Anda di halaman 1dari 18

Dimas Adriyono Wibowo

1102012067

“Pilek Pagi Hari”

LI.1 M&M Anatomi Saluran Pernafasan Atas

LO.1.1 Makro

Sebelumnya kita harus mengetahui bagian dari pernapasan atas yaitu:

1.

Hidung

Organ hidung merupakan organ berfungsi dalam saluran napas.

Ada 2 buah nares anterior = aperture nasalis anterior (lubang hidung)

Vestibulum nasi adalah bagian depan rongga hidung , tempat muara

nares anterior. Pada muscusa hidung terdapat silia yang kasar berfungsi sebagai saringan udara Rangka Hidung : bagian luar di bentuk oleh tulang (os. Nasal ,

processus frontalis dan os maxillaris.) Cavum Nasi

Sekat antara kedua rongga hidung si batasi oleh didig yang berasal dari

tulang dan mucusa disebut “Septum Nasi” yang dibentuk oleh

(Cartilago septi nasi, Os. Vomer , dan Lamina parpendicularis os

ethmodialle.). ada 3 buah tulang tipis dan ditutupi mucusa yang dapat mengeluarkan lendir, yaitu :

  • 1. Concha Nasalis Superior

  • 2. Concha Nasalis Media

  • 3. Concha Nasalis Inferior

Ada 3 buah saluran keluar cairan / lendir melalui hidung yaitu:

  • 1. Meatus Nasalis Superior (antara concha nasalis superior dan media)

  • 2. Meatus Nasalis Media (antara concha nasalis media dan inferior)

  • 3. Meatus Nasalis Inferior (antara concha nasalis inferior dan dinding atas maxilla)

 Sinus-sinus yang berhubungan dengan cavum nasi dikenal dengan “Sinus Paranasalis” dan namanya sesuai dengan nama
 Sinus-sinus yang berhubungan dengan cavum nasi dikenal dengan “Sinus Paranasalis” dan namanya sesuai dengan nama
Sinus-sinus yang berhubungan dengan cavum nasi dikenal dengan
“Sinus Paranasalis” dan namanya sesuai dengan nama tulang rongga
tersebut antara lain:
1.
Sinus Sphenodialis ada 2 buah mengeluarkan sekresinya melalui
Sphenoethmoidalis keluar pada meatus superior di atas concha
nasalis superior.
2.
Sinus Frontalis ke meatus media
3.
Sinus Ethmoidalis ke meatus superior dan media
4.
Sinus Maxillaris ke meatus media
Perdarahan Hidung :

Berasal dari cabang dari arteri carotis interna dan arteri carotis externa

o

Arteria carotis externa mempercabangkan dulu A. Maxillaris baru mempercabangkan Arteria sphenopalatinum

o

Arteria carotis interna mempercabangkan arteria opthalmica. Selanjutnya arteria opthalmica mempercabangkan arteria:

1.

Arteria ethmoidalis anterior dengan cabang-cabang :

a. nasalis externa, a. nasalis lateralis, a. septalis anterior

  • 2. Arteria ethmoidalis posterior dengan cabang- cabangnya: a. nasalis posterior, a. nasalis lateralis, a. nasalis septalis, a. palatinus majus.

Pada bagian depan sptum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a. sphenopalatinum, a. ethmoidalis anterior, a. labial superior dan a. palatina major yang disebut “Plexus Kiesselbach”.

1. Arteria ethmoidalis anterior dengan cabang-cabang : a. nasalis externa, a. nasalis lateralis, a. septalis anterior

Persarafan Hidung :

  • 1. Bagian depan dan atas cavum nasi mendaoat persarafan sensoris dari N. nasalis, N. ethmodalis Anterior semuanya adalah cabang dari N. opthalmicus (N. V1)

  • 2. Bagian bawah belakang termasuk mucusa concha nasalis depan dipersarafi oleh rami nasalis posterior cabang dari N. Maxillaris

2. Larynx

(N. V2)

Larynx adalah organ yang berperan sebagai spinchter pelindung pada system respirasi dan berperan dalam pembentukan suara. Terletak setinggi vertebrae cervicalis 4,5,dan 6 di bawah tulang hyoid (batas dagu dan leher). Daerah yang dimulai dari aditus larynges sampai batas bawah cartilage cricoid.

Rangka Larynx terbentuk oleh tulang dan tulang rawan yang dihubungkan oleh membrane dan ligamentum serta di gerakan oleh otot-otot larynx.

  • 1. Berbentuk tulang adalah os. Hyoid (1 buah)

  • 2. Berbentuk tulang rawan adalah Thyroid (1 buah), arytenoid (2 buah), epiglottis (1 buah) , pada arytenoid terdapat tulang rawan kecil cartilago cornuculata dan cunneiforme (sepasang), cricoid (1buah) bentuk cincin bagian terbawah dari larynx.

 Cavitas laryngis Terbagi dalam 3 bagian : 1. Vestibulum Laryngis : dari aditus sampai plica
Cavitas laryngis
Terbagi dalam 3 bagian :
1.
Vestibulum Laryngis : dari aditus sampai plica vestibularis
2.
Daerah tengah : dari plica vestibulris sampai setinggi plica vocalis
di bawahnya
3.
Daerah bawah : dari plica vocalis sampai ke bawah cartilage
cricoid
Os. Hyoid
o
o
o
Terbentuk dari jaringan tulang, seperti besi telapak kuda
Mmpunyai 2 buah cornu yaitu cornu majus dan minus
Berfungsi sebagai pelekatan otot mulut dan cartilage thyroid
Cartilago Thyroid

o

Terletak di bagian depan dan dapat di raba tonjolan yang di

kenal dengan “prominens larynges” atau “ Adam’s Apple “ atau “jakun”.

o

Melekat ke atas dengan os hyoid dan ke bawah dengan

o

cartilage cricoid, ke belakan dengan arytenoid Perdarahan dari thyroidea superior dan inferior

2. Berbentuk tulang rawan adalah Thyroid (1 buah), arytenoid (2 buah), epiglottis (1 buah) , pada

Cartilago Arytenoid

 

o

Terletak posterior dari lamina cartilage thyroid dan di atas dari

o

cartilage cricoid Mempunyai bentuk seperti burung penguin , ada cartilage

o

cornuculata dan cuneiforme Kedua arytenoid dihubungkan oleh m. arytenoideus transversus

Epiglotis

 

o

Tulang rawan berbentuk sendok , yang terletak di bawah radix

o

lingue Melekat pada cartilage thyroid di antara kedua cartilage

o

arytenoid Berfungsi membuka dan menutup aditus larynges

o

Pada waktu biasa epiglottis terbuka tetapi waktu menelan epiglottis menutup aditus larynges supaya makanan jangan masuk ke larynx

Cartilago Cricoid

 

o

Termasuk batas bawah dari cartilage thrycoid

o

Batas bawahnya adalah cincin pertama trakea

o

Berhubungan dengan cartilage arytenoid dengan otot m. cricoarytenoid posterior dan lateralis

 
 Cartilago Arytenoid o Terletak posterior dari lamina cartilage thyroid dan di atas dari o cartilage

Otot-otot Larynx

  • I. Otot Ekstrinsik Larynx : Berfungsi untuk menarik larynx ke atas dan ke bawah selama proses menelan. Pada umumnya otot2 melekat pada os. Hyoid melalui membrane thyrohyoidea dan terjadi gerakan larynx. Terdapat 2 golongan oto ekstrinsik:

1.

Otot-otot elevator (otot-otot2 suprahyoid), otot yang berinsertio pada os hyoid yaitu: m. digastricus, m.stylohyoideus , m.geniohyoideus

  • 2. Otot-otot Depressor , otot yang berorigo pada os hyoid yaitu: m.sternothyroideus, sternohyoideus dan m.omohyoideus Pada otot ekstrinsik dipersarafi oleh nervus laringis superior. Sementara otot intrinsic dipersarafi oleh nervus laringis inferior atau yg sering desebut dengan nervus reccurens laringis. terdapat pula plica vocalis dan plica vestibularis, dalam plica vovalis ada rima glottis dan plica vestibularis ada rima vestibularis.otot m.cricoarytenoideus posterior sering disebut juga safety muscle of larynx.karena berfungsi menajga agar rima glottis tetap membuka.

1. Otot-otot elevator (otot-otot2 suprahyoid), otot yang berinsertio pada os hyoid yaitu: m. digastricus, m.stylohyoideus ,
1. Otot-otot elevator (otot-otot2 suprahyoid), otot yang berinsertio pada os hyoid yaitu: m. digastricus, m.stylohyoideus ,

LO.1.2 Mikro

Hidung

Pada bagian luar hidung akan ditutupi oleh kulit dengan epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk banyak terdapat kelenjar sebasea yang akan meluas hingga bagian depan dari vestibulum nasi.Pada bagian dalam hidung akan dilapisi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk dan akan menjadi epitel bertingkat silindris dengan sel goblet (epitel respirasi),terdapat juga sel basal yg dapat berkembang lagi.Epitel terletak diatas lamina basal dan dibawahnya terdapat laina propia yang mengandung kelenjar tubular alveolar. Pada belahan lateral akan terlihat konka.Dimana pada konka nasalis superior tersusun dari sel epitel olfactoria.Epitel olfactoria sendiri tersusun dari sel penyokong,sel basal,dan sel olfacttorius(sel dendritik yang menonjol ke permukaan dan akson masuk ke lamina propria.

SINUS PARANASAL

  • Dilapisi epitel bertingkat torak dg sdkt sel goblet

Faring

Pada nasofaring epitelnya bertingkat toraks bersilia dengan sel goblet.Pada orofaring epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk.Laringofaring tersusun dari epitel bervariasi>

Epiglotis

Memiliki permukan lingual dan laringeal.Seluruh permukaan laringeal ditutup oleh epitel berlapis gepeng<mendejati basis epiglotis pada sisi laringeal epitel akan menjadi epitel silindris bersilia.

Laring

  • Menghubungkan faring dg trakea

  • Tulang rawan yg lebih besar (tl. Rawan hyalin):

    • Tiroid

    • Krikoid

    • Aritenoid

  • Tulang rawan yang kecil (tl. Rawan elastis):

    • Epiglotis

    • Kuneiform

    • Kornikulata

    • Ujung aritenoid

  • LI.2. M&M Fisiologi Pernafasan atas LO.2.1 M&M Mekanisme pertahanan pernafasan atas

    Menjelaskan Mekanisme Batuk

    Inspirasi dalam, diikuti ekspirasi kuat melawan glotis yang tertutup. Peningkatan tekanan intrapleura 100mmHg atau lebih. Glotis tiba-tiba terbuka mengakibatkan redakan aliran udara ke luar dengan kecepatan 965km atau (600mil)/jam.

    Mekanisme batuk dibagi menjadi 3 fase:

    Fase 1 (Inspirasi), paru2 memasukan kurang lebih 2,5 liter udara, oesofagus dan pita suara menutup, sehingga udara terjerat dalam paru2 Fase 2 (Kompresi), otot perut berkontraksi, so diafragma naik dan mnekan paru2, diikuti pula dengan kontraksi intercosta internus. yang pada akhirnya akan menyebabkan tekanan pada paru2 meningkat hingga 100mm/hg. Fase 3 (Ekspirasi), Spontan oesofagus dan pita suara terbuka dan udara meledak keluar dari paru Batuk adalah mekanisme pertahanan tubuh yang berguna untuk membersihkan saluran trakeobronkial. Batuk yang tidak efektif dapat menimbulkan berbagai efek yang tidak mengun- tungkan berupa penumpukan sekret yang berlebihan, atelektasis, gangguan pertukaran gas dan lain-lain. Batuk yang tidak efektif mungkin terjadi karena gangguan di saraf aferen, pusat batuk atau di saraf eferen yang ada. Batuk yang berlebihan akan terasa mengganggu. Penyebab batuk juga amat beragam, mulai dari kebiasaan merokok sampai pada berbagai penyakit baik di paru maupun di luar paru. Keluhan batuk juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi mulai dari yang ringan sampai yang berat

    Menjelaskan Mekanisme Bersin

    Reflek bersin mirip dengan reflek batuk kecuali bahwa refleks ini berlangsung pada saluran hidung, bukan pada saluran pernapasan bagian bawah. Rangsangan awal menimbulkan refleks bersin adalah iritasi dalam saluran hidung, impuls saraf aferen berjalan dalam nervus ke lima menuju medulla tempat refleks ini dicetuskan. Terjadi serangkaian reaksi yang mirip dengan refleks batuk tetapi uvula ditekan, sehingga sejumlah besar udara dengan cepat melalui hidung, dengan demikian membantu membersihkan saluran hidung dari benda asing.

    LI.3 M&M Rinitis Alergi LO.3.1 Definisi Rinitis Alerg adalah peradangan sinus karena reaksi alergi terhadap allergen. LO.3.2 Etiologi

    Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasien yang secara genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Genetik secara jelas memiliki peran penting. Pada 20 30 % semua populasi dan pada 10 15 % anak semuanya atopi. Apabila kedua orang tua atopi, maka risiko atopi menjadi 4 kali lebih besar atau mencapai 50 %.Peran lingkungan dalam dalam rinitis alergi yaitu alergen, yang terdapat di seluruh lingkungan, terpapar dan merangsang respon imun yang secara genetik telah memiliki kecenderungan alergi. Adapun alergen yang biasa dijumpai berupa alergen inhalan yang masuk bersama udara pernapasan yaitu debu rumah, tungau, kotoran serangga, kutu binatang, jamur, serbuk sari,dan lain-lain.

    LO.3.3 Klasifikasi

    Berdasarkan rekomendasi dari WHO Initiative ARIA tahun 2000, menurut sifat berlangsungnya rinitis alergi dibagi menjadi:

    Intermiten, yaitu bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu.

    Persisten, yaitu bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan/atau lebih dari 4 minggu. Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi:

    Ringan, yaitu bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian,

    bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu. Sedang atau berat, yaitu bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut di atas

    LO.3.4 Patofisiologi

    Sensitisasi

    Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi yang diawali oleh adanya proses sensitisasi terhadap alergen sebelumnya. Melalui inhalasi, partikel alergen akan tertumpuk di mukosa hidung yang kemudian berdifusi pada jaringan hidung. Hal ini menyebabkan sel (APC) akan menangkap alergen yang menempel tersebut.

    Reaksi Alergi Fase Cepat

    Reaksi cepat terjadi dalam beberapa menit, dapat berlangsung sejak kontak dengan allergen sampai 1 jam setelahnya. Mediator yang berperan pada fase ini yaitu histamin, tiptase dan

    mediator lain seperti leukotrien, prostaglandin (PGD2) dan bradikinin. Mediator- mediatortersebut menyebabkan keluarnya plasma dari pembuluh darah dan dilatasi dari anastomosis arteriovenula hidung yang menyebabkan terjadinya edema, berkumpulnya darah pada kavernosus sinusoid dengan gejala klinis berupa hidung tersumbat dan oklusi dari saluran hidung. Rangsangan terhadap kelenjar mukosa dan sel goblet menyebabkan hipersekresi dan

    permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Rangsangan pada ujung saraf menyebabkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin.

    Reaksi Alergi Fase Lambat Reaksi alergi fase lambat terjadi setelah 4 8 jam setelah fase cepat. Reaksi ini disebabkan oleh mediator yang dihasilkan oleh fase cepat beraksi terhadap sel endotel postkapiler yang akan menghasilkan suatu Vascular Cell Adhesion Mollecule (VCAM) dimana molekul ini menyebabkan Sel leukosit seperti eosinofil menempel pada sel hidung. Gejala klinis yang ditimbulkan pada fase ini lebih didominasi oleh sumbatan hidung.

    LO.3.5 Manifestasi Klinik

    Gejala klinik rinitis alergi, yaitu :

    Bersin patologis. Bersin yang berulang lebih 5 kali setiap serangan bersin.

    Rinore. Ingus yang keluar.

    Gangguan hidung. Hidung gatal dan rasa tersumbat. Hidung rasa tersumbat merupakan

    gejala rinitis alergi yang paling sering kita temukan pada pasien anak-anak. Gangguan mata. Mata gatal dan mengeluarkan air mata (lakrimasi).

     

    Allergic shiner. Perasaan anak bahwa ada bayangan gelap di daerah bawah mata akibat stasis vena sekunder. Stasis vena ini disebabkan obstruksi hidung. Allergic salute. Perilaku anak yang suka menggosok-gosok hidungnya akibat rasa gatal. Allergic crease. Tanda garis melintang di dorsum nasi pada 1/3 bagian bawah akibat kebiasaan menggosok hidung.

    LO.3.6 Diagnosis & DD

    • 1. Anamnesis Perlu ditanyakan gejala-gejala spesifik yang mengganggu pasien (seperti hidung tersumbat, gatal-gatal pada hidung, rinore, bersin), pola gejala (hilang timbul, menetap) beserta onset dan keparahannya, identifikasi faktor predisposisi, respon terhadap pengobatan, kondisi lingkungan dan pekerjaan. Karena rinitis alergi seringkali berhubungan dengan konjungtivitis alergi, maka adanya gatal pada mata dan lakrimasi mendukung diagnosis rinitis alergi. Riwayat keluarga merupakan petunjuk yang cukup penting dalam menegakkan diagnosis.

    • 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan biasanya dimulai dengan inspeksi hidung luar. Inspeksi dan palpasi merupakan teknik penting yang paling sering dipakai pada pemeriksaan fisik. ada cara lain antara lain mendengarkan pernapasan dan bicara pasien yang dapat menunjuk kelainan di hidung.

    - Inspeksi dan palpasi hidung luar

    • - Pemeriksaan dengan pantulan cahaya

    • - Pemeriksaan dengan sonde hidung

    • 3. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan sitologi hidung tidak memastikan diagnosis, tetapi berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak (5 sel/lapang pandang) menunjukkan kemungkinan alergi. Hitung jenis eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Pemeriksaan IgE total seringkali menunjukkan nilai normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu penyakit. Lebih bermakna adalah pemeriksaan IgE spesifik dengan cara RAST (Radioimmuno Sorbent Test) atau ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Test). Uji kulit alergen penyebab dapat dicari secara invivo. Ada dua macam tes kulit yaitu tes kulit epidermal dan tes kulit intradermal. Tes epidermal berupa tes kulit gores (scratch) dengan menggunakan alat penggores dan tes kulit tusuk (skin prick test). Tes intradermal yaitu tes dengan pengenceran tunggal (single dilution) dan pengenceran ganda (Skin Endpoint Titration SET). SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai konsentrasi. Selain dapat mengetahui alergen penyebab, juga dapat menentukan derajat alergi serta dosis inisial untuk imunoterapi. Selain itu, dapat pula dilakukan tes provokasi hidung dengan memberikan alergen langsung ke mukosa hidung. Untuk alergi makanan, dapat pula dilakukan diet eliminasi dan provokasi atau Intracutaneous Provocative Food Test (IPFT).

    • 4. Diagnosis Diagnosis rinitis alergika berdasarkan pada keluhan penyakit, tanda fisik dan uji laboratorium. Keluhan pilek berulang atau menetap pada penderita dengan riwayat keluarga atopi atau bila ada keluhan tersebut tanpa adanya infeksi saluran nafas atas merupakan kunci penting dalam membuat diagnosis rinitis alergika. Pemeriksaan fisik meliputi gejala utama dan gejala minor. Uji laboratorium yang penting adalah pemeriksaan in vivo dengan uji kulit goresan, IgE total, IgE spesifik, dan pemeriksaan eosinofil pada hapusan mukosa hidung.

    • 5. DD

    Rinitis alergika harus dibedakan dengan :

    • 1. Rhinitis vasomotorik

    • 2. Rhinitis medikamentosa

    • 3. Rhinitis virus

    • 4. Rhinitis iritan ( Irritant Contact Rhinitis)

    • 1. Rhinitis vasomotorik

    Pasien-pasien dengan rhintis vasomotorik datang dengan gejala sumbatan hidung dan sekret nasal yang jernih.gejala-gejalanya sering berhubungan dengan temperatur ,makan,paparan terhadap bau dan zat-zat kimia atau konsumsi alkohol. Beberapa klinisi mengusulkan bahwa regulasi otonom yang abnormal dari fungsi hidung adalah penyebabnya.

    pada rhinitis vasomotor tidak ditemukan adanya skin tes yang(+) dan tes alergen yang (+), sedangkan pada yang alergika murni mempunyai skin tes yang (+) dan laergen yang jelas.

    Rinitis alergika sering ditemukan pada pasien dengan usia < 20 tahun,sedangkan pada rinitis vasomotor lebih banyak dijumpai pada usia > 20 tahun danpaling sering diderita oleh perempuan.

    • 2. Rinitis medikamentosa ( Drug induced rhinitis)

    karena penggunaan tetes hidung dalam jangkalama, reserpin, klonidin, alfa metildopa, guanetidin, klorpromasin, dan fenotiasin yang lain.

    • 3. RhinitisV irus

    Rhinitis virus sangat umum terjadi dan sering berhubungan denganmanifestasi lain dari penyakit virus seperti sakit kepala, malaise, tubuh pegal, danbatuk. Sekret nasal yang dihasilkan pada rhinitis viral seringnya jernih atauberwarna putih dan bisa disertai dengan kongesti hidung dan bersin-bersin.

    4. Rhinitis iritan (irritant contact rhinitis)

    karena merokok, iritasi gas, bahan kimia, debu pabrik, bahan kimia pada makanan. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis yang cermat,pemeriksaan alergi yang negatif.

    LO.3.7 Komplikasi Komplikasi rinitis alergi yang sering ialah:

    • a. Polip hidung yang memiliki tanda patognomonis: inspisited mucous glands,

    akumulasi sel-sel inflamasi yang luar biasa banyaknya (lebih eosinofil dan limfosit T CD4+), hiperplasia epitel, hiperplasia goblet, dan metaplasia skuamosa.

    • b. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak.

    • c. Sinusitis paranasal merupakan inflamasi mukosa satu atau lebih sinus para

    nasal. Terjadi akibat edema ostia sinus oleh proses alergis dalam mukosa yang menyebabkan sumbatan ostia sehingga terjadi penurunan oksigenasi dan tekanan udara rongga sinus. Hal tersebut akan menyuburkan pertumbuhan bakteri terutama bakteri anaerob dan akan menyebabkan rusaknya fungsi barier epitel antara lain akibat dekstruksi mukosa oleh mediator protein basa yang dilepas sel eosinofil (MBP) dengan akibat sinusitis akan semakin parah

    LO.3.8 Pencegahan

    a. Penghindaran alergen. Merupakan terapi yang paling ideal. Cara pengobatan ini bertujuan untuk mencegah kontak antara alergen dengan IgE spesifik dapat dihindari sehingga degranulasi sel mastosit tidak berlangsung dan gejala pun dapat dihindari. Namun, dalam praktek adalah sangat sulit mencegah kontak dengan alergen tersebut. Masih banyak data yang diperlukan untuk mengetahui pentingnya peranan penghindaran alergen.

    LO.3.9 Prognosis

    Ada kesan klinis bahwa gejala rhinitis alergika dapat berkurang dengan bertambahnya usia. Sementara penderita polip hidung akan tetap mengalami kekambuhan meskipun telah mendapat terapi bedah maupun obat.

    LI.4 M&M Farmakoterapi simptomatik pada rhinitis alergi

    • a. Antihistamin (AH-1)

    Farmakodinamik

    AH1 menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus, dan bermacam-macam otot polos; selain itu AH1 bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas/keadaan yang disertai penglepasan histamin endogen berlebihan Peninggian permeabilitas kapiler dan edema akibat hisatmin, dapat di hambat dengan efektif oleh AH1. AH1 dapat menhambat sekresi saliva dan sekresi kelenjar eksokrin lain akibat histamin

    Farmakokinetik

    Setelah pemberian oral atau parental, AH1 diabsorpsi secara baik. Efeknya maksimal timbul 15-30 menit setelah pemberian oral dan maksimal setelah 1-2jam.

    Kadar tertinggi terdapat pada paru-paru sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot, dan kulit kadarnya lebih rendah.

    Tempat utama Biotransformasi AH1 adalah hati, tetapi dapat juga pada paru-paru dan

    ginjal.

    AH1 diekresi melalui urin setelah 24 jam, terutama dalam bentuk metabolitnya.

    Indikasi

    AH1 berguna untuk pengobatan simtomatik berbagai penyakit alergi dan mencegah atau

    mengobati mabuk perjalanan. Penyakit alergi. AH1 berguna untuk mengobati alergi tipe eksudatif akut misalnya pada

    polinosis dan urtikaria. Efeknya bersifat paliatif, membatasi dan menghambat efek histamin yang

    dilepaskan sewaktu reaksi alergen-antibodi terjadi. AH1 dapat juga menghilangkan bersin,rinore, dan gatal pada mata,hidung dan tenggorokan pada pasien seasonal hay fever. Mabuk perjalan dan keadaan lain. AH1 efektif untuk dua pertiga kasus vertigo,mual dan muntah. AH1 efektif sebagai antimuntah, pascabedah, mual dan muntah waktu hamil dan setelah radiasi. AH1 juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit Meniere dan gangguan Vestibular lain.

    Efek samping

    Efek yang paling sering ialah sedasi, yang justru menguntungkan pasien yang di rawat di RS atau pasien yang perlu banyak tidur. Efek samping yang berhubungan dengan efek sentral AH1 ialah vertigo, tinitus, lelah, penat, inkoordinasi, penglihatan kabur, diplopia, euforia, gelisah, insomia, dan tremor.

    Efek samping yang paling sering juga di temukan ialah nafsu makan berkurang, mual, muntah, keluhan pada epigastrium, konstipasi, atau diare; efek ini akan berkurang bila AH1

    diberikan sewaktu makan.

    Efek samping lain yang mungkin timbul oleh AH1 ialah mulut kering, disuria, palpitasi, hipotensi, sakit kepala, rasa berat dan lemah pada tangan

    b. Nasal dekongestan α agonis banyak digunakan sebagai dekongestan nasal pada pasien rinitis alergika atau rinitis

    b. Nasal dekongestan

    α agonis banyak digunakan sebagai dekongestan nasal pada pasien rinitis alergika atau rinitis vasomotor dan pada pasien ispa dengan rinitis akut. Obat ini menyebabkan venokontriksi dalam mukosa hidung melalui reseptor α 1 sehingga mengurangi volume mukosa dan dengan demikian mengurangi penyumbatan hidung.

    Pengobatan dengan dekongestan nasal dapat menyebabkan hilangnya efektivitas rebound hiperimia dan memburuknya gejala pda pemberian kronik atau bila obat dhentikan.

    Dalam praktek, dekongestan dapat digunakan secara sistemik (oral), yakni efedrin, fenil propanolamin dan pseudo-efedrin atau secara topikal dalam betuk tetes hidung maupun semprot hidung yakni fenileprin, efedrin dan semua derivat imidazolin. Dekongestan topikal terutama berguna untuk rinitis akut karena tempat kerjanya yang lebih selektif. Penggunaan dekongestan jenis ini hanya sedikit atau sama sekali tidak diabsorbsi secara sistemik. Penggunaan secara topikal lebih cepat dalam mengatasi penyumbatan hidung dibandingkan dengan penggunaan sistemik.

    Indikasinya per oral atau secara topikal. Eferdin oral sering menimbulkan efek sntral. Pseudoeferdrin

    Selain itu efek samping yang dapat ditimbulkan topical dekongestan antara lain rasa terbakar, bersin, dan kering pada mukosa hidung. Untuk itu penggunaan obat ini memerlukan konseling bagi pasien.

    Fenilpropanolamin obat ini harus digunakan secara hati2 pada pasien hipertensi dan pria dengan hipertrofi prostat .

    Pemberian dekongestan oral tidak dianjurkan untuk jangka panjang, terutama karena memepunyai efek samping stimulan SSP sehingga menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Obat ini tidak boleh diberikan kepada penderita hipertensi, penyakit jantung, koroner, hipertiroid, dan hipertropi prostat. Dekongestan oral pada umumnya terdapat dalam bentuk kombinasi dengan antihistamin atau dengan obat lain seperti antipiretik dan antitusif yang dijual sebagai obat bebas.

    c. Kortikosteroid

    Kortikosteroid adalah obat antiinflamasi yang kuat dan berperan penting dalam pengobatan RA. Penggunaan secara sistemik dapat dengan cepat mengatasi inflamasi yang akut sehingga dianjurkan hanya untuk penggunaan jangka pendek yakni pada gejala buntu hidung yang berat.

    Gejala buntu hidung merupakan gejala utama yang paling sering mengganggu penderita RA yang berat. Pada kondisi akut kortikosteroid oral diberikan dalam jangka pendek 7-14 hari dengan tapering off, tergantung dari respon pengobatan.

    Kortikosteroid meskipun mempunyai khasiat antiinflamasi yang tinggi, namun juga mempunyai efek sistemik yang tidak menguntungkan. Pemakaian intranasal akan memaksimalkan efek topikal pada mukosa hidung dan mengurangi efek sistematik. Berbagai produk kortikosteroid intranasal dipasarkan dengan menggunakan berbagai karakteristik.

    Untuk meningkatkan keamanan kortikosteroid intranasal digunakan obat yang mempunyai efek topikal yang kuat dan efek sistemik yang rendah. Kepraktisan dalam pemakaian serta rasa bau obat akan mempengaruhi kepatuhan penderita dalam menggunakan obat jangka panjang. Dosis sekali sehari lebih disukai daripada dua kali sehari karena lebih praktis sehingga meningkatkan kepatuhan.

    Beberapa kortikosteroid intranasal yang banyak digunakan adalah beklometason, flutikason, mometason, dan triamisolon. Keempat obat tersebut mempunyai efektifitas dan keamanan yang tidak berbeda. Obat yang biasa digunakan lainnya antara lain sodium kromolin, dan ipatropium bromida.

    Mekanisme kerja

    Bekerja mempengaruhi kecepatan sintesis protein, molekul hormon memasuki sel melewati membran plasma secara difusi pasif, mensintesis protein yg sifatnya menghambat atau toksik terhadap sel limfoid.mempengaruhi metabolisme karbohidrat,protein,dan lemak,dan sebagai antiinflamasi kuat.

    • Pemberian glucocorticoid (eg, prednisone, dexamethasone) mengurangi ukuran dan isi

    lymphoid dari limfonodi dan limpa, tdk memiliki efek toksik pada mieloid yg sdg berproliferasi atau stem sel erythroid dalam sumsum tulang.

    • Glucocorticoid menghambat produksi mediator inflamasi, termasuk PAF, leukotrien,

    prostaglandin, histamin, dan bradikinin

    • Toksisitas berat dpt tjd pd penggunaan glukokortikoid dosis tinggi, jangka panjang

    • d. Antagonis Leukotrien

    Leukotrien adalah asam lemak tak jenuh yang mengandung karbon yang dilepaskan selama proses inflamasi. Leukotrien, prostaglandin dan tromboksan merupakan bagian dari grup asam lemak yang disebut eikosanoid. Senyawa ini diturunkan melalui aktivasi berbagi tipe sel oleh lipooksigenasi asam arakhidonat yang dibebaskan oleh fosfolipase A2 di membran perinuklear yang memisahkan nukleus dari sitoplasma. Asam arakhidonat sendiri merupakan substrat dari siklooksigenase yang aktivitasnya menghasilkan prostglandin dan tromboksan. Dengan kata lain, leukotrien juga merupakan mediator yang penting dalam terjadinya buntu hidung pada rinitis alergi.

    Dewasa ini telah berkembang obat antileukotrien yang dinilai cukup besar manfaatnya bagi pengobatan RA. Ada dua macam antileukotrien yakni inhibitor sintesis leukotrien dan antagonis reseptor leukotrien. Yang terbaru dapat satu inhibitor sintesis leukotrien dan tiga antagonis reseptor leukotrien, yakni CysLT1 dan CYsLT2. Yang pertama merupakan reseptor yang sensitif terhadap antagonis leukotrien yang dipakai pada pengobatan RA.

    Pada dasarnya antileukotrien bertujuan untuk menghambat kerja leukotrien sebagai mediator inflamasi yakni dengan cara memblokade reseptor leukotrien atau menghambat sintesis leukotrien. Dengan demikian diharapkan gejala akibat proses inflamasi pada RA maupun asma dapat ditekan. Tiga obat antileukotrien yang pernah dilaporkan penggunaannya yakni dua nataginis reseptor (zafirlukast dan montelukast), serta satu inhibitor lipooksigenase (zileuton). Laporan hasil penggunaan obat tersebut pada RA belum secara luas dipublikasikan sehingga efektifitasnya belum banyak diketahui.

    Penanganan Rhinitis alergi yang terakhir adalah dengan imunoterapi. Terapi ini disebut juga sebagai terapi desensitisasi. Imunoterapi merupakan proses yang panjang dan bertahap dengan cara menginjeksikan antigen dengan dosis yang ditingkatkan. Imunoterapi memiliki biaya yang mahal serta risiko yang besar, serta memerlukan komitmen yang besar dari pasien.

    LI.5 M&M Anatomi Pernafasan dalam pandangan islam

    Dalam buku Al-I’jaaz Al-Ilmiy fii Al-Islam wa Al-Sunnah Al-Nabawiyah dijelaskan, ilmu kontemporer menetapkan setelah melalui eksperimen panjang, ternyata orang yang selalu berwudhu mayoritas hidung mereka lebih bersih, tidak terdapat berbagai mikroba.

    istinsyâq (memasukkan dan mengeluarkan air ke/dari hidung)

    Dalam beberapa hadits dijelaskan bahwa Rasulullah senantiasa melakukan istinsyâq sebanyak tiga kali setiap berwudhu, dan beliau juga menekankan untuk melakukan istinsyâq pada setiap wudhu. "Hendaknya menghirup air ke hidung kemudian mengeluarkannya kembali." (HR. al-Bukhari dan Muslim) . Bahwa istinsyâq adalah cara yang terbaik untuk membersihkan bagian dalam hidung. Karena setelah beberapa jam dari waktu kita membersihkan hidung, kotoran dan kuman akan kembali lagi mengisi rongga hidung kita sehingga kita harus terus menerus mengulangi permbersihan hidung. Dan ternyata waktu yang tepat untuk membersihkan hidung kita kembali tersebut sangat cocok dengan pengaturan waktu pelaksanaan shalat lima waktu.