Anda di halaman 1dari 11

ABLASIO RETINA A.

Pendahuluan Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima rangsangan cahaya. Retina manusia merupakan suatu struktur yang sangat terorganisir, yang terdiri dari lapisan-lapisan badan sel dan prosesus sinaptik. Walaupun ukurannya kompak dan tampak sederhana apabila dibandingkan dengan struktur saraf misalnya korteks serebrum, retina memiliki daya pengolahan yang sangat canggih. Pengolahan visual retina diuraikan oleh otak, dan persepsi warna, kontras, kedalaman, dan bentuk berlangsung di korteks.1, Retina merupakan jaringan neurosensoris yang terbentuk dari perpanjangan sistem saraf pusat sejak embriogenesis. Retina berfungsi untuk mengubah energi cahaya menjadi impuls listrik yang kompleks yang kemudian ditransmisikan melalui saraf optik, chiasma optik, dan traktus visual menuju korteks occipital sehingga menghasilkan persepsi visual. !agian sentral retina atau daerah makula sebagian besar terdiri dari fotoreseptor kerucut yang digunakan untuk penglihatan sentral dan warna "penglihatan fotopik#, sedangkan bagian perifer retina sebagian besar terdiri dari fotoreseptor batang yang digunakan untuk penglihatan perifer dan malam "skotopik#. ,$ %blasio retina "retinal detachment# adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan sel batang retina dari sel epitel pigmen retina. Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih melekat erat dengan membran !runch. &esungguhnya antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlengketan struktural dengan koroid atau pigmen epitel, sehingga merupakan titik lemah yang potensial untuk lepas secara embriologis. 1 'epasnya retina atau sel kerucut dan batang dari koroid atau sel pigmen epitel akan mengakibatkan gangguan nutrisi retina dari pembuluh darah koroid yang bila berlangsung lama akan mengakibatkan gangguan fungsi penglihatan yang menetap.1 B. Epidemiologi (stilah )ablasio retina* "retinal detachment# menandakan pemisahan retina sensorik dari epitel pigmen retina. +erdapat tiga jenis utama ablasio retina, yaitu, ablasio retina regmatogenosa, epitel retina traksi "tarikan#, dan ablasio retina eksudatif. (nsiden ablasio retina di %merika &erikat adalah 1,1-.... populasi dengan prevalensi .,$/. &umber lain menyatakan bahwa insidens ablasio retina di %merika &erikat adalah 1 ,-,1...... kasus per tahun atau sekitar 0.... kasus per tahun. &ecara internasional, faktor penyebab ablasio retina terbanyak adalah miopia 1.--./, operasi katarak "afakia, pseudofakia# $.-1./, dan trauma okuler 1.- ./. %blasio retina lebih banyak terjadi pada usia 1.-2. tahun, tetapi bisa terjadi pada anak-anak dan remaja lebih banyak karena trauma.1

%blasio retina regmatogenosa merupakan ablasio retina yang paling sering terjadi. &ekitar 1 dari 1..... populasi normal akan mengalami ablasio retina regmatogenosa. 3emungkinan ini akan meningkat pada pasien yang, 4 5emiliki miopia tinggi6 4 +elah menjalani operasi katarak, terutama jika operasi ini mengalami komplikasi kehilangan vitreus6 4 Pernah mengalami ablasio retina pada mata kontralateral6 4 !aru mengalami trauma mata berat.C. Anatomi Retina merupakan membran yang tipis, halus dan tidak berwarna, tembus pandang. 7ang terlihat merah pada fundus adalah warna koroid. Retina terdiri dari macam-macam jaringan, jaringan saraf dan jaringan pengokoh yang terdiri dari serat-serat 5ueller, membrane limitans interna dan eksterna, serta sel-sel glia.2 Pada kehidupan embrio, dari optic vesicle terbentuk optic cup, di mana lapisan luar membentuk lapisan epitel pigmen dan lapisan dalam membentuk lapisan dalam lainnya. 8i antara kedua lapisan ini terdapat celah potensial. !ila terjadi robekan di retina, maka cairan badan kaca akan melalui robekan ini, masuk ke dalam celah potensial dan melepaskan lapisan batang dan kerucut dari lapisan epitel pigmen, maka terjadilah ablasio retina. 3eadaan ini tidak boleh berlangsung lama, oleh karena lapisan batang dan kerucut mendapat makanan dari kapiler koroid, sedang bagian-bagian lain dari retina mendapat nutrisi dari pembuluh darah retina sentral, yang cabang-cabangnya terdapat di dalam lapisan urat saraf.2 Retina menjalar ke depan dan makin ke depan, lapisannya berubah makin tipis dan berakhir di ora serrata, di mana hanya didapatkan satu lapisan nuklear. 5akin ke perifer makin banyak batang daripada kerucut, batang-batang itu telah mengadakan modifikasi menjadi tipistipis. 9pitel pigmen dari retina kemudian meneruskan diri menjadi epitel pigmen yang menutupi badan siliar dan iris. 2 8i mana aksis mata memotong retina, terletak makula lutea. 8i tengah-tengahnya terdapat lekukan dari fovea sentralis. Pada funduskopi, tampak makula lutea lebih merah dari sekitarnya dan pada tempat fovea sentralis seolah-olah ada cahaya, yang disebut refleks fovea, yang disebabkan lekukan pada fovea sentralis. !esar makula lutea 1- mm. 8aerah ini daya penglihatannya paling tajam, terutama di fovea sentralis. &truktur makula lutea, 2 1. +idak ada serat saraf6 . &el-sel ganglion sangat banyak dipinggir-pinggirnya, tetapi di makula sendiri tidak ada6 $. 'ebih banyak kerucut daripada batang dan telah bermodifikasi menjadi tipis-tipis. 8i fovea sentralis hanya terdapat kerucut.

:asal dari makula lutea, kira-kira pada jarak diameter papil terdapat papilla nervi optisi, yaitu tempat di mana : (( menembus sklera. Papil ini hanya terdiri dari serabut saraf, tidak mengandung sel batang dan kerucut sama sekali. !entuk papil lonjong, berbatas tegas, pinggirnya lebih tinggi dari retina sekitarnya. !agian tengahnya ada lekukan yang tampak agak pucat, besarnya 1;$ diameter papil, yang disebut e<kavasi fisiologis. 8ari tempat inilah keluar arteri dan vena sentral yang kemudian bercabang-cabang ke temporal dan ke nasal, juga ke atas dan ke bawah.

Pada pemeriksaan funduskopi, dinding pembuluh darah tidak dapat dilihat. 7ang tampak pada pemeriksaan adalah kolom darah. %rteri diameternya lebih kecil, dengan perbandingan a,v = ,$. Warnanya lebih merah, bentuknya lebih lurus-lurus, di tengahnya terdapat refleks cahaya. >ena lebih besar, warna lebih tua, bentuk lebih berkelok-kelok.2 %. retina sentralis mengurus makanan lapisan-lapisan retina sampai dengan membrana limitans eksterna. 8i daerah makula lutea, yang terutama terdiri dari sel batang dan sel kerucut tidak terdapat cabang dari %. retina sentralis, oleh karena daerah ini mendapat nutrisi dari kapiler koroid.2 Retina berbatas dengan koroid dengan sel pigmen epitel retina,dan terdiri atas lapisan1 , 1# 9pitel pigmen retina"RP9# , terbentuk atas satu lapisan sel yang melekat longgar pada retina kecuali di perifer"ora serata#. # ?otoreseptor , merupakan lapis terluar retina terdiri atas sel batang yang mempunyai bentuk ramping dan sel kerucut. $# 5embran limitan eksterna yang merupakan membran ilusi. 1# 'apis nukleus luar , merupakan susunan lapis nucleus sel kerucut dan batang.3etiga lapis diatas avaskuler dan mendapat metabolisme dari kapiler koroid. -# Pleksiform luar , merupakan lapis aseluler dan merupakan tempat sinapsis sel fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel hori@ontal. A# :ukleus dalam , merupakan tubuh sel bipolar,sel hori@ontal dan sel 5uller.'apis ini mendapat metabolisme dari arteri retina sentral. 2# Pleksiform dalam , merupakan lapis aseluler dan merupakan tempat sinaps sel bipolar,sel amakrin dengan sel ganglion. 0# &el ganglion , merupakan lapis badan sel daripada neuron kedua. B# &erabut saraf , merupakan lapis akson sel ganglion menuju ke saraf optik. 8i dalam lapisan-lapisan ini terletak sebagian besar pembuluh darah retina. 1.# 5embran limitan interna , merupakan membrane hialin antara retina dan badan kaca. D. Patofisiologi

Ruangan potensial antara neuroretina dan epitel pigmennya sesuai dengan rongga vesikel optik embriogenik. 3edua jaringan ini melekat longgar, pada mata yang matur dapat berpisah ,1. Cika terjadi robekan pada retina, sehingga vitreus yang mengalami likuifikasi dapat memasuki ruangan subretina dan menyebabkan ablasio progresif "ablasio regmatogenosa#. . Cika retina tertarik oleh serabut jaringan kontraktil pada permukaan retina, misalnya seperti pada retinopati proliferatif pada diabetes mellitus "ablasio retina traksional#. $. Walaupun jarang terjadi, bila cairan berakumulasi dalam ruangan subretina akibat proses eksudasi, yang dapat terjadi selama toksemia pada kehamilan "ablasio retina eksudatif# %blasio retina idiopatik "regmatogen# terjadinya selalu karena adanya robekan retina atau lubang retina. &ering terjadi pada miopia, pada usia lanjut, dan pada mata afakia. Perubahan yang merupakan faktor prediposisi adalah degenerasi retina perifer "degenerasi kisi-kisi; lattice degeration#, pencairan sebagian badan kaca yang tetap melekat pada daerah retina tertentu, cedera, dan sebagainya.1 Perubahan degeneratif retina pada miopia dan usia lanjut juga terjadi di koroid. &klerosis dan sumbatan pembuluh darah koroid senil akan menyebabkan berkurangnya perdarahan ke retina. Dal semacam ini juga bisa terjadi pada miopia karena teregangnya dan menipisnya pembuluh darah retina. Perubahan ini terutama terjadi di daerah ekuator, yaitu tempat terjadinya B./ robekan retina. +erjadinya degenerasi retina pada mata miopia 1. sampai 1- tahun lebih awal daripada mata emetropia. %blasi retina delapan kali lebih sering terjadi pada mata miopia daripada mata emetropia atau hiperopia. %blasi retina terjadi sampai 1/ dari semua mata afakia, yang berarti 1.. kali lebih sering daripada mata fakia.1 +erjadinya sineresis dan pencairan badan kaca pada mata miopia satu dasawarsa lebih awal daripada mata normal. 8epolimerisasi menyebabkan penurunan daya ikat air dari asam hialuron sehingga kerangka badan kaca mengalami disintegrasi. %kan terjadi pencairan sebagian dan ablasi badan kaca posterior. Eleh karenanya badan kaca kehilangan konsistensi dan struktur yang mirip agar-agar, sehingga badan kaca tidak menekan retina pada epitel pigmen lagi. 8engan gerakan mata yang cepat, badan kaca menarik perlekatan vireoretina. Perlekatan badan kaca yang kuat biasanya terdapat di daerah sekeliling radang atau daerah sklerosis degeneratif. &esudah ekstraksi katarak intrakapsular, gerakan badan kaca pada gerakan mata bahkan akan lebih kuat lagi. &ekali terjadi robekan retina, cairan akan menyusup di bawah retina sehingga neuroepitel akan terlepas dari epitel pigmen dan koroid.1 E. Klasifi asi 3lasifikasi ablasio retina berdasarkan etiologinya, terdiri atas ,1 1. A!lasio "etina "egmatogenosa Pada ablasio retina regmatogenosa dimana ablasio terjadi akibat adanya robekan pada retina sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen epitel dengan retina.

+erjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair "fluid vitreous# yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga subretina sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen koroid. %blasio retina akan memberikan gejala terdapatnya gangguan penglihatan yang kadang-kadang terlihat sebagai tabir yang menutup. +erdapatnya riwayat adanya pijaran api "fotopsia# pada lapangan penglihatan. %blasio retina yang berlokalisasi di daerah supratemporal sangat berbahaya karena dapat mengangkat makula. Penglihatan akan turun secara akut pada ablasio retina bila dilepasnya retina mengenai makula lutea. Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang terangkat berwarna pucat dengan pembuluh darah di atasnya dan terlihat adanya robekan retina berwarna merah. !ila bola mata bergerak akan terlihat retina yang lepas "ablasio# bergoyang. 3adangkadang terdapat pigmen di dalam badan kaca. Pada pupil terlihat adanya defek aferen pupil akibat penglihatan menurun. +ekanan bola mata rendah dan dapat meninggi bila telah terjadi neovaskular glaukoma pada ablasio yang telah lama. #. A!lasio "etina ta"i an atau t"a si Pada ablasio ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan jaringan parut pada badan kaca yang akan mengakibatkan ablasio retina dan penglihatan turun tanpa rasa sakit. Pada badan kaca terdapat jaringan fibrosis yang dapat disebabkan diabetes mellitus proliferatif, trauma dan perdarahan badan kaca akibat bedah atau infeksi. $. A!lasio "etina e sudatif %blasio retina eksudatif adalah ablasio yang terjadi akibat tertimbunnya eksudat di bawah retina dan mengangkat retina. Penimbunan cairan subretina sebagai akibat keluarnya cairan dari pembuluh darah retina dan koroid "ekstravasasi#. Dal ini disebabkan penyakit koroid. Pada ablasio tipe ini penglihatan dapat berkurang dari ringan sampai berat. %blasio ini dapat hilang atau menetap bertahun-tahun setelah penyebabnya berkurang atau hilang.

Diagnosis1,1,-,0,B,1. 8iagnosis ablasio retina ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan oftalmologi dan pemeriksaan penunjang, sebagai berikut , &. Anamnesis Fejala yang sering dikeluhkan pasien, adalah, %.

%loate"s "terlihat benda melayang-layang#, yang terjadi karena adanya kekeruhan di vitreus oleh adanya darah, pigmen retina yang lepas atau degenerasi vitreus itu sendiri. %otopsia' light flashes "kilatan cahaya# tanpa adanya cahaya di sekitarnya, yang umumnya terjadi sewaktu mata digerakkan dalam keremangan cahaya atau dalam keadaan gelap. Penu"unan ta(am penglihatan. Pasien mengeluh penglihatannya sebagian seperti tertutup tirai yang semakin lama semakin luas. Pada keadaan yang telah lanjut dapat terjadi penurunan tajam penglihatan yang lebih berat. #. Peme"i saan oftalmologi Peme"i saan )isus, dapat terjadi penurunan tajam penglihatan akibat terlibatnya makula lutea ataupun terjadi kekeruhan media penglihatan atau badan kaca yang menghambat sinar masuk. +ajam penglihatan akan sangat menurun bila makula lutea ikut terangkat. Peme"i saan lapangan pandang, akan terjadi lapangan pandang seperti tertutup tabir dan dapat terlihat skotoma relatif sesuai dengan kedudukan ablasio retina, pada lapangan pandang akan terlihat pijaran api seperti halilintar kecil dan fotopsia. Peme"i saan fundus opi, yaitu salah satu cara terbaik untuk mendiagnosis ablasio retina dengan menggunakan binokuler indirek oftalmoskopi. Pada pemeriksaan ini ablasio retina dikenali dengan hilangnya refleks fundus dan pengangkatan retina. Retina tampak keabuabuan yang menutupi gambaran vaskuler koroid. Cika terdapat akumulasi cairan bermakna pada ruang subretina, didapatkan pergerakkan undulasi retina ketika mata bergerak. &uatu robekan pada retina terlihat agak merah muda karena terdapat pembuluh koroid dibawahnya. 5ungkin didapatkan debris terkait pada vitreus yang terdiri dari darah dan pigmen atau ruang retina dapat ditemukan mengambang bebas. $. Peme"i saan Penun(ang Peme"i saan la!o"ato"ium dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit penyerta antara lain glaukoma, diabetes mellitus, maupun kelainan darah. Peme"i saan ult"asonog"afi, yaitu ocular !-&can ultrasonografi juga digunakan untuk mendiagnosis ablasio retina dan keadaan patologis lain yang menyertainya seperti proliverative vitreoretinopati, benda asing intraokuler. &elain itu ultrasonografi juga digunakan untuk mengetahui kelainan yang menyebabkan ablasio retina eksudatif misalnya tumor dan posterior skleritis. &cleral indentation ?undus drawing Foldmann triple-mirror (ndirect slit lamp biomicroscopy

*.

Penatala sanaan Prinsip Penatalaksanaan pada ablasio retina adalah untuk melekatkan kembali lapisan neurosensorik ke lapisan epitel pigmen retina. Penanganannya dilakukan dengan pembedahan, pembedahan ablasio retina dapat dilakukan dengan cara,A,1.,11 &. Retinope si pneumati Retinopati pneumatik merupakan cara yang paling banyak pada ablasio retina regmatogenosa terutama jika terdapat robekan tunggal pada superior retina. +eknik pelaksanaan prosedur ini adalah dengan menyuntikkan gelembung gas ke dalam vitreus. Felembung gas ini akan menutupi robekan retina. Cika robekan dapat ditutupi oleh gelembung gas, cairan subretinal akan menghilang 1- hari. Robekan retina dapat juga dilekatkan dengan kryopeksi sebelum balon disuntikkan. Pasien harus mempertahankan posisi head precise selama 2-1. hari untuk meyakinkan gelembung terus menutupi robekan retina. #. S+le"al !u+ le 5etode ini paling banyak digunakan pada ablasio retina regmatogenosa terutama tanpa disertai komplikasi lainnya. Gkuran dan bentuk sabuk yang digunakan tergantung lokasi dan jumlah robekan retina. &abuk ini biasanya terbuat dari spons silikon atau silikon padat. Pertama-tama dilakukan kryopeksi atau laser untuk memperkuat perlengketan antara retina sekitar dan epitel pigmen retina. &abuk dijahit mengelilingi sklera sehingga terjadi tekanan pada robekan retina sehingga terjadi penutupan pada robekan tersebut. Penutupan retina ini akan menyebabkan cairan subretinal menghilang secara spontan dalam waktu 1- hari. $. ,it"e tomi >itrektomi merupakan cara yang paling banyak digunakan pada ablasio akibat diabetes, ablasio regmatogenosa yang disertai traksi vitreus atau hemoragik vitreus. Hara pelaksanaannya yaitu dengan membuat insisi kecil pada bola mata kemudian memasukkan instrumen hingga ke cavum melalui pars plana. &etelah itu pemotongan vitreus dengan pemotong vitreus. +eknik dan instrumen yang digunakan tergantung tipe dan penyebab ablasio. -. Diagnosis Banding Retinos+hisis degene"atif, yaitu degenerasi peripheral tipikal sering ditemukan pada orang dewasa, berlanjut dan meninggi -$ mm posterior ke ora serrata. 8aerah yang degenerasi tampak adanya gelembung dan paling mudah diamati adanya depresi skleral. 3avitas kistoid pada lapisan pleksiform luar mengandung hyalorinidasemukopolisakarida sensitif. 3omplikasi yang diketahui dari degenerasi kistoid yang tipikal adalah koalesensi dan ekstensi kavitas dan peningkatan kearah retinoskisis degenerasi tipikal. Fejala fotopsia dan floaters tidak ada karena tidak ada traksi vitreoretinal. 8efek lapangan pandang jarang. 1.,11

Cho"oidal deta+hment, gejala fotopsia dan floaters tidak ada karena tidak ada traksi viteroretinal. 8efek lapangan pandang ada pada mata dengan detachment choroidal yang luas.1.

I.

Kompli asi Penurunan ketajaman penglihatan dan kebutaan merupakan komplikasi yang paling umum terjadi pada ablasio retina. Penurunan penglihatan terhadap gerakan tangan atau persepsi cahaya adalah komplikasi yang sering dari ablasio retina yang melibatkan makula.1 Cika retina tidak berhasil dilekatkan kembali dan pembedahan mengalami komplikasi, maka dapat timbul perubahan fibrotik pada vitreous " vitreoretinopati proliferatif, P>R#. P>R dapat menyebabkan traksi pada retina dan ablasio retina lebih lanjut. ,.. P"ognosis Prognosis tergantung luasnya robekan retina, jarak waktu terjadinya ablasio, diagnosisnya dan tindakan bedah yang dilakukan.1 +erapi yang cepat prognosis lebih baik. Prognosis lebih buruk bila mengenai makula atau jika telah berlangsung lama. Cika makula melekat dan pembedahan berhasil melekatkan kembali retina perifer, maka hasil penglihatan sangat baik. Cika makula lepas lebih dari 1 jam sebelum pembedahan, maka tajam penglihatan sebelumnya mungkin tidak dapat pulih sepenuhnya. ,-

DA%TAR P/STAKA 1. . $. 1. (lyas &, dkk. %blasio retina. (n, &ari ilmu penyakit mata. Hetakan ke-1. Faya !aru Penerbit ?akultas 3edokteran Gniversitas (ndonesia6 ..1, B,1.,10$-A. >aughan 8F, %sbury +, 9va PR. %blasi retina. (n, Eftalmologi umum. 11th ed. Widya 5edika. Cakarta6 ..A,1B2, .2-B. Elsen +W. Retina. (n, Primary care ophtahalmology. Palay 8%, 3rachmer CD. Pr, editors. nd ed. 9lsevier 5osby. Philadelphia6 ..-. 10$-A. Fregory 'uke 'arkin.Retinal 8etachment.95edicine IEnlineJ %vailable from ,http,;;www.emedicine.com;emerg;byname;Retinal-8etachment.htm . %ccessed, 1-;1; ..0 Cames !.,dkk. %blasi retina. (n, Eftalmologi. Bth ed. 9rlangga,Hiracas Cakarta6 ..$, 1121 1. ?riedman :C, 3aiser P3, +rattler W!. Posterior segment. (n, Review of ophthalmology. 9lsevier &aunders. Philadelphia6 ..-, B--$1 .

-. A.

2. 0.

Wijana :. Retina. (n, (lmu penyakit mata. 1-1-A. 'angston 8P. 5anual of ocular diagnosis and therapy. -th ed. 'ippicott Williams K Wilkins. Philadelphia6 .. , 102-B1. B. 5ansjoer, %rif. ..1. 3apita selekta kedokteran 9disi ketiga jilid pertama. ?akultas kedokteran Gniversitas (ndonesia , 5edia %esculapius 1.. 3anski CC. Retinal etachment. (n, Hlinical ophthalmology. -th ed. !utterworth Deinemann. Philadelphia6 ..$, $1B-0B. 11. +he 9ye 58. %ssociation, Retina and >itreus. (n, !asic and clinical science cource ..$..1 on H8-RE5, section 1 . %merica %cademy of Ephthalmology, ..$- ..1. 1 . Dollwich ?. %blasi Retina. (n, Eftalmologi. !inarupa %ksara, Cakarta6 1BB$, A$- AB. 1$. 'ihteh Wu. +ractional Retinal 8etachment.9 5edicine IEnlineJ%vailable from , http,;;www.emedicine.com;oph;byname;Retinal-8etachmentL+ractional.htm .%ccessed, 1-;1; ..0. 11. 'ihteh wu. 9<udative Retinal 8etachment.9 5edicine IEnlineJ%vailable from , http,;;www.emedicine.com;oph;byname;Retinal-8etachmentL9<udative.htm .%ccessed, 1-;1; ..0.

Definisi Ablasi retina adalah suatu keadaan terpisahnya lapisan sensoris retina dari lapisan epitel pigmen retina.

Etiologi %blasi dapat terjadi secara spontan atau sekunder setelah t"auma. %kibat adanya robekan pada "etina, cairan masuk ke belakang dan mendorong "etina"regmatogen#, atau terjadi penimbunan eksudat di bawah "etina sehingga"etina terangkat "nonregmatogen#, atau tarikan jaringan parut pada badan kaca "traksiM. Penimbunan eksudat terjadi akibat penyakit koroid, misalnya yang terjadi pada s le"itis, koroiditis, tumo" retrobulbar, uveitis, dan toksemia gravidarum. Caringan parut pada badan kaca dapat disebabkan dia!etes melitus proliferatif, t"auma, infeksi, atau pascabedah.

%a to" P"edisposisi 5ata dengan miopia tinggi, pasca retinitis, ekstraksi ata"a , dan "etina yang memperlihatkan degenerasi di perifer.

0anifestasi Klinis +abir yang menutupi penglihatan dan seperti melihat pijaran api. Penglihatan menurun secara bertahap sesuai daerah yang terkena. Penglihatan sentral akan terganggu setelah makula terkena.

Peme"i saan Penun(ang

Pada funduskopi terlihat "etina yang terangkat berwarna pucat dan adanya robekan "etina yang berwarna merah. Paling sering ditemukan di daerah temporal superior. !ila bola mata bergerak akan terlihat robekan "etinabergoyang, terdapat defek aferen pupil, tekanan bola mata rendah. !ila tekanan bola mata meningkat, berarti telah terjadi glau oma neovaskular pada ablasi yang lama.

Penatala sanaan 8irujuk segera ke dokter spesialis mata. +erapi ditujukan untuk menghindari robekan lebih lanjut dengan memperhatikan penyebabnya, misalnya dengan fotokoagulasi laser, krioterapi, retinopexy pneumatic, dan sebagainya. !ila terjadi akibat tarikan jaringan parut, dilakukan vitrektomi, scleral buckling, atau injeksi gas intraokular.

P"ognosis +anpa pengobatan, "etina akan terlepas total dalam A bulan. &ekitar 0./ kasus tanpa komplikasi dapat disembuhkan dengan satu kali operasi, 1-/ memerlukan operasi kedua, dan sisanya tidak berhasil disembuhkan. Prognosis lebih buruk bila mengenai makula atau jika telah berlangsung lama. &ekitar - -/ dari kasus a!lasi "etina spontan terjadi bilateral.