Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM METAMORFOSIS PADA KATAK (Rana sp.

Disusun oleh : Titis Abimanyu Anika Sari Melly Br. Simatupang Windi Anggeraini P. Dwi Mitha A. Rin Anggraini Dosen Pengampu Asisten Dosen A1D010032 A1D010013 A1D010001 A1D010025 A1D010022 A1D010029 : Dr. Aceng Ruyani, M. Si : Dian Samitra Deni Parlindungan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN MIPA UNIVERSITAS BENGKULU

LAPORAN PRAKTIKUM : METAMORFOSIS

LAPORAN PRAKTIKUM PERKEMBANGAN HEWAN

Judul :

METAMORFOSIS
BAB I. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu untuk; Meneliti proses metamorfosis pada salah satu species katak (Rana sp.)

BAB II. Landasan Teori


Katak merupakan ovipar dan pembuahan terjadi diluar tubuh. Saat kawin, katak jantan dan betina akan melakukanampleksus, yaitu katak jantan akan menempel pada punggung katak betina, sehingga terjadi fertilisasi yang akan menghasilkan telur. Telur yang dibuahi berkembang menjadi berudu. Berudu bernafas dengan insang dan melekat pada tumbuhan air dengan alat hisap. Berudu berubah menjadi katak muda yang bernafas dengan dua organ yaitu paru-paru dan insang. Insang menghilang dan ekornya lenyap, sehingga berubah menjadi katak dewasa. Katak dewasa mulai muncul kepermukaan dan bernafas dengan paru-paru. Saat itulah metaamorfosis katak selesai. (Walter, 1995) Metamorfosis merupakan suatu proses transisi menjadi individu dewasa. Proses metamorfosis pada amphibi dikontrol oleh hormon tiroid. Mekanisme hormon tiroid pada tingkat gen harus melalui reseptor yang berada pada inti sel. Selama metamorfosis, proses perkembangan diaktifkan kembali oleh hormon-hormon spesifik dan keseluruhan organisme berubah untuk mempersiapkan dirinya pada model baru. Metamorfosis pada berudu menyebabkan perkembangan pemasakan enzim-enzim hati, hemoglobin, dan pigmen mata.
1

LAPORAN PRAKTIKUM : METAMORFOSIS

Metamorfosis sering merupakan waktu perubahan perkembangan dramatik yang mempengaruhi organisme secara keseluruhan (Hilderbrand, 1994). Metamorfosis pada amphibi umumnya berhubungan dengan perubahan yang mempersiapkan suatu organisme akuatik untuk kehidupan darat. Perubahan regresif pada anura menyertakan hilangnya gigi tanduk berudu, pemendekan ekor dan insang internal. Proses-proses penyusunan seperti perkembangan membra dan morfogenesis kelenjar tiroid juga terjadi pada saat yang sama. Perubahan lokomosi dengan menyusutnya ekor pendayung yang disertai perkembangan membra belakang dan membra depan. Insang beregresi dan lengkung insang menghilang. Intestinum panjang yang khas hewan herbivora memendek karena akan bermetamorfosis menjadi katak yang bersifat karnivora. Paru-paru membesar, otot-otot dan kartilago berkembang untuk memompa udara masuk dan keluar paru-paru. Telinga tengah berkembang, sebagai karakterstik membra timpani luar katak dan kodok. Muncul membran niktitan pada mata (Brotowidjojo, 1993). Katak dewasa memiliki endoskeleton yang terdiri atas tulang sejati dan kartilago (tulang rawan). Tulang ini mendukung bagian-bagian penting pada tubuh, melindungi organorgan halus seperti otak dan syaraf tulang belakang, serta menyediakan tempat untuk melekatnya otot-otot rangka. Studi perbandingan yang dilakukan pada tulang vertebrata lainnya termasuk manusia diketahui dua bagian utama tulang yaitu skeleton aksial yang terdiri atas tulang tengkorak dan sumsum tulang belakang. Skeleton apendikular yang terdiri atas tulang kaki, tulang pelvis, dan pectoral (Parker, 1997). Perkembangan / metamorfosis ampibi mengalami beberapa tahapan yang membutyhkan paling lama 20 minggu. Tahapan-tahapan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut; 1) Tahap telur Telur kodok ditutupi dengan kapsul mirip agar-agar yang mengembang saat menyentuh air. Pengembangan ini membuat volumenya membesar dan janin terlindungi. Telur-telur ini bertumpuk dalam satu tumpukan agar kelangsungan hidup lebih terjaga dan panas juga lebih dapat bertahan. Akibatnya kecebong dapat menetas dalam waktu singkat. Banyak

LAPORAN PRAKTIKUM : METAMORFOSIS

katak dan kodok memakai danau atau sungai yang mengering di masa tertentu, karena hal ini mencegah hewan datang memakan telur dan kecebong mereka. 2) Tahap kecebong Kecebong memiliki kepala besar dan tegak. Ada insangnya dan mulut yang terbuka untuk makan. Insang luar muncul tiga hari setelah kecebong keluar dari telur 3) Tahap kecebong lanjutan Insang luarnya tertutup kulit tubuh dan digantikan oleh insang dalam. Mereka memakan ganggang. Kaki belakang muncul. 4) Perubahan lanjutan kedua Kecebong telah memiliki kaki belakang yang kuat. Matanya juga telah menonjol. Ekornya sangat pendek. 5) Perubahan terakhir Kodok-kodok dewasa berkumpul di tepian sungai sebelum meninggalkan air untuk pertama kalinya. Mereka melakukan ini secara berkelompok. 6) Katak dewasa. Walaupun naluri bertahan hidup anura tidak berkembang baik, katak dan kodok juga merawat anak mereka. Mereka bertelur dalam jumlah besar untuk memastikan ada banyak kecebong yang dapat lolos dari predator yang memakan telur. Lapisan gelatin juga melindungi telur dari predator lain. Beberapa jenis kodok bahkan memelihara anak mereka dengan menjadikan punggung mereka sendiri sebagai sarang.
(Soeminto, 2000)

LAPORAN PRAKTIKUM : METAMORFOSIS

BAB III: METODOLOGI PERCOBAAN


A) Alat dan Bahan 1) Kertas millimeter blok 2) Penggaris 3) Kecebong (katak) 4) Kuning telur rebus 5) Air 6) Aquarium

B) Cara Kerja 1) Dipelihara kecebong didalam aquarium 2) Diberi makan kecebong dengan kuning telur rebus setiap harinya 3) Diamati perkembangan kecebong 4) Dicatat perubahan yang terjadi pada kecebong (bagian apa saja yang muncul di setiap perkembangannya) 5) Diukur panjang kecebong menggunakan kertas millimeter blok dan penggaris 6) Dicatat hasil pengukurannya

LAPORAN PRAKTIKUM : METAMORFOSIS

BAB IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A) Hasil Pengamatan Dari percobaan yang dilakukan didapatkan hasil pengamatan sebagai berikut; Parameter No. Pengamatan (Tgl/bulan) Lebar Tubuh (cm) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 29 Maret 5 April 13 April 18 April 27 April 4 Mei 1 cm 1,2 cm 1 cm 0,5 cm 0,7 cm 3 cm Panjang Tubuh* (cm) 4 cm 4,2 cm 4,1 cm 3,7 cm 2 cm 5 cm Panjang Ekor (cm) 2,7 cm 2,4 cm 2,3 cm 2 cm 0,35 cm -

Nb: *) panjang tubuh = Panjang badan + Panjang ekor Pengamatan (Tanggal/bulan) 29 Maret 5 april 13 April Dengan ekor dan kaki belakang 18 April Dengan ekor, kaki belakang dan kaki depan (tangan) 27 April Dengan Kaki belakang dan kaki depan (tangan) 4 Mei Dengan kaki belakang dan kaki depan (tangan) Sudah terlihat

Parameter yang diamati Lokomosi

Dengan ekor Dengan ekor dan kaki belakang

Pertunasan membra depan Pertunasan membra belakang

Belum terlihat

Belum terlihat

Belum terlihat

Sudah terlihat

Sudah terlihat

Belum terlihat

Belum terlihat

Sedikit terlihat

Sudah terlihat

Sudah terlihat

Sudah terlihat

LAPORAN PRAKTIKUM : METAMORFOSIS

Hasil pengamatan siklus metamorfosis objek (Katak/ Rana sp.); Dalam gambar

B. Pembahasan Dalam praktikum/percobaan ini ingin dilihat bagaimana proses metamorfosis dari salah satu species amphibi yaitu Rana Sp. Seperti yang diketahui bahwa metamorfosis merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan pada hewan tertentu menuju kedewasaan yang melalui beberapa stadium atau tahapan yang membentuk siklus. Metamorfosis biasanya diakibatkan oleh aktifitas hormon. Metamorfosis katak dimulai dari fase telur dari hasil perkawinan antara jantan dan betina. Setelah itu dari telur memasuki fase berudu/ kecebong. Percobaan ini diawali dengan, diambil kecebong/ berudu dari kolam atau genangan air kemudian dimasukkan ke dalam akuarium yang terlebih dahulu telah dibersihkan. Diberi makan berupa telur rebus (diambil kuningnya saja) setiap hari. Setelah itu dilakukan
6

LAPORAN PRAKTIKUM : METAMORFOSIS

pengamatan dari hari ke hari. Dicatat hasil pengamatan, perubahan-perubahan yang terjadi hingga berudu tadi menjadi katak dewasa. Untuk pengukuran panjang tubuh, lebar tubuh, dan panjang ekor digunakan kertas milimeter blok dan penggaris. Dari percobaan yang dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut. Pada pengamatan pertama tanggal 29 maret (2 hari setelah pengambilan berudu), panjang berudu 4 cm, lebar 1 cm, dan panjang ekor 2,7 cm. Belum terlihat adanya penyusutan ekor ataupun munculnya kaki belakang. Gerak masih diatur dengan ekor dan bernafas masih dengan insang. Pengamatan 2, tanggal 5 april terlihat adanya perubahan pada tubuh berudu. Panjang tubuh 4,2 cm, lebar 1,2 dan panjang ekor 2,4 cm. Kaki belakang sudah terlihat namun belum terjadi pertunasan membra belakang. Gerak bukan hanya dengan ekor namun dengan bantuan kaki belakang juga. Bernafas masih menggunakan insang terbukti dari saat dikeluarkan dari akuarium tubuh berudu menjadi lemas. Pengamatan ke-3, tanggal 13 April tidak terjadi perubahan yang signifikan dari pengamatan sebelumnya. Panjang tubuh 4,1 cm, lebar 1 cm, dan panjang ekor 2,3 cm. Pertunasan membra belakang sudah terlihat. Gerak masih dilakukan dengan kaki belakang dan ekor. Tubuh belum bisa beradaptasi dengan daratan. Pengamatan ke-4, tanggal 18 April terjadi perubahan dari pengamatan ke-3. Panjang tubuh 3,2 cm, lebar 0,5 cm, dan panjang ekor 2 cm. Kaki depan telah terlihat, terjadi penyusutan ekor dan tubuh serta lebar tubuh. Namun lokomosi/pergerakan masih bergantung pada ekor dan alat gerak depan (tangan) dan alat gerak belakang (kaki). Pernafasan dilakukan dengan insang. Di permukaan tubuh mulai muncuk corak-corak. Pengamatan ke-5, tanggal 27 april. Panjang tubuh 2 cm, lebar 0,7 cm, dan panjang ekor 0,35 cm. Penyusutan ekor terus terjaddi. Pertunasan membra pada bagian depan dan belakang sudah sangat terlihat. Bernafas menggunkan paru-paru dan kulit ini terbukti dari perilaku yang memanjat dinding akuarium dan saat dijatuhkan kedalam akuarium, katak muda ini langsung meloncat kembali ke dinding akuarium keluar dari air. Pengamatan ke-6, tanggal 4 mei. Panjang tubuh 5 cm, lebar 3 cm, ekor benar-benar telah menyusut dan tidak terlihat lagi. Lokomosi dilakukan dengan tungkai depan dan belakang. Fase ini adalah fase akhir dari metamorfosis katak (Rana sp.) yang disebut dengan katak dewasa dan siap untuk kawin dan menghasilkan telur kembali.

LAPORAN PRAKTIKUM : METAMORFOSIS

Percobaan diatas memiliki kelemahan, salah satunya adalah katak yang menjadi objek pengamatan kelompok bukan dari 1 species. Karena setiap setelah pengamatan katak dimasukkan kembali kedalam akuarium sehingga tercampur dengan katak-katak yang lain.

LAPORAN PRAKTIKUM : METAMORFOSIS

BAB V. Kesimpulan
Dari data hasil pengamatan dan pembahasan dapat ditarik beberapa kesimpulan seperti berikut; 1) Urutan metamorfosis katak adalah sebagai berikut; Telur -> Berudu -> berudu dengan kaki belakang -> katak berekor -> katak muda -> katak dewasa -> telur

2) Tanda terjadi metamorfosis katak adalah, a. terjadi penyusutan ekor yang pada awal fase (berudu) memiliki ekor ketika menjadi katak dewasa ekor menghilang b. alat gerak berubah dari ekor menjadi tungkai / kaki depan dan belakang c. alat pernafasan juga berubah, yang semula berupa insang dan habitat berupa air menjadi bernafas menggunakan paru-paru dan kulit dan habitat berupa darat. 3) Metamorfosis pada katak hasil pengamatan minimal terjadi dalam waktu 2 bulan (8 minggu) tidak termasuk saat fase telur.

LAPORAN PRAKTIKUM : METAMORFOSIS

DAFTAR PUSTAKA
Brotowidjoyo, M. D. 1993. Zoologi Dasar. Erlangga: Jakarta Hilderbarand. 1994. Analisa Struktur Vertebrata. Aemico: Bandung Parker, T. J. 1997. Textbook of Zoologi. MC Milan: Hongkong Soeminto. 2000. Embriologi Vertebrata. Unsoed: Purwokerto Walter, H. 1995. Biology of vertebrates. Erlangga: Jakarta

10