sembunyi-sembunyi, sehingga masyarakat yang dimasuki kebudayaan luar itu tidak menyadarinya. Sebagai contoh generasi muda di perkotaan lebih suka mengadakan acara ulang tahun di cafe atau di mal, menggantikan acara

25 | P a g e

25 | P a g e

ulangtahun

yang biasanya diadakan di rumah

masing-masing dengan

melibatkan orangtua dan semua anggota keluarganya. Acara di cafe atau di mal hanya melibatkan teman-teman dekatnya, sehingga hubungan dengan orangtua dan keluarganya sendiri menjadi kurang akrab. e. Penetrasi, yaitu kebudayaan luar yang memasuki suatu masyarakat secara paksa, masyarakat yang menerima kebudayaan luar itu tidak mampu menolaknya. Sebagai contoh, ketika Perang Dunia II selesai, Jerman yang kalah perang dibagi dua. Jerman Barat dikuasai Sekutu dengan kebudayaan yang kapitalistik, sehingga orang di Jerman Barat juga menadopsi budaya kapitaluistik. Sedangkan Jerman Timur dikuasai negara-negara Sosialis

dengan kebudayaannya yang bersifat sosialistik, sehingga orang di Jerman Timur juga mengadopsi budaya sosialistik. B. Dampak Dinamika Kebudayaan Dinamika kebudayaan menimbulkan dampak. Dampak itu dapat bersifat positif dan juga dapat bersifat negatif. Dampak positif dari dinamika kebudayaan biasanya tidak menimbulkan gangguan pada masyarakat, namun dampak negatifnya yang justru harus diperhatikan. Dampak negatifnya antara lain: 1. Cultural lag: yaitu perbedaan taraf kemajuan unsur-unsur kebudayaan suatu masyarakat. Pada waktu belum ada perubahan kebudayaan itu dalam keadaan seimbang, kebudayaan, ketujuh unsur

posisinya sama. Namun begitu ada

perubahan kebudayaan, masing-masing unsur dari ketujuh unsur kebudayaan itu meresponnya tidak sama. Ada unsur kebudaan yang lebih maju daripada unsur kebudayaan yang lain. Kemajuan unsur kebudayaan yang berupa teknologi saat ini demikian pesat, meninggalkan kemajuan pada unsur pengetahuannya. Akibatnya, kita ambil sebagai salah satu contoh, sering terjadinya kecelakaan Metromini di Jakarta disebabkan teknik atau cara pengedaraan bisnya yang kelihatan demikian dikuasainya, sedangkan sopir-sopir Metromini itu pengetahuan tentang permesinan kurang memadai, sehingga mereka tidak memadukan antara pengetahuan tentang permesinan dengan teknologi pengedaraan mobilnya. 2. Cultural survival: yaitu masih mampunya salah satu unsur kebudayaan bertahan, meskipun unsur-unsur kebudayaan lain telah hilang atau tidak berfungsi lagi.

26 | P a g e

26 | P a g e

Sebagai contoh, meskipun ada perubahan kebudayaan, kegiatan gotongroyong itu masih bertahan di desa-desa 3. Cultural conflict: yaitu pertentangan yang terjadi akibat adanya perubahan kebudayaan. Sebagai contoh, pertentangn dalam sebuah keluarga, karena orangtua menyukai musik yang lembut, seperti kroncong, namun anak-anaknya menyukai musik-musik keras, dan tidak menyukai musik jenis kroncong. Bila tidak ada

toleransi dalam keluarga itu, maka dapat menimbulkan pertentangan. 4. Cultural shock: yaitu kecemasan yang diakibatkan karena anggota masyarakat itu kehilangan atau tidak mengenal lagi simbol-simbol dalam pergaulan sosial yang semula dikenalnya dengan baik. Misalnya, orangtua mengalami keterkejutan karena anak-anak gadisnya keluar rumah sampai jauh malam, meskipun dengan alasan yang dapat dimengerti, misalnya karena kerja lembur atau belajar bersama. 5. Future shock: keterkejutan menghadapi hari depan. Kemajuan teknologi yang demikian pesat, sulit diikutinya dengan imajinasi, yang akan menimbulkan masalah, anggota masyarakat ini kehilangan arah, kehilangan kepercayaan diri, bahkan dapat sampai kehilangan pegangan kepada nilai-nilai dan iman. C. Penyesuaian Antarbudaya Agar pengaruh perubahan kebudayaan ini tidak memberikan dampak negatif, maka perlu adanya penyesuaian antarbudaya. Penyesuaian itu dipengaruhi oleh faktor intern, yaitu faktor yang ada di dalam diri perorangan itu, dan faktor ekstern yaitu faktor yang datangnya dari luar diri seseorang. 1. Faktor intern, meliputi: a. Watak, yaitu segala tabiat yang membentuk keseluruhan kepribadian seseorang (antara lain: emosional, pemberani, bertanggungjawab, senang bergaul, dan yang semacam itu) b. Kecakapan, menyangkut segala sesuatu yang dapat dipelajari, terdiri atas bahasa, adat istiadat, tatakrama, kedaaan geografi, keadaan ekonomi, situasi politik, dan lain-lain c. Attitude, yaitu kesiapan mental atau syaraf yang terbina melalui pengalaman yang memberikan pengaruh terhadap bagaimana seseorang menanggapi segala situasi yang dihadapi, misalnya optimis, pesimis, berprasangka, skeptis, toleran, atau moderat

27 | P a g e

27 | P a g e

2. Faktor ekstern, meliputi: a. Besar kecilnya perbedaan antara kebudayaan semula yang dimilikinya dengan kebudayaan baru yang diterimanya b. Apakah kebudayaan baru itu dapat diterima semula c. Lingkungan hidup yang terbuka mempermudah seseorang untuk dengan latar kebudayaan

menyesuaikan diri daripada lingkungan hidup yang tertutup. D. Kebudayaan Nasional Indonesia Sebelum membicarakan kebudayaan nasional Indonesia, kita perlu mengetahui kebudayaan lain yang pernah memberikan pengaruhnya terhadap bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia pernah mendapat pengaruh kebudayaan Hindu dan kebudayaan Cina, yang semuanya dikatakan sebagai kebudayaan Timur, dan juga kebudayaan yang dibawa oleh orang-orang Eropa dan Amerika, yang biasanya disebut kebudayaan Barat. 1. Kebudayaan Timur Dalam kebudayaan Timur, pandangan hidup manusia lebih bersifat mistik, intuitif, serta bersifat religius, dengan menempatkan kehidupan yang berimbang antara dunia dan akhirat, kepuasan rohani dan jasmani. Inti kebudayaan Timur tidak terletak pada intelektualitasnya, tetapi pada hatinya yang menyatukan akal budi, intuisi, inteligensia, dan perasaan. Ini dipandang sebagai puncak perkembangan rohani manusia, yaitu tertuju kepada tinjauan kesempurnaan. Pemikir Timur lebih menekankan segi kejiwaan; realitas di dunia empiris dianggap sebagai sesuatu yang hanya lewat dan bersifat khayalan (semu atau maya). Orang Timur lebih menekankan pada disiplin pengendalian diri, sederhana, tidak mementingkan dunia materi, bahkan menjauhinya. Menurut pemikiran Timur, sesuatu yang baik itu tidak hanya terletak pada dunia kebendaan, tidak dengan memanipulasi alam, tidak dengan mengubah masyarakat dan mencari kesenangan bagi diri sendiri, melainkan diperoleh melalui pencarian Zat Yang Satu, dalam diri sendiri atau diluarnya. Mereka menghayati hidup yang meliputi keseluruhan eksistensinya. Orang Timur mencari keharmonisan dengan alam yang memberi kehidupan, makanan, peneduh, bahan untuk seni dan sains. Nasfu untuk memperoleh nikmat dan kerinduan akan keselamatan dan

pembebasan dari penderitaan dunia cukup kuat, dan ide ini besar pengaruhnya

28 | P a g e

28 | P a g e

dalam membentuk mentalitas, teori dan praktek hidup. Cara memperolehnya bukan pada akal budi , tetapi melalui meditasi, tirakat (ascetic) dan mistik. Dalam menegakkan norma tidak hanya bersumber pada ajaran agama, tetapi memadukan pengetahuan, intuisi, pemikiran konkret, simbolik, dan kebijaksanaan Sikap orang Timur terhadap alam tercermin dalam falsafah Hindu yang disebut Tri Hita Karana, yaitu adanya kesatuan antara Tuhan, manusia, dan alam , dan ketiganya adalah penyebab kebahagiaan. Untuk menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam, terkadang muncul ekspresi konkret dalam bentuk hubungan mistik antara manusia dengan alam. Orang Timur menginginkan kekayaan hidup, bukan kekayaan kebendaan, yaitu berupa ketenangan,

ketenteraman, menyatu dengan alam. Selain filsafat Hindu dan Buddha, Konfusianisme dan Taoisme juga telah mempengaruhi bangsa-bangsa Asia sejak berabad-abad yang lampau. Hal-hal ini mengilhami sistem pendidikan seni, perundang-undangan dan organisasi, sosial, dan dalam tingkat yang lebih dalam telah membentuk ketidaksadaran kolektif yang sadar dari bangsa-bangsa Asia 2. Kebudayaan Barat Kebudayaan Barat memperlihatkan perbedaan dengan kebudayaan Timur. Kebudayaan Barat bersumber dari filsafat Yunani. Dalam kebudayaan Barat, manusia begitu sadar akan individualitasnya dan superioritas tekniknya, mereka lebih menekankan obyektivitas daripada perasaan, dan merasa berdiri sendiri sebagai penakluk alam semesta. Kepentingan individu terletak di atas kepentingan umum. Manusia merupakan aktor drama di mana ia aktif mengambil bagian dalam membentuk sejarah. Manusia adalah ukuran segalanya. Ia mempunyai kemampuan untuk menyempurnakan hidupnya dengan bertitik tolak dari rasio, intelek dan pengalaman. Pemikiran demikian membuahkan sains dan teknologi (modern). Filsafat Barat yang berpangkal pada filsafat positivisme diwujudkan dalam dunia rasio. Pemikiran tentang nilai-nilai hidup yang meminta kepekaan hati dianggap sesuatu yang subyektif dan tidak bermutu. Bagi mereka waktu mempunyai arti yang positif. Dengan dinamika yang tak pernah kendor dan aktivitas yang penuh semangat, orang Barat mengubah alam dan masyarakat.

29 | P a g e

29 | P a g e

Dengan pandangan hidup bahwa manusia adalah pusat sesuatu yang mempunyai kemampuan rasional, kreatif dan estetik, mereka telah menghasilkan beberapa nilai dasar seperti demokrasi, lembaga sosial, dan kesejahteraan ekonomi. Ada tiga nilai penting yang mendasari nilai Barat, yaitu martabat manusia, kebebasan dan teknologi. Manusia diukur dari kemampuannya, bukan dari kebijaksanaan hatinya. Gerakan sekularisme pemikiran berkembang meluas ke

bidang estetika, moral dan agama. Orang Barat ingin membangun agama baru di Barat yang tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan, sebab agama di Barat mengalami kemunduran melalui tekanan mentalitas ilmiah. Di Barat kepuasan diperoleh melalui usaha dan perhatian terhadap benda dan kenikmatan duniawi. Yang menjadi ukuran adalah kultur orang, kuantitas (produksi yang melimpah-limpah), artifisial (kultur buatan), dan kontrol yang menyeluruh (kemaharajaan sistem). Kemajuan teknologi menghasilkan dinamika, perencanaan, organisasi, manajemen , keberanian berusaha, penguasaan materi, namun sekaligus menggerogoti kehidupan sosial dan pribadinya. Hal ini tercermin dalam bahasa: menaklukkan ruang angkasa, menaklukkan alam, menguasai hutan, dan menguasai banjir. 3. Reaksi atas sikap Budaya Timur dan Budaya Barat Kebudayaaan Timur bersifat kolektif, sehingga tidak membiarkan seseorang mengurus dirinya sendiri. Sebaliknya kebudayaan Barat bersifat individual,

akibatnya timbul rasa kesepian dan tertekan. Sekarang terjadi pergulatan. Timur ingin memperlihatkan ciri khas kebudayaannya dan sekaligus memberi corak pergaulan dunia, sebab tidak menghendaki kemajuan ilmu pengetahuan dan keberhasilan pengembangan rasio disertai wajah bengis, angkuh, dan kejam. Menurut Alfian (1988: 36), ada tiga corak reaksi dalam menghadapi tantangan Barat: a. Menerima dan merangkul bulat-bulat kebudayaan Barat, dan

menganggap kebudayaan Timur tidak relevan lagi. b. Anti kebudayaan Barat dengan menganggap kebudayaan Barat kejam dan buas.

30 | P a g e

30 | P a g e

c. Melihat benturan secara kritis dan realistis, dan mengambil yang baik dari kebudayaan Barat dan mempertahankan yang baik dari kebudayaan Timur. 4. Pendapat-pendapat tentang Kebudayaan Nasional Indonesia Menyadari bahwa bangsa Indonesia terdiri atas bermacam-macam suku bangsa dengan masing-masing kebudayaannya, dan telah adanya pengaruh berbagai macam kebudayaan asing, maka dicoba mencari suatu bentuk kebudayaan yang dapat diterima oleh semua warga bangsa Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. Pada tahun 1936 diadakan polemik kebudayaan antara Sutan Takdir Alisyahbana dan kelompoknya sebagai wakil golongan Indonesia Muda, dengan Sanusi Pane, Ki Hadjar Dewantara, dan Dr. Sutama. Ki Hadjar Dewantara dan kelompoknya mengemukakan bahwa Kebudayaan Nasional Indonesia adalah puncak-puncak kebudayan daerah di Indonesia, dan didasarkan pada kebudayaan Timur (spiritualisme, perasaan, dan kolektivisme) yang dilengkapi dengan kebudayaan Barat (materialisme, intelektualisme, dan individualisme). Sedang Sutan Takdir Alisyahbana dan kelompoknya mengemukakan bahwa perlu dibangun kebudayaan nasional yang baru sama sekali dengan banyak mengambil pengaruh Barat. Di samping pendapat kedua kelompok itu, Harsya Bachtiar berpendapat bahwa perlu dibangun kebudayaan yang baru sama sekali, yang bebas dari feodalisme. Sedangkan Koentjaraningrat mengatakan, kebudayaan nasional perlu

berorientasi kepada kejayaan nenek moyang dan masa kini. Identitas kebudayaan itu merupakan suatu kontinuitas. Kebudayan nasional adalah keseluruhan gagasan kolektif dari masyarakat Indonesia yang bhineka. Berdasarkan fungsinya, kebudayaan nasional adalah: a. b. Sistem gagasan dan perlambang yang memberi identitas Indonesia Dapat dipakai untuk seluruh warga Indonesia yang Bhineka

Syaratnya adalah: a. Hasil karya bangsa Indonesia b. Mengandung cir-ciri khas Indonesia c. Yang dinilai tinggi dan menjadi kebanggaan seluruh bangsa Indonesia Menurut UUD 1945 Pasal 32:

31 | P a g e

31 | P a g e

Kebudayan bangsa Indonesia ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah hasil usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya Dari pendapat-pendapat di atas ditarik kesimpulan sementara bahwa kebudayaan nasional adalah puncak-puncak kebudayaan daerah ditambah unsur-unsur kebudayaan luar yang masuk yang positif. Formasi kebudayaan nasional dalam rangka pembuatan pola kehidupan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila ialah proses timbal-balik antara yang ideal dengan yang aktual, antara nilai-nilai, kelakuan individu, dan interaksi sosial. Melalui habitasi dan pembiasaan, dari proses pembudayaan akan dihasilkan etos

kebudayaan yang merupakan sistem yang terdiri atas komponen ekonomi, sosial politik, dan unsur-unsur kebudayaan lainnya. Kebudayan adalah kompleks, karena bersumber dari sifat biologis, lingkungan, psikologis, dan sejarah eksistensi manusia. Etos kebudayaan itu merupakan kompleks nilai yang koheren serta memberi watak dan identitas khusus pada kebudayaan yang diresapinya. Untuk bangsa Indonesia, Pancasila adalah etos kebudayaan nasional.

RANGKUMAN 1) Kebudayaan suatu masyarakat itu selalu berubah. Perubahannya dapat karena faktor-faktor di dalam masyarakat itu sendiri, mau pun kebudayaan luar yang masuk. 2) Dinamika kebudayaan itu juga memberi dampak terhadap kehidupan masyarakat, baik berupa dampak yang positif, mau pun dampak yang negatif. Dampak positif tidak kita bicarakan, karena membawa masyarakat itu pada kemajuan, tetapi dampak negatiflah yang harus dianalisis dan dicarikan jalan keluarnya, agar dampak itu tidak merusak kehidupan bermasyarakat. 3) Untuk mengantisipasi dampak negatif, perlu adanya penyesuaian antar budaya, yang meliputi faktor intern, - berarti faktor yang ada pada individu dalam masyarakat itu sendiri, dan faktor ekstern yaitu faktor yang ditemui ketika individu atau kelompok individu itu bertemu dengan kebudayan masyarakat yang lain. 4) Untuk membicarakan Kebudayaan Nasional Indonesia perlu melihat kembali bagaimanakah kebudayaan asli Indonesia itu. Kemudian dengan masuknya bangsa asing ke Indonesia, mereka memberikan kontribusi yang menambah atau melengkapi kebudayaan asli
32 | P a g e

dari unsur-unsur

32 | P a g e

5) Ada dua kelompok besar pengaruh asing yang diterima oleh masyarakat Indonesia, yaitu pengaruh dari Kebudayaan Timur yaitu kebudayaan Hindu, Budha, Konfusianisme dan Taoisme, dan pengaruh dari Kebudayaan Barat yang dibawa oleh orang-orang Eropa dan Amerika. Saat ini terjadi pergulatan dalam proses pembentukan Kebudayaan Nasional Indonesia. Di satu fihak ada yang ingin tetap mempertahankan unsur-unsur kebudayaan Timur yang umumnya bersifat

menyelaraskan diri dengan alam, namun demi mengikuti kemajuan jaman yang berasaskan teknologi canggih, maka banyak juga yang menginginkan bangsa Indonesia lebih banyak mengambil Kebudayaan Barat.

LATIHAN 1) Contoh bentuk perubahan kebudayaan yang berasal dari discovery, dan berasal dari invention. Masing-masing dua buah. 2) Bagaiman cara mengatasi seringnya terjadi kecelakaan karena adanya cultural lag? 3) Bila Anda suatu saat dikirim untuk melanjutkan studi ke negara asing, misalnya ke

Amerika, apa yang harus Anda siapkan terlebih dahulu? Jelaskan kegunaannya halhal yang Anda persiapkan itu. 4) Apa perbedaan karakter orang yang hidup di lingkungan yang terbuka, yang sering bertemu dengan bermacam-macam orang dari berbagai kebudayaan, dengan karakter orang yang hidup di daerah yang terpencil, sehingga komunikasi antar budaya amat terbatas? 6) Mengetahui adanya Polemik Kebudayaan pada tahun 1936, apakah konsep yang diajukan oleh para anggota polemik itu sekarang masih ada jejaknya?

33 | P a g e

33 | P a g e

BAB
KEBUDAYAAN INDONESIA

Tujuan Instruksional Khusus : Agar mahasiswa dapat menguraikan terjadinya bangsa Indonesia dengan kebudayaannya, dari jaman dahulu sampai sekarang, yang berupa masayarakat Indonesia dengan kebudayaan aslinya, pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha, pengaruh kebudayaan Islam, dan pengaruh kebudayaan Barat

A. Kebudayaan Asli Indonesia 1. Jaman Pra-Histori (Pra-Hindu) a. Penduduk, Sistem Teknologi, dan Sistem Ekonomi 1) Pengaruh Ras Austro-Melanesoid Manusia Indonesia yang tertua sudah ada kira-kira satu juta tahun yang lalu, waktu Paparan Sunda masih berupa daratan dan bersambungmenjadi satu dengan Benua Asia di bagian tenggara. Fosilnya diketemukan di lembah Bengawan Solo, dan oleh para ahli disebut Pithecantropus Erectus. Mereka dalam kelompok kecil, hidup dari berburu dan meramu. Alat berburunya berupa alat pemukul dari kayu, kapak dari batu yang dipertajam pada salah satu sisinya. Sejumlah fosil yang menunjukkan bentuknya yang telah berevolusi ditemukan di desa Ngandong, yang juga terletak di lembah Bengawan Solo, dan oleh para ahli disebut Homo Soloensis. Homo Soloensis ini kemudian berevolusi menjadi manusia seperti sekarang, tetapi dengan ciri-ciri yang banyak menyerupai penduduk pribumi Australia. Sisa-sisa fosilnya diketemukan di distrik Wajak (dekat Surabaya) dan disebut Homo Wajakensis. Manusia dengan ciri-ciri Austro-Melanesoid yang merupakan nenek moyang manusia Wajak ini menyebar ke arah timur dan ke arah barat. Yang ke timur menduduki Irian (sebelum Kala Es Ke-4 berakhir). Di Irian mereka hidup dalam

34 | P a g e

34 | P a g e

kelompok kecil di muara sungai, hidup dari menangkap ikan, berburu dan meramu. Peralatannya berupa kapak batu serpih bilah. Dinding gua tempat tinggal mereka dihiasi dengan gambar-gambar tangan atau binatang dengan warna merah. Bekas perkampungan mereka disebut abris sous roches (tempat perlindungan di bawah karang), diketemukan di daerah Kepala Burung di Papua, juga di Kepulauan Kai, Seram, dan Sulawesi Selatan. Mereka mengembangkan kebudayaan pantai dengn perahu lesung bercadik. Adanya abris sous roches di Flores Barat dan Timor Barat, menunjukkan bahwa manusia Wajak ini juga bermigrasi ke barat. Yang bermigrasi ke barat rupa-rupanya suka makan kerang, dan kulitnya mereka buang di luar perkampungan mereka. Timbunan klit kerang ini disebut

kyokkkenmoddinger (sampah dapur), terdapat di Sumatera Timur dan Sumatar Utara dekat Medan, dekat Langsa di Aceh, di Perak, Kedah, dan Pahang (Malaysia). Mereka juga mengembangkan peralatan berupa kapak genggam berbentuk diskus lonjong. Peralatan ini diketemukan selain di gua-gua Jawa Timur juga di Vietnam Utara, yang kemudian terkenal dengan nama kompleks alat-alat Bacson-Hoabin, berkat penggalian ahli arkeologi Perancis Ny. M. Colani di Vietnam. Jadi ada

persebaran dari timur ke barat dari Ras Austro-Melanesoid yang berasal dari Jawa melalui Sumatera, Semenanjung Melayu dan Muangthai Selatan sampai Vietnam Utara. 2) Pengaruh Ras Mongoloid Persebaran Ras Mongoloid kemungkinan melalui jalan yang dilalui oleh orang Austro-Melanesoid ketika bermigrasi ke barat. Namun ada juga pendapat, mereka melalui jalan dari Asia Timur, mungkin dari Jepang, kemudian menyebar ke arah selatan: melalui Kepulauan Riukyu, Taiwan, Filipina, Sangir, masuk ke Sulawesi.Di Gua Leang Cadang Sulawesi Selatan, ditemukan fosil yang menunjukkan ciri PaleoMongoloid. Ia diketemukn bersana alat-alat Toala. Juga terdapat gambar dinding dan fosil dengan ciri Austro-Melanesoid. Dengan demikian daerah itu adalah sebagai tempat perpaduan berbagai macam ras. Diperkirakan percampuran antar ras ini terjadi antara 10.000 sampai 2.000 SM 3) Pengaruh Kebudayaan Neolitik Gelombang ketiga berasal dari Asia bagian tenggara. Bentuk fisiknya banyak mengandung ciri Mongoloid. Bahasa induknya adalah bahasa Proto-Austronesia.

35 | P a g e

35 | P a g e

Mereka sudah mengenal bercocok tanam di ladang. Alatnya berupa kapak batu lonjong dan bujur sangkar yang oleh para ahli prehistori disebut Walzenbell.Dengan perahu bercadik mereka menyeberang ke daerah Pacifik Selatan: Taiwan, Filipina, Sulawesi Utara, dan Maluku Selatan. Dari Taiwan mereka ke utara, ke pulau-pulau Okinawa sampai ke Jepang. 4) Pengaruh Kebudayaan Perunggu Benda-benda tinggalan Jaman Perunggu di Asia Tenggara untuk pertama kali ditemukan di Dongson, Vietnam Utara, berupa perunggu dan besi. Diantaranya

nekara (genderang perunggu), kapak, cendrasa, bejana tempat abu orang meninggal, gelang, manik-manik, kalung, cincin, dan arca. Kepandaian itu berasal dari Mesopotomia kira-kira 3000 tahun SM. Di Indonesai benda-benda itu diketemukan di Sumatara, Jawa, Nusa Tenggara, Bali, Sangean (Sumbawa), Rote, Leti, Alor, Timor dan Sentani (Papua). Berikut ini kutipan mengenai sejarah nenek moyang bangsa Indonesia dari tulisan Mochtar Lubis pada tahun 1986 dalam pidato kebudayaannya yang berjudul Situasi Akar Budaya Kita. Nenek moyang kita adalah bahagian dari arus perpindahan manusia yang bergerak di zaman lampau yang telah hilang sebagai hilangnya bayangan wayang dari layar sejarah, bergerak dari bagian Timur Eropa Tengah dan bagian Utara wilayah Balkan sekitar laut Hitam ke arah timur, mencapai Asia, masuk ke Tiongkok. Dan di Tiongkok arus perpindahan ini bercabang-cabang ke utara, timur dan selatan. Arus selatan mencapai daerah Yunan, sedang bagian timur mencapai laut Indo Cina. Di sinilah tempat lahirnya budaya asal Indonesia. Manusiamanusia yang berpindah dan bergerak ke Asia dari Eropa Tengah dan Wilayah Balkan itu adalah orang Tharacia, Iliria, Cimeria, Kakusia, dan mungkin termasuk orang Teuton, yang memulai perpindahan mereka di abad ke-9 hingga abad ke-8 sebelum nabi Isa. Mereka membawa keahlian membuat besi dan perunggu. Nenek moyang orang Indonesia yang telah berada terlebih dahulu dari mereka di daerah Dongson ini telah mengembangkan seni monumental tanpa banyak ornamentik yang dekoratif. Dari pendatang-pendatang baru ini mereka mengambil alih, menerima, dan mencernakan seni ornamentik pendatang-pendatang dari barat ini. Tidak saja dalam ornamentik, akan tetapi juga dalam hiasan tenunan (amat banyak persamaan antara hiasan tenun Indonesia dan Balkan, umpamanya), dan juga dalam musik dan

36 | P a g e

36 | P a g e

nyayian.

Jaap

Kunst,

seorang

ahli

musik,

juga

ahli

musik

Indonesia

mengindentifikasikan persamaan nyayian rakyat di pulau Flores dengan nyanyian rakyat di bagian timur Yugoslavia (Balkan). Kebudayaan Dongson menunjukkan lebih banyak persamaan dan kaitan dengan budaya Eropa dibanding budaya Cina. Nenek moyang Dongson inilah yang bergerak ke selatan, dan kemudian mencapai Nusantara. Di Nusantara hampir tidak ada perpisahan antara zaman perunggu dan zaman besi. Hal ini sama juga terjadi di Indo Cina. Dalam penggalian situs-situs purbakala, perunggu dan besi selalu ditemukan bersama-sama. Hulu pisau Dongson banyak berbentuk manusia, seperti keris Majapahit. Bentuk hulu pisau yang serupa juga ditemukan di Holstein (Jerman), Denmark, dan di Kauskasus. Sebelum nenek moyang dari Dongson turun ke Nusantara, kelompok-kelompok manusia lain telah terlebih dahulu datang. Selama zaman es terakhir, kurang lebih 15.000 tahun sebelum Masehi, sejarah bumi Nusantara menunjukkan bahwa sebagian besar Nusantara bagian barat menyatu dengan daratan Asia Tenggara, Jawa, Sumatera, Kalimantan dan wilayah yang kini laut Jawa. Ketika es berakhir, permukaan laut naik kembali, dan terbentuklah gugusan pulau-pulau seperti yang kita kenal kini. Sejarah bumi Nusantara telah berpengaruh besar pada perkembangan manusia MelayuPolinesia. Mereka menjadi bangsa maritim, yang kurang lebih 1000 tahun sebelum Nabi Isa mengarungi Samudera Hindia. Manuskrip tua Hebrew dari masa akhir 2000 dan permulaan 1000 sebelum tahun Nabi Isa telah menyebut perdagangan kulit manis dari berbagai tempat sepanjang pantai timur Afrika. Sebuah naskah Arab dari abad ke 13 menceritakan masuknya orang Melayu-Polinesia ke belahan barat Samudera Hindia. Naskah itu mengatakan bahwa di masa mundurnya Kerajaan Firaun di Mesir, tempat yang bernama Aden, yang menguasai jalan masuk ke laut Merah (yang masa itu merupakan tempat penduduk nelayan), telah direbut oleh orang Qumr (Melayu-Polinesia) yang datang dengan armada yang terdiri dari perahu-perahu yang memakai cadik. Mereka mengusir penduduk setempat, berbagai monumen dan memilihara hubungan langsung dengan pulau Madagaskar dan Asia Tenggara. Para ahli sejarah menyebutkan hal itu mungkin terjadi di masa Nabi Isa masih hidup. Untuk masa yang cukup lama orang Melayu-Polinesia menguasai

pelayaran dan perdagangan lewat Samudera Hindia dari Asia Tenggara ke pintu Laut Merah, sepanjang pantai timur Afrika dan Pulau Madagaskar.

37 | P a g e

37 | P a g e

Dalam melakukan ini, mereka juga telah membawa berbagai kekayaan ke Madagaskar dan Afrika. Di Madagaskar mereka telah menetap di belahan barat pulau itu. Hingga kini masih terlihat berbagai persamaan kata bahasa Madagaskar dan bahasa suku Manyaan di Kalimantan. Ke timur, nenek moyang Melayu-Polinesia ini berlayar jauh ke pedalaman Pasifik, menetap di berbagai kepulauan, dan mereka paling ke timur mencapai Easter Island, pulau terjauh ke timur dari Nusantara. Jelaslah bahwa budaya bangsa kita berakar jauh ke zaman prasejarah, ke masa silam yang begitu jauhnya, hingga telah lenyap dari ingatan bangsa kita. Jelas pula bahwa kita telah mewarisi budaya dunia yang ada di masa itu, di samping nenek moyang kita telah memberi pula sumbangan pada budaya-budaya bangsa lain di seberang Samudera Hindia, serta menciptakan berbagai budaya di Madagaskar, dan di kepulauan-kepulauan Samudera Pasifik. Melalui zaman Mesolitik mencapai zaman Neolitik mungkin terjadi kurang lebih 35002500 tahun sebelum Nabi Isa. Ketika itu mereka mulai tinggal bersama dalam komunitas-komunitas kecil dan mulai mengembangkan pertanian dan sistem pengairan. Di zaman ini berkembang akar budaya musyawarah Indonesia, karena di kala itu belum ada kepala dan raja, dan semuanya masih dimusyawarahkan oleh semua anggota komunitas, dipimpin oleh orang-orang yang lebih tua. Wanita ikut bermusyawarah, dan anak-anak boleh hadir dan ikut mendengar. Di suku Sakudei di pulau Mentawai, seorang peneliti Swiss melaporkan bahwa dia masih menemukan tradisi musyawarah yang lama itu. b Sistem Religi 1) Pra Hindu Mereka sudah mengetahui bahwa ada satu kekuatan gaib yang mengatur kehidupan mereka. Karena (hanya) satu kekuatan gaib, maka mereka adalah penganut monotheisme. Mereka memuja kekuatan gaib itu yang masih abstrak ,yang berupa kekuatan alam, angin, api, air, gunung berapi, dan lainlain. Kita mengetahui hal itu karena adanya peninggalan berupa batu-batu besar (megalitik) yang dipuja, berujud menhir, dolmen, dan punden berundak. Menhir antara lain terdapat di Gunug Kidul Yogya, Menado, Pagaruyung Minang, Dolmen di Nias dan punden berundak di Banten.Sistem

kepercayaan Indonesia Asli ini sampai sekarang masih kita lihat, di samping

38 | P a g e

38 | P a g e

batu-batu yang telah disebutkan di atas, juga ada yang berupa benda buatan jaman sekarang, misalnya tumpeng yang melambangkan sebuah menhir, orang Nias masih mengadakan upacara melompati dolmen untuk menggapai Tuhan. Punden berundak muncul lagi dalam pengaruh kebudayaan Hindu yang berupa Candi Borobudur, yang merupakan setangkup punden berundak. Dalam agama Hindu terdapat banyak dewa, oleh kerenanya biasa disebut polytheisme. Namun ketika masuk ke Indonesia ,polytheisme tadi harus disesuaikan dengan kebudayaan yang dimasukinya, menjadilah ia monotheisme seperti yang dianut oleh orang Indonesia. Kepercayaan yang masih abstrak dalam Kebudayaan Pra-Hindu dijadikan konkrit, dengan membuat personifikasi: kekutan angin menjadi Dewa Bayu, kekuatan api menjadi Dewa Agni, kekuatan air laut menjadi Dewa Baruna, dan sebagainya. Dewa-dewa agama Hindu, sepeti Trimurti (Brahma, Ciwa, Wisnu) yang dalam kebudayaan Hindu kedudukannya sejajar, namun begitu masuk ke Indonesia, Ciwa dijadikan Dewa Tertinggi, dibawahnya sebelah menyebelah Dewa

Brahma dan Dewa Wisnu. Jika kedudukan ketiga dewa itu kita hubungkan, maka akan menjadi sebuah segitiga, seperti penggambaran menhir. Ini dapat kita lihat ketika mengunjungi Candi Prambanan yang bersifat Hindu, tempat yang menunjukkan kedudukan ketiga dewa itu dapat kita lihat dengan jelas. Bahkan dalam wayang yang dianggap kebudayaan Indonesia, Dewa Ciwa ini disebut Batara Guru, bapak semua dewa. Bila kedudukan ini kita tarik garisnya, akan terlihat kembali sebagai menhir. Tadi telah diutarakan, bila punden berundak yang asli Indonesia ini kita tangkupkan dengan punden berundak lagi, akan menjadi Candi Borobudur. Candi Borobudur adalah tempat pemujaan bagi umat Budha. Ketika agama Budha masuk ke Indonesia, orang Indonesia tidak menolak memasukinya karena orang Indonesia ini melihat intinya adalah sama gambar segitiga, gambaran dari

dengan kebudayaan asli yang mereka punyai, yaitu dalam bentuk punden berundak.

39 | P a g e

39 | P a g e

B. Pengaruh Kebudayaan Hindu dan Budha Masuknya agama Hindu-Budha di Indonesia membawa pengaruh yang kuat bagi susunan masyarakat. Agama tersebut lahir ratusan tahun sebelum masehi. Ajaran HinduBuddha mengajarkan etika hidup layaknya menjadi seorang yang suci yang lepas dari hawa nafsu keduniawian. Agama ini hanya berkembang di negara-negara Asia. Di negara-negara Eropa maupun Amerika agama ini kurang berpengaruh bagi masyarakat. Di Indonesia agama inilah yang menjadi pelopor terbentuknya kerajaan tua. Kerajaan tua yang dipengaruhi oleh ajaran Hindu-Buddha adalah Kutai, Tarumanagara, Kalingga, Sriwijaya, Mataram Hindu, Kahuripan, Kediri, Singosari, Majapahit, Sunda dan Kerajaan-kerajaan Hindu di Bali. Dalam agama Hindu, terdapat pembagian kasta masyarakat berdasarkan pembagian tugas atau pekerjaan. Kasta tersebut dari tertinggi adalah : Brahmana, Ksatria, Waisa dan Sudra. Terdapat masyarakat yang dianggap di luar kasta. Mereka disebut Paria yang meliputi : pengemis dan gelandangan. Biasanya kasta di Indonesia digunakan hanya untuk pembagian tugas saja karena dipakai oleh Bangsa Indonesia itu sendiri. Sedangkan kasta di India digunakan untuk membedakan antara Bangsa Arya dengan Bangsa Dravida. Kebudayaan Hindu-Buddha yang dibawa oleh orang-orang India lambat laun diadopsi oleh masyarakat Indonesia, yang kemudian mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakat Indonesia secara umum. Sebelum datangnya orang India, Indonesia sebenarnya juga memiliki kebudayaan asli yang berkembang dan tumbuh di kalangan masyarakat. Datangnya orang-orang India ke Indonesia menyebabkan bertemunya dua kebudayaan yang berlatar belakang berbeda. Pertemuan inilah yang disebut dengan akulturasi budaya, yaitu bertemunya dua kebudayaan yang kemudian menjadi budaya baru yang dipengaruhi oleh kedua budaya yang bertemu. Bertemunya dua kebudayaan ini menghasilkan unsur-unsur kebudayaan baru yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Tetapi pada kenyataannya unsur kebudayaan India lebih mendominasi dalam proses akulturasi budaya, akibatnya masyarakat Indonesia mulai terpengaruh dengan kebudayaan India dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Wujud dari pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha pada kebudayaan suku bangsa di Indonesia dapat tercermin dalam beberapa bentuk, meliputi bangunan, kesenian, dan struktur pemerintahan. 1. Bangunan

40 | P a g e

40 | P a g e

Bangunan yang tampak nyata terwarnai Kebudayaan Hindu dan Budha adalah candi dan keraton. Dalam agama Hindu, candi dijadikan sebagai tempat pemujaan dewa. Dalam candi Buddha didalamnya tidak terdapat arca dewa, karena dalam agama Budha tidak terdapat dewa-dewa. 2. Kesenian Seni adalah suatu hasil cipta karya manusia yang bertujuan untuk menggambarkan suatu konsep dalam pikiran manusia, penggambaran konsep tadi juga dapat

bersifat menghibur. Seni yang dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Buddha antara lain seni rupa yang ditampilkan secara antropomorfik (pengenaan ciri-ciri manusia, binatang, tumbuhan, atau benda mati) maupun non-antropomorfik. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha juga terlihat pada seni patung. Peninggalan patung di Indonesia yang mencerminkan ajaran Hindu-Buddha banyak dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada masa itu pembuatan patung dikaitkan dengan pembuatan candi. Patung-patung tersebut digunakan untuk melakukan pemujaan pada agama Hindu-Buddha. Seni sastra adalah seni yang menjadi media pendidikan dan hiburan. Banyak ajaran Hindu-Buddha yang mempengaruhi karya sastra Indonesia. Salah satu wujud kesenian lainnya yang terkenal adalah seni wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang. Di Jawa Barat juga muncul wayang golek yang terbuat dari kayu yang diberi pakaian layaknya manusia. Seni wayang sangat mengakar di Jawa. 3. Struktur pemerintahan Bentuk struktur pemerintahan yang sangat hirarkis dan birokratis merupakan wujud pengaruh kebudayaan Hindu yang masih menggunakan sistem kasta dalam pola hubungan masyarakatnya. Sistem kasta tidak ada dalam sistem kepercayaan Budha, dimana antara agamawan dan orang awam tidak ada perbedaan dalam strata agama dan kehidupan sosialnya. C. Pengaruh Kebudayaan Islam Berbicara kebudayaan Islam tentunya akan selalu bersinggungan dengan budaya Arab dan Timur Tengah. Perlu dicatat bahwa tidak semua masyarakat Timur Tengah merupakan orang Arab. Orang Iran, misalnya, adalah bangsa Persia, yang memiliki bahasa serta budaya tersendiri, meskipun dalam ha-hal tertentu ada kesamaan dengan budaya Arab.

41 | P a g e

41 | P a g e

Menghubungkan budaya Islam dengan hanya budaya Arab adalah kurang tepat, apalagi persebaran agama Islam di Indonesia dilakukan bukan hanya oleh satu bangsa saja, melainkan oleh berbagai bangsa yang berdagang di Indonesia, yaitu orang Arab, Persia, Moor, India, bahkan Cina. Persebaran Islam di Indonesia tak terjadi dalam waktu yang sama, karena berproses melalui aktivitas dagang dan sosial. Kekentalan pengaruh budaya dan ajaran Islam di tiaptiap tempat berbeda-beda. Ada masyarakat yang nuansa Islamnya kental, seperti Aceh atau Banten, ada pula masyarakat yang nuansa Islamnya tidak begitu kental, seperti di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Wujud dari pengaruh kebudayaan Islam pada kebudayaan suku bangsa di Indonesia dapat tercermin dalam beberapa bentuk, meliputi bahasa, kesusatraan, seni rupa dan kaligrafi, seni busana, dan bangunan (arsitektur) 1. Bahasa Al-Quran, sebagai kitab suci Islam, menggunakan bahasa Arab, bahasa-Ibu Nabi Muhammad. Dalam perkembangannya, bahasa Arab digunakan juga oleh para

muslim yang non-Arab dalam berbagai kegiatan agama, terutama shalat dan mengaji membaca Al-Quran). Tak jarang seorang muslim pandai membaca AlQuran dalam bahasa Arab, namun ia kurang atau tidak mengerti arti harfiah teksteks dalam kitab suci tersebut. Salah satu hadis menyatakan bahwa sangat diwajibkan bagi setiap muslim untuk membaca Quran, meski orang bersangkutan tak mengetahui arti dan makna ayat-ayat yang dibacakan (kecuali ia membaca terjemahaannya). Persebaran bahasa Arab lebih cepat dari pada bahasa Sansekerta karena dalam Islam tak ada pengkastaan, karena itu dari raja hingga rakyat jelata mampu berbahasa Arab. Pada mulanya memang hanya kaum bangsawan saja yang pandai menulis dan membaca huruf dan bahasa Arab, namun selanjutnya rakyat kecil pun mampu berbahasa Arab, setidaknya membaca dan menulis Arab, kendati tak begitu paham akan maknanya. Penggunaan huruf Arab di Indonesia pertama kali terlihat pada batu nisan di Leran Gresik, yang diduga makam salah seorang bangsawan Majapahit yang telah masuk Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, pengaruh huruf dan bahasa Arab terlihat pada karya-karya sastra di wilayah-wilayah yang

42 | P a g e

42 | P a g e

keislamannya cukup kuat seperti di Sumatera, Sulawesi, Makassar, dan Jawa. Penggunaan bahasa Arab pun berkembang di pesantren-pesantren. Penulisan huruf Arab berkembang pesat ketika karya-karya yang bercorak HinduBuddha disusupi unsur-unsur Islam. Huruf yang lebih banyak dipergunakan adalah aksara Arab Gndul (Pegon), yakni abjad Arab yang ditulis tanpa tanda bunyi, sedangkan bahasanya masih menggunakan bahasa setempat seperti Melayu, Jawa, dan bahasadaerah lainnya. Sebelum bersentuhan dengan budaya Eropa (Portugis dan Belanda}, kitab-kitab (sastra, hukum, sejarah) ditulis dengan huruf Pegon ini. Di samping melalui kesusatraan, penggunaan bahasa dan huruf Arab terjadi melalui perdagangan. Dalam kalender Masehi, nama-nama hari yang berjumlah tujuh dalam seminggu menggunakan nama Arab, yakni Senin (Isnain), Selasa (Sulasa), Rabu (Raubaa), Kamis (Khamis), Jumat (Jumat), Sabtu (Sabt). Enam dari tujuh hari tersebut semuanya berasal dari bahasa Arab, kecuali Minggu (bahasa Arabnya: Ahad) yang berasal dari kata Flaminggo, bahasa Portugis. Hanya orang-orang tertentu yang menggunakan kata ahad untuk hari Minggu. Pengabadian istilah minggu dilakukan oleh umat Nasrani Portugis ketika melakukan ibadah di gereja pada hari bersangkutan. Selain huruf, sistem angka (0, 1, 2, 3, dan seterusnya) pun diadopsi dari budaya Arab; bahkan semua bangsa mempergunakannya hingga kini. Selain nama hari, nama Arab diterapkan pula pada nama orang, misalnya Muhammad, Abdullah, Umar, Ali, Musa, Ibrahim, Hasan, Hamzah, dan lain-lain. Begitu pula kosa kata Arab, kebanyakan diambil dari katakata yang ada dalam Al-Quran, banyak yang dipakai sebagai nama orang, tempat, lembaga, atau kosakata (kata benda, kerja, dan sifat) yang telah di-Indonesia-kan, contohnya: nisa (perempuan), rahmat, berkah (barokah), rezeki (rizki), kitab, ibadah, sejarah (syajaratun), majelis (majlis), hebat (haibat), silaturahmi (silaturahim), hikayat, mukadimah, dan masih banyak lagi. Banyak di antara kata-kata serapan tersebut yang telah mengalami pergeseran makna (melebar atau menyempit), seiring dengan perkembangan zaman. 2. Kesusastraan Sumatera merupakan daerah pertama di Indonesia yang dipengaruhi Islam secara politis. Kerajaan Islam tertua pun ada di sini, yakni Samudera Pasai di Aceh. Karya sastra yang dibuat di Sumatera kebanyakan menggunakan bahasa Melayu yang

43 | P a g e

43 | P a g e

merupakan bahasa istana dan bahasa dagang, dengan aksara Arab. Wujudnnya macam-macam, ada yang berwujud kesusastraan agama, kesusastraan epos, kesusastraan sejarah, pantun, cerita berinduk, undang-undang, cerita binatang (fabel), bahkan persuratan. Sedangkan dalam bentuknya ada yang puisi (syair) dan prosa. Contoh dari karya sastra sejarah dan agama yang ada di Sumatera,adalah Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Aceh, dan Hikayat Perang Palembang. Di Jawa karya sastra bernuansa Islam banyak diketemukan, antra lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, kebanyakan merupakan sastra sejarah dan suluk (tata laku). Ada yang ditulis dengan huruf Arab dan berbahasa Jawa dan Sunda. Karyakarya bercorak Islam jumlahnya cukup banyak. Temanya pun bermacam-maam, ada yang bersifat kesejarahan (meski sebagian isinya dapat diragukan). Berikut ini

contoh beberapa karya sastra yang ditulis di Jawa, yaitu Sajarah Banten, Hikayat Hasanuddin yang isinya lebih pendek dari Sajarah Banten, memuat riwayat raja-raja Banten, Demak, Sunan Gunung Jati, serta nama-nama imam di Mesjid Demak, Babad Mataram, Babad Tanah Djawi, memuat asal-usul raja-raja di Jawa dari masa Hindu-Buddha hingga Islam. Banyak di antara karya sastra tersebut yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. 3. Seni Rupa dan Kaligrafi Seni rupa dalam dunia Islam berbeda dengan seni rupa dalam Hindu-Buddha. Dalam ajaran Islam tak diperbolehkan menggambar, memahat, membuat relief yang objeknya berupa makhluk hidup khususnya hewan. Maka dari itu, seni rupa Islam identik dengan seni kaligrafi. Seni kaligrafi adalah seni menulis aksara indah yang merupakan kata atau kalimat. Dalam Islam, biasanya kaligrafi berwujud gambar binatang atau manusia (tapi hanya bentuk siluetnya saja). Ada pula, seni kaligrafi yang tidak berbentuk makhluk hidup, melainkan hanya rangkaian aksara yang diperindah. Teks-teks dari Al-Quran merupakan tema yang sering dituangkan dalam seni kaligrafi ini. Sedangkan, bahan-bahan yang digunakan sebagai tempat untuk menulis kaligrafi ini adalah nisan makam, pada dinding masjid, mihrab masjid, kain tenunan atau kertas sebagai pajangan atau kayu sebagai pajangan. Selain huruf Arab, tradisi kaligrafi dikenal pula di Cina, Jepang, dan Korea. 4. Seni Busana

44 | P a g e

44 | P a g e

Dalam agama Islam, ada jenis pakaian tertentu yang menunjukkan identitas umat Islam, khususnya pakaian yang digunakan oleh wanita. Jenis pakaian tersebut adalah jenis baju kurung dan kerudung. Kebaya, baju kurung, dan pakaian tradisonal para raja dan keluarga raja banyak diwarnai oleh kebudayaan Islam dengan baju model panjang dan tertutup dengan segala aksesorisnya. 5. Bangunan (Arsitektur) Islam telah memperkenalkan tradisi baru dalam bentuk bangunan. Surutnya Majapahit yang diikuti oleh perkembangan agama Islam menentukan perubahan tersebut. Islam telah memperkenalkan tradisi bangunan, seperti mesjid dan makam. Islam, melarang pembakaran jenazah yang merupakan tradisi dalam ajaran HinduBuddha, sebaliknya jenazah bersangkutan harus dimakamkan di dalam tanah. Maka dari itu, peninggalan berupa nisan bertuliskan Arab merupakan pembaruan seni arsitektur pada masanya. Islam pertama kali menyebar di daerah pesisir melalui asimilasi dan perdagangan. Baru pada abad ke-17, Islam menyebar di hampir

seluruh Nusantara. Persebaran bertahap ini, ternyata tidak berpengaruh terhadap kesamaan bentuk arsitektur di seluruh kawasan Islam. Sebagian arsitektur Islam banyak terpengaruh dengan tradisi Hindu-Buddha yang juga telah bersatu padu dengan seni tradisional. Persebaran Islam tidak dilakuan secara revolusioner yang berlangsung secara tiba-tiba dan melalui pergolakan politik dan sosial, namun melalui pendekatan damai dan secara perlahan.Dengan jalan damai ini, Islam dapat diterima dengan tangan terbuka. Pembangunan tempat-tempat ibadah tidak sepenuhnya mengadospi arsitektur Timur Tengah. Ada masjid yang bangunannya merupakan perpaduan budaya Islam-HinduBuddha, misalnya Masjid Kudus. Ini terlihat dari menara masjid yang berwujud seperti candi dan berpatung. Masjid lain yang bercorak campuran adalah Masjid Sunan Kalijaga di Kadilangu dan Masjid Agung Banten. Atap pada Masjid Sunan Kalijaga berbentuk undak-undak seperti bentuk atap pura di Bali atau candi-candi di Jawa Timur. Tempat sentral perubahan seni arsitektur dalam Islam terjadi di pelabuhan yang merupakan pusat pembangunan wilayah baru Islam. Sementara para petani di pedesaan dalam hal seni arsitektur masih mempertahankan tradisi Hindu-Buddha. Tak diketahui seberapa jauh Islam mengambil tradisi India dalam hal seni, karena beberapa keraton yang terdapat di Indonesia usianya kurang dari 200

45 | P a g e

45 | P a g e

tahun. Pengaruhnya terlihat dari unsur kota. Masjid menggantikan posisi candi sebagai titik utama kehidupan keagamaan. Letak makam selalu ditempatkan di belakang masjid sebagai penghormatan bagi leluhur kerajaan. Adapula makam yang ditempatkan di bukit atau gunung yang tinggi seperti di Imogiri, makam para raja Mataram-Islam, yang memperlihatkan cara pandang masyarakat Indonesia (Jawa) tentang alam kosmik zaman prasejarah. Sementara, daerah yang tertutup tembok masjid merupakan peninggalan tradisi Hindu-Buddha. Terdapat kesinambungan antara seni arsitektur Islam dengan tradisi sebelum Islam. Contoh arsitektur klasik yang berpengaruh terhadap arsitektur Islam adalah atap tumpang, dua jenis pintu gerbang keagamaan, gerbang berbelah dan gerbang berkusen, serta bermacam unsur hiasan seperti hiasan kaya yang terbuat dari gerabah untuk puncak atap rumah. Ragam hias sayap terpisah yang disimpan pada pintu gerbang zaman awal Islam yang mungkin bersumber pada relief makara atau burung garuda zaman pra-Islam. Namun sayang, peninggalan bentuk arsitektur itu banyak yang dibuat dari kayu sehingga sangat sedikit yang mampu bertahan hingga kini. D. Pengaruh Kebudayaan Barat Berbagai informasi melalui media cetak dan elektronik dengan sentuhan kemajuan teknologi modern mempercepat akses pengetahuan tentang budaya lain, membawa perubahan sampai ke tingkat dasar kehidupan manusia di Indonesia. Tak dapat dipungkiri, peradaban yang lebih maju akan banyak mempengaruhi peradaban yang berkembang belakangan. Sebagaimana agresivitas budaya Barat yang terus berproses dinamis dan teruji berpengaruh pada peradaban lain, terutama Peradaban Timur. Lebih dari itu, kehadiran budaya Barat seakan mendominasi dan selalu menjadi trend setter masyarakat. Kebiasaan dan pola hidup Orang Barat seakan menjadi cermin kemodernan. Hal ini jelas mengikis prilaku dan tindakan seseorang. Hembusan pengaruh budaya Barat, dianggap sebagai ciri khas kemajuan dalam ekspresi kebudayaan kekinian. Padahal belum tentu sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masyarakat sendiri. Keadaan ini terus mengikis budaya dan kearifan lokal yang menjadi warisan kebudayaan masyarakat Nusantara. Nilai tradisional masyarakat perlahan mengalami kepunahan, tak mampu bersaing dengan derasnya publikasi budaya modern dalam konteks pergaulan masyarakat. Beberapa

46 | P a g e

46 | P a g e

dampak yang dirasakan adalah dengan menurunnya rasa sosial dan tenggang rasa masyarakat, mengikisnya semangat kebhinekaan yang mengarah pada disintegrasi bangsa dan pelanggaran hukum, dan pola hidup individualisme dan konsumerisme yang bertentangan dengan sikap hidup sederhana. Kebebasan dan kesenangan hidup masyarakat Barat tidak selamanya positif. Banyak kalangan remaja yang sedang mencari jati diri tergusur oleh tren-tren yang tak henti diiklankan sebagai suatu gaya hidup yang menyenangkan dan mendunia. Banyak norma-norma masyarakat pribumi di Indonesia yang terkikis dalam keseharian generasi mudanya. Kita harus membedakan antara Kebudayan Barat Modern dan Kebudayaan Teknologis Modern. Kebudayaan Teknologis Modern merupakan anak Kebudayaan Barat. Akan tetapi, meskipun Kebudayaan Teknologis Modern jelas sekali ikut menentukan wujud Kebudayaan Barat, anak itu sudah menjadi dewasa dan sekarang memperoleh semakin banyak masukan non-Barat, misalnya dari Jepang Dari kebudayaan Teknologis Modern dibedakan juga perlu dibedakan dengan Kebudayaan Modern Tiruan. Kebudayaan Modern Tiruan itu terwujud dalam lingkungan yang tampaknya mencerminkan kegemerlapan teknologi tinggi dan kemodernan, tetapi sebenarnya hanya mencakup pemilikan simbol-simbol lahiriah saja, misalnya kebudayaan lapangan terbang internasional, kebudayaan supermarket (mall), dan kebudayaan Kentucky Fried Chicken (KFC). Anak Kebudayaan Modern Tiruan ini adalah konsumerisme: orang ketagihan membeli, bukan karena ia membutuhkan, atau ingin menikmati apa yang dibeli, melainkan demi membelinya sendiri. Kebudayaan Modern Blateran ini, bahkan membuat kita kehilangan kemampuan untuk menikmati sesuatu dengan sungguh-sungguh. Konsumerisme berarti kita ingin memiliki sesuatu, akan tetapi kita semakin tidak mampu lagi menikmatinya. Orang makan di KFC bukan karena ayam di situ lebih enak rasanya, melainkan karena fast food dianggap gayanya manusia yang trendy, dan trendy adalah modern. Apapun juga kita mesti berfikir secara obyektif, bahwa cukup banyak pengaruh Kebudayaan Barat yang cukup positif. Diantaranya adalah sistem pendidikan klasikal yang dewasa ini kita gunakan. Metode klasikal merupakan salah satu pengaruh kebudayaan Barat yang cukup efektif dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui pendidikan formal.

47 | P a g e

47 | P a g e

RANGKUMAN 1) Budaya bangsa Indonesia berakar jauh Sebelum Masehi melalui proses pertemuan budaya antar bangsa di dunia yang hidup pada masa yang lampau. Kebudayaan Asli Indonesia mendapt pengaruh dari Kebudayaan Ras AustroMelanesoid, dari Kebudayaan Mongoloid, Neolitik, pengatruh dari Kebudayan Hindu, Islam, dan bahkan Kebudayaan Modern. 2) Pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha pada kebudayaan suku bangsa di Indonesia tercermin dalam bentuk bangunan, kesenian, dan struktur

pemerintahan. Pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha mewarnai masyarakat di berbagai tempat di nusantara dimana berdiri kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia sebelum berdirinya kerjaan-kerajaan Islam. 3) Pengaruh kebudayaan Islam pada kebudayaan suku bangsa di Indonesia tercermin dalam bahasa, bangunan, seni rupa/kaligrafi, kesusastraan, dan seni busana. Islam sebagai agama yang dipeluk mayoritas masyarakat Indonesia memberi warna penting dalam kebudayaan Indonesia. Warna budaya Islam berakulturasi dengan budaya sebelumnya karena Islam masuk ke Indonesia secara damai melalui pendekatan kultural dan seni budaya. 4) Kebudayaan Barat banyak mengandung nilai positif dari aspek ilmu

pengetahuan dan teknologi, namun juga memuat sisi negatif dari aspek nilai dan perilaku, sehingga perlu memilah dan memilih jenis-jenis budaya yang sesuai dengan budaya Indonesia.

LATIHAN 1) Jelaskan apa yang dimaksud dengan Kebudayaan Asli Indonesia! 2) Sebutkan pengaruh Kebudayaan Hindu dan Budha pada Kebudayaan Nusantara! 3) Jelaskan pengaruh Kebudayaan Hindu dan Budha pada aspek kepercayaan masyarakat Indonesia! 4) Jelaskan pengaruh Kebudayaan Islam pada aspek kesenian masyarakat Indonesia! 5) Jelaskan pengaruh Kebudayaan Barat pada aspek pemikiran masyarakat Indonesia!
48 | P a g e

48 | P a g e

BAB
KEBUDAYAAN ACEH

Tujuan Instruksional Khusus : Bab ini membekali mahasiwa agar mengenal dan memahami kebudayaan Aceh, ciricirinya, sehingga dapat menghargai keberagaman kebudayaan setiap suku bangsa Indonesia.

A. Pendahuluan 1. Keadaan Geografis Nanggroe Aceh Darussalam terletak pada koordinat 2-6 LU dan 95-98 BT dan memiliki luas wilayah 55.390 km yang meliputi Wilayah daratan: 119 pulau, 35 gunung, dan 73 sungai,

a. Daerah Tingkat II : 18 Kabupaten dan 5 Kota b. Kecamatan: 264 c. Mukim : 642 d. Kelurahan dan Gampong: 6.656
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang sebelumnya disebut Daerah Istimewa Aceh (1959-2001), adalah sebuah propinsi yang letaknya di bagian barat laut Indonesia berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan. (Disebut sebagai Daerah Istimewa karena pada masa permulaan kemerdekaan Republik Indonesia, para wanita Aceh mengumpulkan perhiasan emasnya untuk membeli sebuah kapal terbang yang diserahkan untuk Republik Indonesia. Kapal terbang itu dinamakan Seulawah, yang berarti Gunung Emas).

49 | P a g e

49 | P a g e

Di tengah terdapat pegunungan Bukit Barisan yang dikelilingi oleh hutan hujan tropis dengan puncak Gunung Geureudong dan Gunung Leuser yang juga merupakan titik

tertinggi di NAD. Selain itu terdapat dua danau yaitu Danau Laut Tawar di Kabupaten Aceh Tengah dan Danau Aneuk Laot di Kota Sabang.

Di sepanjang garis pantai timur terdapat pantai yang

landai yang difungsikan

sebagai kawasan pariwisata dan kegiatan perikanan. Sementara itu, di sepanjang pantai barat yang terbentang dari Banda Aceh hingga ke Singkil juga terdapat pantai indah dan agak curam serta berombak besar yang belum dieksplorasi, Ulee-Lheue di Banda Aceh. Lampu-uk dan Lhok-Nga di Aceh Besar, dan Pantai Iboih di Sabang. Ibu kota Nanggroe Aceh Darussalam terletak di Banda Aceh, yang merupakan kota terbesar sekaligus pusat pemerintahan dan perekonomian. Pelabuhan-pelabuhan utamanya adalah Malahayati-

50 | P a g e

50 | P a g e

Krueng Raya, Ulee Lheue, Sabang, Lhokseumawe dan Langsa. Lokasinya yang sangat strategis serta sumber kekayaan alammya yang amat kaya seperti minyak bumi dan gas alam, memungkinkan kawasan ini sebagai salah satu pusat perdagangan. Sumber hutannya terletak di sepanjang jajaran Bukit Barisan dari Kutacane, Aceh Tenggara, sampai Seulawah, Aceh Besar. 2. Keadaan Demografis Di tahun 2010 ini, jumlah penduduk Aceh tercatat 4.664.987 jiwa, dengan kepadatan penduduk 76 jiwa per km2. Pemeluk agama di Aceh adalah sebagai berikut: Agama Islam (97,6%), Kristen (1,7%), Hindu (0,08%), Budha (0,55%). Penduduk Aceh merupakan keturunan berbagai suku, kaum, dan bangsa. Leluhur orang Aceh berasal dari Semenanjung Malaysia, Cham, Cochin Cina, Kamboja. Penduduk Aceh terdiri dari berbagai macam suku bangsa, yang sampai saat ini masih dapat diidentifikasi dari ciri-ciri fisik masyarakat di Aceh. Hal ini berkaitan dengan sejarah masa lalu Aceh yang merupakan pusat perdagangan di Selat Malaka di mana banyak pedagang-pedagang dari Eropa, Turki, Arab, China, India, Persia, dan wilayah-wilayah lainnya di Nusantara melakukan aktivitas perdagangan. Tidak jarang banyak di antara mereka yang menetap dan berbaur satu sama lain dan menyebut diri mereka sebagai orang Aceh. Bangsa Arab dan India dikenal erat hubungannya pasca penyebaran Agama Islam di tanah Aceh. Bangsa Arab yang datang ke Aceh banyak yang berasal dari propinsi Hadramaut (Yaman), dibuktikan dengan marga-marga mereka seperti Al Aydrus, Al Habsyi, Al Attas, Al Kathiri, Badjubier, Sungkar, Bawazier dan lain-lain, yang semuanya merupakan marga-marga bangsa Arab asal Yaman. Mereka datang sebagai ulama dan berdagang. Saat ini banyak dari mereka yang sudah kawin dengan penduduk asli Aceh, dan menghilangkan nama marganya. Sedangkan bangsa India kebanyakan dari Gujarat dan Tamil. Dapat dibuktikan dengan penampilan wajah bangsa Aceh, serta variasi makanan (misalnya kari), dan juga warisan kebudayaan Hindu Tua (nama-nama desa yang diambil dari bahasa India, misalnya Indra Puri). Karena letak geografis yang berdekatan maka keturunan India cukup dominan di Aceh. Pedagang-pedagang China juga pernah memiliki hubungan yang erat dengan

bangsa Aceh, dibuktikan dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho, yang pernah singgah

51 | P a g e

51 | P a g e

dan menghadiahi Aceh dengan sebuah lonceng besar, yang sekarang dikenal dengan nama Lonceng Cakra Donya ( tersimpan di Banda Aceh). Keturunan bangsa Persia (Iran), Afganistan dan Turki yang banyak mendiami Aceh kebanyakan tersebar di Aceh Besar, dahulu mereka datang atas undangan Kerajaan Aceh untuk dinjadikan ulama, pedagang senjata, pelatih prajurit dan serdadu perang kerajaan Aceh. Sebutan Banda, dalam nama kota Banda Aceh pun adalah salah satu pengaruh kebudayaan Persia di Aceh (Banda/Bandar, artinya: Pelabuhan) Ada pula keturunan bangsa Portugis, di wilayah Kuala Daya, Lam No (pesisir barat Aceh). Mereka keturunan pelaut-pelaut Portugis di bawah pimpinan nakhoda Kapten Pinto, yang berlayar hendak menuju Malaka, dan singgah untuk berdagang; sebagian besar dari mereka tetap tinggal dan menetap di Lam No. Peristiwa ini terjadi antara tahun 1492-1511, pada saat itu Lam No di bawah kekuasaan kerajaan kecil Lam No, pimpinan Raja Meureuhom Daya. Hingga saat ini masih dapat dilihat keturunan mereka yang masih memiliki profil wajah Eropa yang masih kental. Sampai saat ini, ada beberapa suku yang mendiami propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yaitu: Suku Aceh (mayoritas), Suku Gayo, Suku Alas, Suku Aneuk Jamee, Suku Melayu Tamiang, Suku Kluet, Suku Devayan, Suku Sigulai, Suku Haloban dan Suku Julu. B. Sistem Budaya Dalam masyarakat Aceh, adat atau hukum adat tidak boleh bertentangan dengan agama. Sesuatu yang diputuskan oleh para pemimpin harus seirama dengan syariat agama dan jika bertentangan dengan syariat agama maka hukum adat tersebut harus dihapuskan. Adat adalah kebiasaan dan tata cara yang dijalankan oleh Poteu meureuhom (sultan atau penguasa). Poteu meureuhem bukanlah Sultan Aceh saja, tetapi juga para uleebalang, kepala mukim atau imeum mukim dan keusyik (kepala gampong). Aturan ini merupakan kesepakatan antara kaum cendekiawan dan aparat penguasa, baik mengenai hal-hal yang berhubungan dengan tata krama pergaulan, sopan santun, aturan yang berkaitan dengan pertanian, kelautan ataupun kehutanan. Adat juga tidak terlepas dengan kebiasaan lain yang disebut dengan reusam. Reusam identik dengan tatanan seremonial kegiatan ahli-ahli adat seperti upacara penyambutan linto baro (pengantin baru), upacara penyambutan tamu agung, upacara pergi ke laut atau nelayan, bertani, berdagang atau berladang. Dikenal juga istilah Qanun yakni perundang-

52 | P a g e

52 | P a g e

undangan dan adat dari badan legislatif. Qonun mengatur tata cara kehidupan sehari-hari seperti pesta perkawinan, busana serta kegiatan wanita lainnya. Ini dapat terlihat dalam hadih maja (ungkapan hukum) berikut ini: Adat bak Poteu Meureuhom (Adat adalah urusan Sultan), Hukom Bak Syiah Kuala (Hukum Islam ada pada ulama), Qanun Bak putro phang (Qanun disusun oleh Putri/Permaisuri) , Reusam bak laksemana (Reusam dibuat oleh sang Laksamana). (Ahmad dalam Ismuha, 1988:324). Meskipun demikian, kedudukan wanita Aceh setara dengan kaum prianya. Terdapat banyak wanita yang mempunyai kedudukan penting, bahkan karena jasanya terhadap negara diberi gelar pahlawan, misalnya Cut Nya Dien, Cut Mutiah, Laksamana Malahayati yang menjadi nama kapal perang Republik Indonesia. Sesudah menikah, suami ikut betempat tinggal di rumah isteri, yang disebut matrilokal, sampai mereka mempunyai rumah sendiri. C. Sistem Sosial Dalam sistem sosial masyarakat Aceh, Meunasah dan mesjid merupakan simbol identitas keacehan yang telah berkontribusi membangun pola dasar SDM masyarakat menjadi satu kekuatan semangat yang monumental, historis, herois dan sakral. Lembaga ini memiliki nilai Islamis, aspiratif, energis, semangat membangun penegakan keadilan dan kemakmuran serta menentang kedholiman dan penjajahan : 1. Fungsi Meusanah adalah sebagai : a. Tempat ibadah/ shalat berjamaah b. Dakwah dan diskusi c. Musyawarah/mufakat d. Penyelesaian sengketa/damai e. Pengembangan kreasi seni f. Pembinaan dan posko generasi muda

g. Forum asah terampil/olahraga h. Pusat ibukota/pemerintahan gampong 2. Fungsi Mesjid adalah sebagai a. Tempat ibadah/jumat b. Pengajian pendidikan c. Musyawarah/penyelesaiansengketa/damai d. Dakwah e. Pusat kajian dan sebaran ilmu

53 | P a g e

53 | P a g e

f.

Acara pernikahan

g. Simbol persatuan dan kesatuan umat (Badruzzaman, 2002: 54)

Hal yang tersebut di atas menunjukkan bahwa fungsi meunasah adalah menjadi pusat pembangunan masyarakat dan fungsi mesjid adalah menjadi pusat komunikasi.

Kedua lembaga itu dapat memerankan fungsinya untuk mengkaji, membina dan mendayagunakan adat istiadat dan syariat sebagai aset kebudayaan Aceh, dalam berbagai format implimentasi program kegiatan untuk mencapai tujuan kesejahteraan masyarakat yang aman damai. Hubungan meunasah dengan mesjid dalam patron simbol budaya adat Aceh telah dimaknai dengan narit maja (hadih maja) Agama ngon Adat (hukom ), lagei zat ngon sifeut . Meunasah adalah pusat pengendali proses interaksi sosial masyarakat,

karena sesama manusia dalam komunitas gampong (antar gampong), saling membutuhkan sehingga melahirkan adat istiadat dan tatanan adat. Meunasah sangat terikat dengan kehidupan gampong, karena gampong sendiri merupakan unit persekutuan masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk mengetahui hukum, menyelidiki sifat dan susunan badan-badan persekutuan hukum. Persekutuan merupakan kesatuan yang mempunyai tata susunan yang teratur dan memiliki pengurus dan kekayaan sendiri, baik kekayaan materil maupun kekayaan immaterial. Sedangkan mesjid dilahirkan oleh kebutuhan mukim (beberapa gampong), karena kebutuhan nilai-nilai aqidah/syariat, terutama shalat Jum`at. Sejarah mukim tumbuh dalam konteks diperlukan empat puluh orang untuk mendirikan shalat Jum`at (Hurgronje,1985: 91). Dengan demikian, peran mesjid adalah syariat, dan peran meunasah adalah adat yang kemudian melahirkan suatu paduan sikap prilaku (kebersihan adat dilakukan oleh mesjid dan kekuatan tegaknya agama dikokohkan denganadat/meunasah). Kontribusi peran meunasah dan mesjid dalam kehidupan sosial Aceh, telah memperkokoh otoritas dan otonomitas dua kawasan tatanan kehidupan masyarakat, yaitu kawasan gampong dan mukim. E. Kebudayaan Fisik 1. Bahasa Menurut Asyik, bahasa Aceh berasal dari turunan rumpun bahasa Austronesia (Asyik dalam Ismuha, 1988: 142). Bahasa Aceh asli yang mirip dengan bahasa Campa atau Indo Cina diperkirakan ada sebelum berkembangnya bahasa Melayu. Saat ini Bahasa Aceh menjadi bahasa ibu di sebagian besar pedesaan wilayah Aceh dan

54 | P a g e

54 | P a g e

terdiri atas beberapa dialek, diantaranya dialek Peusangan, Banda, Bueng, Daya, Pase, Pidie, Tnong, Seunangan, Matang, dan Melaboh. Yang masih terdapat di wilayah Aceh Nanggroe Darussalam adalah: a. Bahasa Aceh b. Bahasa Jamee c. Bahasa Kluet d. Bahasa Simeulue e. Bahasa Haloban f. Bahasa Gayo

g. Bahasa Tamiang h. Bahasa Alas Tradisi bahasa tulisan ditulis dalam huruf Arab-Melayu yang disebut bahasa Jawi atau Jawoe. Bahasa Jawi ditulis dengan huruf Arab ejaan Melayu. Pada masa Kerajaan Aceh banyak kitab ilmu pengetahuan agama, pendidikan, dan kesusastraan ditulis dalam bahasa Jawi. 2. Sistem Organisasi Sosial

a. Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan masyarakat Aceh merupakan kombinasi antara budaya Minangkabau dan Aceh, di mana bentuk kekerabatan yang terpenting adalah keluarga inti dengan prinsip keturunan bilateral. Adat menetap sesudah menikah pada umumnya bersifat matrilokal. Selama masih tinggal dalam rumah mertua, suami

belum mempunyai tanggung jawab terhadap rumah tangga dan yang bertanggung jawab adalah ayah pihak wanita. Dalam kekerabatan di Aceh, peranan ibu dalam mendidik anak sangat jelas sehingga si ibu dapat membentuk mental anak sesuai dengan harapan ibu dan seringkali seorang ayah hampir tidak mengetahui pola pendidikan si ibu, karena ayah lebih berperan dalam menentukan ekonomi keluarga. Masyarakat Aceh mengenal keluarga luas yang terdiri dari beberapa keluarga namun mempunyai hubungan kekerabatan yang sangat dekat. Hubungan keluarga ini terdiri dari Wali, karong dan kaom. Wali adalah orang laki-laki yang ditentukan oleh keturunan bapak, yang dapat menjadi wali nikah sekaligus dapat menerima warisan sesuai ketentuan agama. Karong adalah saudara yang dihitung dari keluarga ibu,

55 | P a g e

55 | P a g e

fungsi karong hampir sama dengan wali. Sedangkan kaom adalah semua saudara dari pihak ayah/laki-laki dan saudara pihak perempuan/ibu. Sistem kemasyarakatan di Aceh, dari tingkatan yang paling tinggi ke tingkatan yang paling rendah terdiri dari:

1) Keurajeun (Kesultanan), dipimpin oleh Sultan 2) Sago (setingkat propinsi), dipimpin oleh Panglima Sago, dan 3) Nanggro (setingkat Kabupaten), dipimpin oleh Ulee Balang 4) Mukim (setingkat kecamatan), dipimpin oleh Imeum Mukim 5) Gampng (setingkat desa), dipimpin oleh Keuchiek
Namun saat ini, terminologi yang masih digunakan untuk menandai sistem pemerintahan adat/lokal adalah gampng dan mukim. Gampong atau biasa disebut dengan meunasah adalah satuan pemerintahan setingkat desa yang dikepalai oleh seorang Keuchiek. Sementara mukim adalah satuan pemerintahan yang merupakan gabungan dari beberapa gampong yang dipimpin oleh seorang Imeum Mukim. Nanggroe, yang disebut juga uleebalang adalah gabungan dari beberapa mukim, biasanya terdiri antara empat sampai sembilan mukim dan dipimpin oleh seorang uleebalang dan dibantu oleh seorang kodhim. Keuchiek dan Imeum Meunasah adalah lembaga eksekutif yang melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan oleh tuha peut gampong atas dasar masukan yang disampaikan oleh tuha lapan gampong dan bertanggung jawab langsung kepada masyarakatnya. Tuha Peut dan Tuha Lapan merupakan legislatifnya gampong yang berwenang menentukan arah kebijakan berdasarkan masukan yang disampaikan oleh tuha lapan gampong dan berwenang untuk meminta pertanggungjawaban atas kinerja eksekutif gampong sesuai perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. Gampong mempunyai otorita yang luas untuk mengurus dirinya sendiri baik soal internal kependudukan gampong, adat istiadat, sosial, keagamaan dan pengelolaan sumber daya alam atas kekayaan dan aset gampong, dan melakukan hubungan ke luar. Sistem kemasyarakatan Aceh pada awal kerajaan Islam sampai datangnya Belanda, masih berlaku secara utuh, akan tetapi setelah Belanda datang lembaga kemasyarakatan ini sedikit demi sedikit bergeser fungsinya. Selain itu setelah Aceh berintegrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, lembaga kemasyarakatan

56 | P a g e

56 | P a g e

tersebut hilang dengan sendirinya karena pemerintah melaksanakan sentralisasi dalam segala bidang. Berikut ini adalah bagan yang menggambarkan susunan tingkatan

pemerintahan lokal yang berlaku di Aceh pada saat ini.

Pemerintah Pusat NKRI Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten/Kota Kecamatan Mukim Gampong b. Lembaga Adat
Lembaga adat adalah suatu organisasi kemasyarakatan yang dibentuk oleh masyarakat, mempunyai wilayah tertentu dan mempunyai harta kekayaan tersendiri, serta berhak dan berwenang mengatur dan mengurus serta menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan adat. Lembaga adat yang berkembang sejak dahulu hingga sekarang mempunyai fungsi dan berperan dalam membina nilai-nilai budaya, normanorma adat dan aturan untuk mewujudkan keamanan, keharmonisasian, ketertiban, ketentraman, kerukunan dan kesejahteraan sebagai manifestasi untuk mewujudkan tujuan bersama sesuai dengan keinginan dan kepentingan masyarakat setempat. Lembaga adat bersifat otonom dan independen sebagai mitra Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/kota sesuai dengan tingkatannya. Saat ini, kedudukan lembaga adat sudah formal dan dasar hukumnya pun sudah diatur dalam Qanun (Peraturan Daerah), yaitu

1) Majelis Adat Aceh adalah organisasi tertinggi dalam hirarki Lembaga Adat
di Nanggroe Aceh Darussalam. Majelis Adat Aceh bertugas membantu

57 | P a g e

57 | P a g e

Wali Nanggroe dalam membina, mengkoordinir lembaga-lembaga adat lainnya: a) Imeum Mukim, Imuem Mukim adalah pemimpin Mukim yang dipilih oleh musyawarah mukim. Imeum Mukim diangkat dan diberhentikan oleh Bupati/Walikota atas usulan Camat dari hasil musyawarah mukim b) Imeum Chik, Imuem Chiek adalah sebuah jabatan dalam Mukim yang bertugas mengkoordinasikan pelaksanaan keagamaan dan peningkatan peribadatan serta pelaksanaan Syariat Islam dalam kehidupan masyarakat. mengurus, menyelenggarakan dan memimpin seluruh kegiatan yang berkenaan dengan pemeliharaan dan

pemakmuran masjid, dan menjaga dan memelihara nilai-nilai adat agar tidak bertentangan dengan Syariat Islam. Imeum Chik diangkat dan diberhentikan oleh Bupati atas usul Imeum Mukim melalui Camat berdasarkan hasil kesepakatan musyawarah mukim. c) Keuchik, Keuchik adalah pemimpin gampong yang dipilih langsung oleh penduduk gampong melalui pemilihan yang demokratis, bebas, umum, rahasia, jujur dan adil. Dalam melaksanakan tugasnya, keuchik dibantu oleh Imeum Meunasah dan Tuha Peut Gampong. d) Tuha Peut, Tuha Peut adalah legislatif gampong yang dipimpin oleh seorang ketua dan sekretaris yang merangkap sebagai anggota. e) Tuha Lapan, Pada tingkat gampong dan mukim dapat dibentuk Tuha Lapan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Tuha Lapan dipilih melalui musyawarah. Tuha Lapan beranggotakan unsur Tuha Peut dan beberapa orang mewakili bidang keahlian sesuai dengan kebutuhan gampong atau mukim. Pengangkatan dan pemberhentian Tuha Lapan serta tugas dan fungsinya ditetapkan dalam musyawarah. f) Imeum Meunasah, Imeum Meunasah dipilih dalam musyawarah gampong. Pengangkatan dan pemberhentian Imeum Meunasah dilakukan oleh Camat atas nama Bupati/Walikota. Tata cara dan pemilihan, serta masa jabatan Imeum Meunasah ditetapkan dalam musyawarah gampong setiap enam tahun sekali.

58 | P a g e

58 | P a g e

g) Keujruen Blang, Keujruen Blang terdiri dari Keujruen Muda dan Keujruen Chik. Pengaturan tugas, fungsi, wewenang dan persyaratan Keujruen Blang ditetapkan dalam musyawarah Keujruen Blang setempat. Dalam melaksanakan tugas, fungsi dan wewenang sebagaimana dimaksud berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya. h) Panglima Laot, Panglima Laot atau nama lain terdiri dari : i. Panglima Laot Ihok

ii. Panglima Laot Kabupaten/Kota, dan iii. Panglima Laot Aceh Panglima Laot Aceh dipilih dalam musyawarah panglima laot kabupaten atau kota setiap enam tahun sekali. i) Pawang Glee, Pawang Glee dipilih oleh masyarakat kawasan hutan. Tatacara pemilihan dan persyaratan Pawang Glee ditetapkan melalui musyawarah masyarakat kawasan hutan setiap enam tahun sekali. Pawang Glee bertugas mengelola lingkungan hutan dan

melaksanakan upacara adat yang berkaitan dengan hutan. j) Peutua Seuneubok, Peutua Seuneubok dipilih oleh masyarakat Seuneubok (perkebunan), dan bertugas mengelola kawasan

Perkebunan dan Kehutanan. k) Haria Peukan, Haria Peukan dibentuk untuk pasar-pasar tradisional yang belum ada petugas pemerintah. Haria Peukan ditetapkan melalui musyawarah tokoh-tokoh pedagang dan keuchik setempat setiap 6 (enam) tahun sekali. l) Syahbanda, Syahbanda adalah pemimpin pelabuhan yang bertugas bekerja sama dengan pejabat pemerintah untuk mengelola

pelabuhan. Berdasarkan pendekatan historis, lapisan masyarakat Aceh yang menonjol dapat dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu golongan Umara (Teuku) dan

golongan Ulama (Tengku). Umara dapat diartikan sebagai pejabat pelaksana pemerintah dalam satu unit wilayah kekuasaan. Seperti jabatan Sultan yang merupakan pejabat tertinggi dalam unit pemerintahan kerajaan, Uleebalang sebagai pimpinan unit Pemerintah Nanggroe (negeri), Panglima Sagoe yang memimpin unit

59 | P a g e

59 | P a g e

pemerintahan Sagoe, Imeum Mukim yang menjadi pimpinan unit pemerintahan Mukim dan Keuchiek atau Geuchiek yang menjadi pimpinan pada unit pemerintahan Gampong (kampung). Pejabat di atas, dalam struktur pemerintahan di Aceh pada masa dahulu dikenal sebagai lapisan pemimpin adat, pemimpin keduniawian, atau kelompok elite sekuler. Beberapa gelar yang ada dalam masyarakat umara adalah: Tuanku, Pocut, Teuku, Laksamana, Uleebalang, Cut, Panglima Sagoe, Meurah. Sementara golongan Ulama yang menjadi pimpinan yang mengurusi masalahmasalah keagamaan (hukum atau syariat Islam) dikenal sebagai pemimpin keagamaan atau masuk kelompok elite religius. Oleh karena para ulama ini mengurusi hal-hal yang menyangkut keagamaan, maka mereka haruslah seorang yang berilmu, yang dalam istilah Aceh disebut Ureung Nyang Malem dan biasannya mendapatkan gelar Tengku. Penggolongan masyarakat adalah sebagai berikut: a) Golongan rakyat biasa, yang dalam istilah Aceh disebut Ureung Le (orang kebanyakan). b) Golongan hartawan, golongan ini cukup berperan dalam soal

kemasyarakatan sebagai penyumbang dana. c) Golongan ulama/cendikiawan, mereka memiliki ilmu pengetahuan sehingga mereka disebut orang alim dengan gelar Teungku. Mereka berperan dalam masalah agama dan kemasyarakatan. d) Golongan kaum bangsawan, termasuk didalamnya keturunan Sultan Aceh yang bergelar "Tuanku" keturunan "Uleebalang" yang bergelar "Teuku" (bagi laki-laki) dan "Cut" (bagi perempuan). Meskipun ada penggolongan masyarakat yang demikian, tetapi tidak seperti sistem kasta. Setiap anggota masyarakat tidak dibedakan kedudukannya dalam hukum dan agama. 3. Sistem Pengetahuan Mereka memiliki sistem pengetahuan yang mencakup fauna, flora, bagian tubuh manusia, gejala alam dan waktu. Pengetahuan itu didapat dari dukun, orang tua adat dan keujuren. Salah satu sistem pengetahuan yang masih digunakan adalah tradisi menangkap ikan di laut (meupayang) yang terdapat di kabupaten Aceh Besar. Keunikan tradisi ini adalah cara menangkap ikan yang menggunakan Pukat Aceh adalah sejenis pukat pantai (beach

60 | P a g e

60 | P a g e

seine), berbentuk jaring panjang, bersayap, dan memiliki sebuah kantong pada bagian ujungnya. Alat ini khusus digunakan untuk menangkap ikan pada lokasi yang berpantai landai dan berpasir. Pukat ini dioperasikan oleh sekurang-kurangnya lima belas orang dengan cara dilingkarkan pada lokasi tertentu dan kemudian ditarik menelusuri dasar perairan menuju ke pantai dengan menggunakan perahu dayung. Pukat pantai ini termasuk alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan karena tidak mengganggu biota laut lainnya, sehingga ia merupakan peralatan penangkap ikan yang ideal menurut hukum adat nelayan setempat (Hukm Adat Lat). 4. Sistem Teknologi Sistem teknologinya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kebudayaan Islam,

sehingga seni kerajinan perhiasan yang motif, ornamen dan desain perhiasan tradisional Aceh merupakan terjemahan dari peradaban Islam. Ornamen diciptakan dari abstraksi tumbuh-tumbuhan, benda alam seperti awan, bulan, bintang, bentuk geometris (Bieng

meuih, reunek leuek, gigoe daruet, dan boh eungkot) dipakai untuk melengkapi pakaian adat seperti Keureusang, Patam dhoe, Peuniti, Subang Aceh, Simplah, dan Taloe jeuem. Aceh memiliki senjata tradisional yaitu Rencong/reuncong yang bentuknya menyerupai huruf L, merupakan kaligrafi tulisan Bismillah, yang termasuk dalam kategori dagger/belati. Rencong memiliki tingkatan; untuk Raja atau Sultan biasanya terbuat dari gading (sarungnya) dan emas murni (bagian belatinya). Sedangkan rencong lainnya terbuat dari tanduk kerbau atau pun kayu sebagai sarungnya, dan kuningan atau besi putih sebagai belatinya. Ada 4 macam rencong, yaitu: a. Reuncong Meucugek; b. Reuncong Meupucok; c. Reuncong Pudoi; d. Reuncong Meukure. Ada juga jenis senjata lainnya seperti siwaih, peudeung (pedang), dan tombak. Dalam Rumoh Aceh (Rumah Adat Aceh) (Krong Badee), pengaruh agama Islam dan alam sekitar tampak menyatu mewarnai bentuk dan ornamen ragam hiasnya. Bertiang selalu genap, beratap rumbia dan berdinding kayu atau papan.

61 | P a g e

61 | P a g e

Rumah Adat

5. Sistem Ekonomi Aceh memiliki potensi alam yang sangat cocok untuk pertanian, maka mata pencaharian utama masyarakat adalah sebagai petani padi atau sebagai petani kedelai, yang merupakan primadona komoditas pertanian, terutama di daerah Aceh Utara dan Aceh Timur. Mata pencaharian kedua setelah pertanian adalah bekerja pada sector perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit maupun kakao. Tetapi semenjak terjadinya perusahaan

pemberontakan oleh GAM, perkebunan yang dikuasai GAM sebagian

perkebunan ditutup. Mata pencaharian ketiga adalah bekerja di sektor perikanan baik perikanan laut maupun perikanan darat sebagai nelayan atau petambak. Mata pencaharian keempat adalah sebagai pedagang, maupun sektor informal lainnya. Mata pencaharian terakhir adalah bekerja di sektor pertambangan terutama bekerja sebagai karyawan swasta perusahaan migas asing. Di dalam sistem ekonomi masyarakat Aceh, terutama di pedesaan, lembaga ekonomi merupakan salah satu aspek pengendalian sosial. Pola tradisional tentang pengendalian sosial yang berhubungan dengan lembaga ekonomi adalah sistem mawah (bagi hasil), merupakan sistem ekonomi yang sesuai dengan ajaran Islam dan sudah diwariskan sejak ratusan tahun yang lalu. Mawah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk barang seperti lembu, tanah sawah atau pun tanah perkebunan. 6. Sistem Religi Aceh dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, maka unsur-unsur kebudayaannya sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Pesantren merupakan lembaga agama yang berperan sangat strategis dalam membentuk pribadi masyarakat. Selain berfungsi sebagai

62 | P a g e

62 | P a g e

pembinaan umat, pesantren pun menjadi media dalam membawa pembaharuan dan pemikiran Islam sekaligus mencetak cendikiawan muslim atau ulama. 7. Kesenian Pada awalnya kesenian Aceh sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, terlihat misalnya dalam gerakan Tari Seudati. Dalam perkembangannya unsur seni Islamlah yang lebih menonjol, baik dalam syair-syairnya maupun pakaian yang dikenakan oleh para

penari. Sebagai contoh Hikayat Perang Sabil dan Hikayat Malem Dewa. Kesenian Aceh secara umum terbagi dalam seni tari, seni sastra dan cerita rakyat. Adapun ciri-ciri tari tradisional Aceh adalah sebagai berikut: a. bernafaskan Islam b. ditarikan oleh banyak orang (massal) c. pengulangan gerak serupa yang relatif banyak d. memakan waktu penyajian yang relatif panjang e. kombinasi tari, musik dan sastra f. pola lantai yang terbatas

g. disajikan dalam kegiatan khusus h. gerak tubuh terbatas. Beberapa bentuk kesenian di Aceh: a. Drama Tari Didong; Didong merupakan salah satu kesenian tradisional yang terdapat pada masyarakat Gayo, yang dimainkan dengan perpaduan seni sastra, seni suara dan seni tari. Dalam Didong, terdapat seorang ceh (vokalis), apit (pendamping ceh) dan penunung (pengikut saat refrain terjadi). Didong

dipertunjukkan oleh masyarakat Gayo yang mendiami kabupaten Aceh Tengah dan kabupaten Bener Meriah. Didong merupakan sastra lisan yang masih bertahan sampai sekarang. b. Tari Saman; Tari Saman adalah tarian suku Gayo yang syairnya mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Gayo. Saman diperoleh dari salah satu ulama yaitu Syech Saman. Tari Saman dimainkan oleh belasan laki-laki, tetapi jumlahnya harus ganjil. Untuk mengatur berbagai gerakannya ditunjuklah seorang pemimpin yang disebut syeikh. Syeikh juga bertugas menyanyikan syair lagu Saman.

63 | P a g e

63 | P a g e

c. Tradisi Puetron Anak; Pada upacara ini, anak yang telah berumur empat puluh empat hari diturunkan ke halaman dengan dipayungi dan kaki anak tersebut diinjakkan ke tanah (peugiho tanoh). Di atas kepala si anak dibelah buah kelapa dengan alas kain putih yang dipegang oleh empat orang. Kelapa yang telah dibelah tersebut, sebelah diberikan kepada pihak orang tua suami dan sebelah lagi diberikan kepada pihak orang tua si istri, dengan tujuan supaya kedua belah pihak tetap kekal dalam persaudaraan. Selanjutnya diadakan pembakaran petasan dan disuruh orang-orang yang tangkas dan ahli bermain pedang mempertunjukkan ketangkasan mereka dengan mencincang batang pisang, supaya anak tersebut nanti berani dalam membela negara, dan dapat menjadi panglima perang yang tangkas dan arif bijaksana. Selanjutnya anak tersebut ditempatkan ke dalam sebuah balai di halaman, dengan tujuan supaya anak tersebut nanti dapat menyesuaikan dirinya dengan masyarakat dan dapat menjadi orang terkemuka dalam masyarakat.

RANGKUMAN 1) Semua kehidupan diwarnani oleh hukum Islam, baik dalam masalah hubungan kemasyarakatan maupun dalam bidang kesenian . 2) Meskipun demikian kedudukan wanita setara dengan pria. 3) Meunasah dan masjid menjadi lambang identitas keacehan. 4) Bahasanya berasal dari bahasa Campa (Indo Cina), kemudian bahasa Melayu berkembang. 5) Sistem organisasi sosialnya dipengaruhi oleh kebudayaan Minangkabau. 6) Sistem pengetahuan mencakup tentang fauna, flora, tubuh maniusia, gejala alam, dan waktu. Sistem ekonominya berdasar pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan, pertambangan, dan industry.

LATIHAN 1) Apa yang menyebabkan timbulnya GAM? Uraikan! 2) Mengapa Propinsi Aceh disebut Daerah Istimewa? Uraikan! 3) Jelaskan bagaimana kedudukan wanita Aceh! 4) Siapakah Malahayati? Apa hubungannya dengan Angkatan Laut RI? 5) Mengapa Aceh disebut Serambi Mekah? Uraikan!
64 | P a g e

64 | P a g e

BAB

KEBUDAYAAN BATAK

Tujuan Instruksional Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan ciri khas Masyarakat Batak. Dapat menunjukkan makna sistem budayanya, sistem sosialnya, maupun unsur-unsur kebudayaannya yang universal

A. Gambaran Umum Batak adalah nama sebuah suku bangsa di Indonesia, suku ini kebanyakan bermukim di Sumatera Utara, namun ada sebagian yang tinggal diperbatasan propinsi Aceh dan Sumatera Barat. Mayoritas orang Batak beragama Kristen dan Islam, tetapi ada pula yang masih menganut kepercayaan animisme (disebut Parmalim). Orang Batak dewasa ini mendiami sebagian besar daerah pegunungan Sumatera Utara mulai dari perbatasan Daerah Istimewa Aceh disebelah utara sampai keperbatasan Riau dengan Sumatera Barat di sebelah selatan, juga mendiami tanah datar yang berada diantara daerah pegunungan dengan pantai Timur Sumatera Utara dan pantai Barat Sumatera Utara. Dengan demikian orang Batak ini mendiami Dataran Tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, Simalungun, Dairi, Toba, Humbang, Silindung, Angkola, dan Mandailing serta Kabupaten Tapanuli Tengah. Secara geografis orang Batak dapat dibagi menjadi 5 sub etnis sebagai berikut: a. Batak Karo, suku ini mendiami dataran tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu dan sebagian dari daerah Dairi, b. Batak Simalungun, suku ini mendiami Kabupaten Simalungun, c. Batak Pakpak, suku ini mendiami daerah induk Dairi, dan Aceh Selatan, d. Batak Toba, suku ini mendiami daerah Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara, sebagian Tapanuli Tengah.

65 | P a g e

65 | P a g e

e. Batak Mandailing, suku ini mendiami daerah Kabupaten Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Kotamadya Padang Sidempuan, sebagian Tapanuli Tengah, serta sebagian Pasaman di Sumatera Barat. 1. Asal Usul Suku Batak a. Versi Orang Karo; Menurut budayawan Karo Darwan Prinst di dalam legenda suku Karo dikatakan bahwa sebuah kerajaan besar bernama Haru pernah berdiri di Sumatera, kerajaan Haru inilah yang menjadi cikal bakal suku Karo Seorang sejarahwan Sumatera Utara Tengku Lukman Sinar dalam makalahnya pada kongres Kebudayaan Karo tahun 1995 di Berastagi menampilkan bukti-bukti bahwa Deli Tua adalah ibukota kerajaan Haru. Demikian juga pengaruh-pengaruh emigran India (Hindu) yang datang membawa pengaruh Hindu misalnya nama Sembiring Sigombak yang banyak berasal dari klan India misalnya Brahma, Colia, Meliala serta upacara keagamaan dan kepercayaan, filosofi agama sangat berhubungan dengan Hindu. Penamaan Batak pada Karo adalah istilah untuk menyatukan suku-suku yang belum beragama saat itu selain Melayu (Islam). Eksistensi penamaan Batak pada masyarkat Karo terlihat pada GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) sebagai komunitas masyarakat Karo. b. Versi Orang Mandailing; Dalam pupuh XIII kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca sekitar th 1365 dituliskan dalam bentuk syair syair nama Mandailing bersama banyak nama negeri di Sumatera Utara sebagai Negara bawahan kerajaan Majapahit antara lain juga disebut nama nama negeri Pane, Padang Lawas. Keterangan

mengenai Mandailing sebelum abad XIV sebagai suatu kerajaan tidak ada hanya disebut sebagai bawahan kerajaan Majapahit. Perlu diketahui bahwa terdapat reruntuhan candi Siwa (Hindu) dari abad ke-8 datang ke Mandailing dalam rangka mencari emas yang mereka namakan Swarna Dwipa. Orang Hindu tersebut datang ke Mandailing adalah yang berasal dari Kerajaan Kalingga di India, oleh sebab itu orang Kalingga itu disebut orang Holing atau orang Koling. Kemungkinan orang-orang tersebut datang dan masuk dari daerah Singkuang yaitu tempat bermuaranya sungai Batang Gadis yang cukup terkenal sebagai pelabuhan Mandala yang berarti lingkungan atau kawasan untuk orang-orang

66 | P a g e

66 | P a g e

Holing,

kemungkinan besar dimaksudkan adalah nama Mandailing. Sampai

abad ke-13 orang orang Hindu ada yang menetap di Mandailing, hal ini diketahui ada tiang batu di gunung Sorik Merapi bertarih abad ke - 13 di kawasan Mandailing Godang (Pidoli). Masyarakat Mandailing dan Angkola dominan menganut agama Islam dan menolak mengakui asal usul Batak dari si Raja Batak. Mahkamah Syariah Sultan Deli mendeklarasikan bahwa suku bangsa Mandailing terpisah dan berdiri sendiri dari suku bangsa Batak, oleh karena itu suku Bangsa Batak membawa kasus tersebut ke Mahkamah Sipil di Batavia, Jawa dan Mahkamah tertinggi di Hindia Belanda mendeklarasikan bahwa suku bangsa Mandailing bukan Batak. 2. Sejarah silsilah Batak Nama Batak tidak diketahui secara pasti, tetapi menurut cerita-cerita suci orang Batak terutama dari Batak Toba semua sub suku Batak mempunyai nenek moyang yang satu si Raja Batak. Sebutan Raja pada Raja Batak bukanlah yang memiliki kekuasaan (penguasa) tetapi sebagai penghormatan belaka. Kisahnya akan diceritakan adalah

sebagai berikut: Dikatakan bahwa si Raja Batak dan rombongannya datang dari Thailand terus ke semenanjung Malaysia kemudian menyeberang ke Sumatera dan menghuni di Sianjur Mula-mula (kurang lebih 8 km kearah barat Panguruan pinggiran Danau Toba). Versi lain mengatakan melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana keselatan hingga bermukim dipinggir danau Toba. Diperkirakan si Raja Batak menurut batu tulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (guru besar Purbakala di Madras, India) menjelaskan bahwa tahun 1204 kerajaan COLA dari India menyerang Kerajaan Sriwijaya (Sumsel) yang menyebabkan bermukimnya 1500 orang Tamil di Barus (Sumut). Pada tahun 1275 Kerajaan Mojopahit (Jawa) menyerang Sriwijaya dan menguasai hingga daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar tahun 1400 kerajaan Nakur berkuasa disebelah timur Danau Toba, tanah Karo dan sebagian Aceh. Diperkirakan si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad 13), sedang Raja Sisimangaraja XII adalah salah satu turunan si Raja Batak yang ke 19, beliau wafat th 1907, dan anaknya si Raja Buntal adalah generasi ke 20. Menurut buku Tarombo Borbor Marsda anak si Raja Batak ada 3 orang yaitu Guru Tetea Bulan, Raja Isumbaon dan Toga Laut inilah yang dipercaya sebagai terbentuknya marga marga Batak. Dilihat dari tahun kejadian tersebut Si Raja Batak diperkirakan

67 | P a g e

67 | P a g e

sebagai pejabat kerajaan Sriwijaya yang ditempatkan di daerah timur danau Toba (sekarang daerah Simalungun). Akibat konflik dengan orang orang Tamil mereka mengungsi dari selatan danau Toba (daerah Portibi) atau dari barat danau Toba (Barus) ke pedalaman. Menurut budayawan Karo, Darwan Prinst, kerajaan Haru yang pernah berdiri di Sumatera inilah sebagai cikal bakal suku Karo sedangkan menurut Tengku Lukman Sinar seorang sejarahwan Sumatera Utara dalam kongres kebudayaan Karo tahun 1995 di Berastagi menampilkan bukti bukti bahwa Deli Tua adalah ibu kota kerajaan Haru tersebut. Dapat disimpulkan Rita Smith Kipp dengan bukunya yg berjudul The Early Years of Dutch Colonial Mission The Karo Field, bahwa penamaan Batak pada Karo adalah istilah untuk menyatukan suku-suku yang belum beragama, yang ketika itu selain Melayu (Islam), Masyarakat Batak (Mandailing dan Angkola yang dominan menganut agama Islam menolak mengakui asal usul Batak berasal dari si Raja Batak karena peninggalan peninggalan sejarah kerajaan kuat diwariskan oleh pengaruh Melayu (Islam). Kemelut ini sampai sekarang masih terjadi sehingga hanya suku Batak Toba yang menyebut diri sebagai orang Batak, sedang suku suku lainnya menyebut dirinya dengan nama suku seperti tertulis di atas. 3. Letak Geografis Orang Batak dewasa ini mendiami sebagian besar daerah pegunungan Sumatera Utara mulai dari perbatasan Daerah Istimewa Aceh disebelah utara sampai keperbatasan Riau dengan Sumatera Barat di sebelah selatan, juga mendiami tanah datar yang berada diantara daerah pegunungan dengan pantai Timur Sumatera Utara dan pantai Barat Sumatera Utara. Dengan demikian orang Batak ini mendiami Dataran Tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, Simalungun, Dairi, Toba, Humbang, Silindung, Angkola, dan Mandailing serta Kabupaten Tapanuli Tengah. Secara geografis orang Batak dapat dibagi menjadi 5 sub etnis sebagai berikut: a. Batak Karo, suku ini mendiami dataran tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu dan sebagian dari daerah Dairi. b. Batak Simalungun, suku ini mendiami Kabupaten Simalungun. c. Batak Pakpak, suku ini mendiami daerah induk Dairi, dan Aceh Selatan.

68 | P a g e

68 | P a g e

d. Batak Toba, suku ini mendiami daerah Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara, sebagian Tapanuli Tengah. e. Batak Mandailing, suku ini mendiami daerah Kabupaten Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Kotamadya Padang Sidempuan, sebagian Tapanuli Tengah, serta sebagian Pasaman di Sumatera Barat. B. Sistem Budaya a. Falsafah Masyarakat Batak memiliki falsafah yang melambangkan sikap hidup dalam bermasyarakat yaitu yang disebut Dalihan Natolu . Pengertian Dalihan natolu adalah satuan tungku yang terdiri dari 3 batu. Pada zamannya orang Batak memasak dengan bahan kayu bakar, untuk menahan periuk dipergunakan 3 batu. Keadaan ini dipakai sebagai falsafah orang Batak dalam hidup bermasyarakat yang meliputi: 1) Marsomba tu hula hula (Toba), atau Kalimbubu (Karo) atau Mora (Mandailing); Hula hula adalah orang tua dari wanita yang di nikahi oleh seorang pria, namun hula hula dapat diartikan secara luas yaitu semua saudara dari wanita yang dinikahi. Marsomba tu hula hula artinya seorang pria harus menghormati keluarga pihak isterinya 2) Elek Marboru (Toba) atau Anak beru (Karo) atau Anak boru (Mandailing); Boru adalah anak perempuan dari satu marga. Dalam arti luas istilah boru adalah anak perempuan dari satu marga tersebut. Elek marboru artinya harus dapat merangkul boru. Hal ini melambangkan kedudukan seorang wanita didalam lingkungan marganya. 3) Manat mardongan tubu (Toba), atau Senina (Karo) atau Kahangi (Mandailing); Dongan tobu adalah saudara-saudara semarga, Manat mardongan tubu melambangkan hubungan dengan saudara saudara semarga. Dalihan natolu ini menjadi pedoman hidup orang Batak dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam khasanah Karo saudara semarga ini disebut dengan Senina. Dalam khasanah Mandailing saudara semarga disebut dengan hahangi (baca : kahanggi). b. Simbol budaya pada rumah Batak Simbol dalam budaya Batak ditampilkan dalam rumah suku Batak, yaitu: 1) Pada bagian puncak rumah yang menjulang keatas dipasang tanduk kerbau melambangkan kesejahteraan bagi keluarga yang mendiami atau arca muka

69 | P a g e

69 | P a g e

manusia, dari puncak yang melengkung membentuk setengah lingkaran (kecuali rumah empat Ayo pada orang batak Karo), pada rumah ayo ini ada ornament geometris dengan warna warna merah, putih, kuning dan hitam). 2) Pada sisi kanan kiri rumah, kedua mukanya rumah Batak memakai lukisan orang atau singa (kalamakara). 3) Pada sudut sudut rumah terdapat hiasan gajah dompak, bermotif muka binatang misalnya kepala singa mempunyai maksud sebagai penolak bala. 4) Pada bagian depan rumah terdapat hiasan bermotif tempurung kelapa yang disebut adep adep melambangkan payudara perempuan yang mempunyai makna sebagai lambang kesuburan kehidupan dan lambang kesatuan, serta hiasan bermotif cicak melambangkan orang batak dapat hidup di posisi apa saja misalnya bisa jadi direktur atau juga bisa jadi buruh. 5) Untuk memasuki rumah batak Toba harus menundukkan kepala agar tidak terbentur balok yang melintang, juga bisa diartikan tamu harus menghormati pemilik rumah. C. Sistem Sosial 1. Stratifikasi Sosial Sistem pelapisan sosial terbagi dalam: a. Perbedaan umur b. Perbedaan pangkat dan jabatan c. Perbedaan sifat keaslian, status kawin 2. Kepemimpinan Kepemimpinan dalam masyarakat Batak Karo terpisah menurut tiga bidang yaitu bidang adat , bidang pemerintahan, dan di bidang keagamaan. 3. Perkawinan Perkawinan pada suku Batak merupakan suatu pranata yang mengikat seorang lakilaki dengan seorang wanita tetapi mengikat suatu hubungan tertentu, sehingga seorang laki-laki suku bangsa Batak tidak bebas dalam memilih jodoh. a. Perkawinan yang ideal; Perkawinan yang dianggap ideal adalah perkawinan antara wanita rimpal (marpariban bhs Batak Toba) yaitu perkawinan antara lakilaki Batak dengan anak perempuan saudara laki-laki ibunya. Dan perkawinan

70 | P a g e

70 | P a g e

yang pantang dilakukan yaitu dengan wanita yang dari marganya sendiri. (namun sekarang sudah banyak pemuda yang tidak mengikuti adat kuno tersebut) b. Perkawinan Lari Perkawinan yang diluar prosedur adalah perkawinan lari (mangalua), hal ini terjadi karena tidak terdapat persesuaian antara salah satu pihak atau dua belah pihak kaum kerabat. Pada kawin lari ini dalam waktu kurang dari satu hari kaum kerabat pihak laki-laki harus mengirimkan delegasi kerumah orang tua si gadis untuk memberitahukan bahwa anak gadis mereka telah dibawa dengan maksud dikawini (diparaja, bahasa Toba). 4. Marga dan Tarombo a. Marga Marga adalah sekelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilinial). Sistem patrilinial memutuskan garis keturunan selalu dihubungkan dengan laki-laki. Seorang Batak merasa hidupnya lengkap bila ia telah memiliki anak laki-laki yang akan meneruskan marganya. Semua satu marga dilarang saling mengawini (tidak berlaku bagi orang Batak Mandailing dan Batak Angkola) dan sesamua marga disebut dalam Dalihan Natolu disebut Dongan Tubu. Jumlah seluruh marga Batak sebanyak 416 termasuk marga suku Nias (sebenarnya suku Nias bukan Batak). Setiap orang Batak memiliki nama marga, pemakaian nama marga biasanya dicantumkan dibelakang atau diakhir namanya . Nama marga ini diperoleh dari garis keturunan ayah (patrilineal) yang selanjutnya akan

diteruskan kepada keturunannya secara terus menerus. b. Tarombo Tarombo adalah silsilah, asal usul menurut garis keturunan ayah. c. Posisi duduk dalam ritual Batak. Dalam ritual Batak misalnya pesta perkawinan posisi duduk dalam acara adat Batak sangat penting yang kemudian dimaknakan dalam kehidupan sehari hari. Dalam kehidupan sehari hari kekerabatan adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya. Barospati gorga.) Kekerabatan ini untuk mempersatukan hubungan darah sehingga dapat menentukan sikap kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik. D. Kebudayaan Fisik

71 | P a g e

71 | P a g e

1. Bahasa dan Aksara Bahasa Batak dapat dibagi menjadi tiga kelompok:

a. Bahasa Batak Utara b. Bahasa Batak Simalungun c. Bahasa Batak Selatan


Surat Batak adalah sebuah jenis aksara yang disebut Abugida. Aksara Batak biasanya ditulis di atas bambu atau kayu, penulisan dimulai dari bawah ke atas dan baris dimulai dari kiri kekanan. Surat Batak zaman dahulu kala digunakan untuk menulis naskah Batak. Dalam bahasa Batak buku tersebut dinamakan Pustaha. Pustaha ini ditulis oleh datu (dukun) berisikan penanggalan dan ilmu nujum (hal hal gaib). 2. Sistem Organisasi Sosial a. Pola Perkampungan Sebagian besar masyarakat Batak masih hidup di dalam pedesaan, pedesaan itu disebut Huta, Kuta, Lumban, Sosor, Bius, Pertahian, Urung dan Pertumpukan. Huta (bahasa Toba) biasanya merupakan kesatuan territorial yang dihuni asal dari satu klen. Pada orang Karo kesatuan tersebut disebut Kuta biasanya lebih besar dari pada huta, penduduknya dapat dari berbagai klen. Dahulu huta itu dikelilingi oleh suatu parit, suatu dinding tanah yg tinggi dan rumpun rumpun bambu yang tumbuh rapat. Ini dimaksudkan untuk melindungi diri dari serangan musuh. Di bagian dalam dari huta ada deretan deretan rumah diantaranya ada halaman yang dapat dipergunakan pesta perkawinan, upacara kematian dan lain lain . Demikian juga di halaman ada lumbung lumbung untuk menyimpan padi dan lesung untuk menumbuk padi. Pada orang Karo, Simalungun dan Mandailing tiap desa mempunyai balai desa yang dipakai untuk sidang pengadilan dan sidang lainnya. Pada orang Toba balai desa ini digantikan dengan apa yang disebut partunghoan (baca: partukkoan) b. Rumah orang Batak Rumah orang Batak Karo disebut Siwaluh Jabu sedang untuk rumah Batak Toba disebut Ruma Bolon. Pada rumah Batak Toba berbentuk empat persegi

72 | P a g e

72 | P a g e

panjang, lantai rumah kadang kadang setinggi 1,75 meter di atas tanah, bagian bawah dipergunakan untuk kandang babi, ayam dan sebagainya. Bila orang hendak masuk rumah Batak Toba harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok yang melintang, hal ini dimaksudkan agar tamu harus menghormati si pemilik rumah, serta hiasan seperti tempurung kelapa melambangkan buah dada wanita yang disebut adep adep, hiasan ini melambangkan sumber kesuburan dan kesatuan. Semua rumah adat dibuat dari kayu, pada sudut rumah terdapat hiasan gajah dompak bermotif muka binatang mempunyai maksud penolak bala, begitu pula hiasan bermotif binatang cicak, kepala singa dimaksudkan untuk menolak guna-guna, hiasan itu ada yang berupa ukiran dan diberi warna dengan warna hitam, kuning dan merah yang melambangkan tiga dunia kepercayaan masyarakat Batak. Rumah yang paling banyak hiasannya disebut Gorga. Rumah adat Batak Toba disebut Ruma Bolon, rumah adat Mandailing disebut Bagas Godang. Untuk memasuki rumah harus menaiki anak tangga yang terletak di tengah rumah yang jumlah anak tangganya ganjil. c. Perkawinan dan perceraian Perkawinan pada orang Batak merupakan suatu pranata yang tidak hanya mengikat seorang laki-laki dengan seorang perempuan tetapi juga mengikat dalam suatu hubungan kaum kerabat dari laki-laki dengan kaum kerabat kaum perempuan. Perkawinan ideal dalam masyarakat Batak adalah perkawinan antara orang-orang rimpal (marpariban, bahasa Toba) Pada masa sekarang sudah banyak pemuda tidak lagi menuruti adat ini lagi. Inisiatif lamaran diambil dari kaum kerabat laki-laki dengan mengirimkan suatu utusan resmi kerumah sigadis. 1) Kawin Lari; Perkawinan yang di luar prosedur tersebut di atas adalah perkawinan lari (mangalua), hal ini terjadi kaena tidak terdapat persesuaian antara salah satu pihak atau dua belah pihak kaum kerabat. Pada kawin lari ini dalam waktu kurang dari satu hari kaum kerabat pihak laki-laki harus mengirimkan delegasi kerumah orang tua sigadis untuk memberitahukan bahwa anak gadis mereka telah dibawa dengan maksud dikawini (diparaja bahasa Toba). Selang beberapa lama maka akan dilakukan upacara

73 | P a g e

73 | P a g e

manuruk nuruk untuk minta maaf. Setelah upacara ini dilalui barulah kemudian disusul dengan upacara perkawinan secara resmi. 2) Perkawinan Levirat; Pada adat Batak terdapat perkawinan levirat.

Perkawinan levirat adalah perkawinan janda (yang ditinggal mati suaminya) menikah dengan saudara suaminya. Jika si janda tidak mau maka ia harus minta diceraikan lebih dulu kepada jabu asal dari suaminya. Adapun mereka yang berhak menceraikan si janda yang ditinggal mati suaminya adalah anak kandung laki laki, anak tiri laki laki, cucu laki laki, kalau mereka tidak ada maka senina dari almarhum suaminya dapat bertindak sebagai orang yang akan melepaskan si janda dari ikatannya dengan klen si suami. 3) Poligini; Pada umumnya masyarakat Batak bersifat monogami walaupun masyarakat Batak tidak melarang poligami. Norma-norma agama Kristen menghambat orang melakukan poligami. Kalau seorang pada orang Batak menjadi isteri kedua (manindi baca:maniddi) maka ia dan anak-anaknya sama sekali tidak berhak atas segala harta yang ada. Ia harus mencari nafkah sendiri, kalau tidak maka kedua keluarga batih mereka akan bermusuhan. Penyebab poligami ini adalah antara lain karena kemandulan Perceraian dapat terjadi bila : 1) Si isteri tidak bisa bergaul dengan keluarga suami. 2) Tidak memperoleh keturunan laki-laki 3) Selingkuh 3. Sistem Pengetahuan a. Di bidang keamanan Setiap huta atau kuta dahulu dikelilingi oleh suatu parit, juga suatu dinding tanah yang tinggi dan rumpun bambu yang tumbuh rapat. b. Di bidang kemasyarakatan Di bagian dalam suatu huta terdapat dua atau lebih deretan rumah dan halaman diantaranya dipakai untuk mengadakan pesta perkawinan, upacara kematian, juga didirikan lumbung lumbung untuk menyimpan hasil panen. c. Di bidang seni Rumah-rumah adat selalu dihiasi dengan hiasan yang bermakna, dilengkapi dengan warna hitam merah dan kuning

74 | P a g e

74 | P a g e

d. Di bidang perkawinan Masyarakat Batak memberi jalan keluar bila calon pengantin tidak disetujui oleh kedua belah pihak orang tua mereka dengan mengadakan kawin lari meskipun harus dipenuhi persyaratan yang ada. e. Di bidang kekerabatan Masyarakat Batak memiliki falsafah hidup yang tetap menghormati dan. menjaga kerukunan kekerabatannya yaitu falsafah Dalihan Natolu. f. Di bidang pengobatan Dari sejak dulu suku Batak telah menggunakan pengobatan secara tradisional, baik dengan menggunakan bahan tumbuhan maupun dengan upacara ritual. 4. Sistem Teknologi a. Alat alat pertanian, alat rumah tangga, tenun, berburu, menangkap ikan. Dalam kehidupan sehari hari masyarakat Batak memiliki peralatan sebagai sarana menyelesaikan pekerjaannya. Alat alat tersebut meliputi alat pertanian, alat rumah tangga, alat tenun, alat berburu dan alat menangkap ikan. 1) Alat Pertanian a) Ansuan berfungsi sebagai cangkul terbuat dari batang pohon enau b) Ordang berfungsi sebagai alat pelobang tanah c) Panasapi berfungsi untuk membersihkan pematang sawah d) Pangali berfungsi sebagai penggali tanah e) Sorha-soreng ha berfungsi sebagai pembajak sawah 2) Alat rumah tangga a) Sapa berfungsi sebagai tempat nasi dibuat dari kayu b) Pinggan pasu berfungsi sebagai tempat makanan pada upacara adat c) Sakke Piring berfungsi sebagai tempat piring 3) Alat tenun tradisional a) Busur Hapas berfungsi sebagai membusur kapas, dibuat dari bambu b) Sorha tangan berfungsi untuk memintal benang, roda digerakkan dengan tangan c) Sorha pat berfungsi untuk memintal benang, roda digerakan dengan kaki d) Erdeng erdeng (panghulhulan) berfungsi untuk menggulung benang 4) Alat Berburu

75 | P a g e

75 | P a g e

a) Ultop berfungsi untuk menembak b) Sumbia, berfungsi untuk memanah c) Pulur (peluru anak panah) d) Pana, busur panah dengan anak panah 5) Alat menangkap ikan a) Solu lunjup, jenis sampan khusus di air deras b) Solu Jambang, Sampan dipakai di air yang tak mengalir c) Hole berfungsi sebaagi dayung d) Goli goli berfungsi sebagai tempat duduk dalam sampan e) Tahu tahu berfungsi untuk membuang air yang masuk dalam sampan 5. Sistem Ekonomi Mata pencaharian hidup suku Batak dapat dikatagorikan :

a. bercocok tanam disawah atau diladang


Alat alat utama dalam bercocok tanam : 1) Cangkul 2) Bajak (tenggala), juda sapi atau kerbau untuk menarik bajak 3) Tongkat tugal 4) Sabit untuk memotong padi

b. Peternakan
Kerbau, sapi, babi, kambing, ayam dan bebek

c. Menangkap ikan
Pekerjaan dilakukan secara eksklusif oleh orang laki laki dalam perahu dengan jala, pancing, dan perangkap ikan.

6. Sistem Religi a. Agama Terdapat agama Islam dan Kristen Protestan yang diperkirakan masuknya pada masa yang sama yaitu pada tahun 1810-an. Agama Islam disiarkan oleh orangorang Minangkabau, yang sebagian besar dianut oleh orang Batak Selatan

seperti Mandailing dan Angkola.

76 | P a g e

76 | P a g e

Agama Kristen disiarkan ke daerah Toba, Simalungun oleh organisasi penyiar agama dari Jerman (Rheinische Missions Gesselschaft) dan tahun 1863 ke daerah Karo oleh penyiar agama dari Belanda (Zendelingsgenootschaap). Kini agama Kristen Protestan dianut sebagian i Orang Batak di bagian utara b. Mitologi Batak Walaupun masyarakat Batak sudah mengenal agama (Islam dan Kristen) namun konsep-konsep agama aslinya masih hidup. Sumber utama untuk mengetahui sistem kepercayaan orang Batak asli adalah dari buku kuno yang disebut Pustaha 1) Konsepsi Tuhan Dalam mitologi Batak dunia dibagi atas tiga bagian, yaitu dunia atas yang disebut Banua Ginjang, dunia tengah yang disebut Banua Tonga dan dunia bawah yang disebut Banua Toru. Dunia Tengah tempat manusia hidup juga merupakan perantara antara dunia atas dan dunia bawah Dunia atas tempat tinggal para dewata sedang dunia bawah adalah tempat tinggal setan, roh, bumi dan kuburan. Warna putih, merah dan hitam merupakan simbol-simbol dari dunia tersebut. Pencipta dunia dalam mitologi Batak adalah Debata Mulajadi Nabolon, Anak-anaknya bernama Batara Guru, Soripada dan Mangala Bulan, ketiganya dikenal sebagai kesatuan dengan nama Debata Sitolu Sada ( tiga dewa dalam satu) atau Debata na Tolu (tiga dewata). 2) Konsepsi Sang Pencipta Konsepsi tentang penciipta oleh orang Batak dimulai dari Debata Mulajadi Nabolon (Toba) atau Dibata Kaci-Kaci (Karo) sebagai Sang Pencipta Alam yang berdiam di langit Sebagai penguasa alam tengah yaitu di dunia ini ia bernama Silaon na Bolon (Toba) atau Tuan Padukah ni Aji (Karo), sedang sebagai penguasa dunia makhluk halus disebut Pane na Bolon (Toba) atau Tuan Banua Koling (Karo). Tentang jiwa, roh dan dunia akhirat dalam hubungan manusia dengan dunia roh orang Batak mengenal: a) Tondi yaitu Jiwa atau roh orang itu sendiri b) Sahala yatu jiwa atau roh orang itu sendiri yang memiliki kekuatan gaib (kesaktian) c) Begu yaitu jiwa atau roh orang yang telah meninggal dunia

77 | P a g e

77 | P a g e

Beberapa begu yang disegani orang Batak adalah : (1) Begu Sombaon (2) Begu Solobean (3) Begu Silan (4) Begu Ganjang Orang Batak Karo mempunyai kepercayaan tentang adanya

perkampungan begu. Mereka dapat berkeliarandan berhubungan dengan kerabatnya melalui mediasi seorang dukun yang disebut guru sibaso (wanita). Mereka juga percaya akan adanya makhluk halus yang disebut Umang dan Jangak, kedua makhluk halus ini dianggap suka menolong manusia dan tinggal di tebing dan sungai. Orang Batak juga percaya kepada kekuatan sakti dari jimat, tongkat wasiat, mantra (tabas) yang mengandung kekuatan sakti. c. Upara adat Jenis upacara adat dibagi kedalam beberapa jenis yaitu : 1) Upacara adat inti 2) Upacara adat Na Taradat 3) Upadara adat Naniadathon 4) Upacara adat Na Sondat 1) Upacara Adat Inti Adat inti mencakup seluruh kehidupan yang berkaitan dengan penciptaan dunia oleh sang pencipta Debata Mulajadi Nabolon. Pelaksanaan adat inti tidak boleh diubah.karena terikat dengan norma dan aturan yang diturunkan oleh Debata Mulajadi Nabolon sebelum agama mempengaruhi sikap etnis orang Batak Toba terhadap upacara adat. 2) Upacara Adat Na Taradat Secara harafiah Adat Na Taradat adalah undang-undang dan kelaziman yang berupa adat. Adat Na Taradat bersifat adaptif dan menerima pergeseran dari adat inti dan bahagian adat inilah yang dilaksanakan oleh pelaku-pelaku adat Batak Toba pada saat sekarang dengan berpedoman kepada ungkapan folklore Batak Toba. 3) Adat Naniadathon

78 | P a g e

78 | P a g e

Adat Na Niadathon adalah tingkatan pelaksanaan tata upacara adat yang sudah dipengaruhi peradaban yang telah menjadi kebiasaan dan kelaziman baru Pada adat Na Niadathon terjadi pergeseran nilai dan perubahan pelaku adat, misalnya upacara adat wisuda, babtisan anak, perayaan ulang tahun, peresmian perusahaan. 4) Adat Na Soadat Secara harafiah Adat Na Soadat adalah adat yang bukan adat, karena tatalaksana upacara adat tidak lagi berdasarkan struktur dan sistematika yang lazim dilaksanakan oleh etnis Batak Toba. Upacara ini dipandang sekedar berkumpul dalam bentuk resepsi baik dalam upacara perkawinan, kematian, dan sebagainya. Struktur kekerabatan dalam Dalihan Natolu

demikian simbol-simbol yang dipakai dalam upacara adat inti disingkirkan.

7. Kesenian a. Pakaian Adat Pakaian adat dikenal dengan ulos. Ulos adalah kain tenun khas Batak yang berbentuk selendang. Secara harafiah ulos berarti selimut, pemberi kehangatan badaniah dari terpaan udara dingin. Menurut pemikiran leluhur Batak ada 3 sumber kehangatan yaitu : matahari, api dan ulos. Dari ketiga sumber tersebut ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari - hari. Matahari sebagai sumber kehangatan tidak dapat diperoleh pada malam hari sedang api dapat menjadi bencana jika lalai menggunakannya. Dalam perkembangannya ulos juga diberikan kepada orang bukan Batak, sebagai penghormatan dan kasih sayang. Ada beberapa macam ulos, antara lain : 1) Ulos Ragidup 2) Ulos Ragihotang 3) Ulos Sibolang 4) Ulos Nametmet 5) Ulos Nabalga b. Tarian Tradisional Tor-tor, dilihat dari gerakan badan, tarian tortor dapat dibagi menjadi:

79 | P a g e

79 | P a g e

1) Pangurdot, yang bergerak hanya tumit, kaki hingga bahu 2) Pengeal, yang bergerak hanya pinggang, punggung hingga bahu 3) Pandenggal, yang bergerak hanya lengan, telapak tangan hingga jari tangan 4) Siangkupna, yang bergerak hanya leher 5) Hapunana, yang bergerak hanya wajah. c. Lagu Tradisional 1) Ketabo 2) Sinanggar Tullo 3) Sigulempong 4) Dago Inang Sarge 5) Ungut Ungut 6) Sitogol d. Musik Jenis musik tradisional Batak Toba : 1) Gondang 2) Sarune bolon yaitu jenis alat tiup 3) Ogung yaitu sejenis gong yang jumlahnya ada 4 yang mempunyai fungsi masing masing pada saat dimainkan.

RANGKUMAN 1) Suku Batak memiliki kepercayaan bahwa mereka adalah Batak. 2) Ulos adalah ciri khas pakaian Batak. 3) Masyarakat Batak menganut patriarkhat. 4) Marga adalah ciri kesatuan kemasyarakatan yang mengikuti paham patrilineal 5) Suku Batak Toba merupakan bagian masyarakat yang setia melaksanakan upacara adat. 6) Walaupun mereka telah menganut agama Islam dan Kristen, namun tradisi adat istiadatnya masih dipertahankan.
80 | P a g e

keturunan Si Raja

80 | P a g e

LATIHAN 1) Apa yang dimaksud dengan Dalihan Natolu? 2) Apa yang saudara ketahui tentang Tarombo dan apa itu penting? 3) Mengapa sering terjadi perselisihan paham pada saat melaksanakan upacara adat? 4) Apa yang saudara ketahui tentang hiasan2 yang menempel dirumah adat suku Batak? 5) Apa yang paling dilarang dalam mencari jodoh dan apa yang paling ideal sebagai calon isteri dari seorang pemuda Batak? 6) Apa yang saudara ketahui tentang Pustaha?

BAB
KEBUDAYAAN BETAWI

Tujuan Instruksional Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan ciri-ciri Suku Betawi yang multicultural. Bagaimana Suku Betawi menyikapi kebudayaan yang masuk, yang diserapnya maupun yang tidak diserapnya, dan bagaimana mereka menghadapi modernisasi

81 | P a g e

81 | P a g e

A. Letak Geografis Menyebut nama Betawi, teringatlah kita akan nama Jakarta. Kota Jakarta merupakan dataran rendah dengan ketinggian kira-kira 7 meter di atas permukaan laut, terletak pada posisi 6.12 LS dan 106.48 BT. Luas wilayah Propinsi Jakarta berdasarkan SK Gubernur Jakarta Nomor 1227 tahun 1989 yang berupa daratan seluas 661, 52 km2, berupa lautan seluas 6.977,5 km2, terdapat tidak kurang dari 110 pulau yang tersebar di Kepulauan Seribu, terdapat sekitar 27 buah sungai atau saluran. Di sebelah utara membentang pantai dari barat ke timur sepanjang kira-kira 35 km, menjadi tempat bermuaranya 9 (sembilan) buah sungai dan 2 (dua) buah kanal, sementara di sebelah selatan dan timur berbatasan dengan Propinsi Jawa Barat, sebelah barat dengan Propinsi Banten, sedangkan sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa. B. Sistem Budaya Orang-orang Betawi ini dianggap terlalu percaya diri dalam segala hal, dan melakukan segalanya tanpa perhitungan yang matang dan tidak berdasarkan data yang akurat. Inilah yang membuat mereka menjadi penduduk level rendah. Dari sifat mereka yang gampang marah, gampang terprovokasi, tidak punya kemampuan dalam berpikir, inteligensi rendah, dan minimnya pengetahuan, membuat mereka kalah dalam persaingan. Sifat mereka umumnya tidak mau kalah dengan masyarakat lain, dalam hal apapun, ingin terlihat kaya, ingin terlihat elite tetapi tidak ada kemampuan ekonomi yang mendukung. Inilah yang menyebabkan mereka selalu merasa iri kalau ada tetangga atau orang lain yang lebih mampu di bidang ekonomi dibanding mereka. C. Sistem Sosial Cara hidupnya yang relatif sederhana, bicaranya yang spontan, terbuka, dan mudah bergaul, serta kerukunan masyarakatnya menjadi ciri Orang Betawi. Mereka kebanyakan pemeluk agama Islam yang taat. Beberapa contoh bagaimana agama Islam menyatu dalam kehidupan mereka sehari-hari, antara lain: 1. Bila waktu sholat tiba, mereka akan menghentikan kegiatan dan segera sholaat. 2. Bila ada anggota keluarga atau kerabat meninggal dunia, diusahakan dikubur hari itu juga.

82 | P a g e

82 | P a g e

3. Bagi keluarga yang memiliki anak gadis yang sudah cukup dewasa harus segera dinikahkan. 4. Tuan rumah akan memberi suguhan pada tamu sesuia dengan kemampuannya. 5. Mereka selalu mendahului dalam memberi salam. 6. Dalam bersalaman, mereka terlebih dahulu mengulurakan tangan, dan paling akhir menariknya. Ciri khas masyarakat Betawi asli ini dapat kita lihat pada masyarakat yang tinggal di pesisir utara, mulai dari pesisir Bekasi sampai Teluk Naga Tangerang, di bagian selatan di Condet, Pasar Minggu, dan perbatasan Kabupaten Bogor, di sekitar Tanah Abang, Kebon Jeruk, Kebayoran Lama, dan Cileduk Tangerang. D. Kebudayaan Fisik 1. Bahasa Orang Betawi sendiri menyebut bahasanya sebagai Omong Betawi. Untuk menyesuaikan dengan perubahan politik, maka dipakai istilah dialek MelayuJakarta . Hal ini karena Betawi berasal dari kata Batavia yang setelah Indonesia Merdeka nama itu tidak digunakan lagi. Dialek Melayu Betawi (DMB) selain dituturkan di wilayah DKI Jakara juga dituturkan di sekitar Bekasi, Bogor, dan Tangerang. Dalam masyarakat penuturnya, DMB difungsikan sebagai bahasa rendah jika penuturnya bilingual, namun bagi kelas bawah dialek ini cukup berprestise. Bahasa ini dapat dibagi ke dalam beberapa subdialek: a. berdasar latar belakang keturunan Yang kuat pengaruh Tionghoanya banyak bercampur dengan kata-kata Tionghoa, misalnya, engkoh, encim, gua, lu. Sedangan Betawi keturunan Arab memasukkan kata Arab misalnya ane, ente, dan ucapan bismillah yang diucapkan bismille, dan alkhamdulilah yang diucapkan alhamdulille. b. berdasar daerah, dikenal subdialek dalam kota (disebut Betawi Kota atau Betawi Tengah) dan Betawi Pinggiran, (disebut Betawi Ora) Pembagian kedua wilayah budaya ini bukan semata-mata berdasarkan letak geografis, melainkan juga berdasar ciri-ciri budayanya, termasuk bahasa dan kesenian tradisi yang didukungnya. Di wilayah budaya Betawi Tengah, tampak keseniannya dipengaruhi oleh budaya Melayu, yang terlihat jelas pada orkes dan

83 | P a g e

83 | P a g e

Tari Samrah. Sedangkan di daerah pinggiran berkembang kesenian lainnya, seperti Wayang Topeng, Lenong, Tajidor. Pembagian dialek regional ini dapat dibagi dalam empat logat, yaitu: 1) Logat Mester, penggunanya tinggal di sekitar Jatinegara dan Kampung Melayu 2) Logat Tanah Abang, penggunanya tinggal di sekitar Tanah Abang dan Petamburan 3) Logat Karet, penggunanya tinggal di sekitar Karet, Senayan, Kuningan, dan Menteng 4) Logat Kebayoran, penggunanya tinggal di sekitar Kebayoran Lama, Pasar Rebo, Bekasi, dan daerah pinggiran Kota Jakarta lainnya Beberapa contoh bahasa Betawi: bacot (mulut), codet (bekas luka pada dahi), nyak (ibu), ogah (tidak mau), koit (mati), limbung (tidak mantab), sono (sana), rudin (miskin), werit (sesuatu yang menakutkan). Pemakaian DMB: Lu udah nggak kenal langgar sih! Ada yang saye mau tanya 2. Sistem Organisasi Sosial a. Sistem Kekerabatan Mereka mengikuti pola bilineal. Anak laki-laki akan disosialisasikan pada pekerjaan bapaknyaa, bila sudah dewasa anak ini berhak ikut bapaknya ke laut dan mengerjakan pekerjaan laki-laki, sedangkan anak perempuan bekerja menghidupi keluarga dengan cara melakukan pekerjaan wanita, seperti memasak , mengasuh anak, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Anak laki-laki yang kawin akan ikut mertuanya serumah, kemudian ia dituntut membuat rumah baru untuknya. b. Sistem Kemasyarakatan Hubungan antara warga dapat tercemin dalam hubungan kelurga, di mana anakanak sangat patuh terhadap orang tuanya, karena dalam masyarakat Betawi orang yang lebih tua sangat dihormati. Dalam hidup bertetangga, mereka masih memegang teguh adat tradisi dalam kebiasaan memberi sedekah atau

84 | P a g e

84 | P a g e

punjungan makanan kepada para tetangga pada waktu tertentu, misalnya pada waktu hajatan perkawinan atau sunatan. Selain orangtua, masih ada lagi golongan yang disegani, karena dulu mereka masih mengenal konsep Jawara Betawi. Namun, konsep jawara atau organisasi jago saat ini sudah mengalami perubahan. Organisasi jago yang muncul saat ini lebih banyak karena kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. c. Pola perkampungan dan bentuk rumah Masyarakat Betawi pada awalnya adalah masyarakat river basin. Mereka membangun rumah berkelompok sepanjang sungai-sungai. Pintu depan menghadap ke arah sungai, akibatnya setelah perlahan-lahan rumah Betawi masuk ke pedalaman, arah rumah Betawi menjadi tidak teratur. Tetapi sisa-sisa budaya DAS-nya masih tertinggal, biasanya dalam bentuk adanya sumur gali di depan rumah. Pada dasarnya ada tiga zoning di rumah tradisional Betawi, yaitu: 1) kawasan publik (ruang tamu), berupa ruang tanpa diding, ini kawasan amben 2) kawasan privat ( ruang tengah dan kamar), ini wilayah pangkeng, 3) kawasan servis (dapur), atau srondoyan Tercatat ada sebuah sudut penting, bahkan sakral dalam arsitektur Betawi , yakni konstruksi tangga yang diistilahkan balaksuji. Bahwa memasuki rumah lewat tangga adalah proses menuju kesucian. Idealnya jika ada sumur di depan rumah, siapa pun yang hendak masuk rumah harus membasuh kakinya dulu, baru naik tangga, sehingga masuk rumah dalam keadaan bersih. Di sejumlah kampung balaksuji dipertahankan atau pindah lokasi. Tangga tidak ada di rumah penduduk, tapi ada di mesjid kampung. Balaksuji dipasang di tempat khotbah. Tangga ini menjadi tangga menuju mimbar. Kesuciannya dipertahankan di rumah ibadah. d. Tradisi Adat 1) Sunatan (Khitanan) Anak yang dikhitan biasanya berumur anatara 8-10 tahun. Upacaranya ada yang sederhana cukup dengan sedekahan dan membaca doa bagi anak yang disunat, ada pula yang besar-besaran. Untuk yang diadakan secara besar-besaran, pengantn sunat diarak keliling dengan menunggang kuda dengan mengenakan pakaian haji layaknya penganten kawinan, penganten

85 | P a g e

85 | P a g e

sunat juga menjadi raja sehari di mana kemauan atau permintaannya semua dituruti oleh orangtuanya. Di dalam arak-arakan juga ada ondel-ondel yang menyertainya, tetapi tidak ada susunan prosesi seperti dalam upacara ngarak penganten kawinan. Biasanya juga nanggap hiburan kesenian Betawi seperti Lenong, Wayang, Gambang Kromong atau Tanjidor. 2) Pernikahan Tahapan acara pernikahannya adalah sebagai berikut: a) Ngedelengin. Didahului masa perkenalan, dahulu melalui Mak Comblang b) Ngelamar c) Bawe Tande Putus / Pertunangan d) Piare Calon None Penganten (Tujuannnya untuk mengontrol kegiatan, kesehatan, dan memelihara kecantikan) e) Siraman, Ngerik, dan Malem Pacar f) Akad Nikah

g) Buka Palang Pintu (berbalas pantun dan adu silat) h) Di Puade (Pelaminan) 3) Tradisi Khatam Quran di Masjid-masjid Tua Tradisi ini berasal dari Hadramaut, dan diadakan pada bulan Ramadhan pada tanggal gasal karena dipercaya pada saat itu turunnya Lailatul Qadar. Acara dimulai dengan berbuka puasa, berupa nasi kebuli . Satu nampan nasi kebuli beserta lauknya berupa potongan daging kambing, biasanya untuk 4-5 orang. Hidangan lainnya adalah gulai atau semur kambing. Agar tidak terkena kolesterol, dilengkapi dengan acar bawang, menetralisir lemak. 4) Nujuh Bulan Upacara ini dilakukan pada masa kehamilan anak pertama. Tanggal diambil yang mengandung unsur tujuh, yaitu tanggal 7, 17, 27, pada bulan ke tujuh kehamilan tersebut. Nujuh bulan ini bernuansa Islam, karenanya dilakukan pembacaan tahlil. Dalam kenduri dibacakan Surat Yusuf , Surat Mariam dan Surat Ar-Rahman. Ketiga surat ini dibacakan oleh tujuh orang pada waktu yang bersamaan, sedangkan orang lain membacakan pendek lainnya. Kemudian diadakan tahlilan bersama. ayat surat-surat ketimun, nanas, untuk

86 | P a g e

86 | P a g e

Dalam acara ini selalu ada rujak, yang terdiri dari tujuh macam buah, terutama buah delima. 3. Sistem Ekonomi Tempo dulu, masyarakat Betawi asli mencari nafkah dalam beberara profesi yang terbagi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Misalnya di kampung Kemanggisan dan sekitar Rawabelong banyak dijumpai petani kembang. Kampung Kuningan adalah tempat para peternak sapi perah. Kampung Kemandoran yang tanahnya tidak sesubur Kemanggisan, banyak dijumpai mandor dan jagoan silat. Jiih, teman seperjuangan Pitung dari Rawabelong. Di Kampung Paseban banyak warganya yang bekerja di kantor-kantor sejak jaman Belanda dahulu, meski kemampuan pencak silat mereka tidak diragukan (dalam pendidikan keagamaan, diselipkan juga latihan-latihan pencak silat). Karena asalmuasal bentukan etnis mereka yang multikultur (orang Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi mereka disesuaikan dengan cara pandang dan bauran etnis dasar masing-masing. 4. Sistem Religi a. Pemeluk Agama Islam Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, ada juga yang menganut agama Kristen Protestan dan Katolik, tetapi jumlahnya sedikit sekali. Dikatakan bahwa Islam dibawa oleh orang Arab dari Hadramaut, yang selain untuk berdagang, juga bertujuan untuk menyebarkan agama Islam. Ajarannya merupakan perpaduan antara unsur-unsur Arab, India Selatan, dan unsur setempat. Orang Betawi yang memeluk agama Islam terbagi dua golongan, yaitu golongan mualim, yakni yang taat menjalankan prinsip dasar agama Islaam dengan baik dan teratur, dan golongan biasa yaitu golongan yang tidak terlalu taat menjalankan prinsip-prinsip agama Islam. Golongan kedua dapat

disejajarkan dengan Abangan di Jawa. Pada masa penjajahan sampai awal kemerdekaan, Islam menjadi pedoman hidup orang Betawi. Hal ini sebenarnya justru menghambat kemajuan mereka. Pada masa itu, pendidikan formal dianggap sebagai kafir karena berasal dari Belanda. Dengan demikian perasan anti kafir identik dengan anti sekolah (formal). Pendidikan mereka hanya dilangsungkan di madrasah sebatas

87 | P a g e

87 | P a g e

pendidikan agama, mereka tidak mendapatkan pendidikan secara umum. Sedangkan perkembangan kota Jakarta sebagai ibukota negara dengan aspek pembangunan dan modernisasinya yang berjalan amat cepat menuntut keahlian profesional, yang mungkin masih belum terkejar oleh kemajuan yang telah dicapai oleh sebagian orang Betawi. b. Pemeluk Agama Kristen Pemeluk agama Kristen ada yang menyataan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini dapat dimengerti, karena pada abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan

perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kelapa, sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kelapa, Komunitas Portugi ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara. c. Kepercayaan akan roh, hantu, dan kekuatan gaib Orang Betawi sering melakukan upacara sehubungan dengan kepercayaan terhadap adanya roh. Dalam upacara tersebut digunakan sajian yang

dipersembahkan kepada roh itu, agar tidak marah ketika tempatnya dipakai untuk mengadakan suatu pertunjukan. Orang Betawi juga mengenal keramat , yaitu kuburan orang tertentu yang dianggap baik dan rohnya dapat membantu kegiatan manusia, sehingga keramat itu sering didatangi untuk diminta restunya. Tempat lain yang dianggap keramat adalah pohon beringin, sumur tua, dan yang semacam itu. Roh jahat dapat berasal dari manuisa, misalnya kuntilanak. Dipercaya bahwa ia adalah roh wanita yang mati ketika hamil. Roh ini sering mengganggu wanita yang sedang hamil dan sebagai penangkalnya wanita Betawi yang hamil, bila hendak bepergian terutama pada malam hari, dianjurkan untuk membawa benda-benda tajam seperti gunting dan jarum, supaya roh jahat itu takut sehingg tidak mengganggu. Selain itu ada hantu yang disebut tuyul, yaitu roh jahat yang berbentuk anak kecil yang kepalanya berjambul, dan sering digunakan oleh orang tertentu untuk memperkaya dirinya, karena tugasnya mencarikan uang bagi orang yang memeliharanya.

88 | P a g e

88 | P a g e

Beberpa orang Betawi memelihara anak ambar yang berupa roh. Anak ambar ini dipelihara dalam kamar khusus, di dalamnya diberi perlengkaapn serba mini, seperti tempat tudur kecil beserta kelambunya, bantal, guling, selop keci serta diberi sajian pula. Orang yang memelihara anak ambar akan berdoa di dalam kamar khusus tadi, apabila ia akan memulai suatu pekerjaan penting atau keluarganya mendapat musibah. Pemelihara anak ambar ini juga dapat memberi air putih yang dapat berfungsi sebagai obat setelah air tersebut disimpan di kamar itu untuk beberapa lama. Menurit kepercyaan anak ambar ini adalah roh anak si pemelihara yang mati karena lahir muda atau belum cukup umur ketika dilahirkan. Ia dapat pula bukan anak kandung di pemelihara, tetapi roh anak yang datang dan minta dirawat. Benda-benda tertentu, seperti misalnya gong atau kromong pada teater lenong, dianggap mempunyai roh yang menjaga benda tersebut. Orang Betawi juga mengenal susuk, Susuk ini banyak digunakan oleh para seniman teater Betawi, dan dianggap dapat membuat orang yang memakainya terlihat lebih cantik, lebih gagah, atau suaranya lebih merdu dalam mengisi suatu pertunjukan teater Betawi. Orang Betawi juga mengenal dukun, yaitu orang yang memiliki kepandaian dalam alam nyata sekaligus alam gaib. Dukun juga orang yang dapat menyembuhkan suatu penyakit. Dukun yang mampu menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh kekuatan gaib disebut dengan istilah dukun saja, sedangkan dukun yang menyembuhkan suatu penyakit biasa, misalnya patah tulang, disebut dukun patah. Selain itu ada dukun beranak, yaitu dukun yang membantu wanita melahirkan, yang dalam istilah Betawi disebut Mak Peraji. 5. Kesenian a. Bangunan Terkenal 1) Monumen Nasional 2) Patung Dirgantara b. Musik 1) Gambang Kromong, berasal dari seni musik Tionghoa 2) Rebana, berasal dari seni musik Arab 3) Kroncong Tugu, peninggalan orang Portugis. Kroncong yang sekarang menjadi musik khas Indonesia, berasal dari pengembangan Keroncong Tugu.

89 | P a g e

89 | P a g e

4) Tanjidor, seni ini berasal dari Jaman Belanda. Terompet yang digunakan pun sebagian besar keluaran masa itu 5) Samrah, dengan latar belakang Melayu. Sering diikuti dengan tarian, yang disebut Tari Samrah. c. Tari 1) Tari Samrah 2) Tari Cokek 3) Tari Yapong 4) Tari Topeng 5) Tari Zapin 6) Tari Blantek d. Teater 1) Lenong a) Lenong Denes; Menggunakan bahasa pengantar Melayu yang halus, dialek Betawi yang digunakan bersifat resmi. Aktor dan aktrisnya mengenakan busana formal. Kisahnya menggunaka seting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan. b) Lenong Preman; Menggunakan bahasa nonformal. Busana pemainnya bebas. Kisahnya menggambarkan hidup keseharian yang sedang aktual, kisah rakyat yang tertindas, yang mengundang kehadiran tokoh pendekar taat ibadah yang melawan kesewenang-wenangan tuan tanah 2) Topeng Betawi; Mirip dengan Lenong, bedanya Topeng Betawi dibuka dengan Tari Topeng penarinya bertopeng dengan busana berwarna merah mencolok, mirip busana China. Seni ini banyak berkembang di daerah Betawi Pinggir, seperti Depok, Pondok Gede dan Ciputat. 3) Topeng Jantuk 4) Topeng Blantek 5) Wayang Klitik 6) Wayang Kulit Betawi; Ceritanya tidak mengacu ke Ramayana dan Mahabharata. Cerita yang dimainkan kontekstual dengan masyarakat sekitar. Oleh karena itu penampilannya lebih bebas, lebih demokratis, menggunakan Bahasa Indonesia pergaulan dengan logat Betawi.

90 | P a g e

90 | P a g e

Orang Betawi hanya menggemari cerita yang seru dan lucu, ada perang dan kaya banyolan. Sepanjang perjalanan riwayatnya Wayang Kulit Betawi tampil dengan penuh kesederhanaan, sehingga menepikan aspek estetika, moral, dan falsafah. Ia semata-mata hiburan, tidak ada latar belakang

spiritualismenya seperti Wayang Golek dan Wayang Kulit Jawa. e. Cerita Rakyat 1) Si Pitung 2) Si Jampang Tu Jagoan Tulen 3) Nyai Dasima f. Ondel Ondel Sosok Ondel-ondel disimbolkan sebagai wujud leluhur atau nenek moyang yang senantiasa melindungi para anak cucu atau penduduk suatu desa. Ondel-ondel berupa boneka, tingginya 2,5 m dengan garis tengah 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalam. Bagian wajah berupa topeng atau kedok dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah, sedangkan yang perempuan dengan warna putih g. Senjata tradisional: bendo atau golok; Selain digunakan untuk keperluan seharihari, juga digunakan dalam seni bela diri silat. h. Pakaian Adat Yang pria menggunakan tutup kepala (destar) dengan baju jas tutup yang digunakan dengan stelan celana panjang. Dilengkapi dengan selembar kain batik dilingkarkan pada bagian pinggang dan sebilah golok diselipkan di depan perut. Para wanita memakai baju kebaya dengan selendang panjang yang menutupi kepala serta kain batik. Pada pakaian pengantin terlihat hasil proses asimilasi dari berbagai kelompok etnis pembentuk masyarakat Betawi. Pakaian yang digunakan pengantin pria terdiri dari sorban, jubah panjang dan celana panjang yang dipengaruhi oleh kebudayaan Arab, sedangkan pada pakaian pengantin wanita ada yang menggunakan syangko (penutup kepala), baju model encim dan rok panjang memperlihatkan adanya pengaruh kebudayaan Cina. Terompah yang digunakan pengantin pria dan wanita dipengaruhi oleh kebudayaan Arab.

91 | P a g e

91 | P a g e

i.

Rumah Adat Rumah adat Betawi meskipun sudah langka, namun masih dapat dijumpai di sekitar Marunda, Condet, Setu Babakan, maupun daerah pinggiran lainnya. Ada empat tipe bentuk rumah tradisional, yaitu: 1) Rumah tipe Gudang dan Bapang berbentuk segi empat polos 2) ) Rumah tipe Kebaya memiliki beberapa bagian: a) Langkan, yaitu bagian rumah yang berpagar rendah dan berfungsi sebagai serambi, dibuat dari kayu atau bambu b) Ruang depan, biasanya terbuka tanpa ada pintu, yang melambangkan sifat Orang Betawi yang terbuka c) Balai-balai dari bambu, merupakan perlengkapan utama dan terdapat di ruang depan, fungsinya untuk menerima tamu d) Atap dan wuwungan, jika dilihat dari depan tampak berbentuk segitiga sama kaki dengan tambahan pet sebagai penahan panas atau hujan, sedangkan dari samping tampak berbentuk trapezium. Bagian atap (wuwungan) pada pertemuan sisi kaki segi tiga sama kaki dengan sisi kaki trapezium disebut jurai. Jurai adalah genting yang dipasangkan atau dipaku pada ander sebagai penghubng sisi kaki segi tiga dengan sisi kaki trapezium yaitu untuk menahan air agar tidak masuk ke dalam rumah e) Jendela bulat, biasanya terdapat di samping kiri atau kanan ruang depan, ada yang ditutup dengan daun jndela, seringkali ditutup dengan jeruji. Jendela bulat dikenal oleh Orang Betawi adalah sama sekali tidak menggunakan daun jendela atau pun jeruji, yang disebut melompang f) Jendela intip, dua buah jendela yang terdapat di kiri kanan pintu masuk ke ruang dalam, yaitu jendela berjeruji kayu berukir dan tidak berdaun

jendela, fungsinya untuk mengintip tamu yang dating g) Lantai rumah, baik lantai tanah maupun lantai rumah panggung biasanya jauh lebih tinggi dari halaman rumah, maksudnya untuk nenghindari masuknya air lebih tinggi dari halaman rumah, maksudnya untuk nenghindari masuknya air ke dalam rumah, sedangkan rumah panggung juga berfungsi untuk menghindari gangguan binatang atau gangguan tamu di malam hari yang bermaksud kurang baik.

92 | P a g e

92 | P a g e

3) Rumah tipe Joglo, bagiannya adalah; a) Ruang depan, merupakan ruang terbuka dengan kayu jati berukir sebagai langkannya dan berfungsi sebagai tempat menerima tamu. b) Ruang tamu khusus untuk wanita c) Ruang tidur atau pangkeng d) Pendaringan, berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan tempayan berisi beras dan balai-balai kecil untuk meletakkan barang-barang e) Tapang, ruang kecil dengan balai-balai yang berfungis serba guna, di mana tersedia kendi dan peralatan minum lainnya f) Dapur, terdapat tungku tradisional dengan tiga lubang biasanya terbuat dari tanah liat g) Kamar mandi, biasanya dilengkapi dengan padasan, sumur beserta senggot-nya. Halaman rumah Betawi pada umumnya ditanami berbagai macam tumbuhan. Bila halamannya luas, jenis pohon yang ditanam adalah: rambutan, nangka, kecapi, jengkol, jamblang, duku, salak, dan tangkil. Di sekitar rumah ditanami perdu yang berfungsi sebagai apotek hidup, antara Lain: jahe, kunyit, lengkuas, kencur, temu lawak, dan beluntas. j. Kuliner 1) Ketoprak 2) Bir pletok 3) Soto Mie 4) Rujak bebek 5) Toge goreng 6) Dodol Betawi 7) Kerak Telor 8) Ketupat Bebanci 9) Kue Akar Kelapa 10) Pucung Gabus 11) Nasi Ulam 12) Nasi Uduk k. Permainan Anak Betawi

93 | P a g e

93 | P a g e

1) Gudu Kusir, dimainkan sedikitnya dua orang (gugu = gundu) 2) Gudu Lobang 3) Gasing 4) Bola Gebok RANGKUMAN 1) Suku Betawi adalah suku yang multi etnis, karena pengaruh bangsa-bangsa yang membentuk suku Betawi itu. 2) Hal itu juga tercermin dalam kebudayaannya, yang menyerap unsur-unsur kebudayaan dari berbagai bangsa tersebut. 3) Karena demikian banyak pengaruh asing, maka sistem budayanya yang asli sulit diketahui. 4) Mereka terlalu percaya diri, sehingga unsur kebudayaan luar yang positif sering tidak mereka serap. 5) Mereka tidak mempunyai kemampuan berpikir yang baik, inteligensinya yang cukup rendah dan minimnya pengetahuan ilmiah membuat mereka kalah dalam persaingan. Dalam hal ekonomi mereka hanya bersaing dalam hal yang amat rendah. Misalnya bersaing dalam hal mendapatkan penghasilan dari menjaga lahan parkir, dan ini seri menjaikan mereka bentrok dengan kelompok Betawi yang lain. 6) Dari sistem sosialnya terlihat mereka suka menyatu ke dalam kelompok mereka sendiri, tidak suka berbaur dengan suku bangsa yang lain. Dalam hal pendidikan, pengaruh agama Islam kuat, sehingga pendidikan terutama hanya di pesantren atau madrasah. Pendidikan formal tidak diminatinya. 7) Persebaran orang Betawi hanya sekitar Daerah Istimewa Jakarta saja. Mereka tidak mencari penghasilan jauh dari tempat asalnya, antaa lain karena pendidikan formal mereka yang rendah sehingga tidak dapat bersaing dengan etnis lain. 8) Bahasa mereka amat komunikatif, sehingga membuka peluang untuk menjadi bahasa gaul antar etnis. LATIHAN 9) Sumbangan terbesar masyarakat Betawi bagi bangsa Indonesia adalah penutup kepalanya yang berupa peci hitam, yang menjadi ciri khas dari Bangsa Indonesia. 1) Ceritakan bagaimana terbentuknya suku bangsa Betawi 2) Unsur kebudayaan asing mana sajakah yang terlihat pada upacara

perkawinannya? 3) Mengapa pendidikan formal tidak diminati oleh suku bangsa Betawi? 4) Sebutkan beberapa tokoh Betawi yang terlibat dalam perjuangan nasional, baik perjuangan politik atau bidang lainnya! 5) Apa yang Anda ketahui tentang bir pletok?

94 | P a g e

94 | P a g e

BAB
KEBUDAYAAN MINANGKABAU

Tujuan Instruksional Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan ciri-ciri khas Masyarakat Minang yang matrlinial, bagaimaan pengaruh agama Islam, dan bagaimana kedudukan wanita.

95 | P a g e

95 | P a g e

A. Pendahuluan Ada beberapa pendapat mengenai asal kata Minangkabau diantaranya: 1. Purbacaraka (dalam buku Riwayat Indonesia I) Minangkabau berasal dari kata Minanga Kabawa atau Minanga Tamwan, yang maksudnya adalah daerah-daerah di sekitar pertemuan dua sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan. 2. Van der Tuuk mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Phinang Khabu yang artinya tanah asal. 3. Sutan Mahmud Zain mengatakan kata Minangkabau berasal dari Binanga Kamvar maksudnya muara Batang Kampar. 4. M.Hussein Naimar mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Menon Khabu yang artinya tanah pangkal, tanah yang mulya. 5. Slamet Mulyana mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Minang Kabau. Artinya, daerah-daerah yang berada di sekitar pinggiran sungai-sungai yang ditumbuhi batang kabau (jengkol). Dari berbagai pendapat itu dapat disimpulkan bahwa Minangkabau itu adalah suatu wilayah yang berada di sekitar muara sungai yang didiami oleh penduduk sehingga penduduk setempat disebut orang Minangkabau. Wilayah budaya Minangkabau adalah wilayah tempat hidup, tumbuh, dan

berkembangnya kebudayaan Minangkabau. Wilayah kebudayaan ini cukup luas dan bahkan melebihi luas administratif Provinsi Sumatera Barat sekarang. Batas wilayah Minangkabau menurut tambo: Sebelah Utara Sebelah Timur : Sikilang Aia Bangih : Durian ditakuak rajo, Buayo Putiah Daguak, Sialang Balantak Basi Sebelah Selatan Sebelah Barat : Taratak Aia Itam, Muko-muko : Ombak nan Badabua

Dalam pengertian geografis, wilayah Minangkabau terbagi atas wilayah inti yang disebut darek dan wilayah perkembangannya yang disebut rantau dan pesisir. 1. Darek

96 | P a g e

96 | P a g e

Daerah dataran tinggi di antara pegunungan Bukit Barisan; di sekitar: gunung Singgalan, gunung Tandikek, gunung Merapi dan gunung Sago. Daerah darek ini dibagi dalam tiga luhak; a) Luhak Tanah Datar sebagai luhak nan tuo, buminyo nyaman, aienyo janiah ikannyo banyak (daerah yang tua, bumi yang nyaman, airnya jernih, ikannya banyak) b) Luhak Agam sebagai luhak nan tangah, buminyo angek, aienyo karuah, ikannyo lia (daerah yang di tengah, buminya panas, airnya keruh, ikannya liar) c) dan Luhak Limo Puluah Koto sebagai luhak nan bungsu, buminyo sajuak, aienyo janiah, ikannyo jinak (daerah yang bungsu, buminya sejuk, airnya jernih, ikannnya jinak). 2. Rantau Setelah wilayah darek menjadi cukup padat untuk ditempati, masyarakat Minang kemudian keluar menyebarkan kebudayaan ke daerah sekitarnya. Mereka kemudian menetap dan mengembangkan kebudayaan Minangkabau. Wilayah rantau meliputi daerah pantai timur Sumatera. Ke utara luhak Agam; Pasaman, Lubuk Sikaping dan Rao. Ke selatan dan tenggara luhak Tanah Data; Solok Silayo, Muaro Paneh, Alahan Panjang, Muaro Labuah, Alam Surambi Sungai Pagu, Sawah lunto Sijunjung, sampai perbatasan Riau dan Jambi, daerah ini disebut sebagai ikue rantau. Kemudian rantau sepanjang iliran sungai sungai besar; Rokan, Siak, Tapung, Kampar, Kuantan/Indragiri dan Batang Hari. Daerah ini disebut Minangkabau Timur yang terdiri dari: a) Rantau 12 koto b) Rantau Nan Kurang Aso Duopuluah (rantau Kuantan) c) Rantau Bandaro nan 44 (sekitar Sungai Tapuang dengan Batang Kampar) d) Rantau Juduhan (rantau Y.D.Rajo Bungsu anak Rajo Pagaruyung; Koto Ubi, Koto Ilalang, Batu Tabaka) e) Negeri Sembilan 3. Pesisir: Daerah sepanjang pantai barat Sumatera Dari utara ke selatan; Meulaboh, Tapak Tuan, Singkil, Sibolga, Sikilang, Aie Bangih, Tiku, Pariaman, Padang, Bandar Sapuluah, terdiri dari; Air Haji, Balai Salasa,

97 | P a g e

97 | P a g e

Sungai Tunu, Punggasan, Lakitan, Kambang, Ampiang Parak, Surantiah, Batang kapeh, Painan (Bungo Pasang), seterusnya Bayang nan Tujuah, Indrapura, Kerinci, Muko-muko, Bengkulu. B. Sistem Budaya Di Minangkabau ada tiga jenis pemimpin, yaitu niniak mamak (penghulu), alim ulama, dan cadiak pandai. Ketiganya dikenal sebagai tungku tigo sajarangan atau tali nan tigo sapilin/tali tiga satu pilinan. 1. Tiga jenis pemimpin/tali tiga pilihan: a. Niniak Mamak (Panghulu) adalah pemimpin dalam urusan adat, orang yang dituakan dalam kaum. Meliputi penghulu adat dan pembantu-pembantu utamanya. Sehari-hari ia dipanggil datuak. b. Alim Ulama adalah pemimpin dalam urusan agama, orang yang memiliki ilmu agama yang luas dan iman yang dalam. Disebut juga suluah bendang dalam nagari, maksudnya berfungsi sebagai penerang kehidupan. Sehari-hari ia dipanggil angku, ustadz, buya, syekh, tuangku, dll. c. Cadiak Pandai adalah pemimpin disebabkan ia memiliki pengetahuan dan

wawasan yang luas, serta arif dan bijaksana. 2. Adat di Minangkabau, ada empat tingkatan: a. Adat Nan Sabana Adat; Adat nan sabana adat adalah kenyataan yang berlaku tetap di alam, ia menempati kedudukan tertinggi dari empat jenis adat di

Minangkabau, dan berfungsi sebagai landasan utama dari norma, hukum, dan aturan-aturan masyarakat Minangkabau. Semua hukum adat, ketentuan adat, norma kemasyarakatan, dan peraturan-peraturan yang berlaku di Minangkabau bersumber dari adat nan sabana adat. b. Adat Nan Diadatkan; Adat Nan Diadatkan adalah adat buatan yang direncanakan c. Adat Nan Taradat; Adat Nan Taradat adalah ketentuan adat yang disusun di nagari/daerah (adat selingkungan nagari). d. Adat Istiadat; Adat istiadat merupakan aturan adat yang dibuat dengan mufakat niniak mamak dalam suatu nagari sesuai dengan alua jo patuik, patuik jo mungkin (alur kepatutan, patut dengan mungkin). 3. Perkawinan a. Bentuk perkawinan;

98 | P a g e

98 | P a g e

1) Perkawinan dalam suku/nagari; Ini adalah bentuk perkawinan yang lebih


dianjurkan. Namun yang ideal lagi adalah perkawinan antar keluarga terdekat, seperti: menikahi anak mamak (pulang ka mamak) atau menikahi kamanakan bapak (pulang ka bako).

2) Perkawinan luar suku; Ini berarti menikah dengan orang non-Minangkabau.


Perkawinan dengan perempuan dari luar suku Minangkabau tidak disukai karena bisa merusak struktur adat. Si anak tidak akan mempunyai suku. Sebaliknya, perkawinan dipermasalahkan, karena dengan laki-laki luar suku Minangkabau tidak tidak merusak struktur adat dan anak tetap

mempunyai suku/marga dari ibunya.

3) Perkawinan terlarang (perkawinan pantang)


a) Perkawinan yang dilarang sesuai syariat Islam, seperti menikahi ibu ayah, saudara, anak saudara seibu dan sebapak (incest). b) Perkawinan yang merusak sistem adat, yakni menikahi orang yang setali darah menurut garis ibu, orang sekaum, atau orang sesuku/semarga. c) Perkawinan untuk memelihara kerukunan sosial, seperti menikahi orang yang diceraikan kerabat, memadu perempuan yang sekerabat, menikahi anak tiri saudara kandung, atau menikahi orang yang dalam

pertunangan. Orang yang tetap melakukan perkawinan terlarang ini akan diberi sanksi, misalnya membubarkan perkawinan itu, diusir dari kampung, atau hukum denda dengan meminta maaf pada semua pihak pada suatu perjamuan dengan memotong seekor atau dua ekor hewan ternak. b. Tahapan-tahapan upacara perkawinan: 1) Pinang Maminang: Acara ini diprakarsai pihak perempuan 2) Batimbang Tando: adalah upacara pertunangan 3) Malam Bainai:adalah memerahkan kuku pengantin dengan daun pacar/inai yang telah dilumatkan 4) Pernikahan: Acara pernikahan diadakan di rumah anak daro/mempelai wanita atau di masjid

99 | P a g e

99 | P a g e

5) Basandiang dan Perjamuan; Basandiang adalah duduknya kedua pengantin di pelaminan untuk disaksikan tamu-tamu 6) Manjalang: merupakan acara berkunjung. Acara ini dilaksanakan di rumah marapulai (pengantin laki-laki). Para kerabat menanti anak daro/mempelai wanita yang datang manjalang. 4. Upacara Upacara Adat a. Batagak Panghulu: Upacara pengangkatan panghulu b. Batagak Rumah: Upacara mendirikan rumah gadang c. Upacara Turun Mandi: Upacara turun mandi dimaksudkan untuk menghormati keturunan yang baru lahir d. Upacara Kekah: Upacara kekah (akikah) merupakan syariat agama Islam e. Upacara Sunat Rasul:juga merupakan syariat Islam, tanda pendewasaan bagi seorang anak f. Upacara Tamaik Kaji: diadakan bila seorang tamat membaca Al-Quran

g. Upacara Kematian

C. Sistem Sosial Adat dan budaya Minangkabau bercorakkan keibuan (matrilineal), dimana pihak perempuan bertindak sebagai pewaris harta pusaka (harta pusaka tinggi) dan kekerabatan. Sistem adat Minangkabau pertama kali dicetuskan oleh dua orang datuk, Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang. Kedua datuk ini memiliki hubungan darah seibu, namun beda bapak. Datuk Katumanggungan merupakan anak dari Maharaja Diraja dan Indo Jati atau yang dikenal juga dengan Puti Indo Jalito atau Puti Calita. Karena berasal dari keturunan raja, datuk Ketumanggungan kemudian menggagas lareh (keselarasan) Koto Piliang yang bersifat aristokratis. Setelah meninggalnya Maharaja Diraja, Puti Indo Jalito menikah dengan Cati Bilang Pandai, dan kemudian mempunyai anak bernama Perpatih Nan Sabatang. Berbeda dengan Koto Piliang, keselarasan yang digagas oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang bersifat demokratis. Lareh (laras) adalah adalah dasar pemerintahan menurut adat Minangkabau. Kelarasan adalah sistem pemerintahan menurut adat Minangkabau.

100 | P a g e

100 | P a g e

Maharaja Diraja

Puti Indo Jalito

Cati Bilang Pandai

Dt Katumanggungan

Dt Parpatiah Nan Sabatang

Koto Piliang

Bodi Chaniago

Perbedaan antara kedua keselarasan tersebut tampak pada tabel di bawah ini: Koto Piliang Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Katumangguangan Berpusat pada pimpinan Semboyannya titiak dari ateh (menetes dari atas) Bersifat otokratis Pengambilan keputusan berpedoman pada kebijaksanaan dari atas. Segala bentuk keputusan datangnya dari atas. Masyarakat Bodi Caniago Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang Berdaulat pada rakyat Semboyannya mambasuik dari bumi (terpancar dari dalam bumi) Bersifat demokratis Pengambilan keputusan mengutamakan kata mufakat. Keputusan diambil berdasarkan kesepakatan bersama, bukan

tinggal menerima apa yang telah ditetapkan. hanya berasal dari pimpinan saja, akan tetapi masyarakatnya ikut dilibatkan. Penggantian gelar pusaka secara mati batungkek budi (mati bertongkat budi), artinya penghulu baru bisa diganti jika sudah meninggal Pewarisan gelar disebut patah tumbuah Penggantian gelar pusaka secara hiduik bakarelaan (hidup dengan ber-keikhlasan), artinya penghulu bisa diganti jika sudah tidak mampu lagi melaksanakan tugasnya Pewarisan gelar disebut gadang bagilia,

101 | P a g e

101 | P a g e

hilang baganti (patah tumbuh hilang

artinya gelar penghulu boleh digilirkan pada

berganti), artinya gelar penghulu harus tetap kaum mereka walau bukan saparuik, di pihak mereka yang saparuik (serahim). Rumah gadang mempunyai anjung pada lantai kiri dan kanan Menurut tambo, daerah kebesarannya: 1. Langgam Nan Tujuah 2. Basa Ampek Balai Susunan kebesaran ini dinamakan Lareh Nan Panjang. Penghulunya bertingkat-tingkat, disebut pucuak bulek, urek tunggang (pucuk bulat, urat terhujam), Tingkatannya adalah panghulu pucuak, panghulu kaampek suku, dan panghulu andiko. asalkan melalui musyawarah adat Rumah gadang lantainya rata saja dari ujung sampai pangkal Menurut tambo, daerah kebesarannya: 1. Tanjuang Nan Ampek 2. Lubuak Nan Tigo Susunan kebesaran ini dinamakan Lareh Nan Bunta. Kekuasaan penghulu sama di nagari, disebut pucuak tagerai (pucuk tergerai).

Secara garis besar faktor-faktor yang mengikat kaum ini adalah sebagai berikut: 1. Seketerunan; Orang yang sekaum merupakan orang yang satu keturunan 2. Sehina Semalu; Anggota yang berbuat melanggar adat akan mencemarkan nama seluruh anggota kaum. 3. Sepandam Sepekuburan; sepandam sepekuburan dengan pengertian satu kaum dikuburkan pada lahan milik kaum tersebut. 4. Orang Yang Sekaum Seberat Seringan; Kaba baiak baimbauan, kaba buruak bahambauan (kabar baik dihimbaukan, kabar buruk berhamburan). Artinya bila ada sesuatu yang baik untuk dilaksanakan seperti perkawinan, berdoa dan lain-lain maka kepada sanak saudara hendaklah diberitahukan agar mereka datang untuk menghadiri acara yang akan dilaksanakan, tetapi sebaliknya semua sanak famili akan berdatangan, jika mendengar kabar buruk dari salah seorang anggota keluarganya tanpa dihimbau. Sebagai contohnya seperti ada kematian atau mala petaka.

102 | P a g e

102 | P a g e

5. Orang Yang Sekaum Seharta Sepusaka; Harta pusaka (harta pusaka tinggi) merupakan milik bersama. Ada dua jenis harta pusaka yaitu harta pusaka tinggi, dan harta pusaka rendah. a. Harta pusaka tinggi adalah harta yang diwarisi secara turun temurun dari beberapa generasi menurut garis keturunan ibu. Harta ini dapat berupa tanah, rumah gadang, sawah, ladang, kebun, tabek (kolam), dan pandam pakuburan. Harta pusaka tinggi adalah harta orang banyak (harta kaum) yang turun temurun setelah lebih dari 5 generasi. Dalam hal ini, kaum ibu hanya mempunyai hal milik, namun hak kuasa ada pada mamak (saudara laki-laki ibu). Harta pusaka tinggi tidak dapat dijual atau digadaikan begitu saja. Harus ada sebab yang kuat dan ada kata sepakat di dalam kaum/suku tersebut. Ada empat ketentuan adat yang memperbolehkan penggadaian harta pusaka: 1) Rumah Gadang Katirisan (Rumah gadang ketirisan, atau untuk perbaikan rumah gadang) 2) Gadih gadang alun balaki (gadis gadang yang belum bersuami, atau untuk menyelenggarakan upacara perkawinan) 3) Mayik tabujua diateh rumah (mayat terbujur di atas rumah, atau untuk menyelenggarakan upacara pemakaman jenazah) 4) Mambangkik batang tarandam (membangkitkan batang terendam, atau untuk malewakan gala/upacara pengangkatan penghulu) b. Sedangkan harta pusaka rendah adalah harta pencaharian suami-istri

selama perkawinan. Harta ini diwariskan menurut hukum Waris Islam.


Garis kekerabatan yang berkaitan dengan kaum ini adalah jurai. Sebuah kaum merupakan kumpulan dari jurai dan tiap jurai tidak sama jumlah anggotanya. Setiap jurai membuat rumah gadang pula, tetapi rumah gadang asal tetap dipelihara bersama sebagai rumah pusaka kaum. Pimpinan tiap jurai ini disebut tungganai atau mamak rumah sebuah anggota jurai, yang berasal dari satu kaum. Pecahan dari jurai disebut samande (seibu) yaitu ibu dengan anakanaknya. D. Kebudayaan Fisik

103 | P a g e

103 | P a g e

1. Bahasa Bahasa yang digunakan dalam keseharian ialah bahasa daerah yang meliputi:

a. Bahasa Minangkabau: Bahasa Minangkabau memiliki beberapa dialek seperti


dialek Bukittinggi, dialek Pariaman, dialek Pesisir Selatan dan dialek Payakumbuh.

b. Bahasa Batak: Dialek yang digunakan berupa dialek Mandailing, yang biasanya
digunakan suku Batak Mandailing di daerah Pasaman, yaitu daerah di sekitar perbatasan Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

c. Bahasa Mentawai: Bahasa Mentawai yang digunakan oleh penduduk yang


bertempat tinggal di daerah Mentawai yang berupa kepulauan dan terletak beberapa puluh kilometer lepas pantai Sumatera Barat. Bahasa Minangkabau atau Baso Minang adalah sebuah bahasa Austronesia yang digunakan oleh kaum Minangkabau di Sumatera Barat, di barat Riau, Negeri Sembilan (Malaysia), dan juga oleh penduduk yang telah merantau ke daerahdaerah lain di Indonesia. 2. Sistem Organisasi Sosial Kelompok kekerabatan masyarakat yaitu paruik, kampuang, dan suku. Suku dipimpin oleh seorang penghulu suku, sedangkan kampuang oleh penghulu andiko atau datuak kampuang. Di samping memiliki seorang penghulu suku, sebuah suku juga mempunyai seorang dubalang atau manti. Dubalang bertugas menjaga keamanan sebuah suku, sedangkan manti berhubungan dengan tugas-tugas keamanan. Daerah Minangkabau terdiri atas banyak nagari. Nagari ini merupakan daerah otonom dengan kekuasaan tertinggi. Tiap nagari dipimpin oleh sebuah dewan yang terdiri dari pemimpin suku dari semua suku yang ada di nagari tersebut. Dewan ini disebut dengan Kerapatan Adat Nagari (KAN). Nagari adalah suatu tempat atau wilayah yang mengandung satu kesatuan wilayah, satu kesatuan masyarakat, dan satu kesatuan adat. Nagari sebagai kesatuan adat memiliki kebebasan untuk mengurus nagarinya sendiri sesuai adat yang berlaku. Dalam pituah adat disebut kusuik bulu paruah manyalasaikan, kusuik paruah bulu manyalasaikan (kusut bulu paruh menyelesaikan, kusut paruh bulu menyelesaikan). Pemerintahan di sebuah nagari diatur menurut tingkatan berikut:

104 | P a g e

104 | P a g e

a. Suku, dipimpin oleh mamak/penghulu suku b. Buah Paruik (kumpulan orang sekaum), dipimpin oleh mamak/penghulu kaum c. Rumah Gadang, dipimpin oleh tungganai d. Kampuang (kumpulan rumah gadang yang berdekatan), dipimpin oleh tuo kampuang/kepala kampong. Di dalam nagari biasanya terdapat sebuah masjid, sebuah balai adat, dan pasar. Mesjid merupakan tempat untuk beribadah, balai adat merupakan tempat sidangsidang adat diadakan. Sedangkan pasar dan kantor kepala nagari terletak pada pusat desa atau pada pertengahan sebuah jalan memanjang dengan rumah-rumah kediaman di sebelah kiri dan kanannya. Nagari terdiri dari dua bagian utama, yaitu daerah nagari dan taratak. Nagari ialah daerah kediaman utama yang dianggap pusat sebuah desa. Halnya berbeda dengan taratak yang dianggap sebagai daerah hutan dan ladang. 3. Sistem Pengetahuan Alam takambang jadi guru merupakan filosofi yang dianut oleh orang Minangkabau. Alam takambang/Alam terkembang selain sebagai tempat hidup, mereka menjadikan alam sebagai tempat belajar (guru). Hukum alam menjadi sumber inspirasi yang dijadikan pedoman untuk merumuskan nilai-nilai dasar bagi norma-norma yang akan menuntun mereka dalam berfikir dan berbuat. Nilai dasar utama yang menjadi pegangan mereka adalah bahwa manusia itu harus belajar dari pengalaman. Dari pengalaman mereka bergaul dengan alam, mereka melihat keteraturan dan perubahan. Anak-anak lelaki usia 7 tahun biasanya akan meninggalkan rumah mereka untuk tinggal di surau di mana merka diajarkan ilmu agama dan adat Minangkabau. Di usia remaja, mereka digalakkan untuk meninggalkan perkampungan mereka untuk menimba ilmu di sekolah atau menimba pengalaman di luar kampung dengan harapan mereka akan pulang sebagai seorang dewasa yang lebih matang dan bertanggungjawab kepada keluarga dan nagari (kampung halaman). Selain dikenali sebagai seorang pedagang, masyarakat Minangkabau juga berhasil melahirkan beberapa penyair, penulis, negarawan, ahli fikir dan para ulama. 4. Sistem Teknologi a. Arsitektur Rumah Gadang

105 | P a g e

105 | P a g e

Merunut cerita yang dipertahankan, nenek moyang orang Minangkabau datang ke daratan sebagai pelaut yang handal. Termasukdalam teknik pembuatan kapal. Sehingga rancangan rumah gadang ini dibuat berbentuk kapal. b. Songket Minang Kain songket terdiri dari tiga jenis, yaitu benang satu, dua, dan empat.Motif kain disebut juga cukie.Tenun songket Pandai Sikek seluruhnya dikerjakan dengan tangan. c. Bordir,dan Sulaman 5. Sistem Ekonomi Sebagian besar masyarakat hidup dari a. Bercocok tanam b. Menangkap ikan c. Berdagang Membuat kerajinan tangan: kerajinan perak bakar dari Koto Gadang, dan kain songket dari Silukang. 6. Sistem Religi Islam merupakan agama yang dianut mayoritas masyarakat Minangkabau. Adat dan agama berjalan beriringan, namun jika terdapat perbedaan atau pertentangan, maka adat akan mengalah. Berikut tiga tahap penyesuaian yang terjadi antara agama dan adat: a. Adat dan syara berjalan sendiri-sendiri tanpa saling mempengaruhi b. Adat dan syara sama-sama saling membutuhkan tanpa menggeser kedudukan masing-masing c. Adat hanya boleh diikuti dan diberlakukan bila bersesuaian dengan ajaran agama Islam. Dalam sejarah, timbulnya Perang Paderi yang disebabkan pertentangan Kaum Adat dan Kaum Agama (Islam), timbul karena politik adu domba Belanda. Namun kaum adat dan kaum agama segera mencari penyelesaian. Awal abad XIX dilaksanakan pertemuan Pangulu Tigo Luhak beserta ulamanya. Pertemuan ini melahirkan Piagam Bukik Marapalam yang menegaskan bahwa antara adat dan Islam tidak bertentangan.

106 | P a g e

106 | P a g e

Adat bapaneh, syarak balinduang maksudnya adat bagaikan tubuh, agama sebagai jiwa. Antara tubuh dan jiwa tidak bisa dipisahkan. Syarak mangato, adat mamakai maksudnya syarak memberikan hukum dan syariat, adat mengamalkan apa yang difatwakan agama. Simpulan piagam ini lazim disebut adat jo syarak sandamanyanda, kemudian lebih dikenal lagi dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. 7. Kesenian a. Silat Silat adalah seni beladiri tradisional Minangkabau. Ada dua macam: 1) Pencak silat, yaitu silat yang biasa digunakan untuk tari-tarian pertunjukan. Gayanya seperti gerakan silat, tapi tidak untuk menciderai lawan, tetapi hanya sebagai hiburan. 2) Silat (silek), yaitu yang bertujuan untuk bela diri. Pesilat disebut pandeka. Ia punya aturan sendiri, yaitu musuah indak dicari, jikok basuo pantang diilakkan b. Randai: adalah teater arena. Cerita randai biasanya diambil dari kenyataan hidup di tengah masyarakat. Fungsinya sebagai seni pertunjukan untuk hiburan; sebagai penyampai pesan, nasihat, dan pendidikan. c. Sepak Rago: merupakan sebuah olahraga tradisional. Permainannya mirip sepak takraw. Bedanya, bola sepak rago terbuat dari daun kelapa muda yang dianyam dan berbentuk kubus. Jumlah pemain antara 5 10 orang. d. Tarian Rakyat; Ada tiga macam tarian rakyat, yaitu: 1) Tarian pencak, yaitu tarian yang gerakannya menyerupai pencak. Contoh: Tari Sewah, Tari Alo Ambek, Tari Galombang. 2) Tarian perintang, yaitu tarian yang dimainkan pemuda-pemudi untuk kegembiraan dan perintang waktu. 3) Tarian kaba, yaitu tarian yang mengangkat tema cerita (kaba). Contoh: Tari Si Kambang, Tari Ilau, Tari Tupai Janjang Tari Barabah Mandi. e. Gamat Gamat adalah kesenian Melayu yang melibatkan seni tari, seni suara, dan seni musik. Gamat biasanya dimainkan dalam acara keramaian. Contoh: Tari Payung, Tari Selendang, dan Tari Saputangan.

107 | P a g e

107 | P a g e

f.

Tabuik; Tabuik berkembang di daerah pesisir, khususnya Pariaman. Tabuik diselenggarakan tiap tahun. Permainan ini merupakan upacara peringatan terbunuhnya Husein, cucu Rasulullah SAW. Acara dimulai pada 1 Muharram dengan mengambil tanah ke dasar sungai, melambangkan mengambil jasad Husein. Hari berikutnya tabuik mulai dibuat. Tabuik berbentuk keranda untuk mengusung mayat. Pada hari ke lima, tengah malam, orang mengambil pohun pisang dengan memancungnya dengan parang sekali putus. Ini melambangkan pembalasan putra Husein. Hari ke tujuh dimulai dengan mengarak jari-jari, semacam maket sebuah kubah. Ini mengisahkan pengikut Husein yang mencari jari-jari dan serpihan tubuh Husein yang dicincang musuh. Hari ke sembilan, mereka mengarak sorban Husein yang ditemukan. Acara puncak arak-arakan tabuik berlangsung pada hari ke sepuluh.

g. Karawitan; Minangkabau memiliki alat musik khas. Alat musik ini biasanya digunakan untuk mengiringi tari-tarian. 1) Alat musik tiup: saluang, bansi, pupuik batang padi, sarunai, pupuik tanduak 2) Alat music pukul : talempong, canang, tambur, rabano, indang, gandang, adok 3) Alat music gesek h. Karya Sastra Ciri umum karya sastra Minangkabau:

1) Menggunakan bahasa Minangkabau 2) Berlatarbelakang budaya Minangkabau 3) Berbicara tentang manusia dan kemanusiaan Minangkabau 4) Berbicara tentang hidup dan kehidupan masyarakat Minangkabau 5) Diwarnai oleh kesenian Minangkabau.
Karya sastra Minangkabau dibedakan atas dua jenis, yaitu puisi dan prosa. Contoh puisi: pasambahan adat, pantun, talibun, seloka, gurindam. Contoh

prosa: Sabai Nan Aluih, Rancak di Labuak.

RANGKUMAN 1) Kebudayaan ini memiliki ciri khas tersendiri dengan menarik garis keturunan berdasarkan garis keturunan ibu (matriakat/matrilineal). 2) Budaya yang unik, bersumber pada gejala-gejala alam dengan filosofis Alam Takambang Jadi Guru. 108 | P a g e 3) Masyarakat Minangkabau terkenal dengan budaya merantau 4) Orang Minangkabau adalah penganut agama Islam yang baik. Pentingnya agama tergambar dalam kata-kata Adat Basandi Syarak. Syarak Basandi Kitabullah.
108 | P a g e

LATIHAN A. Pilihan Ganda 1. Upacara memperingati wafatnya Hasan dan Husein di bulan Muharram juga terdapat di Minangkabau. Upacara tersebut adalah a. Tabuik b. Randai c. Malewakan gala d. Batagak rumah 2. Upacara memperingati wafatnya Hasan dan Husein di bulan Muharram juga terdapat di Minangkabau. Upacara tersebut adalah e. Tabuik f. Randai g. Malewakan gala h. Batagak rumah

109 | P a g e

109 | P a g e

2. Di utara, wilayah Minangkabau berbatasan dengan... a. Durian ditakuak rajo, buayo putiah daguak, sialang balantak basi b. Sikilang aia bangih c. Ombak nan badabua d. Taratak aia itam, Muko-muko 3. Masyarakat Minangkabau menganut sistem kekerabatan..

a. Patrilineal b. Matrilineal c. Uxorilokal d. virilokal


4. Laras Koto Piliang yang digagas Datuk Ketumanggungan mempunyai karakteristik, kecuali:

a. Sifat otokratis b. Sifat demokratis c. Kebijakan dari atas d. Berpusat pada pimpinan
5. Perkawinan yang terlarang dalam budaya Minangkabau adalah:

a. Menikahi anak mamak/paman b. Menikahi orang yang berbeda suku/marga c. Menikahi kamanakan bapak d. Menikahi orang yang diceraikan kerabat
6. Harta pusaka tinggi pada prinsipnya tidak dapat dijual/digadaikan dalam keadaan mendesak/tidak ada harta lain, kecuali untuk..

a. Modal usaha b. Perbaikan rumah gadang c. Menunaikan ibadah haji d. Biaya pendidikan anak
7. Titiak dari ateh merupakan sebutan untuk keselarasan.. a. Koto Piliang b. Bodi Chaniago c. Tanjung d. Mandailing 8. Alat musik berikut merupakan alat musik tiup di Minangkabau, kecuali.. a. Saluang b. Silek c. Gamat d. Tabuik
110 | P a g e

110 | P a g e

9. Musuah indak dicari, jikok basuo pantang diilakkan merupakan aturan yang di
kenal di...

a. Randai b. Silek c. Gamat d. Tabuik 10. Dalam sastra Minang, dikenal adanya pameo (kalimat yang dilihat artinya
nampak berlawanan bahkan tidak mungkin terjadi). Yang termasuk pameo adalah...

a. Anak dipangku, kemenakan dibimbing b. Berkata di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir


B. Essai

1. Hidup masyarakat di Minangkabau tidak lepas dari adat. Pentingnya adat


tergambar dalam kata-kata adat Hiduik dikanduang adat.

a. Sebutkan dan jelaskan 4 jenis adat yang ada di minangkabau! b. Kalau terjadi pertentangan antara adat dan agama, apa yang akan
terjadi? Bagaimana proses penyesuaian yang terjadi antara agama dan adat?

2. Uraikan timbulnya Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah 3. Di Minangkabau dikenal adanya unsur pimpinan yang disebut tigo tungku
sajarangan. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tigo tungku sajarangan!

4. Apa yang dimaksud dengan lareh? Sebutkan 2 jenis lareh dan perbedaan
diantara kedua lareh itu!

5. Apa itu nagari?

111 | P a g e

111 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
Aryandini, Woro. Manusia Dalam Tinjauan ilmu Budaya Dasar.Jakarta: UI Press, 2000. Edi Sedyawati. Merenungkan Multikulturalisme . 1999.Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ___________. Dinamika Perkembangan Kebudayaan Nasional.Sarasehan Budaya, Jakarta, 5 Jui 2007 Koentjaraningrat. Manuasi Dan Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta: Djambatan, 1979 _____________. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru, 1980. Melalatoa, M. Junus. Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia. Jilid A-K . Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI, 1995. _____________. . Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia. Jilid L-Z. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI, 1995. Sayidiman. Pembebasan Budaya-budaya Kita. 1999 Soekmono, R. Pengantar Sejarah Kebudayayayn Indonesia. Jld I,II,III. Yogyakarta: Yayasan Kanisuius, 1984 http://www.wikipedia.org/

112 | P a g e

112 | P a g e

BIODATA KETUA TIM PENULIS


Nama Alamat korespondensi Telp./Faks HP E-mail Riwayat Pendidikan Tahun Lulus S-1 S-2 S-3 Perguruan Tinggi Universitas Indonesia Universitas Indonesia Universitas Indonesia Bidang Spesialisasi Fakultas Sastra Program Studi Antropologi Bidang Ilmu PengetahuanBudaya : Woro Aryandini : Kompleks Griya Depok Asri Blok G I No. 23 Depok 16411 : 0217708054; : 085216759933 : woroaryandini@yahoo.com

Nama mata kuliah yang diasuh No Nama Mata Kuliah

1 2 3

Bahasa Indonesia Budaya Nusantara Logic


a. Pengajar 1985-1996 1985-sekarang : Dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia : Dosen pada beberapa Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta 1998 : Dosen tamu pada The Amsterdam-Maastrich Summer University b. c. Peneliti: 1998-sekarang Konsultan : 2003-sekarang

Riwayat Pekerjaan

Judul Karya Ilmiah / Buku: a. Citra Bima Dalam Kebudayaan Jawa. UI Press, 2000) b. Manusia Dalam Tinjauan Ilmu Budaya Dasar (UI Press, 2000) c. Wayang Dan Lingkungan (UI Press, 2002) d. Garuda As A Cultural Identity (UI Press, 2002)

113 | P a g e

113 | P a g e

Organisasi

: a. Koninklijk Institut voor Taal, Land en Volkenkunde b. Ikatan Alumni Universitas Indonesia c. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia d. Lingkaran Peminat Semiotik e. Himpunan Tekstil Indonesia (Indonesian Textile Society) f. Persaudaran Sastra Daerah Indonesia g. International Council of Museums (ICOM) h. Javanologi

Bidang Keahlian/ Bidang Minat Penelitian: Humaniora

, Oktober 2011 Dr. Woro Aryandini, SS, MSi

114 | P a g e

114 | P a g e