Anda di halaman 1dari 105

ISI

MENUNGGU IKTIKAD BAIK SBY-BOEDIONO


Bambang Soesatyo
AKIL, ATUT, DAN ANGIE
Saldi Isra
JEBAKAN NEGARA PENDAPATAN MENENGAH
Rokhmin Dahuri
KETIKA TERJADI KERUGIAN SUBSIDI
Dinna Wisnu
TIDAK AKAN BERHENTI KORUPSI?
Marwan Mas
PEMILU 2014 DAN KEAMANAN REGIONAL
Bantarto Bandoro
DAHSYATNYA KEYAKINAN
Komaruddin Hidayat
CAPRES DAN KEPEMIMPINAN DISTRIBUTIF
Fajar Riza Ul Haq
PANGGUNG TERAKHIR SBY
Bambang Soesatyo
MENGUKUHKAN PILKADA LANGSUNG
Jazuli Juwaini
DENNY MELAWAN ISU
Moh Mahfud MD
DIALOG KORUPSI AWAL TAHUN
Romli Atmasasmita
KADO UNTUK SBY?
Gun Gun Heryanto
MAULID DAN MORAL LI TERACY
Abdul Muti
MUHAMMAD: POTRET SANG PENCERAH
Faisal Ismail
MACHIAVELLIANISME ARIEL SHARON
Tom Saptaatmaja
HUKUM DI JUMAT PETANG
Margarito Kamis
MESIR MEMUTUSKAN
Dinna Wisnu
IRONI (NEGARA) HUKUM
W Riawan Tjandra
KPK BERWENANG MENUNTUT TPPU
Yunus Husein
PARTAI ISLAM, SKETSA BURAM 2014
Arya Budi
KPK: MENAKUTKAN DAN MENYENANGKAN
Moh Mahfud MD
MASA DEPAN MESIR (?)
Hasibullah Satrawi
BANJIR JAKARTA DAN SOLUSINYA
Rokhmin Dahuri
KASUS SKK MIGAS DAN KENYAMANAN ISTANA
Bambang Soesatyo
TI PPI NG POI NT, PROTEST VOTE, DAN SOCI AL MEDI A
Denny Charter
PELAJARAN BERHARGA PERBANKAN DAN TAHUN POLITIK
Paul Sutaryono
BENCANA YANG MENUMBUHKAN BANGSA
Achmad M Akung
BERPOLITIK DENGAN KELUHURAN
Mohammad Sobary
SAAT AKIL (MAKAN) KEMARUK
Biyanto
PEMBATASAN MASA JABATAN PRESIDEN
Denny Indrayana
KPK TIDAK BERWENANG MENUNTUT TPPU
Romli Atmasasmita



Menunggu iktikad baik SBY-Boediono
Koran SINDO
Rabu, 11 Desember 2013

EKSES pencairan dana LPS untuk menalangi Bank Century sudah dikonfirmasi Boediono,
mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang kini Wakil Presiden RI.

Etikanya, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono menunjukkan iktikad
baik. Caranya, all out memperjelas pertanggungjawaban atas gelembung dana talangan LPS
itu. Jika terus minimalis seperti sekarang, pemerintahan SBY-Boediono akan dinilai dan
dikenang sebagai rezim dengan manajemen pemerintahan paling bobrok dalam sejarah
Indonesia modern. Skandal ini terjadi dalam rentang waktu Oktober 2008 hingga seusai
pelaksanaan Pemilihan Presiden 2009.

Pada periode itu, SBY yang menjabat sebagai presiden RI dan Boediono sebagai gubernur BI
saat itu justru proaktif memperjuangkan fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) untuk
Bank Century. Maka, desakan kepada SBY-Boediono untuk menunjukkan iktikad baik
mempertanggungjawabkan ekses penggunaan dana Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
menjadi amat relevan.

Ini bukan lagi persoalan tekan-menekan atas nama interes politik. Esensi persoalannya harus
diletakkan dan dilihat dari aspek manajemen dan moral pemerintahan, aspek manajemen dan
moral bank sentral, aspek prosedur dan mekanisme pertanggungjawaban para pejabat tinggi
dan birokrat negara ketika bertindak atas nama kuasa dan wewenang mereka, serta aspek
terpenting lainnya, yakni prinsip pemerintahan yang bersih. Itulah titik pijak desakan tadi
karena megaskandal Bank Century melibatkan penggunaan triliunan rupiah dana LPS.

Dalam konteks ini, tidak penting lagi memperdebatkan apakah dana di brankas LPS itu uang
negara atau akumulasi iuran bank-bank umum. Dana LPS itu milik publik. Maka, dari aspek
moral, penggunaannya pun harus bisa dipertanggungjawabkan sejelas-jelasnya kepada publik
pula, apa adanya, tanpa rekayasa. Konstruksi pemahaman publik terhadap skandal Bank
Century sedikit bergeser menyusul penegasan Boediono mengenai misteri gelembung dana
talangan.

Melalui penjelasan pers seusai menjalani pemeriksaan KPK belum lama ini, mantan
Gubernur BI itu menegaskan, dana talangan awal yang direkomendasikan BI untuk Bank
Century hanya Rp632 miliar. Talangan membengkak jadi Rp2,5 triliun, kemudian
menggelembung sampai Rp6,7 triliun saat berada di tangan LPS dan pengawas Bank Century
yang kemudian diubah menjadi Bank Mutiara.

Boediono kemudian menambah bobot kebingungan publik dengan mengatakan bahwa
legalitas tindakan terhadap Bank Century adalah pengambilalihan, bukan bailout. Setelah
itu, yang terjadi adalah antara LPS dan pengawas bank. Saya kira di situ jawabannya, kata
Boediono. Tak mau dikambinghitamkan begitu saja, Ketua Dewan Komisioner LPS, Heru,
langsung membantah Boediono.

LPS, berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004, harus melaksanakan mandat
yang ditetapkan KSSK maupun komite koordinasi. Tidak ada opsi lain dalam melaksanakan
mandat itu karena diatur dalam undangundang, kata Heru seusai menjalani pemeriksaan
KPK belum lama ini.

Gagap
Sejak awal, para pihak yang terlibat langsung dalam perhitungan, pencairan, dan penyerahan
dana talangan itu sudah terlihat gagap ketika adu argumentasi sampai pada tema
pertanggungjawaban. Gagap pertama berkaitan dengan fakta bahwa semua proses hingga
cairnya dana talangan sampai Rp2,5trliun dari rekomendasi BI Rp632 miliar yang disetujui
KSSKtidak dilaporkan ke Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai pelaksana tugas (Plt)
presiden saat itu.

Kedua, curahan hati Ketua KSSK/Menteri Keuangan Sri Mulyani kepada Yusuf Kalla bahwa
dia merasa telah dibohongi orang-orang BI. Keluh kesah Sri Mulyani ini saja sudah menjadi
persoalan besar tersendiri. Ketua KSSK tahu dia telah dibohongi BI. Berarti, Sri Mulyani
sendiri gagap untuk bertanya kepada Gubernur BI Boediono yang merangkap sebagai
anggota KSSK itu.

Dan, kepada Pansus DPR, Sri Mulyani tegas-tegas hanya mau bertanggung jawab atas dana
talangan Rp632 miliar, sama dengan klaim Boediono. Ketiga, dalam suasana gagap pula,
pada Selasa 25 November 2008, para pihak itu melapor kepada Plt Presiden Jusuf Kalla.
Mereka melapor ketika eksesnya sudah tak bisa dikendalikan lagi karena Rp2,5 triliun itu
langsung raib ditarik deposan besar Bank Century.

Laporan ini membuat Kalla terkejut dan marah. Dia memerintahkan Polri menangkap pemilik
Bank Century Robert Tantular. Apakah reaksi plt presiden itu bisa menghentikan pencairan
dana talangan untuk Bank Century? Ternyata, pencairan tidak berhenti di angka Rp2,5 triliun
itu. Pencairan dan penyerahan dana talangan masih terus berlangsung, mulai akhir November
2008 berlanjut hingga menjelang Pemilu Legislatif April 2009 sampai pascapemilihan
presiden Juni 2009.

Tercapailah gelembung dana talangan itu hingga angka Rp6,7 triliun. Gagap berikutnya
adalah pola cuci tangan Boediono ketika dia melimpahkan tanggung jawab penggelembungan
dana talangan itu kepada LPS dan pengawas bank. Bantahan LPS sudah lebih dari cukup
untuk menggambarkan ketidakberesan perhitungan dan pencairan dana talangan itu.

Kalau Boediono juga mengambinghitamkan pengawas bank, dia juga harus memikul
kesalahan itu karena fungsi pengawasan bank saat itu mutlak wewenang BI. Boediono juga
menegaskan, Bank Century tidak di-bailout, melainkan diambil alih. Untungnya, masyarakat
tidak ikut-ikutan gagap.

Maka, dibukalah dokumen 21 November 2008 yang memuat pernyataan Robert Tantular.
Dia, dalam kapasitasnya sebagai direktur utama PT Century Mega Investindo, minta
diikutsertakan dalam penanganan PT Bank Century Tbk oleh LPS.

Dalam dokumen itu, Robert menyatakan siap menyetor tambahan modal minimal 20% dari
perkiraan biaya penanganan yang ditetapkan LPS dalam jangka waktu 35 hari sejak surat
pernyataannya ditandatangani. Maka, sangat jelas Bank Century sejatinya di-bailout karena
pemegang saham lama dilibatkan dalam proses itu, bukan diambil alih.

Iktikad menelusuri
Akhirnya, sampailah pada pertanyaan mengenai bagaimana caranya agar persoalan
gelembung dana talangan itu terang-benderang? Kalau semuanya bisa dibuat sangat jelas,
akan terlihat siapa yang seharusnya bertanggung jawab. Persoalannya terpulang pada iktikad
baik Presiden SBY dan mantan Gubernur BI yang kini menjabat sebagai wakil presiden,
Boediono.

Persoalan ini mestinya membuat kedua pemimpin merasa tidak nyaman karena sudah
mencoreng reputasi pemerintahan mereka. Menjadi sangat aneh jika keduanya minimalis.
Dari sisi Presiden SBY, yang perlu dilakukan adalah memanggil mantan Menteri
Keuangan/mantan Ketua KSSK, Sri Mulyani.

Dari Sri Mulyani, Presiden bisa meminta penjelasan serta pertanggungjawaban atas
keputusan KSSK dan tindakan LPS menggelembungkan dana talangan. Sudah barang tentu,
Presiden juga harus memanggil pimpinan LPS karena sesuai dengan UU LPS Pasal 2 LPS
bertanggung jawab ke Presiden.

Kepada LPS misalnya, Sri Mulyani sebagai ketua KSSK bisa mempertanyakan legalitas apa
yang digunakan sehingga manajemen LPS berani mencairkan dan menyerahkan dana
talangan sampai Rp6,7 triliun itu? Apakah dengan persetujuan dan sepengetahuan Presiden
atau inisiatif LPS sendiri. Boediono, sebagai anggota KSSK, pun bisa mengajukan
pertanyaan serupa kepada LPS.

Persoalan penting lain yang juga perlu diperjelas Boediono adalah mekanisme pengeluaran
uang kas ratusan miliar hingga triliunan rupiah dari gudang BI. Tidakkah menjadi hak mutlak
Gubernur BI untuk mendapatkan laporan mengenai pengeluaran uang kas sebanyak itu dari
gudang BI? Karena tindakan LPS berdasarkan mandat dari KSSK, Sri Mulyani sebagai ketua
dan Boediono sebagai anggota KSSK harus bertemu untuk mencari sebab-musabab ekses
pencairan dan penyerahan dana talangan Bank Century.

Benar bahwa KPK bisa melaksanakan sebagian pekerjaan itu. Tapi, SBY, Boediono, dan Sri
Mulyani harus menunjukkan iktikad baik dengan cara mengambil prakarsa untuk membuat
persoalannya terang benderang dari aspek kewenangan masing-masing. Terpenting, semua
hasil penelusuran itu dibuka kepada publik. Kalau tidak ada iktikad baik dari SBY, Boediono,
dan Sri Mulyani, rakyat akan berkesimpulan bahwa ada yang disembunyikan di balik ekses
penggelembungan dana talangan Bank Century.

Risikonya, lima tahun pemerintahan SBY-Boediono akan dikenang sebagai rezim dengan
manajemen pemerintahan paling bobrok karena gagal mempertanggung jawabkan gelembung
dana talangan Bank Century.


BAMBANG SOESATYO
Anggota Timwas Century DPR Fraksi Partai Golkar


















Akil, Atut, dan Angie

Koran SINDO
Selasa, 7 Januari 2014

DALAM hitungan pergeseran waktu, baru beberapa hari kita berpisah dan meninggalkan
tahun 2013. Artinya, dalam hitungan hari pula kita menginjak penanggalan yang baru: tahun
2014. Biasanya, pergeseran waktu selalu menjadi momentum evaluasi untuk menilai
keberhasilan dan kegagalan yang terjadi sepanjang tahun yang baru saja berlalu.

Sekiranya pun terdapat catatan kegagalan, tidak harus menjadi sesuatu yang diratapi
berkepanjangan. Sebaliknya, bila ada catatan keberhasilan yang diraih, tidak pula menjadi
alasan berpuas diri. Secara positif, keduanya harus jadi modal melangkah di tahun yang baru
menghampiri. Sepanjang tahun 2013, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi HM Akil Mochtar
(Akil), Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah (Atut), dan mantan politisi muda berpengaruh
Partai Demokrat Angelina Sondakh (Angie) merupakan tiga nama yang amat menonjol.

Meskipun berada pada rentang waktu tiga bulan terakhir 2013, dalam batas-batas tertentu,
kejadian yang menimpa triple A (Akil-Atut-Angie) lebih dari cukup dijadikan sebuah
refleksi. Dari sisi penegakan hukum dan penyelenggaraan pemerintahan, tragedi yang
menimpa mereka menggambarkan sukses yang berbalut kepahitan.

Cerita sukses
Secara sederhana, dalam konteks penegakan hukum, nasib tragis Akil-Angie-Atut merupakan
cerita sukses. Skandal Akil, misalnya, menjadi cerita sukses Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) dalam mengendus praktik suap penyelesaian sengketa pemilihan kepala daerah di
Mahkamah Konstitusi (MK). Artinya ketika Akil tertangkap, tidak ada lagi lembaga negara
yang bebas dari sentuhan KPK.

Bahkan, penangkapan Akil dapat dikatakan capaian terbesar KPK mengendus perilaku
menyimpang penyelenggara negara dengan posisi paling tinggi. Padahal, sebelum
tertangkapnya Akil, sebagian pihak berpandangan bahwa sulit bagi KPK untuk menyentuh
MK.

Alasannya cukup mendasar, MK selalu membentengi KPK atas semua upaya dan langkah
hukum yang hendak berupaya mengerdilkan dan menghancurkan lembaga yang diberi kuasa
extra-ordinary dalam memberantas korupsi ini.

Buktinya, selain menolak judicial review sejumlah undang-undang di ranah pemberantasan
korupsi, MK pun berperan cukup signifikan membantu KPK keluar dari ancaman
kriminalisasi atas pimpinan KPK Bibit-Chandra. Bahkan, masa jabatan Busyro Muqoddas
pun bisa diselamatkan menjadi empat tahun tak terlepas dari peran MK.

Namun bagi KPK, penegakan hukum pemberantasan korupsi bukan persoalan balas budi.
Sekalipun MK merupakan salah satu benteng dari segala macam bentuk perlawanan terhadap
agenda pemberantasan korupsi, praktik korupsi harus dimusnahkan.

Apalagi jika praktik tersebut dilakukan oleh individu yang berpotensi menghancurkan
institusi. Bahkan, dalam soal ini, posisi sesama produk reformasi pun tidak mampu
menghentikan langkah KPK dalam bertindak tegas terhadap berkembangnya kanker ganas
bernama korupsi.

Karena itu, upaya KPK menguak praktik suap yang dilakukan Akil menjadi cerita sukses
dengan nilai tersendiri. Cerita sukses penangkapan Akil menjadi kian bermakna karena
mampu bergerak ke salah satu episentrum indikasi korupsi pemerintahan daerah.

Penelusuran KPK, Atut diduga memerintahkan Tb Chaeri Wardana (yang juga adik Atut)
untuk menyuap Akil. Tertangkapnya Wawan menjadi semacam pintu masuk untuk membuka
kontak pandora jejaring dinasti politik Atut di Banten. Ternyata memang tidak perlu waktu
lama dan tanpa menunggu pergantian tahun, Atut ditetapkan sebagai tersangka. Tidak
berhenti dengan status hukum baru tersebut, Atut pun ditahan KPK.

Dari penelusuran awal KPK, Atut tidak hanya terindikasi menjadi pihak yang memberi
perintah untuk melakukan penyuapan dalam kasus Lebak, ia juga terindikasi memiliki peran
besar dalam pengadaan alat kesehatan di Provinsi Banten.

Langkah KPK tak hanya mengancam Atut dan Wawan, tetapi juga potensial menjadi
hantaman gelombang besar terhadap dinasti politik Atut. Tidak hanya di tingkat penyidikan,
pengadilan juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Misalnya, Angie yang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta divonis majelis hakim
empat tahun enam bulan dan denda Rp250 juta. Namun di tingkat kasasi, Angie menerima
kenyataan pahit: majelis hakim memperberat hukuman menjadi 12 tahun penjara dan
hukuman denda Rp500 juta. Tak hanya memperberat hukuman badan, majelis hakim
menjatuhkan pula pidana tambahan berupa pembayaran uang pengganti Rp12,58 miliar dan
USD2,35 juta.

Dari berbagai perspektif, putusan kasasi Angie tidak hanya sekadar memulihkan rasa
keadilan masyarakat tetapi juga memiliki pesan yang begitu kuat dalam desain besar agenda
pemberantasan korupsi. Pesan di balik putusan Angie: penjatuhan hukuman harus memiliki
rasa takut dan memiskinkan pelaku korupsi.

Berbalut kepahitan
Di antara cerita sukses tersebut, sebagiannya justru menghadirkan kepahitan yang tidak
terperikan. Misalnya, keberhasilan KPK menangkap Akil justru menjadi cerita pahit bagi
MK. Sebagai salah satu lembaga yang menonjol eksistensinya di tengah karut-marut
penegakan hukum di negeri ini, tiba-tiba MK bak dilanda gelombang panas yang
mahadahsyat. Kejadian yang menimpa Akil benar-benar menggoyahkan kepercayaan
masyarakat pada MK.

Boleh jadi, sebagai dampak dari peristiwa penangkapan Akil, MK memerlukan waktu cukup
lama untuk kembali ke kondisi sedia kala. Meskipun demikian, sebagian kalangan tetap
melihat penangkapan Akil secara positif dan sebagai sesuatu yang harus disyukuri. Sekiranya
Akil tidak tertangkap dan perilaku suap berkembang terus-menerus, tanpa disadari MK akan
ambruk pelan-pelan hingga tidak bisa lagi diselamatkan.

Namun, bila dikaitkan dengan peran MK dalam menghadapi Pemilu 2014, pandangan positif
tersebut sulit meluruhkan kepahitan dari dampak penangkapan Akil. Yang ditakutkan, bila
MK gagal memulihkan kepercayaan masyarakat dalam waktu yang relatif singkat, sangat
mungkin akan muncul masalah serius menghadapi penyelesaian sengketa Pemilu 2014.
Secara keseluruhan, skandal di sekitar Akil-Atut- Angie membuktikan satu hal: betapa
dahsyatnya praktik korupsi menghinggapi negeri ini.

Sekalipun upaya memeranginya telah dilakukan dengan cara yang extra-ordinary sejak
sekitar 15 tahun yang lalu, praktik korupsi masih sulit dihentikan. Bahkan, dalam batasbatas
tertentu, praktik korupsi terasa kian masif dan sistemik.

Selain itu, Akil-Atut-Angie sekaligus meneguhkan fakta empirik betapa korupsi
mengeroposkan tiga cabang utama kekuasaan negara, yaitu legislatif, eksekutif, dan
yudikatif. Banyak kalangan percaya, sekiranya KPK memiliki sumber daya yang memadai,
bisa jadi lebih banyak lagi skandal korupsi yang terkuak ke permukaan.

Di atas itu semua, memulai tahun 2014, skandal korupsi yang melilit Akil-Atut-Angie kian
menegaskan satu hal penting: meski memberantas korupsi memerlukan waktu panjang dan
melelahkan, jangan pernah ada kata berhenti melawan korupsi.

Apalagi, sepanjang tahun 2013 kita memiliki banyak cerita sukses dalam memberantas
korupsi. Semoga balutan sukses dan kepahitan yang terjadi di tahun 2013 mampu menjadi
energi untuk terus menggelorakan perang melawan korupsi di tahun 2014. Semoga.


SALDI ISRA
Guru Besar Hukum Tata Negara dan Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO)
Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang

Jebakan negara pendapatan menengah
Koran SINDO
Rabu, 8 Januari 2014

SEPERTI halnya kehidupan seorang insan, pertumbuhan dan kemajuan sebuah negara-
bangsa pun melalui tahapan demi tahapan. Tidak ada negara yang begitu lahir, langsung
menjadi maju dan makmur.

Dari segi pendapatan per kapita penduduknya, negara-negara di dunia digolongkan menjadi
tiga kelompok: negara berpendapatan rendah (PDB per kapita lebih kecil dari USD1.000),
menengah (PDB per kapita lebih besardari USD1.000 sampai USD10.000), dan tinggi (PDB
per kapita lebih besar dari USD10.000) (Bank Dunia, 2001). Semua bangsa tentu ingin
negaranya menjadi maju dan makmur (berpendapatan tinggi). Namun, rupanya tidak mudah
bagi sebuah negara untuk naik kelas dari berpendapatan menengah ke berpendapatan tinggi.

Buktinya dari 113 negara yang telah berstatus berpendapatan menengah sejak 1960, hanya 13
negara yang sampai sekarang berhasil naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi, antara
lain Jepang, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, Singapura, Arab Saudi, dan Qatar. Lalu,
bagaimana dengan Indonesia?

Suatu negara dikatakan tidak terperangkap jebakan negara berpendapatan menengah (middle-
income trap), bila ia mampu naik kelas dari negara berpendapatan menengah ke
berpendapatan tinggi dalam waktu paling lama 42 tahun. Indonesia hingga kini telah 26 tahun
berstatus sebagai negara berpendapatan menengah. Artinya, jika tidak ingin terjebak dalam
middle-income trap, PDB per kapita Indonesia pada tahun 2030 atau 16 tahun lagi harus lebih
besar dari USD10.000.

Kendala dan permasalahan
Indonesia menikmati pertumbuhan ekonomi tinggi hanya 9 tahun, sejak naik kelas dari
negara berpendapatan rendah ke berpendapatan menengah pada 1988 sampai krisis ekonomi
pada 1997. Dari 1997 hingga 1999, perekonomian Indonesia tumbuh negatif. Baru pada
tahun 2000 ekonomi mulai tumbuh positif dan perlahan meningkat, sehingga menghasilkan
rata-rata pertumbuhan ekonomi 5,4% per tahun dari 2002 sampai 2012 (Mc Kinsey, 2012).

Dalam dekade terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagian besar (70%) bertumpu pada
sektor non-tradable, konsumsi, impor, dan ekspor komoditas mentah, bukan dari investasi
sektor riil tradable. Sejumlah industri unggulan yang sejak Orde Baru menjadi andalan
perekonomian nasional, seperti tekstil, automotif, dan elektronik, ternyata sebagian besar
bahan baku dan bahan penolongnya berasal dari impor yang sangat volatil terhadap fluktuasi
ekonomi dunia.

Yang lebih memilukan, sejak diberlakukannya CAFTA (China-ASEAN Free Trade
Agreement), volume dan nilai impor migas, tekstil, elektronik, dan produk pangan pun terus
membengkak. Inilah yang menyebabkan defisit neraca perdagangan selama dua tahun
terakhir, dan defisit transaksi berjalan sejak enam bulan lalu. Pada triwulan-II tahun ini,
transaksi berjalan mengalami defisit USD9,8 miliar atau 4,4% terhadap PDB.

Lebih dari itu, karena pertumbuhan ekonomi terlalu mengandalkan pada konsumsi, sektor
non-tradable, dan investasi porto-folio, maka sebagian besar kegiatan ekonominya
berlangsung di Jabodetabek dan kota-kota besar, dan hanya sedikit menciptakan lapangan
kerja. Sekitar 60% total investasi terdapat di Pulau Jawa, yang luasnya hanya 6% dari total
luas lahan Indonesia.

Dalam pada itu, sektor pertanian, kelautan dan perikanan yang menjadi sumber mata
pencaharian dari 49% total angkatan kerja Indonesia (123 juta orang) mengalami penurunan
produktivitas dan daya saing, terutama akibat kebijakan pemerintah yang tidak berpihak
kepada dua sektor ini.

Kekeliruan pemerintah dalam mengembangkan pertumbuhan ekonomi telah menyebabkan
rendahnya kapasitas produksi dan daya saing nasional. Akibat dari kapasitas produksi
nasional yang lebih rendah ketimbang laju konsumsinya, dan daya saing bangsa yang rendah,
maka setelah tumbuh cukup tinggi di atas 6% selama 20102012, sejak awal tahun lalu mesin
perekonomian Indonesia mulai kepanasan. Pada 2013, ekonomi hanya tumbuh 5,7% dari
target 6,4%, dan tahun ini diperkirakan laju pertumbuhannya akan semakin menurun menjadi
5,4%.

Jika kita tidak segera melakukan perubahan mendasar dalam struktur ekonomi dan industri
nasional, dan dalam hal etos kerja, maka bukan mustahil Indonesia bakal terjebak dalam
middle-income trap. Artinya, Indonesia tidak bisa menjadi negara maju, adil-makmur, dan
berdaulat. Oleh karena itu, tantangan utama bagi Presiden terpilih pada Pilpres 2014 adalah
bagaimana mengeluarkan Indonesia dari jebakan negara berpendapatan menengah.

Keluar dari jebakan
Saat ini PDB per kapita Indonesia sebesar USD5.170, alias negara berpendapatan menengah-
bawah. Maka untuk naik kelas dari negara berpendapatan menengah ke berpendapatan tinggi,
kita harus mampu meningkatkan PDB per kapita sedikitnya USD4.831 dalam 16 tahun ke
depan (2030).

Pengalaman empiris dari semua negara yang berhasil naik kelasdari negara berpendapatan
menengah ke berpendapatan tinggi adalah bahwa mereka mampu menghasilkan pertumbuhan
ekonomi yang tinggi (rata-rata di atas 7% per tahun) dan berkualitas (menyerap banyak
tenaga kerja dengan ratarata pendapatan per kapita lebih besar dari USD10.000 dolar) dalam
waktu lama.

Pada tataran makro, kondisi pertumbuhan ekonomi semacam itu mereka raih dengan cara
mengembangkan daya saing ekonomi nasional berbasis inovasi, SDM berkualitas, dan
memanfaatkan SDA yang dimilikinya secara berkesinambungan. Pada tataran mikroekonomi,
pemerintah membangun infrastruktur, suplai energi, kemudahan berbisnis, dan iklim investasi
yang kondusif bagi tumbuh kembangnya perusahaan-perusahaan swasta, BUMN, koperasi,
atau unit-unit bisnis UKM berkelas dunia.

Maka untuk keluar dari middle-income trap, kita harus melakukan strategi pembangunan
ganda (a dual-track development strategy) secara simultan. Pada jalur (track) pertama, dalam
jangka pendek sampai menengah (1 sampai 5 tahun mendatang), kita mesti menghasilkan
pertumbuhan ekonomi yang tinggi (di atas 8% per tahun) yang dapat menyerap banyak
tenaga kerja dengan pendapatan rata-rata sedikitnya USD7.250 (pendapatan minimal untuk
negara berpendapatan menengah atas) dan tersebar secara proporsional di seluruh wilayah
NKRI secara berkelanjutan.

Ini sangat mungkin kita realisasikan dengan meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan
daya saing sektor-sektor ekonomi SDA (pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan,
ESDM, dan pariwisata) secara berkeadilan dan ramah lingkungan. Melakukan ekstensifikasi
dan diversifikasi sektor ekonomi SDA berbasis inovasi ramah lingkungan, terutama di luar
Jawa dan Bali. Selain itu, kita harus melaksanakan revitalisasi industri-industri yang selama
ini menjadi unggulan nasional.

Di jalur kedua, mulai sekarang sampai 25 tahun ke depan (jangka panjang), kita harus secara
terencana, sistematis, dan berkesinambungan melakukan transformasi struktur ekonomi
nasional. Ini meliputi realokasi sejumlah aset ekonomi produktif dari sektor pertanian,
kehutanan, dan perikanan tradisional; dan sektor ESDM yang selama ini minim hilirisasi dan
tidak ramah lingkungan ke sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan modern yang ramah
lingkungan; sektor ESDM dengan hilirisasi yang ramah lingkungan; sektor industri; dan
sektor jasa yang lebih produktif, bernilai tambah, dan berdaya saing.

Selain itu, transformasi struktur ekonomi juga berarti upaya peningkatan kapasitas
bangsauntuk:(1) mengembangkan dan mendiversifikasi struktur produksi domestik; (2)
mengembangkan sektor-sektor ekonomi baru yang lebih produktif dan berdaya saing (seperti
kelautan, industri kreatif, teknologi informasi, transportasi, komunikasi, energi baru dan
terbarukan, bioteknologi, nanoteknologi, dan newmaterials);(3) memperkukuh keterkaitan
ekonomi (economic linkages) antarsektor pembangunan dan antar wilayah didalam negeri;(4)
meningkatkan kapasitas teknologi nasional; dan (5) meningkatkan peran Indonesia dalam
sistem rantai produksi global (global supply chain system) untuk kepentingan nasional.

Untuk mendukung kedua strategi pembangunan itu mutlak diperlukan SDM Indonesia yang
lebih berkualitas, memiliki pengetahuan, keahlian, etos kerja unggul, dan akhlak mulia. Di
era globalisasi dan global warming ini, kita juga membutuhkan SDM yang memiliki
kreativitas, inovasi, kemampuan memecahkan masalah, dan sadar serta peduli lingkungan. Di
sinilah kita harus secara fundamental memperbaiki sistem pelayanan kesehatan, pendidikan,
dan R & D (penelitian dan pengembangan) supaya mampu memenuhi kebutuhan
pembangunan nasional dan dinamika global.

Supaya a dual-track development strategy di atas dapat berjalan dengan baik, kita harus
merestorasi dan mengembangkan tata ruang wilayah, infrastruktur, logistik, suplai energi,
serta kemudahan berbisnis dan iklim investasi yang atraktif di seluruh wilayah nusantara,
khususnya di luar Jawa dan Bali.

Lebih dari itu, sistem politik hukum harus dapat menjamin stabilitas yang dinamis, rasa
aman, keadilan dan kepastian hukum, kesinambungan dan konsistensi kebijakan pemerintah,
dan terbangunnya masyarakat meritokrasi, yakni sebuah sistem kehidupan masyarakat yang
dapat menumbuhkembangkan SDM berkualitas, warga negara yang baik, bekerja keras,
cerdas, dan ikhlas untuk kemajuan, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsanya. Sebaliknya,
mencegah, memberikan hukuman yang berat, dan meminimalisasi jumlah warga negara yang
jahat, malas, preman, dan komprador.


PROF DR IR ROKHMIN DAHURI
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Maritim dan Perikanan















Ketika terjadi kerugian subsidi
Koran SINDO
Rabu, 8 Januari 2014

SEBUAH iklan layanan masyarakat yang dimodali Bank Indonesia muncul beberapa minggu
lalu di hampir seluruh televisi nasional dan disiarkan di jam-jam penting (prime time). Iklan
layanan tersebut menganjurkan agar masyarakat tidak perlu panik menghadapi kenaikan
harga-harga komoditas.

Salah satu cara yang diusulkan dalam iklan tersebut adalah mengubah kebiasaan dalam
mengonsumsi barang komoditas. Misalnya apabila kita ingin mengonsumsi protein, namun
harga daging sapi mahal, kita mencari sumber protein yang lebih murah seperti tempe, ikan,
dan lainnya.

Dengan cara demikian, konsumen dapat mengalahkan pasar dan tetap mendapatkan apa
yang diinginkan. Yang repot adalah ketika barang yang lebih murah ternyata disubsidi
pemerintah. Contohnya kasus kelangkaan gas yang terjadi minggu ini.

Karena kebutuhan gas tetap, padahal gaji tidak naik dan kenaikan harga gas elpiji 12 kg lebih
dari 50% bahkan di sejumlah daerah yang jauh dari Ibu Kota bisa lebih dari 100%,
masyarakat mengejar gas elpiji 3 kg. Jika konsisten dengan iklan layanan masyarakat di atas,
pemerintah berharap masyarakat akan beralih menggunakan kayu bakar atau minyak tanah.

Problemnya, penggunaan barang substitusi sebenarnya menyangkut gaya hidup dan
ketersediaan alternatif. Saat ini masyarakat sudah terbiasa, dan dulunya pemerintah juga yang
membiasakan, agar masyarakat memasak dengan elpiji.

Ternyata kebiasaan baru ini menjadi pengantar pasar untuk masuk, mengatur, dan mendikte
cara hidup kita. Kita tak bisa lepas dari gas, padahal pasokan elpiji kita ternyata belum
konsisten.

Yang juga ironis adalah Indonesia sudah 15 tahun pada Era Reformasi dan ketika memasuki
era ini kita pernah bertekad untuk memerangi korupsi, kolusi, dan nepotisme yang
menggerogoti pengelolaan negara ini, termasuk BUMN (badan usaha milik negara). Kita
masih ingat betapa BUMN lebih lekat konotasinya dengan pelayanan bagi kepentingan bisnis
konglomerat tertentu.

Kita geram bahwa BUMN sekadar menjadi mesin anjungan tunai mandiri bagi pejabat, selalu
kalah saing bahkan dengan BUMN negara lain. Pertamina pernah terpenjara dalam
kungkungan setan tersebut, rugi besar.

Atas dasar pertimbangan itu dan agar kompetisi usaha menjadi sehat, beberapa sektor seperti
minyak, gas, batu bara, mineral, atau telekomunikasi mulai dibuka untuk modal-modal asing.
Selain karena tujuan agar sektor-sektor itu dikelola oleh perusahaan yang lebih kompetitif,
negara transisi demokrasi saat itu juga membutuhkan modal asing untuk menutupi utang-
utangnya kepada Bank Dunia dan IMF.

BUMN pun ditegaskan untuk mencari laba dan diwanti-wanti agar tidak merugi seperti pada
Orde Baru. Beberapa BUMN pun kemudian melakukan transformasi menjadi perusahaan
publik. Beberapa di antaranya mencatatkan saham mereka di Bursa Efek Indonesia seperti PT
Garuda, PT Wika, Jasa Marga, Telkom, dan lainnya. Ini berimbas pada perusahaan-
perusahaan daerah.

Contoh yang paling nyata adalah privatisasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang
dulu terpusat dan sekarang mulai terdesentralisasi di bawah kewenangan pemerintah daerah
masing-masing.

Masalahnya, tidak seluruh komoditas dan sektor dapat diperlakukan sama. Ada komoditas
tertentu yang tetap memerlukan campur tangan negara agar dapat dinikmati hasilnya oleh
masyarakat seperti listrik, air, dan gas.

Sektor transportasi udara tidak memiliki masalah serius ketika diliberalisasi karena akan
membuka investor untuk membangun maskapai yang dapat menyaingi PT Garuda. PT
Garuda mau tidak mau harus melakukan perbaikan manajemen agar dapat memberikan
pelayanan maksimal dan tidak ditinggal penumpang.

Penumpang memiliki banyak pilihan maskapai lain untuk terbang selain Garuda sehingga
mereka bisa diuntungkan dari segi pilihan harga tiket atau mutu pelayanan yang diberikan.
Pendekatan tersebut tidak berjalan baik di sektor seperti listrik atau air.

Di Indonesia harga listrik telah ditetapkan oleh pemerintah seperti harga bensin atau gas
karena dianggap berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak dan perekonomian nasional.
Harga jual listrik PLN kepada konsumen lebih rendah dari biaya produksinya.

Sebagai catatan, menurut auditBadanPemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2010, ongkos
produksi atau biaya pokok penjualan PLN sebesar Rp1.089/kWh sementara harga jual kepada
konsumen adalah Rp693/kWh.

Dengan demikian, pemerintah memberikan subsidi listrik Rp1.089-693/kWh= Rp 396/ kWh.
Hal yang sama juga terjadi pada gas elpiji 12 Kg. Harga pokok perolehan mencapai Rp10.785
per kg, sedangkan harga yang dinikmati masyarakat sebesar Rp5.850 per kg.

Selisih tersebut yang kemudian harus ditanggung Pertamina. (Namun, saya belum tahu,
apakah kerugian itu ditalangi pemerintah seperti yang terjadi di PLN atau tidak) Hal yang
sama juga terjadi pada sektor perusahaan air minum di daerah-daerah. Dengan harga jual
yang ditetapkan rendah, sulit sekali untuk menemukan investor yang mau menanamkan
modal di sektor- sektor tersebut.

Perlu waktu yang lama bagi investor di ketenagalistrikan untuk balik modal, padahal naluri
para investor untuk segera dapat menikmati keuntungan. Ini belum ditambah dengan masalah
terbatasnya pasokan atau input produksi seperti gas atau batu bara yang sudah telanjur dijual
kepada pihak asing untuk kontrak jangka panjang sehingga pembangkit listrik menjadi sangat
bergantung pada bahan bakar fosil atau minyak yang harganya terus meninggi dan
menggunakan kurs dolar.

Sebab itu, jangan heran apabila daerah yang terjangkau listrik di Indonesia hanya mencapai
78%. Indonesia tertinggal jauh bahkan dari Vietnam yang sudah mencapai 97,6%, sementara
Singapura 100%, Malaysia 99,4%, atau Filipina 89,7%.

Gambaran serupa juga terjadi dalam penyediaan gas elpiji. Karena setiap sektor atau
komoditas memiliki beban politik dan ekonomi yang tidak sama, pemerintah dalam hal ini
BPK perlu lebih bijak dalam menafsirkan kerugian yang ditimbulkan antara BUMN yang
menyediakan layanan dasar (essential services) seperti listrik, air, dan gas dengan BUMN di
sektor komunikasi, konstruksi, hotel, dan lainnya.

Rakyat harus dapat dengan mudah dan murah mengakses listrik, air bersih, dan sumber
energi lain agar mereka dapat mengakses pelayanan yang lain. Tanpa listrik murah, anak-
anak keluarga miskin tidak dapat membaca di malam hari sehingga pendidikan terbengkalai,
demikian pula pasokan ke air bersih melalui pompa akan terganggu sehingga ada risiko
sanitasi dan kesehatan.

Tentu kita juga perlu kritis agar pengecualian kerugian dari BUMN yang melayani hajat
hidup orang banyak tidak menjadi pembenaran atas ketidakberesan kebijakan dan koordinasi
di pemerintah.

Contoh yang paling relevan misalnya pembangunan infrastruktur yang lamban dan belum
terlihat hasilnya sampai saat ini. Kita patut bertanya, mengapa pembangunan infrastruktur
seperti kilang minyak, jalur pipa gas, atau jalan raya yang sebetulnya dapat mengurangi
subsidi pemerintah terhadap ongkos produksi BUMN tidak ada kemajuan?


DINNA WISNU, PhD
Co-Founder & Direktur Pascasarjana Bidang Diplomasi, Universitas Paramadina
@dinnawisnu

Tidak akan berhenti korupsi?
Koran SINDO
Kamis, 9 Januari 2014

MEMASUKI tahun 2014, kita merasa gerah membaca dan menonton berita di media massa
para pejabat korup ditangkap dan digiring ke ruang tahanan oleh Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK). Boleh jadi juga ada yang merasa iba dan kasihan, tetapi melihat fakta betapa
besarnya uang negara yang dikorup untuk kepentingan pribadi, rasa iba berubah menjadi
geram dan sakit hati.

Mereka seenaknya menyalahgunakan wewenang yang dipercayakan rakyat, sehingga wajar
jika kita sangsi kalau korupsi akan berkurang. Sudah lebih lima belas tahun pemerintahan
reformasi melakukan perang terhadap korupsi, tetapi korupsi tak kunjung berhenti, bahkan
sudah merambah ke daerah. Data Kementerian Dalam Negeri tahun lalu menunjukkan sudah
lebih dari 160 kepala daerah, 18 di antaranya gubernur dan mantan gubernur tersangkut kasus
korupsi.

Maka itu, kita kecewa oleh rezim yang berkuasa yang masih setengah hati memerangi
korupsi. Sepertinya KPK jalan sendiri mengungkap kasus-kasus korupsi yang terkait dengan
pemangku kekuasaan, baik di pusat (kementerian dan DPR) maupun di daerah seperti
Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.

Memasuki tahun politik, ada rasa pesimistis bagi publik kalau para elite politik dan
kekuasaan tidak akan berhenti melakukan korupsi. Ketegasan KPK sepertinya belum akan
membawa pesan berarti untuk takut melakukan korupsi lantaran perang terhadap korupsi
tidak dilakukan secara sistematis dan masif.

Enaknya jadi koruptor
Kita perlu membalikkan pemahaman enaknya jadi koruptor. Para koruptor memiliki
jaringan luas dan bisa menunda-nunda proses hukum. Jikapun divonis bersalah, mereka akan
membeli fasilitas berkelas seperti kamar hotel berbintang di ruang penjara. Para koruptor
tetap merasa enak menikmati hasil korupsinya di dalam penjara. Hukuman penjara juga bisa
dipersingkat melalui fasilitas pengurangan masa tahanan (remisi) setiap tahun.

Rasa enak terbaru yang diperoleh koruptor, terutama koruptor jebolan anggota DPR adalah
menerima uang pensiun. Meskipun terbukti melakukan korupsi, sebelum dijatuhi sanksi lebih
dahulu mengundurkan diri sebagai anggota DPR agar mendapatkan hak pensiun. Benar yang
dikatakan Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas bahwa korupsi merupakan seni tingkat tinggi.
Akibatnya, berbagai modus dilakukan agar sulit dilacak oleh aparat hukum dengan cara-cara
biasa.

Para koruptor dan jaringannya memanfaatkan kelemahan hukum untuk lolos dan
menyembunyikan hasil korupsinya di luar negeri. Harus ada upaya strategis untuk membuat
koruptor merasa tidak enak, antara lain menjatuhkan hukuman maksimal sesuai ancaman
pidana pasal UU Korupsi yang dilanggar.

Minimal seperti vonis kasasi Mahkamah Agung yang menghukum Angelina Sondakh hampir
tiga kali lipat dari putusan sebelumnya. Begitu pula putusan Pengadilan Tinggi Tindak
Pidana Korupsi, Jakarta yang memperberat hukuman terdakwa Joko Susilo dalam kasus
simulator surat izin mengemudi di Korlantas Polri.

Penyidik juga harus mengefektifkan penerapan UU Pencucian Uang, dengan sasaran
mengejar aset hasil korupsi yang disembunyikan atau disamarkan dengan cara
mengalihkannya kepada pihak lain. Hukuman denda dan pembayaran uang pengganti sesuai
jumlah yang dikorupsi, juga harus dievaluasi dengan tidak menggunakan pidana subsider
(hukuman pengganti) berupa penjara yang biasanya tidak lebih dari satu tahun.

Dalam praktik, jaksa eksekutor kesulitan menyita aset terpidana karena sudah disembunyikan
di luar negeri. Sekiranya aset terpidana betul-betul sudah habis dan tidak mencukupi
pembayaran uang pengganti dan denda, hukuman diganti dengan kerja sosial selama jangka
waktu tertentu di institusi di mana terpidana melakukan korupsi. Honor dari kerja sosial
dikompensasi untuk membayar tunggakan uang pengganti dan denda. Selain bisa
menimbulkan rasa malu, juga dapat membuat calon koruptor merasa takut.

Gerakan antikorupsi
Jumlah aktivis antikorupsi saat ini semakin defisit, tidak sebanding dengan lahirnya talenta
baru koruptor. Gerakannya juga sudah biasa dan kurang menggigit, selain hanya melaporkan
kasus, mengikuti diskusi publik, atau pelatihan dan lokakarya, juga tidak bersinergi secara
nasional. Gerakan yang dilakukan lebih terkesan untuk menonjolkan lembaganya sendiri.
Kalaupun ada aktivis di daerah, itu pun dapat dihitung dengan jari dan aktivitasnya tidak
menggaung ke daerah lain.

Fenomena ini merupakan paradoks di tengah regenerasi dan reproduksi koruptor berusia
muda. Lantaran gerakan antikorupsi terkesan jalan sendiri, publik bersikap hatihati memberi
dukungan secara maksimal.

Padahal, untuk menekan tumbuhnya talenta baru koruptor, perlu ada gerakan radikal dan
gagasan terbaru dengan cara membangkitkan motivasi masyarakat untuk ikut secara aktif
melakukan perang terhadap korupsi. Para aktivis, mahasiswa, dan akademisi antikorupsi,
ataupun pers antikorupsi perlu duduk bersama untuk menggagas gerakan strategis.

Misalnya bagaimana mendorong penyidik, penuntut, dan hakim untuk berani melakukan
eksperimentasi hukum dengan menerapkan hukuman kerja sosial. Gagasan ICW yang
meminta agar tersangka korupsi yang digiring ke ruang pemeriksaan supaya diborgol, juga
patut diapresiasi.

Semuanya punya satu tujuan agar tercipta efek jera dan menimbulkan rasa tidak enak menjadi
koruptor. Saling menyalahkan, terutama yang tidak prinsip sebaiknya dievaluasi, kemudian
mengubahnya dengan pendekatan kerja sama.

Misalnya sharing informasi soal keberadaan aset koruptor yang diperoleh dari korupsi yang
selama ini sulit disita saat akan dieksekusi kejaksaan. Para aktivis antikorupsi perlu lebih giat
melakukan langkah progresif, sebab suara-suara yang mencoba mendeterminasi
mengguritanya korupsi, tidak boleh berujung hanya mimpi.

Tidak boleh takut oleh risiko keamanan dan keselamatan saat melakukan advokasi
antikorupsi. Kita harus tetap bersemangat. Kalau tidak, para koruptor akan terus merasa enak
yang boleh jadi akan memicu tumbuhnya talenta baru koruptor.


MARWAN MAS
Guru Besar Ilmu Hukum Universitas 45, Makassar















Pemilu 2014 dan keamanan regional
Koran SINDO
Kamis, 9 Januari 2014

PEMILIHAN presiden di sini akan berlangsung kurang dari delapan bulan. Publik berharap
semua calon presiden, dengan banyak amunisi yang mereka miliki, akan saling bertarung
dalam pemilu mendatang. Mereka akan melakukan pertempuran sengit dengan tekad kuat
untuk mendapatkan suara sebanyak mungkin dan memenangkan jabatan tertinggi di negara
ini.

Dalam pemilihan presiden nanti, yang dipertaruhkan tidak hanya reputasi mereka sebagai
politisi berkaliber tinggi, seperti yang ditunjukkan oleh mereka di depan publik secara
konstan, tetapi juga reputasi partai politik yang mencalonkan mereka.

Golkar, Gerindra, PDIP, Partai Demokrat, Hanura, PAN adalah sebagian dari partai politik
peserta pemilu yang menduduki halaman depan media cetak maupun elektronik. Banyak
yang menafsirkan kunjungan para petinggi partai politik kepada presiden SBY sebagai sinyal
dibangunnya sebuah koalisi.

Namun, masyarakat masih dalam kegelapan apa yang sebenarnya ingin mereka perlihatkan
kepada publik dan partai politik mana yang mencalonkan siapa. Lepas dari itu, setiap partai
politik atau gabungan partai politik pada akhirnya pasti akan memperkenalkan calon presiden
mereka kepada publik melalui cara-cara yang dapat membuat publik simpati kepada pilihan
mereka. Para calon presiden dipastikan tidak akan terlibat dalam bentrokan fisik, tetapi tidak
ada jaminan bahwa bentrok fisik di akar rumput tidak akan terjadi di antara para pendukung
calon presiden.

Untuk menghindari hal itu, yang perlu dilakukan oleh para calon presiden adalah melakukan
semacam perang ide (War of Ideas, Bandoro, 2009) di mana para calon presiden
menyampaikan gagasan-gagasan mereka sebagaimana diinginkan oleh para pendukung
mereka.

Proses demikian bisa menjauhi mereka dari rasa bermusuhan dan menggerakkan mereka
untuk berpikir secara lebih rasional, di mana para pemilih akan menyesuaikan dengan
pemikiran-pemikiran para calon presiden.

Dalam proses itu dipastikan juga akan terjadi pertarungan konsep, visi, gagasan mereka
mengenai Indonesia di masa depan. Para calon presiden tidak hanya terlibat dalam debat
cara Indonesia, seperti yang kita lihat dalam Pemilihan Umum Presiden 2009, tapi juga
dalam pertempuran di dunia iklan, yang sudah berlangsung sejak kuartal terakhir 2013.
Proses itu pada dasarnya adalah sebuah upaya untuk memperlihatkan kepada publik
kekuatan dan pengaruh mereka.

Taruhan-taruhan politik mereka akan semakin tinggi ketika mereka semakin mendekati hari
pemilihan dan mulai menampakkan diri mereka secara konstan dalam perang ide tersebut.
Akan tetapi, bisa saja makna perang ide mungkin tidak begitu dipedulikan oleh para calon
presiden, karena perang ide itu akan berakhir dengan sendirinya setelah pengumuman
resmi siapa yang akan keluar sebagi pemenang. Bagi masyarakat pada umumnya, yang lebih
penting adalah apakah pemimpin baru Indonesia nanti dapat menjamin kelancaran proses
menuju demokrasi utuh (full-fledged democracy).

Dengan akan diselenggarakannya pemilihan presiden, selalu ada alasan untuk mengharapkan
bahwa perubahan kepemimpinan yang mulus akan membantu menghasilkan stabilitas politik
dan menjamin kelangsungan pembangunan ekonomi. Namun, perubahan kepemimpinan bisa
saja membawa gelombang ketidakpastian, ketakutan, dan kekacauan politik, seperti yang
banyak terjadi di beberapa negara berkembang tertentu.

Perubahan kepemimpinan akhirnya bisa mengganggu stabilitas nasional, khususnya ketika
calon presiden kalah dalam pertempuran politik mereka di kotak suara, tetapi tidak dapat
menerima kekalahan; dan memobilisasi pendukung mereka di akar rumput terhadap para
pemimpin yang menang dan diterima oleh publik. Hal ini bisa terjadi dalam pemilihan tahun
ini jika saja ketegangan politik terus meningkat setelah masa pemilu.

Dengan kata lain, tidak ada jaminan bahwa pemimpin baru, apakah itu Jokowi, Prabowo, atau
Wiranto, atau bahkan mungkin Megawati sekalipun, akan menerapkan pola yang sama
seperti pendahulu mereka, SBY, dalam menjaga stabilitas keamanan nasional. Harus diakui
bahwa Presiden SBY dinilai banyak orang telah menanamkan stabilitas dan demokrasi di
negara ini.

Jika prioritas pemimpin baru nanti lebih kepada urusan-urusan dalam negeri, apalagi urusan
partai mereka, sementara persoalan dalam negeri semakin banyak, maka hal itu bisa membuat
pemimpin baru menjadi lebih nasionalis, sehingga mengabaikan pentingnya hubungan luar
negeri Indonesia.

Immanuel Kant (1795) sering menjadi rujukan ketika seseorang membahas hubungan penting
antara demokrasi dan stabilitas. Ia mengatakan bahwa demokrasi adalah salah satu komponen
utama untuk menciptakan stabilitas dan kemakmuran nasional dan regional.

Proses perkembangan demokrasi di Indonesia pasca- Pemilu 2014 dapat menjadi masalah
serius untuk stabilitas Asia Tenggara jika pemimpin baru tidak memiliki semua keterampilan
dan komitmen yang dibutuhkan, untuk secara hati-hati mengelola proses demokrasi di
Indonesia.

Semua calon presiden dan partai politik pendukung mereka, hingga kini sepertinya belum
secara konkret memperkenalkan kepada publik apa yang mereka anggap sebagai elemen
kunci untuk demokrasi seperti yang dibayangkan oleh Immanuel Kant. Bisa saja mereka
tidak peduli mengenai pemikiran-pemikiran Kant mengenai demokrasi dan stabilitas,
sekalipun mungkin mereka tahu esensi dari pemikiran Kant itu.

Namun ketika proses politik terus berlanjut, para calon presiden tidak bisa menghindar dari
keharusan untuk berdiskusi dengan masyarakat mengenai pentingnya membuat Indonesia
menjadi negara demokrasi yang utuh. Pembangunan bangsa (nation building) mungkin saja
tidak menjadi tujuan utama yang ingin dicapai melalui pemilihan 2014, karena sepuluh tahun
reformasi di negeri ini tampaknya telah membantu menghasilkan tujuan tersebut.

Tapi bagi sebagian orang, pembangunan bangsa masih menjadi prasyarat dalam proses
demokratisasi, jika Indonesia tidak ingin dirinya dilihat menjadi negara gagal, karena
benturan sentimen-sentimen agama, suku dan ras hingga kini masih terus melekat pada
masyarakat. Dapatkah pemerintah baru pasca-Pemilu 2014 mencegah kecenderungan tersebut
dan menawarkan kepada publik sebuah harapan negara yang jauh lebih stabil daripada
sekarang ini?

Setelah pemilihan presiden nanti, skenario yang mungkin akan kita saksikan adalah bahwa
pemimpin baru di Jakarta, siapa pun dia, akanterusmenjalankan proses reformasi politik
menuju tatanan demokrasi yang lebih stabil. Namun, semuanya itu sangat bergantung pada
apakah pemerintah baru nanti akan mampu mengelola perekonomian nasional, memelihara
kepercayaan investor, menegakkan hukum, serta memberantas korupsi dan nepotisme dalam
birokrasi.

Kekuatan-kekuatan bergerak melawan demokrasi harus dicegah di semua tingkatan Jika
pemerintah berikutnya berhasil mengatasi tantangan-tantangan tersebut, prospek untuk
Indonesia bergerak menuju demokrasi utuh akan semakin besar.

Indonesia yang stabil, aman, dan demokratis akan memperkuat peran kepemimpinan regional
Indonesia yang kini dinilai sudah efektif dan produktif, tetapi dengan catatan bahwa
pemimpin baru di Jakarta harus memiliki pandangan yang jauh ke depan mengenai
bagaimana memperkuat posisi internasional Indonesia.

Sebaliknya, Indonesia yang tidak stabil, apalagi jika kehidupan demokrasinya rapuh, akan
membuat lingkungan keamanan nasional dan regional menjadi tidak menentu dan berbahaya
bagi negara-negara lain di kawasan (Rabasa, 2001) Ini berarti bahwa sementara negara-
negara di kawasan itu sangat menghargai peran strategis Indonesia, kegagalan dalam proses
demokrasi bisa mengubah Indonesia menjadi daerah yang bermasalah.

Untuk sebagian besar negara di Asia Tenggara, mungkin kekhawatiran utama mereka
mengenai Indonesia bukan soal apakah Indonesia akan menjadi negara demokratis atau tidak,
melainkan bagaimana pemerintah baru Indonesia bisa menjaga keamanan dan stabilitas
dalam negeri. Penerbitan Inpres Nomor 2/2013 untuk memperketat keamanan mungkin
dimaksudkan untuk mengantisipasi dan memecahkan masalah gangguan keamanan dalam
negeri yang mungkin dihasilkan dari Pemilu 2014.

Negara-negara di wilayah ini akan sangat penasaran untuk melihat bagaimana Indonesia, di
bawah pemimpin baru, akan mampu menyeimbangkan kebutuhan untuk demokrasi dan
stabilitas. Sementara orangorang di Indonesia merindukan demokrasi dan bercita-cita menjadi
demokratis, tetapi itu bukan obat mujarab untuk mengatasi semua persoalan politik, ekonomi,
dan sosial. Situasi politik sebelum, selama, dan setelah Pemilu 2014 akan menjadi testing
time yang nyata bagi Indonesia.

Ini akan berimplikasi pada stabilitas sosial, integritas teritorial, hubungan eksternal, kohesi
budaya, dan pemerintahan. Risiko keamanan akibat pemilihan presiden yang tidak mulus,
atau ketidakmampuan pemerintah baru Indonesia mencegah timbulnya kekerasan agama dan
etnik yang dikaitkan dengan pemilu, menuntut langkah-langkah keamanan (security
measures) secara akurat, jika Indonesia tidak ingin dirinya dilihat sebagai salah satu sumber
ketidakstabilan kawasan.


BANTARTO BANDORO
Dosen Senior pada Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan, Jakarta














Dahsyatnya keyakinan
Koran SINDO
Jum'at, 10 Januari 2014

KEPERCAYAAN itu mendatangkan ketenangan. Betapa repot dan gelisahnya hidup kalau
seseorang selalu dalam keraguan. Tanpa disadari kita selalu memercayakan sebagian nasib
hidup kita pada sopir, bank, dokter, pembantu, restoran dan sekian orang yang memiliki
hubungan kerja dan memiliki keterkaitan dengan kita.

Apa yang terjadi jika setiap mau makan di restoran kita ragu-ragu, jangan-jangan sajiannya
mengandung racun? Bahkan orang tua yang capai bekerja mencari uang untuk biaya sekolah
anak anaknya, mereka mesti memercayakan proses pendidikan anak-anaknya pada guru.
Begitu pun ketika sakit, mereka percayakan pada dokter untuk menuliskan resep obat-
obatnya. Sesampai di apotek, kita percaya saja pada apotekernya.

Apoteker pun gantian memercayakan pada asisten apoteker dalam meramu obat. Meskipun
mendatangkan ketenangan, kepercayaan masih bisa dibuat berjenjang. Ada kepercayaan yang
tidak mendatangkan risiko kalaupun salah.

Adakah orang mau percaya atau tidak terhadap adanya hantu, tidak punya pengaruh
signifikan dalam kehidupan seseorang. Apakah orang percaya atau tidak bahwa Neil
Armstrong pernah menginjakkan kakinya di bulan, tak ada pengaruh apa-apa bagi orang-
orang kampung di desaku.

Tidak juga menambah atau mengurangi keimanannya dalam beragama. Tetapi ada kalanya
terjadi sebuah penyesalan dan kerugian akibat kepercayaan yang salah. Atau ada orang yang
mengkhianati sebuah kepercayaan. Misalnya kasus bank yang melarikan dana nasabahnya.
Kita menyimpan uang di bank tentu berdasarkan kepercayaan bank itu memang layak
dipercaya, agar kita menjadi tenang dengan menitipkan uang di situ.

Kasus serupa bisa terjadi dalam bidang kehidupan lain. Sebab, yang namanya kepercayaan
mesti ada unsur spekulasi, meskipun sudah menggunakan pertimbangan rasional. Makanya
ada nasihat, jangan mudah percaya pada orang.

Berbeda dari kepercayaan, keyakinan lebih membekas pengaruhnya pada seseorang.
Keyakinan lebih menggerakkan emosi seseorang untuk membuat keputusan dan berbuat
sesuatu. Dalam keyakinan faktor emosi lebih terasakan ketimbang sekadar percaya.

Keyakinan selalu berdampingan dengan sebuah tindakan, terutama tindakan yang dianggap
penting dan berisiko. Keyakinan mampu menggali kekuatan yang tersimpan dalam diri
seseorang. Dalam kehidupan beragama, faktor keyakinan ini sangat vital dan fundamental.
Banyak prestasi besar dalam peradaban dunia karena dimotivasi oleh keyakinan agama.
Banyak pula perang berkepanjangan dan berdarah-darah dalam sejarah karena alasan
keyakinan agama.

Kepercayaan dan keyakinan merupakan loncatan yang melewati pemahaman nalar dan data
empiris. Tanpa argumentasi dan penelitian ilmiah, kita yakin siapa ayah-ibu kita. Betapa
kacaunya rumah tangga kalau setiap anak meragukan orang tuanya, sehingga mesti
melakukan tes DNA.

Dalam beragama, keyakinan berakar pada keimanan akan eksistensi Tuhan dan berbagai
implikasi relasionalnya dengan kehidupan manusia. Ada orang yakin akan adanya Tuhan
sebagai penciptanya, tetapi tak lagi memiliki hubungan, sebagaimana tukang jam yang telah
menciptakan arloji, setelahnya putus hubungan.

Arloji itu bekerja sesuai mesin otomat yang diciptakannya. Ada orang yang yakin pada
Tuhan, dan Tuhan memerintahkan untuk menyembah-Nya serta menyediakan surga bagi
mereka yang taat, dan ancaman neraka bagi yang membangkang. Kelompok ini pun terbagi
tiga; ada yang taat, ada yang malas, ada yang mengabaikan perintah-Nya meskipun mereka
meyakini. Misalnya larangan korupsi, banyak orang yang yakin tindakan itu dibenci Tuhan,
namun tetap juga melanggarnya.

Ada juga yang rajin pergi haji dan umrah dengan ongkos ratusan juta, itu semua karena
dilandasi keyakinan untuk bisa beribadah di Rumah Suci agar doanya lebih dikabulkan. Yang
paling fenomenal adalah orang yang rela mati dengan meledakkan bom dengan keyakinan
tengah berjihad membunuh musuh Tuhan. Mereka siap hidup menderita dengan menyamar
dan menyembunyikan identitasnya agar aktivitasnya tidak diketahui aparat negara dan
masyarakat.

Bagi mereka kelihatannya nyawa begitu murah harganya, karena yakin surga dan bidadari
telah menanti. Dalam hal keyakinan ini ada yang benar-salahnya bisa diverifikasi, namun ada
yang tidak bisa. Misalnya dulu orang yakin bahwa Bumi itu datar, dengan kemajuan sains
sekarang sudah dibuktikan bahwa Bumi itu bulat. Tetapi dalam keyakinan keagamaan, karena
objek yang diyakini ada yang abstrak, gaib, maka sulit dibuktikan secara empiris apakah
sebuah keyakinan benar atau salah.

Paling banter mereka saling beradu argumen, tetapi bukan bukti. Karenanya, tidak mungkin
menyamakan keyakinan agama. Jangankan keyakinan lintas agama, sedangkan dalam satu
umat seagama saja terdapat perbedaan paham dan keyakinan dalam hal-hal tertentu.
Konsekuensinya, keyakinan agama selalu bersifat plural, majemuk, beragam, berbeda-beda.

Yang menjadi masalah adalah jika masing-masing ingin memaksakan paham dan
keyakinannya pada orang lain. Padahal kehidupan modern semakin plural, berbagai paham
agama, kepercayaan, ideologi kian bertemu dan bersinggungan, terlebih dalam kota
metropolitan. Ini semua sesungguhnya tidak asing bagi masyarakat Indonesia yang sejak awal
berdirinya sudah plural, sehingga muncul semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Tetapi disayangkan, sekarang semakin bermunculan orang-orang dan kelompok yang ingin
memaksakan paham dan keyakinan kepada orang lain, sementara peran dan posisi negara
lemah dalam melindungi hak warganya dalam melaksanakan keyakinan agama.


PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah




















Capres dan kepemimpinan distributif
Koran SINDO
Jum'at, 10 Januari 2014
KITA semua sepakat bahwa demokratisasi politik harus memastikan adanya kesetaraan hak
di atas perbedaan, perlindungan terhadap kelompok-kelompok minoritas, dan pemerataan
pembangunan ekonomi. Pada kenyataannya, persoalan-persoalan tersebut masih membelit
Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono di ujung masa
kepemimpinannya.

Dalam banyak kasus, konflik-konflik sosial disulut oleh ketimpangan ekonomi yang selalu
bertaut dengan perebutan pengaruh dan kuasa. Pelembagaan nilai-nilai pluralisme merupakan
bagian tak terpisahkan dari demokratisasi politik dan ekonomi yang bersumbu pada
pemerataan dan keadilan.

Seperti diingatkan Briggs (1961), diskursus negara kesejahteraan demokratis tidak sebatas
mendaulat negara sebagai juru pelayan sosial, namun juga harus tunduk pada prinsip
persamaan perlakuan dan aspirasi politik semua warga negara karena mereka sederajat, sama-
sama pemilik kekuatan elektoral.

Pelbagai prestasi Pemerintahan SBY di level internasional yang membanggakan tidak selalu
berkorelasi positif dengan realitas di dalam negeri, baik pada isu pembangunan ekonomi
maupun kehidupan toleransi umat beragama. Banyak pihak percaya bahwa munculnya aneka
persoalan yang mendera kehidupan bangsa berakar pada krisis kepemimpinan, miskin
keteladanan dan minus ketegasan.

Namun, sejauh mana kebenaran pendapat ini? Tesis ini tidak mendapat tempat dalam pikiran
Vaclav Havel, mantan presiden Ceko yang dihormati sebagai pemimpin intelektual dunia.
Menurutnya, ada beberapa alasan kuat untuk menyadarkan bahwa dunia modern menuju titik
akhir. Banyak hal yang mengindikasikan bahwa kita semua sedang memasuki masa transisi
yang sulit bahkan menyakitkan.

Muaranya, nilai-nilai tradisional tergerus arus perubahan yang sedemikian cepat dan struktur
sosial masyarakat global dihantam guncangan-guncangan hebat. Havel meyakini bahwa krisis
kita hari ini bukan semata mengenai seorang pemimpin, organisasi, negara, ataupun konflik,
namun justru krisis ini seharusnya membuka mata kita bahwa struktur sosial dan cara berpikir
model lama sedang menjemput ajalnya.

Perspektif ini membawa kesadaran baru bahwa persoalan kepemimpinan nasional hari ini
tidak bisa dicandra melalui kesadaran masa lalu. Harus ada perubahan mentalitas dalam
berpikir dan bertindak, termasuk model kepemimpinan yang menjawab panggilan zamannya.
Inilah abad yang akan mengubur model kepemimpinan tertutup, tidak peka terhadap aspirasi
rakyat, dan masih meyakini absoluditas kekuasaan. Kuasa rakyat, meminjam bahasa Saiful
Mujani dkk, telah berdampak pada perubahan prilaku kekuasaan.

Perkembangan ini menuntut kecakapan kepemimpinan distributif yang akan sangat berperan
dalam mengelola pemerintahan secara efektif seperti dirumuskan Malone, yaitu visioning,
sense-making, inventing, and relating (2004: 163). Visi seorang pemimpin politik harus
menyentuh kebutuhan sekaligus menyertakan nilai-nilai rakyatnya. Visi yang baik bukanlah
instrumen komando terhadap orang lain untuk melakukan yang diinginkannya, namun
menggerakkan mereka untuk melakukan apa yang mereka mau.

Adapun sense-making merupakan kecakapan seorang pemimpin untuk memahami apa yang
sedang berlangsung di sekitarnya, tidak terkecuali peka terhadap ketidakpastian. Kecakapan
ini akan menguji daya sensitivitas dalam mencandra suara-suara minoritas dan
terpinggirkan dari sistem dan budaya mainstream. Inventing merupakan kreativitas pemimpin
menemukan cara untuk mewujudkan visi dan hasil candraannya terhadap realitas-realitas
yang tidak jamak.

Memimpin memerlukan seni dan kreativitas! Ketiga kecakapan ini hanya mungkin diasah
dan dimatangkan oleh dan dalam kepribadian pemimpin yang secara sukarela menghibahkan
waktunya untuk bersentuhan, berinteraksi, dan mendengar suara-suara rakyatnya. Yang
menarik, model kepemimpinan politik distributif senapas dengan nilai-nilai filantropis yang
berporos pada semangat kedermawanan, menegasikan kerakusan. Politik adalah
pengorbanan, kata IJ Kasimo.

Sangat jelas, orientasi dari kepemimpinan politik distributif adalah kesejahteraan dan
keadilan sosial. Konsepsi negara kesejahteraan dalam pergulatan para pendiri bangsa merujuk
pada suatu pemerintahan demokratis yang menegaskan bahwa negara bertanggung jawab
terhadap kesejahteraan rakyat. Etika politik negara kesejahteraan Indonesia tidak berorientasi
pada penghapusan hak milik individu, tetapi hak milik pribadi mempunyai fungsi sosial dan
negara bertanggung jawab atas kesejahteraan umum (Latif, 2011: 584).

Ini bertolak belakang dengan diktum Ronald Reagan yang di kemudian hari menyokong
ideologi pasar bebas, government is not the solution, government is the problem. Model
kepemimpinan distributif merupakan kepemimpinan yang digerakkan oleh semangat
kreativitas dan terobosan.

Kesadaran kepemimpinan distributif semacam ini berakar pada realitas dan lokalitas, namun
visinya memiliki daya jangkau yang luas bahkan jauh ke depan. Era ini membutuhkan kepe-
mimpinan yang cakap mendengar, tidak mudah menghakimi, tidak terjatuh pada sinisme, dan
tidak takut untuk keluar dari zona nyaman meski tidak populer.

Perwujudan negara kesejahteraan sangat ditentukan oleh integritas dan mutu para
penyelenggara negara yang disertai dukungan rasa tanggung jawab dan kemanusiaan yang
terpancar pada setiap warga (Latif, 2011: 607).

Integritas dan kualitas pelayanan publik akan sangat ditentukan oleh penegakan hukum dan
reformasi birokrasi yang berpijak pada prinsip-prinsip universal dari tradisi Barat, seperti
akuntabilitas dan transparansi. Secara politik, rendahnya integritas dan kualitas layanan
publik berdampak pada kekuatan elektoral dari partai yang sedang berkuasa.

Studi Mujani dkk (2011) tentang perilaku pemilih pasca-Orde Baru memperlihatkan bahwa
faktor kinerja pemerintah dan penilaian rakyat terhadap pemimpinan nasional yang sedang
berkuasa memiliki pengaruh penting terhadap pilihan politik, baik atas partai maupun calon
presiden. Fenomena ini melemahkan tesis tentang dominasi faktor-faktor sosiologis (suku,
agama, dan kelas sosial) dalam membentuk perilaku pemilih.

Munculnya tokoh-tokoh muda dalam bursa calon presiden dan wakil presiden pada 2014
seperti Joko Widodo, Gita Wirjawan, Hary Tanoesoedibjo, Anies Baswedan, dan Dino Patti
Djalal diharapkan tidak hanya mengembuskan asa regenerasi, namun juga menyumbangkan
gagasan-gagasan radikal nan inovatif.

Inovasi kebijakan sangat diperlukan guna memecah kebuntuan penyelesaian persoalan-
persoalan yang belum tuntas, mendorong percepatan pemerataan ekonomi, pembangunan
sumber daya manusia, dan perlindungan sumber daya alam. Kita membutuhkan pemerintahan
yang tidak hanya melayani, namun juga yang lebih berani memberikan perlindungan kepada
kelompok-kelompok yang berbeda.


FAJAR RIZA UL HAQ
Sekretaris Jenderal DPP BARINDO










Panggung terakhir SBY
Koran SINDO
Jum'at, 10 Januari 2014

TAHUN 2014 menjadi panggung terakhir era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY). Beberapa bulan ke depan, layar penutup panggung itu harus diturunkan. Era SBY pun
shutdown. Republik Indonesia harus restart oleh pemimpin negarawan yang dipilih untuk
melayani rakyat dan negara.

Indonesia modern harus berani meraih masa depan yang cerah. Harus berambisi menjadi
bangsa yang kompetitif karena memiliki segala sesuatu yang diperlukan untuk berkompetisi
dengan bangsa lain, termasuk negara maju. Untuk mewujudkan ambisi itu, Indonesia harus
dipimpin negarawan sejati yang bersahaja dan menyatu dengan rakyat. Pemimpin yang kuat,
tegas serta visioner, mengerti tantangan zamannya, dan tahu bagaimana merespons tantangan
itu.

Dalam satu dekade terakhir, bangsa ini praktis telah menyia-nyiakan momentum
mewujudkan kemandirian dan penguatan ketahanan nasional di berbagai aspek.
Pembangunan infrastruktur hanya diwacanakan di forum seminar.

Ketahanan pangan terus melemah sehingga belasan komoditi kebutuhan pokok rakyat harus
diimpor. Bangsa ini belum kompetitif karena birokrasi negara belum efisien. Bahkan, korupsi
semakin marak. Janji presiden memimpin perang melawan korupsi praktis tinggal janji.

Semua ini terjadi karena kepemimpinan yang lemah, tanpa arah, minus prioritas dan sarat
wacana. Rakyat lelah menghadapi manuver pencitraan untuk menutup-nutupi
ketidakmampuan dan kegagalan pemimpinnya. Rendahnya efektivitas kepemimpinan SBY di
mata publik bukan isu baru.

Dalam rentang waktu hampir 10 tahun terakhir ini, setiap hari publik bergunjing dan mencibir
kepemimpinan yang lemah itu. Bukan hanya lemah, lamban dan tidak responsif, bahkan
periode kedua kepemimpinannya (20092014) sarat noda.

Duetnya bersama Wakil Presiden Boediono dibebani megaskandal Bank Century. Sangat
beralasan bagi publik mencibir SBY karena dia minimalis menyikapi skandal ini. Dalam
kasus Century, SBY sebagai panglima perang melawan korupsi jelas-jelas sudah ingkar janji.
Selain kasus Century, terungkap pula dugaan perilaku korup sejumlah orang kepercayaan
serta sahabat SBY, seperti Sengman Tjahya dan Bunda Putri yang membangun kartel impor
daging sapi.

Bahkan, nama anggota keluarganya disebut-sebut pula dalam berita acara pemeriksaan (BAP)
beberapa kasus korupsi. Banyak masalah negara yang berkait langsung dengan kepentingan
rakyat tidak dikelola sebagaimana mestinya. Presiden malah lebih sering lari dari persoalan
atas nama alasan otonomi daerah.

Dalam konteks kebijakan pengadaan dan pengamanan pangan untuk rakyat, publik tidak
pernah melihat militansi Presiden. Akibat rendahnya efektivitas kepemimpinan itu, banyak
persoalan yang justru diselesaikan oleh rakyat sendiri, tentu saja dengan sejumlah
pengorbanan.

Kecenderungan inilah yang memunculkan anekdot Indonesia negeri autopilot alias negeri
tanpa pemimpin. Pun, karena kegagalan mengamankan pangan rakyat dari aspek harga,
sebagian rakyat merindukan lagi model pembangunan Orde Baru yang dipimpin almarhum
Presiden Soeharto.

Terlepas dari berbagai kekurangannya, Soeharto menetapkan sebuah prioritas yang tak bisa
ditawar-tawar; kebutuhan pokok rakyat harus aman, terkendali dan terjangkau daya beli
rakyat kebanyakan.

Sepanjang usia pemerintahannya, Soeharto sangat peduli pada soal yang satu ini, sehingga
fluktuasi harga sembilan kebutuhan pokok selalu diagendakan dalam sidang kabinet. Hasil
monitoring pemerintah selalu dilaporkan kepada rakyat oleh menteri penerangan seusai
sidang kabinet bidang ekonomi.

Prioritas ini yang tidak ada pada SBY, sehingga publik merindukan model kepemimpinan
Soeharto. Publik melihat dan merasakan bahwa demokratisasi di bidang ekonomi telah
diselewengkan dan difokuskan untuk kepentingan kroni penguasa. Akibatnya, ketika para
kroni bertindak melampaui batas toleransi, penguasa tak mampu mengendalikannya. Maka
terjadilah kelangkaan kedelai dan melonjaknya harga daging sapi. Tata kelola pemerintahan
nyaris berantakan sehingga gagal menjaga keberagaman. Kabinet dan birokrasi pemerintah
tidak efektif, karena banyak wewenang dirampas para sengkuni dan parasit. Pusat kekuasaan
yang seharusnya menjadi pendukung utama pemberantasan korupsi justru berubah menjadi
mesin korupsi paling tamak.

Kini publik bahkan mulai mempertanyakan moral pemerintahan SBY, karena tak satu pun
instansi mau memikul tanggung jawab atas kasus penggelembungan dana talangan Bank
Century. Kasus kenaikan harga gas elpiji 12 kg awal 2014 menggambarkan betapa
manajemen pemerintahan ini benar-benar tidak berwibawa.

Baik presiden maupun menko perekonomian mengatakan bahwa kenaikan harga elpiji itu
sebagai aksi korporasi Pertamina yang sulit dicegah. Hanya orang bodoh yang percaya pada
argumentasi ngawur seperti itu.

Bagaimanapun, kebijakan menaikkan harga gas elpiji tabung 12 kg sebagai kebijakan
pemerintahan SBY, bukan kebijakan PT Pertamina. Logika sederhananya begini. Pertamina
itu BUMN yang diikat dengan UU. Dia harus tunduk pada pemerintah, khususnya kepada
presiden dan menteri ESDM sebagai pembina. Apalagi, komoditi yang dikelola Pertamina
sangat strategis dalam konteks kepentingan rakyat. Kalaupun akhirnya harga elpiji kembali
diturunkan, terlihat jelas bagaimana buruknya manajemen pemerintahan SBY.

Jebakan subsidi
Strategi memerangi kemiskinan yang diterapkan selama hampir 10 tahun pemerintahan SBY
bahkan salah fatal. Kemiskinan diperangi dengan aneka subsidi. Dari program bantuan
langsung tunai (BLT), bantuan sosial (Bansos), beras untuk warga miskin (Raskin), asuransi
kesehatan untuk warga miskin (Askeskin), jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas),
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), bantuan operasional sekolah (BOS),
hingga pembagian kompor gas gratis.

Tidak menjadi masalah jika pendanaan semua program subsidi itu bersumber dari kekuatan
sendiri. Sayangnya, strategi pemberian subsidi ini layak dilihat sebagai kesalahan sangat fatal
karena semuanya dibiayai dengan utang luar negeri.

Program BLT ternyata dibiayai dengan utang komersial dari Bank Dunia dengan tingkat
bunga sekitar 1213%, bukan pinjaman lunak dari lembaga internasional yang rata-rata
tingkat bunganya sekitar 4-6%. Fatalnya, pinjaman komersial itu disebut sebagai bantuan.

Pertanyaannya kemudian, mengapa Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB) serta
lembaga keuangan multilateral lainnya mau memberi utang kepada pemerintahan SBY untuk
membiayai beragam program subsidi tadi, sementara hampir semua lembaga keuangan
multilateral itu justru menentang habis-habisan kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM)
untuk warga miskin dan industri? Apalagi, utang yang didapat Indonesia umumnya berstatus
loan conditionality (utang bersyarat).

Karena bersyarat, pemberi pinjaman berhak mendikte pemanfaatan dana pinjaman itu.
Berarti, pinjaman komersial dari ADB dan Bank Dunia akan dicairkan jika SBY bersedia
mengikuti petunjuk ADB dan Bank Dunia; petunjuk tentang pinjaman itu harus digunakan
untuk program A atau program Z.

Kalau petunjuk ADB dan Bank Dunia ditolak, pinjaman itu tidak cair. Kalau sudah begitu,
tidak salah untuk mengatakan bahwa semua program subsidi yang terkesan populis itu
sesungguhnya bukan kehendak atau kebijakan pemerintah RI, melainkan kehendak atau
kebijakan ADB dan Bank Dunia untuk Indonesia.

Tentu saja fakta ini mengusik. Pertama, patut dimunculkan kesimpulan bahwa ternyata
pemerintah Indonesia pada era kepresidenan SBY (20042009 dan 20092014) tidak
sepenuhnya otonom. Pasalnya, desain beberapa kebijakan makro didikte oleh ADB dan Bank
Dunia. Kedua, ADB dan Bank Dunia terkesan begitu bermurah hati pada SBY.

Maka kesimpulan berikutnya, adalah lembaga-lembaga keuangan multilateral itu menjadi
pendukung fanatik SBY. Dengan memberi pinjaman komersial kepada pemerintahan SBY
sejak 2004 untuk membiayai sejumlah program subsidi, citra pemerintahan SBY menguat di
mata penerima program subsidi.

Tidak heran jika pada pemilihan presiden 2009 SBY masih populer. Maka tidak salah pula
untuk mengatakan bahwa kemenangan pada Pilpres 2009 berkat dukungan kuat dari ADB
dan Bank Dunia. Ketiga, benarkah populis? Di permukaan, kesan yang tampak memang
populis.

Namun, pinjaman yang mendikte dan subsidi itu sarat jebakan, karena subsidi bagi warga
miskin ternyata tidak menyelesaikan masalah. Bersama ADB dan Bank Dunia, SBY telah
memosisikan warga miskin Indonesia sebagai pengemis yang secara reguler menunggu
sedekah dari ADB dan Bank Dunia cq pemerintah RI.

Bahkan, kemiskinan terus mengalami proses pendalaman, karena warga miskin tidak diberi
akses menggeluti kegiatan atau program yang produktif untuk mereka sendiri. Alokasi
anggaran untuk beberapa program subsidi tidak juga berkurang.

Sebaliknya, keterikatan Indonesia dengan ADB dan Bank Dunia terus berlanjut karena urusan
utang-piutang tadi. Alokasi anggaran di APBN untuk keperluan pembayaran pokok dan
bunga utang luar negeri juga tak pernah mengecil.

Keterikatan ini tentu saja menghambat upaya Indonesia mewujudkan kemandirian, karena
APBN terus dibebani kewajiban membayar utang. Beginilah jadinya Indonesia ketika
pemimpinnya tidak visioner dan sibuk dengan urusannya sendiri. Tidak ada yang membekas
(legacy) dari 10 tahun kepemimpinan SBY. Hanya kecewa, lelah menghadapi kebohongan,
dan penyesalan. Kini kisah tersebut akan segera berakhir. Tutup buku. Selamat tinggal SBY.
Selamat datang Indonesia baru. Mari restart!


BAMBANG SOESATYO
Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Golkar/Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia






Mengukuhkan pilkada langsung
Koran SINDO
Sabtu, 11 Januari 2014

MEKANISME pemilihan kepala daerah menjadi isu yang paling hangat didiskusikan dalam
rangka pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pemilihan Kepala Daerah (RUU
Pilkada) di DPR RI.

Pemerintah dan sejumlah kalangan Dewan menghendaki perubahan mekanisme pemilihan
kepala daerah dari langsung menjadi tidak langsung atau melalui mekanisme perwakilan
sebagaimana langgam yang pernah berlaku pada Orde Baru. Namun, ada juga pihak yang
tetap ingin mempertahankan pemilihan langsung oleh rakyat pada setiap tingkatan pilkada.

Ada tiga opsi yang berkembang dalam pembahasan mekanisme pemilihan kepala daerah.
Opsi pertama, tetap sebagaimana yang berjalan saat ini, pemilihan kepala daerah langsung
untuk provinsi dan kabupaten/ kota.

Opsi kedua, pemilihan kepala daerah langsung untuk provinsi dan mekanisme perwakilan
(dipilih DPRD) untuk kabupaten/kota. Opsi ketiga, mekanisme tidak langsung (dipilih
DPRD) untuk provinsi dan pemilihan kepala daerah langsung untuk kabupaten/ kota.

Opsi pertama didasarkan pada argumentasi umum bahwa pemilihan langsung oleh rakyat
lebih menjamin keterwakilan rakyat dan sehingga lebih tinggi derajat demokratisnya karena
setiap suara rakyat bernilai dalam proses sirkulasi kepemimpinan daerah (one person one vote
one value).

Menjadi mundur (set-back) secara demokrasi jika deliberasi hak pilih rakyat ditarik kembali
atas alasan apa pun karena hak memilih merupakan hak dasar rakyat dalam demokrasi dan ini
sudah menjadi komitmen pasca reformasi.

Sementara itu, opsi kedua dan ketiga menghendaki mekanisme pemilihan kepala daerah
diubah (dikembalikan) melalui mekanisme perwakilan, hanya bedanya pada tingkat mana
mekanisme perwakilan diberlakukan. Argumentasi utama dua opsi ini: Pertama, untuk tujuan
efisiensi anggaran negara dalam penyelenggaraan pilkada.

Semua mafhum bahwa penyelenggaraan pemilihan kepala daerah langsung menyedot
anggaran negara/daerah yang sangat besar vis a vis kapasitas anggaran negara/ daerah untuk
pembangunan. Kedua, untuk tujuan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah
dikaitkan dengan konseptual titik tekan otonomi dan koordinasi antartingkat pemerintahan
daerah.

Konsekuensi dari tiap-tiap kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat mereka merasa
memiliki legitimasi riil dari rakyat, yang dalam banyak kasus menyulitkan koordinasi oleh
tingkat pemerintahan di atasnya.

Terungkap sejumlah kasus betapa sulitnya gubernur sebagai kepala daerah provinsi sekaligus
wakil pemerintah pusat dalam melaksanakan koordinasi dengan bupati dan wali kota di
wilayahnya. Bupati dan wali kota membangkang terhadap instruksi gubernur bahkan
pemerintah pusat cq Kementerian Dalam Negeri. Rapat-rapat koordinasi oleh gubernur
acapkali sepi dari kehadiran bupati dan wali kota dan hanya diwakili setingkat kepala dinas
atau kepala biro yang juga tidak memiliki kewenangan mengambil kebijakan.

Di lain pihak dalam kerangka pelayanan publik dan administrasi pemerintahan daerah, ujung
tombak pelaksana pelayanan publik dan administrasi ada pada pemerintahan kabupaten/kota.
Berdasarkan undang-undang sejatinya pemerintah provinsi hanya memiliki dan
melaksanakan kewenangan pemerintahan lintas kabupaten/kota.

Ini menjadi materi diskusi perihal di mana sebenarnya letak titik tekan otonomi yang
kemudian menghadirkan dasar argumentasi pemilihan kepala daerah secara langsung oleh
rakyat lazim dilaksanakan pada daerah yang menjadi titik tekan (lokus) otonomi daerah.

Pilkada langsung tetap pilihan terbaik
Penulis ikut serta dalam diskursus dan pembahasan RUU Pilkada di DPR dalam kapasitas
sebagai anggota Komisi II memiliki pandangan dan pendapat bahwa pemilihan kepala daerah
secara langsung oleh rakyat (pilkada) sebagaimana langgam yang berjalan pasca reformasi
tetap merupakan pilihan terbaik: terbaik bagi rakyat, bagi kemajuan demokrasi, serta bagi
proses pembangunan daerah dalam kerangka otonomi. Pada posisi ini penulis ingin
menyanggah argumentasi pihak yang mengusulkan pemilihan kepala daerah melalui
perwakilan.

Pertama, capaian terbesar reformasi politik sejak 1998 adalah pemulihan dan penguatan peran
dan partisipasi rakyat dalam proses politik dan kebijakan. Pemilihan umum adalah
pengejawantahan demokrasi yang diperjuangkan melawan tirani dan otoritarianisme Orde
Baru. Dalam konteks ini pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat sejatinya kritik
terhadap mekanisme pemilihan kepala daerah melalui DPRD pada masa Orde Baru yang
dinilai mengebiri dan memanipulasi suara rakyat.

Kalau saat ini kita kembali pada mekanisme lama, sama saja dengan set-back atau
kemunduran demokrasi. Argumentasi efisiensi terbantahkan dengan harga yang harus dibayar
dari set-back demokrasi itu. Atas nama efisiensi mengorbankan capaian demokrasi dan
penguatan peran dan partisipasi rakyat dalam proses demokrasi.

Kendati demikian, kita juga tidak perlu menutup mata atas permasalahan dan kelemahan
pelaksanaan pilkada selama ini yang harus kita perbaiki dengan menyempurnakan perangkat
regulasi, meningkatkan kesadaran para aktor, dan menegakkan hukum dan aturan secara
konsekuen. Bukan dengan menegasi mekanisme demokratis ini dan kembali pada langgam
pemilihan (perwakilan) yang juga tidak menjamin demokrasi itu sendiri.

Kedua, argumentasi pemilihan kepala daerah tidak langsung dikaitkan dengan tujuan
efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah (fungsi koordinasi dan lokus otonomi) juga
bukan alasan yang sepenuhnya tepat. Penulis berpendapat bahwa hambatan fungsi koordinasi
dan supervisi antartingkat pemerintahan bukan disebabkan oleh pemilihan kepala daerah
secara langsung oleh rakyat. Ini semata-mata berkenaan dengan manajemen pemerintahan
(menyangkut proses dan kualitas kebijakan publik serta kapabilitas dan profesionalitas kepala
daerah dalam melaksanakan kewenangan sesuai peraturan perundang-undangan).

Penulis yakin jika manajemen pemerintahan daerah dilaksanakan secara profesional, jujur
dan berintegritas, serta dalam rangka pelaksanaan program-program yang berkualitas, tidak
ada alasan dan ruang bagi pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) terkendala friksi
masalah.

Jika pola koordinasi dan supervisi dilaksanakan atas dasar kepentingan rakyat, tidak ada
alasan bagi masing-masing tingkat pemerintahan daerah untuk lari dari tanggung jawab.
Penulis justru menduga hambatan koordinasi dan supervisi terjadi akibat kepentingan politik
dan kekuasaan (conflict of interest) dari oknum kepala daerah dan pihak-pihak tertentu yang
sama sekali tidak berhubungan dengan kepentingan rakyat dan pembangunan daerah
sebaliknya mereka yang ingin membangun oligarki kekuasaan di daerahnya.

Di era keterbukaan informasi saat ini sejatinya potensi oligarki kekuasaan itu dapat dikikis
habis jika manajemen pemerintahan daerah dijalankan secara profesional, penuh integritas,
dan berkualitas.

Kalau nyata-nyata program pemerintah pada tingkat yang lebih tinggi (baik program
pemerintah pusat atau program pemerintah provinsi) berkualitas dan dipahami manfaatnya
bagi masyarakat luas melalui strategi publikasi media yang baik, bisa saja pemerintah
kabupaten/ kota yang mengabaikan bahkan menghambat program tersebut akan terpojok oleh
pemberitaan dan opini media sehingga mendapatkan blacklist dari masyarakat.


JAZULI JUWAINI
Anggota Komisi II DPR RI/ Peserta Program Doktor Manajemen SDM UNJ



Denny melawan isu
Koran SINDO
Sabtu, 11 Januari 2014

DI antara gencarnya pemberitaan tentang ketidakhadiran Anas Urbaningrum untuk diperiksa
oleh KPK sebagai tersangka pada Selasa, 7 Januari 2014, ada berita terkait yang
menyertainya. Wamenkumham Denny Indrayana, Kamis (9/1), melaporkan dua orang loyalis
Anas Urbaningrum ke Mabes Polri.

Makmun Murod dan Tri Dianto, dua loyalis Anas, dilaporkan mencemarkan nama baiknya
karena melontarkan informasi yang katanya sahih bahwa Wakil Ketua KPK Bambang
Widjojanto dan Wamenkumham Denny Indrayana pergi ke rumah SBY di Cikeas sehari
sebelum pemanggilan Anas. Padahal, kunjungan ke Cikeas yang diisukan itu tak pernah ada.
Artinya, informasi itu bukan hanya tidak sahih, tetapi sangat dhaif (tak berdasar).

Denny mengaku nama baiknya dicemarkan karena isu kunjungan ke Cikeas itu
diinsinuasikan seakan-akan membicarakan perkara Anas yang sedang ditangani KPK. Setelah
mengultimatum untuk meminta maaf dalam 1 X 24 jam Denny akhirnya datang ke Bareskrim
Polri untuk melaporkan kedua orang itu. Kata Denny, pengaduan itu dilakukan sekaligus
untuk ikut menjaga nama baik Bambang Widjojanto (BW) yang dikenalnya sebagai orang
bersih, gigih melawan korupsi, dan profesional dalam penegakan hukum.

Sejauh menyangkut BW, saya sepakat dengan Denny bahwa BW adalah penegak hukum
yang lurus, profesional, dan tak bisa didikte oleh siapa pun. Saya sudah lama mengenal BW
dan memang begitulah potretnya sebagai penegak hukum. Sayang, kalau potretnya dikotori
oleh isu bohong. Untuk pengaduan ke Bareskrim Polri itu, meski tidak harus setuju, kita bisa
memaklumi langkah Denny. Itu merupakan langkah yang sah dan lebih elegan daripada
berdebat kusir tanpa kejelasan akhir.

Sejak zaman reformasi banyak isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan yang kemudian
dilempar ke tengah-tengah masyarakat tanpa memikirkan akibatnya bagi yang diisukan.
Kadang isu-isu semacam itu ditembakkan ke lembaga-lembaga negara atau pejabat negara
yang berakibat lunturnya kepercayaan terhadap lembaga atau pejabat itu. Pada awal 2010,
sebagai ketua MK, saya pun diterpa isu seperti itu. Isu yang sama sekali tidak benar, tetapi
berpengaruh kepada publik.

Ketika saya sedang mengajar di Yogya, tiba-tiba seorang teman, wartawan Kompas,
menelepon saya. Dia meminta konfirmasi kepada saya, apa yang dibicarakan dengan
Presiden SBY tadi pagi. Pembicaraan dengan Presiden SBY? tanya saya.

Dia menjawab, semua wartawan sudah tahu bahwa pagi itu saya dipanggil Presiden ke Istana,
sedangkan Wakil Ketua MK Mukthie Fajar dipanggil oleh Mensesneg Sudi Silalahi. Santer
diisukan bahwa saya dan Mukthie Fajar membicarakan perkara yang sedang ditangani oleh
MK.

Saya pun bilang bahwa sudah dua hari saya tidak di Jakarta sehingga tidak mungkin saya
bertemu Presiden pagi itu. Kemarin saya hadir dalam upacara pengukuhan Profesor Saldi
Isra sebagai guru besar di Universitas Andalas, Padang, kemudian langsung ke Yogyakarta
dan saat ini sedang mengajar di kampus, jawab saya. Pak Mukthie pun terkekeh ketika saya
tanyakan tentang isu itu. Isu panas lain terjadi dalam perkara sengketa hasil Pemilu Presiden
2009.

Pada hari dibacakannya vonis itu sejak tengah malam sampai pagi hari beredar SMS berantai
bahwa pada pukul 1.00 malam Ketua MK Mahfud MD dipanggil SBY ke Cikeas. Beberapa
portal berita online ada juga yang menulis isu itu dengan yakin.

Bahkan wartawan senior Freddy Ndolu menelepon saya di pagi buta dan menanyakan apa
benar saya menemui SBY di Cikeas. Kepadanya saya jawab bahwa berita itu hanya sampah
dan gombal. Saya jelaskan sambil tertawa bahwa tak mungkin tengah malam begitu SBY
memanggil saya karena dia pasti mengantuk.

Kan waktunya orang tidur? Kalaupun SBY tidak ngantuk ya saya yang ngantuk sehingga
takkan mau dipanggil oleh SBY. Senyatanya, malam itu sampai menjelang pagi saya ada di
kantor MK bersama beberapa hakim dan panitera untuk mengoreksi vonis yang akan
dibacakan sore harinya. Bagi yang berpikir normal, sungguh tak masuk akal kalau vonis yang
akan dibacakan pada hari itu masih bisa dinegosiasikan dengan Presiden pada malam
sebelumnya.

Vonis itu sudah diputuskan dalam rapat permusyawaratan tertutup seminggu sebelum
dibacakan di depan sidang terbuka sehingga tak mungkinlah semalam sebelum dibacakan
bisa diutak-atik lagi oleh siapa pun, termasuk oleh Presiden.

Selama menjadi ketua MK saya selalu memosisikan diri sebagai pejabat yang secara struktur
ketatanegaraan sejajar dengan Presiden, bukan bawahan Presiden, sehingga secara prinsip
saya tak mau dipengaruhi oleh Presiden.

SBY pun selalu bersikap correct, tak pernah bertanya, apalagi ikut campur, dalam perkara-
perkara yang sedang ditangani MK. Banyak kemajuan dan ada kemunduran dalam
perkembangan demokrasi kita.

Salah satu dari kemunduran itu adalah seringnya merebak isu-isu bohong yang diinsinuasikan
seakan- akan benar sehingga membunuh karakter pejabat/ lembaga yang diisukan dan
menyesatkan publik. Jadi, untuk mendidik masyarakat, kita pun harus paham dan maklum
atas langkah Denny melawan isu yang tak bertanggung jawab itu dengan melaporkan
pelontarnya ke Bareskrim Polri.


MOH MAHFUD MD
Guru Besar Hukum Konstitusi























Dialog korupsi awal tahun
Koran SINDO
Sabtu, 11 Januari 2014

APAKAH kita puas terhadap kinerja kejaksaan, kepolisian, dan Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) dalam pemberantasan korupsi? Apakah kita melihat penegakan hukum
terhadap korupsi telah sesuai asas-asas dan norma hukum pidana yang kita ajarkan dan anut
sejak lama?

Jawaban atas pertanyaan pertama bergantung dari sudut pandang mana melihatnya. Jika dari
sudut pandang ketiga institusi tersebut, mereka pasti menyatakan cukup puas dan bahkan
berhasil. Jika yang melihat the outsider, mereka tentu menyatakan belum puas dan belum
berhasil.

Namun, yang penting dalam negara hukum yang demokratis bukan puas atau tidak puas,
berhasil atau tidak berhasil, melainkan apakah pemberantasan korupsi dengan hukum telah
sesuai asas dan kaidah (norma) hukum pidana yang bersumber pada asas legalitas sesuai
ketentuan Pasal 1 ayat (1) KUHP yang masih berlaku sampai saat ini (hukum positif).

Sejak berlaku perubahan UU RI Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah dengan UU RI Nomor
20 Tahun 2001, semua elite parpol dan pemerintah serta rakyat setuju bahwa korupsi
merupakan kejahatan luar biasa.

Karena itu, diperlukan cara-cara luar biasa antara lain membentuk KPK dengan kewenangan
luas dan berbeda dengan kepolisian dan kejaksaan. Rumusan tindak pidana korupsi diperluas
termasuk perbuatan koruptif (sifat melawan hukum) dan merugikan negara dijadikan unsur
konstitutif tindak pidana korupsi.

Apalagi telah ada kick-back di dalam perbuatan koruptif tersebut dan dirumuskan dalam
kalimat, menguntungkan diri sendiri, juga orang lain atau korporasi yang terlibat dalam
tindak pidana korupsi tersebut. Ketentuan ini ciri khas dan satu-satunya di semua sistem
hukum di dunia.

Mengapa demikian luas rumusan hukum tersebut? Satu-satunya alasan karena keluarbiasaan
perbuatan korupsi di mana uang yang dirampok uang negara (APBN/APBD) yang
diperuntukkan untuk pembangunan bidang ekonomi, sosial, politik, hukum, kesejahteraan
250 juta rakyat Indonesia.

Inti keluarbiasaan tindak pidana korupsi dengan rumusan hukum tersebut adalah bagaimana
mengembalikan uang rakyat sebesar-besarnya tanpa harus mendahulukan perlu efek jera dari
hukuman maksimal terhadap pelakunya.

Sejarah hukuman dan penjara telah membuktikan bahwa tidak ada sukses untuk pemberatan
ancaman pidana terhadap siapa pun. Dengan begitu, dalam kriminologi dikenal siklus
recidivism (vicious circle). Contoh nyata, betapa pun ganasnya KPK menghantam para
koruptor penyelenggara negara, semakin bertambah koruptor baru bahkan potensial koruptor
dalam lingkaran penyelenggaraan negara.

Bagaimana solusinya? Ikuti saja filosofi, tujuan, norma-norma UU Tahun 1999/2001 serta
terapkan asas-asas penerapan hukum pidana yang baik, bersih, dan berwibawa. Jika aparat
penegak hukum dan KPK masih mengakui eksistensi HAM pada setiap warga RI, perlakukan
mereka dalam perkara korupsi sesuai dengan maksud dan tujuan ketentuan dalam UUD 1945;
UU HAM dan UU KUHAP 1981.

Jika ada pandangan di antara institusi tersebut, abaikan HAM!, silakan lakukan apa yang
Anda sukai dan tidak sukai tanpa harus memikirkan asas-asas dan norma serta ajaran ilmu
hukum pidana yang telah diajarkan sejak semester III di Fakultas Hukum.

Tetapi, saya yakin, keilmuan hukum yang dimiliki setiap pelaku sistem peradilan pidana
sebanding dengan integritas, profesionalitas, dan akuntabilitas mereka karena tiga prinsip
tersebut telah berada di luar jangkauan ilmu hukum.

Ilmu hukum tidak mengajarkan ketiga prinsip tersebut kecuali telah diajarkan hubungan
saling pengaruh hukum dan kesusilaan yang perlu diperhatikan dalam membingkai perilaku
manusia termasuk juga menghukum perilaku manusia yang melanggar hukum.

Ilmu hukum mengabaikan sejak pendidikan hukum tentang masalah moralitas hukum dan
moralitas masyarakat karena pengaruh aliran Kelsenian, namun ilmu hukum yang telah
diajarkan harus sesuai karakter budaya masyarakatnya agar tidak menjadi alien dalam
kehidupan kesehariannya.

Karakter budaya (hukum) masyarakat Indonesia adalah sangat memperhatikan kesopanan dan
kesusilaan dalam bungkusan ajaran agama yang dianutnya sehingga membuat hukum dan
menerapkan hukum dalam alam Indonesia, harusnya mempertimbangkan secara teliti faktor
peranan unsur-unsur tersebut.

Pepatah Indonesia sejak lama, menepuk air di dulang tepercik muka sendiri atau buruk
muka cermin dibelah; merupakan peringatan agar setiap insan Indonesia pemegang
kekuasaan agar berhati-hati dalam berucap, berperilaku, dan bertindak. Begitupula peribahasa
nilai setitik rusak susu sebelanga juga sebaiknya menjadi peringatan agar kita berbuat dan
berperilaku memperhatikan dan mengingat akibatnya secara kolektif.

Dalam konteks penegakan hukum progresif yang dipandang beberapa ahli hukum, praktisi
hukum tertentu dan LSM adalah alat yang ampuh untuk membuat tekuk lutut khususnya
koruptor, tentu akan menghasilkan semangat hidup koruptor yang berprinsip, Daripada
hidup menanggung malu, lebih baik mati berkalang tanah.

Jika pemberantasan korupsi hanya untuk tujuan efek jera, dituntut perlakuan hukum yang
maksimal yaitu penerapan ancaman penjara seumur hidup atau pidana mati terhadap koruptor
karena dalam tatanan hukum pidana Indonesia, tidak diakui pidana mempermalukan.

Jika efek jera yang diunggulkan, tidak ada salahnya juga ikuti saja cara pemerintah Korea
Utara di bawah Kim Jong-un terhadap pamannya sendiri yang didakwa korupsi dan terlibat
skandal wanita yaitu dihukum mati dengan cara diumpankan kepada 120 ekor anjing liar
yang selama dua hari dua malam habis tubuhnya dilahap anjing-anjing liar tersebut.
Bukankah cara seperti itu yang dapat memuaskan rasa keadilan masyarakat kita sampai hari
ini dalam perkara korupsi?


ROMLI ATMASASMITA
Guru Besar Emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung
















Kado untuk SBY?
Koran SINDO
Senin, 13 Januari 2014

HAMPIR seluruh media massa menjadikan penahanan Anas Urbaningrum (AU) oleh
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (10/1) sebagai berita utama.

KORAN SINDO, Sabtu (11/1) menurunkan judul berita utamanya Anas: Terima Kasih Pak
SBY. Gegap gempita seputar penahanan Anas pun terjadi di media sosial dan perbincangan
informal banyak orang.

Anas adalah news maker dan sosok politisi yang piawai bukan hanya mengelola organisasi
dan pertemanan, tetapi juga mengelola panggung depan tempat opini, rumor, citra, kuasa,
dikonstruksi dan dipertarungkan dengan banyak kalangan. Terlepas dari kasus hukum yang
kini membelitnya, ada hal menarik yang layak disimak sekaligus dikritik dari komunikasi
politik Anas seusai penahanannya oleh KPK.

Situasi acak
Anas ibarat aktor yang sadar kamera. Dia memanfaatkan perhatian yang sedang tertuju
kepadanya untuk dioptimalkan sebagai sarana perlawanan dengan gayanya sendiri. Melalui
komunikasi politik konteks tinggi yang membungkus kritik, tuduhan, kemarahan dan
perlawanan dalam balutan gerak tubuh, mimik muka dan pilihan kata (diksi) santun tetapi
menusuk! Sejumlah kata sindiran, paradoks logika, satire mengundang tafsir beragam dan
membuat perlawanan Anas lebih berwarna dan multipola.

Menjelang ditahan KPK, Anas mencoba meramu cara jitu pelawanan. Dia berusaha sebisa
mungkin mengendalikan situasi acak. Konteksnya, tentu saja kontroversi kasus Hambalang
yang memosisikan dirinya dalam tekanan. Anas yang disangka menerima gratifikasi proyek
Hambalang memang telah kehilangan sumber daya politik dan modal sosial secara
berbarengan. Dia kehilangan posisinya sebagai nakhoda Demokrat, sekaligus rontoknya
kepercayaan banyak orang terkait koherensi karakternya sebagai politisi bersih dan bebas
korupsi.

Anas awalnya mencoba menerapkan strategi membeli waktu. Sejak ditetapkan sebagai
tersangka pada 22 Februari 2013, Anas langsung menebar perang urat saraf (psy-war) dengan
kubu Cikeas. Misalnya kalimat Anas adalah bayi yang lahir tidak diharapkan menjadi
pesan bahwa semua persoalan, termasuk kasus hukum yang membelitnya sejak awal adalah
rekayasa orang berkuasa yang tak menginginkan dirinya tumbuh kuat.

Di bagian lain dia mengatakan proses pengunduran dirinya bukan akhir tetapi halaman
pertama, masih banyak halaman-halaman lain yang akan dibuka dan dibaca bersama. Anas
tampak membangun benteng pertahanan di Cikeas lewat pendirian Perhimpunan Pergerakan
Indonesia (PPI). Lewat PPI bermunculan gelembung politik yang kian memanaskan
perseteruan Anas dan kubu Cikeas.

Termasuk guliran rumor yang menohok seputar pertemuan SBY, Bambang Widjojanto
(KPK) dan Denny Indrayana (Wamenkumham) di Cikeas. Tentu, peluit isu yang ditiup Juru
Bicara PPI, Makmun Murod, pun harus dimaknai dalam konteks mengelola situasi acak yang
kian menyudutkan Anas menjelang penahanannya. Langkah membeli waktu juga bisa kita
lihat dari upaya ketidakhadiran Anas saat dipanggil KPK, Selasa (7/1).

Logika yang disodorkan, keberatan atas surat panggilan KPK yang menyebutkan Anas
sebagai tersangka pemberian hadiah atau janji proyek Hambalang dan proyek-proyek lain.
Kata proyek-proyek lain yang dipersoalkan, tentu juga bagian dari strategi mengulur
waktu.

KPK akan menahan Anas sudah diprediksi banyak pihak, termasuk oleh Anas dan banyak
teman-temannya di PPI. Hanya, Anas mencoba mengelola situasi acak itu agar
menguntungkan posisinya saat berperang di ranah hukum dan politik di kemudian hari.

Fase baru
Saat Anas keluar dari gedung KPK dan mengenakan rompi tahanan, Anas pun kembali
menyusun puzzle perlawanan. Dia menjadikan panggung di depan ratusan awak media itu
untuk mengonstruksi opini yang akan dikonsumsi dan disebarkan media secara masif. Dalam
perspektif komunikasi politik tak ada pesan yang keluar tanpa pertimbangan mental kita.

Dalam teori Manajemen Privasi Komunikasi dari Petronio di dalam buku Boundaries of
Privacy: Dialectics of Disclousure (2002), kita membuat pilihan dan peraturan mengenai apa
yang harus dikatakan dan apa yang harus disimpan dari orang lain berdasarkan kalkulus
mental dengan mempertimbangkan kriteria penting tidaknya sesuatu yang mau kita
sampaikan.

Jelas apa yang disampaikan Anas adalah desain perang opini dan prioritasnya melawan SBY.
Ada dua teknik komunikasi yang digunakan Anas dan teman-temannya. Pertama, icing
device technique, yakni menitikberatkan pada sentuhan-sentuhan emosional.

Sehingga diharapkan dengan sentuhan emosional ini muncul empati dan kohesivitas di
masyarakat. Harapan minimal dari teknik ini, publik bisa memaklumi perkara yang saat ini
dialami Anas, maksimalnya semakin banyak kelompok yang mendukungnya. Rangkaian
pilihan kata yang dipilih Anas jelas memosisikannya sebagai pihak yang dikorbankan.
Misalnya Anas memulai pernyataannya dengan kalimat Ini adalah hari yang bersejarah buat
saya. Hari ini adalah bagian yang penting untuk saya menemukan keadilan dan kebenaran.
Di bagian akhir pernyataan, Anas kembali menekankan bahwa ujungnya kebenaran akan
menang. Ini merupakan strategi mengasosiasikan dirinya dengan keadilan dan kebenaran.

Jadi Anas sedang mengirim pesan, bahwa dia tidak bersalah, tapi ada pihak lain yang
mengorbankannya. Mata rantai perlawanan simbolik pun bermuara di SBY, dengan sindiran
menohok, bahwa penahanannya menjadi hadiah Tahun Baru 2014 untuk SBY. Tuluskah
ucapan Anas kepada SBY?

Tentu saja tidak! Pernyataan tersebut menjadi petanda yang harus dibaca kebalikannya.
Tampak sekali Anas sedang menonjok SBY dan KPK sekaligus. Kedua, yang digunakan
Anas dan loyalisnya adalah fearerousener technique dengan cara menekan mental pihak
lawan. Misalnya membuka wacana soal adanya peluang Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas)
yang notabene anak SBY untuk diperiksa dalam kasus yang saat ini membelit Anas. Jelang
penahanan Anas oleh KPK, nyanyian sumbang seputar dugaan keterlibatan Ibas kian nyaring
di media massa.

Tentu tekanan untuk memberlakukan hukum sama bagi semua orang akan menjadi ujian pula
bagi imparsialitas KPK dan integritas SBY di kemudian hari. Kini, Anas telah memasuki fase
baru dalam menyalurkan perlawanan, yakni di domain hukum. Tak cukup lagi kepiawaian
retorika politik dalam menyelesaikan masalah. Anas butuh melengkapi diri dengan data dan
fakta hukum serta menjadikan panggung pengadilan sebagai tempat menguji segala
sangkalan, tuduhan, rumor, satire yang selama ini kerap dikemukakan Anas dan teman-
temannya.

Tentu selaku subjek hukum, Anas harus diposisikan sama: orang yang belum tentu bersalah
hingga adanya keputusan mengikat yang menyatakan dia bersalah. Pengadilan yang
independen dan objektif bisa menguji rasionalitas naratif yang selama ini dikembangkan
Anas. Dalam perspektif Walter Fisher (1987) dua hal pokok dalam rasionalitas naratif yakni
soal koherensi (coherence) dan kebenaran (fidelity).

Bukan semata soal runtut dan konsistennya pernyataan Anas, tetapi juga pernyataan si
komunikator wajib merepresentasikan secara akurat kenyataan sesungguhnya. Mampukah
Anas membela diri di muka hukum? Akankah Anas benar-benar membuka data siapa saja
sosok untouchable yang terlibat dalam kejahatan korupsi yang diketahuinya? Hanya Anas
dan Tuhan yang tahu. Kita hanya menanti lembaran narasi kehidupan Anas berikutnya.


DR GUN GUN HERYANTO
Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute dan Dosen Komunikasi Politik UIN
Jakarta



Maulid dan moral literacy
Koran SINDO
Selasa, 14 Januari 2014

MUHAMMAD adalah seorang nabi yang begitu dicintai dan dihormati para pengikutnya.
Beribu puisi, lagu, dan buku tentang biografi, kerinduan, dan kemuliaan Nabi Muhammad
digubah oleh para budayawan dan cendekiawan.

Goethe, seorang pujangga Jerman yang termasyhur, juga menulis karya sastra dan drama
yang mengisahkan keluhuran Nabi Allah Muhammad SAW. Di kalangan kaum muslim,
kecintaan kepada Nabi Muhammad tidak hanya diekspresikan dengan karya-karya seni, tetapi
juga perayaan hari kelahirannya. Di Indonesia dan beberapa negeri muslim, perayaan hari
kelahiran Nabi Muhammad (maulid) ditandai dengan beragam ritual dan festival.

Vali, seorang darwisy Turki, sebagaimana dikutip Schimmel (2012: 210), menyebut malam
kelahiran Nabi Muhammad serupa dengan Lailatulkadar. Termaktub di dalam Surat al-Qadar
(97), Lailatulkadar lebih utama dari seribu bulan. Ibn Ammar, seorang mufti Mazhab Maliki
dari Aljazair mengemukakan tiga argumen yang memperkuat Vali. Pertama, maulid telah
mempersembahkan Nabi Muhammad kepada seluruh dunia, sementara Lailatulkadar
dikhususkan baginya.

Kedua, karena Nabi Muhammad lebih tinggi dari para malaikat, kehadiran Nabi Muhammad
lebih penting bagi umat ketimbang turun para malaikat. Ketiga, maulid adalah hari yang
sangat penting bagi semesta alam, sementara Alquran dikhususkan bagi kaum muslim
(Schimmel, 2012: 210). Tentu tidak semua muslim bersetuju dengan Vali dan Ibn Ammar.
Rabitah Alam Islami mengharamkan perayaan maulid.

Organisasi yang berbasis di Arab Saudi ini menyebut perayaan maulid sebagai perbuatan
bidah. Beberapa kalangan bahkan berpendapat biografi Nabi Muhammad dan syair-syair
yang memujinya secara berlebihan adalah kultus individu yang menjurus syirik. Di Indonesia
maulid adalah hari libur nasional. Ini menunjukkan bahwa maulid adalah tradisi keagamaan
dan kenegaraan. KH Mas Mansur (1986), seorang mantan ketua Muhammadiyah,
memperbolehkan peringatan maulid sebagai sarana dakwah dan tarbiyah (pendidikan) agar
umat muslim meneladani kemuliaan akhlak Rasulullah Muhammad SAW.

Moral I lliteracy
Betapa pentingnya makna kelahiran dan kehadiran Nabi Muhammad dapat terlihat jelas dari
moralitas masyarakat sebelum kelahirannya dan setelah kematiannya. Masyarakat sebelum
kelahiran Nabi Muhammad disebut masa jahiliah. Secara bahasa kata jahiliah diambil dari
kata jahil yang berarti bodoh. Lawan katanya alim yang berarti berilmu. Dalam konteks ini,
jahil berarti masyarakat yang bodoh, tidak berilmu. Dari mimbar-mimbar ceramah, para
mubalig mengatakan bahwa masyarakat jahiliah adalah masyarakat yang tunaaksara, tidak
bisa membaca dan menulis.

Inilah faktor utama yang menyebabkan kebodohan masyarakat (knowledge illiteracy).
Knowledge illiteracy hanyalah sebagian ciri masyarakat jahiliah. Ciri yang paling utama
adalah tuna aksara moral (moral illiteracy). MM Azami dalam Studies in the Early Hadith
Literature menyebutkan bahwa masyarakat Arab bukanlah sepenuhnya bodoh. Kaum elite
Arab begitu melek huruf, mahir membaca dan menulis. Masyarakat Arab mampu menggubah
syair-syair yang bernilai sastra tinggi. Setiap tahun diselenggarakan festival sastra. Karya
pemenang digantung di dinding Kakbah. Masyarakat Arab adalah pebisnis hebat yang
berbisnis sampai ke mancanegara.

Kaum elite menguasai ekonomi dan hidup bermegah-megahan di tengah kemiskinan dan
kebodohan masyarakat. Masyarakat Arab pra-Islam disebut jahiliah lebih karena
moralitasnya yang rusak. Di dalam Alquran, kata jahiliah empat kali disebut. Semua itu lebih
menunjukkan kebodohan perilaku ketimbang kebodohan ilmu (lack of knowledge). Mereka
diperbudak nafsu berkuasa yang menyebabkannya memperbudak sesama manusia. Berahi
yang meraja membuat mereka haus akan wanita dan memperlakukannya dengan sangat nista.

Kegilaan dengan gemerlap harta membuat mereka alpa menolong sesama, kikir, memonopoli
kekayaan, curang dalam berdagang, dan korup. Dengan ilmunya, para elite membodohi kaum
jelata dan menenggelamkannya dalam kepapaan. Kekuatan kapital harta dan status sosial
adalah modal utama meraih kekuasaan dan takhta. Demi supremasi kelompok, masyarakat
jahiliah gemar berperang dan tega saling membunuh.

Dalam waktu hanya 23 tahun, Nabi Muhammad mampu mengubah masyarakat jahiliah
menjadi masyarakat yang ilmiah. Nabi Muhammad berhasil mengubah masyarakat barbarian
menjadi kaum yang berkeadaban. Esposito (1991) menyebut kesabaran, kebersahajaan,
kejujuran, ketulusan, keteguhan, dan tanggung jawabnya yang tidak terkira adalah kunci
keberhasilan perjuangannya.

Membangun akhlak
Maulid adalah momentum kebangkitan akhlak. Peringatan maulid adalah momentum
menghidupkan kembali akhlak Nabi Muhammad. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits,
misi utama yang dibawa Nabi Muhammad adalah menyempurnakan akhlak manusia. Akhlak
Nabi, sebagaimana dijelaskan Aisyah RA, istri Rasulullah, adalah Alquran.

Menurut Fazlurrahman (1987), pesan utama Alquran adalah moralitas. Ibadah di dalam Islam
tidak akan sempurna jika tidak membuahkan akhlak dalam kehidupan. Problem kebangsaan
sekarang bukanlah tunaaksara ilmu.

Masyarakat kita sudah melek huruf. Masalah umat bukanlah kurang ilmu agama. Pengajian,
majelis taklim, dan mimbar agama membuat umat melek ilmu agama. Akar semua masalah
dan keruwetan adalah ilmu yang tidak diamalkan. Inilah sebab menjerumuskan bangsa dalam
lembah jahiliah modern. Dalam beberapa hal, bangsa ini lebih jahiliah daripada bangsa
jahiliah prakelahiran Nabi Muhammad. Dalam situasi kebangsaan Indonesia, maulid menjadi
sangat bermakna.

Di tengah korupsi yang menggurita, kekerasan yang merajalela, feodalisme yang
mengemuka, rasa malu yang nyaris sirna, dan ketamakan yang membuana, maulid menjadi
tonggak yang begitu penting.

Betapa indahnya jika satu hari libur dijadikan sebagai titik awal bagi kaum muslim
menghadirkan akhlak Muhammad dalam kehidupan umat. Alangkah dahsyat jika 12
Rabiulawal dijadikan sebagai tonggak untuk tidak lagi meneguk dan menenggak makanan
dan minuman buah korupsi.

Salawat yang disenandungkan selama maulid adalah kumandang kemanusiaan di mana umat
semakin mencintai dan menghormati sesama, menerima mereka yang berbeda dengan jiwa
besar, serta mengulurkan tangan bagi mereka yang berkekurangan.

Nabi Muhammad berkuasa bukan dengan menindas sesama, mulia bukan dengan gemerlap
harta, ternama dengan pencitraan raga, melainkan dengan teladan akhlaknya. Nabi
Muhammad membangun peradaban dan memimpin masyarakat dengan kekuatan akhlaknya.
Keluhuran akhlak adalah modal agar bangsa ini bangkit dari keterpurukan. Sebagaimana
syair Syauqi Bek: suatu bangsa akan jaya jika berakhlak mulia; suatu bangsa akan binasa jika
akhlaknya sirna.


ABDUL MUTI
Sekretaris PP Muhammadiyah Dosen IAIN Walisongo, Semarang









Muhammad: Potret sang pencerah
Koran SINDO
Selasa, 14 Januari 2014

MUHAMMAD lahir pada 12 Rabiulawal, Tahun Gajah/Amul Fil (20 April 571 M).
Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan ibunya bernama Aminah binti Wahab.
Ayahnya telah meninggal dunia ketika Muhammad masih dalam kandungan sang ibu.

Muhammad lahir sebagai anak yatim, sama sekali tidak mengenal sosok dan wajah sang
ayah. Bunda Aminah dengan penuh cinta mengasuh Muhammad. Ketika Muhammad
berumur enam tahun, sang bunda meninggal dunia. Muhammad kecil diasuh oleh kakeknya
tercinta, Abdul Muthalib, pemuka suku Quraisy yang terkenal dan berpengaruh. Tak lama
kemudian, Abdul Muthalib pun tutup usia.

Muhammad diasuh oleh pamannya tercinta, Abu Thalib, yang mengajarinya berniaga.
Pengalaman dagangnya itu mengantarkan perkenalannya dengan Khadijah binti Khuwailid.
Muhammad membawakan barang dagangan Khadijah ke negeri Syam dan bisnis ini
memberinya keuntungan yang sangat menggembirakan. Muhammad memberikan semua
keuntungan itu kepada Khadijah. Hubungan bisnis ini akhirnya mengantarkan kedua insan itu
sepakat untuk hidup dalam ikatan pernikahan.

Misi suci
Predikat jahiliah diberikan kepada masyarakat Arab pra-Islam karena akidah dan akhlak
mereka sudah bobrok. Di tengah kehidupan kaumnya yang sudah dekaden, Muhammad
memperlihatkan personalitasnya yang penuh kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Ia digelari
Al-Amin (Yang Tepercaya). Pada waktu Muhammad berusia 30 tahun, pecahlah perselisihan
antarkabilah Quraisy tentang siapakah pemimpin mereka yang berhak mengembalikan Hajar
Aswad ke tempat asalnya setelah mereka selesai memperbaiki Kakbah.

Pertentangan antarkabilah semakin sengit dan nyaris menimbulkan pertumpahan darah.
Akhirnya kabilah-kabilah Quraisy sepakat menyerahkan persoalan krusial itu kepada
Muhammad untuk diselesaikan. Muhammad lantas menghamparkan kain dan meletakkan
Hajar Aswad di atasnya. Kemudian Muhammad menyuruh wakil-wakil kabilah memegang
tepi kain dan secara bersama-sama mengangkat Hajar Aswad ke posisi asalnya.

Setelah sampai di tempatnya semula, Muhammad meletakkan HajarAswad itu. Mereka
semua sangat puas dengan cara penyelesaian Muhammad yang sangat demokratis itu.
Pertumpahan darah pun dapat dihindari di antara mereka. Itulah potret Muhammad: integritas
pribadi yang merangkum segala sifat keadilan, keterpujian, dan kelembutan yang dimotivasi
oleh kebesaran jiwa, sikap toleransi, dan demokrasi yang mengagumkan dalam
menyelesaikan persoalan yang sangat pelik sekali pun.

Muhammad menerima wahyu pertama di Gua Hira pada 17 Ramadan pada usia 40 tahun
saat ia melakukan renungan yang sangat intens. Ketika itulah Malaikat Jibril menurunkan
wahyu (Surah al-Alaq: 1-5) seraya berseru, Bacalah! Muhammad menjawab, Saya tidak
bisa membaca.

Kemudian Malaikat Jibril menuntun Muhammad membaca ayat-ayat itu. Beberapa waktu
kemudian, Malaikat Jibril datang lagi kepada Muhammad dan menyampaikan wahyu (Surah
al-Muddatstsir: 1-7). Wahyu inilah yang berisi perintah Allah kepada Muhammad untuk
menyeru manusia ke jalan Allah (Islam).

Misi suci Nabi Muhammad tidak terbatas kepada masyarakat Arab, tetapi juga kepada
seluruh umat manusia sesuai firman Allah: Tidaklah Kami utus engkau Muhammad,
melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin).

Mulanya Nabi Muhammad menyiarkan Islam secara diam-diam, tetapi kemudian beliau
melakukannya secara terbuka. Dua puluh tiga tahun Nabi Muhammad menyiarkan agama
Islam: 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah.

Hanya dalam waktu 23 tahun Nabi Muhammad telah berhasil menyiarkan Islam di Arab.
Beliau melenyapkan kabilahisme, sukuisme, rasisme, dan berhasil membangun persatuan dan
persaudaraan di bawah panji ukhuwah islamiah. Beliau berhasil membangun masyarakat
muslim dan meletakkan dasar yang sangat kuat bagi kebangkitan kebudayaan dan peradaban
Islam.

Tatanan masyarakat plural, masyarakat madani, demokrasi, dan toleransi yang dibangun dan
dikembangkan Nabi Muhammad dibuktikan secara nyata dengan dilaksanakan butir-butir
Piagam Madinah yang secara hakiki mengakui eksistensi komunitas Yahudi dan Arab
nonmuslim serta berkoeksistensi damai dengan mereka.

Paling berpengaruh
Michael Hart dalam bukunya, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History
(Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh di Dalam Sejarah), menempatkan Nabi Muhammad
sebagai tokoh teratas yang paling berpengaruh di pentas sejarah. Hart memakai kriteria
objektif yaitu: (1) Orangnya benar-benar pernah hidup dan tidak hanya ada dalam dongeng-
dongeng. (2) Ia mempunyai pengaruh terhadap generasi sekarang dan generasi yang akan
datang. (3) Prestasinya mempunyai pengaruh terhadap generasi yang akan datang dan
terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. (4) Karya, ide, dan cita-citanya merupakan
hasil individual dan bukan buah pikiran kolektif. Atas dasar kriteria ini, Hart menempatkan
Muhammad di peringkat pertama tokoh paling berpengaruh di pentas sejarah.

Hart mengomentari pribadi Muhammad, He was the only man in history who was supremely
succesful on both the religious and secular levels, (Dialah satu-satunya manusia di pentas
sejarah yang berhasil secara luar biasa baik yang menyangkut bidang keagamaan maupun
bidang keduniawian).

Mengapa Hart memilih Muhammad sebagai orang pertama yang paling berpengaruh di
panggung sejarah di antara 100 tokoh itu? Mengapa bukan tokoh lain seperti Yesus Kristus,
Umar bin Khattab, Buddha Gautama, Albert Einstein, Lenin, Mao Tse Tung, atau Karl Marx?

Hart mengajukan argumen: (1) Muhammad merupakan penerjemah tunggal Alquran, kalimat
Tuhan yang diterimanya. (2) Muhammad adalah sosok pemimpin tidak hanya di bidang
agama, tetapi juga di bidang politik. Sejarah mencatat, penaklukan dunia oleh bangsa Arab
digerakkan oleh Muhammad.

Hart mengakui: It is the combination of secular and religious influence which I feel entitles
Muhammad to be considered the most influential single figure in human history(Kombinasi
pengaruhnya di bidang duniawi dan ukhrawi sekaligus menyebabkan Muhammad harus
ditempatkan sebagai figur yang paling berpengaruh di dalam lintasan sejarah). Hart jujur dan
objektif dalam mengemukakan pandangan dan penilaiannya terhadap sosok pribadi Nabi
Muhammad.


FAISAL ISMAIL
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta












Machiavellianisme Ariel Sharon
Koran SINDO
Rabu, 15 Januari 2014

TOM SAPTAATMAJA
WARS begin when you will, but they do not end when you please (Perang mulai jika Anda
memang mau dan tidak akan berakhir selama kau senang) Niccolo Machiavelli (14691527).
Akhirnya Ariel Sharon meninggal dunia dalam usia 85 tahun pada 11 Januari 2014 setelah
menderita stroke dan koma selama 8 tahun.

Tokoh yang lahir dengan nama Ariel Scheinermann (Shinerman) di Kfar Malai, Palestina, 26
Februari 1928 itu jelas merupakan tokoh besar dalam sejarah Israel modern. Karier militer
dan politiknya membentang panjang sejak ia berumur 17 tahun. Puncaknya, ia pernah
menjadi perdana menteri Israel dari 7 Maret 2001 hingga 14 April 2006.

Banyak hal bisa ditulis tentang sosok yang terkenal karena keterlibatannya dalam Perang
Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kipur 1973. Namun satu hal sudah pasti, sosok ini berani
menghalalkan semua cara untuk meraih kemenangan di bidang militer atau politik.

Sebagai Zionis sejati, Sharon dikenal sebagai raja tega dan jagal yang tanpa belas kasihan
membunuh semua musuh Israel. Misalnya ia merupakan pelaku pembantaian Qibya pada 13
Oktober 1953 yang menewaskan 96 orang Palestina.

Dia juga merupakan aktor intelektual pembantaian Sabra dan Shatila di selatan Beirut
Libanon pada 1982, semasa menjabat sebagai menteri pertahanan Israel. Selama tiga hari
dimulai pada 16 September 1982 ratusan pria, wanita, dan anak-anak dibantai di kedua kamp
pengungsi itu. Dia pun digelari sebagai Jagal dari Beirut. Tak mengherankan bila kematian
Sharon dirayakan di kedua kamp tersebut.

Adagium di atas rasanya tepat untuk menggambarkan aksi brutal Sharon yang tak mengenal
belas kasihan. Bahkan bukan hanya adagium itu yang cocok untuk menggambarkan
sosoknya, segenap filsafat politik yang tertuang dalam Il Principe (Sang Penguasa) karya
Machiavelli pada 1513 pun rasanya memang cocok untuk melukiskan kebiadaban Sharon.
Tentu pengaitan ini bukan tanpa dasar.

Kalau sudah membaca artikel What Machiavelli (A Secret Jew?) Learned From Moses
karya Michael Ledeen (www.jewishworldreview.com), kita akan percaya ada kaitan, bahkan
ikatan, antara ajaran Machiavelli dengan para pemimpin Israel seperti Sharon. Dalam artikel
itu, Machiavelli digambarkan lebih bersimpati pada ajaran Yahudi daripada ajaran Kristen.
Bahkan dia sangat benci dengan peran politik Gereja Katolik pada zamannya.

Malah seperti ditulis Ledeen, bisa-bisa Machiavelli merupakan sosok Yahudi yang
menyembunyikan identitasnya atau setidaknya punya simpati khusus untuk Yahudi.
Indikasinya, Machiavelli ternyata begitu mengidolakan kepemimpinan Musa dan lebih
condong pada nilai-nilai keutamaan (virtu) Yahudi.

Machiavelli juga tidak pernah berpikir tentang kebaikan, kejujuran atau keadilan yang
merupakan nilai moral, tetapi dia lebih berpikir pada tekad, kemantapan, kekuatan,
keberanian seorang pemimpin untuk bertindak tanpa ragu-ragu sesuai dengan apa yang
diyakini.

Untuk itu seperti tertuang dalam Il Principe, Machiavelli menekankan pentingnya pemimpin
mempertahankan kekuasaan dan memantapkannya tanpa direcoki pertimbangan moral.
Politik harus cerai dari moral.

Demi melanggengkan kekuasaan, segala risiko dan cara dihalalkan, termasuk mencabut
nyawa orang sekalipun. Dan semua dilakukan demi negara. Nah ajaran politik seperti itu
rasanya memang sinkron dengan sepak terjang Sharon, baik di bidang militer ataupun politik.

Berbagai kecaman masyarakat dunia, termasuk Sekjen PBB, Paus atau para pemikir, tidak
pernah digubris Sharon. Nyawa warga Palestina tak ada harganya di mata Sharon atau para
pemimpin Israel yang mewarisi ide-idenya. PBB bisa meneken resolusi atau masyarakat
dunia bisa berdemo sambil menyampaikan sumpah serapah, tapi para pemimpin Israel seperti
Sharon juga Machiavelli lebih mematuhi argumentasi dan keyakinan sendiri.

Dan argumentasi atau keyakinan mereka ada pada ajaran Musa. Dalam artikel Michael
Ledeen, Machiavelli memang mengajak kita membaca Alkitab Perjanjian Lama (Taurat)
secara cermat dan kita akan tahu bahwa Musa pun dipaksa untuk membunuh sekalipun ada
hukum jangan membunuh mengingat suatu keadaan yang sangat pelik. Ketika bangsa Israel
menyembah lembu emas, Musa menjadi geram dan menyuruh membunuh. Pada hari itu kira-
kira ada 3.000 orang dibunuh (Exodus 32:25-28).

Menurut Machiavelli, jika Musa berkata kepada para penyembah berhala Mari kita
bernegosiasi, maka Musa akan gagal. Jadi Machiavelli tidak bermaksud menyuruh kita
berbuat jahat, tetapi dia ingin menegaskan: If you lead, there will be occasions when you
will have to do unpleasant, even evil things, or to be destroyed (jika Anda menjadi
pemimpin, akan ada kesempatan ketika Anda harus melakukan hal-hal yang buruk dan tidak
menyenangkan, atau kalau itu tidak Anda lakukan, Anda termasuk negara Anda akan
dibinasakan).

Nasihat itu yang dipatuhi Sharon dan para penggantinya. Kita ingat tentunya ketika Israel
melakukan agresi ke Gaza, markas Hamas, yang sempat menggemparkan dunia pada 2008.
Konon Israel hanya mencoba membela diri dari roket-roket yang terus diluncurkan Hamas.
Namun sejatinya semua agresi atau pencaplokan tanah Palestina untuk permukiman Yahudi
oleh pemerintah Israel hanyalah merupakan implementasi dari pesan-pesan Machiavelli di
atas.

Padahal, agresi Israel atau pembangunan permukiman baru bagi Yahudi di bumi Palestina
seperti di Yerusalem Timur, jika dilakukan terus, justru akan menjadi bumerang dan jelas
tidak akan menjamin masa depan yang aman bagi Israel. Merespons kematian Sharon,
Presiden Palestina Mahmoud Abbas menekankan pada Sabtu (11/1/2014) bahwa tidak akan
ada kesepakatan damai dengan Israel tanpa kesepakatan atas Yerusalem (Sindonews. com,
12/1).

Demikian juga dengan Hamas. Pada awal 2009, juru bicara Hamas di Dewan Legislatif
Palestina Musheir al-Masri pernah menyatakan, bila Israel semakin agresif, serangan roket
Hamas justru akan semakin terus dilancarkan. Di sinilah ada defisit atau kelemahan
fundamental dalam ajaran Machiavelli yang diyakini Sharon atau para pemimpin Israel saat
ini.

Kebrutalan Machiavelli yang hanya menomorsatukan raison detat (kepentingan negara) atau
kebrutalan agresor Israel yang hanya memikirkan eksistensi Israel dengan mengeksklusi
eksistensi Palestina, khususnya Hamas, atau rencana untuk membunuh Presiden Palestina
Mahmoud Abbas (rumor yang baru saja santer diberitakan media dunia) ternyata jelas
membuat perdamaian menjadi makin sulit diupayakan hingga kini. Jangan lupa sebuah
kekuasaan yang hanya dilandasi kebrutalan seperti ditunjukkan Sharon, menurut filsuf
Yahudi Hannah Arendt (19061975), tidak akan pernah stabil dan aman.

Kalau toh ada stabilitas dan rasa aman, itu hanya semu dan tidak lama. Apakah Israel bisa
disebut negeri yang damai jika para warganya terus takut menjadi korban bom bunuh diri
atau korban roket Hamas? Maka perdamaian antara Israel-Palestina selalu bersifat fragile
alias mudah patah. Maka sepeninggal Sharon, para pemimpin Israel perlu menguburkan
segala pemikiran dan kebijakan yang bercorak machiavellianistis.


TOM SAPTA ATMAJA
Teolog, Alumnus STFT Widya Sasana Malang dan Seminari St Vincent de Paul




Hukum di Jumat petang
Koran SINDO
Rabu, 15 Januari 2014

HARI Jumat, yang kata para bijak adalah rajanya hari dalam seminggu, juga seolah telah
menjadi rajanya hari dalam berhukum di Indonesia.

Siapa pun yang telah ditetapkan status hukumnya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) sebagai tersangka dan diperiksa pada hari itu, Jumat, entah untuk pertama kali atau
untuk kesekian kalinya pasti ditahan dan ditempatkan di rumah tahanan negara, rutan.

Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum Partai Demokrat, partai yang sekarang diketuai
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang juga presiden ini, ditahan oleh penyidik KPK.
Seperti yang lainnya, Anas ditempatkan di rumah tahanan negara yang berada di KPK.
Penahanan ini menarik. Yang menarik adalah hiruk-pikuk non hukum yang mengitari
peristiwa hukum ini.

Rangkaian soal
Setelah lebih dari lima jam, entah diperiksa atau ngobrol-ngobrol biasa saja antara Anas
dengan penyidik-penyidik, pemeriksanya, kurang lebih pukul 18.00 WIB Anas meninggalkan
ruang pemeriksaan.

Khas hukum Jumat petang, ketika sosoknya muncul di khalayak, rompi tahanan KPK telah
dikenakannya. Sejenak sebelum berjalan menuju ruang tahanan, Anas disapa para pewarta
yang telah seharian menunggu sepatah dua patah kata darinya.

Di atas segalanya, kata Anas diujung keterangannya kepada para pewarta, dia berterima kasih
kepada Pak SBY. Bukan itu saja, Anas pun menyatakan penahanan atas dirinya sebagai
hadiah tahun baru dan semoga punya arti.

Penyebutan nama SBY ini, terutama dalam statusnya sebagai presiden, pasti memiliki makna,
entah apa maknanya. Apalagi nama SBY itu telah disebut Anas sejak masih di rumahnya
tatkala ia sedang bersiap-siap pergi ke KPK di Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Sekatan,
memenuhi panggilan mereka.

Seperti pernyataannya di KPK, penyebutan nama SBY sejak masih di rumahnya jauh dari
bersifat menuduh. Anas hanya mengajak para sahabat, rasanya termasuk para pewarta yang
meliput peristiwa itu, menyegarkan kembali memori mereka.

Memori yang mau disegarkan itu tak lain adalah sebuah peristiwa lebih dari sebelas bulan
lalu, tepatnya peristiwa yang terjadi pada tanggal 4 Februari 2013. Pada tanggal itu,
bertempat di Hotel Hilton, Jeddah, Makkah Al-Mukarramah, Tanah Suci, tanah mulia, SBY
berbicara terbuka tentang hal ihwal partai binaannya, Partai Demokrat.

Sebagian isi bicaranya itulah yang diminta Anas untuk disegarkan kembali. Mengapa mesti
disegarkan? Apakah Anas sedang menanti belas kasih atau budi baik mereka untuk dirinya
dalam menghadapi kasus yang disangkakan penyidik KPK kepadanya?

Entahlah, tapi rasanya tidak. Apakah Anas bermaksud meminta mereka, mungkin juga
publik, melalui pernyataannya itu, untuk memastikan adanya kaitan logis antara peristiwa
tanah mulia itu dengan peristiwa lain, peristiwa bocornya draf sprindik penyidik KPK, yang
heboh itu? Entahlah.

Tapi dari kebocoran itu tersiar kabar, luas pula, Anas ditetapkan sebagai tersangka tindak
pidana korupsi, yang dikenal luas dengan sebutan kasus Hambalang. Faktanya, sesudah
semua peristiwa itu, kalau tidak salah, pada tanggal 22, masih pada bulan Februari 2013,
Anas ditetapkan oleh penyidik KPK sebagai tersangka dalam kasus Hambalang.

Adakah kaitan logis dan sempurna dari rangkaian peristiwa demi peristiwa itu? Ada kata-kata
tempo dulu, entah milik siapa, yang mungkin dapat digunakan menggambarkan betapa
sulitnya memberi jawaban konklusif, apalagi final, atas pertanyaan itu. Apa kata-kata itu?

Anda tak bisa terus mengingat-ingat peristiwa itu, tetapi Anda tidak bisa melupakannya,
kapan pun. Sesuatu yang tampak dalam indra sebagai kait-mengait tidak dengan sendirinya
begitu dalam hakikatnya. Itu sebabnya David Hume, filsuf kawakan yang hidup sesudah John
Locke, mengingatkan bahwa tidak boleh cepat mengambil kesimpulan atas suatu peristiwa.

Dan John Locke, filsuf liberal kawakan yang terkenal dengan teori Division of Power-nya itu,
mengingatkan bahwa setiap peristiwa harus dilihat persis seperti apa adanya. Tapi apakah
betul tak ada peristiwa yang tak memiliki penyebab faktual? Itulah soalnya.

Luka dan petaka
Pasal berapa yang disangkakan penyidik kepada Anas, yang mengakibatkan ia ditahan?
Penyidik dan Anas yang tahu. Dua hal pasti adalah, pertama, pasal yang disangkakan kepada
Anas pasti pasal yang berisi ancaman pidana lebih dari lima tahun. Kedua, beberapa hari
sebelum hari Jumat, Anas pernah mempertanyakan pasal yang disangkakan kepadanya.

Penyebabnya, begitu kabar beritanya, dalam surat panggilan penyidik KPK ke dirinya untuk
diperiksa pada tanggal 7 Januari 2014, beberapa waktu lalu, terselip kata-kata proyek
lainnya. Proyek apa? Ini pertanyaan bernalar dogmatis yang sangat logis.

Secara dogmatis, sangkaan kepada seseorang sebagai pelaku tindak pidana harus jelas. Agar
jelas, tindak pidana yang disangkakan itu harus diuraikan oleh penyidik, tentu singkat, dalam
panggilannya itu. Walau singkat, uraian itu harus jelas sehingga tersangka mengerti, bahkan
memahami perbuatan yang disangkakan kepadanya.

Kata lain menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa edisi keempat
Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2008 berarti berbeda. Bukan tak ada objek yang
ditunjuk dari kata itu, tetapi objeknya berada di luar kata itu.

Objek dalam kata itu tidak menjadi substansi, juga mode. Itu sebabnya harus dijelaskan.
Karena tidak dijelaskan, logis dipertanyakan oleh Anas. Ketiadaan penjelasan itulah yang
mengakibatkan hukum di Jumat petang kemarin terasa bermakna.

Hukum baik formal maupun material merupakan pengorganisasian hak setiap orang dan
otoritas. Sebagai pengorganisasian hak seseorang atau otoritas, hukum dalam arti hakikinya
adalah kendali, arah, juga pembatasan.

Mendefinisikan hak seseorang atau suatu otoritas, tak punya tujuan lain, kecuali
mengarahkan, membimbing, bahkan membatasi orang atau organ itu untuk tak berbuat di luar
isi hukum itu. Itu sebabnya selalu merangsang munculnya rasa ngeri tatkala penegakan
hukum, yang dalam ilmu hukum bukanlah hukum dalam arti dogmatik itu, digoda tindak-
tanduk intervensif.

Intervensi bukan hanya berarti menyepelekan batas otoritas organik, tetapi juga
menyepelekan rasa dan nurani, induk hukum. Sayangnya sejarah hukum yang penuh dengan
warna dialektis tidak pernah dapat mendemonstrasikan secara gamblang intervensi, sekasar
apa pun bentuknya.

Seperti angin, intervensi tak pernah bisa dikenali, apalagi diraba, walau bukan tak bisa
dirasakan, apalagi bagi mereka yang memiliki rasa politik. Noda-noda itu akan menjadi
bahan debat berkepanjangan, menarik, dan akan terus begitu.

Akan ada yang mati-matian merasa dikerjai dan akan ada yang mati-matian menolak sebagai
pihak yang mengerjai. Begitulah dunia penegakan hukum, dunia yang tak pernah hitam putih.
Dunia ini, dalam sejarahnya, tak pernah bisa diisolasi dari lika-liku dan hantam-hantaman
politik. Dunia ini mengutopia-kan independensi, sehebat apa pun rindu kita terhadap
independensi itu.

Kini soal hukum tentang proyek lain yang mengundang tanya Anas dan tim hukumnya,
boleh jadi, berlalu sudah dan boleh jadi juga telah terjawab. Sungguhpun begitu, hukum di
Jumat petang kemarin, terus terang, ternodai. Sayangnya, sejarah penegakan hukum
menunjukkan betapa noda-noda hukum itu tak banyak yang bisa terungkap bentuknya secara
gamblang. Itulah petaka hukum.

MARGARITO KAMIS
Doktor Hukum Tata Negara, Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Khairun Ternate
Mesir memutuskan
Koran SINDO
Rabu, 15 Januari 2014

DALAM minggu ini, Mesir akan mengamendemen Konstitusi untuk yang ketiga kali. Ironis
bahwa amendemen ini terjadi setelah pemerintahan yang berkuasa sebelumnya dilengserkan.

Amendemen pertama dilakukan setelah rakyat melengserkan Hosni Mubarak sebagai
presiden di tahun 2011. Amendemen itu sebetulnya mengambil bentuk Constitutional
Declaration yang membekukan Konstitusi 1971. Deklarasi itu tidak secara langsung
mengamendemen Konstitusi sebelumnya secara spesifik, namun membekukan dan
memberlakukan deklarasi sebagai dasar hukum selama konstitusi lama dibekukan.

Deklarasi itu adalah bagian penting dari transisi sistem demokratis di Mesir, karena mereka
memisahkan dengan tegas kekuasaan eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Menurut beberapa
diplomat yang saya temui, salah satu sumber rujukan deklarasi ini adalah Undang-Undang
Dasar 1945 yang telah diamendemen oleh parlemen pada 1998.

Deklarasi itu terutama membuka jalan bagi pemilihan umum yang diikuti oleh semua partai,
termasuk Muslim Brotherhood yang dikategorikan sebagai organisasi terlarang selama
pemerintahan Hosni Mubarak.

Perubahan Konstitusi yang akan direferendum pada minggu ini akan menjadi tonggak
penting bagi demokrasi di Mesir, khususnya dari kelompok angkatan bersenjata yang saat ini
berkuasa. Jenderal Abdel Fattah el-Sisi, yang sebelumnya tidak memberikan komentar apa
pun tentang kemungkinan menjadi presiden, mulai membuka diri akan peluang dirinya
mencalonkan diri sebagai presiden.

Dalam kutipan dari kantor berita negara pada Sabtu lalu, dalam percakapan di lingkungan
pejabat militer, ia mengatakan bila rakyat Mesir memberikan dukungan penuh pada draf
Konstitusi 2013 untuk lolos dalam referendum minggu ini, maka itu dapat disimpulkan
menjadi mandat baginya untuk mencalonkan diri menjadi presiden. Pihak militer berharap
sedikitnya 70% dari rakyat Mesir yang memiliki hak suara dapat datang ke lebih dari 30.000
kotak suara untuk memberikan keputusannya.

Dalam referendum di tahun 2012 di bawah kekuasaan rezim Mursi, penduduk yang datang
memberikan suara hanya 32,9% dari 51 juta orang yang mempunyai hak untuk memberikan
suara. Dari jumlah itu, 63,8% menyatakan mendukung perubahan Konstitusi yang diusulkan
oleh Mursi. Jumlah orang yang datang memberikan suara di tahun 2012 itu menjadi dasar
bagi oposisi untuk menggulingkan rezim Mursi. Rezim militer tidak ingin mengulangi
kesalahan yang sama.

Harapan mereka mungkin akan terwujud karena menurut survei Egyptian Centre for Public
Opinion Research (Basirah) terhadap 2.068 orang di bulan Desember, 76% pemilih akan
datang memberikan suara di mana 74% dari mereka akan memberikan dukungan untuk
Konstitusi 2013 yang baru. Partisipasi besar dari pemilih akan memengaruhi politik dalam
negeri.

Apabila jumlah pemilih yang datang besar, dapat dipastikan rezim militer segera menentukan
tanggal untuk pemilihan presiden di mana Jenderal el-Sisi akan mencalonkan diri.
Sebaliknya, bila jumlah pemilih yang datang rendah, penetapan tanggal pemilihan parlemen
akan lebih didahulukan agar ada waktu bagi militer untuk mempersiapkan strategi
pencalonan presiden.

Hingga saat ini, waktu dan urutan pemilihan presiden dan parlemen belum ditetapkan.
Referendum ini juga penting bagi kelangsungan rezim militer dalam konteks pergaulan
internasional. Setelah Mursi digulingkan dalam sebuah kudeta militer, mitra tradisional
seperti Amerika dan Eropa telah memutuskan untuk memberikan bantuan pembangunan dan
militer kepada rezim militer yang telah menggulingkan Mursi. Perekonomian Mesir saat ini
bergantung pada bantuan dana konsorsium Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab yang
memberi bantuan USD13,9 miliar.

Dari segi isi, Konstitusi yang akan direferendumkan pada minggu ini memiliki banyak hal
yang bertolak belakang dari isi Konstitusi 2012 yang saat ini dibekukan. Draf Konstitusi 2013
ini secara umum kembali meletakkan militer sebagai bagian dalam proses politik negara,
meskipun ada beberapa hak perempuan, minoritas, kesehatan atau pendidikan yang dianggap
ada perbaikan. Draf Konstitusi baru juga memiliki affirmative policy bagi kelompok-
kelompok minoritas dan pekerja untuk mendapatkan kursi di parlemen dalam periode
pertama Konstitusi ini diberlakukan.

Sementara itu, aturan yang paling keras adalah pelarangan menggunakan agama sebagai
dasar aktivitas politik partai. Konstitusi yang baru ini jelas-jelas menambah tekanan kepada
Freedom and Justice Party yang didirikan oleh Muslim Brotherhood yang telah dilarang
keberadaannya.

Partai yang menggunakan dasar agama, khususnya agama Islam, sebetulnya bukan hanya
PKK, melainkan juga ada Partai Salafi yang sebelumnya adalah koalisi dari PKK. Partai
Salafi sendiri menerimaKonstitusi tersebut karena menguntungkan posisi mereka juga
sebagai partai yang memiliki dukungan muslim terbesar di Mesir.

Konstitusi baru juga menghilangkan doktrin Sunni sebagai sumber interpretasi hukum
syariah. Interpretasi tetap akan merujuk pada sumber-sumber tertulis agama, namun akan
dilakukan dandiputuskan oleh Mahkamah Konstitusi. Perubahan penting lainnya adalah
peranan angkatan bersenjata dalam pemerintahan. Misalnya kedudukan menteri pertahanan
sebagai panglima angkatan bersenjata.

Dalam Konstitusi tahun 2012, menteri pertahanan selaku panglima angkatan bersenjata
dipilih langsung oleh presiden, sementara pada draf Konstitusi 2013 ada pasal transisi di
mana penetapan menteri pertahanan harus mendapat persetujuan dari Mahkamah Militer
(Supreme Council of Armed Forces) dan berlaku selama dua periode kepresidenan
seandainya Konstitusi 2013 disetujui oleh rakyat. Militer juga akan dilibatkan dalam
penyusunan anggaran pertahanan dan keamanan di mana dalam Konstitusi 2012, angkatan
bersenjata hanya menjadi mitra dalam konsultasi tentang anggaran belanja militer.

Dalam Konstitusi 2012, penduduk sipil dapat diajukan ke pengadilan militer bila mereka
mengganggu fasilitas-fasilitas militer. Namun dalam Konstitusi 2013, gangguan mengenai
fasilitas ini didefinisikan lebih detail, luas, dan kemungkinan bebas interpretasinya atau karet.

Misalnya kejahatan konspirasi atau melawan petugas yang sedang melakukan tugas mereka.
Hal ini dapat masuk dalam semua tindakan demonstrasi baik yang bersifat politik maupun
ekonomi seperti unjuk rasa serikat buruh atau kelompok hak asasi manusia.

Perubahan-perubahan itu, khususnya yang terkait dengan kembalinya militer, juga menjadi
dasar bagi kelompok-kelompok lain selain Muslim Brotherhood yang ikut mengampanyekan
penolakan terhadap Konstitusi yang baru.

Pihak luar negeri juga merasa was-was dengan kembalinya militer dalam politik, karena rasa
pesimistis bahwa itu akan membawa kestabilan politik jangka panjang. Beberapa pihak
memandang bahwa rezim militer dan Muslim Brotherhood adalah dua sosok yang sama
karena menggunakan kekerasan dan ancaman untuk menentang lawan-lawan politik mereka.

Dunia sangat menanti hasil dari referendum ini, karena Mesir dalam sejarah adalah negara
yang juga aktif berperan dalam perdamaian di Timur Tengah. Sebagai salah satu sahabat
lama dari Mesir, Indonesia hanya bisa berharap yang terbaik dari proses referendum di Mesir.


DINNA WISNU, PhD
Co-Founder & Direktur Pascasarjana Bidang Diplomasi, Universitas Paramadina
@dinnawisnu





Ironi (negara) hukum
Koran SINDO
Kamis, 16 Januari 2014

SILANG pendapat soal urgensi pelantikan calon kepala daerah terpilih yang menjadi
tersangka tindak pidana korupsi (tipikor) di satu sisi, dan di sisi lain keharusan untuk
menonaktifkan kepala daerah yang ditetapkan menjadi tersangka tipikor yang sempat muncul
beberapa waktu lalu dan hingga kini belum ada solusi memadai, sejatinya tak cukup hanya
diselesaikan melalui tafsir gramatikal dalam dogmatisme pemaknaan teks undang-undang.

Diskursus itu mengemuka terkait kasus hukum yang menimpa Hambit Bintih, calon bupati
terpilih Kabupaten Gunung Mas Kalteng dan Ratu Atut Chosiyah, gubernur Banten, yang
keduanya diduga terlibat dalam kasus suap pemilukada terhadap mantan Ketua Mahkamah
Konstitusi Akil Mochtar. Undang-Undang Pemerintahan Daerah saat ini (UU No 32 Tahun
2004 joUU No 12 Tahun 2008) belum secara eksplisit memberikan solusi terhadap diskursus
tersebut.

Bahkan, jika didramatisasi dengan mendalihkan asas praduga tak bersalah (presumption of
innocence) seolah-olah melantik calon kepala daerah terpilih yang sudah ditetapkan menjadi
tersangka tipikor atau tetap mengaktifkan kepala daerah yang sudah ditetapkan sebagai
tersangka tipikor, dianggap menjadi tafsir yang sahih atas makna undang-undang.

Cara berpikir demikian terbalik. Justru dalam hal seseorang yang terpilih menjadi seorang
pejabat ditetapkan oleh KPK menjadi tersangka tipikor, yang bersangkutan harus dinyatakan
tidak memenuhi asas kepantasan untuk menjabat/dilantik. Demikian juga seorang pejabat
yang telah ditetapkan sebagai tersangka tipikor, demi asas kepantasan yang bersangkutan
demi hukumseharusnya dinyatakan nonaktif guna memudahkan proses hukum berjalan.

Pasal 27 ayat (1) UUD Negara RI 1945 telah meletakkan fondasi bahwa setiap orang sama di
hadapan hukum (equality before the law) Dalam perspektif negara hukum, asas nullum
delictum nulla poena sine praevia lege poenali atau asas legalitas merupakan hal yang tidak
dapat dielakkan, namun secara historis dapat dijelaskan bahwa tumbuh dan berkembangnya
asas legalitas atau principle of legality sebagai asas mendasar dalam hukum pidana pada
sebagian sistem peradilan pidana muncul pada Abad Pencerahan atau Zaman Aufklarung,
yaitu abad ke-15 yang didominasi oleh pandangan realisme.

Hal ini tidak terlepas dari pengaruh perubahan peta pemikiran politik dan filsafat hukum yang
berkembang di daratan Eropa. Berlakunya asas legalitas memberikan sifat perlindungan
kepada masyarakat. Perundang-undangan pidana menyediakan konsesi melindungi rakyat
dari pelaksanaan kekuasaan tanpa batas dari pemerintah atau kekuasaan negara. Eksistensi
asas legalitas merupakan komplemen dari asas praduga tak bersalah. Hal itulah yang
mengharuskan dalam proses hukum seseorang hanya bisa dituntut di muka hukum
berdasarkan paling sedikit dua alat bukti.

UU KPK telah mengatur secara lebih ketat persyaratan bagi proses hukum dalam tipikor,
sehingga bagi yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK hampir mustahil akan lepas
dari jerat hukum. Hal itu disebabkan karakter tipikor yang dinisbahkan sebagai suatu extra-
ordinary crime. Maka, justru merupakan suatu kekeliruan berpikir (fallacy) jika
menggunakan asas praduga tak bersalah sebagai dalih untuk mempertahankan posisi hukum
pejabat tersangka korupsi dalam jabatannya atau tetap melantik seseorang yang telah menjadi
tersangka korupsi untuk menjadi pejabat.

Membaca dan memaknai undang-undang, sejatinya adalah sebuah semiotika intertekstualitas.
Pesan sebuah undang-undang harus dimaknai dalam bingkai moralitas yang terkandung
dalam rasa keadilan sosial. Makna teks ditemukan dalam kontekstualitasnya. Maka itu, ilmu
hukum tidak merujuk hanya pada satu sumber hukum tunggal yang berupa teks undang-
undang yang bersifat tertulis saja.

Sumber hukum bisa berupa sumber hukum formal yang berwujud peraturan perundang-
undangan yang bersifat hierarkis dan sumber hukum material yang berwujud nilai filosofis
maupun sosiologis. Dalam diskursus pelantikan calon pejabat yang terjerat kasus korupsi dan
penonaktifan pejabat yang menjadi tersangka tipikor, sumber hukum sosiologis mengajarkan
pemaknaan intertekstualitas untuk mencari rujukan makna undang-undang dalam
kontekstualisasi rasa keadilan sosial.

Maka, konsiderasi dalam konstruksi undang-undang selalu berwujud pertimbangan filosofis,
sosiologis dan yuridis. Hal itu berarti undang-undang harus dipahami dalam konsiderasi
filosofis dan sosiologisnya. Rasionalitas hukum harus ditemukan dalam hakikatnya untuk
memastikan terpenuhinya dimensi keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan.

Moralitas tafsir undang-undang adalah kemampuan menghilangkan kesenjangan antara yang
seharusnya (das solen) dan yang senyatanya terjadi (das sein), karena norma hukum harus
bersifat aktual dan faktual. Melantik calon kepala daerah yang telah menjadi tersangka kasus
korupsi justru mengingkari kepastian hukum karena melucuti makna undang-undang dari
konteks filosofinya untuk memberikan rasa keadilan dengan melegalisasikan perilaku
koruptif yang merampas hak-hak rakyat.

Di sisi lain, hal itu juga mencabut makna undang-undang dari konteks sosiologisnya, karena
dimensi utopis arti dari pelantikan pejabat tersangka korupsi. Pejabat semacam itu bukan
hanya tak perlu dilantik, namun seharusnya didiskualifikasi dari kontestasi pemilukada. Mana
mungkin seseorang menjadi pejabat, tetapi di saat yang sama juga menjadi (calon) penjahat?

Logika yang sama juga bisa digunakan untuk mempertanyakan atas alasan apa seseorang
yang sudah ditetapkan menjadi tersangka tipikor oleh KPK berdasarkan UU KPK yang
memastikan bahwa yang bersangkutan akan menjadi terdakwa dan terpidana tipikor, masih
dilegalisasikan untuk mempertahankan jabatannya? Menetapkan seseorang sebagai tersangka
merupakan tindakan sadar negara untuk mengeksklusikannya dari relasi sosial normal karena
kepadanya ingin dipastikan ada atau tidaknya kesalahan berdasarkan bukti permulaan yang
cukup.

Melantik seseorang menjadi pejabat adalah pengakuan negara mengenai kapasitas moral dan
individual seseorang yang telah terpilih menjadi pemimpin yang selanjutnya akan menjadi
panutan/ suri teladan rakyat yang dipimpinnya. Demikian juga mempertahankan pejabat
tersangka korupsi. Dua opsi yang kontradiktif tersebut harus dipilih salah satu oleh negara
jika seseorang yang dipilih rakyatnya ternyata juga seorang tersangka tipikor di KPK.

Negeri ini akan menjadi schizoprenic-state jika kedua hal itu dilakukan bersamaan:
menetapkan seseorang menjadi tersangka bersamaan dengan melantiknya atau tetap
mengakuinya menjadi pejabat/ pemimpin rakyat!


W RIAWAN TJANDRA
Pengajar pada Fakultas Hukum, Universitas Atma Jaya Yogyakarta














KPK berwenang menuntut TPPU
Koran SINDO
Kamis, 16 Januari 2014

DALAM pemeriksaan perkara tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang, dua
hakim anggota menyampaikan dissenting opinion, bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi
tidak berwenang melakukan penuntutan terhadap perkara tindak pidana pencucian uang
(TPPU), tetapi berwenang melakukan penuntutan terhadap perkara tindak pidana korupsi.

Menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),
lembaga ini berwenang menyidik dan menuntut perkara tindak pidana korupsi.
Permasalahannya, apakah benar KPK tidak berwenang menuntut perkara tindak pidana
pencucian uang?

Pendekatan antipencucian uang dalam penegakan hukum mempunyai prioritas mengejar hasil
tindak pidana, sering disebut dengan follow the money. Pendekatan follow the money
diperkenalkan karena pendekatan konvensional yang memprioritaskan mengejar pelaku
(follow the suspect) kurang optimal dalam mengurangi angka kriminalitas (predicate crime),
seperti tindak pidana korupsi.

Dengan gabungan pendekatan follow the money dan follow the suspect, pemberantasan tindak
pidana asal menjadi lebih berhasil. Dengan demikian, sistem antipencucian uang mempunyai
tujuan utama untuk mengurangi angka kriminalitas termasuk mengurangi korupsi di
Indonesia. Tujuan lain dari sistem antipencucian uang adalah untuk membuat sistem
keuangan dan perdagangan lebih stabil serta terpercaya karena tidak disalahgunakan oleh
para pelaku kriminal termasuk oleh koruptor.

Oponen
Pihak yang berpendapat bahwa KPK tidak berwenang menuntut perkara TPPU berargumen,
bahwa Undang-Undang No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU
(UU TPPU) hanya memberikan kewenangan kepada KPK untuk menyidik perkara TPPU
sebagaimana diatur dalam pasal 74 dan penjelasannya. Tidak ada satu pasal pun dalam UU
TPPU memberikan kewenangan kepada KPK untuk menuntut perkara TPPU.

Bahkan dalam pasal 70 tentang kewenangan menunda transaksi, pasal 71 tentang
pemblokiran rekening, dan pasal 72 tentang permintaan keterangan dari penyedia jasa
keuangan, tidak dicantumkan kewenangan KPK sebagai penuntut umum dapat melakukan
kewenangan tersebut.

Ketiga pasal tersebut menyebutkan instansi Kejaksaan yang berwenang melakukan tindakan
penghentian sementara transaksi, memblokir dan meminta keterangan tentang keadaan
keuangan tersangka/ terdakwa dari penyedia jasa keuangan.

Para oponen berpendapat seharusnya kewenangan KPK diberikan secara eksplisit oleh
Undang-undang, bukan berdasarkan penafsiran untuk menjamin kepastian hukum. Pendapat
semacam ini dianut antara lain oleh Prof Dr Romli Atmasasmita dan dua orang hakim ad-hoc
pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

Pendapat ini cenderung berdasarkan pemikiran positivisme atau legisme, sehingga penerapan
UU TPPU didasarkan pada teks Undang- undang yang memberikan kewenangan kepada
KPK secara eksplisit.

Proponen
Sebaliknya, para proponen yang mendukung KPK memiliki kewenangan menuntut perkara
TPPU menggunakan alasan yang lebih komprehensif dengan menggunakan berbagi
ketentuan undang-undang, baik pada UU TPPU maupun undang-undang lainnya dan
yurisprudensi pengadilan, sebagai berikut:

Pertama, memang benar UU TPPU tidak menyebutkan kewenangan KPK untuk menuntut
perkara TPPU, tetapi pasal 75 UU TPPU memerintahkan apabila dalam menyidik tindak
pidana asal (korupsi) ditemukan adanya TPPU, maka penyidik (KPK) menggabungkan
keduanya sebagai gabungan tindak pidana (concursus realis), yaitu tindak pidana asal
(korupsi) dan TPPU.

Dalam hal penyidikannya digabung, wajarlah KPK yang berwenang menuntut perkara
korupsi juga menggabungkan penuntutan perkara korupsi dan TPPU. Bukankah perkara
korupsi dan TPPU yang diperiksa sangat berhubungan erat?

Kedua, kalau penuntutan perkara TPPU saja atau penuntutan perkara tindak pidana korupsi
dan TPPU diserahkan kepada kejaksaan sebagai penuntut umum adalah bertentangan dengan
prinsip penyelenggaraan pengadilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan sebagaimana
diatur dalam UU No 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Penjelasan undang-undang menyebutkan yang dimaksud sederhana adalah pemeriksaan
dan penyelesaian perkara dilakukan dengan cara efisien dan efektif. Yang dimaksud dengan
biaya ringan adalah biaya perkara yang dapat dijangkau oleh masyarakat.

Di samping itu, penyerahan penuntutan kepada kejaksaan membuat terdakwa harus diadili
dua kali dengan dua berkas yang berbeda, tetapi sangat berhubungan yang sudah tentu
memakan waktu dan biaya yang lama dan kurang memberikan kepastian hukum kepada
terdakwa.

Ketiga, menyerahkan penuntutan perkara TPPU kepada kejaksaan tidak memiliki dasar
hukum yang kuat. Justru sebaliknya, KPK mempunyai kewenangan untuk mengambil alih
perkara korupsi yang sedang ditangani kepolisian atau kejaksaan, sesuai dengan Pasal 8 ayat
(2) UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi ( UU
KPK).

Keempat, menurut ahli hukum Jerman Gustav Radbruch (1878-1949), tujuan hukum adalah
keadilan (justice), kemanfaatan (utility) dan kepastian hukum (certainty). Dari ketiga unsur
tersebut, keadilanlah yang harus didahulukan.

Menurut para ekonom hukum yang adil adalah hukum yang efisien dan efisiensilah yang
merupakan tujuan hukum. Kelima, dalam hal penyidikan dan penuntutan perkara tindak
pidana asal (korupsi) dengan perkara TPPU, maka baik hukum materiil dan hukum formal
(hukum acara) digabungkan yang berasal dari berbagai UU. Pasal 68 UU TPPU menyebutkan
hukum acara yang berlaku adalah hukum acara sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Dalam hal ini, berlaku Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan undang-
undang yang lain, seperti UU KPK, UU TPPU, UU tentang Tindak Pidana Korupsi, Undang-
Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronis.

UU KPK memberikan kewenangan KPK sebagai penyidik dan penuntut umum memblokir
rekening dan meminta keterangan tentang keadaan keuangan tersangka dan terdakwa
langsung tanpa izin dari gubernur Bank Indonesia, tanpa perlu menggunakan UU TPPU.

Keenam, menurut Pasal 6 UU No 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi,
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara
tindak pidana korupsi, tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya adalah
tindak pidana korupsi dan tindak pidana lain yang ditentukan sebagai tindak pidana korupsi.

Ketujuh, teori Hukum Progresif diperkenalkan oleh Prof Dr Satjipto Rahardjo (1930 2010)
yang mengedepankan hati nurani, keadilan, dan konsep hukum untuk manusia.

Pemikiran hukum progresif ini sering beyond in the text lebih jauh dari teks hukum yang
ada dalam peraturan. Memang kalau dikaji secara mendalam peraturan perundang-undangan
yang ada sebagai ciptaan manusia pasti ada kekurangan.

Oleh karena itu, haruslah dilihat yurisprudensi yang ada dan ditafsirkan sesuai dengan hati
nurani untuk memperoleh keadilan. Kedelapan, dalam kasus TPPU sudah ada dua kasus
sebelumnya yang penuntut umumnya adalah KPK, yaitu kasus Wa Ode Nurhayati yang
sudah berkekuatan tetap sampai Mahkamah Agung.

Kasus lain adalah kasus Djoko Susilo yang dipidana 18 tahun oleh Pengadilan Tinggi Jakarta.
Dalam keadaan seperti ini, kewenangan penafsiran oleh hakim sangat menentukan.
Kesembilan, menurut Pasal 2 ayat (3) UU No.16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, kejaksaan
adalah satu dan tidak dapat dipisahkan dalam melaksanakan tugas penuntutan tindak pidana
dan kewenangan lain.

Penjelasan Pasal 2 ayat (3) menjelaskan, Kejaksaan adalah satu dan tidak dapat dipisahkan
adalah satu landasan dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya di bidang penuntutan yang
bertujuan memelihara kesatuan kebijakan di bidang penuntutan, sehingga dapat menampilkan
ciri khas yang menyatu dalam tata pikir, tata laku dan tata kerja kejaksaan. Dengan demikian,
penuntut umum di kejaksaan dan di KPK adalah satu kesatuan. KPK memang tidak pernah
merekrut penuntut umum sendiri di luar yang berasal dari kejaksaan.

Kesepuluh, mengingat sistem antipencucian uang bertujuan utama untuk mencegah dan
memberantas tindak pidana pada umumnya, termasuk tindak pidana korupsi, maka sebaiknya
penuntutan perkara TPPU yang disidik oleh KPK, dilakukan oleh KPK yang menyidik dan
menuntut perkara korupsi yang melahirkan perkara TPPU tersebut. Hal ini sejalan dengan
tugas KPK yang bertugas dan berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi.

Penuntutan oleh KPK ini akan lebih meningkatkan pemulihan aset hasil korupsi, karena kalau
hanya UU Tindak Pidana Korupsi dipakai, hanya uang yang dinikmati koruptor atau yang
diperoleh dari tindak pidana korupsi saja yang dapat dirampas untuk negara sebagai uang
pengganti (Pasal 18 UU Tindak Pidana Korupsi).

Dalam hal ini, memang kepastian hukum sementara dikorbankan untuk keadilan dan
kemanfaatan. Idealnya, wewenang KPK menuntut perkara TPPU diatur secara eksplisit
dalam UU seperti UU KPK atau UU TPPU.


YUNUS HUSEIN
Ketua Pusat Kajian Anti Pencucian Uang (PUKAU), Mantan Kepala PPATK










Partai Islam, sketsa buram 2014
Sabtu, 18 Januari 2014

BEBERAPA minggu terakhir ini, hasil survei menunjukkan tingkat elektabilitas partai Islam
terus menurun. Survei Pol-Tracking Institute pada Oktober 2013 lalu menunjukkan bahwa
total elektabilitas partai berbasis massa Islam tak lebih dari 15% dengan rincian: PKB 4,6%;
PPP 3,4%; PKS 2,9%; PAN 2%; dan PBB 0,7%.

Artinya, gabungan (koalisi) Partai Islam tersebut masih kalah dengan PDIP (18,5%) ataupun
Golkar (16,9%), dan juga belum mampu menembus presidential threshold 2014 sebesar 25%
suara. Pun demikian dengan hasil survei terbaru Pol-Tracking Institute pada Desember 2013
yang menunjukkan Partai Islam masih kalah pamor: PKB 4,59%; PPP 4,50%; PKS 3,00%;
PAN 2,67%; dan PBB 0,25%. Singkatnya, gabungan elektabilitas lima Partai Islam belum
mampu mengungguli elektabilitas PDIP 22,44% pada survei Pol-Tracking Desember 2013
tersebut.

Dalam riwayat survei menjelang Pemilu 2014, kita akan sangat sulit menemukan elektabilitas
partai Islam menembus dua digit. Walaupun, secara ideologi dan terlembaga di dalam
AD/ART partai, sebenarnya hanya ada tiga partai Islam: PPP (AD/ART Bab II Pasal 2), PKB
(AD/ART Bab III Pasal 4), dan PKS (AD/ART Bab I Pasal 2). Namun jika kita bicara basis
massa, maka PAN adalah termasuk partai Islam walaupun di dalam AD/ART berpijak pada
nasionalisme religius (AD/ART Bab III). Partai peserta pemilu di luar partai parlemen saat
ini, ada PBB yang juga melembagakan ideologi Islam (AD/ART Bab II Pasal 3).

Jika dihitung dari total kursi partai-partai Islam, hanya ada sekitar 21,61% dari jumlah kursi
pada pemilihan umum tahun 2009. Dengan kata lain, tiga partai nasional teratasPartai
Demokrat (PD), Partai Golkar (Golkar), dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
mampu memegang setidaknya 62,86% dari total kursi. Selanjutnya, kembali ke beberapa
pemilu sebelumnya, naiknya partai Islam, dalam kondisi yang sama, total perolehan suara
partai Islam pada pemilu 2004 adalah 38,1%, dan pemilu 1999 hanya mendapatkan 36,8%.

Artinya, hanya ada dua kutub ideologi partai (secara platformatis) di Indonesia yaitu partai
berkecenderungan pada gagasan nasionalistis dan partai dengan mengambil gagasan Islam
sebagai gerakan politik. Paling tidak dalam regulasi internal partai. Walaupun partai Islam
muncul karena basis pembilahan sosial berdasarkan agama, rendahnya suara partai Islam di
Indonesia menunjukkan bahwa demografi pemilih Indonesia tidak berpengaruh pada gagasan
klasik Arend Lijphart (1968) soal consociational democracy.

Lijphart menyatakan bahwa peta demografi sosial sebuah negara merefleksikan peta
demografi politik kepartaian di dalamnya. Sebagai misal, berdasarkan survei yang dilakukan
Lembaga Survei Indonesia dan majalah Tempo pada Pilkada DKI 2012 lalu, diketahui bahwa
hanya 56% pemilih Hidayat-Didik (PKS) yang akan mengikuti elite partai untuk memilih
Foke-Nara. Sementara 30% diketahui pasti akan memilih Jokowi- Basuki, dan sisanya belum
memutuskan pilihan.

Ada perbedaan penting antara partai Islam saat ini dengan partai Islam era 1955. Dulu
Masyumi dan NU menjadi poros kekuatan tersendiri, sehingga tercipta poros kekuatan politik
nasional, Islam, dan komunis. Alhasil, kekuatan politik partai Islam hanya berlaku sepanjang
politik aliran ala Clifford Geertz (1926-2006) dengan membagi demografi Indonesia menjadi
santri, priyayi, dan abangan dalam ekspresi politik.

Sekarang era politik rasional. Kiai tidak lagi menjadi sumber legitimasi politik atas pilihan
publik. Fakta kepartaian saat ini sangat berbeda dengan pemilu yang pertama kalinya
diselenggarakan pada 1955. Pemilu 1955 menciptakan empat poros politik (baca: partai
dengan perolehan suara dua digit), yaitu Partai Nasional Indonesia atau PNI dengan 22,32%
suara, Masyumi dengan 20,92% suara, Nahdlatul Ulama dengan 18,41% suara, dan Partai
Komunis Indonesia dengan suara 16,4%.

Fakta elektoral ini menunjukkan bahwa benar partai Islam adalah kekuatan politik, tetap dia
belum bisa disebut memenangi Pemilu 1955. Setelah runtuhnya pemerintahan Soeharto,
kelompok Islam hanya mampu diwakili oleh sosok presiden yaitu Abdurrahman Wahid pada
akhir 1999, itu pun dipilih melalui parlemen, bukan melalui pemilihan langsung, dan berakhir
sebelum periode resminya.

Dengan kata lain, partai Islam sebagai sebuah sayap politik tidak pernah menjadi partai yang
memimpin setelah berakhirnya periode kediktatoran, partai Islam di Indonesia sebagai sebuah
komunitas politik berkecenderungan menurun. Rendahnya elektabilitas partai Islam tersebut
disebabkan oleh dua alasan penting. Pertama, secara internal masyarakat Islam tidak
terkonsolidasi sebagai kekuatan politik tunggal, dan sejarah mencatat bahwa konsolidasi ini
tak pernah berhasil sejak Indonesia lahir sebagai sebuah negara.

Masyarakat Islam secara kultural terfragmentasi sehingga ekspresi politik Islam menjadi
lebih terfragmentasi. Era perjuangan, ada kelompok Islam pondok dan Islam sekolahan
(Muhammadiyah), kini fragmentasi menjadi lebih variatif dengan adanya santri perkotaan
(PKS). Jika secara kultural, terdapat kaum nahdliyin, dalam ekspresi politik akan berlipat
ganda menjadi nahdliyin Muhaimin dan nahdliyin Gus Dur. Ekspresi politik Islam yang
bersatu padu hanya terjadi beberapa waktu dalam kelembagaan nonpartai: Serikat Islam di
bawah HOS Cokroaminoto, itu pun kemudian terpecah dengan adanya faksi SI Merah di
bawah Semaoen.

Fragmentasi kultural melipatgandakan fragmentasi ekspresi politik masyarakat Islam, dan hal
inilah yang menjelaskan partai politik Islam tak pernah menang dalam sejarah pemilu di
Indonesia. Kedua, secara eksternal, banyaknya partai nasional yang hadir bukan dengan serta-
merta memecah suara existing political party berbasis massa, tetapi juga mengambil ceruk
suara dari massa partai Islam yang juga terpecah. Hal inilah yang menjelaskan partai Islam
saat ini tidak pernah memperoleh angka elektabilitas dua digit atau di atas 10%, dan dalam
sejarah kepartaian di Indonesia, partai Islam hanya mampu sampai di pemenang kedua
(Masyumi pada pemilu 1955).

Di sisi lain, perilaku memilih publik yang terus bergeser dan bergerak ke tengah juga
merupakan faktor eksternal yang menjelaskan kemunduran partai Islam. Publik pemegang
hak pilih tidak terkonsolidasi sebagai segmentasi sosial dari partai Islam, perilaku memilih
publik menjadi demikian kabur karena semua partai dianggap berperilaku sama: partai elit.
Partai tidak sedang memperjuangkan preferensi politik Islam, dan perjuangan Islam bagi
publik saat ini bukan menjadi prioritas utama dan tunggal.

Dalam perspektif pemilih, yang pertama adalah soal kesejahteraan dan keamanan. Sementara
partai politik termasuk partai Islam berperilaku sama, memenangkan pemilu dan memperoleh
kekuasaan (Strom, 1992), selesai sampai di situ. Sementara itu, secara ideologis, partai politik
Islam Indonesia saat ini tetap berdiri dalam asumsi sebagai wakil konstituen tradisional,
sedangkan muslim tradisional berpaling untuk memilih partai nasionalis.

Sehingga hal ini adalah penyebab menurunnya PKB dan PPP yang berasosiasi sebagai
akomodator muslim tradisional di Indonesia. Dan, PKS sebagai wakil muslim moderat
cenderung menjadi kelompok eksklusif yang mengumpulkan penduduk kota dan terpelajar.
Alhasil, sayap Islam selalu yang menjadi nomor dua di tengah pluralitas politik yang cair.
Partai Islam seolah akan berada dalam sekam jika tak menyadari fakta politik dan
bergesernya bandul perilaku memilih publik saat ini.


ARYA BUDI
Manager Riset Politik Pol-Trancking Institute










KPK, menakutkan dan menyenangkan
Sabtu, 18 Januari 2014

BAGI banyak orang, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu sangat menakutkan, terutama
bagi koruptor atau pejabat yang banyak mengurus penggunaan uang negara. Banyak yang
mengaku sangat takut dan menjadi gemetar jika namanya disebut-sebut akan dipanggil oleh
KPK.

Jangankan dipanggil sebagai tersangka, dipanggil sebagai saksi atau pemberi keterangan
sekali pun banyak yang ketakutan. Apalagi di dalam pemberitaan biasanya media massa
mencampuradukkan begitu saja antara diperiksa dan dimintai keterangan. Insinuasi
pemberitaan berkecenderungan, kalau orang dipanggil oleh KPK dianggap terlibat masalah
korupsi. Padahal, mungkin hanya dimintai keterangan biasa. Mengapa KPK ditakuti? Karena
KPK selama ini selalu bertindak sangat tegas, profesional dan berhati-hati.

KPK selalu bersikap tegas dan profesional dalam arti tidak pernah segan melakukan tindakan
hukum terhadap siapa pun. Mari lihat catatan kita masing-masing. KPK sudah banyak
menangkap dan memenjarakan anggota DPR tanpa peduli ancaman atau cemoohan-
cemoohan yang kerap datang dari gedung DPR. Ketua lembaga negara setingkat Mahkamah
Konstitusi pun disadap, dikuntit, dan ditangkap tangan untuk kemudian ditelanjangi habis
gurita sangkaan korupsinya.

Jenderal polisi aktif, hakim, dan jaksa pun tak luput digaruk oleh KPK dengan tegas. KPK
juga tidak jerih terhadap partai politik. Buktinya bukan hanya pengurus kelas teri yang
diciduk dari parpol, melainkan juga pimpinan dan ketua umum parpol. Sekarang ini hampir
semua partai politik, terutama yang sudah mempunyai wakil di DPR sejak tahun 2004, sudah
mengirim wakilnya di penjara karena korupsi yang ditangani oleh KPK. Ya, di pengadilan
tipikor dan penjara, semua parpol mempunyai delegasi yang cukup berkualitas korupsinya.

Dulu lembaga penegak hukum dianggap takut menjadikan menteri sebagai tersangka, apalagi
sampai menahan dan mengajukannya ke pengadilan. Dulu, rasanya, kalau ada menteri diduga
korupsi, biasanya ditunggu dulu sampai pensiun untuk bisa digelandang ke pengadilan.
Tetapi sekarang ini KPK berani menjadikan menteri aktif sebagai tersangka dan menahannya
di rumah tahanan untuk kemudian diajukan ke pengadilan tindak pidana korupsi.

Pengusaha-pengusaha yang dulu oleh publik dianggap kebal hukum karena kekuatan jaringan
mafia dan suapnya sekarang ini sudah mulai bisa digelandang ke penjara oleh KPK. Seorang
teman di KPK pernah bercerita kepada saya tentang adanya pengusaha yang sesumbar akan
mampu membeli KPK dengan harga mahal sehingga takkan tergaruk oleh operasi lembaga
antirasuah itu. Ternyata sesumbar itu justru membuat KPK semakin bersemangat untuk
menjadikannya sebagai tersangka dan mengirimnya ke penjara.

Sang pengusaha bukan hanya tak mampu membeli KPK, tetapi juga tak mampu mencari alibi
untuk membersihkan dirinya dari dakwaan korupsi karena KPK sudah mengantongi bukti-
bukti yang tak bisa dibantah sedikit pun. Itulah yang menyebabkan KPK sangat ditakuti. Para
tersangka tindak pidana korupsi biasanya tak berkutik dengan cara kerja KPK yang sangat
cekatan.

Jika yang dijerat menjadi tersangka korupsi oleh KPK adalah politisi atau pejabat tinggi,
biasanya para pembelanya awalnya menyerang KPK dengan tudingan bahwa KPK telah
memolitisasi kasus atau disetir oleh kekuatan politik tertentu.

Tetapi tudingan-tudingan yang seperti itu biasanya lenyap begitu persidangan di pengadilan
tipikor dimulai karena biasanya bisa menunjukkan bukti dan rangkaian fakta yang tak
terbantahkan. Kalau sudah begitu, biasanya tuduhan politisasi yang semula dituduhkan
kepada KPK berubah menjadi pernyataan bahwa korupsi itu perbuatan dan tanggung jawab
oknum, bukan urusan institusi atau partai. Sebenarnya di balik tampilan yang angker dan
menakutkan, faktanya KPK itu profesional, menghormati HAM, santun, dan menyenangkan
bagi mereka yang menjunjung kebaikan dan antikorupsi.

Cobalah dicermati. Dari semua yang pernah diperiksa oleh KPK, tak pernah terdengar ada
keluhan bahwa KPK telah memperlakukan mereka secara tidak baik, ditekan, diteror secara
psikis apalagi sampai dipaksa-paksa untuk mengaku. Mereka yang diperiksa oleh KPK selalu
diperlakukan dengan baik. Seorang kenalan saya yang pernah diperiksa KPK bercerita
dengan takjub kepada saya. Katanya, dirinya takut luar biasa ketika pada suatu hari dipanggil
oleh KPK untuk memberi keterangan.

Tetapi begitu sampai di KPK, dia merasa heran dan kagum kepada KPK karena uang
transpornya dari daerah diganti penuh dan dia pun diberi penginapan yang layak selama di
Jakarta. Semua yang pernah diperiksa atau dimintai keterangan oleh KPK pasti tak
membantah bahwa pemeriksaan dilakukan dengan sangat sopan. Jika tiba waktunya makan
diberi hidangan yang layak untuk makan dan jika tiba waktu salat si pemberi keterangan atau
terperiksa dipersilakan melaksanakan ibadah salat.

Makanya, sekeras apa pun seorang tersangka atau pengacaranya menyerang KPK untuk
melakukan pembelaan tetapi belum pernah terdengar bahwa saat diperiksa atau didengar
keterangannya oleh KPK mereka diperlakukan kasar, tak sopan, atau dipaksa-paksa. Itulah
sebabnya masyarakat puas dan bangga terhadap KPK yang bisa tampak garang menakutkan
sekaligus lembut menyenangkan. Sikap tegas dan profesionalnya diacungi jempol oleh
pegiat-pegiat antikorupsi. Perlakuan sopan, manusiawi dalam memeriksa dan meminta
keterangan patut dipuji.

MOH MAHFUD MD
Guru Besar Hukum Konstitusi
Masa depan Mesir (?)
Koran SINDO
Senin, 20 Januari 2014

PADA tanggal 14 dan 15 kemarin Mesir kembali menggelar referendum untuk mengesahkan
konstitusi baru. Ini langkah pertama peta jalan damai yang diumumkan oleh militer
pascapenggulingan Muhammad Mursi pada 3 Juli 2013.

Setidaknya 11 orang dilaporkan tewas akibat bentrokan antara aparat dan pendukung
Ikhwanul Muslimin (IM) yang menggelar aksi demo pada hari pertama pelaksanaan
referendum. Memang yang terjadi di Mesir belakangan tidak terlalu jelas di dalam
pemberitaan media. Selain karena banyak isu-isu lain di Timur Tengah yang tak kalah
menarik bagi media, juga karena terjadi friksi di kalangan masyarakat Mesir dan dunia Arab,
termasuk di kalangan media.

Media-media yang anti-IM contohnya kerap menampilkan sisi-sisi baik yang
menggambarkan Mesir. Sedangkan perkembangan yang bersifat negatif (seperti pelbagai
macam aksi demo) tidak terlalu ditonjolkan. Pun demikian sebaliknya, media-media yang
pro-IM contoh lain kerap menampilkan sisi-sisi buruk yang menggambarkan Mesir jauh dari
stabil. Sedangkan perkembangan-perkembangan yang bersifat positif tidak terlalu
ditonjolkan.

Pelaksanaan referendum kemarin bisa dijadikan sebagai salah satu contoh teranyar dari
perpecahan media Timur Tengah terkait apa yang terjadi di Mesir pascapenggulingan Mursi.
Media-media yang propemerintahan sementara Mesir mengklaim acara referendum diikuti
mayoritas masyarakat Mesir dengan judul berita yang sangat bombastis. Sedangkan media
yang pro-IM mengklaim referendum tersebut hanya diikuti sebagian kecil masyarakat Mesir
dengan judul berita yang sangat menohok.

Bisa dikatakan, ini realitas perpecahan di Mesir mutakhir yang susah dibohongi pemberitaan
media. Dalam perkembangan terkini, perpecahan di kalangan masyarakat Mesir merambah
dunia pendidikan, dari level sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Al-Azhar yang secara
kelembagaan mendukung peta jalan damai yang dikawal militer dan berakhir pada
pemakzulan Muhammad Mursi juga mengalami aksi-aksi unjuk rasa yang mengecam kudeta
dan menuntut Grand Syeikh memundurkan diri.

Masing-masing pihak tentu akan menilai persoalan seperti ini dari posisinya. Mereka yang
pro terhadap militer dan pemerintahan transisi saat ini akan mengatakan bahwa pelbagai
macam aksi unjuk rasa di Mesir yang dimotori kaum pelajar ditunggangi Ikhwanul Muslimin.
Sebagian pihak (termasuk pemerintahan transisi Mesir) bahkan menuduh pelbagai macam
aksi pelajar mutakhir dilakukan oleh para kader Ikhwanul Muslimin (Ahram.org.eg, 11/12).

Sedangkan mereka yang antimiliter dan pemerintahan transisi Mesir saat ini akan
mengatakan bahwa pelbagai macam aksi unjuk rasa tersebut dilakukan kaum pelajar,
termasuk para pelajar yang berada di bawah naungan Al-Azhar. Ini menunjukkan bahwa
masyarakat Mesir menolak apa yang dilakukan militer dan pemerintahan transisi.

Politik Adu Kekuatan
Terlepas dari sikap pro dan kontra seperti di atas, apa yang terjadi di Mesir belakangan dapat
disebut sebagai politik adu kekuatan (siyasat al-quwwah) antara kelompok politik khususnya
militer, Ikhwanul Muslimin, dan para loyalis Mubarak. Dengan kata lain, pelbagai aksi
kekerasan merupakan akibat matinya semangat musyawarah dan mufakat sebagai elemen
dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hingga kelompok-kelompok politik menggunakan adu kekuatan dan kekerasan untuk
melapangkan yang dianggap benar sesuai versinya masing-masing. Dalam politik adu
kekuatan, elemen masyarakat yang paling lemah akan senantiasa menjadi korban. Sedangkan
para elitenya justru kerap menjadi provokator untuk menggiring para pendukungnya ke arena
pertarungan.

Tak peduli apakah segenap pendukungnya harus kehilangan nyawa akibat pertarungan yang
ada. Inilah yang jamak terjadi di Mesir dalam beberapa waktu terakhir. Ribuan nyawa
diberitakan melayang akibat krisis politik yang berkepanjangan ini. Sebagian kaum muda di
sana belakangan lebih suka berdemo daripada belajar.

Secara kronologis politik adu kekuatan mutakhir di Mesir mulai mewarnai pentas
perpolitikan di sana pascalengser Mubarak. Ini bisa dirujuk pada sejumlah peristiwa politik
saat itu mulai dari penentuan jadwal pemilu hingga pembentukan tim konstituante pada masa
pemerintahan Presiden Mursi. Pelengseran Mursi sebagai presiden Mesir pertama yang
dipilih secara demokratis bisa disebut sebagai puncak musim semipolitik adu kekuatan di
Mesir.

Dikatakan demikian karena Mursi sebagai presiden saat itu cenderung ideologis dalam
menjalankan roda pemerintahan. Seperti ketika Mursi mengeluarkan Dekrit Presiden untuk
mempertahankan tim konstituantedankonstitusibaru Mesir yang banyak mendapatkan protes.
Hingga Mursi digulingkan juga dengan menggunakan politik adu kekuatan.

Musyawarah-Mufakat
Karena itu, segenap kekuatan di Mesir sejatinya kembali pada esensi politik dan demokrasi
yaitu musyawarah-mufakat, bukan kekuatan. Tanpa ada komitmen yang kuat pada prinsip
musyawarah- mufakat ini, Mesir akan semakin dalam terjerumus ke jurang perpecahan.
Ironisnya, kelompok Ikhwanul Muslimin dan kubu militer plus pendukung pemerintahan
transisi saat ini kerap terlibat dalam sengketa demokrasi.

Padahal secara esensi dan perbuatan, mereka sudah terlempar jauh dari semangat demokrasi.
Justru mereka telah kembali ke zaman primitif yang berkuasa dan menjalankan pemerintahan
atas dasar kekuatan. Sejauh ini belum ada tanda-tanda kekuatan-kekuatan politik di Mesir
akan kembali pada semangat musyawarah-mufakat. Justru masing-masing pihak mabuk dan
larut dalam kuasa politik adu kekuatan.

Dalam konteks seperti ini, masa depan Mesir menjadi sebuah tanda tanya besar. Tanpa ada
komitmen kebangsaan yang kuat dari semua pihak, bukan tidak mungkin justru Mesir
menjadi negara tanpa masa depan.


HASIBULLAH SATRAWI
Pengamat Politik Timur Tengah dan Dunia Islam, Alumni Universitas Al- Azhar, Kairo,
Mesir


















Banjir Jakarta dan solusinya
Koran SINDO
Selasa, 21 Januari 2014

HARAPAN warga Jakarta untuk hidup bebas dari bencana banjir tampaknya masih jauh
panggang dari api. Masalah klasik ibu kota negara ini tak kunjung terpecahkan, meski
pemerintahan DKI Jakarta telah silih berganti. Bahkan, frekuensi dan luasan daerah yang
terkena dampak banjir cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Hujan yang mengguyur Jakarta dan wilayah sekitarnya sejak sepekan terakhir telah
mengakibatkan genangan air dan banjir di sejumlah wilayah DKI Jakarta. Menurut BMKG,
itu hanya permulaan. Banjir yang lebih besar boleh jadi akan menyusul bersamaan dengan
puncak musim hujan yang diperkirakan turun akhir Januari sampai awal Maret. Banjir
memang merupakan fenomena alam yang melanda negara mana pun di dunia.

Yang membedakan kita dengan bangsa-bangsa lain yang lebih maju adalah sikap kita yang
tidak pernah mau belajar dari pengalaman, dan tidak pernah tuntas dalam menyelesaikan
masalah banjir. Selama ini upaya penganganannya bersifat parsial, terpilah-pilah, dan top-
down. Padahal, banjir Jakarta merupakan permasalahan yang kompleks. Bukan hanya terkait
dengan aspek teknis, melainkan juga nonteknis.

Akar masalah banjir
Banjir terjadi di suatu kawasan, bila masukan air yang berasal dari hujan di kawasan tersebut
ditambah dengan air hujan yang berasal dari kawasan hulu, jumlahnya lebih besar ketimbang
yang dapat teralirkan ke laut dan yang terserap ke dalam tanah pada periode waktu tertentu.
Tak heran, bencana banjir besar melanda Jakarta terjadi manakala hujan lebat turun di
wilayah Bogor bersamaan dengan hujan deras di Jakarta dan pasang tertinggi di laut Teluk
Jakarta.

Ini biasanya terjadi sekali dalam lima tahun, seperti banjir besar pada tahun 1997, 2002,
2007, dan 2012. Maka secara keruangan (spatial), segenap faktor penyebab banjir Jakarta
dapat dikelompokkan menjadi tiga: (1) yang berasal dari kawasan hulu Jakarta, (2) dari dalam
wilayah DKI Jakarta, dan (3) dari laut. Fungsi hidro-orologis daerah hulu (Bopunjur/Bogor-
Puncak- Cianjur) untuk menyimpan air saat hujan dan mengeluarkannya saat kemarau sudah
sangat menurun, tinggal 25% dari kapasitas aslinya.

Ini tecermin dari fluktuasi debit Sungai Ciliwung yang sangat besar antara musim penghujan
dan kemarau. Penyebab utamanya tak lain adalah kurangnya luasan kawasan lindung dan
ruang terbuka hijau (RTH). Sebagian besar kawasan lindung dan RTH di sepanjang hulu
Ciliwung telah dikonversi menjadi perumahan, vila, kawasan industri, pertanian, dan
peruntukan lainnya. Pada 1992, kawasan terbangun di daerah tangkapan air (catchment area)
hulu Ciliwung seluas 101.363 ha, kemudian pada 2006 naik dua kali lipat lebih menjadi
225.171 ha.

Sementara itu, kawasan tidak terbangun yang pada 1992 seluas 665.035 ha berkurang
menjadi 541.227 ha (Lapan, 2006). Di dalam wilayah DKI Jakarta sendiri, kemampuan 13
sungai yang membelah DKI Jakarta, BKT (Banjir Kanal Timur), BKB (Banjir Kanal Barat),
dan sejumlah saluran untuk mengalirkan air hujan ke laut terus berkurang akibat beragam
ulah manusia yang destruktif. Pada saat yang sama, kapasitas tanah untuk menyerap air juga
semakin terpangkas.

Ini disebabkan oleh kian menyusutnya daerah resapan air, situ, RTH, dan pemadatan tanah
akibat semakin masifnya pembangunan gedung-gedung perkantoran, mal, perumahan,
apartemen, pabrik, jalan, dan infrastruktur lainnya. Saat ini luas keseluruhan RTH hanya 9%,
sedangkan idealnya 30% dari total luas wilayah DKI. Fakta bahwa sekitar 40% wilayah DKI
berada di bawah permukaan air sungai dan laut, juga membuat Jakarta sangat rentan terhadap
banjir.

Selain topografi alamiah yang rendah, terutama Jakarta Utara, banyaknya lokasi yang
elevasinya di bawah permukaan laut itu juga akibat penyedotan air tanah dan aktivitas
konstruksi yang masif. Sifat tanah wilayah DKI yang lunak ditambah dengan penyedotan air
tanah yang tak terkendali telah menyebabkan land subsidence (penurunan muka tanah) antara
310 cm per tahun.

Selain itu, drainase yang buruk juga memperparah masalah banjir di Jakarta. Sementara itu,
perubahan iklim global telah mengakibatkan permukaan laut meningkat, curah hujan dengan
intensitas yang lebih tinggi di musim basah, dan rob semakin sering menyambangi Jakarta
pada waktu dan lokasi yang tidak kita inginkan.

Solusi teknis
Maka itu, penanganan masalah banjir Jakarta secara tuntas hanya dapat terwujud melalui
program pengendalian banjir secara terpadu berbasis daerah aliran sungai (DAS) dari hulu
sampai hilir. Mengatasi banjir di daerah hilir (wilayah DKI) tanpa membenahi daerah hulu
(Bopunjur) akan sia-sia belaka. Sehubungan dengan besarnya volume air ketika musim hujan,
untuk wilayah DKI Jakarta kita mesti menerapkan kombinasi tiga konsep pengelolaan tata air
secara simultan.

Pertama, mengendalikan aliran air dari daerah hulu (banjir kiriman) dan membatasi volume
air yang masuk wilayah Ibu Kota. Untuk itu, fungsi BKT sebagai saluran kolektor untuk
menampung limpahan air dari hulu yang dialirkan melalui sisi timur Ibu Kota harus segera
dioptimalkan.

Pada saat yang sama, BKB untuk menampung limpahan air yang dialirkan lewat sisi barat
kota harus ditinggikan dan direhabilitasi, karena banyak yang rusak akan mengalami
penyempitan dan penyumbatan.

Kedua, mengupayakan agar air hujan sebanyak mungkin diresapkan ke dalam tanah guna
memperbesar cadangan air tanah, yang sangat dibutuhkan saat kemarau. Untuk itu, kita harus
memperbaiki dan memperluas daerah resapan air berupa taman, hutan kota, dan RTH lainnya
hingga mencapai 30% luas wilayah DKI. Danau-danau baru juga perlu dibangun, sembari
merevitalisasi puluhan danau dan situ yang kondisinya sudah parah.

Kini saatnya pemerintah mewajibkan pembangunan satu sumur resapan untuk setiap rumah
dan pembuatan lubang biopori sebanyak mungkin di lahanlahan terbuka di wilayah yang
muka air tanah (water table) nya masih dalam. Ketiga, memperlancar aliran air dari
permukaan tanah yang terbuka ke saluran-saluran drainase, sungai-sungai, dan akhirnya ke
laut.

Karena hampir semua saluran drainase dan ketiga belas sungai yang mengaliri DKI Jakarta
telah mengalami penyempitan dan penyumbatan, pemerintah dan masyarakat harus bekerja
sama secara serius dan penuh disiplin untuk membongkar bangunan di sepanjang bantaran
sungai, membersihkan sampah dan sedimen dari badan sungai dan kanal-kanal.

Penyedotan air tanah harus segera dibatasi atau dilarang (moratorium). Untuk memperluas
RTH dan daerah resapan air, sudah saatnya kita beralih dari pola pembangunan perumahan
dan perkantoran mendatar (satu lantai) menjadi rumah dan kantor bertingkat, seperti halnya
megapolitan di negara-negara maju.

Karena sistem drainase Jakarta sebagian besar merupakan warisan Belanda yang sudah tidak
sesuai lagi dengan kondisi sekarang, sudah saatnya kita menata ulang sistem drainase sesuai
dengan kondisi saat ini serta dinamika kependudukan, pembangunan, dan alam di masa
mendatang.

Contohnya dengan membuat sistem drainase polder dengan pemompaan di kawasan-kawasan
rendah (seperti Kelapa Gading dan Sunter) yang tidak memungkinkan air drainase mengalir
ke sungai dan laut secara gravitasi.

Di bawah koordinasi pemerintah pusat, Pemprov DKI Jakarta harus bekerja sama dengan
Pemprov Jabar dan Banten untuk merehabilitasi (menghijaukan) hutan lindung dan RTH
yang telah rusak, terus membongkar vila dan bangunan lain yang dibangun di atas lahan
dengan kemiringan lebih dari 45% dan di bantaran sungai, dan memperbaiki sistem pertanian
sesuai asas konservasi tanah.

Dengan demikian, ekosistem hutan, RTH, dan tata guna lahan di wilayah hulu DAS Ciliwung
akan mampu menahan dan menyimpan air saat musim penghujan, lalu mengeluarkannya
secara teratur pada musim kemarau.

Selain itu, kita harus membangun waduk-waduk atau kolam-kolam penampung (retarding
basins) di kanan-kiri Ciliwung mulai Ciawi sampai sebelum masuk wilayah DKI. Prinsip
kerja pendekatan ini adalah menghadang aliran air dari hulu saat banjir, kemudian
mengalirkannya ke dalam retarding basins, sebelum masuk wilayah yang hendak
diselamatkan (Jakarta).

Retarding basins berupa waduk-waduk dan kolam juga bisa dimanfaatkan untuk tempat
rekreasi dan pariwisata alam berupa pemancingan (sport fishing), dayung, berperahu, dan
olahraga air lainnya serta menikmati keindahan panorama.

Untuk mencegah penyebab banjir dari laut berupa rob dan semakin meningkatnya permukaan
laut, kita perlu membangun tanggul laut yang terintegrasi dengan reklamasi pantura Jakarta.
Solusi teknis di atas hanya dapat berhasil, bila diikuti oleh perbaikan perilaku dan etos kerja
aparat pemerintah, DPR, swasta, dan masyarakat secara mendasar dan revolusioner.

Semua pihak harus sadar bahwa menjinakkan banjir Jakarta merupakan tanggung jawab
bersama. Tidak lagi saling melempar kesalahan. Setiap komponen bangsa harus
menyumbangkan kemampuan terbaiknya dan bekerja sama secara sinergis untuk mengatasi
masalah banjir secara tuntas.


PROF DR IR ROKHMIN DAHURI, MS
Guru Besar Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan IPB













Kasus SKK Migas dan kenyamanan Istana
Koran SINDO
Senin, 20 Januari 2014

PROSES hukum kasus suap yang melibatkan mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini
memang sudah mencatat kemajuan, tetapi belum signifikan. Baru menyergap pemain figuran
karena menerima honor atas peran mereka masing-masing.

KPK pada waktunya nanti diharapkan berani mengarahkan pisau penyelidikan ke aktor utama
kasus ini. Bukankah sudah ada gambaran bahwa Rudi itu hanya faktor yang karena
jabatannya harus mampu memberi jaminan kenyamanan Istana? Jelang pekan ketiga Januari
2014 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita perhatian publik, berkait dengan proses
hukum kasus suap yang melibatkan Rudi.

Pertama, menetapkan Waryono Karno sebagai tersangka. Kedua, masih berkait dengan kasus
ini, penyidik KPK menggeledah kantor dan kediaman beberapa anggota DPR. Penetapan
status tersangka atas Waryono Karno tentu saja menarik perhatian publik karena dia pejabat
tinggi negara dengan pangkat (mantan) Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral (ESDM).

Setelah Rudi ditangkap, KPK menggeledah ruang kerja Waryono dan menyita uang
USD200.000. Sebelum berstatus tersangka, Waryono telah menjalani lima kali pemeriksaan
di KPK. Itulah kemajuan dari proses hukum kasus ini, selain Rudi dan tersangka lain yang
mulai menjalani agenda persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta. Kemajuan ini patut
diapresiasi.

Tetapi, muncul pertanyaan; apakah kasus ini akan dilokalisasi hanya pada level Sekretaris
Jenderal ESDM, pengendali Kernel Oil, dan anggota DPR? Benar bahwa pimpinan KPK
sudah menyatakan tidak tertutup kemungkinan pihak lain akan muncul sebagai tersangka
kasus ini. Siapa? Untuk mendapatkan jawaban dengan cara paling mudah, mungkin cukup
mengacu pada beberapa nama yang kantor dan kediamannya telah digeledah penyidik KPK.
Kalau hal itu yang terjadi, KPK tetap layak diapresiasi, tetapi dengan catatan.

Kemajuan proses hukum kasus ini belum signifikan karena yang terjaring KPK baru pemain
figuran dengan barang bukti uang suap. Namanya pemain figuran, fungsi atau tugas mereka
dalam kasus ini adalah melakukan persiapan dan bersih-bersih agar sebuah target besar yang
memuat kepentingan oknum penguasa bisa terwujud dan harus tampak legal.

Dalam kasus suap mantan kepala SKK Migas ini, target besar yang akan diwujudkan adalah
memenangkan Kernel Oil dan perusahaan afiliasinya dalam tender atau lelang terbatas
minyak mentah dan kondensat bagian negara di SKK Migas. Sebagaimana dakwaan jaksa
penuntut umum dari KPK, Operasional Manajer dan Komisaris PT Kernel Oil Simon
Gunawan Tanjaya didakwa membantu Widodo Rathanachaitong untuk menyuap Rudi
dengan dana 200.000 dolar Singapura dan USD900.000.

Widodo adalah makelar penjualan minyak mentah dan gas yang mewakili empat perusahaan,
meliputi Fossus Energy Pte Ltd, Fortek Thailand Pte Ltd, Kernel Oil Pte Ltd, dan World
Petroleum Pte Ltd. Uang sogok yang akumulasinya setara Rp12 miliar itu balas jasa atas
kesediaan dan keberanian Rudi mengatur lelang terbatas minyak mentah dan kondensat
bagian negara di SKK Migas.

Caranya adalah menyingkirkan 29 perusahaan lain yang menjadi pesaing empat perusahaan
yang dikendalikan Widodo. Di Pengadilan Tipikor diungkapkan bahwa ada enam pekerjaan
yang dilakukan Rudi setelah menerima sogokan Widodo antara lain memenangkan Fossus
Energy Ltd dalam lelang kondensat Senipah bagian negara, Juni dan Juli 2013. Juga
menyetujui penggantian kargo pengangkut minyak mentah Grissik Mix bagian negara
periode Februari sampai Juli 2013 untuk Fossus Energy Ltd.

Pekerjaan lain adalah menggabungkan lelang minyak mentah Minas/SLC dan kondensat
Senipah, Agustus 2013 dan menyetujui Fossus Energy Ltd sebagai pemenang lelang minyak
mentah Minas/SLC dan kondensat Senipah periode Juli sampai Agustus 2013. Rudi juga
bersedia menggabungkan tender kondensat Senipah dan minyak mentah Duri untuk periode
SeptemberOktober 2013 serta menunda pelaksanaan tender Kondensat Senipah periode
SeptemberOktober 2013.

Laksanakan perintah
Pernah ditegaskan bahwa Rudi tidak mungkin bermain sendiri. Ini bisnis yang sangat besar.
Lihat saja, hanya untuk mengatur dan memenang enam lelang, total uang sogoknya bisa
sampai Rp12 miliar. Sebuah kesaksian dalam kasus ini bahkan mengungkap bahwa melalui
perantaranya, Rudi pernah menerima uang dari pengusaha lain sebesar USD700.000 atau
setara Rp8,3 miliar.

Kalau kemudian Rudi berani mengatur lelang untuk kepentingan Widodo, bisa dipastikan
bahwa pejabat di atas Rudi atau pemberi perintah hanya siap terima bersih agar tenang dan
nyaman. Siapa yang memerintah Rudi? Jawabannya bergantung pada keberanian Rudi dan
mungkin juga Waryono. Maka itu, perlu disimak lagi pengakuan dan penuturan Devi Ardi
yang sudah menjadi fakta persidangan.

Dia hanya pelatih golf Rudi, tetapi diberi kepercayaan untuk mengambil dan
mendistribusikan uang sogok. Menurut Devi Ardi, Widodo bertutur mengenai hubungannya
dengan sejumlah pejabat di lingkaran Istana seperti Sekretaris Kabinet Dipo Alam dan putra
Presiden SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas. Dia main di SKK Migas. Ada tujuh
perusahaan, ada jaringan ke Istana, DPR, dan Dipo Alam, ujar Devi Ardi saat bersaksi di
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta dengan terdakwa Simon Gunawan
Tanjaya akhir November 2013.

Kepada Devi Ardi, Widodo juga menjelaskan bahwa sebagai kepala SKK Migas, Rudi harus
menjalin hubungan baik dengan Widodo karena itu bisa membuatIstanatenang. Kalau Rudi
berhubungan baik dengan Widodo, itu akan membuat Ibas dan Istana tenang, kata Devi Ardi
menirukan pernyataan Widodo. Hingga pekan ketiga Januari 2014 ketajaman pisau
penyelidikan KPK dalam kasus ini sudah lebih dari cukup.

Tetapi, masih tajam ke bawah. Jangan lupa bahwa publik sangat mafhum kalau model kasus
seperti suap kepala SKK Migas itu selalu melibatkan kekuasaan yang lebih besar, bukan
sekadar seorang kepala SKK Migas atau Sekjen ESDM sekali pun. Maka itu, wajar jika
berkembang harapan agar pisau penyelidikan KPK dalam kasus ini bisa tajam ke atas.
Penuturan Devi Ardi itulah pijakannya.

Menyusul penangkapan Rudi, berkembang ragam rumor yang masih berkait dengan urusan
lelang di SKK Migas misalnya para pemenang lelang di SKK migas wajib menyisihkan
USD2 kepada oknum penguasa. Memang namanya juga rumor, kebenarannya masih harus
dibuktikan. Tetapi, rumor seperti itu biasanya berasal dari orang dalam yang untuk kasus ini
tentu saja bersumber dari internal SKK Migas atau Kementerian ESDM.

Tidak ada salahnya jika KPK memosisikan rumor seperti itu sebagai masukan. Kadang rumor
seperti itu bermanfaat manakala dilakukan eskalasi dalam penyelidikan dan penyidikan
terhadap model kasus seperti suap kepala SKK Migas ini.

Dalam konteks membuat Istana tenang, Widodo dan Simon pasti menyimpan sejumlah
informasi penting. Tapi, jelas bahwa tidak mudah mengorek informasi itu dari Widodo
maupun Simon. Itulah tantangan bagi para penyidik KPK.


BAMBANG SOESATYO
Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Golkar







Tipping point, protest vote, dan social media
Koran SINDO
Selasa, 21 Januari 2014

TI PPI NG point merupakan istilah yang digunakan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya
untuk menggambarkan bagaimana hal kecil dapat memberikan perubahan besar. Di buku
tersebut, Gladwell memberikan contoh pada produk sepatu kulit merek Hush Puppies awal
1995.

Bagaimana tidak merek Hush Puppies dari sebuah sepatu yang hampir dilupakan orang dapat
berubah menjadi merek populer secara dramatis melalui sedikit perubahan desain. Fenomena
ini di ilmu fisika dikenal dengan teori critical mass atau di ilmu matematika dikenal dengan
nama chaos theory. Secara ilmiah, tipping point dapat dijelaskan sebagai bagaimana sesuatu
hal kecil dapat berimbas menjadi hal besar dan menyebar melalui jaringan sehingga saling
berpengaruh dan contagiousness/menular seperti virus.

Belum ditemukan istilah yang pas untuk fenomena seperti ini di hukum dan politik, mungkin
kita bisa menggunakan istilah protest vote yang dapat diartikan dengan asal bukan,
Seperti di tahun 1998 asal bukan Pak Harto atau Asal Jangan Foke di Pilkada DKI 2012. Di
era internet sekarang ini, ternyata social network cukup berperan memberikan tipping point
terutama pada fenomena hukum dan politik. Kita tentu masih ingat dengan kasus Prita atau
kasus Cicak-Buaya yang melibatkan Polri dan KPK, social network berperan sekali
membentuknya.

Atau kita ambil contoh fenomena yang sedang berlangsung sampai sekarang yakni Jokowi
Effect. Jokowi Effect/Harapan Semu sebenarnya adalah akumulasi dari jumlah like yang
sebenarnya disebabkan oleh jumlah dislike berlebihan kepada Fauzi Bowo pada saat
Pilkada DKI 2012.

Orang-orang membutuhkan karakter yang kontra dengan karakter Fauzi Bowo dan dari
semua kandidat yang ada di Pilkada DKI saat itu, Jokowi-lah orangnya. Baju kotak-kotak dan
blusukan adalah sedikit perubahan desain kampanye oleh Jokowi dibandingkan dengan
kandidat lainnya.

Social media seperti Facebook, Twitter, Blog, dan YouTube memiliki peran penting sebagai
tools untuk memengaruhi dan menyebarluaskan informasi secara efektif. Like/Dislike Pilkada
DKI 2012 sangat kentara pada Sentiment Index Social Media antara Jokowi-Ahok vs Fauzi-
Nachrowi diambil dari Indexpolitica.com (13 Juni 2012). Pembicaraan negatif terhadap
Fauzi-Nachrowi sangat dominan, namun sebaliknya Jokowi-Ahok memengaruhi secara
positif. Kondisi yang hampir serupa untuk kandidat calon presiden 2014 (Indexpolitica.com,
18 Januari 2014.

Melalui social network, ide-ide merakyat Jokowi dipublikasikan melalui sebuah
grup/komunitas di mana orang-orang yang belum mengetahui menjadi tertarik dan
terinspirasi untuk ikut menyebarkan dan melakukan, termasuk di dalamnya adalah media
massa seperti media online, TV, koran, dan radio. Selanjutnya, media mengekspos Jokowi
Effect sehingga berlanjut ke pilpres yang waktunya tidak terlalu jauh.

Dan, kebetulan saat ini rakyat sedang kecewa dengan Presiden SBY yang dinilai lamban, full
pencitraan, bikin album, membunuh teroris, ditambah lagi kader-kadernya ditangkapi oleh
KPK dan sebagainya sehingga muncul kembali protest vote.

Protest vote lebih mereferensi kepada orang baru dibandingkan dengan orang lama. Maka
protest vote ini tidak akan ke Prabowo, Megawati, atau Jusuf Kalla. Protes vote
membutuhkan figur baru untuk pilpres dan figur tersebut untuk saat ini kembali tertuju
kepada Jokowi.

Hal ini tidak akan terjadi di tahun 2019 kepada Jokowi, karena momentum Jokowi adalah
sekarang ini di tahun 2014. Siapakah penantang ideal Jokowi di 2014 nanti? Politik itu adalah
citra, bayangan, proyeksi yang dilihat dari kejauhan baik visual maupun persepsi, jadi tidak
bicara kompetensi, program, visi, atau misi.

Dalam sebuah survei, seorang memilih kandidat A dengan alasan Y sebenarnya karena
pertanyaan yang diajukan adalah pilihan berganda, alasan sebenarnya orang tersebut memilih
A adalah hanya karena Like/ Dislike. Jadi harus ada tokoh yang mempunyai karakter kontra
terhadap Jokowi saat ini sehingga memunculkan tipping point baru di masyarakat.


DENNY CHARTER
Direktur Eksekutif Indexpolitica @dennycharter








Pelajaran Berharga Perbankan dan Tahun Politik

PAUL SUTARYONO Pengamat Perbankan & Mantan Assistant Vice President BNI

Pada 4 Desember 2013 Komisi Eropa menjatuhkan hukuman denda terhadap sejumlah grup
bank utama dengan total senilai 1,7 miliar euro untuk kejahatan perbankan berupa kolusi dan
manipulasi tingkat suku bunga.

Grup-grup bank tersebut di antaranya JP Morgan, Citigroup, dan HSBC didakwa selama
bertahun-tahun memanipulasi suku bunga acuan Eropa dan Jepang. Pelajaran berharga
(lessons learned) apa yang dapat dipetik? Kasus yang disebut sebagai megaskandal abad 21
itu mencuat di permukaan sekitar pertengahan 2012. Beberapa bank berskala global diduga
telah menjalankan komitmen bersama dalam menetapkan suku bunga pasar uang antarbank di
Eropa atau Libor (London interbank offered rate).

Meskipun kasus itu bersumber utama di London, otoritas keuangan AS juga ikut melakukan
penyelidikan kasus tersebut. Perbankan nasional juga tidak lepas dari aneka kasus perbankan
yang melibatkan baik bank lokal maupun bank asing.

Artinya, selama ini bank asing yang dianggap lebih prudent ternyata juga terlindas kasus.
Tetapi, itu tidak berarti bank lokal tidak memiliki potensi risiko sama sekali. Tengok saja,
kasus-kasus perbankan nasional juga telah menelan kerugian keuangan dari miliaran sampai
triliunan rupiah.

Aneka Pelajaran Berharga

Lantas, pelajaran berharga apa saja yang patut dipetik dari megaskandal tersebut? Pertama,
bertindak ekstrahati-hati. Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan umum (pemilu)
legislatif dan presiden dan wakil presiden pada 2014. Pada hajatan politik itu semua pihak
dituntut untuk kian memasang telinga dan hidung sehingga mampu mencium aroma yang tak
sedap.

Apalagi, tugas, fungsi, wewenang pengaturan, dan pengawasan di sektor perbankan nasional
telah beralih dari Bank Indonesia (BI) ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) efektif 1 Januari
2014. Dengan bahasa lebih bening, masa transisi itu penting untuk dikawal supaya OJK
sanggup mengemban tugas yang amat berat. Betapa tidak, saat itu BI hanya mengawasi 121
bank umum ditambah sekitar 1.600 Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Sebaliknya, kini OJK mengawasi bukan hanya lembaga keuangan bank, tetapi juga lembaga
keuangan, bukan bank yang semula dikawal Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Ingat,
OJK dibentuk dengan tujuan supaya keseluruhan kegiatan pada sektor jasa keuangan dapat
terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel; mampu mewujudkan sistem
keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil; dan mampu melindungi kepentingan
konsumen dan masyarakat.

Apa tugas utama OJK? OJK bertugas mengatur dan mengawasi kegiatan jasa keuangan di
sektor perbankan, pasar modal, asuransi, dana pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga
jasa keuangan lainnya. Lembaga jasa keuangan lainnya adalah pergadaian, lembaga
penjaminan, lembaga pembiayaan ekspor Indonesia, perusahaan pembiayaan sekunder
perumahan, dan lembaga yang menyelenggarakan pengelolaan dana masyarakat yang bersifat
wajib.

Itu meliputi penyelenggara program jaminan sosial, pensiun, dan kesejahteraan, sebagaimana
dimaksud dalam peraturan perundang- undangan mengenai pergadaian, penjaminan, lembaga
pembiayaan ekspor Indonesia, perusahaan pembiayaan sekunder perumahan, dan pengelolaan
dana masyarakat yang bersifat wajib, serta lembaga jasa keuangan lain yang dinyatakan
diawasi OJK berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Karena itu, OJK dan BI dan bank nasional harus bertindak ekstrahati-hati. Mengapa?
Lantaran banyak pihak memerlukan dana setinggi gunung untuk mengadu nasib dalam
pemilu. Kedua, memberikan sanksi lebih berat. Ketika kasus perbankan lahir, sebagian pihak
menuding BI tak mampu mengawasi dengan jitu.

Audit bank sentral terhadap bank nasional pada umumnya dilakukan hanya dua kali dalam
setahun. Itu belum cukup. Dengan kalimat lebih lugas, waktu itu BI memang tidak dapat
melakukan pengawasan setiap hari terhadap satu bank. Tetapi, itu bukan alasan untuk
mengelak. Maka itu, bank nasional wajib pula melakukan audit internal dengan lebih awas.
Bukan hanya itu, terkadang sanksi yang diberikan BI juga dianggap ringan.

Karena itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang kini sedang menggodok revisi Undang-
Undang Perbankan perlu mencermati ini. Sanksi harus lebih berat lagi sehingga dapat
menimbulkan bukan hanya efek jera, tetapi juga jerih bagi bank bersangkutan dan bank
lainnya. Ketiga, menghargai pembuka kasus (whistle blower).

Bank yang disebutkan berpartisipasi dalam kartel adalah Barclays, Deutsche Bank, RBS,
Societe Generale, Credit Agricole, HSBC, JPMorgan, UBS, dan Citigroup. Hal yang menarik
dari pengungkapan megakasus suku bunga Libor itu adalah Komisi Eropa yang merupakan
Badan Eksekutif Uni Eropa menghapuskan dua bank UBS dan Barclays dari daftar terdakwa
karena membantu dalam penyelidikan.

Dua bank tersebut seharusnya membayar hukuman denda paling besar yakni 2,5 miliar euro
dan 690 juta euro. Ini sungguh baik bagi BI dan OJK untuk meniru pola penghargaan kepada
pembuka kasus dan atau pembantu penyelidikan suatu kasus. Terlebih dalam melaksanakan
tugas pengaturan dan pengawasan di sektor perbankan, OJK mempunyai empat wewenang.

Tugas itu meliputi wewenang pengaturan dan pengawasan mengenai kelembagaan bank,
wewenang pengaturan dan pengawasan mengenai kesehatan bank, wewenang pengaturan dan
pengawasan mengenai aspek kehati-hatian bank, dan wewenang pemeriksaan bank. Menu
komplit. Keempat, membendung kejahatan perbankan dan keuangan. Meskipun Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) terus memberantas tindak pidana korupsi, tindak pidana
korupsi bagai tak surut.

Hasil korupsi itu kemudian dicuci habis antara lain melalui perbankan nasional. UU Nomor 8
Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
menitahkan bahwa yang dimaksud dengan pencucian uang adalah segala perbuatan yang
memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai ketentuan dalam UU ini.

Untuk itu, BI telah meluncurkan Surat Edaran BI Nomor 15/21/DPNP tanggal 14 Juni 2013
tentang Penerapan Program Antipencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi
Bank Umum. Aturan ini terbit karena transaksi perbankan yang warna-warni itu dapat
mengakibatkan bank nasional sangat rentan terhadap kemungkinan digunakan sebagai media
pencucian uang dan pendanaan terorisme.

Bank nasional wajib membentuk Unit Kerja Khusus yang bertanggung jawab atas penerapan
Program Antipencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme. Apa itu Unit Kerja
Khusus (UKK)? UKK merupakan unit kerja yang bertanggung jawab atas penerapan
Program Antipencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme. Unit ini akan berada di
kantor pusat dan kantor cabang.

Dengan demikian, bank nasional amat diharapkan dapat bekerja sama dengan KPK dan
mencegah pencucian uang dan pendanaan terorisme. Terlebih ketika bank nasional senantiasa
melakukan revitalisasi penerapan manajemen risiko yang meliputi identifikasi, pengukuran,
pemantauan, dan pengendalian risiko. Kelima, menerapkan know your customer (KYC).

Ketika menemukan transaksi yang mencurigakan, bank nasional wajib menerapkan prinsip-
prinsip KYC. Bagaimana kiatnya? Dengan menelusuri pengirim dan penerima transfer, asal
usul dana, dan tujuannya. Sarinya, tidak asal kirim.

Berbekal aneka pelajaran dan langkah strategis demikian, bank nasional dapat terhindar dari
potensi risiko kasus perbankan. Kondisi itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih
bergairah sehingga mampu menekan tingkat pengangguran terbuka yang mencapai 9,22% per
Agustus 2013.




Bencana yang Menumbuhkan Bangsa

ACHMAD M AKUNG Dosen Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang
Keindahan alam Indonesia yang tak tepermanai dan kekayaan alam yang berlimpah ruah
sungguh merupakan karunia selaksa surga. Sangat naif rasanya apabila menafikannya meski
sebagai bangsa acapkali kita lupa menjaganya dengan bijaksana.

Namun, kita tidak bisa mendustai realita bahwa negeri ini berada di kawasan cincin api (ring
of fire) yang selalu bergejolak. Negeri ini bahkan menjadi tempat pertemuan lempeng kulit
bumi yang dinamis yakni Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Negeri ini juga negara besar
dengan gugus kepulauan yang membentang dilingkung lautan. Realitas ini semestinya
membuat kita terjaga bahwa mau tidak mau, suka tidak suka, negeri ini ditakdirkan sebagai
negeri rawan bencana.

Segala macam bencana, baik bencana alam maupun bencana akibat buah tangan manusia,
menjadi sah menyapa kita. Mulai gempa bumi tektonik maupun vulkanik, tsunami, banjir
bandang, kekeringan, puting-beliung, tanah longsor, hingga banjir lumpur (yang tak serius
ditangani) menjadi saksi perjalanan panjang negeri ini. Belum lagi usai erupsi Gunung
Sinabung di Tanah Karo yang telah berlangsung berbulan-bulan, bencana banjir kembali
menyambangi Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia.

Manado diterjang banjir bandang terburuk yang menewaskan beberapa orang dan
melumpuhkan denyut kehidupan ibu kota Sulawesi Utara yang molek itu. Bencana seolah
merata menyapa beberapa kota di Indonesia pada awal tahun ini.

Memaknai bencana

Secara kasatmata bencana berarti kehancuran. Segala apa yang telah dibangun dalam
perjalanan panjang negeri ini bisa saja hancur dalam sekejap akibat dahsyatnya bencana.
Peradaban yang adiluhung, beserta artifak yang menjadi saksi eksistensinya, segera terserak
dan terkubur di kedalaman pilu. Bencana menyisakan duka ketika merenggut paksa apa yang
kita miliki dan kita jaga dengan sepenuh hati.

Sebagai negeri yang dipaksa takdir harus berkawan karib dengan bencana, sungguh kita
dituntut untuk mematut diri agar bisa hidup bersanding dengannya. Butuh kearifan (wisdom)
untuk bijak memaknai dan memahami alam raya ini. Dalam kacamata Paul Baltes dan Ursula
Staudinger (Compton, 2005), wisdom adalah pengetahuan dengan jangkauan, kedalaman,
takaran, keseimbangan yang luar biasa (extraordinary).

Wisdom adalah sinergi antara pikiran dan karakter, sebuah orkestrasi dari pengetahuan dan
nilai kebajikan (virtues). Hanya kebeningan hati yang sanggup memandu kita untuk melihat
lebih jernih segala hikmah yang tersembunyi di balik bencana. Tidak sekadar melihatnya dari
perspektif negatif yang kelam dengan memaki bencana yang menyambangi kita, tapi juga
memaknainya dari perspektif positif yang optimistis.

Setiap bencana sesungguhnya bisa dimaknai sebagai apa saja, bergantung dari perspektif
mana kita hendak memaknai. Sebagian kita memaknai bencana sebagai cobaan, peringatan,
atau bahkan azab dari Tuhan. Semua tersebab oleh perilaku kita yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa sebagaimana disenandungkan Ebiet G Ade.

Apabila kita berkenan bijak bertanya kepada ruang batin, kita akan temui realita bahwa di
balik segala kehancuran dan kerusakan akibat bencana, kita sungguh tengah diajari untuk
menjadi negeri yang bertumbuh (a flourishing country) menjadi jauh lebih baik. Salah satu
pelajaran terbaik yang semoga kita dapati adalah kesadaran bahwa sebagian besar bencana
yang terjadi di Indonesia merupakan bencana yang disebabkan ulah manusia
(anthropogenous origin).

Jika kita tidak segera berbenah dan berubah, bukan mustahil cerita tentang negeri indah ini
hanya akan tinggal sejarah. Catatan Walhi menunjukkan bahwa jumlah bencana meningkat
300% dibandingkan tahun sebelumnya. Kasus banjir dan tanah longsor, tidak tanggung-
tanggung, mencapai 1.392 kasus.

Data BNPB juga menunjukkan peningkatan tren bencana di Indonesia di mana 80% bencana
berkaitan dengan efek cuaca, banjir, longsor, maupun kekeringan (KORAN SINDO, 19
Januari 2014). Sudah saatnya kita terjaga bahwa umat manusia adalah jagat kecil
(mikrokosmos) berupa pribadi-pribadi yang bersemayam dalam jagat gede bernama alam
raya (makrokosmos).

Yang kita butuhkan adalah kesadaran berlaku nyawiji (menyatu) dan daya adaptasi
mematut diri untuk berkarib dengan irama alam. Kearifan ekologis akan menyadarkan dan
memandu laku kita bahwa sesungguhnya alam bekerja dalam sebuah sistem kesetimbangan.
Perilaku buruk kita mengusik kesetimbangan alam itulah yang kemudian akan berbuah
bencana. Bukankah telah nyata kerusakan di darat dan di laut yang disebabkan oleh ulah
tangan manusia?

Guru mengaji saya pernah bercerita tentang sebuah bahtera besar yang tengah berlayar
mengarungi samudera. Sebagian penumpang bahtera melubangi lambung kapal untuk beroleh
air karena merasa kehausan, namun malas untuk berusaha naik ke atas geladak, tempat di
mana air tawar tersimpan. Sayangnya, tidak ada satu pun penumpang, tidak pula nakhoda
atau awak kapal, yang mencegah perilaku dungu ini.

Akibat itu, lubang itu semakin membesar. Air masuk tak terkendali hingga menenggelamkan
seluruh isi bahtera, termasuk penumpang tak berdosa yang sesungguhnya tidak turut berbuat
kerusakan. Analogi negeri ini serupa cerita guru mengaji saya. Bahtera indah kita terancam
tenggelam. Sebagian penumpang kapal, penduduk negeri yang rakus dan tamak, melubangi
kapal dengan melakukan perusakan lingkungan.

Sayangnya, pemerintah, kru kapal yang diberi amanat menjaga dan menakhodai kapal, tidak
mencegahnya. Sebagian kru kapal bahkan kongkalikong, berperilaku korup dengan ikut
melubangi lambung kapal. Tidak tanggung-tanggung, sebagian penumpang dan kru kapal
bahkan mengundang perompak, kapitalis asing, untuk mengoyak lambung kapal dan
menjarah perbekalan kita.

Para pejabat negara dan kepala daerah yang korup menjadikan kekuasaan dan
kewenangannya sebagai komoditas yang diperjualbelikan dengan harga terlewat murah
kepada perompak asing. Izin pertambangan, kontrak karya, eksploitasi yang sesungguhnya
merompak kekayaan dan memiskinkan negeri, diobral benderang di depan mata rakyat. Lalu,
tinggallah penduduk negeri ini yang menanggung risiko bencana. Persis lagu dangdut,
Orang makan nangkanya, aku dapat getahnya.

Sementara para perompak itu telah kabur kembali menuju negerinya dengan gelimang
kemakmuran. Sungguh malang dan kasihan jelata. Apalagi ketika bencana datang melanda,
para pembuat kebijakan seakan tidak pernah tampak batang hidungnya. Kiranya bencana
akan menyadarkan kita semua bahwa sesungguhnya ia hanya bisa dihadapi dengan solidaritas
dan semangat kekitaan (weness).

Dalam konteks kebangsaan, bencana di sejengkal ruas negeri ini sesungguhnya akan
membuat jengkal yang lain merasakan sakit dan meradang. Di akar rumput modal sosial
(social capital) berupa empati, charity, pengorbanan, altruisme, bahu-membahu segenap anak
bangsa sesungguhnya masih tetap ada di setiap saat bencana melanda.

Dari sanalah kita bisa berharap kekuatan untuk tatag menghadapi, cerdas mengantisipasi
dan bergegas recovery dari bencana. Sungguh, jika kita bijak memberi makna, bencana
adalah cara Tuhan untuk mengajari bangsa kita bertumbuh, bukan runtuh. Wallahualam.









Berpolitik dengan Keluhuran

MOHAMAD SOBARY Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia,
untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.
Email: dandanggula@hotmail.com

Deklarasi Indonesia Sejati. Ini nama sebuah imbauan politik kaum muda. Boleh ditambah:
politik kaum muda dengan wawasan moral dan kesejatian jiwa, yang berkiblat pada
kepentingan besar, luhur, dan mulia, yang selama ini terlupakan.

Mungkin memang sengaja dilupakan. Itu yang harus ditarik kembali ke dalam papan catur
perpolitikan kita sekarang. Dengan begitu, jelas imbauan ini mengajak kita kembali ke jalan
perjuangan yang sudah dirintis para tokoh pendahulu, yang mengawali kehidupan kita,
membangun bangsa dan negara. Pada masaitu, bangsa dan negara merupakan suatu
pengertian baru yang belum kita kenal sebelumnya. Tetapi, kiblat dan arah perjalanannya
jelas, mulia, agung, dan memberi tempat terhormat seluruh warga negara.

Deklarasi itu dirayakan di Rumah Blogger Indonesia, sebuah ruang publik, tempat para
blogger dan kaum muda bermusik, berhumor, ngopi dan minum teh asli, ramuan
Blonktank Pur, yang betul-betul teh Indonesia. Rumah Blogger itu dulu sekretariat sebuah
LSM, sekarang menjadi pusat kegiatan dan pendidikan bagi para warga masyarakat, secara
umum, dan terbuka bagi siapa pun, yang tertarik belajar mengelola internet.

Malam kemarin, Sabtu, 18 Januari 2014, deklarasi dibacakan Agus Gunawan Wibisono, di
depan para hadirin yang tak terlalu besar jumlahnya, terdiri atas kaum muda pemusik
kontemporer kita. Tapi hadir juga rombongan pemusik klasik Jawa, tiga orang bersaudara,
yang sesiteran, berkidung palaran, dengan kombinasi tembang-tembang karya dalang
terkemuka: Ki Narto Sabdho.

Mukadimah deklarasi itu menyebutkan situasi dan kondisi kebangsaan yang semakin
menjauh dari cita-cita Proklamasi membutuhkan sebuah tindak nyata untuk menemukan
kembali jalan luhur politik agar mampu menjamin kehidupan bangsa yang aman dan
sejahtera, adil dan makmur, sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

Nama Indonesia sejati dipilih untuk mewakili ikon gerakan, sejenis usaha kembali ke jalan
lurus. Nada atau bunyinya punya kesamaan dengan apa yang di masa Orde Baru dulu pernah
disebut Gerakan Berkonstitusi, yang dilancarkan kelompok kecil, warga masyarakat senior,
dan terhormat, Jakarta, yang dibalas dengan permusuhan sengit oleh pemerintahan tentara
Orde Baru.

Deklarasi Indonesia Sejati itu kesejatiannya dibikin jelas dalam mukadimah tadi dan lebih
diperjelas lagi oleh etika hidup, yang dikembangkannya, yang menjamin pluralitas budaya,
yang mengimbau cara hidup transparan, terbuka, menjunjung tinggi watak jujur dan
bertanggung jawab, semangat gotong-royong, dan watak partisipatif.

Sekarang pluralitas itu sudah mati, dihidupkannya kembali sebagai jiwa dalam hidup
bermasyarakat, dan dalam cara-cara penyelenggaraan politik kenegaraan yang tak
mengutamakan satu golongan dan mengabaikan golongan lain. Keterbukaan itu ada di dalam
kata-kata para politisi dan media, tapi keterbukaan sebetulnya sudah dibikin tak berfungsi
dalam mengatur hidup masyarakat secara keseluruhan.

Banyak warga yang tak memperoleh akses keadilan dan kemanusiaan dan mereka
diperlakukan seperti bukan sebagai warga negara. Gotong-royong sudah mati. Semua
mekanisme sosial untuk menjaga kelangsungan hidup kemasyarakatan kita sudah ambruk dan
di sana-sini uang lebih berbicara daripada kesediaan bergotong-royong yang kita andalkan
sebagai cara hidup Nusantara masa lalu dan masih kita kap yang kita kapitalisasikan untuk
membangun masyarakat Indonesia masa depan: Indonesia yang kita lahirkan kembali dari
kesejatian dirinya, yang sudah kita kenal sejak dulu.

Dengan kata lain, Indonesia yang dibayangkan masa depan oleh kaum muda itu ialah
Indonesia yang memiliki kedaulatan yang berdikari dan memiliki kepribadian. Kaum muda
yang menggagas Indonesia Sejati itu merumuskan misi gerakannya untuk mewujudkan
keluhuran politik, memperjuangkan keadilan ekonomi, menyelenggarakan pendidikan, yang
mewujudkan manusia merdeka, sambil dengan sungguh-sungguh melindungi keragaman
kebudayaan kita.

Mereka juga merumuskan program kampanye publik untuk berbagi kesadaran dengan seluruh
masyarakat yang mungkin dijangkau oleh kemampuan komunikasi politik mereka.
Menyelenggarakan pendidikan politik dan pengembangan ekonomi berbasis komunitas.
Banyak yang belum dirumuskan secara jelas. Langkah politik kembali ke kesejatian
Indonesia tidak bisa dicapai dengan kesederhanaan konsep ini.

Banyak hal lain harus dirumuskan lebih jelas. Tapi, jangan lupa, kaum muda ini bukan
pegawai pemerintah, bukan birokrat, dan bukan orang-orang yang terbiasa berbicara dalam
bahasa birokrasi pemerintahan. Kekuatan mereka bukan di program, melainkan di ide, dan
kesegaran gagasan, yang membikin kita kaget bahwa itu lama tak menjadi perhatian kita.
Kekurangan kaum muda dalam merumuskan strategi dan wujud nyata gerakan hendaknya
diisi oleh warga masyarakat lain, kita isi bersama, dan menjadi agenda kehidupan kita
bersama.

Mungkin kita bersyukur bahwa kaum muda kita, yang kelihatannya tak peduli terhadap dunia
politik, dan lebih asyik bermusik, nyanyi-nyanyi, bermain internet yang menghabiskan
berjam-jam tiap hari, ternyata mereka tampil dengan gagasan politik yang tampaknya seperti
jalan keluar dari kebuntuan politik yang dungu dan egois, menghidupi partai tanpa peduli
basis pendukung, menjadi wakil rakyat yang tak mewakili seorang rakyat pun, dan serakah
terhadap jabatan dan duit negara.

Malam itu di Rumah Blogger Indonesia, Jalan Apel III No 27, Jajar, Solo, pesta politik,
malam politik, diramu musik dan tembang-tembang, yang menjadikan politik tidak sangar,
tidak angker seperti politik di tangan para politisi yang bohong, yang meneriakkan
antikorupsi, tetapi mereka sendiri korup, dan langsung ditangkap, dan dibui.

Dengan musik kontemporer maupun musik klasik Jawa, politik mengalir nyaman di dalam
kesadaran warga negara, kaum muda yang bukan birokrat, bukan politisi, dan bukan orang
bayaran pemerintah. Di Senayan, politik itu membawa ketegangan, bukan karena
kesungguhan mereka memperjuangkan kepentingan rakyat yang mereka wakili, bukan karena
tanggung jawab mewujudkan cita-cita bernegara, melainkan lebih karena cita-cita menambah
kekuasaan masing-masing dan menambah pemasukan di kantong masing-masing.

Ini ironi yang getir dan corak kehidupan yang tragis. Tapi, siapa di antara mereka itu yang
masih punya rasa peduli? Meneriakkan, sekali lagi, semangat antikorupsi, dengan semangat
lebih besar melakukan korupsi, menjadi kenyataan. Partainya, yang berteriak- teriak tentang
moral dan kesucian, dan tokoh-tokohnya yang tampil sok suci sok puritan, tak terbukti
membawa kesucian ke dalam politik.

Yang terbukti korupsinya, penggelapannya, dan pencuriannya, maupun kemunafikan tokoh-
tokohnya, yang satu per satu digiring KPK ke rumah tahanan dan diadili. Beberapa sudah
meringkuk ke dalam penjara. Ini menyengat kesadaran politik kaum muda yang
menyelenggarakan deklarasi Indonesia sejati tadi.

Jalan kembali yaitu untuk mewujudkan cita-cita bersama, membangun kesejatian hidup
bangsa Indonesia, ditempuh dengan cara-cara berpolitik yang menjadikan keluhuran dan
kemuliaan sebagai kiblat, sekaligus pilar-pilar kemasyarakatan yang tak boleh doyong,
membengkok, tidak tegak lurus, apalagi roboh. Kiblat keluhuran politik dijaga, tanpa banyak
omong, tanpa kemunafikan.

Berpolitik dengan keluhuran itu pertama-tama konstruksi jiwa, dan wujud kesadaran moral
politik, dan diwujudkan dalam tata kehidupan politik yang adil, manusiawi, dan memberi rasa
adil pada seluruh manusia, yang merupakan warga negara Indonesia. Keluhuran politik itu
keluhuran Indonesia dan kesejatian wujud politik Indonesia.





Saat Akil (Makan) Kemaruk

BI YANTO

Seorang kolega yang juga guru besar tafsir di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel
pernah berseloroh. Ia mengatakan bahwa Akil Mochtar ditangkap basah KPK dalam dugaan
kasus suap disebabkan salah nama. Hal itu karena menurut pakar tafsir ini, kata akil dalam
bahasa Arab jika dieja dengan huruf alif, kaf, lam, berarti makan atau memakan.

Berbeda dengan kata aqil dengan ejaan ain, qaf, lam. Kata terakhir ini (aqil) berarti orang
yang berakal, berpikir, dan bernalar dengan jernih. Saya meyakini, tatkala orang tua memberi
nama anaknya dengan kata akil, sejatinya yang dimaksud adalah aqil. Dengan nama aqil,
orang tua pasti menginginkan agar pada saatnya nanti anaknya tumbuh menjadi pribadi yang
cerdas sehingga mampu menggunakan akal pikirannya. Bukankah akal merupakan anugerah
terbesar dari Tuhan?

Bahkan akal pikiran menjadi pembeda yang jelas antara manusia dan hewan. Dengan akal
pikiran yang jernih maka seseorang senantiasa akan berhati-hati dalam bertutur kata,
bersikap, dan bertindak. Jadi, kata akil yang melekat pada nama mantan Ketua Mahkamah
Konstitusi (MK) Akil Mochtar, semestinya tidak bermakna memakan. Apalagi memakan apa
saja yang dapat dimakan. Jadi, Akil Mochtar itu semestinya bukan pemakan apa saja
(kemaruk), sehingga tidak peduli halal atau haram.

Apalagi beliau adalah pejabat tinggi negara yang terhormat. Tetapi jika melihat
perkembangan kasus Akil Mochtar tampaknya guyonan guru besar tafsir itu ada benarnya.
Akil Mochtar seakan ingin memanfaatkan jabatannya sebagai ketua MK untuk memperkaya
diri dan keluarganya dengan jalan yang tidak sah. Tumpukan kasus sengketa dalam pemilihan
kepala daerah (pilkada) telah membuka pikiran jahat Akil. Dengan sangat vulgar, Akil
memainkan begitu rupa kasus sengketa yang melibatkan pasangan calon dalam pilkada
sebagai mesin uang.

Tidak tanggung- tanggung, rumah dinas pejabat tinggi negara pun disulap menjadi tempat
bisnis keputusan sengketa pilkada. Kesaksian Ketua DPD Partai Golkar Jatim, Zainuddin
Amali, yang mengaku pernah dihubungi melalui pesan BlackBerry Messenger (BBM)
semakin menunjukkan belang Akil. Melalui komunikasi BBM, dengan tanpa tedeng aling-
aling, Akil minta disiapkan uang Rp10 miliar untuk menjamin kemenangan pasangan
Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) dalam pemilihan gubernur Jatim. Kebetulan saat itu
pesaing terkuat Karsa, pasangan Khofifah Indar Parawansa- Herman S. Sumawiredja,
mengajukan gugatan di MK.

Untungnya permintaan itu tidak digubris pasangan Karsa hingga Akil ditangkap penyidik
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di rumah dinasnya pada 2 Oktober 2013. Jika semua
yang dipersangkakan KPK benar maka dapat dibayangkan berapa banyak keuntungan Akil
dari bisnis keputusan MK. Hal itu karena tumpukan kasus sengketa pilkada di Tanah Air
sungguh luar biasa. Hingga dapat dipahami kalau Akil tidak memiliki tempat yang layak
untuk menyimpan uang.

Uang Akil pun disimpan di ruang karaoke, kompleks perumahan dinas MK. Mantan Ketua
MK Mahfud MD pun menyamakan perilaku Akil dengan Presiden Tunisia Ben Ali yang
menyimpan uang di ruang perpustakaan (SINDO, 14 Januari 2014). Sebagai pejabat tinggi
negara, Akil sejatinya sudah banyak memperoleh fasilitas seperti gaji tinggi, mobil mewah,
rumah dinas, dan sejumlah tunjangan. Jika tidak terlalu banyak makan dan berpolah,
penghasilan Akil sebagai pejabat tinggi negara sudah lebih dari cukup untuk menikmati
hidup.

Tetapi tabiat kekuasaan memang selalu menghadirkan godaan. Penguasa yang tahan
menghadapi godaan pasti akan selamat. Sebaliknya, yang tidak tahan godaan pasti akan
tergelincir. Akil termasuk pejabat yang tidak tahan godaan. Karena itulah Ibnu Khaldun
dalam The Muqaddimah an Introduction to History (1989), mengingatkan bahwa kekuasaan
itu jika tidak dijalankan dengan amanah pasti akan membawa kerusakan. Ibnu Khaldun
mengatakan bahwa tabiat kekuasaan itu selalu menghendaki berada di satu tangan (the royal
authority, by its very nature, must claim all glory for it self).

Tabiat kekuasaan juga selalu menghendaki kemewahan (the royal authority, by its very
nature, requires luxury). Sedangkan kemewahan pada saatnya merusak akhlak pejabat dan
menyebabkan kehancuran negara. Peringatan senada juga dikemukakan Lord Acton tatkala
menulis surat pada Bishop Mandell Creighten. Dalam surat itu, Acton menulis ungkapan
yang terkenal hingga kini, yakni Power tends to corrupt and absolute power corrupts
absolutely (Orang yang memiliki kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakannya dan
orang yang memiliki kekuasaan absolut sudah pasti akan menyalahgunakannya).

Peringatan Ibnu Khaldun dan Acton layak dijadikan pengingat bagi pemegang kekuasaan
agar tidak salah jalan. Tingkah polah Akil memang mengundang emosi publik. Bukan saja
orang awam yang kecewa. Mahfud MD juga dibuat berang. Akibat perilaku Akil,
kewibawaan MK seakan runtuh. MK terus menjadi pergunjingan publik. Mereka yang pernah
beperkara di MK bahkan menuntut agar putusan kasus sengketa pilkada yang melibatkan
Akil dibuka kembali.

KPK pun terus menyelidiki modus kejahatan Akil. Hasilnya sungguh luar biasa. Akil
diketahui memiliki harta kekayaan yang melimpah berupa rumah, kendaraan, uang, dan
properti lainnya. Semua properti Akil disita KPK karena diduga diperoleh dari jalan yang
tidak benar. Kasus yang menimpa Akil harus menjadi pelajaran bagi pejabat publik di negeri
ini. Bahwa siapa pun yang bermain-main dengan kekuasaan pasti akan berhadapan dengan
aparat.

Apalagi jika kekuasaan itu diselewengkan untuk kepentingan pribadi. Siapa pun yang
menjabat harus menyadari bahwa jabatan itu adalah amanah. Amanah berupa kekuasaan pasti
silih berganti, datang dan pergi (Alquran Surat Ali Imran: 26). Itulah hukum yang telah
ditetapkan Tuhan. Tidak mungkin seseorang akan menjabat dan berkuasa terus-menerus.
Karena itu, pejabat harus menggunakan kesempatan saat menjabat dengan bekerja sepenuh
hati. Hal ini penting agar saat turun dari tahta, seorang pejabat tidak memiliki persoalan
hukum.























Pembatasan masa jabatan Presiden
Koran SINDO
Selasa, 21 Januari 2014

SEJALAN dengan besarnya kewenangan presiden, selalu muncul pemikiran untuk
membatasi kekuasaannya. Misalnya melalui mekanisme pembatasan masa jabatan. Ada tiga
konsep pembatasan: tidak ada masa jabatan kedua (no re-election); tidak boleh ada masa
jabatan yang berlanjut (no immediate re-election); dan maksimal dua kali masa jabatan (only
one re-election).

Sebenarnya ada lagi konsep masa jabatan yang keempat, yaitu tidak ada pembatasan masa
jabatan (no limitation re-election). Tetapi tentu saja konsep yang terakhir tidaklah sesuai
sistem presidensial yang pastinya mensyaratkan pembatasan masa jabatan presiden.

No re-election diterapkan oleh Filipina yang membatasi masa jabatan presiden hanya satu
kali enam tahun. Only one re-election diterapkan di Amerika Serikat (AS), utamanya setelah
amendemen ke-22 yang membatasi masa jabatan presiden maksimal dua kali periode.

Sedangkan konsep no limitation re-election pernah terjadi di praktik ketatanegaraan
Indonesia sebelum periode Soeharto. Soekarno, presiden pertama menjabat mulai tahun
kemerdekaan 1945 hingga 1966, sedangkan Soeharto mulai efektif mengambil alih
kekuasaan sejak 1966 hingga 1998.

Soeharto terus terpilih kembali hingga berhenti di tahun 1998. Presiden pertama AS George
Washington tidak hanya menolak masa jabatan ketiga, namun awalnya pernah pula mencoba
menolak masa jabatan keduanya.

Sejak itu masa jabatan presiden maksimal hanya dua periode menjadi konvensi
ketatanegaraan. Hanya Franklin D Roosevelt yang melanggar tradisi tersebut dengan
menjabat periode ketiga mulai 1940, bahkan periode jabatan keempat sejak 1944. Pasal II
Section 1 Konstitusi AS mengatur seseorang menjadi presiden untuk masa jabatan empat
tahun, tanpa adanya batasan maksimal masa jabatan.

Baru pada tahun 1951, melalui amendemen konstitusi ke- 22, pembatasan maksimal dua kali
masa jabatan kepresidenan diterapkan. Lebih jelas, amendemen ke-22 juga mengatur bahwa
seseorang yang telah menjadi presiden atau pejabat presiden lebih dari 2 tahun, separuh
periode jabatan presiden, hanya dapat dipilih kembali untuk maksimal satu periode jabatan
kepresidenan. Itu artinya, dalam kondisi normal seseorang maksimal dapat menjadi presiden
selama 8 tahun, atau jika dalam kondisi luar biasa, maksimal 10 tahun.

Sejak penerapan amendemen ke-22 muncul beberapa pemikiran terkait dengan batasan masa
jabatan kepresidenan. Presiden Harry Truman, Dwight Eisenhower dan Ronald Reagan
berpendapat pembatasan maksimal dua periode jabatan kepresidenan bertentangan dengan
kebebasan rakyat untuk memilih presiden yang mereka inginkan.

Di sisi lain, Jimmy Carter justru mengusulkan masa jabatan presiden 6 tahun, tanpa dapat
dipilih kembali (nonrenewable), sebagaimana yang saat ini diterapkan di Filipina.

Carter berpendapat dengan sistem maksimal satu kali masa jabatan tersebut, seorang presiden
akan lebih fokus pada kebijakan jangka panjang yang lebih bermanfaat bagi rakyat-bangsa,
serta tidak semata-mata terperangkap dalam upaya untuk memenangkan masa kedua jabatan
kepresidenannya. Konstitusi AS secara tegas mengatur kapan masa jabatan kepresidenan
bermula.

Ketika Konstitusi pertama kali diterapkan, Kongres menetapkan presiden memulai masa
kerjanya sejak 4 Maret 1789, meskipun sebenarnya George Washington tidak mengucapkan
sumpahnya hingga 30 April 1789.

Pada amendemen ke-20, diatur seorang dilantik menjadi presiden sejak 20 Januari. Pada
1937, Franklin D Rossevelt menjadi presiden pertama yang mengucapkan sumpah jabatannya
pada tanggal 20 Januari. Meski tidak diatur dalam konstitusi, pengucapan sumpah janji
biasanya dipimpin oleh ketua Mahkamah Agung.

Dalam konstitusi AS, ada tiga syarat menjadi presiden. Umur minimal 35 tahun; harus warga
negara asli Amerika (natural-born citizen), orang Amerika yang lahir sebagai warga negara
bangsa lain tidak dapat menjadi presiden; dan harus berdomisili di AS minimal 14 tahun.

Syarat-syarat konstitusional tersebut jelas menunjukkan niat untuk memilih calon presiden
yang sudah matang, berpengalaman dan mengerti kondisi nyata Amerika. Syarat
kewarganegaraan tentulah untuk menghindari presiden yang loyalitas kenegaraannya ganda.

Para ahli tata negara berdebat lama apakah seseorang yang lahir di luar negeri, dengan orang
tua Amerika, termasuk dalam kategori a natural-born citizen? Meskipun mayoritas
berpendapat seharusnya orang demikian berhak mencalonkan diri sebagai presiden, belum
ada aturan resmi yang menguatkan dasar hukumnya.

Lain lagi halnya untuk menjadi calon presiden yang tercantum di kertas suara. Untuk calon
presiden dari partai besar, otomatis namanya akan terpampang, sedangkan calon dari partai
kecil harus memenuhi syarat petisi, yang besarannya berbeda di masing-masing negara
bagian.

Syarat bagi kandidat dari partai kecilmengumpulkan petisi dukunganjuga berlaku bagi
calon presiden independen. Beberapa negara bagian bahkan mengizinkan write-in votes, yaitu
pilihan yang diberikan kepada calon presiden yang sama sekali tidak tertulis dalam surat
suara.

Di Tanah Air, soal masa jabatan dan syarat calon presiden ini tentu juga menjadi isu yang
menarik. Terkait masa jabatan, sebagaimana dipaparkan di atas, awalnya kita tidak
membatasi maksimal seorang presiden dapat menduduki kembali jabatannya.

Baru setelah Reformasi 1998, melalui ketetapan MPR, yang kemudian dikuatkan dengan
Perubahan Pertama UUD 1945, masa jabatan presiden dibatasi untuk maksimal dua periode
masa jabatan. Dalam praktiknya, setiap masa jabatan berawal pada tanggal 20 Oktober.

Lebih jelasnya, setelah presiden baru mengucapkan sumpah jabatan maka pada tanggal yang
sama presiden yang lama berakhir masa jabatannya. Terkait dengan transisi pemerintahan ini
tentunya pengaturan peralihan kekuasaan penting untuk diatur lebih jauh, sebagaimana AS
mengaturnya dalam Presidential Transition Act.

Meskipun demikian, sebelum diatur sekalipun, konvensi dan praktik ketatanegaraan tentu
bisa menjadi rujukan. Kita memang belum pernah mengalami masa peralihan yang sangat
baik.

Rata-rata peralihan kekuasaan presiden kita berjalan melalui proses yang kisruh, utamanya
sebelum Reformasi 1998. Pasca 1998, Presiden Gus Dur menerima mandat kepresidenan
melalui proses yang demokratis di MPR, dan didahului dengan sikap legawa Presiden
Habibie yang tidak mencalonkan diri lagi karena laporan pertanggungjawabannya ditolak
MPR.

Selanjutnya, kita ingat Presiden Megawati dipilih melalui proses Sidang istimewa MPR, yang
lebih dulu memberhentikan Presiden Gus Dur pada 2001.

Kemudian proses pemilihan Presiden SBY adalah babak baru demokrasi ketika Indonesia
memilih presiden secara langsung pada 2004 dan 2009. Tetapi, kita menyaksikan, meskipun
secara institusional ketatanegaraan peralihan itu berjalan demokratis, tampak ada persoalan
peralihan personal yang masih tidak mulus.

Terbukti Presiden Megawati tidak hadir dalam proses pengambilan sumpah Presiden SBY di
tahun 2004 dan 2009 tersebut. Saya berdoa dan meyakini hal demikian tidak terjadi pada
2014 ini. Semoga kita akan melihat tidak hanya proses peralihan kekuasaan kepresidenan
yang lancar secara institusional ketatanegaraan, tetapi juga mulus secara personal.

Presiden SBY akan dicatat memulai sejarah baru sebagai presiden yang pertama kali dipilih
secara langsung, terpilih kembali secara langsung, insya Allah mengakhiri masa jabatannya
secara damai, dan memberikan peralihan kepada presiden baru 2014- 2019 nantinya juga
dengan damai.

Dengan demikian, kita mencatat lagi perbaikan dan pendewasaan kehidupan demokrasi di
Tanah Air, untuk Indonesia yang lebih baik. Keep on fighting for the better Indonesia.


DENNY INDRAYANA
Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Guru Besar Hukum Tata Negara UGM























KPK Tidak Berwenang Menuntut TPPU

ROMLI ATMASASMITA Guru Besar Emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad)

Artikel sdr Dr Yunus Husein, mantan ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan (PPATK), di harian ini pada 16 Januari 2014 dengan judul berbeda dari penulis
merupakan tulisan kedua setelah Ketua PPATK Muh Yusuf di harian Kompas beberapa bulan
yang lalu.

Tanggapan tertulis saya tidak dimuat di harian Kompas dengan alasan tempat terbatas dan
akan ditempatkan pada kompas digital, saya menolak dan memuatnya di KORAN SINDO.
Sangat wajar jika kedua penulis yang pejabat struktural tersebut menyampaikan
argumentasinya; keduanya tidak ada perbedaan signifikan tentang kewenangan penuntutan
pada KPK dalam kasus pencucian uang hasil korupsi.

Saya kutip pendapat Dr Yunus Husein pada bagian akhir tulisannya, Idealnya, wewenang
KPK menuntut perkara TPPU diatur secara eksplisit dalam UU seperti UU KPK atau UU
TPPU. Pernyataan ini membuktikan pengakuannya bahwa KPK tidak memiliki wewenang
menuntut TPPU per-UU KPK atau UU TPPU. Kalimat, idealnya di muka kalimat
berikutnya mencerminkan bahwa dalam penyusunanUURI Nomor 8 Tahun 2010 terselip
kelalaian tim penyusun dan dalam pembahasan RUU-nya dengan Komisi III DPR RI.

Kelalaian ini tentu berdampak sebagaimana saya telah ungkapkan kepada publik bahwa KPK
tidak memiliki wewenang menuntut TPPU atau tidak alas hukum yang kuat KPK untuk
menuntut terdakwa korupsi dengan UU TPPU. Solusi termudah dan tidak bermasalah serta
tidak rentan perdebatan dan memenuhi asas kepastian hukum adalah PPATK melalui
pemerintah mengajukan inisiatif perubahan UU TPPU Tahun 2010 dengan menambah
ketentuan tentang wewenang KPK menuntut TPPU selain wewenang penyidikan.

Ini pernah saya sampaikan pada Muh Yusuf, ketua PPATK atau UU KPK direvisi dan
dimasukkan wewenang KPK menuntut TPPU pada Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 UU KPK
Tahun 2002. Tampaknya pimpinan kedua lembaga independen tersebut keberatan dengan
alasan kekhawatiran terjadi ihwal di luar yang diharapkan berasal dari anggota DPR RI.
***

Jika merunut sejarah UU TPPU, tidak dapat dinafikan upaya penulis memulainya, selaku
ketua Delegasi RI (Delri) telah mendeklarasikan keikutsertaan Indonesia sebagai anggota
APG on Money Laundering (APG-ML) sekitar 1999 di Manila, dilanjutkan upaya menyusun
draf RUU TPPU yang berhasil diundangkan dengan UU RI Nomor 15 Tahun 2002. Saya
ingat di antara anggota Delri, sdr Yunus Husein, wakil dari Bank Indonesia (BI).

Dalam draf pertama UU TPPU penulis memasukkan ketentuan pembentukan Komisi
Pemberantasan TPPU dengan tujuan melengkapi bersinergi dengan KPK sepanjang terkait
penelusuran hasil tindak pidana korupsi dan perampasannya. Rumusan ketentuan tersebut
berhasil digagalkan DPR RI dengan alasan Polri dan Kejaksaan Agung masih dapat dipercaya
melakukan tugas penyidikan dan penuntutan TPPU.

Fakta yang terjadi sebaliknya, sejak 2002 hingga 2007/2008 perkara TPPU hanya mencapai
tidak lebih dari 30-an perkara sehingga sdr Yunus Husein ketika itu sebagai kepala PPATK
merasa sangat kecewa dengan kinerja kepolisian dan kejaksaan dalam menindaklanjuti hasil
analisis PPATK. Tentu dalam keadaan yang memprihatinkan penanganan TPPU, satu-
satunya lembaga independen yang diharapkan dapat menuntaskan TPPU adalah KPK.

Upaya ini terbentur dengan masalah yang menjadi pro dan kontra tentang wewenang KPK
dalam TPPU sehingga perkara TPPU merujuk pada UU TPPU Tahun 2010 yang
diundangkan sejak Oktober 2010, baru dapat efektif dipaksakan berlaku (penerapannya) oleh
KPK pada 2012 sampai saat ini. Ada jeda waktu dua tahun diskusi hangat di internal KPK
untuk mulai mendakwa TPPU hasil korupsi karena masih ada pro dan kontra di dalam KPK.

Tampaknya KPK harus mengalah dan mulai menerapkan UU TPPU atas aset-aset tipikor,
yang menurut sdr Bambang Wijayanto atas pertanyaan penulis, masalah kewenangan KPK
telah dibahas mendalam dengan pandangan para ahli hukum pidana. Saya telusuri tidak ada
ahli hukum pidana yang memberikan dukungan atas kewenangan KPK tersebut kecuali hanya
Dr Yenti Garnasih, juga sdr Dr Yunus Husein, yang bukan ahli hukum pidana.

Saya bahkan bertanya dan diskusi dengan Prof Andi Hamzah, beliau semula meyakini
kewenangan KPK dalam TPPU, dengan alasan dalam UU Kejaksaan, jaksa adalah satu dan
tidak terpisahkan. Namun, akhirnya beliau mengakui KPK tidak berwenang menuntut TPPU
karena penuntut KPK tidak berkoordinasi dan berkonsultasi kepada Jaksa Agung kecuali
kepada kelima pimpinan KPK dan kop surat dakwaan atau penuntutan penuntut KPK adalah
tercantum Komisi Pemberantasan Korupsi, bukan kejaksaan.

Selain itu, penuntut dan penyidik KPK juga diberhentikan sementara dari institusi asalnya
selama menjadi penyidik dan penuntut KPK (Pasal 39 ayat (3) UU KPK) sehingga tidak ada
hubungan struktural dan hierarkis antara jaksa KPK dan Jaksa Agung. Alasan lainnya
sebagaimana diakui Dr Yunus Husein adalah tidak terdapat ketentuan eksplisit yang
menyatakan KPK berwenang menuntut TPPU seperti ketentuan Pasal 71 ayat (2) b, Pasal 72
ayat (5) c UU TPPU 2010 yang hanya memberi mandat pada kejaksaan.

Jika kewenangan KPK menuntut TPPU masih juga dilaksanakan, tentu kita harus
mengingatkan pimpinan KPK atas lafal sumpah dalam Pasal 35 ayat (2) UU KPK antara lain
bersumpah, mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, serta peraturan perundang- undangan yang berlaku bagi
Negara Republik Indonesia, dan bersumpah, akan tetap teguh melaksanakan tugas dan
wewenang saya yang diamanatkan undang-undang kepada saya.

Lafal sumpah tersebut ditempatkan pada UU KPK dan hanya berlaku untuk pimpinan Komisi
Pemberantasan Korupsi (bukan pencucian uang)! Lafal sumpah ini juga berlaku untuk hakim
pada umumnya khusus hakim majelis pengadilan tipikor.

Merujuk pada lafal sumpah tersebut jelas bahwa UUD dan UU memberikan mandat kepada
KPK untuk memegang teguh dan melaksanakan UU KPK dan UU lain yang terkait yaitu UU
RI Nomor 3 Tahun 1971; UU RI Nomor 31 Tahun 1999 diubah dengan UU RI Nomor 20
Tahun 2001 dan UU TPPU 2010 sepanjang penyidikan. Apakah lafal sumpah yang selalu
dibacakan di bawah bimbingan payung Alqurannulkarim itu menganut paham progresif atau
positivisme?
***

Penulis 1000% setuju dengan keberadaan UU TPPU karena dapat melengkapi UU Tipikor.
Sepuluh argumen sdr Dr Yunus Husein untuk meyakinkan pembaca perihal wewenang KPK
dalam perkara TPPU mutatis mutandis terpatahkan dengan pernyataan yang bersangkutan
sendiri pada bagian akhir tulisannya yang telah saya kutip pada awal tulisan saya, apalagi jika
dihubungkan dengan lafal sumpah kelima pimpinan KPK sebagaimana saya sampaikan di
atas.

KPK bukan Pengadilan Tipikor dan Pengadilan Tipikor bukan KPK dalam arti KPK adalah
lembaga penyidikan dan penuntutan berdasarkan UU KPK sehingga tidak memiliki
kewenangan menafsirkan ketentuan UU secara khusus dan apalagi terkait kewenangan karena
tafsir hukum atas kewenangan itu hanya ada pada hakim majelis Pengadilan TUN, bukan
Pengadilan Tipikor.

Pengadilan Tipikor bukan KPK karena pengadilan tidak memiliki wewenang menyidik
apalagi menuntut sehingga hakim majelis Pengadilan Tipikor bukan jaksa penuntut umum
karena hakim Pengadilan Tipikor wajib menjalankan perintah UU dan penerapan atas suatu
peristiwa pidana berdasarkan fakta persidangan dan bukti-bukti yang diajukan pihak penuntut
dan terdakwa/ penasihat hukumnya dan keyakinannya.

Merujuk UU RI Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, sangat jelas
menegaskan bahwa kalimat peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan
(Pasal 2 ayat(4) jo Pasal 4ayat (2)) hanya ditujukan untuk membantu pencari keadilan, bukan
ditujukan terhadap lembaga penyidikan dan penuntutan.

Aliran hukum progresif justru untuk memperoleh keadilan bagi pencari keadilan, bukan
tujuan untuk melindungi institusi negara dalam mendakwa dan menuntut setiap warga negara,
tercermin dari katakata Almarhum, hukum untuk manusia, bukan sebaliknya.

Putusan atas perkara TPPU yang dituntut KPK telah menjadi yurisprudensi tidak bisa lagi
dipersoalkan dapat dikatakan nasi telah menjadi bubur, namun tetap menyisakan masalah
hukum mendasar, apakah negara boleh menuntut warga negaranya tanpa alas hukum yang
sah sehingga putusan MA RI dalam perkara aquo akan menjadi preseden buruk bagi masa
depan penegakan hukum di Indonesia bahwa seseorang di dalam wilayah hukum Indonesia
dapat dituntut dan dihukum berdasarkan penafsiran dan dugaan tanpa dasar ketentuan UU.
Tetapi, hanya atas dasar rasa keadilan masyarakat? Quo vadis Pengadilan Tipikor?