Anda di halaman 1dari 5

TINDAK TANDUK UNI EROPA TERHADAP PROGRAM NUKLIR IRAN Salah satu masalah internasional yang sangat penting

untuk dikaji dewasa ini adalah persoalanpersoalan yang berhubungan dengan persenjataan nuklir dan strateginya. Sepintas lalu urusan ini merupakan urusan eksklusif negara-negara bersenjata nuklir, khususnya Amerika Serikat dan Uni Soviet. Masalah utama yang mendominasi percaturan nuklir selama empat dasawarsa ini adalah strategi nuklir negara-negara adikuasa. Persenjataan nuklirlah yang menjadi perdebatan dalam strategi pertahan yang paling menonjol setelah PD II.1 Program nuklir yang dijalankan oleh negara di Timur tengah khususnya Iran selama ini dapat diartikan sebagai menanggapi pergerakan kekuatan Amerika Serikat dan negara besar Iran mulai melaksanakan program nuklirnya sejak tahun 1960-an. Instalasi nuklir Iran pertama adalah untuk riset nuklir dengan kekuatan hanya lima Megawatt yang diperolehnya dari AS dan memulai beroperasi pada 1967. Pada tahun 1968, dibentuk perjanjian pelarangan penyebaran senjata nuklir diantara negara-negara pemilik nuklir dalam bentuk Nuclear NonProliferation Treaty (NPT), dan pada tahun 1970, Iran telah menjadi salah satu negara penandatangannya. Di bawah pemerintahan Shah, Iran terus mengembangkan aktifitas nuklirnya dengan melakukan kerjasama dan transaksi dengan beberapa perusahaan Eropa, seperti perusahaan Siemen dari Jerman pada tahun 1975, dan perusahaan dari Perancis pada tahun berikutnya. Namun, pada tahun 1979, menghentikan aktifitas pembangunan reaktor-reaktor nuklir Iran. Hal ini disebabkan karena proyek pembangunan nuklir telah menghabiskan sekitar 30 milyar dolar, dan proyek ini dianggap hanya untuk memenuhi ambisi Shah semata. Aktifitas nuklir Iran berhenti selama masa pemerintahan Khomeini.Pada tahun 1995, program nuklir Iran mulai dilanjutkan oleh Rafsanjani, dan terus berlanjut selama periode kaum reformis (19972005) di bawah kekuasaan Khatami. Pada tahun 2003, muncul awal mula permasalahan terhadap pengembangan nuklir Iran, yang dimulai oleh pengumuman yang dilakukan oleh pihak oposisi Iran yang diasingkan, bahwa Iran sedang mengejar program nuklir yang bersifat rahasia dan tidak aman, kemudian menyelimuti dan menyembunyikannya dari para inspektor Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA). Berdasarkan hal inilah, ketua IAEA, Mohammad al-Baradai menyiapkan sebuah laporan dan menunjukkannya kepada IAEA.Pada saat inilah momentum mengenai Krisis Nuklir Iran dimulai.Sejak saat itu, dimulailah serangkaian dialog dengan trio Eropa, yaitu Jerman, Perancis, dan Inggris. Pada tanggal 25 Oktober 2003 ditandatangani protokol yang dinamai sebagai Protokol Tambahan yang isinya memperbolehkan IAEA melakukan inspeksi dadakan. Hal ini ditujukan untuk mencegah tuduhan-tuduhan terhadap Iran bahwa mereka telah menyembunyikan aktifitas pengembangan nuklir untuk memproduksi senjata dan permasalahan yang sensitif

BBC news 24 Mei 2012 - 12:26 WIB, http://www.bbc.com/news/nuklir/iran/uni/eropa

lainnya, yang bisa dibuktikan selama inspeksi rutin dan inspeksi terjadwal. Demi negosiasi, Iran akhirnya menghentikan proses pengayaan uraniumnya.2 Namun, meskipun Iran telah menghentikan proses pengayaan uraniumnya, desakan terhadap Iran untuk menghentikan keseluruhan program nuklirnya semakin besar dan aturanaturan terhadap Iran semakin diperketat, dan tidak ada jaminan terhadap hak Iran untuk menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai, seperti yang tercantum dalam Non-Ploriferation Treaty.Hal ini membuat Iran kembali menjalankan program pengayaan uraniumnya.Pada tanggal 23 Desember 2006, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi 1737 yang isinya menyeru Iran untuk menghentikan proses pengayaan uraniumnya. Namun Iran mengacuhkan resolusi ini dan tetap mempertahankan haknya untuk menggunakan energi nuklir demi tujuan-tujuan damai sebagaimana yang dijamin di dalam Non-Ploriferation Treaty. Pada tanggal 23 April 2007, DK PBB mengeluarkan resolusi 1747 dan memberikan tenggat waktu dua bulan bagi Iran untuk menghentikan proses pengayaan yang ditambah dengan tekanan terhadap Iran untuk menanggalkan haknya dalam penggunaan energi nuklir untuk tujuan-tujuan damai.3 Terlihat dari awalnya iran memang sudah bekerja sama dalam pembentukan masalah nuklirnya dengan sebagian anggota dari uni eropa yang nantinya menghantarkan iran kepaa kebuntuan-kebuntuan juga hambatan yang di lancarkan berbagai pihak atau negara yang lebih berkuasa. Tampaknya ada tangan tersembunyi yang mengendalikan organisasi nuklir internasional itu Selama tahun 1974-1978 kontrak-kontrak atau persetujuan-persetujuan untuk membangun 8 pembangkit listrik tenaga atom ditandatangani oleh AEOI dan kontraktor-

kontraktor asing, termasuk pembangkit listrik tenaga atom Bushehr (Iran I dan II) oleh Jerman, pembangkit listrik tenaga atom Karun (Iran III dan IV) oleh Perancis, pembangkit listrik tenaga atom Isfahan (Iran V dan VI) oleh Jerman dan pembangkit listrik tenaga atom Saveh (Iran VII dan VIII) oleh Jerman. Selama tahun 1974-1976 Iran menandatangani kontrak 10 tahun yang bisa diperpanjang untuk pemutaran bahan bakar dengan AS, Jerman, dan Perancis.4 Pada waktu itu negara-negara Barat biasa bersaing untuk memberikan alat pemutar bahan bakar kepada Iran. Hal aneh adalah bahwa ketika itu tidak ada pembicaraan mengenai energi nuklir Iran sebagai negara yang memiliki sumber minyak dan gas, dan tidak ada pembicraan mengapa Iran yang memiliki sumber minyak dan gas yang besar mencari bahan bakar nuklir. selama 30 tahun terakhir ini populasi Iran telah meningkat dua kali lipat, dengan permintaan
2

Kompas.com Kamis, 14 Oktober 2010 | 04:11 WIB

http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/05/26/perundingan-nuklir-gagal-iran-tetap-kokoh-pendiriannya-lalu-apa/

Read more: http://diki-pta.blogspot.com/2012/05/awal-mula-perkembangan-nuklir-di-iran.html#ixzz2FWAEvlzF

energi yang terus-menerus meningkat dan mempertimbangkan keterbatasan sumber energi fosil serta pengeluaran yang tinggi untuk mengeksploitasikannya, maka wajar bahwa Iran mencari sumber energi lain yang dapat diandalkan. Namun sepertinya ada sesuatu yang begitu mengontrol ada sesuatu yang terus mengganjal usaha iran dalam memenuhi kebutuhan negaranya. program nuklir damai irandihadang dengan keberatan keras oleh AS dan negara-negara Barat. Iran bergerak ke depan dalam usaha kerangka regulasi-regulasi Pakta Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan menyandarkan diri pada kemampuannya yang menghasilkan pencapaianpencapaian yang besar (PTN). Ketika Barat menuduh iran mencari sasaran militer, iran menjawab keprihatinan Barat tersebut dengan bekerja sama dengan UE3 (Inggris, Perancis, dan Jerman) untuk membuktikan bahwa program nuklirnya bertujuan dengan damai. Pada tahap awal negosiasi, mereka meminta menangguhkan aktivitas pengayaan di Natanz. Kemudian mereka meminta kami untuk menangguhkan semua aktivitas nuklir termasuk penelitian Pada Desember 2003 memnuhi aktivitas pengayaan. Penangguhan ini tidak didasarkan pada komitmen tapi bersifat suka rela dan sementara. Tak lama kemudian penangguhan diubah menjadi komitmen yang mengikat bagi negara. iran menandatangani Protokol Tambahan dan mulai mengimplementasikan, bahkan sebelum protokol itu diratifikasi di parlemen. Iran telah memulai negosiasi dengan Barat dengan anggapan bahwa mereka mempunyai keprihatinan sah yang sebenar-benarnya tentang aktivitas nuklir damai iran. iran berunding dengan UE3 selama tiga tahun. Lalu meninggalkan UE3 dengan alasan tertentu, Pada Maret 2005 iran menyerahkan proposal kepada Uni Eropa (EU), tapi setelah lima bulan UE menolak proposal itu. Pada Agustus 2005 mereka memberikan tawaran mereka meminta penangguhan penuh dan tanpa batas aktivitas pengayaan uranium iran5. Setelah tiga tahun perundingan, iran kesal dan melakukan aktivitasnya. iran memulai kembali aktivtas pengayaan. Pada 1 Juni 2006, mereka (EU) mengajukan paket baru dan iran menjawab bahwa walaupun terdapat beberapa dualitas Sayangnya, (EU) melontarkan Resolusi No 1696 di DK PBB.yang lagi lagi mengharuskan iran menghentikan aktivitasnya. Harus dikatakan bahwa Iran menolak keras pengembangan, penyimpanan dan penggunaan senjata nuklir berdasarkan ideologis dan strategis. Dilihat dari tujuan dan kenyataan yang ada Faktanya, untuk memproduksi senjata nuklir membutuhkan pengayaan uranium hingga 90 persen. Tehran menegaskan bahwa Iran tidak membutuhkan pengayaan uranium melebihi 3,5 persen untuk reaktor nuklir. Sedangkan pengayaan uranium yang mencapai 20 persen hanya dibutuhkan untuk memenuhi pasokan reaktor riset Tehran, dan reaktor riset yang baru dibangun. Republik Islam Iran meyakini bahwa penggunaan senjata nuklir, kimia dan semisalnya adalah dosa besar yang tak terampuni. Tehran mengusung slogan tentang Timur Tengah yang bebas dari senjata nuklir dan akan komitmen dengannya. Bagi Tehran, semua negara berhak menggunakan energi nuklir sipil untuk berbagai keperluan utama negara dan bangsanya. Namun, segelintir negara Barat yang memiliki senjata nuklir dan melakukan tindakan yang ilegal ini ingin terus memonopoli kemampuan memproduksi bahan bakar nuklir.6 Ada tindakan mencurigakan yang
5

BBC news Terbaru 18 Juni 2012 - 11:04 WIB, http://www.bbc.com/news/nuklir/iran/uni/eropa http://indonesian.irib.ir/hidden-17/-/asset_publisher/Pfp0/content/id/5201379

masih berlangsung untuk memonopoli produksi dan penjualan bahan bakar nuklir di pusat-pusat internasional. Tapi sebenarnya, pusat-pusat itu dibuat hanya untuk mengokohkan monopoli segelintir negara Barat. Sudah di jelaskan di atas bagaimana upaya iran memperjuangkan prinsipnya juga berbagai tindak tanduk negara-negara besar uni eropa dan Apa yang telah dibuat Iran untuk membangun

kepercayaan pada program nuklirnya? -- Telah menandatangani dan mengimplementasikan Protokol Tambahan. Iran menandatangani dan mengimplementasikan Protokol Tambahan secara penuh dan suka rela selama dua tahun. Implementasi sukara rela ini terjadi pada saat Parlemen Iran belum meratifikasi Protokol itu. Bagaimanapun, penyerahan program nuklir damai Iran kepada DK PBB membuat hal itu mustahil bagi pemerintah untuk meneruskan penerapan Protokol Tambahan secara suka rela, karena keputusan oleh parlemen. -- Iran telah menempatkan semua fasilitas nuklirnya di bawah Perjanjian Perlindungan IAEA. -- Telah mengizinkan lebih dari 2.700 orang/hari melakukan inspeksi ke fasilitas yang terkait, bahkan yang tidak terkait, yang menghasilkan pernyataan berulang kali oleh IAEA tentang ketiadaan satu pun bukti pengalihan. -- Telah memberikan laporan yang tepat dan teratur dari aktivitas nuklirnya. -- Telah dengan suka rela menangguhkan seluruh aktivitas nuklirnya, selama dua setengah tahun, yang diverifikasi oleh IAEA. -- Telah mengusulkan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan asing pada proyek-proyek pengayaannya, -- Telah mengusulkan menciptakan konsorsium nuklir dalam kerja sama dengan seluruh negara, termasuk AS. -- Telah dengan suka rela meletakkan fasilitas nuklirnya di bawah inspeksi IAEA. Inspeksi IAEA ada tiga tipe: Rutin, Khusus, dan Suka Rela. (Iran merupakan satu-satunya negara yang telah meminta untuk inspeksi demikian). Inspeksi suka rela belum dicantumkan dalam

INFCIRC/153, Anggaran Dasar IAEA dan regulasi-regulasi NPT, dan untuk pertama kali diminta oleh Iran. Karena itu, Iran adalah satu-satunya negara yang dengan suka rela mengundang para inspektor IAEA untuk melakukan penelitian dengan teliti fasilitas nuklirnya. Namun tetap saja program ini belum di ferivikasi,mengapa? Ada saja alasan tertentu yang mengganjal iran yang terus menekan iran.