Anda di halaman 1dari 3

Difabel Bukan Suatu Halangan

PARALYMPIC game adalah ajang kejuaraan dunia bagi penyandang cacat atau difabel di seluruh dunia yang diadakan setiap 4 tahun sekali setelah diadakannya Olimpiade Terakhir kali Paralympic diadakan di Negara Ratu Elizabeth atau

Inggris pada tahun 2012 kemarin. Meski Paralympic diadakan khusus untuk penyandang cacat, namun para atlit yang berlaga di Paralympic ini tetap bersungguh-sungguh dalam berlomba demi mengharumkan nama Negara yang mereka bela. Salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan dalam Paralympic adalah renang. Terdapat sejumlah perenang berpengalaman, seperti Matthew Cowdrey yang sudah memenangkan 8 medali emas dalam Paralympic, dan sejumlah atlit yang baru pertama kali ikut pesta olahraga 4 tahunan ini. Diantaranya adalah Maddison Elliott. Meski usianya baru menginjak 13 tahun, namun anak muda ini telah menunjukkan bahwa kekurangan fisik atau cacat fisik bukanlah suatu hal yang dapat menghambat seseorang untuk meraih sukses luar biasa. Maddison sudah berlatih berengan sejak ia menginjak usia 6 tahun, akan tetapi pada usia 4 tahun ia didiagnosa menderita cerebral palsy, yang mempengaruhi bagian kanan tubuhnya. Akan tetapi, hal ini tidak menjadi penghalang baginya untuk berenang bagi kompetisi. Maddison menjadikan hal ini sebagai motivator bagi dirinya untuk dapat meraih sukses. Katanya menyandang cacat tidak menjadi pembatas baginya dalam cara apapun . Selain kisah Maddison sang perenang kecil yang meraih sukses, ada pula kisah mengharukan dibidang olahraga lari jarak 100 meter. Ada Sembilan pelari yang telah bersiap-siap di tempat start masing-masing. Ketika pistol tanda pertandingan dinyalakan, mereka berlari dengan wajah gembira menuju garis finis dan berusaha untuk memenangkan pertandingan. Tiba-tiba ditengah jalannya pertandinga, salah satu pelari tersandung dan terjatuh berguling beberapa kali. Ia menangis. Delapan pelari mendengar tangisan tersebut. Mereka memperlambat larinya dan menoleh ke belakang. Mereka semua berbalik dan berlarian menuju pelari yang terjatuh itu.

Kemudian kesembilan pelari itu saling bergandengan tangan, berjalan bersama menyelesaikan pertandingan hingga garis finish. Seluruh penonton yang ada di stadion tersebut berdiri memberikan salut selama beberapa saat. Tahukah anda mengapa? Karena di dalam diri kita yang terdalam kita tahu bahwa: dalam hidup ini tidak ada yang jauh lebih berharga daripada kemenangan bagi kita semua. Yang terpenting dalam hidup ini adalah saling tolong menolong meraih kemenangan, meski kita harus mengalah dan mengubah diri kita. Bagi sebagian orang, penyandang cacat dipandang sebelah mata. Namun, para penyandang cacat dapat membuktikan bahwa mereka tidak pantas dipandang sebelah mata. Karena mereka dapat mengharumkan nama bangsa dikancah Paralympic. Apakah seharusnya kita menganggap remeh mereka? Tentu tidak. Justru mereka yang dapat mengharumkan nama bangsa dapat menjadi inspirator maupun motivator bagi kita orang normal untuk dapat meraih kesuksesan luar biasa. Jika mereka para penyandang cacat dapat mengharumkan nama bangsa, kenapa bagi kita orang normal tidak mampu untuk melakukan sesuatu demi kesuksesan? Marilah kita para orang normal tanpa cacat fisik menjadi orang yang mendapatkan kesuksesan luar biasa. Seperti Maddison maupun Matthew Cowdrey yang mengalami cacat fisik namun mendapatkan kesuksesan luar biasa. Jangan sampai kita malu pada seseorang yang mengalami cacat fisik. Karena keterbatasan fisik bukanlah suatu hal yang dapat menghalangi seseorang untuk meraih kesuksesan.

DIFABEL BUKAN SUATU HALANGAN

ARTIKEL

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah

Oleh: Imam Noor Hadi 11003200

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA 2013