Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH IPS

PERANG DIPONEGORO
NAMA: -TINA LESTARI -DEA NAFA L. -GATIK AYU L.

1.PENGERTIAN
Perang Diponegoro (Inggris:The Java War, Belanda: De Java Oorlog), adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa, Hindia Belanda (sekarang Indonesia), antara pasukan penjajah Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock[1] melawan penduduk pribumi yang dipimpin seorang pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro. Dalam perang ini telah berjatuhan korban yang tidak sedikit. Baik korban harta maupun jiwa. Dokumen-dokumen Belanda yang dikutip para ahli sejarah, disebutkan bahwa sekitar 200.000 jiwa rakyat yang terenggut. Sementara itu di pihak serdadu Belanda, korban tewas berjumlah 8.000. Perang Diponegoro merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. Peperangan ini melibatkan seluruh wilayah Jawa, maka disebutlah perang ini sebagai Perang Jawa.

2.Latar Belakang.
Monopoli perdagangan dan lahirnya VOC sebagai dalih persekutuan dagang bangsa Belanda di Nusantara telah membawa dampak yang sangat beragam dari sekian banyak kerajaan yang bertahta di wilayah Nusantara.Konflik kepentingan antara kerajaan nusantara dengan para pendatang eropa, sedikit banyaknya telah mempengaruhi pula pada peristiwaperistiwa penting yang akan terjadi masa mendatang. Serangan pasukan Mataram, ke Batavia, 1628 dan 1629 telah menandai perjalanan panjang konflik kerajaan di Nusantara dengan Belanda dalam hal ini VOC. Berawal dari hubungan Mataram Batavia 1613. kontak perdana terjadi ketika 22 september 1613, sebuah kapal Belanda yang berisi utusan Kompeni di bawah pimpinan Jan Piterszoon Coen merapat di pelabuhan Jepara, dan kemudian Kudus dua pelabuhan milik Mataram. Maksud dari kedatangan utusan kompeni ini adalah untuk menjalin kerjasama antara Mataram yang terkenal sebagai penghasil beras dan hasil bumi lainnya dengan pihak Belanda, dalam hal ini VOC1. Soal menyoal konflik yang terjadi antara Mataran dan kompeni akan kita bahas pada bab tersendiri. Memahami sejarah dalam ragam perspektif memang sangat sulit. Tak terkecuali peristiwa sejarah kontemporer sekarang ini, dengan beragam sumber dan sudut pandang yang berbeda. Namun dalam peristiwa sejarah apapun, kita harus bisa menempatkan objektivitas di

tingkat paling atas untuk menghindari kesalahan penulisan dan penafsiran sejarah sebagai sebuah peristiwa yang penting. Sejarah Konflik Mataram dan VOC, menjadi sebuah langkah awal analisis kita dalam mengkaji lebih dalam urutan peristiwa sejarah dan dampak yang tertimbulkan dari peristiwa sejarah itu sendiri. Peristiwa ini sedikit banyaknya bisa dijadikan sebuah acuan dalam menentukan kedudukan kita sebagai masyarakat di nusantara yang tidak bias lepas dari peristiwa sejarah di masa lampau.

3.SEBAB-SEBAB PERANG DIPONEGORO


1. Diponegoro kecewa Dia tidak diangkat menjadi Sultan 2. Peristiwa penyewaan tanah. 3. Wilayah-wilayah Jawa yang berkurang akibat politik anexasi yang dilakukan Belanda 4. Tekanan yang merugikan rakyat yang dilakukan pemungut cukai orang tionghoa. 5. Merosotnya Budaya dalam kehidupan orang jawa, juga budi pekertinya. 6. Ketidakcakapan para residen dan pegawai Belanda yang di Jogjakarta.5 Puncaknya adalah ketika tanah nenek moyang Diponegoro di Tegalrejo, hendak dijadikan jalan oleh Belanda tanpa meminta persetujuan kepada

Diponegoro, dengan kata lain Jalan yang akan dibuat melintasi tanah leluhur Diponegoro, ini terjadi pada tanggal 20 juli 1825, Belanda memasang tonggak-tonggak yang menjadi tanda proyek pembuatan jalan, Diponegoro yang tetap mempertahankan apa yang menjadi hak miliknya telah menambah suasana menjadi sedemikian panas, namun hal ini sebenarnya telah diantisipasi oleh Masyarakat, yang sejak ditancapkannya tonggak-tonggak itu, oleh Belanda atas perantara Patih DanurejaIV, rakyat Tegal Rejo mendukung penuh Diponegoro, bahkan mereka memepertanyakan apa kira-kira yang akan menjadi tanda jika perang itu memang harsu terjadi, Diponegoro menjawab setelah adanya suara meriam. Pada tanggal 20 juli 1825, sekitar jam 5 petang, terdengarlah oleh rakyat suara meriam Belanda.

4.JALANNYA PERANG

Setelah melihat tidak ada sikap kooperatif dari Belanda, serta dukungan dari beberapa patih terhadap belanda telah menjadi sebab-musabab yang memperkeruh suasana di wilayah itu.pihak belanda berusaha mengundang Diponegoro untuk datang ke Jogjakarta, namun secara tegas Diponegoro menolak undangan itu, pun ketika Pangeran Mngkubumi diutus oleh Belanda untuk membujuk Diponegoro, Diponegoro tetap menolak, bahkan Pangeran Mangkubumi balik mendukung Diponegoro. 20 juli 1825, Belanda mengirim ekspedisi I,di bawah komando Chevallier, tujuannya tidak lain adalah untuk melumpuhkan posisis pangeran Diponegoro tersebut, serta menangkapnya7, sesuai dengan amanat Pangeran tentang pertanda dimulainya perang adalah suara meriam8, suara meriam terdengar pada saat pengiriman ekspedisi pertama ini. Terjadilah pertempuran yang pertama antara pasukan ekspedisi belanda itu dengan pendukung Diponegoro, pasukan ekspedisi menunggang kuda juga bersenjatakan meriam, pada akhirnya Tegalrejo dapat diambil alih oleh pasukan ekspedisi dan Tegal rejo dibumihanguskan, namun dengan caranya sendiri Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi bisa meloloskan diri, Diponegoro dan mangkubumi didikuti oleh Rombongan pasukan yang setia mendukung Diponegoro9. sebelumnya keluarga Diponegoro telah diungsikan ke daerah Desa Dekso, Selarong, bukit sebelah barat daya kota Jogyakarta, tempat ini dipilih menjadi pusat pertahanan pasukan Diponegoro, tentang berita perang ini sesungguhnya telah terkabar kemana-mana, orang jawa yang memberikan simpatinya kepada pangeran Diponegoro, memutuskan untuk ikut berjuang, disebutkan bahwa datanglah Kiyai Mojo, seoarang ulama di daerah Maja, atas usulnya dibentuklan kelompok-kelompok pasukan yang akan meberikan perlawanan yang seimbang kepada Belanda, hasilnya Pacitan dapat direbut pada tanggal 6 agustus 1825 dan Purwadadi menyusul pada tanggal 28 agustus 182510, perlawana-perlawanan terus dilakukan. Pangeran Diponegoro menugaskan Pangeran Adiwinoto dan Mangundipuro meminpin perlawanan di daerah Kedu, Pangeran Abubakar dan Tumenggung Joyomustopo, mengadakan perlawanan di daerah Lowanu, sedangkan untuk daerah Kulonprogo diserahkan kepada Pangeran Adisuryo dan anaknya Pangeran sumenegoro untuk memimpin perjuanagn,Tumenggung Cokronegoro di wilayah Gemplong, untuk wilayah sebelah utara kota Jogjakarta perjuangan dikomandoi oleh paman Diponegoro yaitu pangeran Joyokusumo, beliau dibantu oleh Tumenggung Surodilogo, di bahagian timur kota Jogjakarta diembankan kepada Suryonegoro dan Suronegoro, markas besar di selarong yng dipimpin oleh Joyonegoro Sumodiningrat dan juga Joyowinoto,sedangkan untuk daerah Gunung kidul dipimpin oleh Pangeran Singosari dan Warsokusumo,, di daerah Pajang pimpinan perang diembankan kepada Mertoloyo,Wiryokusumo,Sindurejo dan Dipodirjo, di daerah sukowati juga ditempatkan

pasukan perlawanan yang di[pimpin oleh Krtodirjo, wilayah strategis Semarang dipimpin oleh Pangeran Serang, sedangkan untuk daerah Madiun,Magetan dan Kediri,dipimpin oleh Mangunnegoro, beginilah kiranya pembagian tugas perlawanan yang akan dilancarkan pasukan jawa mengahadapi belanda, maka setelah diembankan tugas pada mereka segera mereka berangkat untuk menagamalkan tugas peperangan.11 Belanda mengutus Jenderal H.M De Kock, pada tanggal 29 juli 1825 De kock tiba di Semarang suatu kawasan strategis di sebelah utara kerajaan, De Kock melanjutkan perjalanan ke Surakarta, disana dia mendapat dukungan dari pakubuwono untuk menggagalkan serangan pasukan Diponegoro, dalam menghadapi pasukan Diponegoro, Belnada membutuhkan tentara tambahan yang di datangkan darti beberapa tempat antara lain adalah dari Semarang, mereka lewat Kedu, bantuan ada sekitar 200 orang pasukan dan juga mereka membawa uang 50.000 gulden banyaknya, namun naas bagi pasukan ini ketika melewati daerah Logorok, mereka diserang oleh pasukan diponegoro, ini adalah kemenangan manis perdana yang dituai oleh pasukan Diponegoro, hanya 15 orang pasukan yang tersisa di pihak belanda yang bias meloloskan diri, tentara Diponegoro merampas segala perbekalan korbannya itu dan membagibagikannya pada tentara Diponegoro12, kemenangan ini pulalah yang menambah semangat perjuanagn yang akan dijalankan oleh pasukan Diponegoro pada peperangan-peperangan berikutnya, namun kekalahan juga tidak luput dari pasukan Diponegoro ini, 9 desember 1825 pasukan Kartodirjo dan pasukan Pangeran Serang terdesak, pangeran kartodirjo berhasil ditangkap dan ditawan Belanda, namun pangeran serang berhasil meloloskan diri. Disamping itu pasukan Sentot Alibasah Prawirodirjo dapat melumpuhkan pasukan musuh di daerahKasuruan, Diponegoro juga yang pada tanggal 9 Agustus 1826 dapat melumpuhklan perlawanan musuh. 30 juli 1826 terjadi pertempuran yang dahsyat di daerah Lengkong, pada pertempuran ini telah tewas seorang Letnan Belanda, dan juga 2 wali Hamengkubuwono V yaitu Pangeran Murdaningrat dan Panular, namun perlu dicatat bahwa kematian ini bukanlah ats kehendak pasukan Diponegoro namun karena keberpihakan beberapa orang keraton kepada Belanda, Belanda yang banyak dirugikan dalam perang ini merencanakan sebuah siasat yang bisa melumpuhkan pasukan Diponegoro, siasat yang digunakan ialah siasat Benteng Stelsel, yaitu sebuah siasat yang dijalankan dengan mendirirkan benteng-benteng pertahanan Belanda di daerah yang masih menjadi wilayah kekuasaanya, sehingga dari benteng ini kelak akan dengan mudah diawasi pergerakan pasukan Diponegoro juga dengan cara ini dan membangun benteng baru di sekitar benteng yang telah ada diharapkan dapat menekan pasukan Diponegoro dan memepersempit ruang gerak pasukan ini13, demikanlah perang yang dahsyat telah terjadi hampir semua daerah Jawa turut serta dalam perang ini,

oleh karena itu perang ini juga disebut sebagai perang jawa.namun perlu diketahui juga peran besar Diponegoro, Diponegoro mngerahkan pasukannya ke Wilayah Djokjakarta dan melakuakn penyeranga atas pasukan Mangkunegara, pada saaat itu tentara belanda sedang ada di utara, namun De Kock tetap mengirimkan pasukan untuk membantu pasukan Mangkunegara,walaupun terlambat, pasukan Mangkunegara dapat dibinasakan Diponegoro, maka sejak itu semua wilayah dari Borobudur hingga pantai selatan Jogjakarta jatuh ke tangan pasukan Diponegoro, Diponegoro juga mengalahkan tentara Belanda di daerah Bantul,Kedjiwan dan delangu,sejak itu pula daerah jogja kecuai ibukota jatuh ketangannya juga daerah Surakarta bahagian barat, hingga mendekati keraton kecuali Klaten. Disini jelas kepemimpinan diponegoro yang berkelas dan penuh penaklukan juga dihormati para pengikutnya.

5. Akhir perjuangan dan penangkapan Diponegoro


Melihat kenyataan bahwa banyak pemimpin yang menyerah kepada Belanda maka terpukul hebat lah pangeran Diponegoro sebagai pemimpin terbesar, Belanda dengan gencarnya tetap berupaya agar diponegoro mau diajak berunding dan menghentikan peperangan, puncaknya adalah ketika H.M De kock mengutus Kolonel Clerens untuk mengajak Diponegoro untuk berunding dan ternyata rencana ini berhasil dan untuk hal itu H.M.De Kock mengatur rencana licik dan curang dia menginstruksikan kepada orang-orangnya untuk sesegera mungkin menangkap Diponegoro apapun hasil dari perundingan, hal ini tentu saja bertolak belakang seperti hasil perjanjian terdahulu yang menytakan bahwa jika perundingan gagal dan tidak dicapainya sebuah kesepakatan maka Diponegoro dan pasukannya dibiarkan pulang dengan merdeka. Perundingan sempat ditunda karena kebetulan saat itu adalah hari bulan suci Ramadhan, hingga tibalah waktunya perundingan yang berakibat tidak baik bagi pasukan Diponegoro itu, 28 Maret 1830,di Magelang perundingan yang diadakan mengalami kegagalan, namun sesuai perjanjian sebelumnya jika perundingan mengalami kebuntuan atau kegagalan maka pasukan Diponegoro berhak untuk pulang dan kembali ke tempatnya, di lain pihak Belanda mengingkari janjianya tersebut dan melaksanakan rencana licik H.M.De Kock, untuk menangkap Diponegoro.sebelumnya pun Belanda telah menyiapkan pasukan di sekitar wilayah perundingan, Diponegoro yang datang bersama anaknya ditangkap oleh Belanda, namun kewibawaan Diponegoro masih tetap terjaga, hal ini dibuktikan dengan pernyatannya ketika H.M De Kock membicarakan perundingan dengan dia, sebelum penangkapan, H.M. De Kock yang menyatakan jika perundingan gagal maka otomatius peperangan akan dimulai

lagi, Diponegoro dengan tegas membalas, dengan mengatakan mengapa pasukan belanda harus takut berperang jika memang merasa mampu dalam berperang dan masih lengkap dengan pasukannya.15. dengan kenyataan penangkapan ini tentu saja sangat terasa bagi pergerakan di jawa, pemimpin tertinggi yang telah ditawan belanda menyebabkan perang semakin tidak terlihat dan padam sama sekali, Diponegoro sendiri diasingkan ke Manado 3 mei 1830, Belanda merasa pengawalan di manado sangat minim maka mereka memindahkan Diponegoro ke Makassar, Diponegoro sendiri meninggal di pengasingannya di makassar, 8 januari 1855 sedangkan sentot dikirim ke Minagkabau untuk membantu penumpasan gerakan kaum paderi, dari hal ini banyak menduga terjadi penghianatan Sentot, namun karir Sentot di minangkabau segera berakhir setelah di ditarik pemerintah belanda, lalu diasingkan ke Cianjur, kemudian dipindahkan lagi ke Bengkulu, sedangkan kiyai Maja diasingkan ke Minahasa.16

SUMBER: Okayana.blogspot.com Kevin90.blogspot.com www.slideshare.net