Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM MATA KULIAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN PRODUK DERIVAT

PEMBUATAN SABUN LEMAK KAKAO

Kelompok 7A

Anita Ray Suryaningtyas (111710101001)

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER 2013

BAB 1. METODOLOGI

1.1 Alat dan Bahan 1.1.1 Alat Panci stainless Kompor gas Cetakan sabun Termometer Sendok Pengaduk (spatula) Beaker glass Neraca analitik Gelas ukur Ruang asam Pipet Plastik wrapping Kain tebal

1.1.2

Bahan Lemak kakao Minyak kelapa sawit NaOH Air Pewangi

1.2 Skema Kerja 1.2.1 Proses pembuatan sabun Minyak kelapa sawit, lemak kakao Pemanasan 45-500C

NaOH + air

Pelarutan

Pengadukan Saponifikasi Komponen menempel pada sendok pengaduk dan langsung mengering atau tidak mentes Penambahan pewangi Pencetakan Penutupan dengan kain tebal Pendiaman 24-48 jam (Netralizing) Pemotongan Pendiaman 4-6 minggu (curing process) Pengemasan

Sabun lemak kakao Gambar 1. Proses pembuatan sabun lemak kakao

1.2.2

Pengamatan daya busa Sabun Pengambilan 1 g

Penambahan 100 ml air panas Pengadukan Pengambilan 10 ml Pengocokan 15 detik Pengukuran tinggi daya busa Gambar 2. Daya busa pada sabun lemak kakao

BAB 2. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN 2.1 Hasil Pengamatan Berdasarkan hasil praktikum pembuatan sabun lemak kakao didapatkan hasil setelah dilakukan pengamatan yang meliputi stabilitas emulsi, tekstur, kekerasan dan daya busa. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil pengamatan sabun lemak kakao Sifat Sabun Lemak Kakao Formulasi 1 2 3 4 Keterangan : Stabilitas Emulsi Tekstur Kekerasan Stabilitas Emulsi ++++ +++ ++ + Tekstur +++ ++++ ++ + Kekerasan + +++ ++ ++++ Daya Busa 0 ml 0 ml 6 ml 47 ml

: semakin (+) semakin stabil : semakin (+) semakin lembut : semakin (+) semakin keras

Formulasi bahan pembuatan sabun lemak kakao dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Formulasi bahan sabun lemak kakao Formulasi 1 2 3 4 Minyak sawit (g) 50 37,5 50 37,5 Lemak kakao (g) 37,5 50 37,5 50 NaOH (g) 14 14 19 19 Air (ml) 33,5 33,5 28,5 28,5 Pewangi (ml) 2,5 2,5 2,5 2,5

2.2 Analisa Data Lemak dan minyak yang umum digunakan dalam pembuatan sabun adalah trigliserida dengan tiga buah asam lemak yang tidak beraturan diesterifikasi dengan gliserol. Asam lemak tidak jenuh seperti asam oleat, asam linoleat, dan asam linoleat terdapat dalam minyak goreng merupakan trigliserida yang dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif pembuatan sabun cuci piring cair

menggantikan asam lemak bebas jenuh yang merupakan produk samping proses pengolahan minyak goreng (Ketaren, 1986). Masing masing lemak mengandung sejumlah molekul asam lemak dengan rantai karbon panjang antara C12 (asam laurat) hingga C18 (asam Stearat) yang mengandung lemak jenuh dan begitu juga dengan lemak tak jenuh. Campuran trigliserida diolah menjadi sabun melalui proses saponifikasi dengan larutan kalium hidroksida membebaskan gliserol (Ketaren, 1986). Sabun batangan yang ideal harus memiliki kekerasan yang cukup untuk memaksimalkan pemakaian (user cycles) dan ketahanan yang cukup terhadap penyerapan air (water reabsorption) ketika tidak sedang digunakan, sementara pada saat yang sama juga mampu menghasilkan busa dalam jumlah yang cukup untuk mendukung daya bersihnya (Hill, 2005). Sifat sifat sabun yang dihasikan ditentukan oleh jumlah dan komposisi dari komponen asam - asam lemak yang digunakan yang sesuai dalam pembuatan sabun dibatasi panjang rantai dan tingkat kejenuhan. Pada umumnya, panjang rantai yang kurang dari 12 atom karbon dihindari penggunaannya karena dapat membuat iritasi pada kulit, sebaliknya panjang rantai yang lebih dari 18 atom karbon membentuk sabun yang sangat sukar larut dan sulit menimbulkan busa. Secara umum lemak kakao terdiri dari beberapa asam lemak yaitu asam palmitat 24,3 %, asam stearat 35,4 %, asam oleat 38,2 %, dan asam linoleat 2,1 % (Minifie, 1999). Komposisi asam lemak minyak kelapa sawit RBDPO (Refined Bleached Deodorized Palm Oil) dapat dilihat pada Tabel 3.

a. Stabilitas emulsi Stabilitas emulsi sabun yang paling tinggi diperoleh dari formulasi 1, formulasi 2 stabil, formulasi 3 kurang stabil, dan formulasi 4 tidak stabil. Kestabilan emulsi dipengaruhi oleh komposisi yang digunakan, pada praktikum ini formulasi 1 dan 2 dianggap sudah tepat karena menghasilkan stabilitas emulsi yang paling baik. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan sabun sudah homogen saat dilakukan pengadukan, selain itu kecepatan pengadukan yang dilakukan konstan sehingga reaksi saponifikasi yang terjadi dapat dikatakan sempurna. Sedangkan pada formulasi 3 dan 4 jumlah NaOH yang digunakan sebanyak 19 g dan jumlah air sebanyak 28,5 ml sehingga larutan alkali menjadi lebih pekat dan reaksi saponifikasi yang terjadi menjadi lebih cepat dan menghasilkan stabilitas emulsi yang rendah, sedangkan pada formulasi 1 dan 2 memiliki larutan alkali yang lebih encer sehingga menghasilkan stabilitas emulsi yang tinggi namun reaksi saponifikasi yang terjadi berjalan lebih lambat. Jumlah asam lemak mempengaruhi tingkat kestabilan emulsi serta berperan dalam menjaga konsistensi sabun. Kestabilan emulsi juga dipengaruhi oleh kadar air dan adanya bahan dasar yang bersifat higroskopis seperti gilserin dan EDTA. Semakin tinggi kadar air sabun maka semakin tidak stabil sistem emulsinya (Suryani et al., (2002). Konsentrasi basa yang digunakan dihitung berdasarkan stokiometri reaksinya, dimana penambahan basa harus sedikit berlebih dari minyak agar

tersabunnya sempurna. Jika basa yang digunakan terlalu pekat akan menyebabkan terpecahnya emulsi pada larutan, sehingga fasenya tidak homogen, sedangkan jika basa yang digunakan terlalu encer, maka reaksi akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Dalam industri sabun, NaOH digunakan sebagai alkali dalam pembuatan sabun keras, sedangkan KOH digunakan sebagai alkali dalam pembuatan sabun lunak (Gusviputri, dkk., 2013).

b. Tekstur Tekstur sabun paling lembut diperoleh dari formulasi 2, formulasi 1 lembut, formulasi 3 kurang lembut, dan formulasi 4 tidak lembut karena proses saponifikasi yang kurang sempurna dilihat dari komposisi air dan NaOH. Hal ini berkaitan dengan stabilitas emulsi yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, penggunaan larutan alkali yang pekat menyebabkan pecahnya emulsi sehingga proses saponifikasi kurang sempurna, selain itu disebabkan oleh pengadukan yang kurang stabil menyebabkan larutan alkali, minyak sawit dan lemak kakao tidak homogen sehingga menghasilkan tekstur sabun yang kurang lembut dan terlihat berongga. Apabila pengadukan yang dilakukan terlalu lambat atau tidak konsisten akan menghasilkan sisa NaOH di bentuk padatannya, rongga-rongga, ataupun sisa-sisa seperti tepung sehingga tekstur yang dihasilkan kurang lembut atau kasar (Cavitch, 1997).

c. Kekerasan Sabun yang paling keras diperoleh dari formulasi 4, formulasi 2 keras, formulasi 3 kurang keras, dan dormulasi 1 tidak keras hal ini dikarenakan pada formulasi 2 dan 4 lemak kakao yang digunakan sebanyak 50 g lebih banyak daripada jumlah minyak sawit yaitu sebanyak 37,5 ml. Pada lemak kakao memiliki asam stearat yang lebih besar daripada minyak sawit yaitu sebesar 35,4%. Setiap asam lemak memberikan sifat yang berbeda pada sabun yang dihasilkan. Asam lemak dengan rantai karbon 16-18 baik untuk kekerasan dan

daya detergensi (Cavitch, 2001). Asam stearat sering digunakan sebagai bahan dasar pembuatan krim dan sabun. Asam stearat berbentuk padatan berwarna putih kekuningan dan berperan dalam memberikan konsistensi dan kekerasan pada sabun (Mitsui, 1997). Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap, tetapi memiliki titik cair yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam lemak yang memiliki ikatan rangkap. Asam lemak jenuh biasanya berbentuk padat pada suhu ruang, sehingga akan menghasilkan sabun yang lebih keras (Gusviputri, dkk., 2013).

d. Daya busa Daya busa formulasi 1 dan 2 sebanyak 0 ml, formulasi 3 sebanyak 6 ml, dan formulasi 4 sebanyak 47 ml. Asam lemak tidak jenuh pada minyak sawit lebih besar dibandingkan lemak kakao yaitu asam oleat sebesar 38,55 % dan asam linoleat sebesar 11,66 %, pada formulasi 1 dan 3 menggunakan minyak kelapa sawit sebanyak 50 ml sedangkan sabun formulasi 2 dan 4 menggunakan minyak kelapa sawit sebanyak 37,5 ml. Sabun formulasi 1 dan 2 menggunakan NaOH sebanyak 14 g dan sabun formulasi 3 dan 4 menggunakan NaOH sebanyak 19 g. Daya busa juga dipengaruhi oleh jumlah alkali yang digunakan, semakin kecil jumlah NaOH yang digunakan maka semakin rendah daya busa yang dihasilkan. Adanya senyawa tidak jenuh (asam lemak tidak jenuh) dalam campuran minyak, tidak akan menstabilkan busa (Gromophone 1983).

BAB 3. PENUTUP 3.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Formulasi 1 dan formulasi 2 memiliki stabilitas emulsi sabun yang paling baik dibandingkan dengan formulasi 3 dan 4 karena formulasi 1 dan 2 menggunakan larutan alkali yang encer menyebabkan reaksi saponifikasi menjadi lambat sehingga reaksi saponifikasinya sempurna. 2. Formulasi 1 dan 2 memiliki tekstur sabun yang lebih lembut dibandingkan formulasi 3 dan 4, hal ini dipengaruhi oleh kecepatan pengadukan dan stabilitas emulsi dari kepekatan penggunaan larutan alkali. 3. Formulasi 2 dan 4 memiliki tingkat kekerasan sabun paling keras hal ini dipengaruhi oleh jenis asam lemak yang digunakan. Semakin banyak asam lemak jenuh yang digunakan maka semakin keras sabun yang dihasilkan. 4. Formulasi 4 memiliki daya busa yang paling tinggi sebanyak 47 ml, hal ini dikarenakan asam lemak jenuh dan jumlah NaOH yang digunakan menghasilkan daya busa yang tinggi. 3.2 Saran Sebaiknya pengujian yang dilakukan menggunakan alat yang mendukung untuk mendapatkan data yang valid.

DAFTAR PUSTAKA Cavitch, S. M. 1997. The Soapmakers Companion A Comprehensive Guide With Recipes, Techniques & Know How. Storey Books, North Adams. Cavitch, S. M. 2001. Choosing Yours Oil, Oil Propeties of Fatty Acid. http://users.siloverlink.net/~timer/soapdesign.html (28 desember 2013) Gromophone, M.A. 1983. Lather Stability of Soap Solutions. JAOCS. 60(5):1022-1024. Gusviputri Arwinda, Njoo Meliana P. S., Aylianawati, Nani Indraswati. 2013. Pembuatan Sabun Dengan Lidah Buaya (Aloe Vera) Sebagai Antiseptik Alami. Widya Teknik Vol. 12, No. 1, 2013. Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Hill, J. C. 2005. High Unsaponifiables and Methods WO/2005/004831.http://www.wipo.int of Using The Same.

(28 desember 2013)

Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Cetakan Pertama. Jakarta : UI-Press. Minifie, Bernard. W. 1999. Chocolate, Cocoa, and ConversitioneryThird Edition. New York. Van Nostrand. Mitsui, T. 1997. New Cosmetic Science. Elseveir Science B. V. Amsterdam, Netherlands. Mittelbatch. 2004. Komposisi Asam Lemak dalam RBDPO. Dalam Tirto 2005. www.ptpn13.com Suryani, A.,et al. 2002. Teknologi Emulsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian. Fateta, IPB, Bogor.